Actions

Work Header

Kesalahpahaman

Summary:

kesalahpahaman antara Sun dan kedua anak mereka

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Beer menoleh menatap Sun yang berkacak pinggang dengan sapu di tangan, menatap marah pada kedua anak kecil dibelakang punggungnya dan Lens, “kenapa ini sayang?” Lens bersuara pertama kali setelah cukup lama ketiganya bertatapan.

 

“Ituloh mas! Anakmu! Aku ditelpon ama guru tknya gegara mereka jail, ampe nangis itu anak orang!” Beer dan Lens bertatapan layaknya sedang berbicara melalui telepati.

 

“Ngapain kalian tatap-tatapan gitu?! Hah!”

 

Lens maju, mencoba menenangkan Sun yang masih mengayunkan sapu layaknya tongkat ajaib di anime elf satu itu, ia sudah bersiap jika dilempari sapu oleh Sun yang memang terlihat sudah ancang ancang ingin melemparkan sapu itu.

 

Beer di belakang Lens hanya bisa diam seraya menjadi pelindung Storm yang sesenggukan dan Note yang menatapnya dengan wajah yang tersenyum layaknya ia tak bersalah disini.

 

“Kalian ngapain toh? Sampai Amimi marah segininya, biasanya kalo kalian jahil kan Amimi cuma marah sebentar” Note maju berniat menjelaskan.

 

“Tadi tuh aku sama Storm lagi main kan di tk, lagi jam istirahat itu jadi kita main di taman kan, tiba tiba ada anak kecil nggak tau kelas berapa tiba tiba jambak Storm, ya aku nggak terima lah” Beer menghela nafas.

 

Ia bingung ingin bagaimana, “terus gimana?” Note tersenyum “aku jambak balik lah terus aku pukul” ucapnya seraya membusungkan dada bangga. “Apipi tau, tapi kenapa nggak manggil guru dulu? Kan kalau kayak gini, Amimi jadi percaya guru kan?”

 

“Ih orang gurunya liatin kita doang, Storm udah nangis ya masa aku nggak belain” ucap Note semakin berbisik ketika menyadari ia mengucapkan sesuatu yang tak harusnya ia ucapkan.

 

Lens disisi lain sudah berhasil menenangkan Sun dan untungnya tidak ada tragedi sapu melayang kali ini, “untung gak ada tragedi sapu terbang lagi, itu patahan sapu udah numpuk di gudang.” 

 

batin Lens sudah menangis membayangkan ada lagi sapu rusak yang bertambah di gudang mereka.”kenapa emangnya si dedek? Nakal kenapa?” tanya Lens perlahan.

 

“Aku tadi lagi nyapu kan tiba tiba ada telpon masuk, ku jawab lah ternyata itu  gurunya Storm sana Note nelpon katanya mereka jail sama anak orang auk dah punya siapa itu, terus nangis tuh bocahnya ya marah lah aku.”

Lens menghela nafas, “kamu udah nanya ke anak anak belum? Kenapa mereka kayak gitu, biasanya kan jarang mereka bikin nangis temennya walau jail sih” Sun menggeleng.

 

“Yaudah coba tanya dulu mereka kenapa mereka jail sampai bikin temannya nangis” Sun menghela nafas, ia bangkit mendekati Beer yang masih sibuk menenangkan anak mereka.

 

“Storm. Note sini, jelasin ke Amimi kenapa kalian bikin nangis temennya” Note maju lebih dulu, sedangkan Storm masih sesenggukan memeluk Beer yang berupaya menenangkannya.

 

“Jadi gini Amimi, Storm itu dijambak sama dia makanya aku balas dan guru guru gak ada yang peduli makanya aku yang balas jambak dia, eh ternyata malah kita yang dilaporin karena dia ngadu kita jailin dia.”

 

Sun terdiam, jadi daritadi ia salah? Ternyata yang dilakukan keduanya adalah perlindungan diri, Sun kecewa dengan dirinya sendiri, ternyata ia malah membela anak orang bukannya anaknya sendiri.

 

“Storm sayang, sini nak” ucapnya seraya membuka tangan, Storm mendekat setelah Beer memberi anggukan bahwa Sun sudah tidak marah. “Jadi tadi Adek lindungin kakak yah?” Storm Mengganguk.

 

Tubuh kedua anaknya ia peluk, “maafin Amimi ya udah marahin kalian tapi gak dengerin penjelasan kalian, Amimi minta maaf” Storm dan Note balas memeluk Sun. Beer dan Lens tau akan seberapa lelahnya Sun jadi mereka tak bisa menyalahkan juga namun akhirnya masalah ini selesai dengan tentram.

 

Sun menggendong tubuh Storm dan Note yang sudah tertidur di pelukannya, lelah menangis dan kelelahan langsung menghantam keduanya. Lens bantu menggendong Storm untuk dibawa ke kamarnya dan Note pun dibawa Beer.

 

Sun menghela nafas lelah, ia mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah, helaan nafas lelah terdengar darinya. Lens dan Beer kembali ke dekatnya, wajahnya ia tutupi, rasa malu menggerogoti ketika ia menyadari kesalahannya.

 

“Kenapa Sayang?” Sun menolak menjawab, tangisan secara perlahan mengisi rumah yang sudah sunyi, Beer dengan cekatan mengambilkan air untuk diberikan pada Sun yang sedang ditenangkan oleh Lens.

 

“Kenapa sayang? Anak anak juga nggak kenapa kenapa kan?”

 

Sun menggeleng “aku tau mereka gak kenapa napa… tapi aku benci diriku sendiri yang gak percaya sama anakku sendiri” isaknya di pundak Lens, Lens memeluk erat Sun yang masih terisak, mengangkat tubuh Sun agar duduk dipangkuannya.

 

Tentunya break point Sun ada di saat ini, rasa lelah dari pekerjaannya dan mengasuh Storm juga Note pasti melelahkan mengingat ia dan Beer yang bekerja hingga tak selalu bisa dirumah.

 

“Maaf sayang kita nggak selalu ada disampingmu” Beer datang dengan segelas teh herbal hangat, “minum dulu sayang” ucapnya seraya memberikan gelas itu ke Sun.

 

Sun menerimanya, ia meminum tehnya pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Pelukan Lens di pinggangnya membuatnya tenang, dan kecupan Beer di pipinya pun berhasil membuatnya tenang sepenuhnya.

 

Beer ikut sesi peluk pelukan di sofa besar itu, dan akhirnya Beer dan Lens sibuk memberi afeksi pada Sun yang lelah, keduanya terus memberi kasih pada Sun menciumnya, mengucapkan kata kata penenang, seraya menyayanginya.

 

Keduanya menanamkan pemikiran untuk setidaknya memberikan dua atau tiga hari jadwal bebas Sun untuk beristirahat atau melakukan apapun yang diinginkan olehnya sedangkan Storm dan Note akan mereka asuh mereka gagal karena dua curut itu gak bisa gak nempel sama Sun









Notes:

kalo maw baca auku yang lain ada di @LacotbaCintaTil ya ges, kalo maw muts bilang aja yh asal gak homophobic