Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-28
Words:
4,551
Chapters:
1/1
Comments:
37
Kudos:
467
Bookmarks:
32
Hits:
6,122

You're Making it Hard for Me

Summary:

Bagi Ryul, Ohyul adalah sahabat, konstan, dan satu-satunya variabel yang tidak pernah ia masukkan ke dalam persamaan asmaranya.
Sampai satu malam di kursi belakang mobil mengubah segalanya. Karena di antara deru AC dan kaca mobil yang gelap, Ryul baru menyadari bahwa label "straight" hanyalah kata yang tidak berarti ketika kulit Ohyul menjadi satu-satunya hal yang ingin ia petakan.

Notes:

heavily inspired by this tweet

P.S. read this with ‘Mirrors’ by Justin Timberlake on.

find me on twt @warmsunbath <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ohyul itu ganteng. 
Pun, cantik — kalau Ryul boleh jujur dari lubuk hati terdalam.

Itulah kesan pertamanya saat melihat paras Ohyul untuk pertama kali. Dan anehnya, kesan itu tak pernah benar-benar berubah, bahkan setelah bertahun-tahun mengenalnya.

Kalau Ryul boleh jujur (lagi), Ohyul justru terlihat beratus kali lebih menawan sekarang. Menawan. Kata itu yang ia pilih karena sesungguhnya, Ohyul hanya terlihat cantik di matanya. Dan Ryul enggan mengakui hal itu.

Lelaki tidak seharusnya cantik. Lelaki seharusnya ganteng.
Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan orang-orang di sekitarnya sejak dulu.

Maka itulah yang selalu Ryul katakan bila sang sahabat sudah mengudarakan pertanyaan yang sama setiap hari. 

“Gue hari ini cakep gak?” begitu bunyinya. Lengkap dengan bibir tebal milik si dia yang sengaja dimajukan. Dan jemari lentik membentuk tanda V di dekat wajahnya. Centil.

Ryul biasanya akan mengangguk. Tanpa bisa menatap kembali netra hitam legam itu, ia bersuara kecil. “Ganteng, Yul.”

Sama seperti sekarang.

Bibir tebal itu semakin dicebikkan. Tanda Ohyul tidak puas dengan jawaban Ryul.

Ohyul menoleh lagi, tangannya bergerak menghidupkan lampu di dalam mobil. “Lihat deh, gue hari ini pakai blush gitu. Kelihatan gak?” Wajahnya ia majukan beberapa senti.

Cantik.

Apalagi dengan pantulan lampu remang mobil yang memperjelas kontur hangat wajah menawan — coret — cantiknya. Hidung bangirnya. Bulu matanya panjang dan lentik. Bibir tebalnya berwarna merah muda. Dengan pipi gembil yang sekarang ia tunjuk-tunjuk itu berwarna senada dengan bibirnya.

Cantik banget.

Tapi, terkutuklah nyalinya Ryul yang hanya sebesar biji kedelai itu karena (lagi-lagi) yang bisa ia lakukan hanya menganggukkan kepala. “Kelihatan, Yul,” katanya terlampau pelan.

Ohyul mendengus tidak suka. “Ah, males gue ngomong sama lu kayak ngomong sama NPC.”

Ia mengambil ponselnya, mengalihkan atensinya sepenuhnya ke benda pipih itu.

Sementara yang Ryul bisa lakukan hanyalah mengatur degup jantungnya sendiri. Ia memainkan tali sabuk pengaman di sampingnya gusar. 

Arloji besinya menunjukkan pukul 23.54

Tetapi Ohyul nampaknya belum ada niatan untuk turun dari mobil dan pulang dan menaiki lift dan beristirahat ke unitnya dalam waktu dekat. Padahal, kalau ini adalah Woojin, Ryul tidak butuh waktu barang semenit untuk cepat-cepat mengusirnya pulang karena sesungguhnya ia juga lelah dan butuh tidur. Tetapi, entah kenapa, kalau berhadapan dengan Ohyul, keseluruhan Ryul jadi sulit. 

Ohyul is always making it hard for him.

Dan keadaan saat ini sama sekali tidak membantunya.

Parkiran basement itu sepi. 

Tidak jauh berbeda dengan keadaan di mobil Ryul. Hanya terdengar pelan alunan musik dari ponsel Ohyul yang bluetoothnya masih tersambung. 

“Eh,” Ohyul tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Gerakan sederhana itu membuat kain celana pendeknya sedikit terangkat, tanpa sengaja menyingkap lebih banyak kulit putihnya. Sialan, kenapa Ryul jadi fokus ke situ, sih.

“Ini lu kemarin jalan sama si Alana, ya?” 

Ohyul menyodorkan ponselnya. Di layar, sebuah instastory terpampang — foto dua tangan yang saling bertaut, diambil dengan sudut yang intim. 

Gelengan kepala Ryul berikan sebagai jawaban.

“Loh, gimana sih? Bukannya kata lu kemarin kalian pas ketemu lancar-lancar aja ya? Kok ini cewek tiba-tiba udah sama cowok baru aja dah?”

