Work Text:
Max berumur 20 tahun saat ia menginjakan kaki di Melbourne.
Kuliah adalah kata kunci pertamanya. Kabur dari rumah adalah kata kunci kedua. Yang ketiga: ia ingin hidup sendiri, di negara orang lain, tanpa harus memikirkan apakah jalur hidup yang ia pilih adalah suara Ayahnya atau sepenuhnya datang dari kemauannya; karena, fuck it, kepala dua adalah milestone baru bagi Max dan ia akan terlahir kembali oleh namanya sendiri.
Di apartemennya di daerah Clayton, Max baru sadar ia tidak tahu cara mendekorasi ruangan. Sekarang ada kursi, sofa, tempat tidur, alat makan yang cukup untuk makan siang dan makan malam tanpa harus langsung dicuci sehabis digunakan. Bagi Max itu sudah cukup.
Saat Daniel, teman pertamanya di kelas Intercultural Communication yang ternyata adalah warga lokal Australia datang ke apartemennya, lelaki itu bertanya. “Max, ini kita makan di mana?”
Max tidak punya jawaban karena memang pertanyaan itu tidak pernah terlintas di pikirannya.
Ia selalu membawa mangkuk nasi dan gelas air putih ke kamarnya, dan agenda makan malam berarti di atas kasur sambil menonton pertandingan Formula One di situs bajakan.
“Di kasur…?” Adalah jawaban sekaligus pertanyaan yang Max lontarkan, entah untuk Daniel atau untuk dirinya sendiri.
Ada kekehan kecil yang keluar dari mulut Daniel, tangannya masih memegang mangkuk sup walau Max tahu air itu habis mendidih. Max tidak terbiasa mendapat kekehan atas jawabannya karena di hampir semua kesempatan, orang lain akan setuju dengan perkataannya. Maka ia dengan cepat menjawab lagi, “atau di lantai,” katanya, menyengir canggung sambil menunjuk lantai ruang tamu yang bahkan tidak dilapisi karpet, “lantainya dingin, serius. Cocok buat… buat duduk.”
Masalahnya, Daniel tertawa lagi, walau ia langsung duduk bersila dan menaruh mangkuk mendidihnya di atas lantai. Max mengikuti.
Hanya ketika makanan mereka habis dan Max harus menggotong mangkuk kotor itu ke dapur, baru ia merasakan keram di punggung belakangnya. Daniel menepuk punggungnya sekali membuat Max menggeram, “ini kenapa kita nggak makan di lantai, Max.”
Max bertanya, “Karena kita tinggi?”
Ya, sebenarnya ada betulnya. Akan lebih mudah kalau kakinya tidak jenjang, badannya tidak panjang, sehingga tidak harus sakit saat menunduk lama. Hanya saja Max malu mengakui bahwa,
“Karena harusnya kita makan di atas meja, goblok,” ujar Daniel, tertawa tebahak-bahak. “Next time, lo beli meja. Nanti gue ajak temen gue, soalnya dia juga harus beli meja.”
Siang itu Max menambahkan satu item dalam list dekorasi kamarnya.
- Kursi belajar ✔️
- Sofa yang bisa tiduran ✔️
- Kasur queen size ✔️
- Mangkok set ✔️
- Meja (otw) ⭕️
_______________
Next time yang Daniel maksud ternyata datang satu bulan setelahnya.
Max telah melewati rotasi kelas di bulan pertamanya dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia. Australia merupakan negara yang beragam, buktinya Max belajar di kelas Reading Across Culture bahwa teman sekelasnya yang berasal dari Asia Tenggara ternyata menyapa yang lebih tua dengan mencium tangan tetuanya.
Jika Max harus mencium tangan Ayahnya, ada kemungkinan besar ia akan memuntahkan tangan itu terlebih dahulu.
Ia juga belajar bahwa kebanyakan negara di Asia menganut budaya makan di lantai. Maka ketika ia bertemu dengan Daniel di toko perabotan, ia kegirangan bukan main untuk memberitahu fakta bahwa:
“Kita tuh sebenernya bisa makan di lantai, Niel!” ujar Max membara-bara, jemarinya menyambut tos tangan singkat dari temannya. Mata Daniel menyorot bingung, namun Max belum selesai, “wajib makan di atas meja tuh akal-akalan barat doang, sumpah. Emang ajaran white people nggak harus ditelen mentah-mentah, Niel. Makanya lo tuh ikut kelas yang beragam orangnya biar—”
Sekarang Daniel melotot, matanya yang sudah besar itu semakin besar ketika Max tidak berhenti mengoceh. Walau, akhirnya, Max merasa seperti orang gila dan menghentikan kajiannya soal bagaimana ajaran kulit putih telah dijadikan norma bertata hidup; karena Daniel tidak sendiri.
Lebih tepatnya, di samping Daniel, ada seorang laki-laki yang menatapnya dengan tatapan terhibur.
“Um.”
Mata Max tidak lepas dari lelaki itu, lalu kembali ke Daniel yang sudah tersenyum lebar, lalu kembali lagi ke lelaki itu. Dan Max terpaksa untuk turut tersenyum canggung karena ia tidak tahu kenapa ada orang asing yang akan ikut menemaninya membeli meja, juga karena Daniel adalah seorang psikopat yang suka melihat Max malu di ambang batas seperti sekarang.
“Okaaay, hello?” ujar Max lagi.
Tawa Daniel akhirnya pecah, dan Max bersyukur karena itu pertanda bahwa ia tidak harus berusaha basa-basi lagi. Di tengah kekehan Daniel yang belum selesai, Max menggaruk tengkuknya malu seraya matanya menyorot tampilan lelaki yang tidak ia kenal itu dari atas sampai bawah.
Walau tingginya sepantar dengan Daniel, lelaki itu terlihat lebih kecil dan lebih muda. Mungkin karena ia memakai sweater kebesaran yang hampir menutup pahanya dan sebuah celana pendek kecil yang membuatnya terlihat, well, kecil.
Ia terlihat seperti orang yang juga tidak memilki meja.
Dan dugaannya benar saat Daniel memperkenalkan mereka berdua kepada satu sama lain.
“Max, kenalin ini Oscar, yang gue bilang nggak punya meja,” Daniel menarik tangan Max ke depan untuk memberikan salam, sebelum kepalanya menoleh ke lelaki yang bernama Oscar, dan melakukan hal yang sama. “Oscar, ini Max, dia juga nggak punya meja.”
Tangan mereka bersentuhan, Max menekan tangan itu sekali karena menurut Ayahnya itu adalah cara lelaki memperkenalkan dirinya.
“Hello,” ujar Max, tersenyum ramah, masih menggenggam tangan Oscar. “Gue Max, salam kenal.”
Tangan itu lebih mungil dari tangannya. Max sadar karena ia pengamat tangan yang handal.
“Oscar,” sapanya balik, suaranya damai dan kecil, cocok dengan rupanya yang juga kecil. “Yuk, beli meja.”
Max belum sempat memperhatikan wajah Oscar lebih lama karena suara Daniel yang besar dan berisik itu kembali mengudara. “Oke, yok diborong mejanya. Punggung gue udah encok tiap ke tempat kalian.”
Sepanjang perjalanan saat menelusuri merk meja yang berbeda-beda, Max tidak berhenti mengutip ucapan profesornya bahwa meja makan, lagi-lagi, adalah akal-akalan barat. Ia mencelotehkan ajaran itu di napas yang sama dengan napas yang membayar lima ratus dolar untuk membeli meja cantik berwarna putih untuk menduduki apartemennya yang setengah kosong itu.
Max berumur 20 tahun saat ia membeli meja pertamanya.
_______________
Transaksi meja itu rupanya menjadi awal mula persahabatan dengan geng kecilnya yang diisi oleh Daniel dan Oscar.
