Work Text:
Lega. Satu kata yang menggambarkan keadaan Luca seusai membuang air seni setelah menahannya dua SKS padat di kelas ber-AC siang ini. Air keran runtuh ditampung oleh kedua tangannya untuk membersihkan sepasang tangan itu, cemas-cemas kotor terkena percikan najisnya tadi. Selanjutnya, air-air itu ditumpahkan pada tampang cakep miliknya sampai cukup membuatnya melek di tengah rasa kantuk yang menghantui dirinya.
Tetapi bukan percikan air segar yang membuat Luca melek sepenuhnya.
Ilusi sosok familiar di cermin membuat jantungnya berdegup kencang.
Mikhail.
“Oh, kabur ke sini ternyata.” Suara berat khas Mikhail menyapanya.
Anjing, anjing! Mikhail tai!
Bagaimana dia benar-benar mengikuti Luca hingga kemari? Padahal Luca sudah sengaja izin ke kamar mandi 15 menit sebelum kelas berakhir, pikirnya agar dia tidak perlu berpapasan dengan Mikhail saat kelas selesai.
Sikap acuh dilakukan mati-matian oleh Luca, sibuk melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya, berpura-pura gak mendengar dan gak menyadari keberadaan pria yang membuatnya gila selama tiga hari berturut-turut.
Mikhail terkekeh kecil, heran, jelas sekali acuhnya palsu. Lantas ia berjalan mendekati yang acuh. “I don’t think I fucked your ear yet, playboy.”
Kedoknya terbuka, Luca mematung menghentikan segala aktivitas palsunya, nafasnya ditahan.
“Why are you being so quiet these days? Did I mess your throat that bad? Sorry, okay?
“Kenapa paginya lu kabur? Gua mau anterin lu pulang habis bawa Michie pergi ke temennya, tapi pas balik lu udah nggak ada. Gua chat iMess, lu gak bales. Michie spammed you on your dm juga gak bales. Lu juga dua hari kemarin bolos kelas. Answer me, Luca?”
Jujur, Luca ingin sekali membalas semua pertanyaan itu dengan satu kalimat ‘Lu mikir sendiri aja tolol’, tapi sebelum Luca siap membuka mulutnya, suara Mikhail sudah kembali menggema di indra pendengarnya.
“Are you afraid? If you’re thinking about running away, then I suggest you, don’t.“ Dua langkah mendekat, kini mulut Mikhail sejajar dengan telinga kirinya. “We recorded that stuff by the way.” Kalimatnya ditutup dengan siulan yang seolah menghina.
Luca hanya kaku di tempat, bulu kuduknya berdiri, kepalanya seakan berjalan kesana kemari berusaha mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan Mikhail.
Luca masih bungkam, enggan membuka mulutnya. Sampai telinganya mendengar hentakan kaki. Panik. Padahal ini sudah jam 5 sore, harusnya gedung ini sepi karena kelas sore juga udah selesai. Orang lain gak boleh lihat mereka disini. Luca gak bisa biarin rumor yang sama beredar lagi. Tapi, ya, Luca sudah kepalang panik. Dengan akalnya yang cetek, Luca malah mendorong pria di hadapannya ke dalam bilik kamar mandi dan mengunci dirinya bersama di dalam.
Kayaknya bukan panik deh, Luca sengaja mau bikin rumornya jadi nyata apa gimana? Bodoh.
Mikhail tak menangkap sinyal apapun dari perlakuan Luca, dia hanya berjengit setelah hampir terbentur closet. “Lu ngap—“
“Sssstttt!!!” Tangan kanan Luca membuat gestur ‘diam’ sedang tangan kirinya membungkam mulutnya dalam hitungan detik. Yang dibungkam hanya merespon dengan alis yang terangkat karena tak kunjung mendapat ide.
“Buset dah si Luca kemana yak, tadi katanya ke toilet tapi gak balik-balik. Hp-nya juga ditinggal di kelas anjir.”
Oh. Ada orang. Mikhail akhirnya keluarkan senyuman sengaknya.
Luca semakin panik. Itu suara Jovan. Sialan.
“Woi Yan! Gak ada Luca, gua kencing dulu.” Jovan berteriak agar suaranya terdengar oleh Zyan yang menunggu di luar.
Luca tegang, sangat tegang. Urat-urat lehernya bahkan sampai menyembul. Mikhail jadi gak tega, dibawa tangannya menyentuh yang tegang—di bawah.
“AH!” Kaget, Luca reflek segera membungkam mulutnya lagi, sambil menoleh mencari alasan perbuatan si surai coklat.
“Luca?” Jovan mengetuk biliknya.
