Work Text:
Atmosfer dalam kamar mereka──Anaxagoras, Phainon, dan Mydeimos──benar-benar menyesakkan. Hawanya penuh dengan suhu udara yang memanas; bukan hanya karena pemanas ruangan saja, tetapi juga karena gejolak gairah yang membara di atas ranjang. Di luar kamar, tepat di depan daun pintu yang tertutup rapat, Luocha berdiri dalam keheningan, sibuk menatap jam sakunya setiap beberapa menit sekali.
"Stimulasi biologis adalah katalis terbaik untuk rahim yang sulit nyerah." Batin Luocha, hendak meyakinkan diri sendiri, bahwa, sarannya sudah yang terbaik. Ia tentunya tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam──mulai dari suara tempat tidur yang berderit, lantas erangan berat yang terdengar melantun tak habis sudah──semua itu bukanlah hal asing baginya. Sungguh, ia menanti dengan sabar kala instruksi medisnya dijalankan dengan cara yang paling tak senonoh.
Tepat di atas ranjang besar yang sudah berantakan, Mydeimos terbaring dengan perut besarnya yang membusung kencang, bak kubah yang menampung nyawa, pun yang seolah enggan menyapa dunia. Kulit perutnya terpandang tegang hingga nampak sedikit transparan, memberi lihat gurat pembuluh darah tipis. Sementara itu, di dalamnya, kontraksi mulai menagih haknya dengan rasa mulas luar biasa. Andai saja gerbang lahirnya mau terbuka tanpa minta dimanja, pasti Mydeimos sudah berusaha mengeluarkan bayi itu dari dalam rahimnya. Sayang, kelahirannya tak berjalan lancar. Itu sebab, Luocha menetapkan titah mutlak; hanya stimulasi yang intensif yang bisa memicu. Buat Anaxa serta Phainon──kedua lelaki Mydeimos──tak berniat memberikan apa pun kecuali kenikmatan.
Sayang kan, bila berhubungan badan hanya untuk melancarkan jalan lahir saja? Sekali jalan, mereka akan memuaskan nafsu sekalian.
Berlututlah Anaxa di antara kedua kaki Mydeimos yang sudah terbuka lebar. Permatanya berkilat penuh otoritas kelaparan tatkala ia tatap bibir vagina Mydeimos yang sudah membengkak, memerah.
"Jalan lahir kamu udah ranum sekali, Dei." Bisiknya. Lalu, tanpa basa-basi lagi, tanpa menunggu balasan atas paparnya, ia bebaskan tegaknya, memperlihatkan dengan jelas di hadapan Mydeimos kemaluan yang tebal, panjang, dan berurat memanas sebab sudah tertahan selama berbulan-bulan masa kehamilan. Anaxa takut melukai bila menyetubuhi kala bayi masih ada di dalam.
Dengan satu dorongan, tanpa pelumas tambahan, ia lesakkan seluruh panjang penisnya ke dalam vagina Mydeimos. Begitu mudah masuk, begitu lancar meluncur hingga tenggelam sampai pangkal.
"Nnh──Naxa . . hh~" Mydeimos lekas mendesah, merasakan dinding vaginanya meregang untuk menampung ukuran lelakinya sekaligus tekanan dari kepala bayi yang sudah turun ke panggul. Jari-jemari Mydeimos konstan mencengkeram seprai hingga kusut kain sutranya.
"Dei, sakit?" Tanya Anaxa, khawatir. Ia perhatikan ekspresi wajah Mydeimos di hadapan ia. Ia pandang mata yang terpejam, mulut yang terbuka, dan pipi yang merona sambil merasakan ruang dalam vagina Mydeimos menjadi kelewat sempit, tambah panas pula. Penis Anaxa terjepit di dalam sebab kontaksi yang hampir menyakitkan. Kendati, ia tak berhenti. Ia justru ciptakan gesekan daging hingga suara becek terdengar memantul di dinding kamar.
"Sakit . . tapi bukan karena kamu──karena bayinya . . hh. Kenapa dia ngga mau langsung keluar aja sih?" Tanya Mydeimos. Kini, ia buka pelupuk matanya, menatap sayu lelakinya yang bersurai hijau muda itu sambil menahan bulir air mata di sudut mata.
"Karena dia butuh ruang buat keluar, sementara kamunya masih terlalu sempit, Dei," jawab Anaxa, sambil menambahkan pacu pinggulnya dengan tempo yang masihlah lambat. Selambat yang ia mampu, "aku coba buka . . buat kamu."
