Work Text:
Setelah mendapatkan balasan WhatsApp dari James, Anton bergegas menuju kamar yang mereka tempati berdua. Langkahnya tergesa-gesa seolah diri nya sedang di kejar sesuatu, padahal kenyataannya ia sudah tak sabar untuk sampai ke kamar dan melakukan hal yang sudah mereka rencanakan, yaitu membuat Adik untuk anak sulung mereka, Louis. Setiap derap langkahnya yang menggema di lantai marmer berpacu dengan detak jantungnya sendiri. Fokusnya hanya satu: kamar mereka.
Ada senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Bayangan Louis, putra sulung mereka yang belakangan ini sering merengek meminta teman main, dan beberapa foto sexy James menjadi alasan resmi rencana mereka malam ini. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Anton tahu ini lebih dari sekadar memenuhi keinginan sang anak, ini tentang momen intim yang selalu berhasil menguatkan ikatan antara dirinya dan James.
Begitu sampai di depan pintu, Anton menarik napas panjang sejenak untuk menetralkan deru napasnya yang memburu. Tanpa basa-basi ia langsung mendorong pintu kayu itu.
Pemandangan di dalam kamar rupanya sudah sangat mendukung rencana mereka. Lampu utama dipadamkan, menyisakan cahaya remang-remang dari lampu nakas yang memberikan kesan temaram dan nyaman. Aroma sandalwood favorit James menguar lembut di udara.
Anton melihat James sedang bersandar di kepala ranjang, tampak tenang namun ada kilat nakal di matanya saat melihat penampilan Anton yang berantakan karena terburu-buru.
“Berantakan banget hubby, udah ga sabar ya?” goda James pelan sambil meletakkan handphone nya di nakas.
Anton menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang dengan tatapan yang tak lepas dari pasangannya itu. "Banget, rasanya mau langsung makan kamu sekarang.”
James yang mendengar itupun langsung tertawa. “Come here hubby, I'm ready to be your meal tonight.” balas nya pelan sambil menatap penuh godaan.
Mata Anton menggelap.
Ia menanggalkan kaos hitam nya asal ke lantai, langkahnya tak lagi tergesa namun kini terasa lebih berat dan penuh intensitas seperti predator yang siap memakan mangsanya. Ia merangkak naik ke atas ranjang, memerangkap tubuh kecil James di bawah kungkungan lengannya. Atmosfer di kamar itu seketika berubah, udara terasa lebih panas seolah oksigen tersedot habis oleh keintiman di antara mereka.
“Nakal banget sayang,” bisik Anton sambil menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh James, mengurungnya. Ia menghirup aroma parfum James yang beraroma caramel bercampur vanilla manis. "Tapi aku suka kalau kamu udah mode nakal kayak gini, bikin aku tambah keras.”
James tidak bergeming ia justru semakin berani menyampirkan lengannya di bahu Anton, menarik pria itu sedikit lebih dekat.
“Jadi kapan aku di makan nya? aku juga udah basah, pengen di isi sama penis kamu yang besar dan panjang itu.”
Anton tidak lagi menjawab dengan kata-kata. Ia membungkam James dengan ciuman yang dalam, bergairah. Pergulatan lidah yang terjadi penuh oleh nafsu, rasa haus yang menggerogoti tenggorokan dan menuntut sebuah ungkapan kerinduan sekaligus gairah yang sudah ia tahan sejak membaca WhatsApp mereka tadi. James menyambut dengan lebih agresif, ia membalas lilitan lidah Anton yang membelit lidahnya, seutas air liur mengalir dari mulut ke leher nya seperti aliran sungai. Tangannya pun tak tinggal diam ia mengusap dada telanjang Anton yang keras dan bidang dengan sensual, itu membuat nafsu Anton melonjak drastis dan suasana menjadi semakin panas.
