Chapter Text
Lantai dua kediaman keluarga Shin pada pukul tujuh pagi masih teramat sunyi, kontras dengan lantai satu yang kesibukannya selalu dimulai lebih awal. Sejak hari pertama bekerja di rumah ini, Hanjin belajar mengikuti kesunyian lantai dua alih-alih kebisingan yang hidup di bawah. Dari total sepuluh pelayan, hanya empat sampai lima orang yang memiliki izin akses khusus untuk naik ke lantai dua, dan Hanjin menjadi salah satunya.
Alas sepatu loafers yang membalut kakinya meredam hampir seluruh suara langkahnya saat ia menaiki tangga marmer menuju bagian rumah yang paling privat. Karpet tebal berwarna hitam dan emas menyambutnya begitu tiba di atas. Di tangannya, cangkir porselen dan teko kaca berisi teh chamomile beradu pelan setiap kali jemarinya sedikit gemetar. Rasa gugup itu seharusnya sudah lama hilang mengingat ini bulan ketiganya bekerja. Namun entah mengapa, setiap kali ia naik ke lantai dua, perasaan itu selalu kembali.
Pintu kamar utama tidak sepenuhnya tertutup saat akhirnya Hanjin sampai. Langkahnya terhenti, tetapi tangannya tidak kunjung terangkat untuk mengetuk. Sebuah suara dari dalam membuatnya membeku tepat di depan pintu.
“Diem dulu, sayang.”
Suara tersebut rendah dan tenang, mengalun hangat menyapa gendang telinga Hanjin. Hanjin tidak berniat menguping lebih jauh, namun tubuhnya seolah enggan bergerak. Dari celah pintu, ia melihat apa yang tersembunyi di dalam.
Shin Junghwan —kepala keluarga, Tuan Besar, puncak dari hierarki di rumah megah ini— berdiri di dekat ranjang. Punggung lebarnya sedikit membungkuk, tubuhnya condong ke arah seseorang yang duduk manis di atas ranjang. Gerakannya hati-hati, mengancingkan kardigan rajut di tubuh pasangannya. Satu per satu, seolah sosok di hadapannya adalah sesuatu yang rapuh, yang bisa retak hanya dengan sedikit tekanan.
Kim Dohoon —sang Nyonya rumah— tersenyum lembut. Sesekali ia menunduk, memperhatikan jemari panjang Junghwan yang bergerak telaten di tubuhnya. Lalu pandangannya kembali terangkat, menatap wajah yang sudah ia kenal begitu lama tapi seakan tetap menemukan sesuatu yang baru setiap kali melihatnya.
Keluarga Shin yang dimaksudkan —setidaknya yang tinggal di rumah tempat Hanjin bekerja— terdiri dari pasangan harmonis yang belum dikaruniai sosok malaikat kecil yang melengkapi rumah tangga mereka.
“Aku bisa sendiri, sayang.” Gumam Dohoon pelan diiringi tawa ringan.
“Tau,” jawab Junghwan tanpa menghentikan tangannya. “Tapi aku mau bantu kamu.”
Setelah kancing terakhir selesai, ujung jari Junghwan tidak langsung menjauhi badan istrinya, melainkan terlebih dulu menyapa garis leher Dohoon. Bukan sentuhan berlebihan, hanya usapan ringan. Namun cukup untuk membuat nafas Dohoon sedikit tertahan. Dada yang naik perlahan itu tidak luput dari perhatian Hanjin.
Tanpa sadar Hanjin ikut menahan nafasnya. Ia tahu seharusnya ia mengetuk pintu. Masuk, melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Namun ada sesuatu yang menahannya di ambang pintu. Membuatnya tetap diam, menjadi penonton dari adegan yang seharusnya tidak ia lihat.
Sebuah adegan yang indah. Dan karenanya, terasa semakin tidak pantas untuk disaksikan.
Junghwan tersenyum tipis, tatapannya bertaut dengan Dohoon yang kini ekspresinya sulit dibaca. Terlalu larut dalam cara Junghwan memperlakukannya, penuh damba dan memanja.
Hanjin menunduk cepat tatkala dua sejoli itu saling mendekatkan wajah masing-masing. Ia akhirnya sadar sudah terlalu lama berdiri di sana. Tangannya terangkat, mengetuk pintu dengan hati-hati.
“Selamat pagi, Tuan, Nyonya.” Sapanya, berusaha menjaga suara tetap stabil. “Saya mau antarkan teh dan camilan untuk Nyonya.”