Karena di meja putih yang Max beli, banyak kejadian yang telah disaksikan dan dilewati. Seperti Oscar, yang juga lebih lokal daripada Daniel, karena ia adalah warga asli kota Melbourne, yang mengajarinya beberapa diksi Australia di malam ketika mereka pulang dari pesta kampus pertamanya.
Saat itu Max sudah mabuk dan ia tidak lagi dapat meregister ucapan Oscar dengan mudah. Ditambah aksen Australianya yang kental sekali.
“You just said the exact same thing, anjir!” Max menutup wajahnya dengan kedua tangannya, frustasi bukan main saat Oscar menyebutkan kata “Arvo” dan “Avo” yang di telinganya terdengar seperti kata yang sama.
“I didn’t! Yang satu ada huruf R, yang satunya nggak ada!” Oscar kini tergelak tawa, ujung matanya seperti bulat sabit karena tersenyum terlalu lebar. “Arvo tuh afternoon, avo tuh avocado. Itu beda, Max! Nih dengerin lagi,” ia membasahkan bibirnya dan menarik napas dalam-dalam sebelum mengucapkan, “Arvo,” jedanya, dilanjutkan oleh, “Avo.”
Masih terdengar sama walau sudah ke seratus kali.
Lalu Oscar menepukkan kedua tangannya, masih memamerkan gigi kelincinya saat ia berkata, “Beda kannnn! Coba, coba, lo yang ngomong.”
Dan malam itu dihabiskan oleh Max yang berulang kali mengucapkan dua kata sialan itu sampai mulutnya terasa berbusa, walau yang ia ingat hanya betapa besarnya suara tawa Oscar setiap kali Max mengucapkan kata itu dengan aksen yang salah.
Oh, Max hampir lupa.
Meja putih itu juga menjadi saksi bisu saat Daniel membawa pulang satu kantong yang berisi berbagai jenis merk coklat, Oscar dengan mata yang merah dan bengkak mengikuti di belakangnya.
“Sini, Osc,” ujar Max panik, memanggil nama panggilan Oscar yang lelaki itu sempat ajarkan beberapa minggu lalu. Oscar bilang itu adalah panggilan yang dibuatkan oleh adik kecilnya, Mae, saat Mae masih kecil dan belum bisa memanggil nama Oscar dengan lengkap. Max merasa bangga saat ia mengetahui fakta kecil itu, dan saat ia mempelajari bagaimana nama ‘Osc’ keluar dari lidahnya.
Namun mata Oscar waktu itu hidup berbinar, Oscar yang sama kini duduk di kursinya dan menenggalamkan wajahnya di atas meja putih Max dengan mata yang nyaris tak ada kilat hidup. Max menatap Daniel, bertanya dalam diam atas apa yang terjadi kepada Oscar, dan Daniel hanya memejamkan matanya, ikut menggeleng.
Butuh waktu cukup lama hingga Oscar mengadahkan kepalanya ke atas. Yang pertama Max lihat adalah merah di seluruh wajahnya. Pipinya dibasahi oleh air mata, bahunya bergetar sesenggukan, patah-patah oleh tangis. Ada sesuatu dalam diri Max yang ikut teriris saat bibir mungil Oscar digigit hingga ada sayat darah di atasnya, hanya untuk membungkam isak tangisnya.
Ingin Max berkata bahwa, Oscar boleh menangis dengan bebas. Tidak ada yang salah di apartemen ini. Semua boleh Oscar lakukan, Max akan membantu sebisa mungkin.
Namun Oscar, dengan suara parau, membelah sunyi di malam itu.
“Camille ketemu sama gue tadi siang, dia bilang dia mau serius sama gue. Setelah tiga tahun, dia mau serius sama gue,” ujar Oscar pelan, tangannya menepis satu bulir air mata yang mengancam turun.
Max hampir tersenyum lebar dan berkata bahwa itu adalah kabar baik, karena Max ingat bahwa Oscar sudah memiliki pacar sejak ia ada di bangku SMA dan ia menyayangi kekasihnya. Kali pertama Max mempelajari bahwa, Oscar, seperti kelompok mayoritas di dunia, memiliki kekasih perempuan, adalah saat Oscar menelpon Camille untuk membantunya memilih warna meja yang harus ia beli di kali pertama mereka bertemu.
Oscar memilih meja berwarna oranye, walau Max mendengar dengan jelas bahwa Camille menyarankan warna putih. Saat ia dan Oscar mengantri di kasir, barulah Max berani untuk bertanya, “Tadi bukannya cewek lo pilih yang putih ya, Oscar?”
Oscar menatapnya, lalu menatap meja pilihan Max yang juga berwarna putih, lalu tersenyum kilas, “Warna putih itu nggak hoki buat orang Cina, Max. Artinya kematian, nggak boleh jadi furnitur rumah.”
Dan Max ingat respon pertamanya adalah tertawa terbahak-bahak karena untuk apa Oscar mengikuti tradisi Cina jika Oscar bukanlah orang Cina. Itu juga yang ia sampaikan kepada Oscar sebelum lelaki itu membungkamnya.
“Gue keturunan Cina, anjir,” balas Oscar, dan Max malu setengah mati karena ia baru saja mengoceh soal kajiannya terhadap budaya kulit putih yang diadaptasi oleh bangsa Asia di depan seseorang yang ternyata keturunan darah Asia. Pelajaran baru untuknya hari ini. “Pokoknya inget, white is for mourning. Apartemen gue bukan buat berduka, makanya gue pilih oren, soalnya warna tim balap favorit gue.”
Max mengangguk. Sekarang pun ia mengangguk, di depan Oscar yang tampak hancur dan tersedu, ia mengangguk, membiarkan Oscar menyelesaikan ucapannya.
“Gue sadar, gue nggak bisa serius sama dia. All this time I have led her to the oblivion,” ucap Oscar lagi, suaranya semakin parau seperti mengeluarkan satu kata sama dengan membakar isi tenggorokannya. “Masalahnya, gue udah sadar dari lama, yet I said nothing.”
Untuk pertama kalinya, ucapan Oscar membuatnya bingung.
Sadar akan apa? Bahwa Camille bukanlah satu-satunya untuknya?
Max bukan pakar mencintai ataupun dicintai. Menurutnya hubungan yang umurnya panjang sudah seharusnya lahir akan kesadaran, bahwa dia adalah orang yang kita pilih untuk menemani hidup, atau dia bukanlah orang yang tepat, atau—
“Lo sadar kalau lo nggak sayang dia?” tanya Max tanpa sadar. Daniel di sebelahnya langsung menginjak kaki Max di bawah meja, dan Max sebisa mungkin menahan mulutnya agar tidak mengerang.
Kini Oscar menatapnya.
Di bawah cahaya remang lampu ruang tamunya, yang kala itu Oscar komentari karena terlalu kuning untuk meja makan, kilap basah di pipinya menyala, air mata di kelopak matanya bersinar.
Satu kedipan, dan satu bulir yang jatuh.
Max mungkin telah salah berbicara.
“Maaf Osc, gue tadi—”
Oscar menggeleng, mata cokelatnya mengunci mata Max yang seperti salah arah, “Engga, Max. Gue sayang sama dia,” balasnya, wajahnya lebih tenang kali ini, “sebagai teman. Ternyata gue sayang sama dia hanya sebatas teman.”
Max menaikkan salah satu alisnya, seharusnya ada sistem filtrasi di mulutnya karena lagi-lagi ia terlalu cepat bertanya, “Kenapa… Kenapa cuma temen, Osc?”
Ada hening yang bertahan cukup lama di ruang itu. Daniel, di sampingnya mendengus pelan, Max merasa seperti orang bodoh karena Daniel hanya diam seakan ia sudah tahu semua hal.
Oke, mungkin Daniel sudah lebih dulu mengenal Oscar, namun Max tidak suka rasa tertinggal seperti ini. Ia juga ingin mengenal Oscar lebih dalam, mengetahui hal kecil di dalamnya, apa yang membuatnya senang dan sedih, mengetahui kenapa ada sekantung coklat saat Oscar menangis, alasan di baliknya—intinya ia ingin mengetahui Oscar seperti Daniel mengenal Oscar.
