Actions

Work Header

Pulang

Summary:

“Minghao…” bisik Jun, kali ini mengusap perut besar sang Tuan dengan lembut, menggerakkan ibu jarinya naik turun, “Kenapa tidak bilang? Tidak ada surat dan kabar apapun yang datang padaku tentang ini.”

“Ayahanda murka sekali. Kalau sampai ia tahu Jendral Wen yang melakukannya, kira-kira apakah ia akan menjadikan kepalamu sebagai pajangan baru di dalam kamarnya atau malah menikahkan kita?”

JunHao Explicit Sexual Content | DDNE

Notes:

sebelumnya saya minta maaf dulu jikalau selama penulisan, terdapat kesalahan istilah, karena saya lagi coba-coba genre (walau cwk hamilnya sih memang hukumnya wajib ya di tulisan saya). inspired by this tweet.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Asap dupa membumbung tinggi ke langit-langit ruangan, suara guzheng yang dipetik mendayu memenuhi indera pendengaran. Jendral Wen Junhui tidak pernah menyangka kepulangannya dari perbatasan disambut dengan suasana seperti ini. Belum jua keterkejutannya usai, sudah langsung ditambah dengan penampilan si pemetik guzheng; seorang carrier dengan rambut panjang menyentuh bahu dan tubuhnya hanya ditutupi kain putih tipis tembus pandang yang memperlihatkan dada penuh berisi. Perutnya yang mulai membulat tampak menyembul tanpa sedikitpun menyulitkannya.

“Tuan…ku?”

“Enam bulan di perbatasan membuat Jendral Wen lupa namaku?” tangan tak berhenti, sang carrier masih memetik guzheng seraya melirikkan pandangannya pada sang Jendral.

“M-Maaf, Tuan Minghao. Saya… aku… maksudku…”

Alih-alih terburu-buru menghentikan permainan, Minghao hanya menggurat senyum di wajah dan sedikit menundukkan tubuhnya, membuat zhongyi–jubah dalaman hanfu berwarna putih–yang ia kenakan turun dan menunjukkan putingnya yang mencuat. Jun? Jangan ditanya. Entah karena aroma dupa yang sedang dibakar atau karena hal lain, rasanya begitu sempit dan sesak di bawah sana. Hasratnya sudah membuncah, ingin menerjang ke arah Minghao, lantas membuatnya menjerit-jerit seperti saat ia memberikan benih ke dalam perut sang carrier. Sayangnya, ia harus menjaga wibawa agar tidak terlihat seperti binatang liar yang lepas kendali.

Satu tarikan nafas diambil, Jun kemudian melepaskan hanfu berwarna hitam yang ia kenakan, menggantungnya di tempat yang sudah tersedia di dalam kamar itu dan berjalan menuju ke arah Minghao yang melanjutkan bermain guzheng dengan lebih intens. Nada-nada yang menyatu membuat sebuah lagu terdengar begitu merdu; seolah perutnya yang besar tidak menjadi penghalang untuknya menunjukkan kebolehan. Sang breeder duduk di belakangnya, menempatkan diri sedekat mungkin tanpa mengganggu permainan Minghao.

Aroma manis rempah dan kayu terasa semakin membumbung di udara, memenuhi indera penciuman Jun dengan lebih kuat. Ia yakin bahwa ini bukan dupa biasa karena rasanya ia benar-benar seperti binatang buas yang tidak tahu aturan. Ah… yang benar saja, padahal seharusnya sang pangeran yang akan meneruskan takhta kerajaan Choi ini lebih bisa menjaga diri, tapi malah menyerahkan dirinya untuk menjadi ‘santapan’ malam ini.

“Tuan Minghao… Anda tidak seharusnya melakukan ini. Dupa perangsang seharusnya tidak Anda dapatkan dengan mudah dari tabib, bukan? Apa yang Anda janjikan padanya sampai ia mau memberikannya?”

Minghao lagi-lagi menjawab dengan senyum, badannya malah sengaja sedikit ia mundurkan sampai pantatnya menabrak sesuatu yang keras di selatan badan Jun. Ia gesek pelan selagi memainkan guzheng; naik turun beraturan tanpa kesulitan menjaga keseimbangan tubuhnya.