Dua pasang mata itu serempak menoleh. Sorot yang tadi sempat redup kembali terang, dan senyum lembut segera terlukis di wajah Dohoon. Ia berdiri tanpa terburu-buru, jemarinya secara alami bertumpu pada pergelangan tangan Junghwan, mencari bantuan pegangan.
“Masuk.” Jawaban singkat tersebut lebih dari cukup sebagai izin.
Hanjin mendorong pintu dengan hati-hati, menjaga posturnya tetap tegak saat melangkah masuk. Usai membungkuk kepada dua majikannya, ia segera menyeberangi ruangan menuju meja kecil di dekat jendela besar, mempersingkat waktu agar tugasnya cepat selesai. Cangkir porselen dan teko kaca diletakannya dengan rapi ke atas meja. Ia menuangkan teh chamomile perlahan, memastikan suhu dan takarannya tepat agar bisa langsung diminum oleh Dohoon. Piring kecil berisi beberapa potong madeleine menyusul diletakkan di sampingnya.
Hanjin melakukan pekerjaannya setenang mungkin, meski sadar dua pasang mata mengawasinya dari belakang.
Setelah tugasnya selesai, Hanjin kembali menegakkan tubuhnya dan berbalik. "Silakan, Nyonya.”
Dohoon mengangguk ringan, senyumnya tidak meninggalkan wajah barang sedetik. “Terima kasih, Hanjin.”
Pagi tadi, pesan dari lantai dua memang sempat membuat dapur lebih sibuk dari biasanya. Dohoon mengeluhkan sakit kepala, meminta disiapkan teh dan kudapan ringan untuk meringankan sakitnya. Nyonya rumah tidak menyukai kue dari luar, sehingga kepala koki harus membuatkan madeleine sejak dini hari.
Hanjin menundukkan kepala dengan sopan sebagai respon.
“Apakah Nyonya ingin saya bawakan obat atau makanan yang lebih berat?”
Dohoon menggeleng pelan. Beberapa helai rambutnya jatuh menyentuh pipi. Cantik.
“Nanti aja. Ini udah cukup kok.”
“Baik, Nyonya. Apakah ada lagi yang perlu saya siapkan?”
“Nggak ada." Dohoon menjawab lembut. “Kalau butuh sesuatu lagi nanti aku panggil kamu.”
Hanjin mengangguk sekali lagi. “Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nyonya.”
Ia lekas berbalik usai berpamitan. Namun baru selangkah menuju pintu, langkahnya harus kembali terhenti sebab Dohoon memanggilnya sekali lagi.
“Hanjin, sebentar.” Hanjin menoleh, kembali memusatkan perhatiannya pada Dohoon. “Nanti malam bantu aku siap-siap, ya. Aku harus temenin Junghwan ke pesta.”
Junghwan yang sejak tadi diam kali ini bereaksi. Kelopak matanya sedikit menyipit, menatap Dohoon dengan sorot mempertanyakan.
“Kamu kan lagi sakit, sayang.” Ujarnya. “Aku bisa datang sama Jihoon aja.”
Han Jihoon adalah sekretaris pribadi Junghwan yang ditaksir usianya sebaya dengan Hanjin. Ia baru satu kali bertemu karena tugas utama Jihoon di perusahaan, bukan di rumah seperti dirinya.
“Cuma sakit kepala sedikit.” Balas Dohoon, mengeluhkan sikap Junghwan yang menurutnya berlebihan. Meski begitu tangannya naik menyentuh pipi Junghwan lalu menepuknya ringan. “Istirahat sebentar juga sembuh.”
Perdebatan kecil pun tak terhindarkan. Junghwan tetap bersikeras agar Dohoon beristirahat di rumah, sementara Dohoon dengan tenang —namun agak keras kepala— memilih untuk tetap mendampingi suaminya. Hasil akhirnya seperti biasa, Junghwan yang kalah. Lebih tepatnya mengalah demi istrinya.
Tawa riang Dohoon mengisi ruangan. Anggun, tidak pernah berlebihan meski tujuannya merayakan kemenangan kecil. Sedangkan Hanjin hanya bisa menunduk, diam-diam menahan senyum mendengar tawa yang menyenangkan tersebut.
Seusai memberi salam untuk kedua kalinya, akhirnya ia bisa benar-benar keluar dari kamar itu. Begitu pintu tertutup di belakangnya, nafas yang sejak tadi terasa berat perlahan dilepaskan. Langkahnya jadi lebih ringan saat menyusuri kembali koridor lantai dua. Nampan kosong ia peluk di depan dada sambil pikirannya melayang pada remahan madeleine yang mungkin masih tersisa di dapur.
