Chapter Text
Di dunia ini, ada seekor burung yang sangat disukai Sammy. Dia pernah melihatnya ketika berumur lima tahun dan terpukau tanpa henti hingga hari ini. Sammy masih ingat apa yang dirasakannya saat burung itu bertengger di atas pagar rumahnya. Sammy membeku, seluruh dunia terasa membeku. Dada Sammy berdegup-degup, darahnya mengalir cepat, bulu roma di sekujur tubuhnya meremang.
Burung itu benar-benar cantik. Bulunya lebat, berwarna hitam. Badannya gemuk dan lebar, terlihat sangat besar bagi Sammy yang masih kecil. Kepalanya juga besar, berwarna merah muda, dan tampak mengilat.
Sayangnya, Sammy hanya melihat burung itu lima detik saja. Begitu burungnya mendapati Sammy sedang menatap ke arahnya, burung itu terbang dan tak pernah muncul lagi ke hadapan Sammy hingga hari ini.
Momen itu merupakan lima detik paling surgawi bagi Sammy.
“Nemu enggak gedungnya?”
“Nemu, Pa. Aku lagi jalan ke sana.”
“Langsung bilang nama kamu ke security. Papa udah inform mereka.”
Sammy ingin sekali bertemu lagi dengan burung itu. Dia tak bermimpi muluk-muluk. Hanya melihatnya saja, dari jarak tertentu, mengamati burung itu beristirahat sepanjang hari, itu tak masalah. Kadang Sammy ingin mengelus-elus kepalanya, tapi kalau enggak pun enggak apa-apa. Sammy hanya ingin punya kesempatan menyapa burung itu sekali lagi.
Sammy sudah mencoba mencari informasinya ke sana kemari, tetapi jawabannya tak memuaskan. Sammy sudah mencoba memburunya, tetapi dia tak menemukan burung yang sama—meskipun Sammy sangat yakin spesiesnya sama persis. Burung yang ini berbeda. Pola bulunya tidak direplika oleh burung mana pun. Pola bulu itu hanya burung itu yang punya.
Tentu saja Sammy pernah mencoba bertanya kepada ayahnya soal burung itu, soalnya sang ayah tampaknya tahu banyak soal burung. Di rumah Kakek Bima, ayah dari ayah Sammy, ada satu lahan luas di belakang rumah yang isinya berlusin-lusin kandang burung. Kakek Bima seorang avikulturis. Menurut Kakek, ayah Sammy juga suka burung. Namun, ketika Sammy bertanya soal burung yang “itu”, ayahnya malah marah dan menyuruh Sammy melupakannya.
“Malam, Pak. Aku mau ke unit 1909.”
“Mau ketemu siapa?”
“Brahmanta Mahardika.”
“Ooohhh ... kamu itu ... apa? Samarag—“
“Iya, Pak.”
“Siapa? Sammy ya?”
“Iya.”
“Sini, sini. Saya bantu kasih tahu liftnya.”
Melihat ayahnya marah seperti itu, Sammy tak pernah membahas lagi soal burung itu. Sammy ketakutan. Hubungannya dengan sang ayah tak selalu baik, jadi Sammy memutuskan untuk menyimpan saja visual lima detik terindahnya itu dalam hati. Biarkan burung itu menjadi memori dari surga yang sanggup membuat Sammy merasa lebih tenang. Sepanjang hidupnya, kalau Sammy dihadapkan pada tekanan, rasa takut, rasa cemas, tantangan, dan apa pun yang bisa membuatnya menangis ....
... Sammy akan membayangkan lagi burung itu.
Dan setiap kali itu dilakukan, Sammy akan sanggup menarik napas panjang lalu menenangkan hatinya.
Sammy berdamai pada fakta bahwa “mungkin” momen itu menjadi satu-satunya momen melihat sang burung. Ya, dia masih ingin melihat lagi burung itu sampai mati. Namun jika tidak mungkin, tak apa juga.
Sammy berterima kasih karena imaji burung itu setia menemani hidup Sammy yang berat.
Tok! Tok! Tok!
Ckrek.
“Kenapa lama?” Ayah Sammy membuka pintu.
“Aku tadi nunggu dulu di lobi.”
“Kenapa?”
Sammy geleng-geleng kepala. “Istirahat aja. Aku jalan kaki dari stasiun ke sini.”
“Ck! Kan Papa udah bilang, naik Grab aja sampe lobi depan.”
“Gapapa. Aku ..., aku mau jalan kaki.” Sammy menunduk ketakutan.
Brahmanta, sang ayah menatap Sammy dengan kesal, tetapi tak punya energi untuk mengomelinya. Dalam situasinya saat ini, Sammy menjadi satu-satunya orang yang sudi berpihak kepadanya. Pun, Brahmanta harus belajar untuk mengendalikan emosinya. Melampiaskan semua nasib buruknya kepada sang anak tak akan mengembalikan keadaan seperti semula.
