Actions

Work Header

Pandavva's Guide On Babysitting

Summary:

Hari itu harusnya menjadi hari libur bagi mereka. Kelima member berencana untuk menghabiskan malam di apartemen Sadewa. Sekedar beristirahat dan bersenang-senang setelah satu bulan penuh menangani kasus-kasus berat.

Bima baru saja menjemput Yudistira yang mengamen dipinggiran kota ketika ujung mata mereka menangkap orang-orang Qrawa menyeret seorang remaja laki-laki ke gang sepi.

______

 

Bagaimana jika kegagalan senjata kimia milik Qrawa tidak sengaja mengubah Yudistira menjadi bayi?

Notes:

Helooww
Ini bisa dibilang ff pertama yang kutulis dengan Bahasa Indonesia. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk menulis yang terbaik. Tapi.. jangan ragu memberikan saran kepadaku<3

This fanfic was highly inspired by my MTP fic "The Moriartys’ Guide on Babysitting". Idk why but I feel like this trope fits Pandavva so well

it’s just too adorable. I hope you enjoy it!

X/ @NightIgrid

Chapter 1: Chapter 1

Chapter Text

1

 

"Test..test.. Yudis kamu dimana?"

Suara Nakula terdengar terlalu lantang dari earpiece Yudistira hingga ia meringis kaget.

"Aku ada di gang dekat gedung bekas kantor pos lama" balasnya Pelan. Suaranya pelan dan berbisik agar tidak mengekspos keberadaan mereka.

"Juna udah jalan kesana. Kalian jangan gegabah." Nakula memperingatkan.

"Baik."

Hari itu harusnya menjadi hari libur bagi mereka. Kelima member berencana untuk menghabiskan malam di apartemen Sadewa. Sekedar beristirahat setelah satu bulan penuh menangani kasus-kasus berat.

Bima baru saja menjemput Yudistira yang mengamen dipinggiran kota ketika ujung mata mereka menangkap orang-orang Qrawa menyeret seorang remaja laki-laki ke gang sepi.

"Gangnya masih panjang dibelokan ini. Mereka ada disana." bisik Bima sambil menunjuk.. Punggungnya menempel ke tembok bangunan tua disudut gang sepi itu. Matanya mengintip dari bahunya berusaha mengamati apa yang dilakukan orang-orang Qrawa.

Di sampingnya, Yudistira yang berjongkok baru saja mengirimkan lokasi terkini mereka kepada Arjuna.

"Apa yang mereka lakukan?” tanyanya pelan.

“Aku nggak bisa dengar apa yang mereka bilang,” jawab Bima tanpa mengalihkan pandangan dari gerak-gerik para Qrawa.

Yudistira kemudian berdiri sedikit dan mencondongkan badan melewati Bima untuk ikut mengintip.

Dari posisi mereka, ia dapat melihat punggung 2 orang anggota Qrawa. Mereka mengenakan setelan jas hitam rapi yang dapat membuatmu berpikir kalau mereka adalah pekerja kantoran biasa dan bukan geng kriminal. Di hadapan mereka, remaja laki-laki yang tadi diseret itu tersungkur di tanah dan tampak memohon-mohon.

"Kita harus apa?" Yudistira bertanya.

"Mas Kula bilang jangan gegabah."

"Kalau mereka menyakiti orang itu gimana?"

Bima ragu sejenak "Aku juga gatau, ini kita gimana?" kali ini suara bisikannya mencicit panik.

"Kita ga bisa menunggu Juna kalau mereka menyakiti orang itu." Yudistira menengaskan.

Matanya menelusuri sekitar gang, mencoba menangkap denah tempat itu dan mencari celah agar mereka bisa mendekat tanpa terlihat.

"Kesana"

Ia menunjuk ke arah tumpukan gerobak tua dan kardus-kardus tak terpakai di ujung diagonal dari posisi mereka. Tempat itu cukup dekat dengan posisi Qrawa. Deretan gerobak tua yang besar juga cukup untuk menyembunyikan tubuh Bima.

Bima memberi isyarat setuju dengan anggukan kecil.

Mereka berdua secara bergantian kemudian perlahan menyelinap kesana. Tubuh merunduk rendah agar tidak terlihat. Dari posisi baru itu, mereka dapat melihat dan mulai mendengar dengan jauh lebih jelas apa yang dilakukan orang-orang Qrawa.

"T-tolong ku mohon..ak-ku aku tidak tahu dimana dia. AKU BERSUMPAH AKU BERSUMPAH" Jerit anak itu.

