Work Text:
Yunho dan Mingi telah bersahabatan lebih dari 5 tahun. Cukup lama untuk seseorang yang memendam perasaan tanpa diketahui sang pujaan hati.
"Mingi, kamu nolak orang lagi?"
Ya, itu si Mingi. Salah satu gitaris yang terkenal di kalangan warga sekolah karena wajah tampan dan kharismanya saat performing band.
Dan, ya. Mingi juga merupakan bulol pada Yunho, sahabat sehidup sematinya.
Sahabat. Mingi tersenyum miris mendengar title dirinya terhadap Yunho.
"Mingiii, kok diem? Bener, gak? Tadi aku denger dari Wooyoung. Cerita, dooong!" rengek Yunho.
"Berisik, ndut," balas Mingi malas.
Yunho mengernyitkan dahinya. "Tinggal jawab iya atau enggak, kok malah ngatain aku?!?!"
Sungguh, Mingi menyesal membuat Yunho kesal karena menurutnya Yunho sangat lucu dengan mata bulat, pipi yang digembungkan, dan ekspresi sok marahnya itu.
Bikin ia makin jatuh hati.
"Kalau aku terima, gimana? Kamu cemburu?" goda Mingi.
"Eh?" Semburat merah menyerbak di kedua pipi Yunho. "Mana ada! ‘Kan aku kepo aja!"
Mingi hanya menganggukkan kepala dengan ekspresi yang menyebalkan.
"Tapi... beneran kamu terima?"
Mingi terkekeh. "Enggak, cantik."
Lagi, Yunho bersemu merah. "Jangan bercanda, Gi!"
"Idiiih, salting! Gemes banget ini, bayinya siapa?"
"Bayinya Mingi!"
Sumpah. Kalau bentukan sahabatnya menggemaskan kayak gini, Mingi rasanya sanggup-sanggup saja menjadi ‘sahabat’ sepanjang hidupnya.
"By the way, kamu mau nonton aku gak di Summarecon nanti malem?" tawar Mingi.
"MAUUUUU! Bareng, ya?"
Tatapan manis bak anak anjing menggemaskan, mana mungkin Mingi menolak permintaan tersebut.
"Biasanya juga kemana-mana sama aku. Emang kalau gak sama aku kamu mau sama siapa?"
"Sama Yeosang."
Deg.
"Yeosang siapa?" tanya Mingi dengan perasaan waswas. Teman baru? Gebetan? Atau... PACAR?!
"... bukan pacar, Gi. Temen les aku. Katanya dia kenal vokalisnya. Jongho, ‘kan?"
Mingi menghela napas sebelum mengangguk mengiyakan.
"Ya, udah. Aku jemput jam 7 kayak biasa," ucap Mingi final.
Yunho mengangguk antusias dengan melafalkan kata ‘hore!’ dengan senyuman yang lebar.
"Jangan lupa izin Ayah."
"Iya, Mingiii!"
—
Malam tiba. Begitu juga dengan Mingi yang telah sampai di depan kediaman Jeong. Beberapa menit yang lalu ia telah mengirimkan pesan kepada Yunho, mungkin sesaat lagi sang empu keluar dari rumahnya.
"Selamat malam, Mingiii!"
There he is. Yunho dengan hoodie hitam besar—milik Mingi, entah mungkin tertinggal—dan celana denim, yang hari ini tampak luar biasa karena Mingi melihatnya sebagai Yunho.
"Malam," balas Mingi dengan senyum hangat. Lalu menyodorkan helm biru milik Yunho yang sengaja ditaruh di bagasi motor Mingi.
Setelahnya, Yunho duduk di belakang Mingi dan melingkarkan tangannya dengan erat di pinggang Mingi yang terasa nyaman.
"Ready for our date?" canda Mingi yang sebenarnya tidak sepenuhnya bercanda.
Yunho terkekeh, namun tangannya tetap menggeplak helm Mingi dengan keras sampai sang pengemudi mengaduh.