Brahmanta menarik napas panjang sambil membuka kancing di pergelangan tangannya. “Ya udah. Masuk. Papa juga baru pulang. Belum ngapa-ngapain.” Brahmanta mempersilakan Sammy masuk ke dalam, lalu menutup pintu. Dia menunjuk satu area kosong untuk Sammy meletakkan kopernya, kemudian berjalan ke pantry dan mengeluarkan dua bungkus Indomie. “You know the risk. Kalau kamu ikut Papa, makananmu enggak akan bergizi.”
“Aku aja yang masak Pa,” balas Sammy sambil membaringkan kopernya dengan rapi di atas lantai. Dia membuka koper dan mengeluarkan kantung plastik berisi telur, daun bawang, dada ayam dipotong dadu, dan beberapa bumbu lain. “Tadi aku minta ini ke Nenek. Ini juga Nenek yang bungkusin.”
“Why?”
“Karena Papa enggak akan punya bahan makanan lain selain mi.”
“What the fuck?!” Brahmanta mendengkus kesal. “Papa memang enggak bisa masak, Sammy, tapi kamu pikir di apartemen Papa ini enggak akan ada daging, hah?!” Brahmanta berkacak pinggang.
“Papa punya daging untuk aku masak?”
Brahmanta membeku diam. Dia mengambil jeda sejenak sebelum akhirnya berkata, “Indomie buat Papa dua bungkus, ya! Papa mandi dulu.”
Kenalkan Sammy, atau nama lengkapnya Samaraga Mahardika. Laki-laki mungil berumur 15 tahun, kelas 1 SMA, prestasi akademik biasa saja, kemampuan sosialisasi rendah, penggemar K-Pop tapi tidak terlalu ekstrem, dan seorang lelaki gay. Sammy baru saja menyintas satu kejadian penting dalam hidupnya: perceraian kedua orang tua.
Durasi dimulainya keretakan rumah tangga itu hingga Sammy berada di unit apartemen ini cukup panjang dan kompleks. Namun, singkatnya begini:
Brahmanta Mahardika (Ayah) bercerai dari istrinya, Zahara Pancawulan (Ibu). Prosesnya dimulai sejak tiga tahun lalu dan bulan kemarin akhirnya perpisahan itu resmi secara agama maupun negara. Salah satu yang dirumuskan adalah soal hak asuh anak. Kedua pasangan itu memiliki tiga anak laki-laki, Dirgantara Mahardika (Dirga—19 tahun), Ranggaraya Mahardika (Rangga—17 tahun), dan Samaraga Mahardika (Sammy—15 tahun).
Dirga sudah di atas umur sehingga pengadilan memberikan kebebasan mau ikut ke mana. Dirga memilih Ibu. Rangga sudah punya KTP, tapi tetap dianggap di bawah umur secara hukum perdata, sehingga pendapatnya dibutuhkan. Rangga bilang dia ingin tinggal bersama Ibu. Pengadilan mengabulkan. Sammy masih di bawah umur. Secara otomatis, pengadilan memutuskan Sammy tinggal bersama ibunya.
Brahmanta kehilangan banyak sekali “hartanya” gara-gara perceraian itu. Ada banyak aset yang Brahmanta beli atas nama sang istri, yang akhirnya menjadi milik pribadi Zahara seluruhnya setelah perpisahan. Brahmanta mengeluarkan banyak sekali uang untuk menangani masalah ini, termasuk memiliki kewajiban menafkahi dalam jumlah yang besar setiap bulan, sehingga dia harus menjual banyak aset pribadinya dan pindah ke apartemen kecil di Jakarta Barat hanya demi bisa berhemat. Apartemen ini tidak murahan, tetapi tetap lebih sederhana dibandingkan rumah besar yang dulu dia miliki, yang sekarang menjadi milik Zahara.
Baru tiga hari sejak keputusan final itu diumumkan, Zahara berkata ke Sammy, “Kamu sama papamu saja, ya. Kasihan dia. Sendirian. Jadi nanti dari rumah nenek, kamu langsung Kedoya, enggak usah ke rumah. Uang bulanan kamu juga enggak usah dikirim ke Mama, kamu langsung minta ke Papa aja. Oke?”
Sammy tahu persis ibunya tak pernah menyukai dirinya. Dengan pasrah, Sammy menuruti ide itu agar semua kekacauan perceraian ini segera berakhir. Sammy tak punya cukup energi untuk membantah. Dia hanya ingin hidup dengan nyaman, sederhana, di dalam gelembungnya sendiri, dan move on dari pertikaian dua orang dewasa yang menyakitkan hati ini.
