Work Text:
Suap-suap penonton memekik di keheningan malam. Kerumunan diisi oleh beberapa tepukan meriah, teriakan, dan apresiasi atas pertunjukkan yang baru saja Xavier sajikan. Lampu sorot menyinari tubuh sang tuan dengan warna-warna gonjrengnya — ungu, biru, merah, meramu menjadi satu dalam panggung yang sama. Silaunya selalu menyoroti sang bintang bagaikan sang putra mahkota. Pakaian gelapnya berkibar dengan angkuh ketika dia selesai menyanyikan lagu terakhirnya, membawa durasi panjang dari pertunjukkan tersebut ke penghujung acara.
Ada perasaan sukar untuk berpisah dari bangku-bangku penonton. Waktu selama hampir dua jam untuk pertunjukkan solo yang Xavier sajikan, tidak mampu untuk menghilangkan rasa dahaga dari tuan dan nyonya yang menjadi penikmat musiknya. Ketika pada akhirnya Xavier menyapa untuk terakhir kalinya dan buliran kertas berbentuk bintang berjatuhan dari langit, saat itulah perpisahan sudah benar-benar dekat. Dengan tangan disapu riang ke udara, panggung membawa Xavier menuju ke area belakang yang tak terjamah penonton.
Udara menyerbak lebih dingin ketika sang idola berhasil berjalan dengan langkah terseok ke ruang gantinya. Tubuhnya segera limpung ke sofa. Keringat menetes dengan tak tahu malunya, membasahi sebagian kerah Xavier yang terbuka. Ada noda kemerahan yang meruam di dadanya — bekas ketidaksengajaan sosok perempuan yang menjadi primadona di matanya pada hari sebelumnya.
Noda itu tercipta ketika sang puan tengah memperbaiki riasan di wajah Xavier. Kuas-kuas menari dengan anggun di atas kulitnya yang sudah merekah. Lalu tanpa sengaja, dibubuhkan cat merah dari gincu untuk ditaburkan dengan bangga. Itu sebenarnya hampir sepenuhnya tanpa sengaja, karena Tara menyenggol sang perias ketika tengah mengerjakan riasan pada orang lain. Akan tetapi, lelaki itu juga tidak meminta untuk menghapus bekas kemerahan di sisi kanan dadanya. Tepat di bawah perpotongan tulang selangka yang terbuka lebar karena potongan pakaiannya dibuat dengan demikian rumitnya.
Memori Xavier kembali ke kejadian sebelum konser. Dengan menghela nafas berat, dirinya menutup mata untuk kemudian gagal beristirahat ketika sang pemilik ruangan — tak lain dan tak bukan sang puan yang merias dirinya sepanjang acara berlangsung — masuk tanpa ragu. Langkah kakinya begitu nyaring terdengar tegas.
“Konsernya sudah selesai ya?” pertanyaan dari perempuan tersebut membuat jantung Xavier mulai bersiteru kacau. Langkah kakinya di atas hak tinggi itu terdengar begitu angkuh dan memojokkan, menggema ke seluruh penjuru ruangan untuk mendekat. Menggoda Xavier untuk tidak gila, namun gagal, karena dia bukan kepalang menikmati kehadirannya di ruangan yang sama.
“Sudah kok,” Xavier membalas dengan suara kecil, cukup kecil untuk terdengar ke luar ruangan; hampir terdengar seakan-akan dia bergumah lelah.
Nafasnya mencium aroma pekat dari tembakau dan cengkeh yang bertabur wewangian mawar. Aroma mawar itu terasa baru, lebih tajam bahkan mendominasi penciumannya ketika ia menghela nafas. Sepertinya, perempuan di depannya kini, beberapa saat yang lalu, telah menyemprotkan parfumnya setelah dia mengambil waktu untuk merokok sejenak.
Dengan keringat bergulir dan panas yang menyesakkan tubuh Xavier, dia berusaha bergerak dengan gusar di sisi lain dari sofa, tepat ketika perempuan tersebut melangkah mendekat.