Terima kasih kepada segala pengajaran tari tradisional yang ia ikuti sejak masih kanak-kanak; soal menjaga keseimbangan dan menggerakkan tubuh, Minghao jagonya.

Buktinya dengan goyangan di atas tubuh Jun yang mabuk di acara pelepasannya ke perbatasan enam bulan lalu, menghasilkan bayi yang sehat di perutnya, bukan? Sialnya, sang Ayahanda sampai murka dan mengurungnya di dalam istana, hingga untuk mendapatkan kabar tentang kepulangan Jun saja, harus ia dengar dari gosip para dayang-dayang istana.

Dupa perangsang? Oh ayolah, ia adalah seorang pangeran yang lahir dari rahim sang ratu–yang juga seorang carrier, kenapa ia tidak bisa mendapatkan barang seperti itu dengan mudah? Cukup dengan beberapa keping koin emas saja, si tua bangka itu langsung memberikannya.

“Tuanh…”

“Ssshuushh~ namaku Choi Minghao, Jendral Wen, tidak pernah ada ‘Tuan’ di antara Choi dan Minghao…” Minghao berkata dengan suaranya yang lembut, pantatnya naik turun selagi ia menyelesaikan permainan guzheng-nya dan mengubah posisi duduk menjadi menghadap ke arah sang breeder.

Oh Tuhan, bahu lebar, tubuh atletis, dan wajah yang benar-benar tampan itu, siapa sih yang bisa menolak? Minghao tidak pernah lupa bagaimana tubuh Jun yang berkeringat sangat menggoda dan membuatnya tak bisa berpikir jernih. Tiba-tiba saja ia membiarkan Jun memuntahkan benih ke dalam rahimnya berkali-kali dan keesokan harinya, ia bahkan tak bisa beranjak sejengkalpun dari atas tempat tidur.

“Minghao…” bisik Jun, kali ini mengusap perut besar sang Tuan dengan lembut, menggerakkan ibu jarinya naik turun, “Kenapa tidak bilang? Tidak ada surat dan kabar apapun yang datang padaku tentang ini.”

“Ayahanda murka sekali. Kalau sampai ia tahu Jendral Wen yang melakukannya, kira-kira apakah ia akan menjadikan kepalamu sebagai pajangan baru di dalam kamarnya atau malah menikahkan kita?”

Mendengar pertanyaan yang serupa dengan bertaruh menggunakan nyawanya sendiri itu, Jun meneguk ludah. Tapi Minghao lagi-lagi hanya tertawa dengan lembut, memundurkan tubuhnya sampai guzheng di belakangnya sedikit bergeser dan dengan cepat tangannya bergerak menurunkan celana Jun, memperlihatkan kontol tegang sang breeder yang gairahnya sudah membuncah sejak tadi.

“Ming–”

“Sssssttttt~ Jendral pasti capek, biar kulepaskan saja, ya? Sudah keras begini… kalau masuk ke memekku… hnnn… pasti lebih panjang daripada jari jemariku~” dan ya, jari jemari Minghao tanpa ragu melingkar di kontol breeder-nya, menggenggam benda tegang itu sebelum menaik turunkan tangannya, memijat kontol Jun tanpa ragu.

“Hhhhh… nnhhh…” lenguhan pelan, Jun membiarkan Minghao berlaku sesukanya. Entahlah. Jika setelah ini kepalanya dipenggal dan dijadikan pajangan di kamar sang raja, ia rasanya tidak akan menyesal.

“Kata tabib, bayi kita sehat, Jendral Wen~ sayangnya, kemungkinan besar perempuan. Jadi ia tidak bisa mewarisi takhta. Jadi nanti, setelah bayi ini lahir, jangan lupa untuk menghamiliku lagi, ya?” ucap Minghao dengan wajah sumringah, seolah ‘menghamilinya lagi’ itu adalah sebuah perkara yang mudah dan diizinkan oleh istana. 

Hey, breedermu dalam bahaya, loh.

Jun hanya bisa mengangguk pasrah sebagai jawaban sementara Minghao menundukkan tubuhnya, menciumi dan menjilati ujung kontol Jun seperti permen lolipop termanis di dunia. Ujung lidahnya memutar-mutar di kepala kontol Jun sebelum membenamkan ke dalam mulutnya, memberikan hisapan dan kuluman di sana sambil memijat batang kontol sang breeder. Jun resah, jemari kakinya melengkung keenakan sementara kepalanya mendongak. Satu tangan ia ulurkan untuk meremas rambut sang carrier yang semakin panjang, membiarkan helai rambut itu menelusup ke antara jemarinya.

