Work Text:
Sudah jangan ke Jatinangor,
Ia sudah ada yang punya
Ironisnya adegan saat ini adalah, Pond sedang membawa mobilnya di tol Cipularang menuju daerah yang disebut di lagu yang ia putar saat ini, Jatinangor.
Jatinangor sempat menjadi rumah bagi Pond selama 4 tahun, secara langsung, kecamatan di Sumedang tersebut menyimpan memori yang banyak, maupun itu sedih atau senang, semuanya ada di sana. Mulai dari menangisi masa depan, pisah dari orang tua, teman-teman yang sampai kini ia percaya, pengalaman-pengalaman mengurus acara kampus, hingga cinta pertamanya. Pond ditemui cinta pertamanya pada saat berjalannya ospek. Tepat lima hari setelah ia pertama menginjakkan kaki ke Jatinangor.
Namanya Phuwin, berdasarkan ingatan Pond, senyumnya manis, tubuhnya agak kurus, dan rambut hitam lurusnya tersebut seringkali disisir ke samping. Phuwin ada di setiap cerita Pond selama tiga tahun, dia ada ketika Pond mendapatkan IP lebih dari 3.5 pertamanya, jabatan menteri organisasi kampus pertamanya, dan magang pertamanya.
Kini mobil Pond sudah memasuki area yang dulu ia datangi setiap hari, kampusnya. Setelah 10 tahun lulus, banyak yang telah berubah. Gedung kuliah yang dulu ia bilang "jelek" kini telah disulap menjadi gedung baru, taman yang dulunya tidak terurus kini terlihat ramai dikerubungi mahasiswa, warung yang dulunya ia kunjungi kini menjadi minimarket.
Pond akhirnya turun dari mobilnya begitu sampai di fakultas tempat ia menuntut ilmu. Rasanya aneh. Kini ia bukan lagi remaja yang sehari-harinya hanya dikejar oleh deadline tugas. Sekarang ia datang sebagai seseorang yang lebih dewasa, yang mulai mengerti apa itu hidup.
"POND!"
Begitu mendengar suaranya dipanggil, Pond menoleh ke belakang dan menemukan sahabat karibnya dulu, Aou.
"Weh, apa kabar? Long time no see ya," ucap Aou sambil menyalami Pond.
Pond membalas dengan tersenyum, "Baik gua, lu gimana Aou? Jadi nikah? Kapan?"
Aou tertawa, "Jadi. Dateng ya, kayaknya Maret udah sebar undangan," balasnya
Pond tersenyum atas ucapan temannya tersebut. Ia merangkul Aou dan mengajaknya masuk auditorium untuk acara utama mereka, reuni angkatan.
Reuni angkatan Pond sudah terjadi dua kali setelah ia lulus. Namun, Pond tidak sempat datang ke yang pertama karena sibuk dengan pekerjaannya dulu. Jadi, walau sudah ada dua, ini adalah yang pertama bagi Pond.
Selama 2 jam acara, Pond merasa kembali sebagai remaja biasa yang tidak tahu apa-apa tentang seberapa kerasnya dunia. Ia berbicara dengan semua orang yang ia pernah kenal, menyalurkan kangennya yang tertahan selama ini. Begitu ia merasa cukup berbasa-basi dan membicarakan kehidupannya sekarang, ia kemudian berpamitan dengan teman-teman lamanya. Aou, Perth, Winny, dan Tee. Keempatnya memiliki tempat yang spesial di hati Pond, walau kini berkabar dan mengirim pesan saja jarang.
Keluar dari gedung tersebut, Pond langsung menuju parkiran untuk ke mobilnya. Ada beberapa orang di sana, beberapa wajahnya Pond kenali dan lantas langsung berbalas senyuman sebagai sapaan. Beberapanya Pond tidak kenal.
"Nara?"
Suara tersebut terasa familiar di telinga Pond. Ia sudah lama tidak mendengarnya. Aneh. Badannya merinding sebagai tanggapan. Namun ia tetap menoleh.
Ada dua—atau tiga orang di sana. Satu lelaki berambut coklat, di sampingnya ada perempuan dengan rambut hitam dan panjang, serta seorang bayi kecil di stroller yang dipegang oleh perempuan itu.
Laki-laki tersebut adalah mantan kekasihnya. Phuwin. Phuwin Tangsakyuen. Seseorang yang pernah—mungkin masih ia simpan di hatinya.
"Nara? Apa kabar?" ucapnya sambil tersenyum.
Lidah Pond masih kelu dihadapkan pemandangan ini. Ia hanya membalas jabatan tangan yang diulurkan oleh Phuwin. Ada suasana canggung selama beberapa detik setelah salaman tersebut.
