Chapter Text
Untuk pertama kalinya selama seminggu, Ikebukuro akhirnya bisa lepas dari cuaca hujan. Sinar matahari yang terik menyinari para pejalan kaki dengan tanpa ampun, mengundang banyak keluhan meski sudah dibantu oleh angin kencang datang dari timur. Namun, beberapa ada pula yang berterima kasih karena mereka akhirnya bisa merasakan cerahnya langit lagi.
Terlepas dari apapun cuaca, Ikebukuro tidak pernah sepi. Para pekerja berlalu lalang dikejar waktu dan pekerjaan, memenuhi ruang depan stasiun. Toko-toko dan cafe tetap buka menghiasi setiap sudut kota. Para turis tetap berkeliaran, kebanyakan tertuju pada mall Sunshine City atau ke gedung Animate terbesar, atau mungkin hanya sekedar mengelilingi kota dengan penasaran, berharap bisa menemukan spot foto yang bagus.
Dan kota itu tidak pernah mati. Keanehan masih sering terjadi, diselubungi oleh keramaian. Keanehan itu bisa dalam berbagai bentuk, termasuk…
“BERHENTI KAU!”
Teriakan yang disusul oleh suara tong sampah terjatuh seketika menyentak para pejalan kaki. Yang tak mengerti akan berdiri dalam kebingungan. Namun, yang mengerti akan segera menggeser dan mencari tempat aman.
Untuk mereka, itu sudah merupakan kode bahwa ‘Bahaya tetap berada disini. Pertarungan yang terkuat sudah dimulai!’
Tidak ada yang berani mencari mati jika mereka merasakan kehadiran sang mesin petarung dari Ikebukuro, terlebih jika sedang dalam amarah dan mulai melempar berbagai macam barang besar yang mustahil untuk dilempar dengan mudah secara akal sehat.
Seperti; bagaimana kau akan menjelaskan ada manusia yang mampu mencabut tiang rambu dari tanah yang sudah disemen kuat dan melemparnya begitu tinggi seperti sedang melempar biji kuaci ke atas?
Dan barang besar itu bisa saja menimpa orang yang kebetulan sedang lewat. Tidak ada pula yang mau mati karena tertimpa mesin penjual otomatis dari langit, asuransi jiwa pun juga enggan menerima alasan segila itu.
“KUBILANG BERHENTI!”
Seketika, jalan yang akan segera menjadi arena pertengkaran itu mulai sepi oleh orang berhamburan ke tempat lain, menjadikannya sebagai jalur yang sempurna untuk berlari. Sang petarung kuat yang memakai baju bartender jadul dengan rambut pirang itu terus meningkatkan kecepatannya, mengejar seorang pria lain dengan jaket hitam. Penampilannya tampak tak se-mencolok si pengejar, tapi biasanya semua orang mengenalnya dengan jaket musim dingin berbulu angsa khas-nya.
“Shizu-chan benar-benar keras kepala! Padahal aku tidak melakukan apapun loh!”
“Omong kosong! Aku tadi melihatmu sedang bertukar informasi dengan orang! Skema jahat apa lagi yang sedang kau rencanakan?!”
Kejar-kejaran itu terus berlangsung, hingga akhirnya yang dikejar mulai dikalahkan oleh staminanya. Nafasnya mulai tersengal, dan ia pun segera menepi ke salah satu gang terdekat. Dalam kegelapan itu, ia langsung mengatur nafas dan duduk bersandar pada dinding. Wajahnya mulai memerah, dan keringat bercucuran pada dahi. Jantungnya berdebar dengan kencang; entah karena andrelina atau hal lain.
Namun, tempat persembunyiannya segera ketahuan. Tidak berlangsung lama kemudian, bartender pirang itu segera mencengkram jaketnya. Sengirainya melebar.
“Tertangkap kau, Izaya…”
Izaya menghela, “Aku tidak mengerti kenapa Shizu-chan sangat keras kepala. Bisa saja aku hanya menukar informasi biasa. Lagipula, aku juga mau pulang tapi kau malah terus mengejarku.”
Pria yang dipanggil Shizu-chan, yang sebenarnya bernama asli sebagai Shizuo itu hanya menyerngit. Lalu, ia mendekatkan hidungnya pada leher Izaya sebelum ia mendengus.
“Busuk.”
“Ya, oleh karena itu, bisakah kau melepaskanku sekarang?” Izaya mencoba untuk melawan tapi sungguh, Shizuo benar-benar seperti dinding terbuat dari baja. Susah sekali untuk didorong.
“Bodoh. Kau pikir aku akan membiarkanmu pulang ke Shinjuku dalam keadaan heat? Tidak, kau akan ikut denganku.”
Izaya mendengus, “Ke apartemenmu yang usang itu? Tidak mau. Aku hanya mau ‘sarang’ yang hangat dan rapi, bukan ‘sarang’ yang berantakan dan dingin.”