Alana itu kenalan Ohyul. Dengan penuh semangat, lelaki itu yang menjodohkan mereka. Dan benar — kencan itu berjalan cukup baik. Mereka bahkan sempat bertukar pesan setelahnya. Meski, kebanyakan pesan itu berhenti di Alana sih, tapi yang itu kayaknya Ohyul gak perlu tahu.

“Kayaknya dia lebih cocok jadi temen gua aja, Yul,” jawab Ryul sekenanya.

“Dih, kenapa gitu, anjir? Kurang cantik apa itu orang, sih, Ryul?”

Kini Ohyul sudah memutar tubuh sepenuhnya menghadapnya. Dan sialnya, posisi itu hanya membuat celana pendeknya semakin naik, memperlihatkan lebih banyak kulit yang tak seharusnya Ryul perhatikan.

Ryul masih ingat betul bagaimana Ohyul dulu memuji Alana setinggi langit. Cantik mampus, katanya. Bahkan perempuan itu pernah masuk akun tiktok <kampus> cantik yang likesnya sampai satu juta lebih. 
Kalau boleh jujur, Ryul tidak pernah benar-benar peduli.

“Cantik, kok.”

Tapi jauh cantikan elu.

“Tapi jauh cantikan elu.”

Kim-Goblok-Ryul.

Bisa-bisanya mulutnya mengkhianati pikirannya begitu saja.

“Hah?”

Ohyul berkedip. Sekali. Dua kali. Dahinya mengkerut. Mirip hirono.

Ryul berharap semesta bisa berbaik hati dan menelan kalimat barusan kembali ke tenggorokannya. Atau lebih ekstrem lagi yaitu membuat Ohyul lupa ingatan akan lima menit lalu.

“Eh — ” tenggorokannya mendadak kering.
“Maksud gua…”

Ohyul masih menatapnya. Netra bulat dan hitam itu entah kenapa terlihat lebih besar dari biasanya, seperti menuntut jawaban dari mulutnya. 

“Jadi, hari ini gue cantik nih, Ryul? Atau ganteng?” Ohyul terkekeh. Tawanya begitu meledek. 

Seharusnya Ryul rasakan setidaknya secuil rasa kesal, karena jelas-jelas Ohyul sedang mengejeknya sekarang. Tapi sialnya, otaknya seperti selalu punya agenda sendiri jika menyangkut lelaki itu. Fokusnya malah menyadari betapa ternyata Ohyul masih bisa terlihat lebih cantik ketika ia tertawa. Matanya menyipit tipis. Mulutnya yang terbuka menampilkan barisan gigi putih yang rapi.

Maka, seperti sudah tersetel di otaknya, Ryul mengangguk. Just like he always did.

“Cantik. Cantik banget, Yul. Selalu cantik, nggak hari ini aja. Kemarin juga. Kemarin lusa juga. Dua bulan lalu yang lu baru potong poni kependekan juga masih cantik. Bahkan, dari pertama kali gua lihat lu juga udah cantik, Yul. Gua tebak, besok kayaknya akan lebih cantik lagi.”

Puluhan kata itu berhasil Ryul katakan dalam satu tarikan napas.

Memang, skill rap-nya tidak bisa diragukan. Sori, narsis dikit.

Dalam satu detik Ryul menangkap semuanya yang berubah dari wajah cantik itu. Pupil hitam itu membesar sepersekian detik. Napasnya yang tadi santai kini terdengar sedikit memburu. Bibir tebal itu ia gigit pelan, seperti sedang menahan sesuatu.

Dan sebelum Ryul sempat mencerna lebih jauh, giliran pupilnya yang melebar.

Karena dalam sekejap pemandangan yang memenuhi matanya adalah wajah cantik Ohyul yang mendekat sampai deru napasnya bisa Ryul rasakan hangat menerpa kulitnya yang dingin oleh AC mobil.

Kalau boleh jujur, Ryul tak pernah merasa tertarik pada lelaki. Sepanjang hidupnya, ia percaya dirinya straight. Bukti nyatanya pun jelas, mantan-mantannya semua perempuan.

Tetapi, lagi-lagi, jika menyangkut Ohyul, semuanya jadi sulit bagi Ryul. Ohyul is always making it hard for him.

Keyakinan itu seperti kehilangan bentuk. Melebur satu menjadi satu perasaan yang susah ia sebut apa.

Termasuk ketika ia sulit untuk mencerna kenapa sekujur tubuhnya memanas dan bagian bawahnya bergejolak hebat kala kenyalnya bibir Ohyul menyentuh bibirnya. 

Termasuk ketika ia tenggelam dalam ciuman yang Ohyul berikan.

Termasuk ketika ia sudah merindukan belah bibir tebal itu kala Ohyul menarik dirinya dengan kaku.

Punggungnya menempel erat pada pintu mobil, tangannya meremas ujung sweater rajutnya dengan gelisah. Ia melipat bibirnya — bibir yang beberapa detik lalu masih terasa kenyal dan manis di atas milik Ryul — sembari membuang muka, tak berani menatap sepasang mata Ryul.

