Actions

Work Header

Gara-gara lengan berurat milik Seonghyeon

Summary:

Setelah lelah bekerja seharusnya semua istirahat dengan tenang, bukan malah jadi bekerja lagi sampai pagi.

Martin harusnya tahan diri, Seonghyeon harusnya cukup berhenti menjadi menarik, dan Keonho cukup abaikan semuanya dan lanjut tidur saja.

Tapi... gapapa, ketiganya menyukai hal ini.

Notes:

Halooo karena menggila dengan konten hari ini jadi. ini dia! Semoga suka!

jangan lupa tinggalkan kudos dan komentar kalian ya

Chapter Text

“Baik, CORTIS, terima kasih atas kerja kerasnya.”

 

“Terima kasih semuanya.”

 

Martin, Seonghyeon, James, Juhoon, Keonho membungkuk untuk memberi salam perpisahan kepada para staff yang sudah membantu mereka hari ini. 

 

“Bola kalian lucu-lucu banget,” kata manager mereka sambil terkekeh pelan. Juhoon dan James menimpali dengan tawa bersama manager, Keonho dan Seonghyeon saling tukar pendapat tentang konten hari ini yang cukup menyenangkan, sedangkan sang leader—Martin, hanya bisa terdiam sambil menatap punggung Seonghyeon. 

 

Jaket yang Seonghyeon pakai hari ini telah ia pakai, menggantikan coat hitamnya yang tak sengaja terkena lem tembak dan glitter, membuat pakaiannya kotor, dan Martin tidak menyukai hal itu. 

 

Seonghyeon selama syuting konten tadi pun tidak memakai jaketnya, gerah katanya, dan Martin mengakui itu. 

 

Bukan, bukan gerah karena cuacanya, namun, gerah karena penampilan yang lebih muda. Kaos hitam polos, celana jeans belel, dan rambut yang sedikit lepek. 

 

Selama syuting tadi pun Martin tidak bisa fokus dengan bola buatannya, fokusnya hanya dengan tangan berurat Seonghyeon yang sangat menggoda. Bayangkan jika lengan kekar itu ia gunakan untuk menggesek memeknya, jari tebal itu digunakan untuk memanjakan lubang sanggamanya, menampar pantat

 

Hyung, kenapa?”

 

Martin menatap Seonghyeon yang melihatnya dengan mimik khawatir. Tanpa sadar, Martin merapatkan kakinya ketika merasakan sebuah aliran basah yang ia rasakan di bunga mawarnya. 

 

Martin basah hanya membayangkan tangan Seonghyeon.

 

Seonghyeon yang sudah kenal dengan gelagat Martin seperti ini, tiba-tiba saja menghilangkan rasa khawatirnya, digantikan dengan seringaian nakal dan alis terangkat.

 

“Ngebayangin aku ngapain kamu, Hyung?”

 

Martin memutuskan kontak mata, melihat kearah jendela mobil, melihat apapun selain sosok Seonghyeon di sampingnya.

 

Akhirnya mereka sampai di kediaman hangat mereka dengan aman. Manager langsung pamit masuk ke dalam kamarnya, James yang membutuhkan camilan langsung lari ke dapur, Juhoon mengikuti James ketika ia selesai mengganti pakaian, Keonho masih sibuk dengan sepatunya, Martin dan Seonghyeon sudah duduk santai di Sofa, diam tanpa obrolan. 

 

“Ke kamar, hyung.”

 

Seonghyeon memerintah Martin dengan suara seraknya, yang tentu langsung Martin laksanakan. James dan Juhoon sudah berada di kamar, mengunci kamar mereka, Keonho baru selesai mandi dan Seonghyeon langsung memanggil yang lebih muda. 

 

“Jadi, mau apa ga?”

 

“Ribet deh lu berdua. Gua ga mau tidur di sini, mau di kamar. Capek banget, sial.”

 

Seonghyeon mengusak rambut Keonho yang basah, lalu mengecup pipinya. 

 

“Tidur aja di kamar kalo gitu, gua ga bakal terlalu berisik.”

