Chapter Text
pulang, makan, mandi, minum obat, tidur
Anaxa udah ngulang-ngulang kalimat yang sama sejak terakhir dia bales chat kedua pacarnya. Beruntung walau pulangnya agak mundur—karena harus briefing sama Castorise dan Hyacine soal penelitian yang mereka kerjain setelah (terpaksa) merencanakan istirahat sakit—seenggaknya dia masih bisa nyetir dan pulang ke rumah dengan selamat.
Memang salahnya, kalau sudah sibuk suka lupa diri. Diomeli pacar sampai asistennya juga cuma masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Sekarang? Belakang leher ngilu, kepalanya kayak ditendang-tendang dormas, ditambah setiap sendinya seperti ditarik-tarik. Makanya tadi dia mengiyakan waktu disuruh istirahat (karena selama ini pasti ngotot-ngototan dulu).
Capek. Mau cepet-cepet tidur.
Cuma gimana caranya istirahat?!
Begitu masuk rumah, semua lampu sudah nyala dan wangi enak masakan. Detik selanjutnya, ada rambut putih kebiruan menyembul dari dapur, menyambut dengan cengiran gemas.
“Naxa, makan dulu, habis itu baru bobo.”
Phainon mendekat, bantu ambil tas dan segala macam bawaannya. Bikin Anaxa menghela nafas panjang, lega. Tahu sudah di rumah, tahu ada yang bakal bantu dan ngurusin dia.
Tapi lega itu kok cuma sebentar? Karena setelah itu nafasnya tercekat begitu Phainon yang awalnya kelihatan hepi-hepi itu, tiba-tiba nempel. Peluk pinggulnya, menggeret dia masuk sambil kasih cium-cium mesra di pelipis dan dahi.
… kok jadi gini?
Iya sih, dia didudukkan di meja makan. Dihidangkan sup kaya rempah yang bikin perutnya hangat. Tapi dari dia angkat sendok sampai mangkoknya bersih, Phainon berdiri di belakang, peluk lehernya sambil ngusep-ngusep pipi ke rambut.
“Phainon,” kasih nada memperingati, “Aku lagi sakit…”
Tangan pria yang lebih muda malah menangkup bawah dagunya. Dorong sedikit biar Anaxa mendongak, habis itu kasih kecup tepat di dahi hangat yang mengkerut, “Tau.”
“Tadi kan sudah bilang karena sakit, engga ada jatah hari ini.”
“Hmm…”
Apa? Phainon mendengung seolah mengiyakan, tapi sekarang malah menyelipkan tangan di bawah ketiaknya, ajak dia berdiri. Jalan super pelan ke kamar mandi karena sepanjang jarak 4 meter itu isinya peluk-peluk mesra dibarengi tangan-tangan nakal menyelip ke bawah bajunya. Mengusap perut sampai dada Anaxa yang berkeringat.
Sejak awal hubungan mereka bertiga dimulai, Anaxa sudah duluan kasih tau walau dia punya nafsu segunung, fisiknya gak bisa mengimbangi. Jadi minta buat dua alphanya bikin jadwal biar adil. Pun kadang bakal ‘main’ bertiga, tapi kalau dirasa udah capek, Anaxa bakal pakai safeword dan berakhir mimimimi detik kepalanya nempel kasur.
Seminggu ini karena sibuk—salah satu alasan kenapa dia bisa sakit juga—jadi lebih banyak negosiasi soal jadwal seks mereka. Beruntung karena selama ini selalu diiya-iyain. Cuma, agak tidak terduga Phainon masih nuntut soal jadwal pria itu hari ini.
“Phainon…” lagi-lagi memperingati. Tapi begitu sampai kamar mandi, seluruh pakaiannya keburu dilucuti. Kekasihnya ikut menelanjangi diri, menempel ke sisi tubuhnya lebih rapat, bikin Anaxa menyadari ada benda empuk-empuk keras caper abis nempel-nempel pinggul.
Phainon jepit rambut panjangnya pakai jepitan merah punya dia dan Mydei yang selalu nempel di tempat gantungan handuk, tanpa melepas dekapan pada torsonya. Setelah itu menyalakan shower hangat, menyabuni tanpa dia perlu bergerak sedikit pun.
Memang mantap dimanja-manja begini. Rasa lengket karena keringat yang bikin risih langsung hilang, terutama karena kelewatan hafal dengan tubuhnya Phainon tau mana bagian yang paling enak buat digosok pakai spon mandi. Lipatan lengan, ketiak, belakang lutut, dan terutama punggung.
CUMA, selain gosok-gosok mantap itu, Anaxa tidak bisa mengabaikan sentakan kecil di bokong setiap Phainon yang mendekap dari belakang, cari celah buat tekan-tekan kemaluan.