“Aahhh… nnnhh! Ssshhh… hhhhah… Hao… hhh… Haooo mffhh!” mata terpejam, tangan Jun yang lain digunakan untuk menutupi mulutnya, menahan desah agar tidak keluar lebih keras.

Tapi Minghao adalah keturunan Raja Choi yang paling keras kepala. Ia sedot lebih kuat kepala kontol Jun dengan bibirnya, memainkan lidah di atas sana; memutar, menjilat, mengulum. Tangannya bergerak cepat, mulai dari kedua bola kembar kemudian ke batang kontol Jun, membiarkan cairan precum menjadi pelumas alami yang bercampur dengan salivanya. Darah Jun berdesir hebat, kepalanya terasa begitu ringan karena sepongan dan handjob dari carrier-nya, kini bahkan di bawah sana kontolnya sudah berdenyut-denyut. Oh sial, enam bulan berlalu begitu cepat dan ia tidak bisa memungkiri bahwa tubuhnya rindu akan sentuhan seksual seperti ini.

“Oh Lord… nfffhh~ nngghhh…! Hhhhahh hhhhnnfffhh…” suara Jun makin tertahan, pinggulnya ia gerakkan sedikit untuk memasukkan kontolnya lebih dalam ke mulut Minghao, merasakan saliva sang carrier melumuri kontolnya makin banyak, menjadikan benda itu kian hangat dan libidonya kini menguasai diri.

Ketika Jun pikir Minghao tidak bisa lebih gila lagi, sang pangeran malah memasukkan kontol Jun seluruhnya dalam ke dalam mulut, men-deep throat kontol besar itu sampai kedua bola mata sang carrier berputar ke atas. Satu, dua, tiga kali, Minghao tampak menikmatinya. Perutnya seolah ikut bergoyang bersamaan dengan gerakan gilanya ini. 

“MINGH–AAAHH! NNGGGHH!” Jun tanpa sadar ikut menghentak pinggulnya, naik turun berlawanan arah dengan Minghao, membuat kontolnya masuk lebih dalam ke mulut sang pangeran. Basah, sempit, menjepit kuat-kuat kontol Jun di bawah sana dan membuatnya berdenyut.

Tidak cukup dengan desahan, Jun meremas rambut Minghao kuat, menekan kepalanya sampai wajah sang carrier memerah seperti buah persik. Lantas tanpa menunggu waktu lama, spermanya keluar deras dari sana; menembak tepat ke tenggorokan Minghao. Jun meraup nafas banyak-banyak, mendongakkan kepala, tapi yang ia dapat hanya rasa pusing dan melayang–seolah kesadarannya dirampas oleh nafsu.

“Hhhahhhh hhhhahhhh hhhahhh…” dada Jun naik turun tak beraturan, matanya nyalang menatap carrier-nya di bawah sana.

“Mnggh…” Minghao yang baru saja selesai menelan cairan sperma yang keluar dengan lembut mengusap sudut bibirnya sendiri dan menatap ke arah Jun yang masih mengatur nafas; tubuh sang jendral ambruk ke atas lantai kayu sebelum berusaha ia angkat dengan bermodalkan kedua sikunya.

Sayang, usaha itu gagal, membuat Minghao tersenyum puas dan duduk di atas perut Jun.

“Jun-gege… aku kangen… kangen banget…” ucapnya, kini melepaskan bagian atas pakaiannya, membiarkan kain ikat pinggang menahan agar tidak seluruh zhongyi-nya terlepas.

“Ming… hhh… Minghao… akuhhh jug–aahh!” desahan kembali lolos, Minghao menaikkan sedikit zhongyi-nya dan menunjukkan bagian bawah tubuhnya yang ternyata sejak tadi tidak menggunakan apapun; hanya memeknya yang dialasi oleh kain tipis saat duduk tadi.

