Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-10
Words:
2,938
Chapters:
1/1
Kudos:
12
Bookmarks:
2
Hits:
1,867

senior ivan diewe sama juniornya

Summary:

ivan di jebak teman karipnya viktor untuk bermalam dengan juniornya si nakamura natsukawa.

Notes:

original work dan alternative universe dari cerita fantasy ku yang belum rampung serta adengan di oneshoot ini ngga canon di cerita fantasy ku, jadi ini cuma imajinasi fujoshit ku yang ngga kesampaian di terwujud.

note : monovosky itu perusahaan dari rusia yang meneliti, memburu serta mencari orbaz semacam makhluk yang akan membawa manusia kedalam punahaan tapi di publik monovosky cuma perusahaan swasta yang bekerja sama dengan pemerintahaan rusia untuk keperluan persenjataan serta obat obatan.

Ivanuskha Khrushcheva 31 y.o (Captain of Monovosky soldier)
Nakamura Natsukawa 21 y.o (Vice Captain of Monovosky soldier)
Viktor Brezhneva 30 y.o (Head of Monovosky Industries)
Vereya Brezhneva 30 y.o (Vice Head of Monovosky Industries)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ivan kembali ke Rusia setelah kabur ke Afrika dengan alasan disana lebih baik dari pada di Rusia, Ivan memang sengaja tinggal di luar negeri dari pada di Rusia atau mainland Monovosky. Ini momen langkah sekali Ivan kembali ke Rusia, alasan dia kembali karena kabar Fumio meninggal dunia dan rapat besar dengan semua anggota, sebenarnya terpaksa karena Laia yang memanggilnya karena dia menemukan petunjuk hilangnya master Kasala.

Ivan menjadi anggota terakhir yang memasuki ruangan meeting, bahkan president utama sudah datang terlebih dahulu. Ivan masuk ke ruang meeting sambil menendang pintu, marah besar karena tidak ada yang menjemputnya dari bandara dan tidak ada yang menjawab panggilannya.

"Kenapa tidak ada yang menjemput ku di bandara? Kalian tau aku harus menggunakan transportasi umum dan berdesakan dengan orang orang" dari semua anggota Executive memang Ivan sangat tempramental tapi semua orang sudah terbiasa dan tidak memasukan perkataan Ivan yang kasar ke dalam hati mereka.

"Aku sejak kemarin berniat menjemputmu sendiri dengan menyetir mobil ku tapi tidak terduga tadi mengalami panggilan mendesak" Igor sang president Monovosky sangat menyanyangi Ivan seperti putranya.

"Ivan, duduklah sekarang ditempat mu" Laia mulai bersuara, suara wanita itu begitu lembut dan entah mengapa Ivan sangat menurut dengan Laia dari pada Igor yang merupakan presiden Monovosky.

Ivan berjalan melewati orang orang dengan kopernya, bahkan tidak ada bawahan yang berniat menyimpan koper Ivan sementara. Ivan benar benar heran, kantor pun hanya berisi sedikit pegawai yang hadir.

Tuan Lu berdiri di meja nya dengan tongkat nya di depan. "Karena kematian salah satu anggota executive Monovosky maka kegiatan operasional perusahaan akan dihentikan setengah hari untuk mengenang perjuangan teman, saudara dan partner kita"

Akhirnya Ivan paham kenapa kantor hari ini hampir kosong melompong dan tidak ada satupun anak buahnya yang di Rusia dapat di hubungi, semuanya sedang berlibur walau setengah hari.

"Setengah hari? Kalian tau dalam dunia bisnis, sebuah perusahaan berhenti beroperasi satu jam saja akan mengurangi harga saham kita" Viktor akhirnya bersuara, dia tidak terima karena harus menunda pekerjaannya.

"Kalian para penjabat hanya duduk di kursi kalian dan bersembunyi dibalik tempat nyaman, apakah tidak bisa memberikan hati nurani kalian untuk seseorang yang telah gugur?" Nakamura tidak terima, dia melirik Viktor begitu lekat.

“Tidak seharusnya kegiatan operasional perusahaan berhenti setengah hari! Ada banyak hal yang harus aku kejar, apa kau tau?!” Ujar Viktor.

“Viktor, ini agak keterlaluan dan menurut ku tidak akan ada hal buruk yang terjadi jika menunda pekerjaan hanya setengah hari, Monovosky tidak akan bangkrut begitu saja” Vereya mulai bersuara karena perkataan Viktor menjengkelkan baginya. Melihat wajah Viktor dari awal masuk ruangan meeting pun sudah membuat Vereya sangat kesal.