“Eh, sorry… lu straight ya? Sorry, sorry…” Suara Ohyul pecah, bergetar karena rasa panik yang mendadak menyerang. “Harusnya gue nggak langsung asumsi. Gue… gue nggak tahu kenapa tadi gue — ”

Ohyul is always making it hard for him.

Maka, mungkin sudah saatnya ia ambil alih permainan ini.

Telapak tangannya dalam satu gerakan cepat merayap ke tengkuk si cantik, tidak menyisakan ruang untuknya protes. Melahap seluruh racauan tidak berarti yang sudah di ujung lidahnya.

Lidah Ryul menyapu, memaksa masuk dan mengecap rasa Ohyul yang terasa begitu candu. Gerakannya berani dan tanpa keraguan seolah sedang meruntuhkan seluruh tembok pertahanan yang selama ini ia bangun atas nama heteroseksualitas.

Sekujur tubuh Ryul terasa terbakar. Logika yang selama ini membanggakan deretan mantan perempuannya hangus tak bersisa di dalam mobil yang terparkir sunyi pada pergantian hari itu.

Tangan Ohyul yang tadi gemetar kini meremat bahu Ryul, mencoba mencari pegangan di tengah badai sensasi yang memenuhi dadanya. Ryul terus mendesak, menciumnya seolah-olah ia sedang mencoba memecahkan teka-teki paling rumit di dunia melalui sentuhan itu.

Merasakan oksigennya menipis, Ohyul menepuk pelan dada Ryul. Si cantik terengah-engah. Napasnya pendek-pendek. Wajahnya memerah sempurna dengan mata sayu yang dihiasi bulu mata panjang lentiknya.

Tangan besar Ryul mengelus rahangnya. 
“Kayaknya nggak ada cowok yang bisa tetap straight kalau dihadapin sama lu, Yul,” bisiknya tepat di depan bibir Ohyul yang membengkak.

Kalau akalnya masih berguna dengan sempurna, Ryul bisa dengan mudah menyudahi kegiatan yang sudah melewati batas persahabatannya dengan Ohyul sekarang juga. Menyuruhnya turun dan istirahat karena jam sudah menunjukkan pukul 00.14 dan Ohyul ada kelas besok pagi jam 08.00. Jangan tanya, kenapa Ryul bisa hapal jadwal kuliah sahabat cantiknya itu.

But, Ohyul is always making it so hard for him.

Like, literally hard.

Dan, Ryul tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik seksualitasnya ketika ia bisa merasakan betapa tegang penisnya di bawah sana.

Maka ia kembali torehkan lumatan demi lumatan di bibir tebal itu. Ia gigit berkali-kali, rasakan betapa kenyal dan manis ranum si cantik. Belah bibir yang sedang ia kulum terasa seperti gummy bear yang sering Louis beli tiap kali ke minimarket.

Ciumannya turun ke leher karena — sialan — si centil Ohyul dengan mandiri memiringkan kepalanya, memberi ruang lebih untuk Ryul jelajahi bagian tubuhnya yang lain.

Ryul tahu sahabatnya luar-dalam dengan baik. Bahwa Ohyul adalah seorang penyanyi handal, warna suaranya apik dan atraktif, seperti mantra yang punya sihir. Tapi, tidak pernah Ryul bayangkan bahwa suara lenguhan yang keluar darinya akan terdengar sebegini merdunya. Dan demi tuhan, Ryul rela kerja part time untuk mendapat uang saku lebih jika ia harus membayar untuk mendengar desahan itu lagi.

Rengekan Ohyul pun mengalun tak kalah merdu kala Ryul berpindah ke kursinya lalu mengangkat tubuh rampingnya ke atas pangkuannya. 

Ohyul membenarkan posisi duduknya — dengan sengaja atau tidak — menggesekkan bokongnya ke penis Ryul yang sudah menggembung.

“Y-yul, mau pindah ke belakang?”

Ohyul menggeleng. Bibirnya ia cebikkan lagi. “Mau dicium lagi, Ryul…”
Jemarinya ia kaitkan di balik tengkuk Ryul.

Apa sih yang enggak buat si cantik? Bahkan ketika penisnya sudah berkedut bukan main karena sedari tadi Ohyul masih tidak bisa berdiam diri di pangkuannya.

Ohyul harus akui, Ryul is a great kisser karena rasanya sungguh, sungguh nikmat saat Ryul menjilat ke dalam mulutnya, dan ia tak kuasa menahan diri untuk membalas hasrat itu. Ohyul membalas menjilat dan menggigit bibir tipis Ryul, merasakan lelaki itu mengerang rendah. Dia dengan handal memasukkan lidahnya untuk membelai langit-langit mulut Ryul, merasakan lidah mereka saling bergesekan dengan cara yang paling gila.

Tangan Ryul tidak bisa hanya berdiam diri. Seolah kedua tangan itu punya otak sendiri. Bergerak menelusup di balik sweater rajut Ohyul. Tangannya menelusuri setiap lekukan tubuh Ohyul, memetakan setiap lekuk otot perutnya yang terasa kencang. 