Alasan desahan Jun barusan? Karena sang carrier tanpa ragu memundurkan tubuhnya, menggesekkan memeknya yang sudah basah ke kontol Jun yang tadi ia hisap dan sedot kuat sampai nyaris tersedak. Ujung kepala kontol Jun menyundul-nyundul ke klitorisnya, menimbulkan sensasi geli dan menyengat. Kedua tangan ia gunakan untuk meraup dadanya sendiri, memainkan putingnya yang mengacung sempurna karena terangsang dengan permainan mereka sejak tadi.

“Junhh~ nnggh Junhh gegehhh~ mmmhh~ sssshh~” perut Minghao sesekali bertabrakan dengan perut Jun, ujung kontol Jun menggesek tepat ke bibir memeknya dan berhenti saat menabrak klitorisnya, begitu terus berulang sampai tubuh Minghao ikut memanas.

“Hao… nnghh… God… lihat betapa cantiknya kamu saat mengandung bayi kita…”

“Akuhh… masih cantikhh? Mmhh? Gege~?”

“Sangat cantik, sayangku… hhhhh… palingghh cantikhh…” Jun dapat merasakan di bawah sana, lendir memek Minghao keluar lebih banyak, sementara kepala sang carrier mendongak, menatap langit-langit kamar selagi kedua tangannya sibuk mencubit dan menarik-narik kedua putingnya sendiri.

“Ge~ panashh… memek aku… puting aku… itil aku… semuanya panas… kangen… kangen Ge—aaaahh! Awhhh ahhh~ gatelhh~”

“Kalau gitu kamu tau harus apa, kan, Minghao?” Jun kini ikut menggoyang pinggul, membuat ujung kontolnya lebih intens menyundul-nyundul klitoris Minghao; kedua tangannya mengelusi perut besar carrier-nya, merasakan tendangan kecil yang mungkin adalah tanda protes dari calon putri kecilnya.

“Sshh~ j-jangan cuma bayi… aku juga butuhhhh~ d-disayanghhh~! AAHH! GEGE!”

Jun sengaja mencelupkan ujung kontolnya ke dalam memek Minghao, lantas ia tarik lagi keluar dengan cepat karena begitu becek di bawah sana. Tubuh Minghao gemetar, sedikit berjengit dan menumpu kedua tangannya ke atas dada Jun; kini perutnya benar-benar bergesekan dengan perut Jun.

Mendengar rengekan dan desahan kencang itu, Jun langsung melumat bibir Minghao dengan rakus, memberikan gigitan kecil selagi nafas mereka saling menderu. Gesekan semakin intens diberikan di memek Minghao selagi perutnya sesekali menyundul perut Jun, naik turun, membuat sensasi geli karena pusarnya yang menonjol menggesek-gesek ke sana.

Basah, becek, sebelum akhirnya Minghao merapatkan kedua pahanya, jemari kakinya melengkung, dan tiba-tiba saja cairan bening dan kental keluar lebih banyak di bawah sana, membasahi kontol Jun. Sang carrier nyaris ambruk kalau saja Jun tidak segera menangkap tubuhnya ke dalam pelukan, dengan posisi setengah duduk, ia kecup kening Minghao lembut.

“Enak?”

“Enak… bangethh…” sang pangeran berucap dengan napas yang masih memburu, matanya terpejam sementara kepalanya ia sandarkan ke dada bidang jendral kesayangannya.

“Berarti tidak perlu kita lanjutkan?”

Mendengar itu, Minghao memajukan bibirnya lucu, menatap ke arah Jun yang tengah mengatur nafasnya. Tangannya ia arahkan ke kontol Jun yang masih menegak sempurna, “Memangnya dia tidak perlu ditenangkan?”

“Ssshh…” Jun mendesis kala Minghao meremas kontolnya. Astaga, padahal ia hampir seumuran dengan Ayah Minghao, tapi sang pangeran seolah tidak peduli sama sekali.

“Aku kangen banget, Jendral Wen, kangen sama sodokanmu di malam itu, ditusuk perlahan, dalam, lantas makin cepat, kena ke sweet spot-ku, berusaha mendobrak mulut rahimku, ummhh~ memek aku basah ngebayanginnya…” semua kata-kata ‘kotor’ itu keluar dari mulut Minghao semudah bernafas, tangannya mengusap-usap dada bidang Jun; mengagumi tiap bekas luka yang ada di sana sebelum ia kecup lembut.