Namun nyatanya belum waktunya bagi Hanjin untuk merasa lega.
Baru beberapa langkah menjauh dari kamar utama, suara pintu kembali terbuka di belakangnya. Gesekan kayu dengan lantai marmer menggema pelan di lorong yang sunyi. Disusul sebuah suara agak berat memanggil namanya.
“Hanjin.”
Satu kata itu cukup untuk menghentikan langkah Hanjin. Berbeda dengan suara lembut Dohoon, panggilan Junghwan terasa lebih mengintimidasi. Membuat tubuh Hanjin membeku di tempat.
Ia belum sempat berbalik, belum sempat merapikan ekspresi atau menyiapkan sapaan formal ketika sebuah tangan lebih dulu menyentuh punggungnya. Kokoh dan hangat. Panasnya merambat cepat, menembus melalui lapisan kemeja dan rompi yang Hanjin kenakan, seolah tidak ada jarak sama sekali di antara kulit mereka. Nafas Hanjin tertahan seketika.
Sentuhan itu tidak lumrah. Tidak dalam hubungan antara majikan dan pelayan. Telapak tangan Junghwan tidak hanya menyapa, menetap di sana dan bergerak perlahan, seolah sedang mempelajari kontur tubuh Hanjin. Sejengkal demi sejengkal.
“Masih kesulitan, ya, kerja di sini?”
Suara itu jatuh tepat di sebelah telinganya, menandakan seberapa minimnya jarak mereka. Hanjin memaksa kakinya untuk tetap berdiri tegak meski dadanya menyempit karena oksigen direnggut paksa. Akhirnya ia tetap berbalik demi rasa hormat. Memilih untuk menghadapi, walau keputusan itu segera terasa keliru.
Junghwan berdiri terlalu dekat. Badannya yang tinggi menutupi sebagian tubuh Hanjin, membuat bayangan keduanya menyatu pada pantulan di lantai. Paru-paru Hanjin kini penuh oleh aroma woody yang maskulin dari parfum Junghwan.
“Sedikit, Tuan.” Jawab Hanjin sambil merapal doa dalam hati, berharap suaranya tetap terdengar stabil. “Saya masih menyesuaikan diri dengan ritme di rumah ini.”
“Hmm…” Tatapan Junghwan tidak lepas darinya. Tajam dan dalam, mempertegas otoritasnya di rumah ini tanpa perlu diucap lewat kata. “Dohoon bikin kamu kewalahan?”
“Tidak sama sekali, Tuan.”
Memang benar. Dohoon tidak pernah menyulitkan, tidak pernah menuntut hal di luar batas. Semua yang diminta masih dalam lingkup kewajaran, bahkan cenderung sederhana dibandingkan majikan lain yang pernah Hanjin layani. Kalau pun ada yang melelahkan, hanya belanjaan Dohoon yang kadang terlalu banyak —tas-tas dan pakaian dari butik yang harus dibawa sekaligus oleh Hanjin. Tapi itu pun jarang terjadi.
Justru yang sulit adalah berdiri di hadapan Junghwan seperti ini.
“Bagus kalau begitu.” Senyum tipis terbentuk di wajah Junghwan. Kini Hanjin mengerti kenapa tadi Dohoon sempat menahan nafas. Senyum itu biasa saja, tapi terasa penuh perhitungan. “Semoga kamu betah mendampingi Dohoon.”
Secara teknis Hanjin tidak bekerja untuk Junghwan. Hanjin bukan pelayan Junghwan, melainkan diamanatkan untuk Dohoon. Mengurus kebutuhannya, mendampingi kesehariannya, memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai permintaannya.
Namun tentu saja kehadiran Junghwan sebagai kepala keluarga tidak pernah bisa diabaikan.
Telapak tangan lelaki itu belum juga pergi dari tubuh Hanjin. Sentuhannya justru terasa semakin nyata. Telapak tangan lebarnya bergerak perlahan, menelusuri garis tulang belakang Hanjin melalui kain yang memisahkan mereka. Tidak tergesa maupun kasar, tapi memberi tekanan lembut dengan cara yang disengaja. Junghwan mengelus pinggang, lalu tangannya bermuara tepat di atas bokong Hanjin.
Hanjin hanya bisa diam, merasa tidak punya ruang dan wewenang untuk menolak.
“Tuan,” akhirnya Hanjin bicara, pelan dan hati-hati. “Apakah ada yang perlu saya siapkan untuk Tuan?”