Tangan Anton bergerak turun, meloloskan pakaian yang masih menghalangi tubuh mereka berdua hingga keduanya benar-benar bertelanjang bulat. Sentuhan kulit yang bertemu kulit seolah memicu sengatan listrik, tangan Anton berpindah membelai pinggang ramping James, sementara bibirnya kini berpindah ke area sensitif di leher putih James, memberikan hisapan dan gigitan kecil yang meninggalkan tanda kemerahan. James mendongak, lehernya terekspos begitu cantik, sementara tangannya beralih mencengkeram seprai hingga kusut, mencoba mencari pegangan di tengah badai sensasi yang menghantamnya.
“Hubby ahh jangan di gigit terushh...” rintih James, meski tubuhnya justru bergerak meminta lebih.
Anton menyeringai tipis, deru napasnya yang panas menerpa kulit leher James yang memerah karena tanda cinta darinya. Bukannya berhenti sesuai rintihan tersebut, Anton justru semakin semangat menggigiti leher James.
“Mulut kamu bilang jangan,” bisik Anton dengan suara rendah yang serak, getarannya terasa langsung di saraf James. “Tapi tubuh kamu ga bisa bohong, Sayang. Malah makin nempel, kan?”
James memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya kembali mencengkeram erat seprai hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap sentuhan Anton terasa seperti ledakan kecil di bawah kulitnya. Ketika Anton menemukan titik sensitifnya dan memberikan sentuhan nikmat James tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mendesah lebih keras.
Seolah tak ingin membiarkan satu inci pun kulit James terabaikan, Anton mengakhiri kecupan, dan gigitan kecil di leher James. Bibir nya bergerak turun ke arah dada. Di sana ia berhenti sejenak, membiarkan deru napasnya yang panas menerpa kulit James yang mulai lembap oleh keringat.
Bibirnya kemudian mengecup puting kecokelatan James dengan kelembutan yang penuh dominasi. Anton tidak hanya sekadar mengecup ia bermain menggunakan ujung lidahnya untuk membelai dengan cara memutar hingga puting itu basah oleh air liurnya, sementara James tak mampu menahan cairan precum yang perlahan keluar dari penis nya. Setiap gerakan lidah Anton terasa begitu nikmat, menciptakan gelombang elektrik yang merambat paksa ke seluruh tubuh James, membuat pria itu melengkungkan punggungnya, pasrah pada permainan intim yang semakin membakar suhu tubuh keduanya.
Seiring dengan cumbuannya yang kian menuntut di area dada, tangan Anton yang semula membelai pinggang mulai bergerak turun dengan ritme yang lambat namun pasti. Jemarinya merayap nakal, menelusuri perut ramping yang menegang hingga mencapai paha bagian dalam James. Di sana, Anton memberikan usapan-usapan lembut yang pelan, sengaja menggoda sensitivitas kulit di area tersebut hingga membuat tungkai kaki James gemetar hebat.
James menghirup oksigen dengan rakus, namun sentuhan Anton tidak memberinya ruang untuk bernapas lega. Tangan itu kini bergerak lebih jauh ke belakang, menyelinap dengan penuh selidik menuju titik pusat sensitifnya.
Saat ujung jari Anton yang sudah berlumuran cairan precum milik James menyentuh lubang hangat favorit nya yang masih rapat meski sudah puluhan kali di jamah dengan penis nya, James tersentak keras sebuah lenguhan panjang lolos dari bibirnya yang ikut bergetar.
Anton langsung melakukan penetrasi, ia sedikit bermain-main di tepiannya membelai lipatan kulit yang sensitif itu lalu masuk dengan tekanan pasti. Gerakan jari nya lihai dan sedikit menggaruk di sana seolah sedang memetakan wilayah baru, ia mempersiapkan tubuh James untuk sesuatu yang lebih besar, sementara James sendiri hanya bisa pasrah sambil merintih, tenggelam dalam gelombang kenikmatan yang kian mendesak.
Saat jari nya masih sibuk menggaruk dan memberikan tekanan di area paling sensitif James, Anton menarik diri sedikit dari dada pria itu. Ia bergerak naik, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya bersentuhan dengan daun telinga James yang memerah. Napasnya yang panas dan berat terasa menggelitik, mengirimkan sinyal bahaya sekaligus nikmat ke seluruh tubuh James.