“Kenapa sih, tegang banget?” goda sang puan ketika obsidian sewarna lelehan coklat itu menatap lamat kepada sang bintang. Bibirnya dengan warna gincu merah dan riasan tipis bertabur untuk memotret kecantikan duniawi yang terpatri begitu indahnya. Di bawah temaram ruang ganti dan sinar dari lampu meja rias sewarna emas, mampu membuat kulitnya bersinar terang di temaram malam bagaikan lelehan madu. Xavier terlalu terpaku, melebur pada ciptaan Tuhan itu — sampai-sampai tidak menyadari dirinya sudah meneguk ludah beberapa kali untuk berusaha berpikir rasional. Ini gila! Benar-benar gila!
"Ada iritasi di sini," ungkapan lembut dan jujur dari perempuan itu membuat lamunan Xavier teralihkan. Jari telunjuknya menggores di atas bibirnya yang terasa kering. Sang tuan nampak terkejut, manik sewarna lautan itu membesar karena ulahnya, dia mundur seketika untuk mencoba meredam jantungnya yang berisik dan kepalanya yang kacau. Darah mengalir menggila ke seluruh tubuhnya. Selepas dari konser atau kehadiran sang puan di depan matanya. Aroma mawar semakin mengguar — menyesakkan paru-parunya, mendominasi dan seakan-akan, dia tidak bisa bernafas jika perempuan itu masih ada di ruangan yang sama.
"Ini karena kebanyakan riasan. Mungkin, kamu juga harus cobain pake pelembab bibir sekali-kali Xavier, atau… coba kurangi buat cukuran. Bisa bikin iritasi tuh," sang puan melanjutkan perkataannya ketika menarik tangannya dari wajah Xavier setelah merayu dengan lembut di atas kulit sang bintang yang sudah berkeringat basah. Memoles dengan sengaja lekat cairan yang menguar panas dari kulit pucat itu. Nampaknya, ketegangan yang timbul di antara keduanya tak segera ia sadari. Atau mungkin hanya Xavier saja yang tengah dipermainkan olehnya?
Dengan keberanian yang ada, jemari lentik Xavier menghentikan langkah sang puan, dia genggam erat pada pergelangan tangan, "Tunggu. Kamu bilang aku harus coba kurangi cukuran atau coba perbanyak pake pelembab kan. Memangnya kamu punya saran buat itu?”
Beberapa daftar produk kecantikan terlontar dari bibir sang puan. Mulutnya bersemangat mempromosikan beberapa hal yang ia ketahui. Sedangkan, di sisi lainnya, Xavier bahkan asing dengan daftar tersebut. Manik jelaganya menatap lurus pada lembabnya bibir sang puan yang mengoceh riang. Manisnya, atau mungkin pahit dari sisipan tembakau yang masih bersisa di antaranya. Xavier mengada-ada bagaimana rasanya jika ia mencicipinya? Atau bagaimana Tuhan ciptakan kesempurnaan sepertinya, jika tidak untuk dicoba, iya, kan?
Jakun Xavier bergerak gusar ketika menelan ludahnya dengan kasar yang terasa mengganjal. Lamunannya teralihkan ketika perempuan itu bergerak mendekat. Jemarinya yang lembut mengusap halus pada rahang dan dagu Xavier, memoles keringatnya yang bertabur tipis di atas polesan riasan yang mulai pudar.
“Xavier, kamu nggak dengerin ya? Ngeliatin aku terus.”
Sang bintang terkekeh geli, mengejek, jemarinya bergerak memangkas jarak di antara mereka. Menyusup pada pinggang ramping dari perempuan di sebelahnya. Rasanya, tangan Xavier seperti menggenggam erat dewi di sisi dirinya. Sungguhan! Aroma mawar semakin menguat, membuat nafasnya tercekat dan memburu parau.