"Kalian para orang tua tidak bisakah diam, aku saja tahu sekarang bukan saatnya bertengkar" Ian kini berbicara, dia sangat malas dengan rapat ini karena sekarang waktunya berada di sekolah tapi malah terjebak dengan acara rapat yang tidak penting baginya.

"Lanjutkan" kini suara Igor meninggi.

Kemudian rapat di mulai dengan evaluasi bagaimana keadaan Afrika ditangan Ivan, Asia terutama Jepang ditangan Nakamura lalu insiden Desa di pinggir bendungan dan rapat di akhiri dengan langkah selanjutnya. Ivan selama berada di Rusia tidak mendapatkan misi apapun karena Rusia di pimpin oleh Mendiang Fumio dan digantikan oleh Nakamura sekarang, maka Ivan mendapatkan tugas menjadi mentor Ian dan Liev. Benar benar Ivan sudah merasakan dirinya akan menjadi mentor kedua bocah SMA yang duduk manis disebelah Nakamura.

"Ivan" Panggil Viktor seusai acara meeting usai dan hanya Igor yang meninggalkan ruangan bersama asistennya.

"Ya?" Ivan menaikan alisnya dan membiarkan Viktor memeluknya, mungkin sudah ada tiga tahun Ivan tidak bertemu dengan Viktor.

"Aku akan mengadakan pesta kecil kecilan"

"Dalam rangka?" Ivan mulai menarik kopernya yang telah dia simpan di sudut ruang meeting, dia ingin bergegas untuk mengistirahatkan tubuhnya.

"Pesta perpisahan" ucap Viktor.

"Kau mau kemana?" Ivan mulai heran, apakah Viktor ini mengundurkan diri dari Monovosky tapi mana mungkin, orang yang mengundurkan diri akan di buru oleh Monovosky.

"Tentu saja perpisahan keperjakaan ku"

"Kau bukannya sudah tidak perjaka sejak dulu?" Ivan benar benar mengenal Viktor yang hobinya bertemu banyak orang pasti telah bermain banyak dengan wanita.

"Tentu berbeda, aku setelah ini menikah dan aku sudah tidak lajang lagi" Ivan mulai paham, setelah ini Viktor harus menikahi salah seorang putri semata wayang Direktur perusahaan lain.

"Ajak Naka atau Vereya saja sana, aku mau tidur"

"Kau gila atau gimana, aku baru saja cekcok dengan Naka lalu Vereya menghindari ku tanpa alasan sejak kemarin" Benar benar sangat mengenaskan nasib Viktor tidak memiliki teman untuk merayakan hari pelepasan kelajangannya.

"Ayolah Ivan, mumpung libur setengah hari” Ivan menaikan alis wajahnya, bukannya tadi dia menentang libur setengah hari dan sekarang bersyukur telah libur setengah hari.

"Tidak mau, kau kalau minum minum kadar alkoholnya tinggi" Bagi Ivan petarung lapangan dan orang seperti dia jarang meminum alkohol karena harus siap siaga dalam keadaan apapun, berbeda dengan Viktor serta Vereya yang merupakan wajah Monovosky atau penjabat Monovosky yang harus pandai dalam mengatur kewarasan mereka walau terpapar akohol kadar tinggi.

"Tidak aku janji" Viktor menyakinkan Ivan.

"Ayolah Ivan, kapan lagi kita minum minum seperti teman, sudah lama sejak kau lari ke Afrika dan tidak mau pulang"

Ivan langsung berjalan ke arah pintu dan meninggalkan ruangan, sejak tadi dia melirik ke Nakamura memberikan nasehat kepada kedua bocah yang akan menjadi anak didiknya. Jujur saja Ivan merasa Nakamura benar benar jauh lebih besar ketimbang terakhir kali mereka bertemu, Nakamura benar benar tumbuh menjadi laki laki dewasa.

"Ivan! kau benar benar tidak mau?" Viktor merengek sekali

"Ayo berikan tumpangan untuk ku dengan mobil mewah mu"

Mata Viktor berbinar, dia terlalu senang dan tidak sengaja mengendong Ivan dengan ala bridal.

"Hei, lepaskan aku!"