Sialan. Mikhail adalah pria paling bajingan yang ia kenal, lebih bajingan dari dirinya sendiri; jika Luca adalah anjing nakal yang menggonggong pada orang asing, maka Mikhail adalah pemuda nakal yang kerap mengganggu anjing nakal itu agar terus menggonggong demi memuaskan hatinya.
Mikhail kembali tersenyum, menahan tawanya. Bukannya berhenti, Mikhail makin sibuk untuk lepaskan sabuk yang dikenakan Luca. Berhasil, kini tubuh Luca ditarik menempel pada dirinya, memeluknya erat. Tangannya merogoh celana dalam Luca untuk kembali mengelus si tegang, kasihan.
Ingin sekali Luca berteriak dan memberontak, tetapi jika itu terjadi maka ia akan ketahuan, ketahuan Jovan lebih tepatnya. Jadilah Luca berdiam pasrah, biarkan Mikhail mencabuli dirinya di bawah sana.
“Bukan.” Suara berat Mikha membalas rasa penasaran Jovan.
Jovan akhirnya ber-oh ria sembari menyelesaikan kencingnya dan melengos keluar dari kamar mandi.
Luca yang mendengar langkah kaki Jovan menjauh akhirnya menghempas tangan-tangan Mikhail yang menggerayangi tubuhnya kemudian berbalik untuk memakinya.
“Lu gila ya ngentot?! Gimana kalo ketahuan? Itu Jovan anjing!”
Mikhail yang lagi-lagi disumpah-serapahi hanya tertawa kecil. Luca kesal sejadi-jadinya, ia segera mengencangkan lagi sabuknya dan hendak keluar dari bilik sempit itu. Sebelum tangannya menyentuh daun pintu, tangan Mikhail lebih dahulu memblokir aksesnya. Licik.
“Lu yakin mau keluar berantakan kayak gini? Ngaceng lu kecetak di jeans. Apa emang fuckboy kaya lu udah gak punya malu? Sengaja mancing cewek-cewek gatel ya?”
Pandangan Luca akhirnya turun pada selangkangan miliknya, gila, betulan nyeplak. Gak mungkin dia jalan ke luar kayak gini.
Mikhail kembali tersenyum penuh kemenangan, “Sini gua bantuin.”
Sabuknya kembali dilucuti, ralat, seluruh bawahannya kini sudah jatuh menyapu lantai, termasuk dalamannya. Menyisakan Luca yang menghadap Mikhail tegak dengan sleeveless yang dibalut leather jacket.
Mungkin ia dihipnotis atau bagaimana, entahlah yang jelas Luca gak memberontak lagi. Atau mungkin memang sebenarnya mau..?
Tegangnya diberi usap-usap manja, terus dikocok tanpa ampun. Batangnya kayak ditarik-tarik kasar sama tangan sialan itu, tapi Luca malah mendesah kencang, si bodoh itu lupa kalau mereka masih berada di toilet kampus, tempat mereka menimba ilmu.
“Keep quiet fuckboy, or the fuckboy wants to be called manwhore from now on?”
“Enghhh—t-terus.. yang kencengh..” Wah, udah, benar-benar manwhore rupanya. Desahannya pun bukan makin pelan, malah makin menjadi sampai-sampai tangan Mikhail harus ikut campur untuk membungkamnya.
“Udah disuruh diem malah makin kenceng, lonte emang gak ngerti bahasa manusia apa gimana? Baru juga kontolnya yang diacak-acak, gimana kalo dikontolin?”
Desahannya tertahan, matanya berkaca-kaca. Kontolnya mulai berkedut-kedut, tandanya Luca sebentar lagi mau sampai puncaknya akibat kocokan ngawur Mikhail. Tapi emangnya Luca yakin, Mikhail bakal biarin dirinya jemput nikmatnya?
Luca makin berisik walau telapak Mikhail sudah memaksanya untuk diam, akhirnya Mikhail longgarkan sedikit tangannya.
“Mmh—mauh keluarhh anjinghhh,”
Betul saja, ucapan Luca barusan menjadi aba-aba bagi Mikhail buat hentikan kegiatannya. Mikhail berhenti nyoliin Luca. Meninggalkan Luca yang sedang berada di puncak bersama muka masamnya.
“What the fuck.”
“So you’re now accepting that you enjoyed it the whole time.”
“You suck.”
“And you’ve sucked me before.”
Luca diputar badannya menghadap ke pintu. Tangan kirinya meremas-remas bokong kenyal Luca.