“Aku ngeliatin ciptaan Tuhan aja kok. You look hot when I can smear your works around your face. Makeup, or probably, should I’ll tru to find my way showing yourself?” bibirnya berbisik pelan pada sisi kiri sang puan, suaranya parau dan dangkal. Sedang tangannya yang kasar mengelus lembut sisi pahanya. Di bawah balutan pakaian, perempuan tersebut meremang dengan kesenangan asing yang sudah lama tidak ia nikmati. Percikan panas membuncah di antara mereka ketika Xavier lebih berani memangkas jarak. Bibirnya melebur dengan rasa lapar dan panas. Mengais jejak-jejak polesan gincu, membuat ruam merah darinya menyebar ke sisi-sisi lain di antara tautan mereka. Ada rasa pahit dari tembakau dan cengkeh yang bertabur bahan kimia ketika lidahnya melesak masuk. Nafasnya memburu dengan berat, jemarinya menari, menyusuri tulang belaka hingga berhenti dengan ketegasan yang mahfud di antara perpotongan lehernya. Xavier merekah bersama, membawa tubuh perempuan itu duduk di pangkuannya dengan kaki di letakkan ke sisi kanan dan kirinya. Meramu dengan magis, membuat telinganya terlalu berisik dengan suara kecipak basah lidah yang bertaut dan jantungnya yang berdetak kencang. Darah membawa merah di belakang kepala Xavier, dia yakin bahwa kini rona itu menjalar bahkan hingga ke perpotongan lehernya. Telinganya sudah dipastikan padam, seakan-akan ada cat sewarna cabai dileburkan di sana untuk mengejek Xavier yang sudah hilang arah.
Ciuman itu menjadi tanda, permulaan dari rasa lapar dan haus yang menjalar ke seluruh tubuh tubuh Xavier dan sang puan. Seluruh saraf di tubuhnya meminta lebih. Seakan-akan Xavier tengah mengais satu per satu bunga untuk dicabuti dari, disajikan buatnya seorang diri, untuk segera diramu menjadi rangkaian mahal nan indah. Tangannya menjamah rakus, mengambil tiap-tiap bagian dari tubuh sang puan untuk dilebur, dipoles, dimainkan, dan diapresiasi. Sungguh, Maha karya Tuhan paling sempurna ada di tangan Xavier.
Ketika ciuman mereka berputus, saliva mencerca bagaikan penanda akan permulaan malam yang panjang. Gincu yang terpoles merah, sudah terlalu kacau untuk diperbaiki. Xavier menatap lekat pada karya di depannya, luar biasa memabukkan. Kepalanya pusing bukan kepalang. Dahinya mengusak manja pada perpotongan leher perempuan itu, nafasnya masih memburu seperti dikejar waktu.
“Aku… mau lagi..” ungkapnya jujur. Dengan situasi yang sudah memanas di bawah temaram remangnya ruang ganti, tak mungkin sang puan mengambil langkah mundur. Pikirannya sudah jauh dari rasionalitas sejak Xavier mendudukkannya di pangkuannya, didekap erat, di singgasana yang tak mungkin disajikan kepadanya jika sang tuan tidak menawarkan.
Manik mereka bersitatap kembali sebelum diraupnya bibir memerah itu kembali oleh sang puan tersebut, lidah Xavier melesak lebih dalam untuk mencicipi semua bagian darinya untuk meninggalkan tanpa sisa. Ini lebih panas dan memabukkan daripada cumbuan mereka sebelumnya.
"Manis," Xavier mendesah puas ketika menjeda pungutan mereka. Bibirnya bergerak untuk mengecup pelan tenggorokan, perpotongan nadi, bahkan hingga ke buah dada sang puan. Dan perempuan itu terlalu larut dalam tiap-tiap gerakan yang Xavier bawa dan minta. Ia menikmatinya. Seolah-olah menjadi bagian dari ritual selepas konser, makan malam untuk sang bintang.