Di sinilah Sammy. Malam pertama mengunjungi apartemen ayahnya untuk tinggal bersama-sama hingga Sammy dinyatakan dewasa dan bisa mencari tempat tinggal sendiri.
Usai memasak Indomie dengan telor ceplok dan tumis dada ayam, Sammy menemukan Brahmanta keluar dari kamar tidur mengenakan celana pendek dan kaus putih yang kusut. Wajahnya masih terlihat lelah dari semua tekanan ini. Tubuhnya lebih kurus dari biasanya. Kali terakhir Sammy bertemu ayahnya langsung adalah satu bulan yang lalu, di pengadilan. Itu pun kondisi sang ayah sudah menyedihkan.
“Sudah?” tanya Brahmanta dengan tegas. Suara baritonnya terdengar menggelegar dan penuh kuasa. Sangat maskulin. Brahmanta terlihat lebih segar karena baru selesai mandi.
Sammy menyajikan sepiring Indomie goreng ke atas meja makan mungil, lengkap dengan telor ceplok di atasnya. Dia juga menyajikan dada ayam yang ditumis dengan kecap sekaligus menyajikan air putih yang dingin bersamanya.
“Nenek bilang, Papa enggak boleh minum-minum lagi—“
“I don’t have any, even if I want to,” sergah Brahmanta tersinggung sambil duduk di depan meja makan. Dia menenggak air putih itu dengan rakus, lalu mulai menyantap makan malamnya.
Sammy tidak merespons. Dia membereskan kekacauan dapur sembari menyimpan makan malamnya di bawah tudung saji.
“Kamarmu belum siap,” ungkap Brahmanta sambil mengunyah. “Masih banyak barang Papa.”
“Iya gapapa. Aku tidur di sofa aja.”
“Kalau mau nyimpan koper di sana, boleh. Kamarnya yang itu.” Brahmanta menunjuk sebuah pintu kecil di seberang ruang tengah. Pintunya terbuka setengah dan menampilkan beberapa barang Brahmanta yang sudah diungsikan ke sini, tetapi belum dirapikan sama sekali.
Sammy mengangguk kecil dan menyimpan koper itu ke dalam sana. Setelahnya, Sammy mandi.
Sebelum perceraian ini terjadi, Brahmanta kaya raya. Situasi finansialnya merosot sejak perceraian, sampai-sampai dirinya hanya membeli apartemen murah dua kamar di Jakarta Barat, yang sebenarnya masih elite, tetapi tak sebesar rumahnya yang dulu. (Inilah alasan Dirga dan Rangga tidak mau tinggal dengan Brahmanta.) Karena harus tinggal sendiri, dia tak sempat membereskan apa pun. Dia juga buka tipe yang beres-beres. Biasanya semua dirapikan oleh ART. Kali ini, menyewa ART pun tak mampu karena penghasilannya wajib dibagi ke Zahara, Dirga, Rangga, termasuk Sammy tiap bulan.
Ketika Sammy masuk ke apartemen itu, dia menemukan apartemen berantakan ala-ala bujangan. Sofanya bergeser miring, kulit-kulit kacang bertebaran di atas meja, lantainya berdebu, mayoritas piring dan sendok belum dicuci, kulkas isinya kosong, aromanya apak pandan laki-laki. Tidak ada pewangi ruangan, tidak ada bunga, tidak ada sabun cuci tangan, tidak ada tirai di ruang tengah—Sammy bisa melihat dengan gamblang jejeran gedung-gedung tinggi di area Senayan Jakarta.
Sammy tidak mengeluh jika kamar tidurnya belum ready. Kamar itu masih berisi koper-koper Brahmanta, peralatan kantornya, kardus-kardus besar, bahkan perkakas garasi pun ada di sini. Dia sudah membayangkan besok siang akan membereskan ini semua dan menjadikannya safe space hingga dirinya lulus SMA dan pergi dari sini.
Bagaimana sebenarnya hubungan Sammy dan Brahmanta? Normal saja. Tidak begitu baik, tetapi tidak terlalu buruk seperti kebanyakan relasi ayah dan anak lelaki gay. Kebetulan Brahmanta workaholic dan jarang di rumah. Sekalinya di rumah, Sammy jarang mengobrol dengan sang ayah. Mereka bahkan hampir tidak pernah makan bersama di restoran.
Yang membuat kisah Sammy menarik adalah alasan Sammy dinamakan Samaraga.