Ohyul merasa seluruh tubuhnya panas dingin di saat yang bersamaan, adrenalin berpacu liar di bawah kulitnya. Dan ketika dinginnya logam jam tangan Ryul menyentuh kulitnya, menelusuri garis tubuhnya perlahan, dan memainkan putingnya yang menegang, sensasi itu memantik sentakan tajam — seperti percikan listrik yang meletup tepat di bawah dadanya, mencuri napasnya untuk sedetik.

“Yul, shit,” kata Ryul tiba-tiba. Satu tangannya menyelipkan sehelai surai hitam Ohyul yang memanjang ke belakang telinganya. “Kok bisa lu makin cantik aja sih?”

Ohyul terkekeh kecil. 
“Lu baru sadar?” Kepalanya ia condongkan lebih dekat, “atau baru sange?”

Ryul menjawil gemas hidung bangirnya. “Pindah belakang, mau?”

Ohyul mengeratkan pelukannya. Ia sembunyikan kepalanya di ceruk leher sang penanya, menahan senyum yang sudah melebar sampai ke telinga. “Gendong.”

Udah dibilang kan, Ohyul is always making it hard for him.

Tapi justru karena itu adalah Ohyul, maka segala hal Ryul akan usahakan sepenuhnya.

Dengan sedikit banyak tenaga lebih, keduanya berhasil mendarat di kursi belakang. Sweater rajut Ohyul sudah tergeletak di lantai mobil.

Ruang di kursi belakang itu terasa menyusut, terisi oleh uap panas dari napas mereka yang beradu dan aroma maskulin yang bercampur aduk. Ohyul terbaring di atas jok kulit yang dingin, namun suhu tubuh Ryul yang mengukungnya di atas justru membakar kulitnya.

Jari Ryul meraba dan memainkan waistband celana pendek Ohyul. “Boleh gua buka?”

“Fuck, just do it, Ryul.”

Suara fabrik yang dilepas dengan cepat di tengah kesunyian kabin mobil itu terdengar begitu nyaring, memicu detak jantung Ohyul yang sudah berpacu gila. Ryul tidak membuang waktu. Ketika seluruh fabrik milik si cantik sudah tersingkirkan, Ia membiarkan kulit paha bagian dalam Ohyul terekspos udara dingin AC sebelum akhirnya telapak tangannya yang hangat mendarat di sana, memberikan kontras yang membuat Ohyul berjengit.

Pemuda Kim itu lalu memasukkan jari telunjuk dan tengahnya ke dalam mulut, membasahinya dengan liurnya. Suara basahnya memekakkan telinga keduanya. 

“Ngangkang lagi, cantik.”

Setelah Ohyul menurut, Ryul lalu bubuhkan kecupan singkat di bibir tebal Ohyul sebelum perlahan masukkan kedua jarinya ke dalam lubangnya.

“Ah, ketat banget, Yul.”

Kim Ryul anjing.

“Ryul — shh, anjing,” racau Ohyul. Tangannya meraba-raba ke atas, hingga menemukan surai Ryul untuk ia jambak.

Ryul menarik jarinya hampir keluar, lalu menekannya masuk kembali dengan sudut yang berbeda. “Enak?”

Satu sentakan tajam membuat tubuh Ohyul menjengit. “E-enak… Ngh, i-iya, di situ.”

Mendengar konfirmasi itu, Ryul menambah tekanannya. Ia memasukkan jari ketiga, meregangkan dinding dalam Ohyul yang terasa menjepit jemarinya. Gerakan jemari Ryul menjadi lebih berirama. Ia menarik keluar hampir sepenuhnya, lalu menusuk masuk dengan sedikit hentakan di bagian akhir. Suara sloshing yang basah mulai memenuhi ruang sempit di kursi belakang itu, bercampur dengan deru napas Ohyul yang semakin pendek dan tidak beraturan.

“Ryul, jari lu… dingin banget — ah, lagi di situ.” 

Dasar rewel.
Masih bisa-bisanya ia mengeluh di sela desahannya walau kakinya justru semakin lebar terbuka, mengundang Ryul untuk masuk lebih dalam.

“Jangan diketatin, sayang,” balas Ryul. Ia menggunakan tangan satunya untuk menahan pinggul Ohyul agar tetap di tempat, sementara jemarinya di dalam mulai bergerak lebih liar, menekuk dan memutar untuk memetakan setiap jengkal sensitif yang dimiliki Ohyul.

Sayang, katanya.

Ohyul sudah hilang akal, rasanya.

Perasaannya sejak bertahun-tahun lalu yang susah-susah ia kubur karena ketahui seksualitas Ryul langsung meledak tak bersisa. Kata “sayang” itu dengan mudah menghancurkan tembok pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun menjadi sahabat yang tahu diri.

Nggh — ah, jangan asal ngomong gitu anjing…” 
Kilau mata dari air yang menggenang di pelupuk matanya mengkilap. 
“D-do you actually mean it?”