“Have I told you that you have a squishable ass? Your buns are soft.” Luca cuman bisa bilang ‘gila’ dalam hatinya, Mikhail ini otaknya di pantat apa gimana, ngapain muji-muji pantatnya? Lebih aneh lagi Luca deg-degan dengernya.
Mikhail sodorkan tangan kanannya di bawah dagu Luca, “Spit.”
“Hah?”
“Spit on my hand, kurang jelas?”
Luca bingung, tapi ujung-ujungnya dia benar-benar meludahi tangan itu.
Luca hendak menoleh sambil bertanya, “Lu fetish sama ludah apa giman—aaahhh!”
Tebakannya salah. Air liurnya menyapa lubang analnya, bikin Luca berjingat.
“Lubang lu yang kegatelan sama ludah, langsung ngedut gini.”
Jemari basahnya mengitari kerutan anal Luca, ditekan-tekan, ditusuk-tusuk pendek. Waktu udah kerasa lebih becek, Mikhail ngiterin lubangnya sambil masukin satu jari lagi biar lubangnya makin ngowoh.
Luca udah meracau-racau kegelian, Luca gak tahan lagi. Tangannya turun, niatnya ingin menyelesaikan hajatnya di bawah yang tadi ditinggalkan sepihak sama Mikhail. Sayangnya Mikhail liat tangan nakalnya, akhirnya tangan itu dikunci ke belakang sama Mikhail.
“Biarin kontol lu. Belajar jadi manwhore yang bener, boleh keluar asalkan karena memek lu dikobelin.”
“Gua gak punya memek!” Luca berbisik tapi lantang di telinga Mikhail.
“Udah gua perawanin kemarin, jadi sekarang ini memek.” Jari-jarinya masuk lagi, lebih dalam dari yang tadi.
“Ahh.. K-kena!”
“Di sini, ‘kan?” Jarinya menekan lagi titik kena itu.
Mikhail teruskan merojok lubang itu, titik kenanya disundul di tiap rojokan. Terkadang dua jari lagi ikut masuk, Mikhail buat variasi pada permainannya dengan 2, 3, hingga 4 jari.
Pelajaran kedua Luca tuntas—pelajaran pertamanya kemarin belum tuntas karena belum dipraktikan—, ia berhasil muncrat dengan empat jari di dalam lubangnya. Murid teladan. Putihnya menghiasi pintu bilik dengan corak basah. Kakinya lemas, dadanya bersandar pada pintu yang terkunci.
Mikhail tersenyum bangga dengan hasil karya di hadapannya. Mikhail gak sebajingan itu, dia pria baik kok, buktinya dia mau berikan hadiah buat muridnya yang pintar. Mikhail buka resletingnya dan turunkan celananya sampai paha. Duduk di atas kloset, terus mengocok miliknya yang setengah tegang. Sebentar saja, Mikhail sudah gak sabar berikan muridnya hadiah!
Luca ditarik sampai jatuh pada pangkuan Mikhail. Dia masih lemas, jadi gak ada tenaga buat bertanya apalagi memberontak. Karena gak mendapatkan respon, akhirnya Mikhail angkat bokong Luca tinggi, disejajarkan dengan tegaknya, terus dijatuhkan begitu saja hingga kontolnya menancap pada lubang yang ngowoh karena perbuatannya tadi.
“AHHH! Perihh! Bangsat!”
“Sssh, quiet, whore. Masih di kampus loh. Nggak kapok digosipin satu semester?”
“Perihnhhh..”
Mikhail berbaik hati ngasih hadiah, tapi Luca cerewet banget.
“Baru setengah yang masuk, gua mentokin sekalian aja.”
Mikhail itu a man of his words. Itu bukan sekedar ancaman.
Pinggul Luca dihentak turun bersamaan sambil Mikhail dorong pinggulnya ke atas. Kebayang gak seberapa mentoknya? Kasihannya Luca, mulutnya dibungkam lagi jadi dia gak bisa teriak keras sekarang. Karena kalau gak dibungkam, udah pasti teriakannya ngalahin toa.
“Mmmmhhhh” Luca cuma bisa mendesis panjang.
“Ahh.. mentok banget sayang, enak? Disodokin sampe mentok gini enak ya? Michie pasti suka liat lu teler gini.”
Mikhail emang abang penyayang banget! Gak pernah lupa sama adiknya walaupun lagi keadaan enak begini. Mikhail selalu berbagi semua yang dia punya buat adiknya, Luca misalnya. Sore ini Mikhail juga menolak diberi title abang pelit, Mikhail mau berbagi Luca buat Michie. Dirogohnya saku hoodie yang dikenakan, ponselnya diambil dan dinyalakan, buru-buru menekan kontak ‘Pretty Michie 🤍’—masih sambil ngewein Luca di pangkuannya.