“Anak nakal…” hanya itu yang mampu keluar dari mulut Jun sebelum melepas tali pinggang carrier-nya, melucuti semua pakaian Minghao dan menggendongnya dengan kedua tangan menuju ke atas tempat tidur. Ia turunkan pelan ke sana dan mengecupi perut besar submisifnya. Lidahnya terjulur sedikit untuk menjilat perut lembut dan mengkilat itu, membuat Minghao meringis kegelian.

“Nnhh~ gege~ Jun-gege~”

“Terus, Minghao… mulutnya sudah pintar sekali memanggil namaku, hm? Panggil lebih keras setelah ini ya…” segurat senyum terpatri di bibir Jun sebelum ia tegakkan tubuhnya dan melebarkan kedua kaki Minghao; mengarahkan kontolnya yang sudah sangat keras itu ke memek submisifnya.

“Junhh–NNNGGHHH!”

Blessssh.

Satu sentakan diberikan, Jun dapat merasakan ujung kontolnya dijepit kuat di dalam memek Minghao hingga punggung submisifnya melenting dan jari-jarinya menekuk; tangan Minghao sampai memerah karena meremas sprei kuat-kuat. Otot-otot memeknya menegang, membuat ‘pijatan’ di dalam sana makin intens di kontol Jun. Kepalanya mendongak ke atas, berusaha menyesuaikan ukuran kontol Jun di dalam lubangnya. 

“Ahhh! G-Gede… gede bangethh…” susah payah Minghao berusaha mengeluarkan suara, jemari kakinya melengkung saat Jun masih bisa menyentak lebih dalam lagi; menyodok ke mulut rahimnya, “J-JUN GEGEEEHH!”

Jun menyeringai saat namanya dipanggil dengan kencang, dilebarkannya kedua kaki Minghao sebelum menarik pinggulnya mundur dan mengeluarkan ujung kontolnya dari memek submisifnya. Tubuhnya menunduk agar bibirnya bisa mencapai bagian dalam paha Minghao dan mulai memberikan kecupan di sana, sesekali ia gigit kecil untuk meninggalkan tanda kepemilikan; beberapa kissmark yang sepertinya akan membekas selama beberapa hari.

“Ngggh~ gege… Jun… gege… mnhhh~” Minghao menggerakkan kakinya gelisah, tangan ia arahkan ke putingnya sendiri, menariknya pelan sebelum menggigit bibir, menggoda dominannya yang kini sibuk mengecupi kakinya, seolah tengah memujanya.

“Anak nakal~ anak nakalnya Raja Choi…” Jun menyeringai, pinggulnya ia mundurkan sebelum menyentak kontolnya lagi ke dalam memek Minghao, membuat sang carrier kembali meremas sprei.

“Anak nakalnya Jendral Wenhh~ AAAHHHNNGGHH! Enyaaakkhhh~ enyak bangethh~ pusinghh…” lidah terjulur, Minghao melebarkan kakinya kala kontol Jun tepat mengenai sweet spot-nya.

“Jendral Wen? Hm? Hhhh… Jendral Wen, huh? Padahal… nnghh… tadi pintar sekali hhhah memanggil namaku. HMM?!” Jun menekan kaki Minghao ke arah perutnya, memaksa posisi clam di saat Minghao tengah hamil besar. Tentu saja Minghao langsung meringis kesakitan dan berusaha mendorong kakinya sendiri.

“AHH AHHH! SAKITHH! J-JUN GEGE… AMPUNHHH AHHGHH! K-Kontolnya keteken di dalam. MENTOKHHH!” Minghao gemetaran, badannya sempat kelojotan sebelum cairan memeknya kembali rembes dan melumuri kontol Jun yang bahkan belum mendekati puncak kenikmatannya.

Jun kembali menyeringai, melihat Minghao yang kelelahan usai keluar, ia malah sengaja langsung menggerakkan pinggulnya maju mundur lebih cepat. Segera saja Minghao berusaha melebarkan kakinya, berharap gesekan kontol Jun ke dinding memeknya tidak seintens barusan.

Tapi tentu saja percuma.

Blessssh.

Ujung kontol Jun kembali mengecup sweet spot Minghao. Lagi, punggung sang carrier melengkung dan susunya akhirnya keluar–muncrat membasahi perutnya sendiri.