"Mhm, aku juga mau bantu." Phainon menimpali segera.
Di sisi lain, ia bergerak mendekat, mengangkat pinggul Mydeimos yang berat, dan memposisikan kekasihnya itu agar bersandar di atas tubuhnya dalam posisi telentang yang sangat membantu kedua kaki Mydeimos untuk tetap mengangkang. Ia keluarkan pula tegak miliknya yang tak kalah mengintimidasi di sana, sebelum ujungnya yang tumpul nan basah mencari celah melalui jalur belakang.
Tanpa keraguan, Phainon hujamkan penisnya itu ke dalam anus Mydeimos yang ketat dalam satu sentakan.
"AAAHhH! ! Naxa . . Phai──! Penuh . . aku penuh banget hnggh──! !" Ringisan lantas keluar dari lisan Mydeimos. Kepalanya mendongak ke belakang dengan mata bergulir ke atas. Tekanan ganda dari depan dan belakang lubangnya menciptakan sensasi kepenuhan yang kelewat nikmat; vagina dipenuhi Anaxa, anus menelan panjang Phainon. Nikmat. Nikmat sekali! Ingin rasanya Mydeimos disetubuhi kedua lelakinya saat ini juga, dibuat mengerangkan nama dan melantunkan desah hingga tenggorokan kering. Namun, sayang, begitu kepala penis Phainon menyentak tepat di titik prostat yang tertekan beban rahim, suara plup yang basah dan berat lekas terdengar mereka bertiga.
Air ketuban Mydeimos pecah dengan deras, menyembur keluar dari sela-sela kemaluan Anaxa, membanjiri seprai dengan cairan hangat.
"LUOCHA!" Segera Anaxa memanggil, berteriak. Suaranya sumbang, tercekik antara kepanikan serta gairah yang memuncak di ujung zakar.
Luocha melangkah masuk, sedikit tergesa. Permatanya menyapu pemandangan di hadapannya──ternyata benar-benar kotor, benar-benar cabul, benar-benar liar dari semua hal yang pernah ia saksikan. Yah, setidaknya hubungan intim sejenis ini sungguh menjadi cara efisien 'tuk memancing pecahnya ketuban dan membuka jalan lahir, sih.
Mydeimos kini berada di tengah badai kontraksi yang datang dadakan, sekaligus pula. Tubuhnya gemetaran, kendati fiksasi masokistiknya mengambil alih. Tatkala Phainon hendak menarik diri untuk memberi ruang lebih, Mydeimos justru meremas tangan Phainon dengan kekuatan penuh hingga ujung jari-jemarinya memutih.
"Jangan . . keluar! Demi Tuhan──biarin aja di dalem situ, Phai ... Haah aah . . aku butuh ini── aku butuh punya kamu ganjel anus aku. ." Pinta Mydeimos dalam rintihan.
Phainon yang mendengar lantas mengecup garis leher kekasihnya itu. Napasnya memburu memberi persetujuan. Jantungnya berdegup kencang; antara tak sabar sebentar lagi menjadi ayah atau libido meningkat karena permintaan aneh kekasihnya.
"Aku nggak kemana-mana, My. Aku di sini, sampai kamu ngelahirin." Kembali ia hujamkan penisnya lebih dalam, memberi tekanan yang dicari Mydeimos.
Tersentaklah Mydeimos kala rasakan kembali penetrasi dari panjang tegak Phainon. Rasanya buat tenang, anusnya disumpal sesuatu. Sementara itu, Anaxa terpaksa menarik penisnya keluar dari jalan lahir agar Luocha dapat memposisikan diri tepat di antara kedua kaki Mydeimos. Kendati demikian, ia tetap setia berada di samping──sesudah membenahi celana dan memaksa tegaknya kembali ke balik kain dalaman──serentak memegangi paha kekasihnya hingga sendi berderak.
Permata Anaxa tak mampu berpaling dari pemandangan gamblang di hadapannya. Ia tatap lekat-lekat bibir vagina Mydeimos yang kini meregang hingga batas yang nampaknya mustahil. Ia perhatikan pula jaringan daging di sana berangsur memerah pekat dan menipis tatkala kepala bayi mereka mulai terlihat, terdorong keluar dengan begitu perlahan. Detik selanjutnya, pandangan ia turun, melihat anus Mydeimos yang berdenyut lantaran dijejal penis Phainon; kekasihnya satunya itu tak bergerak, hanya diam di sana, menjaga stimulasi agar Mydeimos dapat mengejan.