Viktor langsung menurunkan Ivan, kini Ivan benar benar malu di tonton oleh executive lainnya. Ivan langsung menarik keluar dirinya dengan kopernya.

Dimobil Viktor

Ivan mulai berbincang bincang bagaimana rupa calon mempelai wanita, keadaan Monovosky sekarang bahkan kematian Fumio dan di akhiri dengan sedikit hal tentang Nakamura.

"Kamu tau aku sedikit terkejut tadi bertemu Nakamura yang tiba tiba menjulang tinggi, terakhir kali bertemu dengan dia tingginya dibawah ku dan sekarang dia sudah melebihi tinggi ku, memang anak jaman sekarang tumbuh begitu pesat" gaya bicara layaknya orang tua atau boomer yang begitu terkaget melihat anak jaman sekarang yang tumbuh pesat, dada bidang, gagah dan badan sehat.

"Aku juga terkejut tadi melihatnya dan hampir kupikir anak baru"

Viktor tertawa sedikit untuk mengakhiri percakapan mereka dan mereka memilih untuk diam selama perjalanan tersisa menuju apartemen Viktor. Selama perjalanan Ivan terus menatap ke jendela luar mobil. Sesekali Viktor yang menyetir melirik ke Ivan. Sudah lama sekali mereka tidak satu mobil begini.

Mereka sudah sampai di apartemen Viktor. Sejujurnya Ivan tidak memiliki tempat tinggal di Rusia, dia menjual propertinya dan berpikir jika kembali ke Rusia mungkin dia hanya sebentar saja dan mungkin lebih baik menginap di hotel.

"Kak Ivan mau makan apa?" Tiba tiba saja Viktor bersikap sangat sopan.

"Kenapa kau memanggil ku seperti itu?"

"Sekarang kita sedang berlibur walau cuma setengah hari, apa masalahnya aku memanggilmu dengan sebutan begitu? dari kecil aku memanggilmu begitu bukan?"

"Terserah mu"

"Aku ada spaghetti, pizza sisa kemarin, chicken fried juga sisa kemarin, kak Ivan mau bubur?”

"Tidak, aku tidak perlu makan, bawakan cemilan ringan lebih baik"

"Okay dokey, sir"

Viktor kembali dari dapur dengan membawa spaghetti yang sudah dia panaskan dan sebuah botol sake. Ia menunjukan sake itu kepada Ivan

"Lihat ini Sake dari jepang, aku mendapatkannya dari Naka kemarin"

"Berada persen alkohol nya?"

"Disini sih cuma 5 persen, kau tidak akan langsung teler kalau hanya meminum segelas saja"

Ivan memalingkan wajah nya dan menyadarkan punggungnya ke sofa, akhirnya dia benar benar bisa beristirahat setelah berjam-jam duduk di pesawat dan di ruang rapat tersebut.

"Minumlah ini, agar kau sedikit rileks" Viktor menyodorkan segelas sake kepada Ivan.

Ivan belum pernah merasakan sake dan ia hanya tau sake berasal dari fermentasi butiran beras. Ia mengambil gelas itu dan langsung meneguknya. Rasanya tidak buruk, seperti alkohol pada umumnya. Viktor terlihat senang melihat wajah Ivan meringis menerima sake itu.

"Kak Ivan, aku mau ganti baju terlebih dahulu, kalau kau mau lagi sakenya bisa kau ambil sendiri" Viktor menaruh sake itu di hadapan Ivan.

Ivan tidak tau mengapa rasanya sangat menagihkan setelah meminum seteguk sake itu, dia ingin lagi tapi dia takut akan teler. Sejak kecil dia diajarkan harus menghindari minuman alkohol maupun opium dan tidak seperti Viktor serta Vereya yang sejak kecil disuapi oleh alkohol dengan dalih mereka harus kebal terhadap alkohol karena pekerjaan mereka yang nantinya akan berhubungan dengan citra perusahaan dan berhadapan dengan banyak orang. Ivan mengisi gelas kosongnya dengan sake itu dan meneguknya lagi, tidak apa apa dia sedang bebas tugas dan dia bersama Viktor. Dia aman sedang bersama Viktor. Viktor sangat kebal terhadap alkohol apapun. Dia bisa mempercayai Viktor jika dia teler.

Viktor balik dari kamarnya dan di kejutkan oleh pemandangan Ivan yang sudah teler dengan botol sake tinggal seperempat isinya.

"Viktor" Ivan mengerang, pikirannya sudah melayang, dia seperti telah meneguk segunung opium yang terlarang.