Disingkap sejenak kaos yang menutupi tubuh surgawi itu. Jemarinya lihai membuka pengait kutang yang mengencangkan buah dadanya. Bibir Xavier mendesak, mengisap pelan pada buntalan lemak yang puan punyai. Ia menikmati sensasi lembut ketika bibirnya bertemu padu pada buntalan sintal yang lembut itu. Lidahnya bermain liar, bergerak selaras dengan jarum jam untuk menyicip sisa-sisa kehidupan di sana. Bibirnya bisa mengecap asin dan panas. Telinganya terlalu dekat untuk mendengar gemuruh di dada sang puan.
Desahan lolos sebagai tanda penerimaan diri. Kepalang puas dan leluasa bergerak ketika Xavier menggigit pelan puting sewarna tanah itu. Ungkapan pujian tak luput dari sang bintang ketika menikmati kumpulan lemak yang di dada sintal itu, "Enak, manis... mau lagi..."
"Ahhh Xavier hati-hati gigitnya—" sang puan mendesah pasrah, pekikkan terdengar nyaring ketika merasa gigitan Xavier kini lebih kasar. Itu menyenangkan, membuat tubuhnya bergelirya resah ketika tangan lembut itu mengait di antara surai perak Xavier. Selaras dengan renjana yang memuncak, buat kepala mereka kelewat waras untuk berpikir.
Puas dengan buah dada sang puan, jemari panjang Xavier mengukir di perpotongan perut sang puan. Mengelusnya lembut menuju ke bagian selatan. Bibirnya tak luput dari ciuman lapar ketika meraup merah dan bengkaknya bibir perempuan tersebut. Dilepaskannya dasi yang melekat pada kerahnya untuk mencumbu bibir sang puan lagi. Tangannya bergerilya, mencumbu tiap-tiap bagian tubuhnya. Ketika jemarinya berhenti di atas resleting rok milik perempuan yang tak berdaya di pangkuannya. Dengan lihai, ia melepas pakaian yang menutupi bagian bawah itu. Dielusnya paha bagian dalam sang puan yang terekspos. Maniknya tak luput dari pemandangan di depannya kini, "basah banget… sayang.”
Jempol Xavier menjamu tanpa tahu malu di bawah lapisan kain sang puan. Menyingkap lembut dalaman kain itu ketika merasakan basah yang sudah mengembun di antaranya. Kelembaban tersebut membawa Xavier untuk menyusup lebih dalam lagi. Di antara belahan sintal sang puan, jemarinya mempermainkan dengan lembut buntalan basah yang minta untuk diberi makan, lebih banyak lagi. Tangannya yang satu menahan tubuh sang puan untuk berlutut di antara pangkuannya. Dengan kuku palsu sang puan yang memerah, tangannya menyusup erat, bergerak dari surai sang bintang hingga ke bahu kokoh Xavier. Desahan tak luput lolos dari bibirnya yang memerah. Ditemani suap-suap lolongan manja. Itu terdengar bagaikan adiksi. Selaras, bahkan lebih indah dibandingkan nada-nada musik yang pernah Xavier buat sepanjang hidupnya. Dan ia ingin terus mendengarnya lagi, untuk menjadi permulaan mengisi kekosongan dan kelaparan di kepalanya.
Jemarinya dengan lincah menyusup di antara celah surgawi yang puan punyai. Basah menjalar, licin, mengalir lembut nektar ciptaan Tuhan untuk mempermudah jemarinya masuk — mengusak pelan nan bergerak penuh kehati-hatian. Cengkraman sang puan di bahunya tak luput dari perhatian Xavier. Wajah merona itu mendongak keenakan dengan alunan suar penuh permohonan, “ahhh…. Lagi Xavier…”
Bibir Xavier menyunging sombong, bermenyusup untuk memberi tanda kemerahan pada leher jenjang sang puan. Ruam-ruam mulai bersemi, diikuti dengan mengalirnya buliran keringat dari pori-pori sang puan, lebih banyak. Meramu menjadi satu ketika jemari Xavier melesak lebih dalam. Diacapnya rasa asin di atas kulit bibirnya yang tipis, meremang menjadi jawaban ketika jarinya terperosok lebih dalam lagi, terikat, tak terkendali sebelum mani menetes di antara paha dalam sang puan. Membasahi celana dan juga kostum konser yang masih melekat di tubuh sang bintang. Jemarinya baru saja membuat rekor baru.