Hanjin mencoba mencari jalan keluar paling aman. Tapi Junghwan hanya diam. Bukan pertama kali Junghwan begini, menyentuhnya tanpa tujuan jelas, seakan memaksa Hanjin untuk juga terbiasa akan kehadirannya. Ibu jarinya membelai lekukan pinggang tanpa mempedulikan bagaimana efeknya untuk Hanjin.
“Nggak.”
Namun tangannya belum juga meninggalkan Hanjin. Perilakunya kontradiktif dengan ucapannya. Tatapan Hanjin bergeser perlahan melewati bahu Junghwan, menuju pintu kamar yang kini tertutup rapat.
Di balik pintu itu ada Dohoon. Satu-satunya entitas lain di lantai dua yang justru membuat Hanjin lebih gelisah daripada situasinya bersama Junghwan. Entah apa yang tengah Dohoon lakukan di dalam kamar, dan Dohoon juga mungkin tidak tahu perilaku suaminya di luar kamar.
Hanjin memperhatikan Dohoon yang berdiri tegap menghadap cermin full body di dalam walk in closet sekaligus dressing room (yang menurut Hanjin malah lebih pantas disebut butik mini). Siluetnya nampak indah. Bahunya sempit dan tidak setegap milik Junghwan, senada dengan pinggangnya yang teramat langsing untuk ukuran lelaki. Sebagian keningnya dibiarkan tertutup oleh helaian rambut yang jatuh, dan sebagian lainnya dibiarkan bernafas tanpa halangan.
Paras Dohoon sukar dijelaskan oleh kata-kata. Bukan sekadar cantik, tapi tersusun rapi. Setiap garis wajahnya dipahat Tuhan dengan sempurna. Matanya tidak begitu besar, tapi menjadi tempat singgah gemintang yang berpendar indah. Tulang hidungnya tinggi, pantas bersanding dengan bibir yang malam ini dipoles lipstik warna dusty rose.
Dohoon lebih pantas disebut ornamen hidup alih-alih manusia biasa. Karya seni yang Junghwan kurasi secara teliti dari sebuah galeri. Sementara Hanjin adalah pelayan yang ditugaskan untuk merawat agar nilainya tetap mahal.
“Terlalu sederhana, ya?” Dohoon bertanya tanpa menoleh.
Hanjin masih mengamati pantulan indah itu di cermin. Tubuh tinggi langsing Dohoon dibalut kemeja sutra warna champagne yang bahannya jatuh mengikuti tubuh Dohoon seperti aliran air. Bawahannya dipadu dengan trouser hitam yang memberi kesan apik pada kaki jenjangnya.
“Tidak, Nyonya.” Jawab Hanjin jujur. “Sudah cukup. Anda cantik malam ini.”
Tapi Dohoon tertawa kecil. “Junghwan mungkin bakal bilang kurang.”
Entah jawaban macam apa yang perlu Hanjin beri. Ia pilih membuka salah satu laci sebelum melangkah mendekat bersama sehelai pita sutra tipis di genggaman. Kakinya berhenti tepat di belakang Dohoon, menyisakan cukup jarak yang sopan.
“Boleh saya rapikan sedikit?”
Dohoon mengangguk kecil.
Jari Hanjin menyentuh kerah kemeja Dohoon hati-hati, menyelipkan pita di bawah lipatan kerah. Gerakannya presisi tanpa ragu, menarik kedua ujungnya perlahan lalu mensejajarkannya. Jemari lentiknya lihai membentuk simpul kecil di bagian samping, sisakan juntaian kain yang tidak simetris tapi justru menambah kesan estetik.
“Bagaimana, Nyonya?” Hanjin meminta pendapat. “Apakah lebih baik?”
Dohoon menatap dirinya di cermin. Memperhatikan ujung pita yang jatuh lembut di dadanya.
“Mm,” ia mengangguk puas. “Kamu selalu tau gimana caranya bikin penampilan aku lebih cantik.”
Hanjin hanya tersenyum mendengar pujian tersebut dan menjauhkan tangannya dari kerah kemeja Dohoon. Ia kembali memberi jarak, meraih kotak beludru warna biru tua di atas meja rias. Di dalamnya terdapat sepasang anting sederhana, anting emas putih dengan batu permata kecil berbentuk mirip tetesan air.
Tanpa perlu diminta, Dohoon sedikit memiringkan kepala ketika Hanjin kembali ke sebelahnya. Memberi akses agar sang pelayan mudah memasangkan anting ke telinganya yang posisinya lebih tinggi. Saat jari Hanjin menyentuh telinganya, Dohoon menarik nafas pelan —nafas yang sebenarnya bisa Hanjin dengar. Perhiasan yang dingin terasa amat kontras dengan jemari hangat Hanjin. Ketika Dohoon bergerak sedikit, anting itu berayun pelan, permatanya memantulkan kilau cahaya yang cantik.