Karena Daniel sama sekali tidak kaget ketika Oscar menjawab pertanyaannya. Justru detak jantung Max yang menjadi korban, matanya yang dikunci oleh Oscar yang membulat, desir darah di dalam tubuhnya yang mengalir dan mengeras di satu tempat saat Oscar mengakui satu hal.
“I can’t love her more than a friend because I'm not into girls, Max.”
_______________
Malam itu, Daniel dan Oscar menginap di apartemen Max. Ada gunanya ternyata membeli kasur berukuran queen size karena kasur itu dapat mengapit tiga laki-laki dewasa di dalamnya. Ketika dengkuran Daniel mengisi suara kamar, Oscar berbisik pelan,
“Max, lo nggak jijik kan sama gue?”
Max tahu Oscar pasti tidak bisa tidur memikirkan apakah teman barunya ini akan menerimanya apa adanya dan Max ingin sekali menepis semua pikiran tidak masuk akal itu dari otaknya.
Setengah tidur, Max balik berbisik, “Lo masih sama aja, Osc,” mengadah ke langit-langit kamar, mengeratkan jemarinya pada selimut yang menutup badan mereka seperti anak kecil di kala malam. “Masih sama kayak Oscar yang suka meja oren. Nggak ada yang berubah di mata gue.”
Untungnya Oscar tertawa.
Ini bukan kali pertama Max mendengar tawa Oscar. Tapi di malam ini, malam di mana Oscar mengupas lapis inti dalam hidupnya, mempersembahkan dirinya yang baru walau sejatinya adalah dirinya yang sebenarnya, tawa Oscar indah di telinga Max.
“Lo kesempitan nggak?”
Alih-alih membalas, justru itu pertanyaan yang Oscar lontarkan.
Tubuh Max hampir jatuh jika ia bergeser satu senti lagi, setengah badannya ada di atas kasur, setengahnya lagi mengawang tak tersentuh. Tapi kali ini, ia akan berbohong, karena di antara mereka bertiga, bukan Max yang paling memerlukan tidur nyenyak malam hari ini.
“Engga.”
Oscar menyentil bahunya, “Serius?”
“Iya.”
“Okay. Nite, Max."
Max menjadi orang terakhir yang menutup mata di kamar itu. Setidaknya, itu yang ia pahami, karena ia melihat bulu mata Oscar, lentik dan cantik, menghias pipinya yang tidak lagi padam karena tangis.
_______________
Max berumur 21 tahun saat menerima satu kardus paket berisi merk coklat khas Inggris dari Daniel yang sedang menjalankan program student exchange-nya di penghujung dunia.
Sudah genap enam bulan, Max terus dibombardir pesan bahwa cuaca Inggris seperti remaja labil dan betapa rindunya Daniel akan Australia dan seisinya. Max selalu iseng bertanya, sebenarnya lelaki itu rindu Australia atau hanya rindu Max dan Oscar?
Daniel adalah lelaki yang penuh afeksi karena ia siap menjawab dengan tegas, bahwa ia rindu setengah mati kepada kedua sahabatnya kapan pun Max bertanya.
Sudah genap enam bulan juga, Max menghabiskan harinya dengan Oscar, yang jika sudah ia kenal lebih dalam, merupakan orang yang malasnya bukan main kalau sudah berkaitan dengan urusan rumah.
“Piringnya tuh dicuci, Osc, bukan direndem kayak gini doang. Oh my God, you and your lazy ass,” ujar Max ketika melihat dapurnya yang kini diisi oleh piring kotor, dan Oscar yang dengan santai masih berbaring di atas sofa. “Lo kapan balik ke kosan lo sih? Ini apart gue makin sempit semenjak tambah penghuni."
Oscar hanya membalas dengan cengenges imut, “kan ada apart lo. Lo juga harusnya bersyukur punya roommate kayak gue.”
“You are not my roommate. Jelas-jelas lo punya apart sendiri.”
“Oke, kalo lo benci banget sama keberadaan gue di sini, kenapa lo nggak ngusir gue?”
Max ingin menjawab cepat.
Ya, karena!
Karena…
Nggak tau!
“Shut up,” adalah jawaban yang Max pilih, “cepet cuci piring lo sebelum gue balikkin lo ke rumah Ibu lo.”
Oscar lari terbirit-birit dan berhasil mencuci tumpukan piring kotor itu dalam waktu lima menit.
Ketika Max dan Oscar memilih untuk lari sore karena, jujur saja, aktivitas mereka di rumah hanyalah makan-tidur, tidur-makan-FIFA, dan berulang lagi, barulah ia melihat dengan jelas bahwa baju yang Oscar kenakan ketat bukan main.
Max harus fokus melihat jalanan agar tidak terdistraksi.
Keberadaan Oscar di apartemennya secara rutin harusnya menjadi sebuah tanda tanya besar. Dan harusnya lebih besar lagi karena Max menerima tanpa banyak bertanya. Walau Oscar yang menjawab kebingungannya sendiri kala itu, saat ia sudah bermalam di apartemen Max selama dua hari berturut-turut.
“Gue lagi cek-cok sama Ibu gue, karena dia kesel banget gue putusin Camille dan sampe sekarang nggak mau cerita alasannya,” ujar Oscar, mulutnya penuh dengan pasta. Baru seusai menelan, ia melanjutkan, “jadi gue nggak mau balik. Soalnya pasti dia bakal nanya, dan gue nggak mau jawab alasannya.”
Max mengangguk mengerti. Setidaknya satu pertanyaan sudah terjawab, walau masih ada satu yang masih menjadi misteri.
“Terus, apart lo?”
Oscar terkekeh, matanya menatap Max dengan jail, “gue pinjemin ke sepupu gue, Carlos, yang pacaran sama temen gue, Alex. Dia dari Spanyol, terus lagi ke Melbourne dua bulan buat liburan.”
Max menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Intinya lo akan menetap dua bulan di tempat gue karena apart lo dijadiin tempat zinah dan lo nggak mau pulang karena males cek-cok sama emak lo?”
Oscar mengacungkan kedua ibu jarinya, tersenyum lebar seperti seekor beruang kecil yang lucu dan tidak bersalah.
“Pinter!”
Max ingat bahwa ia memberikan Oscar serangkaian sumpah serapah walau hatinya seperti membesar dan mengembang di dalam tubuh, mengingat bahwa pemandangan ini akan menemaninya selama dua bulan ke depan: Oscar yang baru bangun tidur, mengenakan baju rumah miliknya, menyantap makanan dengannya di apartemen yang kali ini terasa lebih hangat dibanding rumahnya sendiri.
Kembali ke masa kini, di mana Oscar meminta Max untuk memperlambat langkahnya karena Oscar harus mengais napas dan duduk sejenak di trotoar jalan, Max sadar bahwa ia dalam masalah besar.
Fakta bahwa Oscar lebih terlihat indah saat dibalut keringat seperti sekarang, dengan wajah yang memerah dan bibir yang terbuka untuk mengatur deru napas, membuatnya sadar satu hal:
Max ingin melihat Oscar dalam semua versi selagi matanya mengizinkan.
_______________
Satu bulan setelah Oscar menjadi penghuni permanen di tempat tinggalnya, Oscar mengajaknya pergi ke pesta salah satu senior mereka di daerah Brighton. Senior kaya raya, rupanya, karena di perjalanan mereka di dalam kereta, Oscar berbisik, “Brighton tuh isinya sultan semua, Max. Nanti pas ngeliat rumahnya, jangan kaget ya.”
Tetap saja, mulut Max terbuka menganga menatap rumah, atau lebih tepatnya mansion, atau kalau boleh lebih lebay lagi, istana milik senior mereka. Besar, megah, dan lebih mewah dari rumah mana pun yang pernah Max lihat di negara asalnya.