Sammy lahir prematur. Tubuhnya mungil. Sebagai doa dari Brahmanta untuk Sammy, dia dinamakan Samaraga dengan harapan raganya (tubuhnya) sama dengan semua orang di keluarga tersebut. Brahmanta memiliki tinggi 190 cm dengan tulang besar dan otot kekar. Agak gemoi, tapi itu semua otot. Ada jambang yang seksi, dan tubuhnya agak hairy, terlebih di area dada, ketiak, dan pusar. Dirga dan Rangga sama saja. Usia belum 20 tahun, keduanya sudah setinggi 180 cm dengan otot yang mudah sekali dibentuk di gym dan postur manly yang tegap.
Sammy? Entah karena dia masih 15 tahun, entah nasibnya memang sial, tinggi badan Sammy belum mencapai 160 cm. Sejak kecil, Sammy selalu terlihat kecil. Dia tidak sebesar kakaknya pada usia yang sama. Badannya lebih kurus dan rapuh. Kulitnya juga terlalu mulus, hampir tanpa bekas luka. Yang mencolok berbeda dari Sammy dibandingkan saudara-saudaranya adalah Sammy tak punya jambang maupun jenggot—Dirga dan Rangga punya.
Seakan-akan Sammy bukanlah anak kandung Brahmanta.
Olok-olok soal fisik ini sudah berlangsung sejak kecil. Seluruh orang tampaknya senang mempertanyakan mengapa Sammy beda dari yang lain. Zahara lelah menjelaskan bahwa pertumbuhan janin Sammy terganggu sehingga fisik Sammy pun “terganggu”. Lama-lama Zahara mengiakan saja candaan semua orang soal mungkin Sammy bukan anak Brahmanta, “Iya kali, waktu aku main sama Mas Bram, ada tuyul yang ikutan terus malah dia yang hamilin aku. Hahaha ....”
At least, itulah yang selalu Sammy dengar kalau ibunya mengobrol dengan teman-teman SMA-nya.
Sekarang, Sammy harus tinggal bersama di sebuah apartemen sederhana dengan seorang laki-laki berumur 40-an awal, yang badannya tinggi—hingga hampir menyentuh bagian atas kusen pintu, yang sangat maskulin, kekar, semua kemejanya membungkus tubuhnya dengan ketat, yang suara beratnya menggelegar seperti tentara, dengan alis tebal dan jambang yang belum dicukur karena stres akibat perceraian, yang menjadi definisi lelaki sempurna bagi gay seluruh dunia.
Ini bukan soal penderitaannya sebagai anak yang berbeda. Ini soal Sammy yang bertubuh mungil, berkulit mulus, berwajah imut, yang orientasi seksualnya gay (tapi keluarganya belum ada yang tahu soal ini), yang tidak jago olahraga, tidak kekar, tidak bisa menyetir mobil maupun motor, tidak menguasai topik-topik manly, yang kini harus tinggal bersama seorang “alpha male” di unit apartemen sederhana.
Bayangkan intimidasi yang Sammy rasakan. Tinggal bersama ayahnya yang sedang marah kepada dunia karena kedigdayaannya runtuh akibat perceraian.
Usai mandi, beres-beres, dan menyantap makan malamnya, Sammy duduk di sofa ruang tengah dan membuka laptop. Dia tak menemukan ayahnya di ruang tengah. Namun, pintu kamar tidur ayahnya terbuka setengah dan Sammy sempat melihat sang ayah sedang rebahan di atas tempat tidurnya, memainkan ponsel dalam gelap. Dari sekilas penglihatan itu pun Sammy bisa melihat kamar sang ayah berantakan bukan main. Satu bantal tergeletak sembarangan di atas lantai.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Besok hari Sabtu, Sammy bisa bangun telat. Sammy memutuskan akan tidur larut agar dia bisa melanjutkan tulisannya.
Sammy bukan seorang penulis profesional, tetapi dia menulis fanfiction pada waktu senggang untuk menumpahkan hasratnya. Sammy juga penggemar idol K-Pop. Sejak SD, dia sudah mengikuti Seventeen. Dia menyukai seluruh member-nya. Membaca shipping dari member mana pun akan tetap Sammy nikmati. Kalau gemas dengan fanfiction orang lain, misal Sammy tak menyukai ending-nya, dia akan membuat versinya sendiri. Lama-lama, Sammy punya beberapa follower setia yang rajin membaca karya-karya Sammy meskipun belum sempurna.
Salah satunya Melisa. Die hard fans Jung Woo-seok dari Pentagon dan akan terus berjuang menulis fanfic soal Wooseok meski bandnya sudah bubar. (Toh Wooseok pada akhirnya mengembangkan karier solo.) Melisa orang Bogor, sudah bertemu beberapa kali dengan Sammy, umurnya sepuluh tahun lebih tua dari Sammy, tetapi secara jiwa mereka “sama”. Sammy curhat segalanya kepada Melisa sehingga Melisa menjadi satu-satunya yang tahu bahwa Sammy gay. Selama proses perceraian orang tuanya, Sammy sering kabur ke Bogor, ke kosannya Melisa, lalu menginap di sana sambil menangis.