Viktor menghampiri Ivan dan membantu Ivan membuka jaket denimnya, keringat Ivan bercucuran kemana mana. Ivan kini hanya menggunakan kemeja putihnya dan celananya.

Viktor tersenyum miring, betapa begitu mudahnya membuat Ivan teler. Di dekatkan wajah Viktor ke daun telinga Ivan. "Kak Ivan kenapa begitu cepat membuat mu seperti ini" Nafas Viktor membuat Ivan sensitif dan mengeluarkan sedikit lenguhan.

"Viktor!" Ivan mulai merancu nama Viktor.

Viktor mulai membuka gesper milik Ivan dan menarik celana Ivan serta dalaman, kini bawah Ivan telanjang dan hanya tertutupi oleh kemeja putihnya. Viktor mengigit daun telinga Ivan dan membuatnya mengerang. Ivan sedari tadi berusaha menutup bawahnya dengan kedua tangannya karena merasa tidak nyaman.

"Di sebelah kamar ini ada Nakamura, kakak tidak mau menantang junior mu yang dengan tidak sopannya tumbuh begitu kuat tanpa sepengetahuan mu? buat Nakamura mengaku bahwa dirimu lebih kuat darinya, buat Nakamura ada dibawah mu, tunjukkan bahwa hanya dirimu yang berhak di posisi pertama itu" Viktor mendekap Ivan kedalam pelukannya dan memancing Ivan yang tengah mabuk. Dihadapkannya Ivan dengan wajahnya, kini Ivan benar benar tidak sadarkan diri dan seperti pelacur, rambutnya acak acakan, hanya menggunakan kemeja putihnya yang memperlihatkan tulang selangkanya dan leher jenjangnya yang indah.

"Kak Ivan jawab aku!"

"Aku ingin membuat Nakamura menyadari posisinya" racau Ivan.

"Lihat aku kak, pergilah ke kamar sebelah dan buat Nakamura menyadari posisinya" Viktor tiba tiba mengambil sebuah pil yang sudah dia simpan di saku celananya, ini kesempatannya memberikan pil itu kepada Ivan. Ivan sontak kaget karena Viktor memaksa masukan jari telunjuk ke mulut Ivan. "Kak Ivan seperti lacur" tawa Viktor, kemudahan Viktor memaksa Ivan membuka mulutnya dan Viktor memasukan sebuah pil kepada Ivan. Ivan sontak terbatuk dengan pil yang langsung memasuki rongga tenggorokannya. Viktor beranjak berdiri dan menarik Ivan berdiri, Ivan tidak bisa berdiri dengan benar, pil tadi membuat dirinya begitu panas dan dia tidak tahan dengan bawahnya.

Viktor menuntun Ivan keluar menuju apartemen, dia sudah memastikan lantai apartemen itu benar benar sepi. Di tinggalkannya Ivan di depan pintu kamar Nakamura. Ivan langsung menekan bel pintu kamar itu dan melayangkan pukulan ke pintu tersebut. Viktor langsung kembali ke kamarnya dan mendengar pintu kamar sebelah tiba tiba tertutup dengan begitu keras membuat senyumannya naik. "Selamat bersenang-senang kalian berdua."

Ivan terus menggedor pintu kamar Nakamura dengan keras, sang pemilik kamar akhirnya keluar dan Ivan langsung jatuh saja ke depan. Untung Nakamura langsung menerima tubuh seniornya itu. Nakamura benar benar terkejut dengan seniornya yang tiba tiba memunculkan diri dan di tambah lagi hanya mengenakan kemejanya saja serta tannpa celana.

"Senior, anda kenap-" belum selesai berbicara mulut Nakamura sudah di cumbu oleh Ivan, sontak Nakamura berusaha melepaskan diri tapi Ivan begitu kuat menahan dan mendorong Nakamura menuju tembok dalam kamar itu. Ivan terus melumat bibir Nakamura dan mendorong lidahnya memasuki mulut Nakamura.