“Max, ish,” Oscar menyikut perutnya, dan Max langsung meneteralkan ekspresi kagetnya dalam sepersekian detik.
Ketika Max dan Oscar menelurusi rumah itu, isinya sudah penuh dengan kumpulan manusia yang sebagian besar tidak Max kenal. Setidaknya Max menukar sapa dengan salah satu temannya di kelas Business & Organisation, agar ia tidak merasa seperti orang asing di tempat ini.
“Bella,” ujar Max cukup keras, karena suara musik Hip Hop di rumah ini terlalu besar jika Max hanya memanggil dengan volume biasa. Yang dipanggil langsung tersenyum lebar, memeluk Max dari samping.
“Oi, Max,” balas Bella, wanita itu memakai lipstik merah, cocok dengan tanktop merahnya yang juga ia kenakan. “Tumben banget lo dateng.”
Max terkekeh, “Iya, gue ditarik sama Oscar tadi—eh?” Max menoleh ke samping, hanya untuk mendapatkan Oscar yang sudah menghilang untuk mengambil minuman di ujung ruangan, Max kembali menatap Bella, “Maaf, orangnya pergi. Tapi tadi gue diajak Oscar, katanya party di sini selalu, apa ya, heboh?”
Bella tertawa sembari mengangguk, “Kayak di Ams aja, Max. Banyak barangnya di sini mah.”
Raut wajah Max berubah seketika, mengingat nama kota itu di sebut. Kota asalnya yang sudah ia lupakan semenjak ia menginjakan kaki di negeri kangguru ini. Kota yang ingin ia hapus segala memori baik atau buruknya, dan jika Tuhan mengizinkan, agar ia tidak pernah balik sekali pun ke dalamnya.
Di depannya, Bella tidak berhenti berbicara soal pesta ini dan bagaimana ‘Max akan kembali seperti di rumah’ dengan semua hal yang tersedia di sini. Bella, yang juga berasal dari Belanda, kini mendekatkan bibirnya ke telinga Max, berbisik pelan di tengah gaduh dan bising musik yang beralun di antara mereka.
“Apart gue deket dari sini,” bisiknya sebelum menarik tubuhnya sedikit lebih jauh untuk menatap Max dengan kedua mata birunya. “Just in case you want to have more fun.”
Max, yang tidak tahu intensi wanita ini, apakah ingin tidur bersamanya atau justru menawarkan hal lain yang tersirat dalam kata ‘fun’ hanya dapat bertanya.
“Maksudnya…?”
Ada tangan yang menepuk lehernya, dan Bella kini tertawa hingga tubuhnya condong ke dada Max. Max tidak ingin mendorongnya karena Bella itu humoris dan dia memang selalu hilang keseimbangan saat tertawa. Masalahnya, Max tidak tahu apa yang lucu dari perkataannya.
“You’re a cute man, aren’t you?” ujar Bella setelah tawanya redam, ia menggenggam leher Max lebih erat kali ini. “Pokoknya telefon gue kalo mau seru-seruan. I’ll answer.”
Max ingin kembali bertanya karena takut salah interpretasi atas arti seru dalam kamus Bella, sebelum matanya bertemu dengan Oscar di ujung ruangan, yang sedang menatapnya lekat dan dalam, dan Max buru-buru mengucapkan selamat tinggal kepada Bella.
Jika bicara soal seru, ada keseruan lain yang menunggunya di ujung sana.
_______________
“Having fun?”
Oscar mengangkat alis, menyodorkan satu gelas berwarna merah yang Max yakin berisi alkohol sebelum menepuk sisi sofa di sampingnya agar Max ikut duduk.
“Tadi ada Bella, tau Bella nggak, Osc? Yang satu kelas sama kita di kelas bisnis,” Max meneguk alkohol itu, menatap Oscar yang raut wajahnya tidak bisa Max simpulkan—karena ia tidak tersenyum, tidak tertawa, hanya datar.
Oscar tidak pernah terlihat datar saat bersama Max.
“Tau, kok. Yang dari Belanda juga, 'kan?”
Max mengangguk.
Lalu untuk pertama kalinya setelah mengenal Oscar, udara di antara mereka mengental dan membeku. Canggung adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan bagaimana Max tidak berani menatap Oscar karena Oscar masih memasang ekspresi yang sama seperti sebelumnya.
Jari Max menepuk pahanya sendiri, kakinya tidak berhenti mengetuk lantai, ia tidak menyukai perasaan ini. Ia juga tidak suka nada asing yang Oscar pakai saat ia berkata, “Cantik tuh, Max. Cocok sama lo.”
Max mengerutkan alisnya, menatap Oscar tidak percaya karena seumur-umur Max berteman dengan Oscar, tidak sekalipun Oscar menjodohkannya dengan seseorang. Max, yang sadar bahwa Oscar sedang tidak menyukai sesuatu, kembali ke cara defensifnya ketika ada kondisi yang tidak ia sukai; yaitu mengutarakan lelucon.
“Nggak ah, terlalu mirip sama mantan gue.”
Oscar langsung terkekeh, menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil ke arah Max.
Oke, berhasil.
“Sama-sama cantik, maksudnya?” tanya Oscar, kali ini cara bicaranya lebih tenang, dan wajahnya penuh dengan rasa penasaran.
Untuk waktu yang lama, Max memikirkan cara yang tepat untuk membalas pertanyaan itu. Ingatannya berlabu kepada mantan kekasihnya, mata hijaunya, lesung pipitnya, rona merah di pipinya yang selalu ada bahkan jika tidak sedang terbakar matahari.
Charles dalam kamus mana pun merupakan arti dari kata “cantik” itu tersendiri.
“Yes,” maka itu yang menjadi jawaban Max. “Sama-sama cantik.”
Oscar kini menggeser tubuhnya, memosisikan tubuhnya hingga punggungnya bersender dengan tangan sofa, sedangkan kepalanya sepenuhnya menghadap ke arah Max.
Max merasa seperti sedang diwawancara, dikuliti dengan rasa penasaran dari betapa intensnya Oscar menatap wajahnya.
“Can I see her? Mantan lo.”
Max mengadarkan pandangannya ke seujung ruangan, tidak ada mata yang menatap mereka berdua. Awalnya Max tidak ingin menghiraukan pertanyaan Oscar, bisa saja ia menjawab ‘tidak perlu’, namun netra cokelat Oscar mengunci matanya, alisnya terangkat ke atas, dan Oscar menatapnya seperti ingin memahami Max hidup-hidup.
Sebelum kesadaran kembali masuk ke tubuhnya, Max sudah lebih dulu merogoh ponsel. Mencari kontak Charles dan membuka profile picture-nya dari aplikasi sosial media. Ia mendekap ponsel itu ke dadanya, mengambil napas dalam-dalam, sebelum menunjukan layar itu kepada Oscar.
Ekspresi pertama yang terlintas di wajah Oscar saat melihat foto itu adalah kaget. Ia menatap wajah Charles yang sedang tersenyum lebar di dalam layar, lalu kembali kepada Max yang memperhatikan segala perubahan raut wajah Oscar, dan kembali ke foto itu lagi.
Max menelan ludahnya. Ia melihat Oscar melakukan hal yang sama.
“This is him.”
Suara Oscar pelan, hanya karena wajah Max yang cukup dekat dengan wajahnya yang merupakan sebuah alasan mengapa umpatan dari mulut itu tetap terdengar. Mengalahkan degup jantungnya sendiri dan bising musik di sekitar mereka.
Mata Oscar, bulat, cokelat, dan indah, menatapnya lekat.
“Fucking hell, Max.”
_______________
Tangan Oscar bertengger di pinggangnya ketika menutun Max masuk ke sebuah kamar tak bertuan di rumah itu. Oscar mengunci pintu, mengambil satu lintingan berwarna hijau dari sakunya, dan mengarahkannya ke depan wajah Max.