Pukul 00.17, Melisa menelepon lewat WhatsApp. “Beb, lo udah di rumah papa lo?”
“Udah,” jawab Sammy dengan suara berbisik, tak mau mengganggu ayahnya. Sammy tak tahu apakah Brahmanta sudah tidur atau belum. Sofa ini tidak menghadap kamar sang ayah. Yang Sammy tahu, pintu kamar itu masih terbuka setengah.
“Lo lagi ngapain sekarang?”
“Lanjutin Minzi-ku.”
Minzi adalah shipping dari Mingyu dan Woozi, dua member Seventeen.
“Anjaaayyy .... Udah berapa kata?”
Sammy mengangkat bahu meskipun ini bukan video call. Dia malah mengajukan pertanyaan lain, “Aku tuh enggak ingat, Mel ..., tinggi Woozi segimana, sih? Seketeknya Mingyu apa lebih pendek lagi?”
“Anjir. Elo mau nulis soal ketek lagi?”
“Aku suka keteknya Mingyu. Jangan marah.” Sammy mendengus. Dia mengetik sesuatu di laptopnya dan menemukan, “Mingyu 187 cm, Woozi 165 cm. Beda 22 cm. Mungkin ubun-ubunnya di dagu Mingyu kali, ya?
“Maybe? Elo udah nulis gimana aja? Coba kirim dulu ke gue. Seperti biasa.”
“Wait.”
Sammy mengirimkan tulisannya malam ini ke Melisa lewat WhatsApp. Selama beberapa saat, Melisa terdiam karena sedang membaca tulisan itu.
Dapur asrama yang biasanya luas mendadak terasa sempit saat Mingyu masuk dan memutuskan berdiri di sana, menjulang seperti menara. Woozi mendengus, berusaha mengabaikan presensi raksasa itu sementara jemarinya sibuk memecah keheningan dengan denting spatula. Ia butuh dua butir telur lagi untuk menyempurnakan omlet malam ini, namun tepat saat tangannya terulur ke arah karton di atas konter, sebuah tangan lain yang jauh lebih besar mendahuluinya.
"Mencari ini, Hyung?" Mingyu tergelak, suara rendahnya bergema di dada saat ia mengangkat karton telur itu tinggi-tinggi ke udara.
Woozi mendongak, matanya menyipit tajam menatap telapak tangan Mingyu yang kini berada jauh di atas jangkauan penglihatannya. Puncak kepalanya bahkan tidak sampai ke dagu pemuda itu, hanya tertahan di sekitar tulang selangka Mingyu yang terbungkus kaus tanpa lengan.
Woozi membelalak melihat mulusnya ketiak Mingyu. Pada momen normal, dia akan jijik dengan bagian beraroma surgawi itu. Tetapi Woozi tak boleh kelihatan tertarik. Hatinya seperti ingin mengusapkan wajahnya di permukaan kulit yang tandas digunduli Mingyu setiap malam sebelum konser. Yang dapat Woozi lakukan hanyalah menggeram imut seperti dengkuran kucing.
Woozi mulai berjinjit, berusaha menggapai-gapai udara yang kosong. "Kim Mingyu, berikan telurnya. Sekarang," perintah Woozi. Ia melompat-lompat kecil demi meraih pergelangan tangan Mingyu yang kokoh.
Mingyu justru semakin sengaja merentangkan lengannya ke atas, membiarkan tubuhnya menjadi mercusuar yang gagah perkasa. Yang tak Mingyu sadari, tubuhnya condong ke depan ketika Woozi melompat-lompat sambil menggapai tangan dan tanpa sengaja wajah Woozi kena
Sammy baru menulis sampai situ saja.
Melisa merespons, “Ew.” Lalu mendesis. “Gue enggak paham kenapa para gay kayak kalian tuh suka ketek ...?”
“I don’t know.” Sammy mengangkat bahu sambil tersenyum lebar. Yang dia tahu, membayangkan wajah Woozi menghantam ketek Mingyu yang mulus dapat meningkatkan libidonya. Ketika mengetik adegan tersebut, Sammy harus membetulkan celananya berkali-kali karena sesuatu yang keras menyeruak bangkit dari baliknya. “Aku suka aja.”
“Iya, iya. Elo udah nunjukin entah berapa ratus akun Twitter yang isinya cuma ketek Mingyu!”
“Hahaha! Ya udah siiihhh ....”
“Terus mau dibikin gimana? Dia dapatin omletnya enggak?”
