Work Text:
Seseorang pernah memberitahu kalau kemampuannya ada pada hal-hal tak berupa. Terdengar mustahil, namun Sakuyahime segera mengerti maksudnya ketika ia kembali ke semestanya. Perlu banyak belajar untuk menyadari dan kemudian membujuk mereka yang tak berwujud untuk membentuk. Kini Sakuyahime hanya memerlukan satu sentuhan dan mereka akan berubah sebagai benang-benang halus keperakan di jemarinya, melayang di udara kosong sebelum menyatu dengan kuasa sang dewi dan menjadi bagian dari alat tenunnya.
Namun cara ini tidak selalu bisa dilakukan. Ada hal-hal tak berwujud yang dahulu pernah memiliki rupa, namun kehilangannya karena suatu hal. Jenis ini tak lebih dari kenangan dari dunia yang telah lama hancur, jiwa-jiwa yang tak dapat menemukan jalan mereka menuju lingkaran reinkarnasi dan berakhir berkelana tanpa arah di kehampaan tak terbatas. Banyak dari mereka yang berakhir kehilangan ingatan karena terlalu lama tersesat di kehampaan, tak lebih dari sebuah gema ketika Sakuyahime menemukan mereka. Teruntuk mereka sang dewi mencurahkan kuasanya, dengan lembut memulihkan mereka hingga kesadaran dan kenangan akan diri mereka yang dahulu kembali. Jika berhasil, sang dewi pun menuntun mereka untuk kembali menjadi bagian lingkaran kehidupan. Jika tidak berhasil, maka Sakuyahime akan memberi mereka wujud baru, menjadi ikan-ikan bersisik putih dan berekor panjang yang berterbangan di sekitar sang dewi.
Untuk sementara waktu, Sakuyahime puas akan hal-hal yang ia miliki.
Tentu saja, tidak ada kedamaian yang lama bertahan jika Orochi ikut melibatkan diri.
‧˚𓆝 𓆙𓆞˚‧
Waktu adalah arus yang tak mengenal henti, menghampar luas di luasnya kehampaan. Setiap dunia yang diciptakan, setiap makhluk yang hidup dan bernafas, setiap dewa dan dewi yang ikut terlibat dalam penciptaan dunia, semua menjadi bagian dari aliran waktu yang selalu mengalir maju. Beberapa pengembara akan menemukan diri berada di permukaannya, terpisah namun tetap mengikuti, mengarungi lautan yang selalu berombak demi mencapai tujuan yang hanya dapat mereka mengerti.
Hampir semua yang tercipta akan terikat waktu. Hampir.
Sakuyahime berdiri di tepi aliran deras itu, memandang jauh ke cakrawala. Ombak berdebur ketika menghantam pesisir tempatnya berdiri, menyemburkan air bergaram ke kakinya yang tak beralas. Tak setetes pun jatuh mengenai kulitnya. Tidak apa-apa. Memang sudah seharusnya begitu. Waktu telah sedari awal menolak sang dewi, terutama setelah ia memisahkan diri dari kedewiannya.
Namun bukan aliran waktu yang ia perhatikan. Jauh di sana, sebentuk samar pulau menghubungkan langit dan lautan. Sama seperti sang dewi, ada seorang lagi yang tak lagi terjamah oleh waktu. Seseorang yang tak lagi dapat mendatangi dunia dan melakukan sesuka hatinya. Seseorang yang lagi-lagi terpenjara, kali ini mungkin untuk selamanya.
Seseorang yang, amat sangat disayangkan, sangat Sakuyahime sayangi.
Sang dewi mengangkat tangan kanannya, telapak tangan menengadah ke angkasa. Segaris merah tipis melingkar longgar di pergelangan tangannya, menari dan melambai di atas ombak yang menggelora, menghubungkannya dengan yang nun jauh di sana.