“Tadi gue dapet ini dari nggak tau siapa, tapi, enak banget,” ujar Oscar, pupilnya sudah membesar, hampir sepenuhnya melahap netra cokelatnya. Max terkekeh, entah mabuk karena alkohol atau mabuk melihat wajah Oscar yang gemas sedekat ini.
Ada selinting kanabis di tangan Oscar. Datang dan terlahir dari negara yang jelas-jelas dikenal atas legalitas kanabisnya, Max hanya tersenyum. “Gue udah nggak ngerokok itu dua tahun, Osc.”
Bibir Oscar mengerucut, kedua tangannya kini bertumpu di atas paha, ia menunduk ke bawah sambil berucap pelan, “Ya udah, kalo nggak mau…”
Max tertawa tebahak-bahak. Siapa sangka Oscar akan seimut ini seusai menghisap si hijau.
“Siapa yang bilang nggak mau?” tanya Max pelan, mengangkat dagu Oscar agar wajah mereka saling bertatapan.
Semenjak Max memberi tahu Oscar tentang Charles, ada yang berubah dari cara mereka menyentuh satu sama lain. Sudah biasa memang, jika tangan Oscar melingkar di pinggang Max. Tidak biasa jika tangan itu diam di sana lebih lama, lebih erat dari biasanya.
Sudah biasa juga jika tangan Max bermain dengan rambut Oscar. Rambut lelaki itu suka kusut di pagi hari, terlebih jika sudah sepanjang sekarang. Namun, seperti ada tombol baru yang dinyalakan, Max kini mengelus ujung rambut itu lebih halus dari biasanya. Tangan Max meraup rahang Oscar yang menggelitik karena baru saja dicukur, membiarkan ibu jarinya meraba ujung rahang itu hingga Oscar mengedikkan lehernya geli.
Max terkekeh. “Mau kok,” ucapnya lagi, masih menatap mata Oscar yang kini mengunci kedua matanya, pupilnya yang membulat bukan main, bibirnya yang sedikit terbuka seakan tidak yakin atas ucapannya sendiri. “Dibakar dulu, mana koreknya?”
Oscar mengambil korek dengan cepat, menjentikkan api ke ujung lintingan, mengepul asapnya beberapa kali sampai benar-benar terbakar. Ia memberikan lintingan itu kepada Max yang menerimanya dengan mudah, sebelum Max menghisap lintingan yang sama, membiarkan asap mengisi tenggorokan dan parunya.
Mata Max terpejam.
Benar-benar sudah lama. Terakhir kali ia memakai kanabis, adalah bersama adiknya, ketika ia membeli satu linting untuk berdua, dan mereka menghabiskannya di taman dekat rumah.
Tertawa seperti anak kecil. Kembali seperti anak kecil.
Saat Max membuka mata, Oscar masih di posisi yang sama. Sama dekatnya, sama hilangnya seperti tubuhnya ada bersama Max namun jiwanya hilang bersamaan dengan asap yang menyatu dengan udara.
Max kembali menyentuh pipinya, entah apa yang ada di dalam lintingan itu, membuat tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya.
“Jadi kangen rumah nggak, abis nyobain ini?” tanya Oscar pelan, Max hanya bisa fokus ke bibirnya yang bergerak setiap ada kata yang terucap.
“Not really, I like what I have here.”
Oscar tersenyum, bibirnya menekuk ke atas, “Serius?”
“Serius,” jawab Max yakin. “Gue cabut dari Belanda karena Ayah gue nggak setuju sama Charles,” kejujuran itu keluar begitu saja tanpa perlu Max saring. Keberadaan Oscar berhasil membuat dirinya lepas sebagaimana seekor burung pertama kali belajar untuk terbang.
Oscar mengangguk, tidak berbicara dan membiarkan Max melanjutkan.
“Ayah nggak setuju sama orientasi gue, Osc. Katanya nggak seharusnya cowok suka sama cowok, itu bukan kodrat manusia yang semestinya,” tatapan Max jatuh ke lantai ruangan, membiarkan dirinya mengambil napas lebih dalam untuk mengeluarkan sesak yang ada di dalam dada. “Gue bilang, ini hidup gue dan cuma gue yang berhak nentuin siapa yang gue sayang. Walau, ya, Ayah juga tahunya telat, pas gue dan Charles udah putus.”
Tangan Max kini turun dari wajah Oscar untuk menggenggam jemarinya. Ia merasakan ibu jari Oscar mengelus punggung tangannya, dan Max mengeratkan genggaman itu sebagai amunisinya untuk kembali berbicara.
“Ayah bilang, kalau mau tinggal di rumahnya, harus sesuai sama aturan Ayah, yang tandanya gue nggak bisa bebas, gue nggak bisa mempertahankan satu-satunya bagian dari diri gue yang nyata, yang asli,” Max menggigit bibirnya kali ini, menahan debaran di dadanya yang melocos keluar. “Semua yang ada di gue itu pahatan ayah, Osc. The only thing that was real is my sexuality, and he wanted to take that away from me.”
Dari mulut Max, ada napas kasar yang keluar bersamaan dengan basuhan halus di hatinya yang menenangkan.
“Jadi, gue pergi dari rumah, kabur ke Aussie, karena dari dulu penasaran gimana rasanya Natalan di musim panas,” ujar Max tanpa tercekat, Oscar ikut terkekeh bersamanya. “But then, I’m grateful for this one decision I made for myself. Because I found what I’m looking for.”
Kali ini, Oscar kembali mendongak. Mata mereka bertemu dan ujung mata itu kembali melunak seraya jemari Oscar mengelus ujung pipinya pelan. Max membiarkan tangan itu bermuara seperti semestinya. Dan Max berharap Oscar paham, bahwa yang ia cari ada di sini bersamanya, memegang wajahnya yang hampir rapuh atas semua kelu dan rahasia pahit yang terujar.
Suara Oscar lembut dan hangat, “How long have you found it?”
Untuk beberapa detik, Max membiarkan keheningan menggantung di udara. Karena kepalanya memutar kala pertama ia sadar bahwa eksistensi Oscar adalah pengabul dari alam semesta dan seisinya bahwa Australia adalah rumah barunya dan ia dapat menempatkan hatinya di rengkuhan mudi asalnya.
Namun memori itu tak kasat mata. Oscar datang di dalam hidupnya dan mencabut rongga napasnya. Oscar merupakan lembar kertas baru dalam kamus hidupnya yang ia catat tanpa harus menghafal, yang ia tulis tanpa harus berpikir. Karena Oscar layaknya seperti sebuah bias cahaya yang rela menebas kilat mana pun, ada kehadirannya menghipnotis semua indra perasa dalam tubuh Max, membuatnya takluk berlutut hanya karena sinarnya.
Mungkin saat Oscar bangun tidur dan membuat sarapan. Mungkin saat Oscar tidak mencuci piring. Mungkin saat Oscar mengisi kulkasnya dengan merk coklat yang Max tidak pernah lihat di negara asalnya. Mungkin tidak ada satu momen pasti, mungkin tidak kasat mata, namun selalu ada jauh sebelum Max sadar bahwa Oscar datang dalam bentuk doa yang ia panjatkan saat menuntut Tuhan agar setidaknya, ada satu hal yang ia miliki karena dan untuk dirinya sendiri.
“Sejak kita pilih warna meja yang beda, Osc,” adalah jawaban yang paling jujur yang pernah Max keluarkan dari bilah bibirnya.
“In every corner of my table, I pray to God for you,” dalam gelap matanya, debar dadanya, Max melanjutkan, “At first I didn’t realize I was praying for you. I thought I was asking for answers, for clarity, for peace? But every time I asked, you were there.”
Wajah Oscar melunak dalam tangannya.
“You are both the quiet and the confusion of my heart.”