Ryul mengangguk tak sabaran.

Jari ketiga ia tambahkan, menusuk masuk dengan satu hentakan dalam yang membuat Ohyul memekik tertahan. Dinding dalam Ohyul yang panas memeluk erat jemari Ryul, berdenyut-denyut mengikuti irama jantungnya yang berdebar kencang. Ryul bisa merasakan betapa berantakannya Ohyul saat ini.

Ia mencium jejak keunguan di sekitar leher Ohyul. 
“Gua gak peduli, Yul. Gua gak peduli sama dunia lagi. If I could have you, even if the whole world were against it, I’d still do it for you.”

Sembari jemarinya di bawah sana terus mengaduk dalam lubang Ohyul secara liar, tangan kirinya berkali-kali mengusap peluh yang kini membasahi dahi si cantik.

“Ah, ah! R-ryul — ngh — I’m so close, tangannya lagi-lagi mencari surai Ryul untuk dijambak. 

Ohyul menggigit bibir bawahnya rapat-rapat saat perutnya memutih karena pelepasan hasratnya.

Dadanya naik turun tak beraturan. Tubuhnya bergetar hebat saat cairan hangat itu membasahi perutnya sendiri yang kini tampak kontras dengan warna sweater rajutnya yang tadi ia kenakan. Ia terengah-engah, matanya sayu dan berair, menatap langit-langit mobil dengan pandangan kosong selama beberapa detik, menikmati sisa-sisa letupan yang masih berdenyut di sarafnya.

Ryul menarik jemarinya keluar dengan perlahan, menciptakan suara basah yang membuat telinga Ohyul memanas.

Helai-helai rambut yang basah dan menutupi wajah Ohyul, ia rapikan penuh sayang. Setiap inci wajah cantik itu lalu ia kecup. “Masih kuat?”

Ohyul mengangguk mantap. Ia masih mau lebih.
Kepalanya dimajukan, minta dicium, yang langsung Ryul sambut dengan senang hati.

“Say it. Ohyul mau apa?” Pipi tembam itu dielus lembut.

“Mau… Ryul…”

“Apa, sayang?”

“Ohyulnya mau dikontolin, please… Ohyul-nya mau banget dimasukin punya Ryul…” Bulir air mata yang sedari tadi di pelupuknya akhirnya turun perlahan ke mulutnya sampai Ohyul bisa merasakan asin air matanya sendiri.

“Kok udah nangis, cantik?”

Tak kuasa hanya memganggurkan pemandangan luar biasa indahnya Ohyul di bawahnya, Ryul dengan cekatan melepas kaos hitam dan ikat pinggang celananya.

Logam gesper yang beradu terdengar begitu provokatif di telinga Ohyul. Ia melihat Ryul bersiap di antara kedua kakinya, sosok pria yang selama ini ia anggap mustahil untuk digapai kini tampak begitu mendominasi di bawah remang lampu basement parkir apartemennya yang menelisik masuk dari jendela.

Ryul segera membuka kancing dan menurunkan celananya hingga ke lutut, memperlihatkan celana dalam yang menyetak ketat lekuk penisnya yang menggembung sejak tadi.

Ryul merogoh saku celananya, mencari sekotak kondom. Jangan tanya kenapa dia bisa menyimpan itu di saku celananya. Setelah menemukannya, ia gigit lalu robek bungkusnya dengan cepat.

“You do it for me,” bisik Ryul, menyerahkan benda itu, lalu membiarkan tangannya bergerak liar di bagian bawah Ohyul, meraba paha dalamnya yang kencang, menaikkan suhu tubuh mereka berdua secara drastis.

Ohyul menatap Ryul sekilas, matanya gelap dan tajam, sebuah senyum menggoda tersungging di bibirnya yang bengkak karena ciuman mereka. 

“Dengan senang hati.”

Ia perlahan mendudukkan diri lalu dengan gerakan cekatan yang menunjukkan bahwa ia tidak kalah putus asa dari Ryul, Ohyul membantu Ryul melepas celana dalamnya. 

“Fuck, you’re big.”

Jari-jemarinya bergerak lincah di sekitar milik Ryul sukses membuat napasnya tercekat dan urat nadinya berdenyut di mana-mana.

Setelah kondom sukses terpasang, Ryul memposisikan kepalanya di antara pangkal paha Ohyul, memberikan beberapa jilatan basah yang memicu desahan sensual dari Ohyul, memastikan area itu benar-benar licin sebelum ia mulai menekan masuk.

“Pegangan yang kuat, sayang,” suara rendahnya menggeram.

Begitu ujungnya menyentuh lubang Ohyul, sensasi panas dan mendesak langsung merenggut sisa oksigen di sepetak mobil itu. Ryul mendorong perlahan namun pasti, memberikan waktu bagi Ohyul untuk menyesuaikan diri dengan ukurannya yang menginvasi tanpa ampun.

Ah — shit, Ryul! Pelan-pelan, akh, sesek banget…” Ohyul meremas bahu Ryul, kuku-kukunya menancap di punggung pria itu. Tubuhnya yang ramping tampak tenggelam di bawah bayangan bidang dada Ryul yang begitu lebar.