Michie mengangkat video call-nya.
“Mikhaa don’t disturb me, doing my assignments right now.” Ucapnya sambil mengarahkan kameranya pada setumpuk kertas dan laptop menyala.
Mikhail tersenyum, “I also doing my assignment.”
“You look like you’re in a toilet be fucking clear. What’s with that noises? Kenapa belum pulang? Kamu selesai kelas jam lima, ‘kan?”
“I told you I'm doing my assignment.” Kameranya dijauhkan, mempertontonkan Luca yang asyik dipompa oleh dirinya.
“What the hell, you finally run to him and even able to fuck him.” Michie menggigit bibirnya, Luca looks like a resigned slut there, oh, how she wishes she is there to watch it live—no, she wishes she is there to be fucked by both of them.
“This is for you, pretty. You’ve been frustrating over this scaredy cat since he ran away. Go take a seat and play with yourself. I’ll help you finish the assignments later.”
Tuhkan, Mikhail itu abang idaman banget! Selalu berbagi, pintanya selalu dituruti, dan selalu membantunya dalam berbagai kesusahan. Dan Michie juga sama sayangnya dengan abangnya, maka ia juga selalu iyakan perintah abangnya. What a lovely twin!
Michie tinggalkan ponselnya sebentar. Kembali dalam keadaan telanjang sambil membawa sebuah vibrator berukuran sedang. Dia bersandar di kursi belajarnya dengan ponsel yang tegak di tripod. memperlihatkan seluruh badannya terekspos di kamera.
Mikhail arahkan ponselnya ke hadapan Luca.
“Look, my sister has been thirsting over you, and you have to pay for that.”
Luca menganga, gila gila gila! Dia dientot sambil nontonin cewe colmek. Walaupun Luca gak bisa nonton dengan tenang, soalnya dia kepantul-pantul dimentokin Mikhail, kepalanya juga kayak meleleh, udah hilang fokusnya.
Berbanding terbalik sama Michie di seberang sana, dia fokus ngeliat muka teler Luca dan dengerin desah sahut-sahutan Luca sama abangnya. Michie udah becek dari awal nonton, dia usap-usap basahnya sampai seluruh permukaan memeknya basah. Dua jari dengan kuku panjangnya bermain-main di bibir vaginanya, mengitari lubangnya sambil sesekali menerobos masuk. Permainannya mirip dengan yang dilakukan Mikhail pada lubang Luca tadi, karena Michie juga belajar dari abangnya. Mikhail emang jago dalam segala hal, deh.
“Mikhaaa do it harder, make him scream, nghh.. I want you both in me..”
“Cannot, pretty. We’re still in campus. Play with your toy.”
Mikhail arahkan kameranya turun, ngasih unjuk kontolnya naik turun di lubang Luca. Suara beceknya bikin Michie berharap dia dientot sama kasarnya sekarang.
Michie turuti perkataan Mikhail, dia nyalakan vibrator miliknya. Vibrator itu diputar-putarkan sambil ditekan pada bibir memeknya, menghantar nikmat pada seluruh badannya, membuatnya sedikit menggelinjang. Tangannya yang bebas dibawa memilin putingnya bergantian.
Luca gak bisa dengar betapa beceknya Michie karena suara beceknya dengan Mikhail lebih keras disana.
“Nghh.. doronghh terus disanahh.. Ahh.. Mentokin.. Mau muncrat.. b-boleh ngocok..?” Udah pinter sekarang, bisa minta izin.
“Gak. Muncrat tinggal muncrat.” Mikhail tetap pada pendiriannya.
Michie yang mendengar itu semua dengan volume keras berujung squirt, membasahi sedikit kamera ponselnya.
“Ahh..! Michie pipis.. Enak.. Hurry please.. Michie also wants to play..”
“Good girl, pretty. We’ll be home soon, sit prettily, ya.”
Mikhail matikan video call-nya, fokusnya kembali pada Luca. Mikhail memompa lebih keras dan dalam walau temponya memelan, Luca dibuat semakin gila di ujung puncaknya.
“Terushh.. Cepetin… Gua crot aaahh..!”
“Hnn.. Bareng lonte.. Gua penuhin memek lu nghh..!”
Keduanya muncrat bersamaan, Luca benar-benar tepar sekarang. Badannya lemas bersandar pada Mikhail layaknya Mikhail adalah sebuah kursi.
Mikhail terkekeh kecil sambil menciumi perpotongan leher yang sedikit terhalang oleh kerah jaket Luca.
“Jangan pingsan dulu, lu mau gua gotong telanjang ke mobil?”