“Ketat banget sayang, padahal udah sering aku masukin,” bisik Anton dengan suara lebih rendah akibat dari nafsu yang kian memuncak, hampir menyerupai geraman halus penuh kepuasaan. “Badan kamu juga sampai gemeteran, penis kamu keluar precum gini cuma karena sentuhan jari aku.”
Jari tengahnya mulai menekan perlahan di bibir lubang yang berdenyut, memberikan stimulasi yang konsisten sementara bibirnya masih berada dekat di daun telinga James, menyesapnya sebentar sebelum berbisik lagi dengan nada yang lebih provokatif.
“Sempit, hangat, ketat banget. Lubang ini emang diciptakan cuma buat penisku,” lanjutnya, diiringi dengan tawa kecil yang terdengar sangat mendominasi di tengah heningnya kamar.
“Coba bilang ke aku, sekarang kamu mau apa? mau aku berhenti, atau mau aku lanjutin sampai di kepala kamu cuma ada aku dan sentuhan aku hm?”
James hanya mampu menatap kosong ke arah langit-langit kamar dengan matanya yang sayu sambil sesekali mendesah. Sementara jari Anton mulai melakukan gerakan lebih intens untuk memperdalam tusukan di lubangnya. Bisikan-bisikan itu seolah menjadi racun yang manis, mengaburkan logika James dan hanya menyisakan rasa haus akan sentuhan yang lebih dalam.
“Kok diam aja? minta sama aku dong, biarin aku dengar kamu mohon-mohon buat di bikin berantakan sama aku.” tuntut Anton, suaranya kini terdengar seperti perintah yang tak bisa ditolak, tepat sebelum ia menambahkan dua jari lagi.
“Please hubby..." desis James, suaranya pecah dan nyaris tenggelam dalam deru napasnya sendiri. Tangannya terangkat mencengkram bahu Anton mencari pegangan yang lebih kuat saat gelombang nikmat itu kembali menghantam.
Mata James yang berair dan sayu menatap Anton dengan tatapan memohon. “Please lanjutin, masukin Ahh.”
“Masukin apa sayang?” pancing Anton main-main.
“Masukin penis nya, kedalam lubang aku hubby!” pekik James frustasi, suaranya serak karena gairah yang sudah di puncak. "Sekarang please, isi perut aku sama sperma kamu. Ga tahan lagi hiks”
Mendengar teriakkan frustasi bercampur dengan isak tangis itu, kilat kepuasan yang gelap terpancar dari mata Anton. Ia tidak lagi menunda. Dengan gerakan yang penuh perhitungan, ia mengeluarkan jari nya lalu meraih pelumas dan membaluri miliknya serta lubang James yang sudah sangat mendamba ingin di isi. James melengkungkan punggungnya tinggi-tinggi saat merasakan dinginnya cairan itu, dan berganti dengan rasa panas yang membara saat Anton mulai memposisikan dirinya di antara kedua paha James yang terbuka lebar.
“Siap sayang?” bisik Anton tepat di depan bibir James, sebelum akhirnya ia mulai memberikan dorongan yang membuat seluruh dunia James seolah meledak dalam warna-warna yang membutakan.
Saat Anton mulai memberikan dorongan pertama, dunia di sekitar James seolah melenyap, hanya menyisakan titik fokus pada pertemuan kulit yang membara di bawah sana. Sensasi yang hadir begitu luar biasa sebuah perpaduan antara rasa penuh yang mendesak, ketegangan otot yang ekstrem.
James menarik napas dengan sentakan tajam, paru-parunya seakan membeku saat ia merasakan kehadiran Anton yang besar dan keras mulai memenuhi wilayah paling pribadinya. Rasanya seolah-olah setiap saraf di lubang masuknya dipaksa untuk meregang melampaui batas, menciptakan sensasi terbakar yang anehnya justru terasa sangat nikmat.
“Rileks sayang.” bisik Anton, suaranya berat dan bergetar karena ia pun sedang berjuang menahan diri agar tidak langsung bergerak kasar.