 

Dan di sinilah mereka bertiga. Keonho sudah mengatur napasnya, tertidur tenang, Martin duduk di tepi kasurnya, menatap Seonghyeon yang sedang mengeluarkan barang-barangnya dari tas. 

 

“Mau liatin sampai kapan?”

 

“Hah?”

 

“Tadi aku tanya aja, hyung belum jawab.”

 

Martin menundukkan kepalanya, malu sampai wajahnya memerah. 

 

“Aku… ngebayangin tangan kamu.”

 

Seonghyeon menatap yang lebih tua dengan senyum, lalu mengangkat tangannya, mengisyaratkan Martin agar mendekatinya. “Ngapain dibayangin kalo kamu bisa dapetin, sayang.”

 

Martin langsung berdiri ketika mendengar kalimat itu, menerjang Seonghyeon dengan ciuman nafsu yang memabukkan. Seonghyeon membenarkan posisi duduknya, menarik Martin agar duduk dipangkuannya. 

 

Martin tipe yang akan dengan langsung menggerakkan pinggul ketika sampai dipangkuan Seonghyeon, apalagi dengan jemari Seonghyeon yang mencengkram pinggangnya, hangat, lembut, membuat Martin menggila. 

 

Ciuman itu berhenti, Seonghyeon menatap Martin dengan pandangan memuja, Martin menatap Seonghyeon dengan nafsu yang membuncah. Mulai Seonghyeon elus pinggang Martin, sontak Martin gerakan pinggulnya maju-mundur. Bibirnya terbuka, kedua tangannya ia kalungkan di pundak Seonghyeon, kepalanya menengadah karena sudah nikmat dengan gesekannya sendiri.

 

“Seonghyeon—Hyeon-ah!” 

 

Mendengar itu Seonghyeon langsung meraba vagina Martin yang sudah basah. Celana pendek berwarna coklatnya sudah agak menggelap. Seonghyeon awalnya hanya meraba sedikit, kemudian menekannya sampai Martin terjengit, klitotis yang lebih tua juga ia cubit dari luar celana pendek itu, ia gesek dengan gerakan memutar sampai gesekan yang tak beraturan. 

 

Kurang puas dengan gesekannya, Seonghyeon memindahkan Martin untuk telentang di kasurnya. Kaki jenjang Martin ia buka lebar-lebar. 

 

“Jangan coba-coba buat gerak ya, hyung.” Perintah Seonghyeon yang dijawab anggukan oleh Martin. 

 

Puas dengan bermain di luar, Seonghyeon mulai menanggalkan celana pendek dan celana dalam renda warna hitam milik Martin. 

 

Wangi khas dari Martin membuat Seonghyeon menjilat bibirnya, harum semerbak, basah, licin. Seonghyeon harus membersihkannya lebih dulu, baru melanjutkan gesekan yang Martin gemari. 

 

Seonghyeon menunduk, menghirup bunga mawar Martin yang sudah memerah, menjilat dengan nakal dari klitotis sampai lubang anal yang lebih tua. Martin ingin menjerit ketika Seonghyeon menyedot habis cairannya mengeluarkan suara yang cukup seksi. 

 

mmhhh.” Seonghyeon bermain lama dengan si becek itu, menusuk lubang sanggama Martin dengan lidahnya, menggesek klitotis Martin dengan hidung bangirnya. 

 

Lonte, lonte, jangan ngocor mulu dong, kapan bisa lu gesek tangan gua?”

 

Martin mengigit punggung tangannya, menekan nafsunya agar vagina nya berhenti banjir. Usaha yang cukup sia-sia. 

 

Akhirnya Seonghyeon menjauhkan wajahnya dari Vagina Martin yang sudah memerah, benar-benar mirip dengan kelopak bunga mawar, sangat cantik. 

 

“Yang bener geseknya.”

 

Martin mengangguk, lalu sedikit bergeser ke depan agar vaginanya bisa menggapai Lengan polos yang berurat milik Seonghyeon yang duduk di tepi kasur. 

 

Awalnya gesekannya pelan, sampai di gesekan yang membuat napas keduanya memburu, Martin mempercepat, deritan kasur sampai terdengar, membuat suara erangan manusia lain terdengar. 