"Kamu gombal sekali lagi, aku minta anter Yeosang beneran!" Ancaman yang dikeluarkan Yunho sukses membuat Mingi diam.
Sesampainya di mall, mereka tidak masuk bersama karena Mingi yang harus segera bersiap-siap dan Yunho ingin membeli ice cream terlebih dahulu. Jadi, mereka berpisah.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Yunho segera menuju ke panggung terbuka di mall tersebut.
Saat sedang mencari tempat duduk, ia dikejutkan dengan seseorang yang memanggil namanya.
"Eh, Yeosang! Nonton aTeenagerZ juga," sapa Yunho pada temannya.
Yeosang mengangguk. "Jongho ngajakin. Lo kesini sendirian?"
"Enggak, bareng Mingi. Tadi aku beli ice cream dulu jadi Mingi duluan kesini," jelas Yunho.
Yeosang hanya berdeham, kemudian fokus mereka kembali pada beberapa orang di atas panggung.
"Loh, kok Jongho pegang gitar? Yang nyanyi siapa?" celetuk Yunho, bingung. "Eh, itu ‘kan biasanya posisi Mingi. Terus Mingi kemana..."
"Liat aja," sahut Yeosang, seakan tahu apa yang sedang terjadi.
Yunho makin dibingungkan oleh ucapan Yeosang, namun memilih untuk tidak menggubris lebih lanjut.
Beberapa menit kemudian, lampu panggung dinatikan. Tanda bahwa penampilan akan segera dimulai.
‘Do you hear me, I'm talking to you’
Yunho terbelalak. Ia tentu sangat mengenali suara tersebut.
‘Across the water across the deep blue ocean’
Di atas panggung, Mingi berdiri dengan standing microphone di hadapannya. Memandang Yunho dengan teduh.
‘Under the open sky, oh my, baby I'm trying’
Mingi berhenti, kali ini tersenyum pada Yunho. Lalu, setelahnya seseorang memberikan microphone kepada Yunho.
"Can you sing with me, please?" Mingi kembali bersuara di atas panggung.
Yunho yang mengerti sinyal dari Mingi mulai mengangkat microphone di genggamannya.
‘Boy, I hear you in my dreams’
Senyum Mingi melebar mendengar lantunan Yunho.
‘I feel your whisper across the sea’
Senyuman itu menular pada Yunho yang kini membalas Mingi.
‘I keep you with me in my heart’
‘You make it easier when life gets hard’
Yunho menyudahi nyanyiannya setelah Mingi memberikan jempol kepadanya.
‘Lucky I'm in love with my best friend’
‘Lucky to have been where I have been’
‘Lucky to be coming home again’
Mingi menghentikan nyanyiannya dan menarik napas.
"Buat cowok yang lagi pake hoodie item, sebenernya itu punya gue heheh. I have to say. Please consider it with your deepest feeling."
"Yunho, we’ve been friends since forever and I'd really like to be with you until the end of time. So, would you be mine?"
Sorakan dari beberapa penonton mulai terdengar. Mingi yang sejatinya pemalu rasanya ingin tenggelam ke laut melihat Yunho yang terdiam mendengar confession Mingi.
"Mingi, are you serious about this?"
"Aku gak mungkin malu-maluin diri di depan banyak orang cuma buat bercanda. It’s okay if you don’t want to. I still love you with any labels."
Yunho ingin menangis detik ini juga. Dan, ya. Pria itu menangis dan sukses membuat Mingi turun dari panggung dengan panik.
"Yun, kok nangis? Aku malu-maluin kamu, ya? Kamu mau pulang?" Pertanyaan bombardir dari Mingi yang kini memeluk Yunho untuk menenanginya.
Yunho masih terisak. Namun, dengan sekuat tenaga ia membisikkan satu kalimat tepat di telinga Mingi.
"Mingi, I’m yours."