“Enak?” tanya Xavier mengantisipasi.
“Banget,” balasan lemas terpatri dari bibir sang puan. Dipangkasnya jarak di antara mereka kembali ketika ia meramu cumbuan. Tangan perempuan itu mengalun dengan manja di atas bahunya, membuat bulu kuduk Xavier meremang dengan cara yang asing. Perempuan di pangkuannya, berhasil membuatnya gila total.
Maka dengan begitu, Xavier membungkus tubuh perempuan itu untuk diletakkan di bawah kukunggannya. Jemarinya bergelirya liar, bibirnya mencumbu kasar, kepalanya bergulir di atas kulitnya, membuat sensasi terbakar baru, jejak-jejak panas di atas kulitnya, jantungnya berpacu makin liar. Segera, gesper dilepaskan dari pinggangnya. Ia melempar asal celananya, membebaskan dirinya dari sempitnya ruang di balik celana jeansnya. Manik perempuan itu terbuka sayu, menatap Xavier lamat ketika lelaki itu dengan terburu-buru mendekat untuk merobek kondom dari saku di celana menggunakan giginya hingga dipakaikan padanya.
"You can tell me when you’re ready," ungkap Xavier. Nafasnya memburu seperti orang gila. Maniknya menggelap tak sabar ketika bagian selatannya dengan sengaja diusak di antara belahan senggama sang puan. Bilahnya belum masuk seutuhnya, tapi kepala Xavier sudah kepalang gila. Hanya menggesek saja, sang tuan sudah dihidangkan dengan kelembutan dari sumber kehidupan, ia yakin bagian dalamnya akan lebih nikmat di bandingkan ini. Basah mengalun liar, merangkap karet pengaman itu dengan nektar buatan, bermadu kasih, kawin dengan yang asli.
"I am, boleh masukin aja Xavier...” pintanya.
Xavier membawa tubuh mereka untuk berciuman panas. Libidonya yang sudah kepalang tinggi dan membuat kepalanya pening luar biasa. Perlahan dia arahnya bagian selatannya untuk mengukir pelan pada area yang sudah meluberkan nektarnya. Aroma pekat dari dari parfum dan suar bising di luar ruangan terlupakan ketika tubuhnya mulai dihimpit pada senggama yang disajikan kepadanya. Dia bisa-bisa keluar detik itu juga kalau dia tidak menarik diri untuk menghentakkannya dalam dan tajam. Presisi Xavier tepat, desahan lolos dengan lolongan puas diantara cumbuan mereka. Ia membiarkan ereksinya tertanam dangkal, sebelum kembali melepas penyatuan keduanya dan mulai bergerak, seirama dengan rintihan dan desahan yang puan itu bawa. Bunyi kecipak basah memenuhi seisi ruangan. Panas menjalar dari kepala hingga ke ujung kakinya. Punggungnya sudah basah oleh keringat. Jakunnya bergerak menelan saliva sang puan ketika dia menatap lamat di bawah pandangan sayu dari perempuan itu. Tubuh semok itu bergerak selaras, buah dadanya mengalun liar di udara. Buliran keringat sudah lebih banyak membasahi kulit sang dewi. Rambutnya bahkan sudah kelewat lepek. Sinar dari meja rias menjamu menjadi satu, membuat pantulan jingga keemasan di atas kulitnya yang bercahaya.
Jemari Xavier menggenggam erat pada perpotongan pinggang sang puan. Dibawakannya nirwana sebagai alat tukarnya atas keindahan yang mereka ciptakan. Bunyi kecipak basah semakin intens ketika Xavier membawa tubuh mereka melebur menjadi satu. Bagian dari sudut-sudut yang ia tekan terlalu dalam, terlalu membuat mereka gila karena dia mencengkram erat miliknya. Enggan dilepas. Enggan dibawa pergi.
"Xavier... cepetin..."