“Breath, Ohyul. Liat gua.” Ia menunggu sampai Ohyul sedikit rileks sebelum akhirnya menghujamkan miliknya sampai ke pangkal dalam satu sentakan kuat.

“Ah! anjing — nghh!” Ohyul mendongak, punggungnya melengkung sempurna. Matanya membelalak, mulutnya terbuka tanpa suara karena rasa penuh yang luar biasa itu benar-benar mengunci sarafnya.

Ryul menggeram puas, ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ohyul, menghirup aroma tubuh sahabatnya yang bercampur keringat itu dengan rakus. 

“Lu sempit banget, Yul… fuck.”

Ryul mulai bergerak. Awalnya pendek-pendek untuk memancing ritme, namun lama-kelamaan hentakannya menjadi lebih liar, membuat mobil itu berguncang halus di bawah temaram lampu basement yang remang-remang.

Ohyul tidak bisa lagi menahan suaranya. Ketika kepala penis Ryul menghantam titik manisnya, Ohyul hanya bisa memekik, memohon lebih. “Ah, Ryul, di situ —nghah!

Ryul menghujani Ohyul dengan kecupan singkat ia mempercepat tempo, pinggulnya menghantam pinggul Ohyul saat ia menggerus tepat di prostat Ohyul, membuat penglihatan Ohyul kabur sejenak.

“Sayang — jangan diketatin, fuck — hhah…” Ryul tersenyum sambil mendongak, kepalanya terlempar ke belakang. Matanya terpejam rapat, giginya menggigit bibir bawahnya yang penuh, seolah menahan kenikmatan yang terlalu besar untuk ditampung.

Leher Ryul basah berkilau oleh butiran keringat yang perlahan meluncur turun. Ohyul memandangi jalurnya seperti orang kelaparan menatap hidangan penutup. God, he wants to follow it with his tongue — menelusuri garis leher itu, turun ke dada, turun lagi sampai titik tempat keringat itu berkumpul di lekukan tulang selangkanya.

Satu bulir keringat jatuh, menetes tepat di pipi Ohyul. Hangat. Basah. Mengubah aliran darahnya seketika. 

Shit, harusnya jatuhnya di mulut gue.

Ya Tuhan, Ohyul tahu ia bukan anak yang polos dan naif. Ia pernah nonton video porno, cukup sering bahkan saat butuh. Tapi tidak pernah, tidak sekalipun, rasa panas di tubuhnya naik sampai segila ini. Sampai-sampai seluruh dunia terasa menyempit hanya pada tubuh Ryul yang menunduk di atasnya dan penisnya yang mengisi penuh keseluruhannya dengan sensasi intens yang merambat di seluruh syarafnya.

Ohyul samar-samar menyadari bahwa ia mulai mengoceh — lagi, Ryul, I need more, please — tapi ia sudah tidak lagi peduli. Tubuhnya menegang karena gairah, menggeliat di jok mobil yang kini terasa dingin.

Ryul mendorong tanpa henti di titik manisnya, setiap gerakan kuat dari pinggulnya nyaris tidak memberi Ohyul waktu untuk bernapas sebelum ia terseret kembali ke dalam kedalaman ekstasi yang mematikan pikiran.

“Sayang,” Ryul memelas, kepalanya mencari bibir Ohyul. Ryul mencengkeram rahang Ohyul, menariknya mendekat, dan menjilat ke dalam mulutnya. Ohyul menerima semuanya. Ciuman itu panas, basah, dan putus asa, bibir yang dilapisi air liur saling meluncur satu sama lain.

“Gua sayang banget sama lu, Yul,” Ryul terengah di sela-sela ciuman, ibu jarinya mengelus peluh di pelipis Ohyul. “Gua bahkan gak sadar how much I like you, karena gua selalu takut sama perasaan gua sendiri. You’re making it all so hard for me. Padahal, I’m the one who making it harder because you were right here all along. Guanya aja yang bego. You’re all I ever wanted, Yul.”

Ohyul menelan napasnya sendiri. Dadanya naik turun cepat, seperti jantungnya tak bisa mengejar apa pun yang baru saja ia dengar. “I want you too, s-sumpah, dari dulu gue cuman maunya lu, Ryul,” bisiknya. Rasa sayang Ryul begitu penuh sampai Ohyul bisa merasakannya menekan seluruh rongga dadanya.

Ryul meletakkan tangannya di kedua sisi tubuh Ohyul, mengurungnya.

Ohyul menatapnya tanpa malu sedikit pun. Pandangannya naik perlahan sepanjang dadanya yang keras dan bulat, berhenti sejenak pada puting Ryul yang menegang, lalu turun mengikuti garis perutnya yang ramping hingga ke bulu-bulu halus tepat di bawah pusarnya.

Ohyul menelan ludah. “Lu ganteng banget sekarang,” gumamnya, jemarinya menyentuh bahu Ryul, menyusuri otot lengannya yang mengeras karena menahan diri. “Sebenernya gue terpaksa comblangin lu sama Alana. It was just my stupid game to bury my feelings for you,” katanya kesusahan di tengah genjotan Ryul. 