Salah satu anggota Qrawa mendang tubuhnya tanpa ampun. Tubuh remaja itu terpelanting sedikit dan ia langsung mengerang kesakitan. Pemandangan itu membuat Yudistira dan Bima seketika meringis ngilu.

“Kalau kau tidak membawa kami padanya,” kata salah satu dari mereka dengan suara dingin,

“akan kucabut kuku tanganmu satu per satu.”

“D-dia kabur dari rumah semalam… Aku benar-benar tidak tahu dia di mana,” remaja itu menjelaskan lagi.

Ia meringkuk di tanah, tangannya memegangi perut yang baru saja ditendang. Suaranya lirih, sarat menahan rasa sakit.

Yudistira tidak tahan mendengar semua ini. Dan ia sadar Bima pun merasakan hal serupa. Ujung matanya menangkap bagaimana tangan Bima mengepal kuat membuat seluruh tubuhnya sedikit bergetar.

"Hajar dia." Salah satu dari mereka berkata.

Kalimat itu seperti menjadi pemicu bagi mereka. Bima dan Yudistira saling bertukar pandang singkat.

Mereka tidak bisa tinggal diam melihat remaja malang itu dihajar habis-habisan.

Bima maju lebih dulu.

Ia dengan gesit melangkah keluar dari tempat persembunyian mereka. Sepatu beratnya menghantam aspal, menarik perhatian dua orang Qrawa yang itu.

Keduanya menoleh hampir bersamaan. Ekspresi mereka berubah seketika menjadi terkejut begitu melihat dua orang asing tiba-tiba muncul dari balik tumpukan gerobak tua.

“Apa—”

Perkataan pria itu tidak pernah selesai. Tinju Bima sudah lebih dulu menghantam rahangnya dengan keras. Tubuh pria yang bertubuh lebih besar itu terhuyung mundur beberapa langkah.

Di saat yang sama, Yudistira menerjang pria satunya lagi. Pria itu dengan cepat mengayunkan pukulan ke arahnya. Namun Yudistira mengangkat gitar yang masih tersampir di tubuhnya.

Duk!

Pukulannya menghantam badan gitar Yudistira. Getarannya menjalar sampai ke lengannya, namun setidaknya serangan itu berhasil ia tahan.

“Sial—”

Ucapan pria itu terpotong ketika Yudistira mendorong gitarnya ke depan dengan sekuat tenaga. Memaksa lawannya mundur beberapa langkah.

Di belakang mereka, remaja yang tersungkur di tanah tadi tampak terpaku sejenak, matanya membelalak melihat pertarungan yang tiba-tiba pecah dihadapannya.

“Lari!” teriak Yudistira tanpa menoleh.

Seolah baru tersadar dari keterkejutan, remaja itu segera bangkit dengan susah payah. Ia memegangi perutnya sebentar sebelum akhirnya berlari tertatih-tatih keluar dari gang.

“Oi!”

Pria yang berhadapan dengan Bima membentak begitu menyadari target mereka sudah melarikan diri. Ia dengan kesal mengayunkan tinjunya menghantam bahu Bima.

Bima meringis menahan pukulan itu. Namun tubuh besarnya yang kokoh tidak goyah lama. Tinjunya yang dua kali lebih kuat menghantam pria itu dengan telak.

Sementara itu Yudistira masih berusaha mempertahankan dirinya dibalik gitarnya. Tubuhnya tidak sebesar Bima dan tentunya jauh lebih kecil dari pria yang ia hadapi. 

Arjuna sebenarnya mengajarkan ia bela diri dasar untuk melindungi dirinya sendiri. Namun pria yang ia hadapi jauh lebih berpengalaman dan jauh lebih kuat dibandingkan dirinya. Yudistira tahu ia tidak akan menang jika bertarung secara langsung. Ia tidak punya pilihan selain mengorbankan gitarnya sebagai senjata.

Dibelakanh Yudistira, Bima akhirnya berhasil menjatuhkan lawannya.

Dengan satu gerakan cepat, ia menangkap pergelangan tangan pria itu dan memelintirnya keras ke belakang. Pria Qrawa itu langsung mengumpat kesakitan ketika tubuhnya dipaksa berputar.

Bima tidak memberinya kesempatan untuk melawan.

Ia mendorong pria itu ke depan hingga tubuhnya jatuh tertelungkup ke tanah, lalu menekan punggungnya kuat-kuat dengan lutut. Tangannya masih terpelintir di belakang punggungnya, terkunci di cengkeraman Bima.