“Iya, tapi aku pengin muka Woozi digosok-gosok dulu di ketek Mingyu. Cuma aku belum tahu harus berapa kali kalau enggak mau disebut cringe.”
“Dengan elo masukin adegan ketek udah cringe, sih.” Melisa mendengus. “By the way, gimana papa elo? Is he okay?”
Sammy menarik napas panjang sambil menoleh ke pintu kamar ayahnya. Kamar itu tepat berada di belakang Sammy. Dindingnya Sammy sandari dari sofa. “To be honest, aku enggak tahu.” Sammy makin merendahkan suaranya. “I hope he’s okay. Soalnya aku enggak bisa stay di rumah Nenek terus. Jauh banget dari naik KRL dari Cikarang ke Jakbar tiap hari. Kalau di sini kan naik Gojek aja cuma lima belas menit.”
“Terus elo gimana? Bakal okay enggak?”
“What do you mean?”
“Tinggal ama papa elo, anjir. Kan dia ganteng.”
Sammy membelalak kecil mendengar statement itu. Dia menoleh lagi ke arah pintu sambil menggulingkan tubuhnya sejauh mungkin dari kamar Brahmanta. “Ssst. Jangan keras-keras,” bisik Sammy. “Takutnya suara elo kedenger.”
“Elo loudspeak?”
“Enggak, tapi di sini hening anjir.” Dengan dada berdebar-debar Sammy menatap terus ke arah pintu.
“Udah setahun lebih elo enggak tinggal ama papa elo lagi,” bisik Melisa. “Makin dekat pisah, makin sering elo bilang papa elo ganteng. Ya gue juga setuju. Tapi sekarang dengan kondisi elo berubah haluan jadi gay begini, apa elo sanggup?”
Sammy benar-benar tak tahu apakah kata-kata Melisa bisa kedengaran ayahnya atau tidak. Namun, Sammy tak bisa mengambil risiko itu. Sebagai anak yang sudah menderita sejak kecil, dianggap tak berguna, dianggap bukan anak kandung, diolok-olok karena lebih mungil, Sammy tidak masalah jika orientasi seksualnya harus diketahui keluarganya. Sekalian saja semua orang tahu Sammy gay, biar kalau mau nge-bully bisa sekalian satu paket luar dan dalam. Namun, topik soal seksualitas ini tak pernah muncul di dalam keluarganya. Sammy masih belum tahu apakah ayahnya akan menerima atau mengamuk.
Sammy tak mau Brahmanta makin kecewa kepada anak bungsunya. Sudah kecil, gay pula. Mungkin nanti saja kalau sudah bisa cari uang sendiri, Sammy akan melela lalu pergi dari keluarga ini selama-lamanya.
Namun, yang dikatakan Melisa itu benar. Brahmanta makin sini makin ganteng. Makin dewasa, jantan, dan seksi. Sammy berusaha mengabaikan ketatnya kemeja membungkus lengan ayahnya. Atau dada ayahnya yang membusung tanpa harus dibusung-busungkan. Sialnya, karena sedang memasuki masa puber, apa pun yang ada di ayahnya itu sanggup membuat dada Sammy berdebar-debar.
Diam-diam, tanpa diketahui siapa pun termasuk Melisa, Sammy menaruh rasa suka kepada sosok ayahnya. Mungkin ini hanya sementara, pikir Sammy. Mungkin ini hanya gejolak seksual remaja semata. Bukan hanya Brahmanta saja yang membuat Sammy bergairah. Semua laki-laki berbadan besar, tinggi, ganteng, gagah, manly, selalu sukses membuat Sammy meleleh. (Bahkan Dirga dan Rangga pun sering kali bikin Sammy salah tingkah.)
Topik soal Sammy tinggal bersama Brahmanta yang kelihatan sangat matang dan otoriter ini sempat dibahas bersama Melisa. Pembahasan itu belum sempat ketemu solusinya. Sammy belum tahu bagaimana menghadapi gejolak-gejolak gairah yang muncul otomatis di dalam dirinya ketika sang ayah tampil dengan memesona.
“Halo?” Melisa memanggil karena Sammy tiba-tiba terdiam.
“Oh. Sorry, sorry.” Sammy menelan ludah. “Mel, udahan dulu, ya. Aku takut banget suaraku kedengaran ke kamar sebelah.”
“Oh. Oke.”
“Kamu masih mau nanya apa gitu?”
“Enggaaakkk .... Gue cuma ingat aja malam ini elo officially pindah ke apartemen papa elo. Gue pengin tahu kondisi elo gimana.”
“I’m fine.”
I’m not fine, lanjut Sammy dalam hati. Soalnya sejak masuk pintu tadi, Sammy selalu menghindari bertatapan langsung dengan sang ayah.