Memberi wujud pada sebuah janji bukanlah hal yang mudah bagi Sakuyahime; tak pernah terpikir olehnya kalau hal semacam itu dapat dilakukan. Beruntung seorang dewi lain bersedia membantunya, memberi wujud pada ikatan kedua insan yang terpisah itu menjadi sehelai benang merah. Tidak mampu untuk mengangkat segel, hanya segaris tipis yang mampu untuk melewati penghalang itu, memberi jalan bagi Sakuyahime untuk menemui sang kekasih.
Bagaimana itu terjadi, itu adalah kisah untuk lain waktu.
Sebuah kicauan menarik perhatian Sakuyahime. Seekor burung kucica terbang mendekat, berputar-putar sebentar sebelum akhirnya bertengger di tanduk kanan sang dewi. Mata sang burung mengamati benang merah di pergelangan tangan Sakuyahime, kepalanya sedikit di telengkan sembari berkicau.
Mau ke sana lagi? Biar kuantar.
Sakuyahime menjawab dengan senyuman dan gelengan kepala.
Kalau begitu, mau ke mana?
Kali ini sang dewi membalikkan tubuh, tangannya yang terangkat pun menunjuk ke cakrawala yang berlawanan. Ke sana.
Sang burung terdiam. Daratan tempat mereka berdua saat ini berada di suatu sudut di kehampaan; tak terjamah waktu, mustahil ada namun nyata. Berjalan ke sana dan mereka akan mencapai… ke mana? Tidak ada yang tahu. Mungkin lebih banyak kekosongan, atau bahkan aliran laut Aether yang akan menyambut siapapun yang nekat untuk berjalan lebih jauh.
Aether. Sang burung bergidik. Kenapa ke sana?
Sang dewi memperlihatkan lagi pergelangan tangan kanannya. Ada janji yang harus kupenuhi.
Haruskah kau penuhi? Bahkan jika harus mengorbankan diri?
Sakuyahime hanya mengangkat bahu. Kematian telah ia alami sebelumnya, apa ada lagi yang harus ia takuti?
Burung kecil itu memiliki sayap sewarna malam, bergaris putih dengan ujung berwarna merah. Ditelusupkan paruhnya di antara bulu-bulu di sayap kiri, sejenak menampilkan bagian perutnya yang sewarna karat. Kalau begitu, sayang sekali aku tidak bisa mengikutimu kali ini. Apa tidak masalah?
Jemari lentik itu mengelus kepala mungil itu, mendekatkan sang burung kecil ke pipi sang dewi. Tidak apa-apa. Kurasa aku hanya akan pergi sebentar, jadi jangan khawatir.
Kau rasa. Tentu saja. Sakuyahime hampir bisa mendengar senyum di kata-kata itu. Setidaknya kau akan mengajak ikan-ikanmu, kan?
Tentu saja.
Baguslah.
Suara kepakan sayap kembali terdengar. Sakuyahime menggapai, menangkupkan tangan untuk memeluk burung mungil itu. Sang burung pun membalas dengan menempelkan paruhnya ke hidung sang dewi.
Hati-hati di jalan, saudariku. Aku nantikan kembalimu.
Suara debur ombak menenggelamkan kicauan terakhir sang kucica, bersamaan dengan sosoknya yang melesat ditelan langit kelam.
‧˚𓆝 𓆙𓆞˚‧
Nun jauh di angkasa tak terbatas, sepasang pohon sakura saling mendamba. Mereka terpisah oleh aliran deras lautan waktu, tak lagi bisa bertemu, hanya bisa merindu satu sama lain dari jauh.
Jika bukan karena janji yang mereka buat sebelumnya, mungkin mereka sudah saling melupakan. Jika bukan karena kegigihan salah satu dari mereka, mungkin mereka tak akan pernah bisa bertemu.
Jika bukan karena burung kucica, mungkin sang dewi tidak akan bisa menyeberang, tak akan pernah bisa menggapai sang dewa yang sangat disayanginya.