“Nggak terlalu mencolok, kan?”
“Tidak, Nyonya,” Jawab Hanjin, berusaha mengenyahkan bayangan Junghwan tadi pagi yang mendadak kembali melintas sekelibat. Suami dari seseorang yang tengah dilayaninya. “Tapi cantik, Tuan pasti suka melihatnya.”
Dohoon menatap pantulan telinganya sendiri, lalu tersenyum samar.
Hanjin juga melingkarkan cincin tipis yang permukaannya ditanami beberapa batu permata kecil, menemani cincin kawin dari Junghwan di jari manis satunya. Tangannya meraih jemari Dohoon amat perlahan. Jemari itu sangat mungil padahal tubuh Dohoon tinggi semampai, nyaris menyamai Junghwan. Kuku-kukunya begitu rapi, menandakan seberapa terawatnya Dohoon. Ibu jari Hanjin sempat berhenti di permukaan cincin yang kini terselip di antara jari-jari kurus Dohoon, membelainya sedikit tanpa bicara apa pun.
Setelahnya Hanjin menuntun Dohoon untuk duduk di kursi rias, sedangkan dirinya berlutut di hadapannya. Diambilnya sepatu pantofel berujung agak runcing dengan heels lima sentimeter yang telah menunggu di lantai sedari tadi. Ia angkat kaki Dohoon hati-hati, pelan-pelan memasukkannya ke dalam sepatu. Dohoon tidak menolak, tidak keberatan, karena memang begini lah tugas Hanjin.
“Aku suka cara kerja kamu, Hanjin.” Dohoon sedikit menunduk, memperhatikan Hanjin di bawahnya. “Kamu selalu rapi dan nggak pernah buru-buru.”
“Karena kalau saya buru-buru, nanti Nyonya nggak kelihatan cantik.” Ucap Hanjin sambil menurunkan kaki Dohoon yang sebelumnya bertumpu di lututnya.
Setelah semuanya selesai Dohoon lekas kembali berdiri. Sekarang penampilannya sudah lengkap, anggun dan elegan, persis segelas sampanye untuk jamuan malam. Dohoon mematut dirinya sekali lagi, lalu melirik Hanjin lewat pantulan cermin.
“Hanjin.”
“Ya, Nyonya?” Hanjin membalas tatapannya lewat cermin
“Terima kasih untuk bantuannya.”
Hanjin terseyum sopan dan menggeleng. “Sudah tugas saya, Nyonya.”
Pukul enam tepat Junghwan tiba di rumah. Ia telah lebih dulu berganti pakaian di kantor dan hanya singgah untuk menjemput Dohoon sebelum berangkat bersama. Pertemuan mereka terjadi di ambang tangga saat Dohoon baru saja hendak turun. Dari belakang, Hanjin yang setia mengikuti langkah Dohoon menangkap perubahan signifikan pada raut wajah Junghwan. Lelah yang semula menggantung di sana luruh seketika, digantikan sorot yang hidup begitu matanya menemukan sosok Dohoon di puncak tangga.
Kedua tangan Junghwan lantas terbuka, menyambut Dohoon dalam pelukan yang tergesa. Seolah jatuh cinta untuk kesekian kalinya, ia tak mampu menahan diri untuk tidak mencium Dohoon di tempat. Tawa ringan Dohoon mengalir, membalas cumbuan itu dengan kemesraan yang setara. Mereka tampak begitu serasi, bagai lukisan yang hidup di bawah sorot cahaya chandelier.
“Udah selesai semuanya, cantik?” Tangan Junghwan merapikan posisi blazer hitam yang tersampir apik di pundak Dohoon. “Kita berangkat sekarang?”
Dohoon mengangguk. Envelope bag berlogo Celine di tangan kanan dipindahkan ke tangan kiri agar bisa leluasa menggandeng lengan Junghwan. Keduanya pun melangkah berdampingan menuju pintu utama yang terbuka lebar. Namun di tengah langkah Dohoon mendadak berhenti, ia menoleh ke belakang, ke arah Hanjin yang tertinggal di bawah tangga.
“Hanjin, nggak usah nunggu aku pulang.” Nadanya menyerupai seorang ibu yang mengingatkan anaknya untuk tidak terjaga terlalu larut. “Tidur aja duluan nanti.”