Pond kemudian mencairkan suasana dengan pertanyaan, "Kamu gimana, Phu?"
"Aku? Baik," jawabnya.
Pond tersenyum, merasa lega jawaban tersebut hadir dari mulut Phuwin.
"Oh iya, kenalin, ini istriku. Jaoying."
He saw it coming. Pond terpaksa tersenyum ramah di depan Jaoying, ia tidak tahu apakah ini terlihat ikhlas atau tidak. Yang pasti di hatinya sekarang, ia tidak merasa senang.
"Jaoying."
"Naravit."
Phuwin sudah menikah ternyata. Mungkin ini alasan mengapa Pond harus lebih sering menanyakan kabar sahabat-sahabatnya semasa kuliah. Karena ia tidak mendengar berita apapun tentang pernikahan cinta pertamanya. Jangankan pernikahan, ia sekarang pun tidak tahu di mana Phuwin tinggal.
“Nikah kapan, Phu? Kok aku gak denger ya?” tanyanya sambil sedikit terkekeh, mencoba untuk mencairkan suasana canggung yang ada.
“Setahun yang lalu. Memang aku nikah private, cuma keluarga yang dateng. Dari angkatan kita cuma Fourth yang aku undang. Maaf ya,” jawabnya.
Pond mengangguk, “That's ok. Di mana sekarang?”
“Melbourne. I’m a lecturer there.”
Kota itu. Kota yang sempat menjadi tujuan akhir hidup bagi Pond semasa ia kuliah. Ia menaruh segala mimpi-mimpinya ke kota tersebut, bersama Phuwin.
“Kita nanti S2 bareng ya, Nar. Aku ingin banget ke UMelb, soalnya kakak sepupuku juga di sana. Katanya sih bagus.”
“Aku ikut kemanapun kamu pergi, Phu. Selagi ada kamu, itu tujuanku.”
Tujuan itu hilang bersamaan dengan perginya Phuwin dari pandangan Pond setelah ia lulus dari kampus ini. Melbourne kini menjadi asing begitu didengar di telinganya, beda dengan dulu setiap ia merencanakan rancangan masa depan bersama Phuwin. Tapi ia bersyukur Phuwin berhasil ke Melbourne. Setidaknya, masih ada dia di setiap mimpi yang diwujudkan oleh Phuwin.
"Oh terus ini anakku, Nar. Namanya Gemi."
Gemi.
"Gemintang?"
"Gemintang, Geminaya Tangsakyuen."
Nama itu pernah disebut Phuwin dua belas tahun yang lalu saat mereka berdua punya kasih sayang ke satu sama lain. Pond masih ingat kapan nama Gemintang disebut Phuwin. Ia menyebutnya di malam hari, di kos milik Pond, saat mereka berdua berpelukan sehabis menjalani kuliah.
"Aku nanti kalo punya anak mau aku namain Gemintang, kayak bagus aja gitu."
"Boleh sayang, bagus itu menurutku."
"Gemintang Lertratkosum. Cocok kan, Nar?"
Pond berjongkok dan mengajak bayi bernama Gemintang itu bercanda walau matanya mulai berkaca-kaca. Phuwin dan Jaoying terkekeh sedikit melihat mereka berdua. Saat sudah selesai, ia bangkit dari posisinya dan menatap ke Phuwin.
"Aku balik dulu ya, Phu. It was nice to see you again."
Phuwin tersenyum lalu mengangguk. "I feel that way too."
"Take care."
"You too."
Pond kembali berjalan ke arah mobilnya, sedangkan Phuwin masuk menuju venue reuni mereka berdua. Sembilan tahun yang lalu, Pond dan Phuwin menyelesaikan hubungan mereka di hari jadinya yang ke-5. Di restoran favorit Phuwin yang terletak di Jakarta. Tepat setelah Pond berlutut di hadapan Phuwin dengan cincin berlian di tangannya.
“Aku harap kamu bisa ngertiin aku, Nar. I want to go far. Aku gak mau terikat sama yang namanya pernikahan. I don’t think it’s for me and i could never bring myself to it.”
“Aku masih mau bebas, aku mau menjelajahi dunia sendiri tanpa ada ikatan batin. If you don’t want that, we can just end things off.”
Pond terkekeh sarkas sembari menahan air matanya begitu ia masuk mobil. Namun ia tidak bisa menahan perasaan sakit di hatinya sekarang. Tangannya melemas, bahkan untuk menyalakan mobilnya saja ia tak mampu, apalagi untuk membawanya. Ia lantas berdiam di mobil, menundukkan kepalanya ke setir mobil dan membiarkan air matanya turun.
Mungkin memang benar kata Jason Ranti tadi. Sudah Jangan ke Jatinangor.