Semua itu sudah berlalu. Jembatan telah terbentuk dan Sakuyahime dapat mengunjungi Orochi kapanpun ia mau. Kini peran mereka pun berbalik; sebelumnya Orochi-lah yang selalu berkunjung ketika sang dewi tertidur di alam dimensinya. Anggap saja ini sebagai balas budi, walau Sakuyahime tahu betul ia akan tetap melakukannya bahkan jika Orochi tak melakukan hal yang sama kepadanya dahulu.
Kisah-kisah yang Orochi bawakan selalu cukup untuk menghiburnya. Namun Sakuyahime sadar kisah-kisah yang dibawakannya tak akan cukup untuk Orochi yang kini tersegel di luar ruang dan waktu.
Era para dewa telah mencapai akhirnya. Kini manusia lah yang berkuasa atas takdir mereka, tak lagi memerlukan berkat dan perlindungan dari para dewa. Mereka jugalah yang telah membantu Takamagahara untuk kembali menyegel Orochi. Walau begitu, sang dewa tidak sedikit pun membenci mereka. Malah ia selalu meminta Sakuyahime untuk menceritakan tentang dunia manusia di setiap kunjungannya; tentang konflik yang sementara terlupakan, tentang kerja sama antara tiga klan onmyoji utama demi menyelidiki satu klan onmyoji yang seakan hilang tak berbekas, tentang ancaman baru yang berasal dari masa yang telah lama lampau, tentang konflik dan perang, tentang perseteruan yang terjadi dan akan terjadi…
Kesedihan sang dewa ular kentara dalam senyumnya setiap kali Sakuyahime menceritakan apa yang telah dilihatnya di dunia sana.
“Jika saja aku bisa menyaksikan semua itu dengan kedua mataku sendiri…”
Tidak ada yang bisa dibicarakan setelahnya. Selalu Orochi meraih Sakuyahime, menenggelamkan wajahnya dalam pelukan sang dewi seperti yang selalu dilakukannya ketika mereka berdua masih kanak-kanak.
Waktu tak dapat lagi meraih mereka, namun tak apa; tidak ada yang akan memisahkan mereka lagi sekarang, sang dewa yang terlupakan dan sang dewi yang tak pernah ada, untuk sejenak menyatu di bawah naungan mekar bunga sakura dan langit nihil warna.
‧˚𓆝 𓆙𓆞˚‧
Mengapa ikan? Orochi menanyakan itu pada salah satu kunjungannya dahulu. Para ikan yang merasa terpanggil pun berenang mendekat, sejenak melupakan ketakutan mereka akan sang dewa ular. Saat itu kesadaran Sakuyahime sedang tidak terikat oleh tidur panjang; lebih mudah untuk memberikan jawaban ketika pikiranmu tak dikaburkan mimpi dan kantuk.
‘Mereka cantik,’ jawab sang dewi kala itu, ‘dan gesit. Jika ada bahaya mereka bisa dengan cepat berkelit menyelamatkan diri. Kurasa itu saja.’
Orochi mengangkat satu alisnya. “Begitukah?” Seakan hendak membuktikan, seekor ikan melesat menghindari terkaman seekor ular yang sedari awal telah mengincarnya. Pergerakan tiba-tiba itu mengejutkan ikan-ikan lain yang dengan segera melesat memasuki rimbunnya bunga sakura, mengintip dari balik kelopak-kelopak berwarna merah muda itu dengan was-was
‘Begitulah.’
Berlari menjauh dari bahaya, berdiam di tempat aman, itulah yang selalu sang dewi lakukan. Tentu saja ia tak bisa selamanya melakukan itu. Ada kalanya ia harus memulai sesuatu untuk mewujudkan yang ia inginkan. Itulah yang Sakuyahime lakukan di satu kunjungannya ke tempat Orochi tersegel, satu permintaan kecil yang dimintanya setelah menyampaikan kisah perjalanannya ke sang dewa.
“Kau memintaku untuk berpuisi?”
Sang dewi mengangguk. Orochi menatap sang dewi dengan tatapan menyelidik. “Kenapa puisi?”
‘Kamu, kan, suka berpuisi.’