“Kalau tau dari awal lu sange ke gue, udah gue godain dari awal, tau.”

Ryul menciumnya lembut dan panjang. 
“Maaf sayang, guanya kelewat bego ya? What can I do to make it up for you?”

Mata Ohyul berbinar.

“Fuck me harder,” kepalanya ia miringkan, “please, Abang?”

Ryul terbatuk, mengerang pelan “fuck,” sebelum mengaitkan lengannya di bawah paha Ohyul untuk mengangkatnya dari jok dan menariknya rapat ke tubuhnya. Ohyul menstabilkan tangannya di bahu Ryul saat keseimbangan tubuhnya bergeser, 

“Ryul!” entah bagaimana penis Ryul meluncur lebih dalam dari sebelumnya, tekanan itu menusuk tepat di diri Ohyul. 

“God, fuck!” 
Pekikan Ohyul naik beberapa oktaf.

Sshh, jangan berisik, baby doll.”

Ryul mengangkat tubuh Ohyul sepenuhnya ke dalam pelukannya. Lengannya menutup di pinggang Ohyul dengan kokoh, otot-ototnya menegang di bawah sentuhan jari Ohyul, seolah seluruh tubuhnya dibuat untuk menampung berat tubuhnya tanpa sedikit pun goyah.

Ohyul hampir kehilangan napas. He was so turned on it made him dizzy.

Ryul menurunkan wajahnya ke ceruk leher Ohyul, menghisap kulit sensitif tepat di bawah telinganya. Lidahnya menyapu tulang rawan tipis itu, lalu giginya menggigit pelan, cukup untuk seluruh sendi Ohyul melemas. “Yul,” suara Ryul terdengar melembut. Napasnya yang panas mengusap area basah yang ia tinggalkan, membuat sensasi geli menjalar cepat menuruni tulang belakang Ohyul. “Kuat, kan?” bisiknya.

Ohyul mengangguk cepat. “I can take it in, Ryul — ngahh,” Ohyul tercekat kala setiap hentakan pinggul Ryul menyeret Ohyul turun ke penisnya yang tebal seperti pukulan kecil, mencuri napasnya. 

“Anjing, gue dikit lagi k-keluar, Ryul, harder, please — ”

“Sabar, cantik.”

Dalam satu gerakan cepat tak terduga, Ryul mendorongnya ke belakang untuk menjepitnya ke jok mobil. Satu tangannya terulur ke belakang kepala Ohyul untuk menahan benturan, sementara tubuhnya menutup penuh di atas Ohyul. Dingin kulit jok menyentak sistem saraf Ohyul, tetapi dorongan keras itu justru membuatnya merintih.

Kaos hitam milik Ryul yang terlepas itu sudah ia gigit keras-keras. Benamkan pekikan demi pekikan yang tak mampu ia tahan.

Tempo Ryul berubah lebih cepat, lebih keras, lebih kasar.

Cengkeramannya di pantat Ohyul begitu kuat hingga terasa sedikit menyakitkan, namun rasa sakit itu justru membuat euforia di tubuh Ohyul meledak, seolah seluruh dirinya direbut sepenuhnya oleh Ryul. Ohyul menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengembang bangga, ia puas karena bisa memuaskan Ryul. Karena setiap gerakan keras itu, setiap desahan berat yang lolos dari bibir Ryul, adalah bukti betapa besar pengaruhnya pada pria itu. Bahwa ialah yang bisa memuaskan hasrat seorang Kim Ryul, bukan perempuan-perempuan lain.

Setetes liur mengalir dari sudut mulutnya dan Ryul langsung menunduk, menjilatnya dengan satu sapuan panjang lidah sebelum sempat jatuh ke jok.

“L-lagi — akh!

Saat Ryul memberikan satu hentakan keras yang menghantam tepat ke prostatnya, Ohyul merasakan ledakan sensasi, seperti kembang api yang meledak di matanya. Ia menjerit, mencapai klimaks dengan kekuatan penuh, jari-jarinya mencakar punggung Ryul saat ia menggigil melalui gelombang kenikmatan putih yang membutakan. Kakinya bergetar hebat.

Bersamaan dengan itu, cairan putih itu menyembur deras dari penis Ohyul yang memerah dan menegang, melukis garis-garis di kulitnya sendiri. Lubangnya berdenyut hebat di sekitar penis Ryul. Ohyul tenggelam dalam ekstasi, kesadarannya nyaris lenyap sepenuhnya.

Ryul berusaha mengembalikan kesadaran Ohyul yang baru saja mencapai klimaks. “Cantik, hey, bantu gua sedikit lagi ya?” pintanya serak. “Aku mau keluar sayang. ”

Ohyul can’t even think anymore. Ia hanya ingin membalas kenikmatan yang Ryul tawarkan padanya.

