Work Text:
SEUNGMIN membalik lembar isian sang Kitab Suci dengan jemarinya yang memerah, merapal tiap-tiap ayat sakti secara kushyuk dalam puluhan babak. Bisikannya teratur dan jelas tanpa jeda, melahap seluruh pesan Tuhan hingga dirinya penuh dan kenyang.
(Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir,) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.
Yasin 36:39
Mula-mula penampakan bulan muncul dalam keadaan kecil dan cahaya yang lemah, beralih menjadi bulan sabit dengan sinar yang terang, berubah menjadi bulan purnama, kemudian perlahan kembali mengecil dan kembali ke bentuk semula.
Samar-samar memorinya yang hampir tandas tentang Hyunjin layaknya kembali, tentang bagaimana bulan sabit di netra Hyunjin menunjukkan diri sangat khas kala senyum laki-laki itu tercipta, atau bagaimana matanya menyingkap kilauan ayu laksana ribuan bebintangan yang tersebar di seluruh pelosok Bimasakti.
Namun sekeras apapun usahanya untuk melupakan binaran Hyunjin, ia sebetulnya sadar bahwa itulah Hyunjin yang sedang ia pikirkan—lantaran sebencinya dia dengan asmara pahit berfosil itu, ia masih saja di dalam pengandaian tak berujung persoalan Hyunjin; perihal, mungkin, di semesta lain, untuk mencinta dan dicinta bukanlah hal tabu. Mungkin saja, di semesta yang fana itu, Hyunjin dan Seungmin masih menyapa, menonton bentangan biru aquarium raksasa dengan Hyunjin yang sesekali berdesir tawa menyaksikan keelokan seekor ikan pari melintasi mereka. Seungmin pun serta-merta demikian.
Mungkin di semesta itu utas mereka belum tidak digunting secara paksa.
Namun Seungmin tidak menuntut yang imajiner. Sebab ia selalu tunduk akan perintah Sang Pencipta. Ia akan jalan menjauh dari yang salah. Memeluk yang dianggap benar. Relasi yang dulu terikat dengan Hyunjin itu salah—menyimpang, tidak sesuai norma, menjijikkan, terkutuk—pun menurutnya kehancuran ini adalah yang terbaik untuk dilakukan. Nihilnya kuasa atas mereka yang kerdil menghadapi ribuan bisikan dan sinisan massa dalam saujana tiap kali mereka bersua.
Sebab di bumi manusia ini, patut manusialah yang paling paham tentang surga—toh mereka pemegang kunci gerbangnya. Manusialah yang sepantasnya menghakimi. Manusia bergelimang dosa itulah yang menginjak-injak manusia gelimangan dosa lainnya. Satu kesatuan yang membentuk paradoks. Yang berdosa menghancurkan yang berdosa menghakimi yang berdosa. Betapa nasionalisnya peradaban ini! Kebencian dan dendam dipatrikan begitu dalam pada mereka para ahli Surga.
Maka, jika betulnya Seungmin pantas berakhir di neraka, ia sadar bahwa mungkin bongkahan api menyertakan gunung dosa itulah yang akhirnya paling menerimanya. Jika orang-orang itu adalah penghuni Surga abadi, maka sukar sekali Seungmin untuk berada di tempat yang sama dengan mereka. Dan jika ia bertemu Hyunjin di sana—di kerajaan para iblis—, ia berada di tempat yang tepat. Maka jadikanlah neraka tempat bersinggah bagi mereka yang selama hidupnya hanya ditindas dan dicaci oleh para pemegang kunci Surga—setidaknya tempat ini tidak mendiskriminasi lantaran identitas aneh yang kian dianggap menyimpang.
Tapi Seungmin memegang teguh kepercayaan bahwa Tuhan Maha Baik. Ia yakin perihal kemurahan Tuhan yang lebih besar daripada murka-Nya. Jadi, biarkan Ia yang menilai.
Meski demikian, ia juga berharap Tuhan akan menyembuhkan penyakit menyimpang ini. Ini salah. Tidak seharusnya Seungmin masih memikirkan lelaki itu di saat seperti ini. Ini salah. Seungmin salah. Hyunjin salah. Ini sepatutnya tidak terjadi. Hyunjin seharusnya tidak membiarkan ini terjadi. Begitupun Seungmin. Sekarang yang bersisa hanya fragmen dosa dan hina. Seungmin takut akan akal sehatnya sendiri. Ia takut akan benaknya yang selalu berhalusinasi perihal Hyunjin.
Menjijikkan. Sial. Kotor.
Seungmin menutup Kitab itu dengan lontaran singkat Shadaqallahul adzim.
Tuhan tidak mendiskriminasi ibarat Surga milik-Nya. Sang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kepada-Nya kami berpulang, berserah asa, melempar diri.
Aku percaya akan keadilan Sang Pemilik Andromeda.