“Memang benar, tapi kenapa sekarang?”
‘Kapan lagi? Aku sudah bercerita banyak padamu, giliranku sekarang untuk mendengarmu berpuisi.’
“Nah, itulah. Jika kau memintaku untuk bercerita, akan lebih masuk akal. Puisi… kau tak pernah meminta untuk mendengarkanku berpuisi sebelumnya.“ Sang dewa mendekatkan wajahnya ke sang dewi, terlalu dekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan “Apa yang kau rencanakan?”
Tidak nampak ekspresi apapun di kedua mata biru itu. Rona merah yang perlahan mekar di kedua pipinya tak dapat menahan sang dewi untuk balas mendekatkan wajahnya ke sang dewa.
‘Berpuisi lah, apapun yang bisa kau sampaikan kepadaku,’ pinta sang dewi. Bibir mereka hampir bertemu, nafas yang saling menyatu. ‘Sekali ini saja, demi aku.’
Sakuyahime masih bisa merasakan senyum itu di bibirnya, senyuman selembut kelopak bunga yang masih terbentuk ketika Orochi menjauhkan wajahnya dan mulai berpuisi,
‘Penanggung dosa dunia, wahai kalian domba para dewa …’
‧˚𓆝 𓆙𓆞˚‧
Sudah lama sejak terakhir kali Sakuyahime menapak tanah. Kakinya melesak ke permukaan pantai di setiap langkah, butiran-butiran pasir menggelitik dan memenuhi sela jemari kaki. Jika bukan karena ikan-ikan terbang yang dengan sabar mendorong sang dewi untuk bergerak maju, mungkin ia akan terus berlama-lama di pantai itu, saking sukanya akan sensasi yang asing baginya itu.
“Desahku nestapa, sehalus pendosa. Hatiku binasa, serupa debu fana.”
Ucapan adalah ketidakpastian. Ketidakpastian adalah hal tak berwujud yang paling sulit untuk diwujudkan. Namun bukan berarti itu mustahil untuk dilakukan. Hanya memerlukan cara tertentu dan perantara yang cocok untuk memberinya bentuk.
Dan perantara apa lagi yang mampu mewujudkan sebuah puisi selain sebuah suara yang mengumandang?
“Saat nyala penghakiman turun atas pendosa, maka tibalah hari Penghakiman Akhir; selamatkanlah kami semua.”
Sakuyahime merasakan berat familiar yang perlahan mewujud di kedua pundaknya. Ia tersenyum.
“Wahai dewa, selamatkanlah kami dari api yang menghangus tak berkesudahan.”
Kuasa sang dewi bekerja di setiap langkahnya menelusuri daratan tak berkehidupan itu, membentuk dan merajut wujud untuk setiap bait puisi yang sang dewi kumandangkan–puisi yang Orochi kumandangkan di hari ia terbebas dari segel pedang Ame-no-Habakiri, puisi pertama yang sang dewa sampaikan untuk memenuhi keinginan sang dewi.
“Wahai dewa, anugerahkanlah kami kasihmu yang tak terbatas, cintamu yang kekal, jadilah binasa penghangus dunia lama!”
Berat di kedua pundaknya kini terasa nyata, melingkari lehernya dalam lingkaran sisik-sisik halus. Ketika lingkaran itu bergerak… Sakuyahime menahan isak ketika ia menemukan satu, dua, delapan pasang mata yang menatapnya bingung, delapan lidah bercabang yang menjulur untuk mengenal lingkungan baru di sekitarnya.
‘Sakuya?’ Suara lembut yang sangat ia kenal, memanggil nama sang dewi dengan kebingungan yang kentara. ‘Dimana…?’
“Kau pernah bilang kalau puisi perlu mengembara.” Sakuyahime berbisik. Jemarinya menyentuh kepala-kepala mungil itu. “Harus ku akui, aku tidak yakin kalau cara ini akan benar berhasil. Tapi, yah, ada kali pertama di setiap hal, kan?”