Selama itu, Luocha amati dari antara paha Mydeimos, tangannya dengan cekatan membantu peregangan perineum yang sudah kelewat tipis. "Jangan lupa napas, Mydei. Tekan dagu kamu ke dada lalu dorong pas saya minta. Dan, Phainon, jangan berhenti gerak, jangan diam aja. Stimulasi dari belakang bisa bantu kepalanya keluar lebih cepat," intruksi Luocha beri, buat semua mengerti.
Pemandangan antara darah, air ketuban, dan proses persalinan ini tentu buat kemaluan Anaxa di bawah sana tambah menegang hingga berdenyut nyeri. Ingin sekali ia hujam kembali, namun sayang, ia hanya mampu menonton bagaimana Mydeimos dihancurkan oleh kehidupan baru dan nafsu sekaligus.
Sambil Mydeimos mengejan dengan teriakan serak serta sumbang, payudaranya yang sintal dan membengkak berat itu mulai mengalami kebocoran laktasi. Maklum, jaringan kelenjar susunya sudah mencapai batas daya tampung maksimal akibat hormon kehamilan, dan kini, badai oksitosin yang dipicu oleh penetrasi Phainon dari belakang serta sakitnya perut lantaran ingin sekali melahirkan menjadi pemicu ledaknya.
Setiap kali ia melakukan dorongan napas untuk mengeluarkan bayi, otot-otot di sekitar dadanya ikut berkontraksi, menghimpit kantong-kantong susu yang sudah matang di dalam sana. Putingnya yang menegang keras dan memerah gelap itu mulai menyemprotkan ASI putih kental secara ritmis, mengikuti denyut jantungnya yang menggila.
Cairan susu menyembur keluar bak air mancur kecil, mengaliri lembah dadanya yang naik-turun tak keruan, membasahi perut kencangnya yang transparan, hingga akhirnya meluap dan jatuh menetes ke atas dada Phainon yang mendekapnya dari belakang. Begitu manis aromanya, begitu hangat pula rasanya, mana lagi ditambah bauran peluh hingga buat Anaxa yang memandang, menganggapnya ... erotis.
Sekaligus berantakan.
Berantakan sekali.
"Dei ... tubuh kamu udah nggak sabar buat ngasih makan, ya?" Tanya Anaxa, tak benar-benar ingin diberi jawaban. Ia usap satu puting Mydeimos untuk kemudian menjilat bulir susu yang terbalur di jari telunjuknya.
"Haah . . haa diam Naxa──" Walau tak ingin dijawab, tetap Mydeimos sempatkan diri menjawab. Malu soalnya, tapi ia suka. Suka sekali dengan kalimat Anaxa.
Di bawahnya, Phainon sudah mencapai batas. Ia rasakan jepitan anus Mydeimos yang kian kencang karena dorongan kepala bayi. Dan, melihat bagaimana kekasihnya sedang meregang nyawa, membuat denyut di sepanjang kemaluannya menjadi tak karuan. Ia lantas benamkan penisnya dalam-dalam dan lalu menyemburkan spermanya yang melimpah. Begitu banyak sampai-sampai meluap dari celah anus, luber keluar menyelimuti testis Phainon dan menyatu dengan aliran darah yang mengalir dari lubang vagina.
Anaxa tentunya menyaksikan pemandangan itu. Ia menyaksikannya dengan begitu baik.
"Mydei, DORONG!" Teriak Luocha, seketika membuyarkan lamunan Anaxa, menyentak kesadaran Phainon, dan memaksa Mydeimos untuk memejamkan mata erat-erat demi mengumpulkan seluruh sisa energi.
Ia kerahkan segala kekuatan dari otot perutnya yang kencang itu. Ia eratkan pegangan tangannya pada tangan Phainon hingga kuku jari-jemarinya terbenam dalam, merobek sedikit kulit sang kekasih sebagai pelampiasan rasa sakit yang luar biasa. Di bawah sana, pemandangannya benar-benar profan; bibir vagina meregang melingkar, jaringan perineum bergetar, tertekan oleh diameter kepala bayi yang mulai tembus hingga memaksa lubang itu terbuka hingga ke titik koyak.