Pinta itu segera dikabulkan. Xavier menjelma menjadi makhluk menakutkan ketika maniknya menggelap dan kewarasannya melebur di bawah pengaruh bercinta. Bibirnya mematri merah di antara tulang selangka, jemarinya genggam erat pinggang sang puan. Desahan, lolongan, teriakan, semua menyatu, bagaikan tangga nada yang siap diobrak-abrik di tiap ketukannya. Musik yang mengalun memenuhi kepala Xavier dengan pening luar biasa dan penuh adiksi.
"Bangsat... enak banget kamu sayang..." entah pujian atau ejekan keluar dari bibir Xavier tepat di daun telinga sang puan. Bunyi sofa berdecit semakin tajam, tubuhnya didekap erat, jemari perempuan itu menggeser asal kaos Xavier, memetakan goresan-goresan baru di bahu, punggung, dan lengannya. Xavier mengerang menjadi gila, gerakannya semakin dipacu liar. Hingga senggama tersebut menggenggam erat miliknya, semakin dalam dia membuat tempo berantakan untuk mengejar putihnya. Ruangan diisi oleh sautan satu sama lain, hingga pada akhirnya, Xavier mengubur dalam-dalam dirinya ketika menjumpai putihnya. Dia bernafas dengan berat. Keringat menetes di bawahnya, mengalir dengan alunan rintihan panas dari perempuan tersebut.
Tak berhenti pada detik itu, ketika Xavier mengangkat tubuh sang puan untuk didudukkan di pangkuannya, menyerahkan dirinya untuk diambil alih. Gerakan perempuan tersebut terasa sangat tidak masuk akal, dia terlampau lamban. Kepala sang bintang yang sudah pening mendapat pekikkan keras ketika jemarinya memegang erat pinggul perempuan tersebut, dihentakkannya dalam dan tajam.
“Goyangnya.. gini… sayang…” seakan-akan menjadi sesi untuk belajar hal baru, lelaki itu membimbing dengan enggan, maniknya menatap ke wajah berantakan perempuan tersebut ketika kecipak basah beradu kembali. Butuh waktu beberapa menit untuk menyesuaikan, sang puan balas dengan suara teredam oleh desahannya sendiri, “gini… sayang?”
Lelaki itu mengangguk bangga, membiarkan tubuhnya diambil alih. Bibirnya tak luput dari manik birunya bergerak liar, menatap polesan lembut dari keringat dan riasan yang mulai luntur. Bibir Xavier memagut tipis pada buah dada sang puan, membiarkan desahan dan rintihan mengisi ruangan itu semakin keras. Gigi Xavier menggigit manja, membuat kepala perempuan itu semakin berantakan dibuatnya. Linang air mata mengalir di antara pipinya, menguar menjadi satu dengan keringat. Sedang tubuhnya digerakkan olehnya sendiri, mengejar putihnya untuk menikmati bagaimana padatnya bagian selatan miliknya diisi terus-menerus.
Xavier mengarahkan jempolnya untuk membidik tajam pada area di antara penyatuan mereka, merasa tubuh perempuan itu mulai gemetar hebat, mani mengalir kembali di antara pahanya. Membasahi keduanya hingga ke sofa kulit di bawah mereka. Tak ada yang bergerak untuk sementara waktu. Hidung sang puan bahkan ditanam erat di antara perpotongan leher Xavier yang berkeringat. Bias jingga memantul di belakang punggung sang puan. Mengedarkan warna keemasan ketika Xavier menatap cermin yang memantulkan gambaran penyatuan mereka. Jemarinya dengan jenaka mengelus pelan di antara tulang belakang itu, membuat sang pemilik tubuh meremang, bahkan telinganya menangkap suar suara dari desahan yang coba ditahan.
“Kamu cantik kok, even without makeup you always put on,” bibirnya tanpa sengaja berbisik lirih sebelum keduanya limbung untuk mencari kekuatan dari saraf-sarafnya lagi untuk beranjak pergi.
“Yours too, even without those sound effects, raw, just you.”