Ikan-ikan pun mulai bergerak mendekat, penasaran akan makhluk baru yang sekarang berada di bahu dewi mereka. Ular kecil berkepala delapan itu mundur ke balik rambut Sakuyahime, agaknya terkejut didekati para ikan yang kini berukuran lebih besar darinya. Namun tak perlu waktu lama bagi sang ular untuk mulai mencoba menggigit ikan terdekat, delapan kepala yang menyambar ke segala arah.
‘Karena inilah kau memintaku berpuisi.’ Salah satu kepala ular kembali menatap sang dewi dengan pandangan menuduh. ‘Dan kukira kau benar-benar tertarik akan puisiku…’
Tawa sang dewi merekah. “Jangan begitu. Aku memang benar menyukai puisimu, sejak dulu bahkan.”
Kemana ia akan membawa puisi pergi? Ke tempat jauh, tentunya, bukan hanya ke dunia manusia yang penuh konflik angkara. Tidak, ada lagi tempat-tempat yang lebih jauh; terlalu jauh, hingga Sakuyahime sebelumnya hanya bisa menceritakannya kepada Orochi. Namun sekarang berbeda. Sekalipun hanya sebagian kecil dari kesadarannya, ular kecil ini masih bagian dari Orochi. Puisi yang mewujud dan menjadi wadah bagi kesadaran sang dewa untuk berkelana di luar belenggu.
Hanya sebagian kecil, namun lebih baik daripada tidak sama sekali.
Di atas mereka, langit tak berbintang meruah. Tangan sang dewi menemukan tepi kegelapan, menyibaknya layaknya sebuah tirai. Di baliknya adalah tempat-tempat jauh yang pernah Sakuyahime kunjungi dahulu sekali sebelum ia bertemu dengan Orochi: perpustakaan tak terhingga yang menjadi rumah maupun singgahan sejenak berbagai macam makhluk yang haus pengetahuan; semesta yang menjadi tempat tinggal seorang anak lelaki yang tangisnya menghancurkan dan menciptakan dunia, siklus yang terus berulang tak terhingga; sebuah planet kecil yang didiami oleh setangkai bunga mawar. Kenangan-kenangan yang membanjir membuatnya menyadari betapa rindunya sang dewi akan mereka yang pernah ia temui, membuatnya mengambil satu langkah ke depan…
…sebelum tersentak mundur, kedua tangan mencengkeram tirai agar menutup.
“Kalau kau mau, aku bisa membawamu ke sana dulu.” Sakuyahime meringis. “Tentunya kau merindukan dunia yang sangat kau cintai itu, dan kurasa memang terlalu cepat untuk-”
Salah satu kepala si ular menghentikan perkataan Sakuyahime, sisik-sisik gelap menyentuh bibir sang dewi. ‘Sekali pun benar aku merindukan dunia itu, kisah-kisahmu telah cukup untuk membawaku ke sana, bahkan ketika aku tak ada untuk menyaksikannya langsung.’ Kepala-kepala ular yang lain pun mengangguk untuk menyampaikan persetujuan.
‘Kita bisa mengunjungi dunia itu sekembalinya kita dari perjalanan. Tak peduli seberapa lama kita pergi, pada akhirnya kita akan kembali ke sini. Kamu pun sudah berjanji untuk membawaku mengembara, bukan?’
Sakuyahime mengangkat alis. “Aku tidak ingat pernah berjanji seperti itu.” Bibirnya mengerucut. “Tapi, karena kau sudah mengatakannya, kurasa aku tidak keberatan.”
Garis nasib tak lagi membawa puisi hanya ke hati sang kekasih. Kini mewujud, mereka dapat mengembara bersama, mencapai tempat yang belum pernah mereka jamah, menelusuri lembah dan gunung dan ngarai yang sebelumnya hanya dapat disaksikan melalui celotehan sang dewi.
Sang dewi pun menyibakkan tirai, dan membawa puisi pergi.
‧˚𓆝 𓆙𓆞˚‧