Pria itu meronta dan mencoba melepaskan diri, namun tenaga Bima terlalu besar untuk dilawan.

Melihat rekannya sudah terdesak, pria yang sedang menghadapi Yudistira mulai panik.

“Brengsek!”

Ia mendorong Yudistira dengan keras.

Yudistira terhuyung beberapa langkah ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan. Dorongan itu seketika membuat kekesalan langsung naik ke kepalanya. Tanpa berpikir panjang, ia mengayunkan gitarnya ke arah pria itu.

Namun pria itu sudah lebih dulu bergerak. Ia menghindar dengan cepat, lalu berbalik hendak kabur keluar gang.

“Heh! Berhenti!” bentak Yudistira.

Ia langsung mengejar tanpa berpikir panjang.

Menyadari Yudistira berusaha mengejarnya, Pria itu menjerit panik. Tangannya disaat yang bersamaan, merogoh sesuatu dari saku jasnya.

Sebuah benda kecil berbentuk tabung tiba-tiba meluncur ke arah tanah, tepat di depan kaki Yudistira. Tabung itu menghantam aspal dan seketika meledak menjadi kepulan asap tebal yang menyembur ke segala arah.

Yudistira langsung berhenti melihat kumpulan asap tebal itu. Namun posisinya sudah terlambat. Asap itu menelannya. Ia tidak punya cukup waktu untuk memproses semuanya dan tanpa sengaja menghirup kumpulan asap itu.

"YUDIS!" Bima menjerit panik.

Kepanikan membuat ia lengah tanpa sadar. Pria yang ia tahan dibawahnya nampaknya sadar dengan kesempatan ini. Ia dengan sekuat tenaga mendorong kebelakang dan membuat Bima kehilangan keseimbangannya. 

Tubuhnya terdorong mundur sebelum akhirnya jatuh ke belakang.

Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh pria Qrawa yang tadi ia tahan. Pria itu segera melepaskan diri, bangkit, lalu berlari menyusul rekannya yang sudah lebih dulu melarikan diri keluar gang.

Bima melihat mereka kabur.

"Sial!" Geramnya.

Namun Bima tidak mengejar kedua Pria itu. Ia bergegas bangki dan berlari ke arah Yudistira yang seluruh tubuhnya sudah lenyap ditelan kepulan asap putih.

"YUDIS! YUDIS!"

Bima berusaha menerobos masuk ke dalam kepulan asap itu. Namun begitu asap mulai masuk ke paru-parunya, ia langsung terbatuk keras.

“Kh—kh!”

Dadanya terasa perih. Ia menutup hidung dan mulutnya dengan lengan, sementara tangannya yang satu mengibas-ngibaskan udara di hadapannya, berusaha menepis asap yang menghalangi pandangannya.

“Yudis…!” suaranya serak di sela batuk.

Ia terus melangkah maju sambil mengibas udara dengan tangannya.

Perlahan, kepulan asap itu mulai menipis.

Namun ketika pandangannya akhirnya sedikit lebih jelas, jantung Bima seketika terasa jatuh ke perutnya.

Yudistira tidak ada di sana.

Gang itu kosong.

“...Yu-yudis?”

Suara Bima berubah tegang. Matanya menyapu setiap sudut gang dengan panik. Berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Yudistira.

“YUDIS!?"

Kali ini teriakannya menggema lebih keras, dipenuhi kecemasan.

Tidak ada jawaban.

Jantung Bima berdegup kencang, begitu keras hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri berdentum di telinganya.

Ia berputar, matanya menyisir setiap sudut gang itu dengan gelisah, berharap menemukan sosok Yudistira di mana saja.

Namun tidak ada siapa pun.

Bersamaan dengan lenyapnya kepulan asap tadi, Yudistira juga ikut menghilang.Seolah-olah ia tidak pernah berada di gang sempit itu sejak awal.

Bima membeku di tempatnya. Untuk sesaat ia tidak bergerak sama sekali. Pikirannya kosong.

Ia tidak tahu harus melakukan apa.

Tangannya naik mencengkeram kepalanya sendiri, jari-jarinya menekan rambutnya kuat-kuat seolah mencoba memaksa otaknya bekerja. Namun kepanikan membuat otaknya penuh dan menolak untuk bekerja.

“..Sial…” Napasnya memburu.

Matanya kembali menyisir gang sempit itu dengan gelisah, berharap menemukan jejak Yudistira.

Namun tidak ada tanda apapun yang berhasil ia tangkap.

Lalu tiba-tiba, Bima mendengar suara kecil dari bawah kakinya.

 

 

"Mwaa..uhhh"

 

 

Bima tersentak. 

Ia dengan cepat menunduk ke arah suara itu berasal. Matanya membelalak begitu menangkap tumpukan pakaian yang seharusnya dikenakan Yudistira tergeletak di tanah begitu saja. Mulai dari celana, kaos nya yang compang-camping itu, dan jaketnya. Gitar kesayangan Yudistira yang tadi ia gunakan untuk melawan Qrawa pun tergeletak tak jauh disampingnya. 

Namun bukan itu yang membuat Bima terpaku.

Dari bawah tumpukan pakaian itu… ada sesuatu yang bergerak.

Alis Bima berkerut dalam kebingungan.

Ia perlahan berlutut di tanah. Tangannya terulur ragu-ragu sebelum akhirnya meraih jaket Yudistira yang menutupi tumpukan itu.

Dengan hati-hati, ia mengangkat kain tersebut. Dan apa yang ia temukan di balik jaket itu seolah membuat jantungnya berhenti berdetak.

Seorang balita kecil terbaring disana. Setengah tubuhnya terbungkus sisa pakaian yang terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Rambutnya kusut, pipinya bulat, dan kedua tangannya bergerak pelan seolah masih berusaha keluar dari tumpukan kain itu.

Balita itu menatap Bima dengan mata besar yang tampak… sangat sangat familiar.

 

“bwaa… a..ah"

Ocehan kecil keluar dari mulutnya.

Bima membeku. Pikirannya seperti berhenti bekerja lagi.

Tatapannya berpindah dari wajah balita itu… ke pakaian Yudistira yang berserakan di lantai… lalu kembali lagi ke mata anak kecil di hadapannya.

Napas Bima tercekat.

“YUDIS!?” Ia menjerit panik.

Balita itu tersentak begitu mendengar teriakan Bima.

Wajah kecilnya langsung berkerut sebelum ia mulai sesegukan pelan, napasnya terputus-putus seperti hendak menangis.

Sementara itu Bima... yah, 

Dia benar-benar sudah kehilangan akal.

Ia tanpa sadar mundur satu langkah dan hampir tersandung kakinya sendiri.

“HA...A...HAHHHHHH?!”

Matanya membelalak besar hingga terlihat nyaris konyol. Sekali lagi, ia menatap balita itu, lalu menoleh ke tumpukan pakaian Yudistira di lantai, lalu kembali lagi ke balita itu.

"GIMANA !?? APA IN— INI APA!?"

Ia menunjuk balita itu dengan jari yang gemetar.

Bima mencengkeram kepalanya sendiri. Ia menggeleng cepat, seolah mencoba menolak apa yang dilihatnya.

“GIMANA BISA BEGINI!? MEREKA LEMPAR APA KE KAMU TADI?"

Bima seketika berjongkok di tempat, kedua tangannya terangkat kaku di udara seolah tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya sendiri.

Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, seolah mencoba menolak apa yang dilihatnya.

Balita itu hanya menatapnya dengan mata besar.

bwa…?”

“JANGAN ‘BA’ KE AKU!” Bima tanpa sadar menjerit panik.

Tangannya langsung mencengkeram rambutnya sendiri.

“Ini ga masuk akal! Apa yang mereka lempar  tadi!?”

Balita itu malah sesegukan lagi.

Eh… eh…”

Bima langsung membeku.

“Eh, jangan, jangan nangis.. Dek, jangan nangis—”

Ia buru-buru menurunkan tangannya, kini benar-benar berjongkok di depan balita itu dengan wajah panik. Rasanya ia sendiri juga seperti ingin menangis karna kegilaan ini

“Dek jangan nangis...” Ia memohon. Kali ini suaranya mencicit.

Namun Yudistira sudah menangis kencang sekarang. Kedua tangan kecilnya mengepal erat dan wajahnya mulai memerah ketakutan.

“Bima! Yudis!”

Suara lain tiba-tiba terdengar dari ujung gang tempat mereka datang tadi. Bima langsung mendongak begitu mendengar suara itu.

Dari belokan gang, Arjuna akhirnya muncul, berlari ke arah mereka. Napasnya terengah-engah seolah ia baru saja berlari dari kantor Azure sampai ke sini.

“Mas Junaaa…” Bima memanggil lirih.

Matanya kini benar-benar berkaca-kaca.

Rasa lega langsung menyapu dirinya saat melihat Arjuna datang.

Arjuna mempercepat langkahnya, napasnya masih berat akibat berlari. Namun begitu ia sampai di dekat mereka, langkahnya pun perlahan melambat.

Matanya menyapu pemandangan di hadapannya.

Bima berjongkok dengan wajah panik.

Pakaian Yudistira berserakan ditanah

Fitar milik Yudistira terguling di sampingnya.

 

Dan..

 

Seorang balita kecil sedang menangis kencang di hadapan Bima yang berjongkok.

Arjuna berhenti.

Kali ini dia benar-benar berhenti.

Selama beberapa detik ia hanya menatap pemandangan itu tanpa berkata apa-apa.

Alisnya perlahan berkerut.

“…Bima.” Ia berkata dengan nada suaranya datar. Sangat datar.

“Kenapa ada bayi di sini?”

Bima langsung menoleh padanya seperti orang yang baru melihat penyelamat hidupnya.

“Itu YUDIS!” pekiknya hampir histeris.

Tangannya langsung menunjuk balita yang sedang menangis itu seakan bayi itu adalah kriminalnya.

Arjuna terdiam lagi. Otaknya berusaha memproses apa yang baru saja ia dengar. Tatapannya perlahan turun ke arah balita tersebut. Lalu kembali ke Bima.

"......Apa?”

“Itu YUDIS!” Bima mengulang dengan suara hampir pecah. “Mereka lempar sesuatu tadi! Terus ada asap! Terus, terus dia hilang! Terus tiba-tiba—”

Ia menunjuk anak kecil itu lagi dengan panik.

“ JADI ITUUU!”

Balita itu malah semakin keras menangis.

Bwaaahhh!”

Bima langsung panik lagi

“EH! JANGAN NANGIS DEK, TUNGGU— MAS JUNA DIA NANGIS!”

Arjuna benar-benar tidak tahu siapa sebenarnya yang sedang gila di sini.

Mulutnya sedikit ternganga saat ia kembali menatap balita di hadapannya. Matanya kemudian beralih sejenak ke arah Bima yang masih terlihat seperti orang yang baru saja mengalami keruntuhan mental.

“…Bim” gumamnya datar, seolah masih mencoba mencerna semuanya.

Namun tangisan balita yang semakin keras itu memotong pikirannya.

Dengan ragu ia berlutut mendekat. 

Begitu Arjuna berada lebih dekat, balita itu langsung menyadari keberadaannya. Tangisnya masih tersendat-sendat, tetapi matanya langsung tertuju pada Arjuna.

eeeh… ah…”

Diantara sesegukannya, kedua tangan mungilnya terulur ke arah Arjuna. Seolah meminta digendong.

Arjuna membeku sesaat melihat itu.

Tatapannya jatuh pada wajah kecil tersebut. Pada sepasang mata yang terlalu ia kenal.

Sebagaimanapun ia tidak ingin mempercayainya, mata itu tidak mungkin salah ia kenali.

Arjuna mengusap wajahnya dengan telapak tangan, seolah mencoba menyadarkan dirinya sendiri dari situasi yang terasa tidak masuk akal ini. Lalu ia menoleh pada Bima yang masih terlihat gelagapan di sampingnya.

"Ini beneran Yudis ya?" Ia bertanya datar. 

Bima hanya bisa mengangguk dengan matanya yang masih berkaca kaca. 

Arjuna menarik napas dalam-dalam.

Sepertinya tidak ada lagi gunanya menyangkal apa yang sudah jelas ada di depan matanya.

Dengan hati-hati ia meraih balita itu dari tanah. Tubuh kecil itu terasa ringan saat Arjuna mengangkatnya. 

Begitu berada dalam pelukannya, kedua tangan mungil Yudistira langsung mencengkeram baju Arjuna dengan kuat. Seolah mencari sesuatu untuk berpegangan.

Balita itu membenamkan wajahnya ke dada Arjuna, mengusap-usapkan pipinya ke kain baju itu sambil masih sesenggukan kecil. 

Arjuna menahan napasnya sejenak. Tangannya tanpa sadar bergerak menepuk-nepuk punggung kecil itu dengan pelan. 

Ini benar-benar terasa nyata dan tidak disaat yang bersamaan.

“Dah… sudah. Jangan nangis” gumamnya lembut.

Tangisan Yudistira perlahan mereda, hanya tersisa napas kecil yang masih tersendat-sendat di dadanya.

Arjuna lalu mengangkat pandangannya ke arah Bima.

 

"Kita pulang dulu."