Anton akhirnya bergerak dengan pelan yang menyiksa, mendorong masuk penisnya secara perlahan. Dan James bisa merasakan tekstur penis besar itu lebih dalam dan suhu panas yang merambat masuk, mengisi setiap kekosongan dalam dirinya hingga ia merasa tubuhnya terbelah menjadi dua. Ketika Anton akhirnya tenggelam sepenuhnya hingga pangkal paha mereka beradu, James melengkungkan punggungnya tinggi-tinggi, matanya berputar ke belakang saat merasakan rasa penuh yang luar biasa itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang ia miliki.
Setelah keheningan sesaat yang menyesakkan, pelan-pelan Anton mulai menarik penis nya keluar lalu mendorong kembali dengan perlahan, dorongannya tidak terburu-buru setiap dorongan dilakukan dengan kelembutan seolah ia ingin memastikan James merasakan setiap gesekan penis nya yang berada di dalam sana.
Lama-kelamaan, Anton mulai meningkatkan kecepatan. Dorongannya menjadi lebih mantap dan beruntun, menciptakan suara kulit yang saling bertubrukan keras. James tidak lagi mampu menahan beban kenikmatan yang membanjiri seluruh sarafnya. Air mata mulai mengalir di sudut matanya bukan karena rasa sakit, melainkan karena sensasi nikmat yang terlalu intens untuk ditanggung kesadarannya.
“Ahh hiks pelan hubby,” isak James parau, suaranya pecah di antara napas yang tersengal. Kepalanya menggeleng tak berdaya di atas bantal, sementara air matanya kian deras membasahi pipi. “Dalam banget hnghh ga kuat ahhh enak banget.”
Anton justru semakin dalam membenamkan dirinya, setiap dorongan kini disertai dengan tekanan yang kuat pada prostat James. “Enak banget ya? suka di ewe kayak gini mami?” bisik Anton sambil menjilat air mata yang mengalir di pipi James dan kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman panas.
James merintih dalam ciuman panas itu, tangannya meraba lalu mencakar punggung Anton, dan menarik pria itu agar semakin merapat. Di rasa pasokan udara yang mengalir di dalam dada mereka menipis Anton melepaskan ciumannya, memandangi betapa berantakan nya James di bawah kendali nya sekarang.
“Ahhh enak hnggg suka papi mau di hamilin lagi sama kamu.” racau James terbata-bata, rasa nikmat itu membuat James kehilangan seluruh akal sehatnya, hanya menyisakan isak tangis dan permintaan untuk di setubuhi dengan lebih dalam penyatuan yang semakin memanas.
“Shhh nanti papi bikin mami hamil berkali-kali. Kalau perlu bikin gen halilintar versi kedua.”
“Ngaco ahh.” jawab James sambil mendesah. Anton tertawa.
Penyatuan itu akhirnya tiba di puncak nya. Ruangan seakan dipenuhi listrik statis, setiap saraf di tubuh James berteriak menuntut pelepasan. Anton pun tidak lagi bisa menahan diri, gerakannya berubah menjadi beringas, cepat, dan tanpa ampun. Suara gesekan kulit yang bertubrukan dan napas yang memburu bersatu menjadi kebisingan yang memabukkan.
“Hnghh hubby mau keluar, ga tahan lagi mau pipish.” James memekik dengan suara yang nyaris hilang, air matanya mengalir deras saat tubuhnya mulai gemetar hebat karena guncangan orgasme yang sudah di depan mata.
Mendengar seruan itu, Anton memberikan dorongan-dorongan terakhir yang paling dalam dan kasar. “Bersama sayang.” Ia mencengkeram pinggang James begitu kuat seolah berusaha menyatukan seluruh keberadaannya ke dalam pria di bawahnya. Seluruh otot tubuh Anton menegang sempurna, dan dengan satu dorongan yang sangat kuat tepat pada titik prostat James, mereka berdua akhirnya mencapai puncak secara bersamaan. Cairan sperma milik Anton mengalir deras di dalam lubang James. Karena terlalu banyak, sebagian cairan itu mengalir keluar melewati paha dalam dan jatuh ke seprai kasur. Sedangkan sperma James keluar membasahi perut Anton dan perutnya sendiri.