“Ya udah kalau gitu, kabarin aja kalau ada apa-apa. Minggu jadi kan kita GI?”
“Iya. Jadi. Entar aku kabari jamnya, ya.”
“Okeh. Met nulis, deh. Jangan kebanyakan bahas ketek Mingyu, ya.”
“Enggak janji kalau yang itu. Hahaha.”
Mereka pun berpamitan dan sambungan telepon diputuskan.
Sammy menarik napas panjang, menoleh sekali lagi ke kamar ayahnya, lalu mulai menegakkan tubuh untuk kembali menulis.
Sayangnya, Sammy tak bisa menulis. Konsentrasinya tak bisa dikumpulkan menjadi satu. Gejolak seksualnya tiba-tiba bangkit. Pertama, karena Sammy berhenti tepat di adegan Woozi mencium ketek Mingyu. Ini adalah adegan seksi yang sanggup bikin Sammy ejakulasi. Kedua, ayahnya sendiri.
Gara-gara membayangkan ketampanan Brahmanta, Sammy mulai resah. Dia mengguncang kepalanya kuat-kuat menghilangkan imaji itu dari kepalanya.
Itu papa kandungmu. Itu papa kandungmu. Itu papa kandungmu, ulang Sammy berkali-kali dalam hati. Iya kamu sering baca tulisan incest di AO3, tapi please Sammy, itu papamu. Jangan naksir papamu. Please jangan.
Tidak bisa. Sammy tidak bisa mengalahkan hasrat itu. Ketika memasak tadi, ayahnya berjalan menyeberangi ruangan dari kamar tidur ke kamar mandi hanya berbalutkan handuk saja. Dililit di pinggang, dengan lilitan di bawah pusar. Sammy tidak melihatnya dengan detail, tapi begitu melihat siluet setengah telanjang itu dari sudut matanya, Sammy yang sedang mengiris daun bawang langsung berbalik memunggungi sang ayah menghadap ke kompor—pura-pura memasak.
Sammy tidak berani berbalik sebelum akhirnya Brahmanta masuk ke kamar mandi yang ada di samping kamar tidur Sammy (nanti). Begitu sang ayah menutup pintu kamar mandi, Sammy menghela napas dan melanjutkan masaknya.
Sewaktu sang ayah selesai mandi, Sammy berbalik lagi untuk mengambil piring dan gelas. Dia bahkan membungkuk ke bawah agar tak melihat siluet sosok besar itu (lebih besar dari Mingyu, by the way) lewat di depannya.
Secara teknis, Sammy sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa dia belum siap melihat keseksian ayahnya. Ini adalah PR yang harus Sammy kerjakan selama tinggal di sini.
Jangan sampai naksir bapakmu sendiri, Sammy.
“Sam ...?”
Sammy melonjak kaget ketika mendengar panggilan itu. Ayahnya memanggil dari kamar. “Iya, Pa?”
“Kamu belum tidur?”
“Ngng ... aku ..., lagi ngerjain PR.” Buru-buru Sammy meng-close fanfic Minzi itu dan membuka file PR terakhir yang pernah dikerjakannya. Khawatir ayahnya muncul ke sini dan melihat apakah benar Sammy mengerjakan PR atau enggak.
“Tidur, Sam.”
“Aku ... aku lagi—“
“Besok Sabtu. Kamu enggak sekolah.”
Sammy menelan ludah. Dia tak bisa membantah. “Iya, Pa.”
“Tidur sini,” kata Brahmanta kemudian.
“Di ... kamar?”
“Sini dulu!” panggil Brahmanta akhirnya. “Masa kita ngobrol kehalang tembok?”
Ragu-ragu, Sammy meletakkan laptopnya ke atas sofa. Dia berjalan kikuk ke dalam kamar sang ayah, dengan paha rapat, kepala menunduk, dan wajah cemas. Sammy membuka pintu sedikit lebih lebar, lalu menatap ayahnya di atas tempat tidur.
Brahmanta sedang duduk bersandar ke kepala ranjang. Setengah tubuhnya tertutup selimut hangat yang tebal. Di depannya TV menyala, tetapi tampaknya Brahmanta tidak menontonnya sedari tadi. Brahmanta kelihatan lelah, kalah, dan menyerah. Wajahnya memelas saat melihat anak bungsunya yang mungil, yang raganya tak pernah sama dengan dirinya maupun anak-anaknya yang lain, berdiri di ambang pintu. Cahaya lampu tidur menerangi tubuh Brahmanta dari samping, memberikan siluet lekukan-lekukan otot yang kentara.
Sammy tak bisa lanjut masuk karena tubuhnya membeku.
Brahmanta telanjang dada.
