Work Text:
Awal tahun selalu menjadi hal yang paling ditunggu oleh fans E-sport Mobile Legends di seluruh dunia. Mereka akan berlomba-lomba mendukung tim dan pro player kesukaan mereka di turnamen tahunan terbesar di tiap negara yaitu MPL. Kali ini, sudah kali ke tujuh belas MPL diadakan. Dan seperti biasa, seluruh tim akan bersaing untuk memperebutkan posisi juara pertama dan tiket untuk menuju ke MSC. Sama halnya seperti EVOS dan RRQ yang sejak musim pertama selalu menjadi rival dan menjadi tim legenda pada dunia E-sport Indonesia. Bahkan setiap kedua tim ini dipertemukan dalam sebuah pertandingan, views YouTube channel MPL ID akan naik dengan pesat dan tiket yang terjual akan selalu sold out dalam waktu sekejap. Apalagi di musim ke tujuh belas ini kedua tim tersebut kedatangan roster terbaru. Darah muda yang memiliki semangat kompetitif yang tinggi.
Dari EVOS sendiri, mereka kedatangan seorang EXP laner baru bernama Samuel dengan nickname SINCERELY. Seorang pemuda yang tidak pernah terdengar namanya — bahkan bukan salah satu bagian dari tim MDL EVOS . Tetapi benar-benar wajah baru yang tidak pernah terdengar nama dan asal usulnya sampai hari debutnya itu. Menjadi perbincangan hangat di dunia E-sport Indonesia karena digadang-gadang memiliki mekanik yang sama luar biasanya — bahkan lebih — dari EXP laner terdahulu yang sudah sering mengacak-acak panggung MPL Indonesia. Dan dengan catatan tambahan, wajahnya benar-benar tampan. Dapat dipastikan ia akan menjadi primadona di kalangan fans e-sport perempuan.
Dari sisi RRQ sendiri, mereka menghadirkan seorang Midlaner baru bernama Dion dengan nickname DIONYSUS. Dion sendiri memang sudah terkenal karena memiliki mekanik yang memukau sejak menginjakkan kakinya di MDL. Hero pool yang Dion kuasai pun sangat luas. Dan lagi-lagi, sama seperti Samuel, wajah Dion yang tampan menjadi bonus utamanya.
“Ayo stand by, dikit lagi udah mau mulai, nih.”
Ruang tunggu player MPL yang begitu ramai itu mendadak mulai hening. Satu persatu player, coach, dan analyst dari masing-masing tim mulai berdiri melingkar untuk mendengar beberapa arahan sebelum menuju panggung yang sebenarnya.
“Kayak yang udah sering gue bilang, mainnya harus rapi. Jangan ada yang egois, jangan sampai bikin gerakan tambahan yang gak dibutuhkan, dan pastinya komunikasi harus jelas. Rajin-rajin kasih tau kalau misalnya lawan ada yang missing di lane mana pun itu, dan terutama untuk Samuel dan Tito, kalian sebagai EXP laner dan Roamer, gue mohon banget kalau open war komunikasiin dulu, ya. Apalagi Samuel, krena lu sama Tito itu kuncinya. Posisi juga tolong diperhatikan lagi. Kalian harus saling backup, ya. Kita itu sering kalah sama RRQ karena kebanyakan blunder, jadi buktikan kalau kalian bisa menangin match kali ini.” Jelas coach EVOS. Mereka semua mengangguk sebagai tanda bahwa mereka memahami apa yang coach mereka sampaikan.
“YOK SEMANGAT! Berdoa dulu habis itu kita langsung keluar, ya. Go!”
Seluruh player mulai membentuk lingkaran dan mulai berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Dan seruan penyemangat menggema di seluruh sisi ruang tunggu. Setelah sesi berdoa selesai, para player, coach, dan analyst pun satu persatu keluar dari ruang tunggu menuju ke panggung MPL. Samuel dapat merasakan rasa gugup yang teramat sangat, apalagi ini adalah debut perdananya di panggung sebesar ini, dan ada ribuan pasang mata yang akan memperhatikan permainannya malam ini.
Samuel sudah sering mengikuti turnamen MLBB. Sejak sekolah, ia dan teman-temannya — dan juga Dion — sering mengikuti turnamen-turnamen skala kecil yang diadakan di daerah tempat tinggalnya. Ia sudah memiliki banyak pengalaman mengenai turnamen skala kecil meskipun belum pernah menginjak panggung MDL sekalipun. Tetapi untuk sekelas MPL dengan skala yang besar — bahkan jauh lebih besar — jujur saja membuat Samuel sedikit gugup dan takut. Apalagi tim yang dilawannya adalah RRQ yang terkenal sangat kuat dan sering mendapatkan title Regular Season Champion karena selalu menduduki peringkat pertama pada Regular Season. Apalagi ada Dion di sana. Dion yang orang-orang bahkan tidak akan pernah sangka kalau mereka lebih dekat dari yang mereka kira. Karena Dion adalah pacarnya.
“Gugup ya, Sam? Apalagi lawan Dion kan lu?” Suara Gilang menyapa indra pendengarannya. Ia mengangguk sambil tersenyum. “Aneh sih kalau gue gak gugup, Lang. Apalagi debut perdana gue nih, tapi gue juga mau buktiin kalau gue bisa bawa nama EVOS jadi bagus lagi. Biar gak jadi hashtag tujuh terus!” Sambungnya sambil tertawa diikuti oleh teman-temannya yang lain.
“Yaelah cuy, kan season kemarin yang hashtag tujuh mah si RR — “
“Sstt — gak boleh gitu lu! Ingat roda selalu berputar. Jangan jumawa dulu!” Potong Albert dengan cepat. Tito yang omongannya dipotong hanya menyengir tanpa dosa.