Dunia seolah meledak di balik kelopak mata James. Seolah ada cahaya putih yang membutakan memenuhi penglihatannya saat ia merasakan cairan hangat memenuhi bagian dalam dirinya. Tubuhnya melengkung kaku, jemari kakinya menekuk, dan ia hanya bisa mengeluarkan desahan panjang yang melengking sementara kesadarannya seolah melayang keluar dari raga.
Anton pun tak jauh berbeda ia mengerang rendah dengan kepala yang terkubur di leher James, memberikan seluruh bebannya pada pria itu saat pelepasan yang panas dan kental membanjiri James sepenuhnya. Denyut kenikmatan terus merambat, membuat mereka berdua tetap kaku dalam penyatuan selama beberapa detik, sebelum akhirnya gravitasi menarik mereka kembali ke atas kasur yang kini berantakan dan basah oleh keringat bercampur sperma.
Mereka terengah-engah dalam hening yang pekat, hanya suara jantung yang berdegup liar yang terdengar memenuhi kamar. Anton tidak langsung menjauh ia tetap di sana, membiarkan keintiman itu meresap ke dalam tulang, sementara James masih terisak kecil dan terengah-engah, kehabisan kata-kata karena puncak pelepasan yang baru saja di terimanya.
Dengan napas yang masih tersengal, Anton menarik dirinya dengan pelan penuh dengan kehati-hatian, tangannya beralih menyelimuti mereka berdua dengan selimut yang tadi sempat tertendang ke ujung kasur. Lalu ia menarik tubuh James yang masih lemas dan gemetar ke dalam pelukan hangatnya. Setelah beberapa menit berlalu berdiam dengan posisi saling berpelukan ia membawa jemarinya menyisir rambut James yang basah oleh keringat, lalu turun mengusap pipi James yang masih menyisakan jejak air mata. Anton mengecup kening James dengan lama dan penuh perasaan, sebuah tindakan yang jauh lebih dalam dari sekadar nafsu. Ia menatap mata James yang masih sayu dan berkaca-kaca dengan binar kasih sayang yang tak tertutup-tutupi.
“Terima kasih sayang,”bisik Anton, suaranya kini terdengar sangat lembut. “ Yang tadi benar-benar enak dan nikmat banget. Kamu nya juga luar biasa cantik banget malam ini. Aku merasa jadi pria paling beruntung bisa ngerasain semuanya.”
Dengan sisa tenaga yang ada, James mendongak sedikit, memberikan senyum tipis sarat akan kebahagiaan meski matanya masih terlihat lelah. Ia mengusap rahang tegas Anton dengan ibu jarinya, membalas tatapan itu dengan binar yang sama hangatnya.
“Sama-sama hubby,” jawab James dengan suara yang hampir menyerupai bisikan, namun masih bisa terdengar. “Aku senang bisa bikin kamu puas malam ini. I love you.”
“I love you too bebe, sekarang tidur ya.”
Perlahan kantuk yang berat mulai menggelayuti kelopak mata mereka, sisa dari energi yang terkuras habis oleh gairah yang meluap. Anton menarik selimut lebih tinggi, memastikan James benar-benar hangat dalam dekapannya. Ia tidak memberikan ruang sedikit pun di antara tubuh mereka, kaki mereka saling mengunci di bawah selimut, dan lengan kekar Anton menjadi bantal yang paling nyaman bagi kepala James.
Cahaya remang-remang dari lampu nakas menerangi wajah mereka yang tampak begitu damai. James akhirnya memejamkan mata, membenamkan wajahnya di ceruk leher Anton, menghirup aroma maskulin yang kini terasa sangat menenangkan. Sebelum benar-benar terlelap, ia merasakan Anton mengecup pucuk kepalanya sekali lagi, sebuah janji tanpa kata bahwa ia tidak akan pergi ke mana-mana.
— fin.