"AAAGGGHHHHH──!" Mydeimos melengkingkan jeritan pilu yang memecah kesunyian kamar, urat-urat di leher dan dahinya menonjol pula.
Dengan satu dorongan terakhir, seorang bayi perempuan cantik akhirnya meluncur keluar. Tubuh mungil itu meluncur ke tangan Luocha yang sudah bersiap, membawa serta aliran air ketuban yang hangat dan sisa-sisa darah persalinan. Tangis kencang sang bayi pun segera pecah, menyambut dunia di hari penuh kasih sayang yang ternoda ini.
Oh, jelas. Anaxa menyaksikan pemandangan itu tanpa berkedip; permatanya yang haus merekam dengan rinci bagaimana kepala bayinya keluar dari vagina yang koyak dan menganga lebar, tepat di detik yang sama saat lubang anus Mydeimos yang dijepit dari dalam mulai meludahkan benih Phainon yang kental dan melimpah.
Lekas terkulai lemaslah Mydeimos, tubuhnya bergetar dalam sisa-sisa trauma fisik dan ekstase, sementara anusnya masih berdenyut-denyut malas mencoba menelan kembali penis Phainon yang masih tertanam dalam kolam sisa spermanya sendiri.
Luocha lantas bersihkan jalan napas sang bayi, matanya beralih ke dua lelaki yang masih tampak dikuasai birahi. "Haah, baru ini saya bantu lahiran seberantakan ini. Tapi, selamat, bayi kalian perempuan, sehat juga. Sekarang, Phainon, keluar dari sana. Saya mau obati lukanya." Ucap Luocha sambil menyerahkan bayi mereka bertiga ke dada Mydeimos yang masih bersimbah ASI serta keringat.
Mydeimos lantas terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal, kendati ia masih bisa merasakan penis Phainon yang lambat laun ditarik keluar. Tersenyum lemah pula ia ke arah Anaxa, sambil mengulurkan satu tangan untuk meraih tangan lelakinya itu. "Naxa, namanya .. siapa?" Tanya Mydeimos, selagi Phainon mengangkat tubuhnya untuk dibaringkan kembali ke atas ranjang.
"Valentia," ucap Anaxa. Ia melangkah mendekat guna mencium bibir Mydeimos yang kering dan pecah-pecah pucat serentak membalas genggaman tangannya, "nama belakangnya, aku serahin ke Phai aja." Tambahnya, diikuti dengan mata beralih menatap Phainon yang telah berdiri, membenahi diri.
"Astraea? Aku dapat saran itu dari Cae Stelle. Artinya bagus, .. bintang murni." Tutur Phainon.
"Valentia Astraea, ya . . ── Aku suka namanya." Bisik Mydeimos dengan suara yang hampir habis, nyaris tenggelam di antara isak tangis kecil sang bayi di atas dadanya.
Ia pejamkan mata untuk sesaat, mencoba meresapi denyut di seluruh tubuhnya yang kini terasa asing sekaligus nikmat. Di balik rasa lelah yang menghancurkan tulangnya, ada sebuah pengakuan yang tertahan di tenggorokan──sebentuk gengsi yang perlahan runtuh
Terus terang saja, ia tak hanya menyukai nama itu; ia memuja fakta bahwa menyukai sensasi sobek yang tadi ia rasakan, ia menyukai bagaimana anusnya masih terasa penuh dan perih oleh benih Phainon, dan ia sangat menyukai rasa sakit di mana ia melahirkan seorang nyawa di tengah persetubuhan.
"Naxa . . Phai──" Mydeimos memanggil dalam gumam malu-malu, wajahnya yang pucat merona tipis lantaran sisa-sisa nafsu yang masih tertinggal. "Makasih . . udah ada di sini. Aku nggak sangka bakal kayak gini, tapi── aku mau lagi suatu saat nanti." Dipalingkannya wajah begitu ia usai berucap, berharap bisa menyembunyikan binar matanya yang kini penuh ketergantungan pada kedua lelakinya. Sementara itu, jari-jemarinya yang lemas mengusap lembut pipi Valentia.
Anaxa dan Phainon hanya dapat memberi tatapan pemujaan, kemudian mengusap kening Mydeimos yang masih basah oleh peluh dan meninggalkan kecupan di sana, bergantian antara sang ibu dan sang bayi yang baru lahir.
"Aku juga mau lagi," balas Phainon, dalam bisik pula, "tapi habis ini anak dari aku ya?"