Max menanggalkan seluruh isi dalam hatinya sebelum mengaku pelan, hampir seperti kembali berdoa untuk sekian kalinya.
“I think God and the universe somehow conspires when you come to my place. So I can look at you a bit longer, breathe you in, be selfish and have you for myself a little more.”
Jari Max bergerak samar di tulang pipi Oscar, sebelum bibir Oscar menjemput bibirnya. Saat bibir mereka bertemu, Max mengerahkan seluruh isi yang tersisa dalam dirinya, menekan Oscar lebih dekat, mengikis jarak yang ada hingga detak jantung mereka bertemu dalam ritme yang sama.
Max berumur 21 tahun saat ia mencium Oscar untuk pertama kalinya.
_______________
Max berumur 23 tahun saat ia menambahkan gelar B.Comm di ujung namanya.
Banyak kejadian pertama yang ia lewati di angka usia yang berumur jagung ini.
Seperti, pertama kali Oscar benar-benar pindah dari rumahnya dan tinggal bersama Max di apartemennya.
Pertama kali juga tempat tinggalnya diisi oleh berbagai figurin dan dekorasi yang membuat tempat ini benar-benar hidup. Hangat dan ditinggali. Walau Max sering kali mengutuk replika mobil oranye McLaren yang dipajang di samping meja TV, bersebelahan dengan replika Red Bull yang menurut Max seribu kali lebih keren dibanding milik tim favorit kekasihnya.
Pertama kali mengadopsi dua ekor kucing dan satu ekor anjing. Max menyukai kucing dan Oscar menyukai anjing. Nyatanya, sekarang, saat sedang bermalas-malasan di atas kasur, Oscar justru sibuk bermain dengan kubu kucing di rumah ini sedangkan Max yang mengelus bulu anjing mereka dengan halus.
Pertama kali juga Oscar membahas meja putih Max yang lagi-lagi bertabrakan dengan prinsip hidup Oscar.
“Kita kapan ganti meja sih? Nggak boleh loh meja putih kayak gitu,” ujar Oscar siang itu walau di atas meja itu juga ia melahap ramen instan langsung dari pancinya.
Max memutarkan matanya, ini meja kesayangannya dan sesayang apapun ia dengan Oscar, ia tidak mau mengganti meja ini. “Nggak mau. Orang masih bagus gini kok diganti.”
“Kan aku ada meja oren di gudang, hih!”
Kekehan kecil lolos begitu saja dari bibir Max ketika melihat ekspresi Oscar yang mirip sekali dengan kucing mereka saat belum diberi makan. Padahal Oscar sendiri sedang makan dengan lahap, dan ada saus makanan yang bertengger di ujung bibirnya.
“Makan yang bener dulu, sayang. Baru ganti meja,” balas Max yang dihadiahi oleh tinjuan kecil dari kekasihnya. Max harus pura-pura akting sakit karena Oscar benar-benar akan mencubitnya jika ia tidak nurut kali ini.
Max berumur 23 tahun ketika ia sadar bahagia itu ternyata sesimpel berbagi satu bungkus mi instan dengan kekasihnya sambil berargumen soal warna meja yang cocok untuk tempat tinggal mereka.
_______________
“Max, dasimu miring.”
“Benerin dong.”
“Anjir, manja.”
“Sayang.”
“Ish,” Oscar menepuk dada Max hingga Max puas tekekeh dibuatnya, sebelum jemarinya menyusun ulang dasi Max agar rapi dan lurus, seperti dasi yang ia kenakan sekarang. Tangan Oscar menepis debu halus di atas bahu jas yang Max kenakan, meniupnya sedikit, sebelum bibir itu mengecup ujung rahang Max dan tersenyum. “Gantengnya.”
Max ingin tersipu malu karena mau seberapa sering Oscar memujinya, Max akan kembali lunak dan lemah seperti ini adalah kali pertama. Dan di sini, di ruang tunggu hotel bintang lima dengan jas mahal yang membalut tubuh mereka, Max membayangkan betapa indahnya jika suatu hari nanti ia dapat mengkuduskan janji hidup mereka berdua—seperti Daniel yang akan mengucapkan janjinya beberapa jam lagi.
“Kok bengong…” ucap Oscar dengan pipi yang meredam merah, menyadarkan Max bahwa ia belum mengucap satu kata pun seusai Oscar memujinya.
Bagaimana Max tidak bengong, jika lelaki di hadapannya adalah pemandangan yang seakan hanya diciptakan untuk kedua matanya. Bagaimana ia tidak kehabisan kata-kata, jika ia membayangkan suatu hari nanti dialah yang akan menyematkan cincin di jari manis Oscar.
Suatu saat nanti, jika Oscar mengizinkan.
“Gapapa, I just love looking at you,” balas Max, mengecup kening kekasihnya. “I always want to look at you.”
Dan semua yang keluar dari bibir Max adalah kejujuran yang dibungkus seperti doa. Ia tahu Oscar pun tahu, bagaimana pernikahan Daniel hari ini diam-diam menjadi keinginan di antara mereka berdua, sebuah harapan yang ingin mereka bangun bersama. Harapan bahwa mereka juga akan bisa berada di titik ini suatu saat nanti.
Max berumur 24 tahun saat ia menyaksikan Daniel meneteskan air mata ketika kata “I do” keluar dari mulutnya. Max juga berumur dua puluh empat tahun saat Oscar menyapu air di pelupuk matanya sendiri, menepuk tangan Max pelan, lalu berbisik dekat di telinganya—
“Someday, Max. Someday.”
_______________
Max berumur 25 tahun saat mendapat kabar bahwa Ayahnya mengidap penyakit serius yang memaksa Max untuk kembali pulang ke Belanda, setelah lebih dari lima tahun hengkang jauh-jauh dari negara asalnya.
“Kamu nggak mau ditemenin, sayang?” tanya Oscar, wajahnya sama paniknya dengan miliknya sendiri, walau tangannya sedaritadi tidak berhenti membantu Max melipat baju musim dingin mengingat Desember di Belanda berarti ia harus melapisi tubuhnya dengan kain yang lebih tebal.
Sebenci-bencinya Max dengan Ayahnya, Max tidak ingin menyesal apabila ia tidak dapat melihat lelaki tua itu untuk terakhir kalinya. Jika Max harus pulang dan mengurus Ayahnya yang sakit walau untuk beberapa hari saja, Max akan lakukan. Namun jika Max harus membawa Oscar pulang, sama saja memperkenalkannya dengan lingkaran setan dan Oscar berhak mendapat perlakuan yang lebih baik dibanding itu.
“Nanti kalau semuanya udah lebih baik, baru kamu ikut ya, Osc. Aku takut Ayah malah tambah sakit, you know he’s against this,” ujar Max dan ia mendapati Oscar yang mengangguk mengerti.
Di bandara, Oscar memeluknya erat. Max terkekeh kecil melihat wajah kekasihnya yang sedari tadi ditekuk pekat, ia mengecup semua kerutan itu agar pergi menghilang.
“Dua minggu lagi ‘kan aku balik, sayang. Kita nanti ganti meja, deh, mau nggak?”
Oscar terkekeh dibuatnya. “Bener ya, warna oren loh.”
“Iya, warna oren.”
Senyum Oscar mekar dengan sendirinya. Jemarinya menelusuri apa pun yang bisa diraba, Max merasakan jari Oscar berkelana mulai dari helai rambutnya, turun ke dagunya yang baru saja dicukur, lalu berhenti di bibirnya yang Oscar raba sejenak dengan ibu jarinya, sebelum mengecup Max dalam-dalam.
“Pas kamu balik, nanti ketuk tiga kali ya. Supaya aku langsung tau itu kamu, dan aku bisa lari dari kamar buat nyambut kamu pulang,” ucap Oscar memelas, Max mengacak rambutnya gemas hingga Oscar mencubit tangannya kesal.
“Serius, tiga kali.”
Max mengangguk, “iya, tiga kali.”