“Berhentilah berbicara.”
Izaya hanya bisa memasang wajah cemberut sementara ia dibawa oleh Shizuo dengan tak berdaya, layaknya seperti karung semen yang dibawa oleh seorang kuli.
“Shizu-chan kasar sekali. Padahal aku ini pasanganmu-”
“Diamlah.”
Izaya ingin sekali melanjutkan ejekannya, tapi tubuhnya sudah mulai melemah. Lebih tepatnya, gejala heat itu mulai menguat, menghisap seluruh tenaganya dan meningkatkan suhu tubuhnya. Ia hanya bisa membiarkan dibawa oleh Alpha-nya dengan tak berdaya.
Tidak ada seorang pun yang berani mempertanyakan kemana Heiwajima Shizuo membawa Orihara Izaya. Beberapa mengira informan itu akan segera dibunuh di tempat sepi, atau dikurung oleh sang monster Ikebukuro agar tidak lagi berkeliaran. Mereka terlalu segan untuk menelepon polisi karena takut akan dikejar balik oleh Heiwajima Shizuo, namun disaat yang sama mereka juga berfirasat bahwa Heiwajima Shizuo sendiri pun juga tidak akan menambah masalah lagi dengan polisi setelah menghancurkan berbagai macam fasilitas kota.
Akhirnya, rasa penasaran itu hanya mampu berkeliaran di seputaran forum.
Namun tidak satu pun asumsi dalam forum itu berhasil membuka tabir kebenaran, karena tak seorang pun juga menyangka bahwa kebenaran jauh lebih mengejutkan dari yang mereka bisa sangka.
Orihara Izaya tidak berakhir dibunuh, dilukai, atau dikurung oleh Heiwajima Shizuo.
Sebaliknya itu diperlakukan secara hangat di atas ranjang, bak seorang istri yang sedang dilayani oleh suaminya.
“Shi-Shizu-chan, pelan-pelan…”
Tentu saja mereka bukanlah seorang pasangan suami-istri atau kekasih. Hubungan mereka hanya berdasar pada satu gigitan yang mengikat mereka selama sepuluh tahun. Ikatan yang terjadi entah karena sebuah kesalahan atau karena sebuah skema jahat. Yang pasti, ‘kesalahan’ itu membuat dua orang yang saling bermusuhan ini malah terjebak dalam sebuah hubungan yang sangat kontradiktif.
“Salah sendiri kenapa kau malah berkeliaran di saat heat…” Shizuo menyentak pinggulnya sambil menahan tubuh di bawahnya menggeliat dengan satu tangannya. Lebih tepatnya, ia berusaha agar pasangan di bawahnya tidak berhasil kabur. “Seharusnya kau minum obat dan bersembunyi di dalam apartemen sialanmu. Bukan malah memancingku.”
Izaya terkekeh meski nafasnya sudah menjadi tak teratur. Bahkan sekedar menarik udara pun ia tak sanggup. “Shizu-chan tidak ada hak untuk mengaturku…”
Shizuo mendecak lidahnya. Kembali ia sentak pinggulnya, kali ini ia dorong lebih kuat hingga pria di bawahnya tersentak dan tak mampu menahan desahannya. Kemaluan sang omega sudah membasah, dibanjiri lendir serta ejakulasi yang baru saja datang.
“Shizu-chan benar-benar… s-seorang monster..!” Izaya tak mampu menahan desahan yang keluar. Dadanya semakin sesak, sementara tubuhnya terus digerakkan bagaikan sebuah boneka yang dikendalikan oleh berbagai tali, “Ku-Kurasa tidak ada a-alpha yang bisa mencium bau o-omega-nya sejauh i-itu…”
“...”
Shizuo terus menyentakkan pinggulnya, terus dan terus sampai akhirnya ia mengeluarkan air maninya dari ujung penis. Air itu memenuhi lubang vagina Izaya, memberinya perasaan hangat hingga mengalir sampai ke dalam rahim. Izaya pun secara tak sadar melepas helaan nafas lega. Tubuhnya lemas. Penglihatannya buram ditutupi air mata.
“...lain kali kalau kau dalam masa heat, telepon aku. Jangan berkeliaran di dalam Ikebukuro lagi…”
Tatapan dan nada suara hangat itu serta sentuhan Shizuo yang melembut.
Izaya benci semua hal itu.
Tapi ia sudah terlalu lemah, hanya bisa diam ketika telapak tangan Shizuo mengusap pipinya seperti orang rapuh.
Terkadang hal seperti ini yang membuatnya menyesal telah ‘memilih’ Shizuo.
Namun, terkadang ia juga merasa bahwa sama seperti manusia yang ia cintai, ia pun juga tidak bisa berlari dari takdir.
Ketika takdir menariknya ke Shizuo, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