“Baik, Nyonya.”
Hanjin mengangguk patuh. Tanpa kata, ia menyaksikan Junghwan dan Dohoon yang perlahan menjauh, langkah mereka selaras bagai sepasang burung yang ditakdirkan menjadi jodoh. Tatapan Hanjin tertahan di sana, pada punggung lebar Junghwan yang tak lagi menoleh. Ia paham, barangkali memang yang tadi pagi tidak ada artinya untuk Junghwan.
Pukul sepuluh malam seharusnya seluruh pelayan telah kembali ke area quarters, meninggalkan bangunan utama sepenuhnya untuk Junghwan dan Dohoon. Aturan itu jelas dan tidak boleh dilanggar. Di larut malam bangunan utama berubah menjadi restricted area.
Namun malam ini Hanjin melanggarnya. Ia bersikeras tinggal lebih lama, berlindung di balik alasan tanggung jawab terhadap Dohoon, hanya ingin memastikan Dohoon benar-benar tidak membutuhkan apa pun setelah pulang. Kepala pelayan sudah memperingatkan, bahkan memerintahnya untuk beristirahat, Dohoon sendiri telah menyuruhnya tidur lebih dulu sebelum berangkat tadi.
Akan tetapi tanpa sadar ia malah tertidur di dapur. Kepalanya terkulai di atas meja marmer dingin, tubuhnya menyerah pada lelah yang sejak tadi ia abaikan. Ketika terbangun, jarum jam telah nyaris menunjuk pukul sebelas. Punggungnya nyeri, lehernya kaku. Ia terperanjat, hampir kehilangan keseimbangan jika tangannya tidak sigap berpegangan.
Lalu dirinya mendengar suara yang berasal dari ruang keluarga. Pelan dan samar, tapi cukup jelas untuk membuat kesadarannya pulih seketika. Junghwan dan Dohoon sudah pulang.
Hanjin tidak berniat mengintip, hanya ingin memastikan bahwa suara tersebut betulan berasal dari Tuan dan Nyonya rumah. Namun keputusan Hanjin tersebut nampaknya salah besar.
Dari balik tembok pembatas antara dapur dan ruang keluarga, yang pertama kali ia lihat bukanlah mereka. Melainkan jejak blazer hitam yang tadi tersampir anggun di pundak Dohoon kini tergeletak di lantai. Satu sepatu tergeletak di dekat kain malang itu, sementara pasangannya jatuh sembarangan di atas karpet.
Chandelier di ruang keluarga hanya menyala separuh, menyisakan cahaya keemasan yang jatuh di atas sofa panjang berlapis beludru. Dari tempatnya berdiri, Hanjin bisa melihat siluet dua tubuh di sana. Sama seperti tadi pagi, Hanjin malam ini juga tidak berniat melihat lebih jauh, tapi matanya tidak menurut. Hari ini sudah dua kali Hanjin jadi penonton dari adegan yang seharusnya tidak ia tonton.
Dohoon berbaring di sofa, tubuhnya tampak lebih kecil dari biasanya —atau mungkin hanya karena posisi yang sekarang membuatnya terlihat rapuh. Rambutnya yang agak panjang, yang tadi tertata rapi kini jatuh sepenuhnya menutupi kening.
Junghwan berada di atasnya, menindih tubuh kecil Dohoon di sofa. Satu tangannya —yang kemejanya digulung sampai ke siku— bertumpu di sandaran sofa, mengurung ruang gerak Dohoon yang juga nampaknya tidak berniat kemana-mana. Tangan lainnya berada di pinggang Dohoon, cengkram pinggang telanjangnya karena seluruh kancing kemeja Dohoon telah dibuka sempurna. Ia masih berpakaian lengkap, hanya menurunkan sedikit celana agar bisa menggagahi Dohoon sambil memuja sang istri.
Kepala Dohoon sedikit menengadah, bibir terbuka lebar tanpa suara, nafasnya tidak stabil. Leher jenjang Dohoon nampak amat cantik karena simpul pita buatan Hanjin masih dibiarkan jadi hiasan. Tapi ikatannya sekarang jadi lebih erat, nyaris mencekik leher Dohoon yang merah sampai ke telinga. Mungkin Junghwan yang sengaja mempererat ikatannya.
“Junghwan…” Suara Dohoon memanggil pelan, mengeluhkan tubuhnya yang tersentak-sentak kecil tiap Junghwan menyodok kasar.