Hanya ketika nomor penerbangannya diumumkan di bandara adalah saat Max, dengan sangat terpaksa, menjauhkan tubuhnya untuk memberikan satu kecupan singkat.
“I love you, baby,” Max mengutarkan pengakuan yang sudah seperti bahasa kedua dari bibirnya, diusap pipi kekasihnya dengan sayang. “Jangan lupa anak-anak dikasih makan,” ujarnya mengingat Sassy, Jimmy, dan Nino yang tadi pagi masih terlelap saat Max harus pergi ke bandara.
Oscar tersenyum, “they will miss you.”
“I’m gonna miss them too,” balas Max, kali ini tangannya sudah menarik koper lebih dekat, “bakal kangen sama papanya juga.”
Satu kecupan lagi sebelum Max pergi ke ruang tunggu.
“Love you, Maxie.”
Max berumur 25 tahun saat ia sadar, seharusnya ia menoleh lebih lama siang itu, seharusnya ia mendekap Oscar sedikit lebih erat, seharusnya ia tidak pernah pergi.
Karena hal pertama yang menyambut indra penglihatan Max saat membuka pintu rumahnya di Belanda, adalah Ayahnya yang menunggu di ruang tamu, dengan satu botol bir di tangannya, dan satu tatapan yang mengunci mata Max seperti Max adalah seorang anak kecil yang patut dihukum.
“Ayah?”
Tenggorokan Max kering bukan main. Ayahnya di depannya berdiri dengan kuat dan kokoh, berbanding terbalik dengan apa yang Ayahnya ucapkan di dalam teks WhatsApp, yang berkata bahwa ia sudah tidak mampu berdiri, sekadar menggerakan tangan saja tidak mampu rasanya. Karena Ayahnya mengangkat botol bir dengan tegas, membantingnya ke lantai, membiarkan botol itu pecah berkeping-keping, sama seperti hati Max yang hancur sehancur-hancurnya saat lelaki itu bersuara.
Sial, Max berhasil dikelabuhi. Ayahnya tidak pernah benar-benar sakit.
Pertama kali dalam lima tahun, Max mendengar suara itu lagi.
Suara yang ia benci, yang ingin ia kubur dan bunuh di dalam mimpinya.
“Kurang ajar kamu, Max. Ayahnya sendiri harus bohong berlagak mau mati dulu biar kamu sudi pulang, hah?”
Max tidak bisa bergerak, bernapas pun rasanya seperti sedang ditarik malaikat pencabut nyawa.
Di sini, Max sedang hancur lamat-lamat. Sudut matanya sudah buram atas air mata yang mendadak menggenang dengan sendirinya. Ayahnya masih berbicara, berteriak, mengumpat, dan Max ingin mencekik pria tua itu jika diizinkan dan membungkamnya hidup-hidup.
Darahnya berdesir dingin ketika satu-satunya nama lelaki yang ia sayangi di dunia ini disebut.
“Enak banget ya jadi kamu. Hidup di sana, pacaran sama laki-laki, lupa sama keluarga. Anak sialan kamu, Max,” Ayahnya menekan semua kosa-kata yang keluar dari mulut iblisnya, dan Max menahan kepalan tangannya agar tidak melocos terjun ke wajah iblis itu. “Oscar itu nggak baik buat kamu, Max. Kalau kamu berani pulang dan kembali ke laki-laki menjijikan itu, Ayah yang berani sumpah sama kamu. Ayah akan sakitin dia, bagaimana pun caranya, anak itu habis kalau kamu berani dekat lagi.”
Max ingin berteriak, meraung, menangis, apa pun agar bisa kembali ke dekapan kekasihnya, agar bisa melihatnya sekali lagi agar ia dapat mengingat setiap lekuk wajahnya, bagaimana pipinya terangkat saat ia tersenyum, bagaimana tubuhnya bergetar saat ia tertawa.
Namun yang Max rasakan sekarang hanyalah hancur. Ia dapat mendengar hatinya yang remuk dan patah saat seluruh isinya diraup oleh tangan egois Ayahnya. Bentuk hatinya yang tersisa hanyalah bagian dirinya yang masih ada di kota Melbourne, hidupnya tak lagi punya arti dan makna.
Max tidak akan pernah utuh jika separuh jiwanya tidak ada di sini.
Max berumur 25 tahun saat ia pertama kali mati di hidupnya sendiri.
_______________
Max dikurung seperti binatang paling najis di dunia.
Awalnya dimulai dengan ponsel Max yang Ayahnya buang jauh-jauh. Ayahnya menggantikan ponsel yang ia punya dengan ponsel baru, tidak ada kontak yang ia kenal selain teman SMP-nya dulu.
Lalu Max didaftarkan untuk bekerja di perusahaan Ayahnya sendiri, dengan sebuah pesan singkat kepada sekretarisnya bahwa Max tidak boleh sekalipun menjalankan trip bisnis di luar dari domestik Belanda.
Yang paling parah, jika semua hal yang Ayahnya lakukan kepadanya belum cukup kejam, adalah seluruh sosial media, nomor telefon, dan data diri Max yang terdaftar di Australia yang dihapus sepenuhnya tanpa satu jejak pun. Max seperti seorang makhluk tidak kasat mata yang membuat dirinya sendiri pun bertanya apakah ia pernah benar-benar hidup di Australia. Apakah Oscar nyata dan apakah semua cinta yang lebih besar dari hidupnya sendiri itu bukan bayangannya sendiri.
Max telah mencoba banyak cara. Namun nihil, Ayahnya mengurungnya dengan sedemekian rupa hingga Max tidak memiliki celah untuk kabur.
Max berumur 26 tahun saat ia sadar mungkin Oscar sudah membencinya dan melupakannya. Karena manusia mana yang akan memaafkan kekasihnya jika ditinggal pergi selama setahun tanpa ada satu kata pun yang terucap sebagai tanda berpisah.
Walau Max tidak ingin berpisah.
Max berumur 26 tahun saat menyadari rasa cintanya berarti bunuh diri. Dan jika ia harus mati untuk bertemu Oscar sekali lagi, maka lebih baik ia tidak hidup lagi di dalam dunia ini.
_______________
Max kini menjabat sebagai Chief Operating Officer di perusahaan Ayahnya.
Di umurnya yang baru menginjak dua puluh tujuh, pertanyaan orang pasti akan berfokus pada: bagaimana Max bisa berada di posisi setinggi itu?
Jawabannya simpel. Max hanya perlu dikurung selama kurang lebih dua tahun di negara asalnya sendiri, berusaha sekuat mungkin untuk memberikan performa yang baik karena, mungkin saja, jika ia melakukan hal yang sesuai dengan keinginan Ayahnya, maka ia akan mendapat keringanan untuk melihat Oscar walau dari jauh.
Kira-kira di meeting ke limanya hari ini, ia akhirnya bertanya kepada Gwen, sekretaris atau lebih tepatnya, sekuriti yang mengawasi setiap langkah Max pergi.
“Saya meeting sama siapa habis ini, Gwen?”
Perempuan itu membuka tabletnya sejenak sebelum menjawab dengan cepat, “Bapak akan bertemu dengan Bella, account manager dari Finance firm yang akan pitching minggu depan.”
Max mengangguk. Ia meneguk kopi ketiganya hari itu, persetan dengan kesehatan lambungnya. Biarkan lambung itu rusak jika itu akan membuat Max lebih manusia dibanding dirinya sekarang. Sebuah robot yang diatur oleh sistem, tanpa perasaan, tanpa tujuan selain untuk memuaskan isi hati pemiliknya. Tak sadar, waktu sudah menunjukan pukul lima sore dan ada ketukan di ujung pintunya.
“Bella is here, Pak.”
Max mengadahkan wajahnya. Saat pintu itu terbuka, Max tidak percaya atas apa yang ia lihat. Wanita di depannya juga sama kagetnya dengan dirinya.