Kedua tangan Nakamura ditahan oleh Ivan dan kini Nakamura bisa merasakan Ivan berusaha mendorong Nakamura menelan sebuah pil yang diberikan Viktor tadi, Ivan sedari tadi menahan dirinya tidak menelan seutuhnya tapi walau tidak menelan seutuhnya dia masih dapat merasakan efek pil tersebut. Setelah Ivan berhasil memasukan pil itu kedalam tenggorokan Nakamura, Ivan langsung saja berhenti mencumbu bibir Nakamura dan langsung menjatuhkan dirinya kedepan dengan dadanya yang naik turun. Nakamura juga merasakan hal yang sama dia dengan terburu-buru mengatur nafas dan mencerna kejadian yang sedang ia lalui dengan seniornya ini. Ivan hampir saja jatuh kebawah namun dengan sigapnya Nakamura langsung menahan tubuh itu.

Nakamura membawa Ivan kedalam kamarnya dengan menggendongnya. Dengan hati hati Ivan diturunkan di atas ranjangnya namun dengan terkejut tiba tiba saja Ivan menarik Nakamura dan menduduki Nakamura di atas perutnya. Ivan mencekik leher Nakamura dan Nakamura berusaha melepaskan kedua tangan seniornya. Nakamura yakin seniornya ini sedang mabuk karena bau alkohol dari badannya tapi kenapa masih kuat saja untuk mengurung Nakamura dibawahnya.

Nakamura mulai tercekik, berusaha mengambil nafas, dadanya sakit, mulutnya berusaha keras untuk berbicara namun nihil, dia tidak kuat.

"Natsu..." Kini Ivan tiba tiba melonggarkan cekikannya. Ini kesempatan emas untuk melepaskan diri dan memutar balikan keadaan. Didorongnya tubuh seniornya untuk jatuh ke kasur dan menduduki seniornya. Kini keadaan berubah dengan Nakamura diatas Ivan. Nakamura dapat melihat Ivan menangis dan mengerangkan nama Natsu. Nama panggilan Nakamura. Tidak ada yang memanggil Nakamura seperti itu kecuali Seniornya Ivan. Hanya Ivan. "Panas... Panas...." Ivan terus merintih dan menangis. Dia tidak tahan dengan panasnya. Sontak Nakamura menegang, ada apa dengan dirinya? Kenapa senior yang dibawahnya ini begitu mengairahkan. Darimana perasaan ini. Di telan ludahnya karna begitu sangat mempesona seniornya. Rambutnya acak acakan lalu basah, wajahnya begitu merah, matanya sembab karena terlalu banyak menangis, bibirnya bengkak dari lumatan tadi serta meneteskan air liurnya dan lehernya begitu jenjang. Ingin sekali Nakamura menandai leher jenjang itu untuk meninggalkan bekas kepemilikannya. "Senior Ivan..." Nakamura sudah tidak tahan, dilepaskannya dasi dari tadi masih bertengger di lehernya dan dilumatnya bibir merah itu. Kini cumbuan itu begitu panas, Nakamura menyelipkan tangannya kedalam kemeja putih itu untuk menyentuh seluruh tubuh dibawahnya. Ini seharusnya tidak terjadi. Nakamura benar benar menginginkannya. Dilepaskannya cumbuan itu karena Ivan terus menerus memukul dada Nakamura.

Dimata Nakamura kini Ivan benar benar mengairahkan, indah dan cantik. Nakamura terus menurunkan cumbuannya ke leher jenjang itu, di tinggalkannya bekas gigitan yang membuat sang pemilik leher itu mengerang.

"Natsu... Aku tidak tahan lagi..."

Nakamura yang mendengar racauan itu sontak menyudahi acara bercumbu dengan leher serta tulang selangka itu dan berpindah kebawah Ivan, dikulumnya penis Ivan ke mulut Nakamura. Ivan mengeram begitu sangat nikmat dan tidak sadar Ivan meremas rambut Nakamura. Hampir saja Ivan mencapai puncaknya namun Nakamura langsung menyudahinya dan kembali mencumbu bibir Ivan lagi.

Kini tangan Nakamura sudah berani menggerayangi seluruh tubuh Ivan dan kini tangan kanannya mencoba masuk kedalam lubang Ivan untuk menyiapkan penetrasi mereka nanti. Ivan sontak kaget dengan dua jadi Nakamura yang mengunting untuk melonggarkan lubangnya. Ivan sangat meracau keenakan, ini baru pertama kalinya, dia belum pernah merasakan nikmat ini. Kedua tangan Ivan terus meremas seprei kasur. Kakinya terus menendang nendang karena rasa nikmatnya yang tidak pernah ia rasakan karena Nakamura telah menemukan titik nikmat itu.

"Natsu..." Sontak Ivan langsung mengeluarkan putihnya akibat fingering yang dilakukan oleh Nakamura.

