Actions

Work Header

Lonte Laboratorium

Summary:

•— Jaemin si lonte peliharaan di laboratorium.

Notes:

⚠️WARNING⚠️

PERHATIKAN TAGS SEBELUM LANJUT MEMBACA.

AUTHOR PERINGATKAN LAGI, JIKA INI HANYALAH CERITA FIKSI KARANGAN. JIKA PEMBACA TIDAK SUKA ATAU MERASA JIJIK DENGAN TEMA CERITANYA, SANGAT DIPERBOLEHKAN MENINGGALKAN LAPAK.

TERIMAKASIH.

HAPPY READING...

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jaemin kehilangan hitungan hari, bulan, bahkan tahun di laboratorium terkutuk ini. Andai saja saat itu Jaemin tidak menolak tawaran antar gratis dari temannya untuk mengantarnya pulang, pasti dia tidak akan menyentuh tempat ini.

Hari-hari Jaemin lalui dengan jeritan, tangisan, juga desahan kesakitan karena dirinya dipaksa melayani para pekerja di lab ini sekaligus menjadi bahan percobaan gila seorang Professor tua.

Jaemin ingat benar bagaimana jarum suntik menebus kulit dadanya, memasukkan cairan kuning kental yang Jaemin tidak tau apa itu. Namun yang pasti, beberapa hari kemudian, ia merasakan putingnya begitu gatal, dadanya terasa nyeri, hingga Jaemin harus meredakanya dengan garukan halus yang perlahan berubah menjadi remasan karena sensasi nikmat yang perlahan muncul.

Hari berganti minggu, Jaemin semakin yakin ada yang aneh dengan tubuhnya. Dadanya menjadi lebih berisi, benar-benar seperti payudara asli. Bahkan Jaemin beberapa kali meremasnya untuk memastikan.

Semakin bertambahnya minggu, buah dada Jaemin semakin membesar karena Professor gila itu selalu rutin menyuntikkan cairan seminggu sekali. Sekarang dadanya menjadi gumpalan daging yang terlihat besar dan penuh, begitu montok hingga rasanya berat.

Tubuh telanjangnya yang tak pernah terbalut pakaian sejak pertama kali menginjak kaki di laboratorium, kini tengah berlutut di lantai. Tangannya memegang kain yang dibasahi air untuk membersihkan lantai dari debu dan kotoran jejak sepatu para pekerja.

Kata-kata "jika ada yang mudah mengapa harus yang susah" seolah tak digunakan untuk dirinya di lab ini. Jika ada alat pembersih lantai, maka Professor lebih memilih Jaemin agar membersihkannya secara manual.

Jaemin menghentikan tangannya, ada sepasang sepatu pantofel hitam mengkilap berada di depannya, ia mendongak perlahan. Salah satu pekerja yang pernah ikut menggunakan tubuhnya.

"Udah selesai?" Tanyanya basa-basi walaupun ia tau Jaemin belum selesai dengan pekerjaannya, terlihat dari tempatnya berpijak sampai lorong di belakangnya yang lantainya masih kering.

"Kalo kerja jangan lelet, banyak orang butuh memek lo." Pemuda itu mencengkram dagu Jaemin, lalu melepasnya hingga wajah Jaemin terbuang ke samping.

"Ahk!" Kepala Jaemin mendongak dengan paksa karena jambakan kuat di rambutnya. "Sakit... Lepasin..." Lirih Jaemin sambil memegangi tangan pemuda itu.

"Lonte murahan ini udah berani ngatur, ya?" Bukannya melonggar, jambakan itu semakin menguat.

"Udah lah, Mark. Pake tinggal pake, ngapain disiksa segala." Celetuk seorang pemuda yang berjalan mendekati Mark, dia berhenti tepat di belakang tubuh Jaemin.

"Nih lonte kalo ga disiksa kurang afdol, Jen." Mark tertawa pelan, meludahi wajah Jaemin. Si empu hanya diam menerima, memberontak pun tak membuahkan hasil, malah semakin parah siksaannya.