“Udah eh kebanyakan bercanda. Udah yuk, mau draft nih!” Ujar coach EVOS sambil menenteng buku catatan kesayangannya.
Draft ban and pick dimulai dengan begitu sengit. Banyak hero overpowered yang menjadi perebutan bagi kedua tim tersebut. Setelah itu, permainan pun dimulai. Untuk Regular Season sendiri hanya terdiri dari BO3, dan kali ini kedua tim sama-sama memiliki satu poin yang sama. Tersisa satu pertandingan lagi untuk mendapatkan poin dan mempertahankan pride dari masing-masing tim. Hari itu, Samuel bermain dengan begitu bagus. Dan Derby Classic kali ini, EVOS mampu mendapatkan poin kemenangan mereka. Menjadikan Samuel sebagai MVP dua kali berturut-turut dalam tiga pertandingan di hari itu.
“Gila Sam, lu GG banget dah nge-lock si Dion terus. Pasti bete banget tuh anaknya di-lock terus gitu sama lu.” Seru Reza. Kini mereka sudah berada di dalam ruang tunggu lagi. Debut pertama Samuel tadi mendapat respon yang hangat dari fans, MC, dan juga caster yang tak henti-henti memberikan pujian kepadanya.
“Iya jir, gue ngeliatin matanya Samuel cuma ke si Dion doang. Kayaknya habis ini bakalan diomelin deh lu sama si Dion.” Samuel hanya membalasnya dengan tawa singkat. Karena betul seperti apa yang Gilang bilang tadi, Dion sudah membombardirnya melalui pesan elektronik — membuat ponselnya tak berhenti bergetar sejak tadi.
D: KAKAK KENAPA SIH
D: KAKAK ADA MASALAH KAH SAMA AKU?
D: KENAPA AKU TERUS LOH YANG DIINCAR, KAYAK GAADA ORANG LAIN AJA
D: Gak usah ngomong sama aku sampai minggu depan!
Segaris senyum terpatri di wajahnya. Samuel bisa membayangkan raut wajah yang lebih muda kini tengah ditekuk karena kesal. Dan jangan lupakan bibirnya yang ia manyunkan beberapa senti. Kalau kata Samuel, Dionnya itu imut sekali, mirip seperti anak bebek. “Yaudah yuk balik dulu, kita masih ada pertandingan juga besok. Latihan, istirahat, biar besok bisa perform bagus lagi.” seru coach EVOS. Mereka pun bersiap-siap untuk kembali ke Gaming House masing-masing untuk kembali latihan dan beristirahat. Karena masih ada banyak pertandingan setelah ini.
“Udahan dong ngambeknya, cantik.”
Samuel memperhatikan gerak-gerik Dion yang tengah memakan sate taichannya itu dalam satu suap penuh. Bahkan ia sudah menyiapkan air minum di tangannya, takut Dion tiba-tiba tersedak karena mengunyah satenya dengan cepat sembari menggerutu.
Setelah pulang ke Gaming House masing-masing, baik Samuel dan Dion sama-sama meminta izin kepada coach mereka untuk pergi makan di luar sebentar. Izinnya sih makan sendiri-sendiri, tapi nyatanya mereka kini duduk berdampingan sambil menyantap 20 tusuk sate taichan Bang Yoyo yang tidak pernah sepi.
“Kan aku bilang jangan ngomong sama aku sampai minggu depan!” Dion menatap sinis Samuel. Pipinya menggembung lucu karena dipenuhi oleh sate taichannya. Samuel mengusak pucuk kepala Dion sembari tertawa. Apakah Dion sadar bahwa sekarang penampilannya sangat lucu?
“Kunyah dulu satenya, baru habis itu marah-marahnya, ya.” Balas Samuel, masih sambil mengusak kepala Dion penuh sayang. “Maafin ya tadi kakak cuma incar kamu terus, habisnya udah tugas kakak kan itu. Adek juga kakak ajakin ke EVOS biar kita satu tim malah gak mau, sih.”
“Aku gak mau kalau jadi cadangan aja, kan kakak tau sendiri. Aku di MDL kemarin juga lama naiknya ke MPL, harus butuh berapa season dulu baru bisa naik. Meskipun ditawarin ke EVOS kalau cuma jadi cadangan atau ke MDL lagi, aku gamau lah. Aku pengen main di MPL juga. Pengen nyobain panggung gede. Mimpi aku bisa satu panggung sama kakak meskipun akhirnya harus beda tim.” Jelas Dion. Samuel mengangguk paham selama Dion menjelaskan panjang lebar tentang alasannya memilih RRQ.
“Tapi aku happy kok kakak bisa dapatin apa yang kakak inginkan. Meskipun kita jadinya harus bersaing juga, tapi asalkan itu sama kakak aku bahagia banget.” Lanjut Dion dengan tulus. Ditatapnya paras tampan sang kekasih yang sejak tadi tidak pernah berhenti tersenyum.
“Kakak pantas mendapatkan spotlight itu, meskipun harus aku yang dikorbanin tadi, sih.” Tutup Dion sembari memutar bola matanya dengan malas. Yang kemudian dihujani dengan kecupan di pipinya oleh sang pacar yang senyumnya belum luntur sejak tadi.
“Lucu banget sih kamu, gak sia-sia kakak ajak makan sate taichan jam segini. Jadi udahan ya ngambeknya sekarang?” Samuel mengelus punggung tangan Dion dengan lembut. Dion hanya mengedikkan bahunya acuh dan kembali mengalihkan seluruh atensinya pada sate taichan di hadapannya.
Mereka berdua menutup hari yang panjang itu dengan menuangkan perasaan mereka tentang pertandingan pertama mereka sebagai rival, dan tidak akan pernah melupakannya.