Junghwan tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan lewat sentuhan. Tangan besarnya bergerak perlahan, memberi elusan di paha jenjang Dohoon yang menjepit erat pinggulnya. Bagian bawah Dohoon sudah sepenuhnya telanjang, hanya menyisakan celana dalam basah yang tersangkut di pergelangan kaki.
“Capek?” Suara Junghwan amat rendah diliputi nafsu, berbisik tanpa mengalihkan tatapannya dari Dohoon sedikit pun.
Dohoon hanya menggeleng, melingkarkan kedua tangannya ke leher Junghwan sebagai tanda agar sang dominan tidak berhenti. Hanjin merinding dari kepala sampai ke kaki sambil memandangi bagaimana vagina basah Dohoon merenggang, menelan penis Junghwan yang tidak berhenti menghujam sampai ke pangkal. Mereka bersenggama tanpa terburu-buru, saling menikmati tubuh satu sama lain tanpa banyak bicara.
Suara gesekan antar kulit dan lenguhan nafas tertahan mengisi rongga telinga Hanjin. Tangannya yang kosong perlahan mengepal, kuku-kukunya menekan telapak sendiri untuk mengingatkan bahwa ia masih punya kendali atas tubuhnya. Satu langkah mundur. Lalu satu lagi. Sampai akhirnya berbalik sepenuhnya agar berhenti menonton kegiatan yang tidak pantas untuk ditonton.
Namun sebelum benar-benar meninggalkan dapur ia menoleh sekali lagi. Kini Hanjin mengerti kenapa Dohoon menyuruhnya tidur lebih dulu. Bukan karena tidak membutuhkan bantuan. Tapi karena yang dibutuhkan Dohoon malam ini bukan Hanjin.
Akhirnya Hanjin berbalik dan meninggalkan bangunan utama dengan langkah terburu-buru. Meninggalkan pemandangan yang kemungkinan besar tidak akan pernah bisa dihilangkan dari benaknya.
Pagi hari berikutnya Hanjin berusaha tampil seperti biasa, terutama di hadapan Dohoon. Ia menemani sang nyonya di ruang makan setelah Junghwan lebih dulu menyelesaikan sarapan dan berangkat ke kantor. Usai menyajikan apel yang telah dikupas bersih dan dipotong kecil-kecil, Hanjin berdiri di dekat meja, menunggu Dohoon menghabiskan sarapannya.
Namun, sekeras apa pun ia mencoba bersikap wajar, bayangan semalam tidak mudah terhapus dari benaknya. Tanpa sadar Hanjin terus memperhatikan Dohoon yang mengunyah apel perlahan sambil menggulir layar ponsel. Bibir merah mudanya bergerak indah, mengingatkan pada cara yang sama saat merapal nama Junghwan dalam desahan semalam.
Tatapan Hanjin turun perlahan, menelusuri lekuk tubuh Dohoon yang duduk dengan kaki menyilang. Ia masih mengingat jelas bagaimana kulit kecokelatan itu tampak berkilau di bawah cahaya lampu, mulus nyaris tanpa cela seperti porselen. Jejak-jejak merah keunguan di tubuhnya kini tersembunyi sebagian di balik piyama, meski beberapa tanda tetap terlihat jelas tanpa repot-repot ditutupi sehingga Hanjin bisa menghitungnya satu per satu. Puting yang sewarna dengan bibir semalam berdiri tegak, sayangnya Junghwan abaikan meski pastinya paham pekerjaan luar biasa yang bisa dilakukannya dengan mulut. Lalu vagina merah Dohoon—
Hanjin menelan ludah, refleks merapatkan paha saat menyadari sensasi hangat dan basah yang tiba-tiba muncul di antara kedua kakinya.
“Hanjin.”
Ia tersentak, sedikit kelabakan ketika Dohoon menoleh dan mendapati dirinya sedang menatap terlalu intens. “Y-ya, Nyonya?”
Namun Dohoon tidak tampak mempermasalahkan. Ia justru tersenyum lebar, santai seperti biasa. “Temenin aku hari ini, ya. Aku ada janji sama temen.”
Hanjin mengangguk cepat, menahan panas yang merambat di pipi. “Baik, Nyonya.”
“Sekarang tolong siapkan air hangat buat aku mandi.” Dohoon mendorong kursinya perlahan dan berdiri, meninggalkan sisa apel yang belum habis di piring. “Habis itu tunggu di bawah aja. Biar aku dandan sendiri.”
Untuk pertama kalinya, Hanjin tidak langsung mengikuti langkah Dohoon. Ia membiarkan Dohoon berjalan lebih dulu, memperhatikan jubah satin panjang yang berkibar indah di setiap langkah. Dohoon begitu cantik hingga sulit untuk tidak terus memandangnya.