Nakamura kembali mencumbu Ivan yang tengah susah mengatur nafasnya. Kini Nakamura menanggalkan seluruh pakaiannya, kini dia merasa bebas terutama bawahnya yang telah basah oleh precum.

"Senior Ivan..."

Dihadapan kemaluannya dengan lubang milik Ivan yang telah basah, ini pertama kalinya. Dimasukannya kepala kemaluannya perlahan dengan raungan Ivan. Ivan terlihat kesakitan, namun Nakamura sudah kehilangan akal, dia langsung mendorong seluruh kemaluannya untuk masuk. Ivan menarik kepalanya kebelakang, matanya terus menerus mengeluarkan air mata, kepalanya pusing, bawahnya sakit sekali, tangannya mencengkram begitu kuat seprei dibawahnya hingga lepas dari kasurnya.

Nakamura merasa begitu sempit karena Ivan tidak bisa rileks. "Senior jangan di sempitin begitu argh-" Nakamura meraih tangan Ivan yang sejak tadi mencengkram seprei dan mengalungkannya di lehernya dan mencumbu seniornya untuk lebih tenang.

Nakamura bisa merasakan air liur Ivan karena cumbuan itu namun bawahnya sudah terasa tidak sempit, mulai digerakkan bawahnya dengan keluar masuk namun dengan masih mencumbu seniornya itu. Ivan melepaskan cumbuan itu dan mengerang nama Natsu berulang ulang kali. Natsu melajukan tempo gerakannya ketika Ivan mengerang namanya begitu keras, sepertinya Nakamura telah menemukan titik nikmat milik Ivan itu. Ivan terus mendesah dan tidak segan segan dia mencakar punggung yang lebih muda. Nakamura terus melajukan gerakannya karena dia sedang mengejar puncaknya, Ivan merasakan tempo Nakamura begitu cepat, dia kesakitan tapi nikmat. Ketika dengan sekali sodokan yang kuat Nakamura berhasil keluar dan berhenti sejenak untuk mengeluarkan cairannya. Ivan merasakan hangat namun dia belum keluar. Nakamura menyadarinya, dia keluar begitu cepat apa karena dia masih perjaka?

Tiba tiba Ivan menarik Nakamura dan mendorongnya untuk berbaring tanpa melepaskan penyatuan mereka. Kini posisi berbalik, Ivan diatas untuk memimpin karena dia belum mencapai puncaknya. Nakamura terkekeh melihat seniornya begitu binal. Ivan melajukan tempo nya sendiri dengan suara becek karna cairan Nakamura. Nakamura memegangi pinggang rampingnya untuk menjaganya dan membantunya bergerak. Ivan mengerang nama Natsu berulang kali kali kali. Nakamura benar benar menyukainya ketika Seniornya itu mendesahkan nama panggilan bukan nama keluarganya.

"Naka–Natsu...” Ivan mulai lupa bagaimana nama Nakamura. Dia benar benar akan mengalami puncaknya. Kini temponya tidak beraturan untuk mencapai nikmat itu. Nakamura menyibak poni rambut Ivan yang menutupi alisnya itu, kini dia dapat melihat wajah Ivan begitu jelas. Matanya merah dan sembab. Wajahnya kecil dan cantik. Rambutnya acak acakan dan basah. Nakamura menyukainya. Ivan langsung saja berhenti karena puncaknya telah sampai, cairan Ivan membasahi perut Nakamura tapi Nakamura tidak masalah. Dibaliknya Ivan dan melepaskan penyatuan mereka dan Ivan dapat merasakan bawahnya terus mengalirkan keluar suatu cairan. Diciumnya seluruh tubuh Ivan oleh Nakamura. "Senior..." Ivan menutupi mulutnya untuk menahan dirinya tidak mengerang. Nakamura terus mencium seluruh tubuh itu dan membuat Ivan benar benar gila. Sepertinya mereka berdua akan melanjutkan kegiatan penyatuan mereka lagi karena mereka berdua kembali mengeras. Tidak tahu berapa kali mereka akan terus saling bersenggama. Malam itu benar benar panjang untuk mereka berdua yang sedang berpelukan panas dan berakhir dengan cockwarm yang diinginkan Ivan. Ivan tidak ingin dilepaskan oleh penis milik Nakamura dan sepanjang malam Ivan tidur dengan disumpal kemaluan itu.

Notes:

thank you for reading ^^