“Max Verstappen, I thought you were dead!”
Bella yang sama dengan Bella yang berasal dari kelas Business & Organisation, Bella yang sama dengan Bella yang tidak ia telefon malam itu mengingat sudah ada seorang Oscar Piastri di pangkuannya. Bella yang sama kini berdiri di seberangnya dengan wajah yang sumringah, tangannya terbuka dalam pelukan.
Pertama kali setelah waktu menyiksanya hidup-hidup selama dua tahun terakhir, Max membiarkan orang lain memeluknya.
Bella adalah satu-satunya bukti hidup bahwa Australia itu nyata. Bahwa Max tidak gila dan semua tentangnya dan Oscar itu ada.
Juga pertanda bahwa masih ada jalan untuk kembali pulang.
_______________
Keesokan harinya, Max mengajak Bella untuk bertemu sambil sarapan pagi. Sebelum keluar dari rumah, Ayahnya sempat bertanya ia ingin pergi kemana. Max menunjukan foto profil Bella dari ponselnya, “mau ketemu sama dia, Yah. Cantik, asli sini, Max mau kenal lebih deket.”
Ayahnya menepuk pundaknya dengan bangga. Pertama kali senyum tulus tersirat di wajah sialan itu.
Di sebuah restoran di tengah kota, Bella akhirnya datang dengan tampilan yang membuat Max hampir menangis. Satu sweater dengan almamater universitas mereka, senyumannya merekah lebar saat menyapa Max di ujung meja.
“Aussie, aussie, aussie!” ujar Bella antusias.
Max terkekeh, “oi, oi, oi!”
Dengan satu piring salad dan satu mangkuk sup hangat di atas meja mereka, Max tanpa berpikir panjang menceritakan semuanya kepada Bella. Tentang dirinya dan Oscar di Australia, yang Bella balas dengan singkat, “iya, gue tau, makanya lo nggak nelfon gue ya waktu itu, sialan!” Dan Max tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian itu.
Lalu Max menceritakan tentang jebakan yang Ayahnya orkestrakan, kebohongan itu yang telah merenggut dua tahun dari hidupnya. Bagaimana Ayahnya mengurungnya di Amsterdam, bagaimana seluruh pergerakan Max diawasi dengan ketat, bagaimana satu-satunya alasan tidak ada manusia yang mengintilinya sekarang hanyalah karena Max pergi dengan seorang perempuan.
Max sadar ia menitikkan air mata. Yang ia tidak sadari dari awal adalah Bella juga ikut menangis mendengar ceritanya.
Max tidak suka dikasihani, namun tangan Bella yang mengelus pundaknya, dan tubuh Bella yang menarik kursi lebih dekat untuk memeluk Max dari samping adalah bentuk kasihan pertama yang ia terima dalam hidupnya. Untuk sekali ini saja, Max rela terlihat rapuh dan lemah.
“Gue bahkan belum sempet pamit sama Oscar, Bel. Mungkin dia udah benci gue, atau udah ketemu orang lain, gue nggak tau. Semuanya bener-bener diblokir. Yang paling bikin gue sedih, gue nggak tau Oscar masih hidup atau engga. Fuck.”
Bella mengangguk, menepis air matanya sendiri sebelum menggenggam kedua tangan Max dengan erat dan pasti.
“Max, lo dengerin gue baik-baik,” ucap Bella, memaksa mata Max untuk bertemu dengan mata birunya. “Flight dari Aussie ke sini berapa lama?”
“Anjing, yang bener aja, Bels. Mana gue tau. Gue udah lama nggak pulang kampung,” Max terkekeh, mengambil tisu untuk mengelap wajahnya yang merahnya tidak karuan ini.
“Serius, Max. Ini penting buat lo,” ujar Bella lebih tegas.
Max mencoba menghitung di dalam otaknya, pelan-pelan mengais kembali memori dua tahun lalu saat ia terbang meninggalkan Oscar untuk pergi ke Amsterdam.
“Nggak ada direct flight, seinget gue. Gue transit dulu di Singapur. Around satu hari lebih, Bel.”
Bella menjentikkan jarinya, kedua tangannya menepuk bahu Max antusias, “Oke, serahin sama gue ya, Max. Gue ada kamar di Intercontinental sampai Senin depan. Sekarang masih Jumat, kita ada waktu. Pokoknya, Minggu siang lo dateng ke kamar gue, dan lo tinggal nunggu aja di situ.”
Napas Max patah-patah oleh ketakutannya sendiri, ia mencengkram ujung bajunya lebih erat.
“Percaya sama gue,” ucap Bella sekali lagi. “You and Oscar deserve this more than anything.”
Max berumur 27 tahun saat ia mempercayai ucapan gila dari perempuan yang hampir bermalam dengannya.
Dan Max berumur 27 tahun saat akhirnya ada secercah harapan yang kembali masuk ke dalam hidupnya.
_______________
Di dalam kamar hotel, Max tidak berhenti bergerak ke sana dan kemari.
Seluruh tubuhnya bergetar, detak jantungnya tidak stabil bahkan untuk dirinya sendiri, deru napasnya menghalang seluruh pikiran yang masuk akal ke dalam kepalanya.
Ia berlutut di samping kasur, membiarkan jemari tangannya bertaut, tanpa sadar membisikan doa kepada Tuhan pertama kalinya selama dua tahun terakhir. Kali ini ia berdoa, agar apapun yang terjadi, semoga Tuhan merekam seluruh memori dalam otaknya agar Oscar selalu hidup dan nyata di dalam sana. Waktu telah membinakasanan terlalu banyak hal, biarkan Oscar menjadi satu-satunya artefak dari hidupnya di Australia yang menetap abadi.
Jangan ada yang menganggunya atau membuatnya hilang. Jangan ada yang berani merenggut memori Oscar jauh dari benaknya karena semua yang Max cintai telah dirampok secara paksa oleh iblis yang masih hidup menghantuinya.
Terkadang Oscar datang di dalam mimpinya. Walau bentuknya tidak ada, ia hanya menyublim seperti cercahan cahaya dan Max tahu bahwa Oscar ada di dalamnya, itu adalah rupa Oscar yang sejatinya terang dan cerah, bersinar seperti semestinya. Kadang Oscar berperan di hidupnya dari cara Max memilih perabotan rumah, tidak ada warna putih di kamarnya, banyak poster tim favorit kekasihnya yang tadinya ia benci, yang kini dipajang dengan bangga di dalam kamar tidurnya.
Kadang, Max bertanya pada dirinya sendiri, jika Oscar hadir di ujung pintu, sepasang mata itu kembali datang menatapnya, dan jemari itu meraba wajahnya pelan, merasakan bahwa mereka nyata dan mereka hidup, mereka sempat hidup berbekal cinta yang terpampang nyata bahkan hanya dari sudut bibir yang selalu mekar dan mengembang saat mereka bersama—apa yang akan Max lakukan?
Dihadiahi Oscar untuk kedua kalinya. Diberikan jawaban kembali atas hidupnya. Mengangkatnya kembali dari peti mati yang adalah dirinya sendiri selama dua tahun terakhir.
Hening yang cukup lama mengisi setiap sudut ruangan itu. Sebelum Tuhan datang mempersembahkan hadiah terindahnya. Sebelum Tuhan, sekali lagi, berkonspirasi dengan alam semesta, untuk membawa jawaban itu kembali ke hadapannya.
Tok, tok, tok.
Tiga ketukan yang bersuara.
Dua jantung yang berdetak.
Satu insan yang ia tunggu.
Apa yang akan Max lakukan?
Max akan jatuh berlutut, berterima kasih atas tanah yang ia pijak, memeluk raga itu dekat-dekat, membiarkan sinar hidupnya merengkuhnya lekat.
Max berumur 27 tahun saat ia menemukan alasan untuk hidup kembali, bangkit sekali lagi, dan mencintai lebih dalam lagi.
”Maxie?”