Bahkan setelah mereka tiba di tempat tujuan, Hanjin masih belum mampu mengalihkan pandangannya dari Dohoon. Bukan lagi semata-mata karena kagum, melainkan karena terkejut —meski tetap terpesona oleh cara yang sulit dijelaskan. Penampilan Dohoon sekarang berkebalikan dari sosok yang selama ini Hanjin kenal.
Wajah yang biasanya dipoles riasan tipis kini dibiarkan polos. Bibirnya tanpa rona, pipinya tanpa semburat, dan matanya terbebas dari garis eyeliner maupun maskara. Ketegasan rahangnya justru menjadi pusat perhatian, memperlihatkan sisi yang selama ini tersembunyi di balik kelembutan. Rambutnya pun tidak ditata, hanya disisir seadanya dengan jemari. Pakaiannya sederhana; kaos oblong yang sedikit longgar, jaket bomber, serta celana jeans. Tak ada perhiasan mencolok, hanya cincin kawin yang sepasang dengan cincin di jari manis Junghwan, serta sebuah jam Rolex di pergelangan tangannya.
Dohoon tampak maskulin, namun bukan maskulinitas yang mengintimidasi layaknya Junghwan. Melainkan yang tenang dan tanpa tuntutan. Ia tetap indah, hanya dengan cara yang berbeda.
Tempat yang Dohoon pilih pun jauh dari ekspektasi Hanjin. Bukan restoran bintang lima di pusat kota, melainkan sebuah coffee shop yang riuh oleh tawa anak-anak muda. Di sana, Dohoon tampak lebih lepas. Tawanya terdengar lebih bebas, mengalun tanpa ditahan, seolah untuk sesaat ia terbebas dari segala peran yang melekat padanya. Ia tidak tampak seperti seorang Nyonya Besar, melainkan seperti seseorang yang hanya ingin menjadi dirinya sendiri.
Namun kebebasan itu bagi Hanjin terasa seperti sesuatu yang memiliki batas tak kasatmata. Ia mulai memahami bahwa dalam kehidupan Dohoon ada struktur yang tidak selalu terlihat, sebuah tatanan yang dibentuk oleh kekuasaan dan ekspektasi. Junghwan tidak perlu memaksa secara terang-terangan, tapi dunia di sekitar mereka yang membentuk peran itu dengan sendirinya. Dalam lingkaran keluarga dan status, Dohoon ditempatkan sebagai sosok yang harus indah, harus cantik, harus layak dilihat. Harus menjadi pantulan sempurna dari pria yang memilikinya. Tapi mungkin Dohoon juga tidak menolak, justru menerima dan menjalankan perannya sepenuh hati. Ia menyesuaikan diri, menghaluskan sisi-sisi dirinya, dilandasi oleh cinta dan kepatuhan pada suami.
“Junghwan tau soal sisi aku yang ini.”
Suara itu memecah keheningan di dalam mobil saat mereka dalam perjalanan pulang. Hanjin yang sejak tadi memandang keluar jendela segera menoleh, sedikit terperanjat. Tatapannya jatuh pada leher Dohoon, kini bersih tanpa jejak apa pun. Satu-satunya bagian tubuh yang dipoles riasan.
“Maaf, Nyonya?”
“If that’s what you wanna ask, jawabannya Junghwan tau.”
Hanjin terdiam, bibirnya mengatup tanpa mampu menemukan kata yang tepat untuk membalas
“But he loves me being pretty, dia mau aku selalu cantik di depan dia.” Lanjut Dohoon, kini menatap balik, sorot matanya kembali lembut seperti biasa. “And I love him.”
Di sanalah Hanjin mulai mengerti meski hanya sepotong. Bahwa kehidupan yang dijalani Dohoon bukan peran yang dipaksakan, melainkan sesuatu yang dipilih, atau setidaknya dijalani dengan kesadaran. Menjadi ‘istri’, menjadi ‘nyonya’, menjadi sosok yang diharapkan suaminya, adalah cara Dohoon mencintai Junghwan. Ia menata dirinya sebagaimana Junghwan ingin melihatnya, cantik dan indah tanpa cela. Setiap detail yang Dohoon tunjukkan adalah bahasa cinta yang tak perlu diucapkan.
Merawat agar sang nyonya tetap sempurna adalah bentuk pengabdian Hanjin kepada Dohoon. Sementara menjadi sempurna adalah bentuk pengabdian Dohoon kepada Junghwan.