"Habis ngelonte ke siapa lo?" Kaki Jeno yang terbalut sepatu pantofel menendang pelan pantat Jaemin saat melihat tetesan cairan putih di lantai, tepat di bawah pantat Jaemin.

Mark menguatkan jambakannya, Jaemin terlalu lama menjawab. "Ahk, iya! Chenle, aku habis ngelonte ke Chenle!" Jawab Jaemin cepat, setelahnya jambakannya dilepas dengan kasar hingga tubuhnya jatuh ke lantai.

"Hari ini susu lo udah di-pump?" Jeno berjongkok di depan Jaemin yang tengah melindungi kepalanya, takut-takut jika mendapatkan jambakan lagi.

"Belum." Jawaban Jaemin membuahkan seringaian di bibir kedua pemuda itu.

"Ayo." Mark tarik lengan Jaemin agar berdiri dan mengikuti langkah lembarnya menuju ruangan Jaemin yang tidak lebih dari sepetak ruangan dengan cat putih dan satu ranjang.

Di atas kepala ranjang ada sebuah lubang dengan selang yang ujungnya terdapat sebuah corong untuk menyedot puting Jaemin dan menghisap cairan putih dari dada montoknya.

"Pasang sendiri alatnya." Jeno tampar dada bulat Jaemin hingga warna merah samar tercentak. Dadanya yang montok memantul dengan sedikit tetesan cairan putih.

"Enggh, sakit..." Rengek Jaemin, dia bergerak membenahi posisinya, duduk di tepi ranjang. Tangannya yang gemetar mengambil corong yang melekat di dinding, menariknya hingga corong itu dekat dengan dadanya. Jaemin pasang corong itu dengan benar ke dadanya, sampai kedua dadanya sudah terpasang masing-masing corong penghisap. Ini adalah rutinitas dirinya sehari-hari untuk menyetorkan air susu yang entah digunakan untuk apa.

Sebuah tombol merah di dinding yang berfungsi mengaktifkan alat penghisap itu ditekan. Bunyi klik terdengar dan— "Eumhh..." Jaemin melenguh pelan, kedua dadanya terasa nyeri. Tetes demi tetes cairan putih itu melewati selang bening, dan berakhir di tabung penyimpanan susunya di ruangan lain.

"Nungging, sayang." Bisik Mark dari belakang tubuhnya, tangannya bergerilya meremas dada Jaemin. Si empu bergerak memposisikan dirinya menungging, pantatnya menyentuh penis tegang Mark yang masih terbungkus celana. Wajahnya pun kini berhadapan dengan selangkangan Jeno.

"Padahal susu lo tiap hari diisep sama anak-anak, tapi ga habis-habis." Mark perhatikan selang bening itu yang mengalirkan tetesan susu milik Jaemin.

"Ah!" Pekik Jaemin, pantatnya baru saja mendapatkan tamparan keras, dia yakin kulit pantatnya kini berwarna merah.

"Mau kontol?" Jaemin mengangguk antusias, pikiran warasnya seakan sudah direnggut setiap kali dirinya bercinta dengan para pekerja. Ia akan berakhir seperti lacur yang memohon dan menerima penis dengan senang hati.

Lidah Jaemin terjulur keluar, ingin menggoda Jeno agar pemuda itu segera mengeluarkan penisnya yang tak kalah besar dari yang lainnya. "Mau kontol, mau kontolnya Jeno..."

"Cari sendiri." Dengan begitu, Jaemin tubrukan wajahnya ke selangkangan Jeno yang masih terbalut celana, mengendus aroma jantan yang membuatnya semakin rakus mengendusi bahkan lidahnya ikut terjulur, menjilati fabrik Jeno.

Di belakang sana, Mark sibuk mengeluarkan penisnya yang sudah meneteskan precum. Ujungnya ia gesekkan di belahan vagina Jaemin yang sudah licin karena sperma Chenle.