 

Bukannya berhenti, Martin malah makin mempercepat, berisik, berantakan. Seonghyeon menatap Keonho yang sudah terduduk dengan rambut acak-acakan. 

 

Ahh—ngh—Keon—Keonho.” Martin menatap Keonho yang sudah berdiri dari kasurnya, menatap Martin dengan wajah kantuknya. Seonghyeon tetap diam, menatap Martin yang sudah membanjiri tangannya, menatap Keonho yang sudah setengah telanjang dan menaiki kasurnya. 

 

Keonho merayap ke atas badan Martin, tengkurap dengan arah berlawanan. Wajahnya menatap kemaluan Martin dan Martin menatap kemaluannya yang memerah dan basah. 

 

“Jilat dulu tangan gua, Keonho-ya!”

 

Keonho menjilat tangan Seonghyeon yang berlendir karena Martin. Martin juga mulai menjilati dirinya, menusuk lubang vaginanya juga dengan jari lentik dan panjangnya. 

 

Lengan Seonghyeon sudah bersih, ia bangkit dari duduknya, lalu berdiri, membuka kamera di ponselnya dan langsung merekam ketika Keonho mulai menjilat tempik Martin. 

 

Seonghyeon juga merekam Martin yang menjilat Keonho dengan nafsu, suara becek memenuhi kamar ketiganya, suara napas berat, suara-suara lain yang mereka coba tahan agar tidak terlalu berlebihan. 

 

Selama mengamati permainan Keonho dan Martin, Seonghyeon juga bermain dengan dirinya, hanya memijat sang adik dari luar celana training abu-abunya. 

 

Martin dan Keonho itu mempunyai sesuatu yang sangat berbeda namun cukup memuaskan Seonghyeon. 

 

Vagina Martin sangat lembut dan pas ketika digigit, lubangnya juga masih terasa sempit walaupun sudah berkali-kali dipakai oleh Seonghyeon, warnanya juga gampang memerah walau hanya di gesek sekali. 

 

Kalau, Keonho, Vaginanya cenderung tebal, padat, dan sedikit bulu-bulu tipis di pubisnya, lubangnya sempit juga, namun tak sesempit Martin, karena sejatinya Keonho saat latihan pun suka curi-curi waktu untuk memanjakan tempiknya. Dengan Mic genggam, dengan tiga pulpen, dengan ujung botol air mineral equil yang selalu ia beli.

 

Ahhh—Martin hyungnghhh…yes yes come on.

 

Seonghyeon melihat Keonho menjulurkan lidahnya merasakan Martin yang menyemburkan squirt hangat, ia telan sampai habis. Tak lama Martin yang membuka mulutnya suka rela, menelan habis milik Keonho di mulutnya. Keduanya ambruk. Lelah. 

 

“Siapa yang mau dipake duluan?”

 

Keonho dan Martin menengok ke arah Seonghyeon. Ciuman keduanya berlanjut kembali sambil menggesek satu sama lain, lalu berpisah. 

 

“Kenapa ga kamu yang tiduran aja, Hyeon. Biar aku bisa di kontolin kamu, Keonho bisa kamu isep memeknya.”

 

Seonghyeon terkekeh lalu menyetujui ide tersebut. 

 

Ketiganya sudah telanjang bulat. Seonghyeon membantu Keonho untuk duduk di wajahnya, Martin dengan mandiri memasukkan pelan-pelan penis Seonghyeon kedalam vaginanya. 

 

Setelah masuk dengan sempurna, Martin mulai menggerakkan tubuhnya naik-turun, maju-mundur, sampai menumbruk titik manisnya.

 

“Seonghyeon… enakkkbgt nghh nggh, mau di kontolin sampai pagi, sampai pingsan.”

 

Keonho yang mendengar itu makin membenamkan diri di wajah Seonghyeon, Seonghyeon yang hampir overstimulate meremas bokong Keonho, kencang. 

 

“Seonghyeonie… aku.. aku mau pipis.”

 

Keonho datang untuk kedua kalinya dan Martin menggila sampai gerakannya tidak beraturan. 

 

“Gua kontolin lu berdua sampe pagi, sialan.”

 

Series this work belongs to: