Work Text:
Was in the same universe as Seakeen’s Backstreet AU by Asha on X. This part can be read as standalone. Enjoy.
“Kak, masih rapat?”
Sea menggeliat di kasur kecil milik pacarnya, sudah dua kali ia terbangun tetapi pacarnya itu belum kunjung menyelesaikan rapat mentoring penelitian untuk adik tingkatnya. Sea sih kesal bukan main karena harusnya ia yang dapat jatah bermesraan berdua dengan Keen hari ini. Malah berujung ia bergelung sendiri di atas kasur yang lekat dengan aroma pacarnya tanpa bisa curi-curi kecup di kulit mulus pacarnya itu.
“Sabar ya, bentar lagi, anak-anak lagi revisi roadmap.”
Huft. Sea menganggu, mencoba paham. Pasalnya mereka nyaris tidak punya waktu lagi selain hari ini, karena Sea akan full kuliah dan meluangkan waktu untuk menghadiri kursus tambahan di luar jam perkuliahan.
“Gue balik kamar aja ya? Ngantuk.”
Bohong, sebenarnya ia sangat segar karena habiskan 2 jam untuk tidur. Ia hanya ingin kembali ke kamarnya dan main game. Toh kakaknya sama sekali tidak menggubris kehadirannya disini. Gagal sudah rencana nonton film baru dengan IMDb rate yang tinggi itu sambil peluk-pelukan.
Keen menggeleng. “Jangan balik lah, bentar ya.” Ia ucap ini seraya menoleh dan mencebikkan bibir ke arah Sea.
“Guys, kalian bisa diskusi dulu ya, gue izin offcam bentar.”
“Kak tapi abis kami ngerjain kakak tetep bisa feedback ya? Maaf banget ngerepotin.” Terdengar suara samar sambungan zoom meeting yang menanyakan konfirmasinya.
“You guys finish it first.”
Lalu Keen mengecilkan volume perangkat laptopnya. Ia juga lepas satu TWS yang nangkring di telinganya, satunya ia biarkan tersambung agar ia bisa mengdengarkan jikalau namanya dipanggil nanti
“Hei, maaf ya? Gue beneran gak tau kalo selama ini.” Sea kemudian menggeram kecil. “Alasan tau, Kak. Lo kalo gue gituin juga pasti langsung memble.”
Benar juga. Keen tidak pernah bisa melihat prioritas lain bertengger lebih dalam di dalam list hidup Sea, kecuali hal-hal krusial seperti keluarga dan pendidikan sih. Sea dan kesabarannya yang seluas samudra ini mungkin pantas diberi kecup.
“Sini coba, Sea.”
Sea berjalan kecil, berdiri tepat di hadapan pacarnya yang sekarang mendongak dan menolehnya. Sea jadi tidak tega karena pacarnya ini sudah bergaul dengan laptop sejak berjam-jam yang lalu.
Keen mengalungkan tangannya di putaran pinggan Sea. Duh, lemes. Ini sih isi hati Sea yang lain karena jarang sekali dia liat sisi Keen yang tiba-tiba clingy ini. Biasanya sih kalo mereka mau ciuman baru dia patuh bak anjing pada pemiliknya.
Ngomong-ngomong soal ciuman… boleh gak sih Sea cium pacarnya ini sekarang?
“Maaf ya, jangan pulang tapi… ngapain sih… kan udah kelar tugas lo…”
Itu ucap Keen ketika ia memeluk erat lingkar pinggang Sea.
“Iya gak pulang.” Sea terkekeh kecil. “Tapi gue gak mau goleran di kasur lo, udah pusing kepala gue tidur terus.”
“Yaudah sini aja sama gue.”
“Gimana? Orang kursinya aja cuma satu?”
“Gue kan juga kursi?” Keen mendayu. Nada bicaranya berubah 180 derajat hingga Sea rasa kepalanya kosong melompong.
“Kakak mau gue dudukin?”
“Kayak mau aja lo.”
“Kakak, becareful with your words…”
“Why should I?”
Keen’s eyes never show any hesitation in this, not when he can clearly see how Sea’s panicking over his words. He loves to tease his boy.
But one thing he doesn’t know yet, Sea’s grown adult after all. He starts putting his legs between Keen’s. Menduduki dua paha Keen yang masih mengadap layar zoom meeting yang menampilkan adik tingkat mereka berdiskusi roadmap pelaksanaan pengabdian dan penelitian.
Keen melalak, dia tidak pernah siap dengan hal-hal yang di luar prediksi. Maka pegangannya melonggar ketika Sea maju dan memeta bibir bawahnya. Pelan dan hikmat. Keen tau sih jika Sea ini memang pemuja nomor satu dirinya. Keen knows that everything about him is driving Sea crazy. And he likes the idea of Sea praising him in between their kisses.
“Your lips, always been good. Lucky me…”
Satu patahan ciuman. Sea lanjutkan lagi mencium hebat bibir tebal kekasihnya, atas, bawah, bergiliran seakan itu adalah hidangan lezat yang memang pantas untuk dimakan sepanjang hayatnya.
“Kak, so sweet, manis…”
Go on, hancurkan saja Keen dengan semua kata-kata itu. Kepalanya sudah kopong tidak bisa berpikir lagi—karena yang benar saja? Masa seorang Keen sange karena dipuji pacarnya pas ciuman begini sih? Duh….
Oh, uh. Keen benar-benar tidak tahan. Maka di tengah-tengah ciumannya, dia meloloskan beberapa erangan, ada yang keras, pelan, apapun yang dapat menyalurkan kekacauannya sekarang karena Sea sudah berkunjung ke ujung putingnya dari luar sana.
“Ah, Sea!”
Terhalang fabrik tipis kaosnya, Sea sebenarnya hanya menduga-duga dimanakah ia bisa daratkan telapaknya yang sama hausnya dengan dirinya. Berakhir ia mainkan dada kiri Keen dari luar bajunya.
“Uhm, yes…”
Keen membusung atas friksi nikmat yang diberikan kekasihnya. Ia lagi-lagi terkejut, tetapi kali ini ia tidak menolak, sensasi gesekan kaos dengan puting sensitifnya bisa-bisa antarkan dia ke surga dunia paling tinggi se-angkasa raya.
“Go on, Sea. Do me.”
Of, course, consent is a must. Sea menggemul pada ciumannya, lagi, dengan Keen, karena ciuman adalah bagian favoritnya ketika mereka bercinta. Sepantasnya.
Namun bisakah itu disebut pantas ketika yang Sea lakukan adalah mengecup dan melumat leher dan jakunnya? Sungguh gila, rasanya bibir Sea bisa saja turun kapan saja dan menciumi seluruh tubuhnya.
Keen never refuses. He always lets Sea do whatever he wants to him. The trust between them runs so deep that Keen can’t help but believe in him completely. Their trust bond is so strong that he couldn’t help but believe that everything Sea does with his body will ended up makes him coming undone in the most dear and lively way possible.
“Haahnhnn, Sea!” terpekik ia ketika Sea malah bergerak tepat di kemaluannya, gila, gila, apa Keen boleh minta ia mulai sekarang juga?
“Kak, you’re hard.”
“Logically it’s normal to react this way if you keep licking all over my body and playing with my nipples.”
Sea couldn’t help but laugh. He keeps brushing his private against Keen’s. Menyalurkan panas tubuhnya di satu titik nasfsu mereka.
Ciuman mereka menyatu kembali, selayaknya ingin, Sea gerayangi semua inchi dari mulut Keen di hadapannya. Dan seketika air liur merembes diantara bilah bibir mereka. Disusul oleh kecipak basah yang mengudara menandakan pergemulan mereka sekarang.
“Uhmnmmm, you like it, no? Kakak always likes it when I praise you while we’re kissing or fucking.”
“No don’t say that.”
“Why?”
Tangan Keen menyerobot tubuh Sea yang menghalang, “Uhm guys... sorry couldn’t open the cam, oke, uhm, gue baca dulu ya.”
Oh.
Oh.
Sea keeps pushing his agenda, rubbing his dick against Keen’s. Dalam jarak sedekat ini Sea dapat dengar dengan jelas engahan nafas yang sengaja ditahan karena Keen harus membaca beberapa revisi adik tingkatnya itu. Cantik, selalu cantik dalam kondisi aneh dan nekat seperti ini.
“Hati-hati ke unmute.”
Terdengar seperti kecaman daripada peringatan, kepala Keen rasanya mau pecah saja ketika ia merasakan badannya lemas dan otaknya tidak bisa berpikir. “Yaudah kali ya mungkin udah bener mereka kerjanya.” pikirnya kala itu.
“Good already—guys. Uh! Mungkin tambahin detail peran kalian masing-masing setiap fasenya. That’s.”
“Kak Keen are you okay?”
“I'm OK guys.”
Tombol mute kembali ditekan. “Sea, calm down, I still have meeting.”
Membuat Sea berhenti sepenuhnya. “Say what you wanna say on the cam first, Kak.” Ia menjauh sedikit biarkan Keen membuka kamera, niatnya untuk menyudahi meetingnya kali ini.
“Guys, Hai,”
Gila, andai dunia bisa melihat betapa Keen dipenuhi dengan kata merah jambu pada titik-titik manis wajahnya. Kamera jelas tidak berbohong ketika Keen melihat ujung hidung, mata, dan bibirnya membengkak dan memerah. Aduh gini banget sange pas lagi mentoring.
“I’ll leave the meeting ya…”
“KAK, WAIT, MASIH ADA PPT TADI.”
Shit.
“Yaudah, kalian jelasin aja tapi gue izin offcam ya.”
“Oke, Kak.”
Sial. Dia sudah setengah ereksi seperti ini tetapi masih harus lanjutkan meeting sialan itu?
“Kak, you serious?”
“Bentar, masih bisa humping ‘kan tapi?”
Sea menghela nafas, kepalanya sudah tidak sabar mewujudkan fantasi paling mewah yang isinya ada Keen itu.
“Kak, kakak dudukin aku aja, gantian, biar gak pegel.”
Sea menarik Keen perlahan, semua sentuhan yang bersinggungan dengan Keen. Ia memeluk Keen dari belakang hingga Keen dapat terduduk manis di pahanya dan membelakanginya. Kali ini ia memutuskan sambungan TWS pada laptopnya. Membiarkan Sea turut mendengar percakapan bermutu adik tingkatnya di layar itu.
“Hei, sekarang siapa yang gak calm down? Gerak-gerak terus emang gak takut ketahuan sama adek tingkat kamu?”
“Hmhmm, gak mungkin.”
Fool.
“Okay, you can move all you want, Kak. I can handle you.”
Sea merasakan gerakan tidak teratur menggoda antara paha dan perutnya. Keen menggerakkan bokongnya di antara titik nikmat itu. Sea yakin, ia dapat merasakan lembut dan halus permukaan sintal itu jika saja dia bisa menyentuhnya sekarang.
Lagi-lagi fantasi terhebatnya bertuan kekasihnya. Sea menyusupkan tangannya pada balik kaos Keen, menjamah perut dan area dada yang terpahat sempurna pemberian mahakuasa. Sea kecup punggung dah bahu Keen dari belakang. Sungguh dia cinta sekali dengan kakaknya ini.
“Coba elemennya dikurangi, dicari gambar yang—uhm—relevan dengan setting penelitiannya.”
Keen menahan desah pada potongan kalimatnya. Ia melengkung sekarang, ujung pantatnya menodong dalam hingga Keen bisa rasakan dengan sangat jelas jika milik pacarnya sudah mengeras. Jelas.
Sea also slips his hand all over his body, Keen loves the way he touches himself so Keen doesn’t have to do the work. Keen lives to be treated as the queen. Keen loves it…
As Keen moaned his name, Sea’s erection was impossible to hide. He quickly pulled Keen forward a little, creating space so he could touch himself, since Keen’s stimulation didn’t seem to help him much.
“Bentar, Kak, maju dulu, aku gatahan.” And he lets his dick out. Menggenggam batangnya sendiri, naik turun, ditekannya pucuk hingga ia mendengar suara samar berbicara dengan meeting di layar, "Kak, maaf ya kalo kena pantat kakak."
Ya, terlambat, Keen merasakan kealanya berfantasi liar menggambar penis Sea dalam saraf otaknya. Coba saja liat miliknya yang menyedihkan di bawah sana turut bereaksi karena di belakangnya Sea melolongkan desah, "Ah!" "Ugh!" "Mhmnmm, enak!" Berulang kali.
“Guys, aku ada yang dikerjain, lanjut aja ya, nanti finishnya bisa kirim aja ke chat.”
Dan mematikan layar sehabis ia pencet x pada layar.
Keen kira dengan ia usaikan kegiatannya meeting itu, Sea akan mengajaknya mengurut ujung miliknya. Atau mungkin meminta Keen mengulum semua milik Sea, tentu ia tidak keberatan. Namun yang dia dapatkan hanya Sea yang menahan punggungnya agar tidak merapat hingga Sea bisa ngocok sendiri.
“Sea doesn’t love me anymore?”
Sea yang mengejar puasnya sendiri bingung, this is first time Keen ever talked with that tone and surprisingly, “No, kakak sayang. I love you.”
“Why did you pull me away?”
“Eh?”
Keen might seem cold and tough on the outside, but deep down he is downbad, too sensitive for his own good and always ready to beg when he really wants something.
“Sea doesn’t want me anymore?” pertanyaan yang terasa seperti tuduhan itu membuat kupingnya panas.
“No, kakak sayang. I want you.”
“Terus kenapa berhenti?”
“Kakak lagi meeting.”
“Iya lagi meeting, but did I tell you to stop?”
Sea menggeleng, dia hanya menyuruh untuk calm fucking down.
“Oh,” Sea mengerti. “I could open the camera and record you if you want.”
Sea bisa rasakan sesuatu menegang, Keen mungkin terkejut karena sekarang dia tubuhnya bereaksi kembali seakan tersengat listrik. Keen terkejut sih walaupun memang itu yang dia mau, Keen tidak pernah keberatan dengan apapun yang dilakukan Sea padanya, dia suka mencoba asalkan itu dengan laki-laki favoritnya.
Sea menjulurkan tangannya, menekan tombol kamera di dalam laptop milik Keen. Keen masih di pangkuan Sea ketika ia melihat fitur wajah Keen memerah dengan jelas.
“Kak, look at your face, so pretty for me only. For me to watch, for me to see, for me to have. Gak pernah kepikiran di kepalaku kamu bakal semerah ini kalo lagi needy.”
“Aku bakal lebih merah lagi kalo dimasukkin sama kamu."
Gila. Hilang akal, keduanya yang sering dapat nilai nyaris sempurna sekarang kehilangan akal total. Sea menekan dua putingnya hingga Keen memekik—disusul dengan desahan cantik ketika Sea secara pelan melepas pakaian Keen. Hingga buatnya telanjang dada telak di depan kamera.
“Liat depan, Kak. So pretty kalo lagi telanjang.”
Keen loves the praise. “Angh! Sayang jangan ngomong gitu!”
“Yang di bawah juga udah basah ya?”
Keen mengangguk, duh kalo bisa pipis pun pipis dia sekarang.
“Look so fierce outside but, get you... I get the chance to looking at you... beautiful like this…”
Keen pasrahkan badannya yang kian melengkung mengikuti irama hentakan tempat duduknya. Ia loloskan desahnya ribut, nyaris bergema di dalam kos-kosan berpetak kecil itu. Ia harus tenang jika tidak mau ketahuan—persetan sih, toh dua kamar sampingnya juga kosong. Tapi gila saja dia sudah sangat pasrah menerima stimulasi asal dari pacarnya yang penting dia enak!
“Udah lemes kah sayang?” Sea menahan Keen yang merelakan tubuhnya untuknya. Ia tergeletak di atas pangkuan Sea, sedangkan Sea down right here taking care of him so well. Diurut, dikocokin, diteken-teken, ugh. walau masih berbalut celana kain bercorak gajah mihu-mihu itu, semuanya terasa enak ketika Sea mulai menggerayanginya dengan tangan besarnya.
“Belum, mau sam—pe, AHHH! Sea enak banget!”
“Sampe apa. Kak?”
“Sampe keluar akunya, ya? Mau kamu.”
Sea tersenyum kecil. “Kamu udah keluar bukannya, nih rembes di tanganku.” Yang sontak dibalas gelengan oleh Keen. Bukan itu maksudnya!
“Aku bisa lanjut!”
Tuh, lihat saja bagaimana tone bicaranya berubah dari gue lo menjadi aku-kamu tanpa Sea harus meminta.
“Kamu masih bisa aku dudukin ga kak?” Sea bertanya asal, jujur saja Keen tidak terlalu bisa mikir pada saat yang seperti ini. “Kalo mau kita pindah ya, pindah ke kasur biar kakak gak pegel.”
Dan Keen hanya mengangguk kepayahan.
Dengan sigap, ia membopong Keen yang sudah sangat kepayahan, ia lihat ujung kelaminnya mengeluarkan cairan putih. Udah keluar aja masih minta dienakin, kak. Batinnya.
“Kak, relax. Took off your pants ya and I’ll take the lube and condom in your drawer, sebentar.” Keen lepas celana bawahnya dan Sea melempar kain itu asal, beberapa sudah basah karena cairan Keen yang kemana mana. Dirinya sudah telanjang pun Keen yang sekarang terlentang cantik di bawah sana sembari mengepit penisnya—yang sepertinya tidak berguna karena Sea sudah melihat tubuh cantik merona itu berkali-kali.
“Kok gitu sih?”
“Malu!” Sea menggamit tangan Keen, mengecupnya pelan. “Udah pernah aku rmut juga, masih malu gitu.”
Tuh kan, kurang ajar. Sea hanya terkikik geli ketika Keen protes sambil cemberut, ia lanjut memalingkan wajahnya karena kepalang malu. “Look at me, Kak.” Ucapnya sembari memeta gamitan pada dagu sang submisif. Ia mencium kembali pacarnya hingga ia bisa rasakan Keen mencoba mendorong ujung bibirnya, meminta agar Sea lakukan sesuatu pada daging kenyal paling cantik kesukaan Sea.
“Keen…” Gila. Sea called his name without Kak is the death of him. Ia membelai pipi merah muda itu lembut. Cium, kecup sampai ia hinggap ke dada dan perut rata kekasihnya. Lalu turun di paha dalam milik Keen. Yang lebih tua sudah kepalang malu membiarkan penisnya menegang mencuat seperti artis porno yang pernah ia tonton. Sedang Sea di bawah sana dengan kuat membuka akses ke selangkangannya.
“Kakak bersih ‘kan?”
“Iya...”
Keen kira Sea akan masukkan jarinya, tetapi ternyata Sea malah mencium ujung kakinya. Memeta kecup basah dari tumit hingga naik ke lutut, lalu tangannya berpencar liar naik ke atas pahanya. Dan benar saja, sekarang Keen lempar kepanya kebelakang saat Sea menjilat paha dalamnya dan angkat kakinya tinggi.
“Ahnhnnn! Udah dong godain akunya Sea…”
Keen mendesah ketika ia rasakan lidah Sea menyapa ujung penisnya. His dick worked very hard ever since. Memutar dan bergelung hingga akhirnya Sea menuntun lubangnya untuk melonggar. Ia putar lubangnya, Keen dapat rasakan jarinya berusaha masuk dan—
“AHHH SEA!”
Ini erangan paling besar, jari tengah Sea berhasil masuk lalu disusul dengan gerakan mencari di dalam sana. Jika Sea menggerakkan jarinya mengikuti insting. Ia sesuaikan ritme maju mundurnya dengan ekspresi wajah Keen yang kepalang cabul lebih seksi dari bintang porno manapun. His own, one and only for his eyes to witness.
“Sea, aku bisa—AH! Bisa dua, dua jari!” ucap Keen disela-sela desahnya dengan bersemangat?
Sea mengangguk. Demi apapun dia merasa sudah gila. Kakaknya adalah bentuk fantasinya paling sempurna, jauh lebih indah daripada yang dia lihat pada masturbasinya di malam-malam tertentu. Tubuh cantik dan berisi, putih bersih dan mulus yang ketika disetubuhi memerah seluruhnya. Sea yakin ketika ia balurkan lube lagi, Keen akan bereaksi kembali. Pacarnya itu segala-galanya sensitif emang.
“Kak, aku masuk ya,”
Keen hanya mengangguk, ia bahkan tidak tahu lagi harus mendesah dan mengerang dengan cara apa. Pahanya bergerak merapai ketika merasakan dua jari Sea kuasai lubangnya.
“Sayang, jari akunya ntar gabisa gerak.”
“Udah please, aku gamau keluar lagi kalo ga bareng sama kamu.”
“Mau prep aku juga gak? Daritadi akunya dianggurin, kamu asik desah.”
“Ya… Siapa suruh jarinya enak banget?!” Keen sebenarnya salah tingkah bukan main.
Sea mengusap wajahnya kasar, bingung dan takjub atas apa yang barusan ia dengar. “Coba? Kamu bisa enakin aku gak?”
Keen kumpulkan kewarasannya, sebisa mungkin duduk dan ia kocokin lah penis pacarnya itu, apalagi bray?
“Sea, bilang kalo kurang enak…”
“Kak, you know what? Semua tentang kamu selalu enak, even kamu diem aja udah bikin aku enak, kak. Selalu, selamanya akan jadi my greatest fantasy.”
JOROKKKK. Tapi Keen suka. Ia malah terkekeh ketika Sea melihat wajahnya yang sedang fokus menggerakkan tangannya naik turun di penis adik tingkatnya itu.
“So pretty. Selalu cantik.”
The eldest hold his penis fucking roughly, mungkin tidak sabar, he took the condom out of the package, membungkus penis milik pacarnya dengan benda latex tipis itu dengan cepat.
Yang lebih muda lagi-lagi tertawa. Ini menyenangkan, hubungan yang indah ia jalani dengan kekasihnya yang serba segalanya. “Iya, nanti aku masukin sayang, no need to rush.”
Sea mengecup bibir Keen sebelum pelan-pelan meloloskan miliknya ke lubang milik Keen. Semuanya hitam ketika Keen memejamkan mata, menikmati bagaimana milik kekasihnya itu mendobrak analnya dan merasakan bagaimana disodok masuk dengan penuh cinta. Keen lagi-lagi melepaskan desahannya ketika Sea berhasil menyentuh prostatnya tidak sengaja.
“AH SEA!” itu lolongannya. Sungguh ia ingin sekali menggerakkan pantatnya naik turun tetapi sepertinya Sea masih mencari posisi nyaman di bawah sana. Ia bisa rasakan pergerakan kecil di bawah, kakinya juga diatur sedemikian rupa agar keduanya sama-sama enak dan nyaman. Oh, jatuh cinta memang sebegini memabukkannya ya?
Keen yang tidak sabaran. “Hei, shall we fuck right now because—”
Satu genjotan kencang membuat kepala Keen terlempar dan bola matanya memutih karena nikmat. Keen yakin Sea sedang menjahilinya karena sehabis satu sodokan itu ia tidak membuat pergerakan lagi.
“You hit that, Sea! Go on!”
“Wow, something you’d say in the meeting, ya kak?” Salah fokus tapi sukses bikin Sea tambah kliyengan. Ia kemudian genjot pelan penisnya, bak gayung bersambut, Keen juga turut menggoyangkan pinggulnya seirama.
There’s something about Keen in the middle of sex that makes Sea realize how lucky he is to see how well Keen takes care of his dick deep down there. Juga sesuatu tentang lebat rambut Keen yang turut bergerak ketika naik-turunnya menguasai, yang terpenting tentang wajah merah jambu kekasihnya dengan mata tertutup dan bibir yang sedikit terbuka itu. Sea tau jika Keen menikmatinya, maka dalam setiap rapal desahnya, semuanya Sea maksudkan agar kakak cantiknya ini mendengar dan merasa ditemani dalam setiap persetubuhan badan mereka.
Liang Keen menyempit ketika ia rasa sudah tak tahan lagi. Ia menahan pergerakan milik Sea di bawah sana. “Hei? Ngapain?” Sempit. Sea rasakan miliknya semakin berkedut karena disedot dengan tiba-tiba. "KAK, Ah kamu gituin tambah enak tau!"
“Nghh,” Keen menggeram, ia sudah kepayahan sekali ketika ujung milik Sea mendobrak prostatnya berkali-kali, ia mungkin bisa tahan. Namun setelah semua stimuli yang ia terima sejak meeting tadi? No way!
“Sea, ah! Aku keluar lagi.” Ucapnya tepat ketika putihnya menyembur kotor di depan wajah Sea. “Iya gapapa, aku bantu ya sayang.”
Keen menggeleng, “Nghnnn, mau sama kamu.”
Giliran Sea yang mengerang ketika genjotnya dibatasi dan tuntas seluruh batangnya dimakan habis oleh kerut berbentuk cincin itu. Ia tahu Keen sudah bergetar kepayahan, sedang Sea baru saja ingin keluar. Ia sadar mungkin ia menggoda dan menjahili pacarnya terlalu banyak hingga ia sendiri lupa jika dalamnya ada yang harus dituntaskan.
“Kak, lagi, gerakin sambil disempitin lagi, please.”
Keen cukup pintar menerima sinyal ini, sehingga yang ia lakukan setelahnya hanya mengerang karena ia juga turut merasa enak
“Kak, I think I’m close.”
“Aku juga! Mau bareng!” Yang tak disangka adalah Keen yang menyentuh dua putingnya di atas sana, Sea tersenyum ketika Keen mendesahkan namanya panjang. Buatnya tak sanggup lagi.
“S—seahn!”
“Kakak! Ah, enak banget kamunya.”
Dan mereka keluar disaat yang bersamaan. Keen yang lagi-lagi memuncratkan putihnya tepat di depan wajah Sea, dan Sea yang keluar ketika miliknya masih menyatu di bawah sana.
“Capek.”
Lalu Sea hujani pacarnya kecupan sayang. Ucapan terima kasih karena sudah menerima segala miliknya.
“Yah, padahal aku belum dudukin kamu.”
“DIH? EMANG AKU MAU?”
Yah, kakaknya udah balik ke setelan asal deh.
“Kak, ini kerekam di laptop, sedesah-desahnya kakak.”