"Memek lo bakalan lower kalo tiap hari ngelonte," Mark jilat bibirnya yang mendadak terasa kering saat lubang sempit itu terlihat melebar seiring dengan penisnya yang mendorong masuk. "Eungh, emhhh..." Kaki Jaemin melebar dengan sendirinya, seolah mempersilahkan Mark untuk menyetubuhinya.

"Licin banget memek lo." Penis Mark serasa dipijat dinding lubang Jaemin yang menyempit. Geramannya membuat si empu meremang.

"Ahk— Eungh!" Jaemin tidak sempat memekik kesakitan, karena selanjutnya Mark langsung bergerak menyodok dengan cepat sampai bunyi becek memenuhi ruangan. Sperma yang sebelumnya sudah mengisi lubang Jaemin, perlahan keluar karena dorongan penisnya.

"Ahhh— hahhh ahhh, eunghh!"

Tubuh Jaemin terhentak-hentak, dada montoknya pun ikut memantul. Pemandangan di depannya ini membuat Jeno semakin mengeras. Tangannya meraih dagu Jaemin, memperhatikan mimik sayu serta bilah bibir Jaemin yang merah menggoda tengah menganga dengan desahan merdu.

Kelopak mata Jaemin terpejam, menikmati urat-urat penis Mark yang terasa menggesek dinding lubangnya. "Ha-ahhh mmhh ahhh..." Kepala Jaemin menengadah dengan lelehan saliva menuruni sudut bibirnya.

"Hei, gue juga butuh lo puasin, lonte." Jeno menampar main-main pipi Jaemin dengan penis, meninggalkan jejak lengket precum di pipinya.

Merasa terpanggil, kelopak mata Jaemin kembali terbuka, maniknya langsung bertemu dengan benda tegang yang penuh urat-urat panas. Jaemin semakin dibuat panas melihatnya.

Bilah bibirnya terbuka, meraup kepala penis Jeno. Kepala naik-turun, melahap batang penis berurat itu sampai sepenuhnya tenggelam dalam mulutnya. "Shhh, ahhh... Pinter banget nih lonte." Helaian rambut Jaemin diremas, mendorongnya untuk semakin dalam memakan penisnya.

"Ungh! Uhuk! Uhhh!" Tangan kiri Jaemin memukuli paha Jeno, ia butuh oksigen secepatnya. Si empu tertawa pelan, menarik keluar penisnya, membiarkan Jaemin mengambil udara dengan rakus.

"Ahh! Nhhh mau pipis!"

"Baru juga digenjot, udah kencing aja." Mark berdecak kesal, ia cabut penisnya, membiarkan kucuran klimaks Jaemin keluar dengan derasnya seperti keran bocor sampai membasahi ranjangnya.

"Sini gantian, Jen." Mark berlalu dari tempatnya, berganti dengan Jeno yang tersenyum senang. Akhirnya dia mendapatkan gilirannya.

Tanpa perlu diperintah, Jaemin sudah lebih dulu memasukkan penis Mark ke dalam mulutnya. Kepalanya turun perlahan, melahap batang penis si pekerja itu hingga tenggelam di tenggorokannya.

"Shhh, pinter banget ini lonte." Jemari Mark meraih rambut Jaemin, merematnya kemudian mendorong kepala Jaemin untuk semakin melahap penisnya.

"Ugh! Umhhh!" Lidah Jaemin bergerak menyentuh batang penis Mark, membuat gerakan menelan yang mana si empu langsung mengerang.

Merasa diabaikan, Jeno mendengus kesal. Ia tampar pantat Jaemin hingga memerah, penisnya di dorong masuk sekali hentak. "Uhuk! Ugh!" Jaemin remas paha Mark yang mulai bergerak maju-mundur, menghajar mulutnya.

Jeno merendahkan tubuhnya, tangannya melepas alat di dada Jaemin dengan cepat. Tangannya menggantikan alat itu, meremasnya sambil terus menyodok lubang lapar Jaemin.