“NNGGH~ AHHHHHNGGHH!” Minghao menjerit-jerit, kakinya melengkung memeluk pinggang dominannya. Kepalanya terasa ringan usai keluar ketiga kalinya dan membasahi tempat tidur.

“Kenapa? Hhhhh~ Sakit, hmhh?” badan Jun menunduk, bibir ia arahkan ke puting Minghao yang mengacung tegak.

“S-Sensitifhh… memeknya masih sensit–IIIFFHH! Junhh~ GEGEEEHH!”

Kedua kaki Minghao refleks menutup saat Jun mengulum putingnya, menjepit kontol Jun kuat selagi sang breeder menyusu padanya seperti bayi besar yang kehausan. Mau gila rasanya diberikan kenikmatan bertubi-tubi begini tanpa waktu istirahat. Minghao refleks menjambak rambut Jun saat kuluman di putingnya makin kencang, diakhiri dengan gigitan lembut. Kepalanya terasa ringan, seolah jiwanya sudah melayang entah kemana karena kenikmatan.

“Sluurrrp~ mmccch~ sluurrp~ mlllm~” suara lidah Jun yang memutar-mutar di puting Minghao menambah riuh malam itu, Minghao menggelengkan kepala, berusaha menahan squirt-nya lagi–yang ia sudah tidak ingat sama sekali, berapa banyak ia keluarkan malam ini.

“Ouuhhh nngghh! K-Kedut… memek akuhh… udahh… udaahhhh hiksss… enakhh~ ga tauuu!” Minghao meracau tak jelas saat Jun mempercepat gerakan pinggulnya.

Tapi mendengar Minghao yang sudah merengek bahkan sampai menahan tangis, Jun malah menekan bagian bawah perut Minghao, membuat kontolnya terjepit kuat oleh dinding memek Minghao; berkedut-kedut karena dipaksa menyempit.

“ANJIIINGGGHH! GEGEEEHHH!” kepala terdongak, tubuh Minghao lagi-lagi berkedut, kelojotan karena mencapai puncaknya.

Kali ini cukup kuat sampai mengenai selangkangan Jun, membuat dominannya menggeram dan menggerakan pinggulnya makin intens, maju mundur tak beraturan, menabrak mulut rahim Minghao berulang kali; seolah ingin mengusik ketenangan bayi di dalam sana. Dan tentu saja berhasil, si jabang bayi ikut menyundul dan menendang, membuat sensasi sakit, geli, dan nikmat bergumul menjadi satu.

“Udddahhh! AAHHH AAHHH… HIKS… GEGEEEHHH! Hiks… sakithhh sakittthh~! Enaaakhh… ga tau… ga ngerti… Hao mauhh cumhh~!”

Kali ini bersamaan dengan ledakan sperma di dalam memek Minghao. Sang carrier lemas tak berdaya di atas tempat tidur. Sperma keluar dari sela antara kontol Jun dan memeknya. Tapi ia sama sekali tak peduli. Terserahlah. Mungkin beberapa menit setelah ini, kesadarannya akan menghilang; tapi ia benar-benar tidak mau tahu.

Jam berapa sekarang? Berapa lama lagi durasi dupa itu? Atau memang tanpa dupa itu, nafsu keduanya memang sudah sama-sama membuncah sampai buta? Entahlah…

“G-Ge… Hao… pen–uhh… hhh… hehe…” mata Minghao menjuling, ia berusaha menggapai Jun yang tampak berbayang di matanya. Oh lihatlah, sang Jenderal sekarang ada tiga di matanya karena kepalanya terasa begitu ringan. Disetubuhi tiga Jun? Bisa-bisa ia mati malam ini.

“Anak pintar. Jangan lupa… kau harus melahirkan seorang putra setelah ini, ya?” dikecupnya perut Minghao dalam-dalam.

“Putrahh… putrihh… mauhh… hamil terush… hhhh… enakhh…”

Jun tertawa sebelum akhirnya mengecup kening Minghao dalam-dalam dan mengusap pipinya.

Oh betapa ia senang sekali bermain-main dengan anak dari sang raja.

Notes:

Unlike abo universe, this breeder and carrier universe don't have rut and heat, also don't have scenting and pheromones system. That's it. I didn't know what possess me to write this kind of story but... it is what it is.

yup, i do have twitter.