Ohyul mengangguk. “Enak banget dikontolin kamu,” bisiknya, mencuri kecupan di bibir Ryul. “Use me all you want, Ryul, I can take it all.”Permintaan itu sukses melenyapkan sisa kendali Ryul.

“Mhm, punya gua doang, ya? dorongan Ryul semakin cepat, menghilang tanpa ritme, didorong oleh keputusasaan murni. Wajah Ryul terlihat berantakan, rona merah muda memudar hingga ke lehernya. 

Bibirnya mencium Ohyul berantakan seolah ingin menelan Ohyul bulat-bulat, sebelum akhirnya ia tidak bisa menahan suara lagi, “Fuck, Yul, ah, ah anjing — ”

Ohyul tidak melepas tautan mereka, menelan setiap erangan Ryul saat ia mencapai puncak. Penis Ryul berkedut hebat, melepaskan semburan putih panas ke dalam lubang Ohyul. 

Ketika getaran hebat Ryul mereda, Ohyul memeluknya erat, membawa kepala Ryul ke lekukan lehernya. Ryul membubuhi ciuman lembut di sisi leher Ohyul, menyusuri kulitnya dengan bibir panas, menghirup wangi tubuh Ohyul dalam-dalam seperti itu satu-satunya udara yang bisa ia hirup malam ini.

Saat Ryul akhirnya menarik diri , Ohyul mendesah pelan dan cairan putih kental itu mengalir keluar dari dalam dirinya, membasahi paha dan menggenang di bawah pantatnya. Ryul menunduk ke bawah, matanya setengah terpejam saat ia menikmati pemandangan Ohyul yang kacau, berantakan, dan cantik sekali di bawahnya.

“Sexy banget sayang,” lalu Ryul kecup pipi gembil itu.

Pelan-pelan Ryul menarik tubuh Ohyul ke atas pangkuannya, mengistirahatkannya di dadanya sendiri. Keduanya bersender pada pintu mobil. 

Tangan besar Ryul mengelus rambut hitam Ohyul yang basah oleh keringat, menyisirnya dari akar ke ujung dengan penuh sayang. Ia memeluk tubuh Ohyul sepenuhnya, merasakan tubuh itu masih bergetar kecil di pelukannya. “Dingin ya?” bisiknya.

Ohyul tidak menjawab, dia bahkan tidak punya tenaga. Kepalanya terasa kosong, pikirannya tersisa pada satu hal, just how the hell everything escalated that fast. Satu jam lalu, Ohyul masih yakin Ryul tak akan pernah tertarik pada lelaki. Terlebih lagi pada dirinya. Keyakinan itu sudah ia tanam dalam-dalam sejak bertahun-tahun lalu, memaksa perasaannya untuk tahu batas dan hargai persahabatan mereka. But look at them now, tanpa jarak sama sekali, terbalur sisa kenikmatan masing-masing.

“Gua nggak pernah mikir bakal ada di posisi ini, Yul,” aku Ryul tiba-tiba. “Sama cowok. Di belakang mobil gue sendiri.”

Ohyul menarik sweaternya dari bawah untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Bulu wol sweater putih itu ia mainkan. “Lu nyesel?”

Ryul menunduk, mencoba mencari netra si cantik. 

Selama ini, dunianya sangat sederhana: laki-laki itu pelindung, dan perempuan adalah tempatnya pulang. Mantan-mantannya adalah bukti dari narasi yang ia percaya sebagai kebenaran mutlak. Namun, kenyataan bahwa ia baru saja kehilangan kendali — bahwa ia merasa lebih hidup saat menyentuh Ohyul daripada siapa pun di masa lalunya — menghancurkan pondasi identitasnya yang ia bangun sedari kecil.

“Nyesel?” Ryul mendengus kecil. “Gak ada sedikit pun rasa sesal, Yul. Gua cuma ngerasa… bego. Bego karena baru sadar kalau definisi straight gua selama ini ternyata cuma dinding yang gua bangun supaya nggak perlu ngelihat lu dengan cara yang beda.”

Ia mengulurkan tangan, menggapai tangan lentik Ohyul. Interlocking their hands.

“Identitas gua yang dulu mungkin udah ikut mati di parkiran ini,” lanjut Ryul mantap. “Gua nggak tahu label apa yang cocok buat gua sekarang, dan jujur, gua nggak peduli. Kalau jadi straight berarti gua nggak bisa milikin lu kayak tadi, gua milih buat nggak jadi apa-apa. Asal itu sama lu.”

Ohyul tersenyum tipis, rasa hangat menjalar di dadanya. 

Di bawah remang lampu basement yang mulai berkedip, mereka tahu bahwa besok segalanya akan terasa berbeda. Ryul bukan lagi pria yang “hanya suka perempuan” dan Ohyul bukan lagi sekadar sahabat yang memendam rasa.

Malam itu, di dalam mobil yang terisolasi dari dunia luar, keduanya sepakat untuk membiarkan masa lalu mereka tinggal di spion belakang, dan mulai berkendara menuju sesuatu yang belum bernama, namun terasa sangat tepat.

Notes:

kudos and comments are always appreciated xoxo <3