"Umhhh! Unghh!" Kepala Jaemin ditarik mundur, si empu buru-buru meraup udara dengan rakus. Bilah bibir Jaemin terbuka, mengundang Mark untuk meludahinya.

Bukannya merasa seperti direndahkan, Jaemin malah menjulurkan lidahnya, seolah meminta Mark untuk melakukannya lagi.

"Minta apa, hm? Kontol? Peju? Apa, lonte?" Mark jambak rambut Jaemin hingga mendongak, agar ia bisa leluasa melihat wajah sayu Jaemin yang begitu mengundang untuk dikasari.

"Memek lo enak banget, anjing! Fuck!" Maki Jeno di belakang sana, ia semakin menguatkan hentakan pinggulnya sampai kaki Jaemin bergetar.

"Eunghh ahhh Jenohhh..."

"Di sini ga cuma ada Jeno, sayang."

"Mmhh Mark, aku ahhh pipis! Pipis!"

Jeno menggeram, lubang Jaemin semakin menyempit. "Shh, jangan pipis dulu, tungguin gue." Pinggang ramping Jaemin dicengkram, digerakkan berlawanan arah dengan sodokannya.

"Ahh! Ahh! Aku nghh ngga tahan lagi!"

Tubuh Jaemin menggelinjang, paha bergetar, jemarinya meremas kain seprai dengan kuat hingga memutih. Bukannya merasa iba, Mark justru tersenyum jahat. Jemarinya yang masih menjambak rambut Jaemin menguat, si empu merintih dengan mulut menganga yang langsung Mark sumpal dengan penisnya.

"Umhh!" Manik Jaemin membulat, ia benar-benar kewalahan mengimbangi gerakan kedua pemuda itu. Belum lagi Mark yang ikut menggerakkan pinggulnya dengan cepat, ujung penisnya menabrak dinding tenggorokannya.

Lelehan saliva menuruni leher jenjang Jaemin, maniknya sayu, likuid bening ikut turun ke pipi tembamnya.

"Ahh, fuck! Gue mau keluar!" Sodokan Jeno semakin menggila, menghentak tubuh Jaemin maju-mundur dengan cepat.

"Lo mau peju kan? Haus kan? Minum nih peju gue! Lonte murahan!" Tangan Mark yang lainnya meraih dada Jaemin yang sedari tadi memantul memalukan, meremasnya hingga cairan putih merembes keluar.

"Memeknya makin ngetat, anjing! Ahhh, ahhh!" Jeno menyentak penisnya dalam-dalam, tubuh di bawahnya itu menggelinjang dengan mulutnya yang tersumpal penis.

"Unghh! Umhhh!" Paha gemetar, uretranya mengucurkan klimaks dengan berantakan, berjatuhan di ranjang dan lantai.

Mark menyusul, kepala Jaemin didorong hingga hidungnya menyentuh perut bawahnya, membiarkan tali-tali spermanya tertelan pemuda malang itu.

Jeno mencabut penisnya, melihat bagaimana spermanya menuruni belahan vaginanya yang terlihat memerah lalu menetes ke seprai putih yang sudah basah. Mark ikut mencabut penisnya, membiarkan Jaemin jatuh berbaring dengan lelehan sperma di sudut bibirnya.

"Baru segitu udah tolol? Kita belum selesai." Jeno tarik tubuh lemas Jaemin untuk berdiri, kedua lengan Jaemin ia buat untuk memeluk lehernya.

"Memek lo ga pernah puas sama satu kontol kan, kita kasih dua sesuai keinginan lo." Bisik Mark dari arah belakang Jaemin, cuping telinganya dijilat, semakin naik dan menusuk-nusuk lubang telinganya.

"Nnhh Mark, Jeno hhh mau kontol..."

"Lonte emang ga bisa mikir yang lain selain kontol." Jeno kecup bibir merah Jaemin yang masih tersisa sperma Mark.

Tangan kiri Jeno menyangga kaki kanan Jaemin, "Masukin, sayang." Anggukan kecil itu membuat Jeno tersenyum, jemari lentik yang sedikit bergetar meraih penis yang masih tegang, mengarahkannya ke lubang untuk masuk.