Sammy dapat melihat pundak lebar sang ayah dengan ujung bahu bulat dan betapa besar bisep dan trisep di lengannya. Belum lagi dua dada bidang yang menonjol, yang hampir tak pernah Sammy lihat ketika dirinya masih tinggal bersama sang ayah lebih dari tiga tahun lalu.
“Mau enggak kamu tidur sama Papa malam ini?” tanya Brahmanta lembut. “I know, I’ve never been a good dad to you. Kemungkinan, ke depannya, it’s gonna be worse. Papa enggak punya hak apa pun untuk nuntut kamu nurutin semua perintah Papa. But it’s been ....
“It’s been ....” Brahmanta tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia menarik napas dalam-dalam untuk melanjutkan, tetapi tak keluar ucapan apa pun. Brahmanta berdecak sambil menatap TV dengan tatapan kosong.
Sammy yang panik dan cemas, tak punya pilihan lain selain menjawab, “Ya udah. Aku tidur sama Papa malam ini.”
Mendengar itu, Brahmanta mulai berani mengungkapkan maksudnya. “It’s been a lonely night. Sudah berbulan-bulan Papa tidur sendiri. Papa lagi pengin ..., ada orang yang baring di samping Papa ..., meski cuma semalam.”
Sammy mengangguk kecil. “Iya, Pa. Aku tidur di sini aja semalam.”
“You good with that?”
“Iya.”
“You sure?”
“He-em.”
“Bahkan meski Papa tiba-tiba peluk kamu karena kangen?”
“Itu enggak,” jawab Sammy tegas. “Papa badannya gede, aku badannya kayak cabe rawit. Nanti aku tenggelam di badan Papa. Aku bisa lenyap.”
Brahmanta tergelak kecil, menikmati candaan Sammy barusan. “Okay. Fair enough. Tapi tidur samping Papa ya sampe pagi?”
Sammy, dengan terpaksa, mengangguk kecil. Sejujurnya dia tak mau. Tidak dengan ayahnya telanjang dada seperti itu. Namun jika Sammy punya PR untuk mengontrol gairah seksualnya selama tinggal bareng ayahnya, ini adalah kesempatan emas bagi Sammy untuk mengikuti ujiannya. Kalau Sammy bisa tidur satu kasur dengan sang ayah yang telanjang dada, maka ke depannya Sammy akan bisa menghadapi setiap godaan gairah dari sang ayah.
Itulah satu-satunya motivasi Sammy.
“Thanks,” kata Brahmanta dengan senyum manis.
Sammy balas tersenyum. Namun, senyum itu untuk dirinya sendiri, soalnya barusan Sammy berhasil mendongak dan menatap wajah ayahnya yang tampan secara langsung. “Tapi aku masih ngerjain PR—“
“Udahan dulu PR-nya .... Come here and sleep with me.” Brahmanta menepuk area kosong di sebelahnya.
Tempat tidur itu sungguh luas. Mungkin bisa menampung tiga orang dewasa. Brahmanta yang badannya raksasa saja hanya menghabiskan satu per tiga bagian. Sammy masih punya ruang yang sangat luas di sisi lainnya kalau-kalau Sammy tak sanggup tidur menempel dengan sang ayah.
“Perjalananmu jauh, Sam. Dari Cikarang ke sini. Bawa-bawa koper. Istirahat dulu.”
Sammy menyerah lagi. “Ya udah. Sebentar. Aku bawa hape dulu.”
“But are you okay with me being naked?” tanya Brahmanta tiba-tiba. Dia duduk tegak dengan satu kaki tiba-tiba turun ke atas lantai, keluar dari selimut yang menghangatkannya. “Papa enggak pernah pake apa-apa kalau tidur. Enggak nyaman.”
I’m not okay, Pa, balas Sammy dalam hati. Namun, Sammy hanya tersenyum lebar dan berkata, “Gapapa.”
“Semua, lho.”
Tiba-tiba, Brahmanta membuka selimut dan menguak apa yang sedari tadi menutupi tubuhnya.
Tak ada sehelai benang pun membungkus tubuh kekar itu.
Sammy berdiri tiga meter dari sang ayah dan dia bisa melihat ayahnya telanjang bulat di atas tempat tidur.
Ya, visual itu membuat Sammy membeku. Tubuhnya merinding oleh gairah seksual, seperti disetrum sesuatu yang nikmat di area dada, lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Namun, yang membuat Sammy membeku bukan hanya fakta ayahnya telanjang.
....
Melainkan dia ....
... pada akhirnya ....
... dapat bertemu lagi.
....
Dengan burung itu.
Burung surga yang dia lihat sepuluh tahun lalu.
Burung itu, selama ini, ada di selangkangan ayahnya.
[ ... ]
Bersambung ...?
Atau cukup segini aja?