"Eungh..." Manik Jaemin terpejam, menikmati bagaimana ujung penis Jeno sudah menekan g-spotnya tanpa perlu usaha.

"Nhh Mark, ayo masukin..." Tangan kiri Jaemin bergerak meraih wajah Mark, menariknya untuk diajak bercumbu.

Bibir Mark melumat bibir atas dan bawah Jaemin bergantian, lidahnya menelusup masuk, membelai langit-langit mulut Jaemin, mengajak lidah si empu untuk saling membelit. Tangannya di bawah sana sibuk mengarahkan penisnya, menekan masuk untuk bergabung dengan penis Jeno.

"Ahhh, penuh banget..." Kepala Jaemin jatuh di pundak Jeno, lubangnya mulai ditusuk bergantian. Setiap Jeno menarik penisnya, maka Mark akan menyodok masuk, begitu terus bergantian hingga sodokan mereka semakin cepat.

"Ahhh hah, Jenohh, nggh Mark mhh..." Bibirnya diraup oleh bibir Jeno, melumatnya dengan ganas, sampai si empu melenguh. Lehernya pun menjadi sasaran Mark, bibir pemuda itu membuat beberapa kali menghisap dengan kuat, yang pasti akan meninggalkan bekas yang begitu kentara nantinya.

Jaemin terasa bingung, seluruh tubuhnya disentuh dan diberikan rasa nikmat yang tidak ada hentinya. Ia bersandar di bahu Mark, namun lagi-lagi bibirnya menjadi santapan. Jeno merunduk, bibirnya menggapai dada montok Jaemin yang putingnya terus mengeluarkan air susu sejak tadi.

"Nhhh iyahh Jeno, nyusu yang banyak eungh..."

Jemari Jaemin meremat helaian rambut Jeno, menekannya untuk semakin menghisap putingnya. Putingnya yang lain dikerjai oleh jemari Mark. Dipilin, ditarik, dipencet hingga air susu itu muncrat mengenai tubuh Jeno.

"Eunghh ahhh, enakk nhhh..." Likuid bening menuruni pipi Jaemin, stimulasi di tubuhnya terlalu berlebihan hingga dirinya menangis dalam kenikmatan.

"Sempitin memek lo," Bisik Mark, telapak tangannya menangkup dada Jaemin, meremasnya hingga pemiliknya memekik kesakitan.

Sodokan di lubangnya semakin cepat dan kasar, lubangnya semakin licin dengan precum dan cairannya pelumasnya. "Aku hhh ahhh mau pipis..."

"Pipis aja, sayang..." Jeno kecup pelipis Jaemin, mereka membiarkan Jaemin mengucurkan klimaksnya. Cairan itu keluar dengan berantakan, menuruni pahanya dan berjatuhan ke lantai.

"Nnhh!! Ahhh!!"

Tubuh Jaemin bergetar hebat, lubangnya semakin menyempit, membuat dua pekerja itu menggeram.

"Gue mau keluar!" Mark mengerang, membenamkan penisnya dalam-dalam, disusul Jeno yang ikut menyentak penisnya.

"Fuck!" Jeno memejamkan matanya, pikirannya terasa kosong, lututnya serasa bisa lemas kapan saja.

Jaemin mengerang pelan saat dua pemuda itu mencabut penisnya, meninggalkan rasa kosong di lubangnya yang masih basah. Kaki Jaemin diturunkan perlahan hingga menginjak lantai dengan benar.

Mereka membenahi pakaiannya tanpa peduli dengan Jaemin yang kini duduk di lantai dengan lemas.

"Thanks buat memek gratisnya." Jeno berlalu setelah berucap, mengejar Mark yang keluar dari ruangan lebih dulu, meninggalkan Jaemin dengan bekas dan jejak sperma.

 

 

 

— END —

Notes:

re-publish (sebab jari tolol author tiba-tiba pencet delete pas lagi edit🥲)