Tumben-tumbennya begini. Biasanya Phainon bakal super pengertian dan sabar. Apa karena di ujung tanduk?
Anaxa sudah bersih, dihanduki dengan sayang. Tapi lagi-lagi, harus sabar karena di semua sesi mereka, Phainon langsung merengek protes kalau kulit mereka engga saling bersentuhan. Clingy banget!
Mengendus-ngendus belakang telinga sampai tengkuknya. Tapi hirupan paling kencang dilakukan Phainon persis di tengkuk, pas di kelenjar feromonnya.
“Phainon!” Nadanya awas. Habis gimana? Daerah ‘terlarang’nya dicumbu mesra. Buru-buru Anaxa menutup pangkal lehernya.
Dapet, “Grrr!” protes dari Phainon juga, Anaxa tetap kukuh. Mereka bertiga sudah janji engga ada yang boleh mendahului buat ngasih bond-mark.
Punya dua alpha, Anaxa engga bisa main-main soal ini. Karena kalau sudah ada bond mark, alpha lain tidak bisa kasih tanda yang sama. Dan dia tidak mau cuma punya tanda hanya dari satu alphanya aja. Maka, opsi satu-satunya, Mydei dan Phainon kasih dia mark secara bersamaan.
Seksi? Jelas.
Tapi sudah rencana dari kapan, belum sempat bikin momen spesial untuk menjalankan ‘ritual’ mereka. Kadang karena sibuk, kadang Anaxa keburu overwhelm saat menghadapi dua kekasihnya secara bersamaan. Intinya, belum ada waktu yang tepat.
Dan sekarang, Phainon tiba-tiba punya urgensi buat menandainya. Bikin kepalanya yang terasa berat harus dipakai buat putar otak.
Membalikkan tubuh, Anaxa menghadap kekasihnya. Mengusap sisi wajah Phainon yang mencebik karena sesi cium-cium jadi terjeda, “Kamu mau…” tidak pakai filter, “seks?”
Rasanya Phainon engga perlu jawab. Dari tangan yang langsung buru-buru peluk Anaxa, tarik tubuh mereka biar makin nempel, tekan-tekan kejantanan ke perut bawah pacarnya, udah jelas.
Menghela nafas, Anaxa mendorong pelan Phainon biar engga nempel-nempel begini. Bicara dulu! “Oke, tapi cuma boleh sekali.” Pada akhirnya dia mengalah. Kalau tidak dituruti sekarang, nanti yang ada mau tidur malah denger rengekan menyedihkan plus Phainon sundul-sundul cari perhatian.
Cuma, lucunya karena sudah diujung tanduk begini, Phainon yang keburu ceria dapat izin, masih sempat melipir menggendongnya ke dapur, memintanya minum air hangat sambil pria itu ambil tablet penurun panas yang buru-buru disuapkan ke mulutnya.
Bikin Anaxa yang duduk di atas countertop terkekeh, “Habis ini kalau kamu ikutan sakit, bukan salahku.”
Setelah itu? Jangan ditanya.
Anaxa dimakan hebat.
Entah ini karena demam atau apa, tapi rasanya dia lebih banjir dari biasa. Begitu Phainon menggendongnya ke kamar, di lima meter perjalanan itu mulutnya dihisap rakus. Lidah Phainon yang terasa lebih panas dari demamnya menyeruak masuk, menelusuri setiap sudut yang bisa dijangkau.
Sambil telapak yang terasa kasar mengusap punggungnya. Mengikuti garis tulang dari tengkuk, pinggang, sampai tulang ekor. Setelah itu pakai telunjuk, Phainon menggosok bibir analnya. Membuat Anaxa bergidik karena… entah sejak kapan dia juga ikut terangsang.
Makanya, di posisi yang sama—dia menempel seperti anak koala—Phainon bisa dengan mudah pakai ujung penis menekan bukaan lubang senggamanya.
“Mnn… Phainon, di kasuur—” protes, Phainon masih berdiri, tapi kekasihnya keburu asik sendiri. Menyucuk anusnya main-main cuma sebatas glands, setelah itu ditarik keluar dengan cepat. Bikin Anaxa merasakan sensasi cungkilan yang tidak bikin puas. Yang ada, liangnya jadi terasa gatal! Butuh cepat-cepat diisi penuh.
Sudah protes, merengek, sampai membujuk, Phainon tetap kukuh. Membuatnya kelimpungan karena tidak bisa pakai tangannya buat mendorong—hanya bisa mendekap erat leher kekasihnya, dan Phainon makin semangat mengisi lubangnya pakai dua jari, tiga jari, habis itu cuma pakai ujung penis, detik selanjutnya dibiarkan kosong sampai cincin ototnya berdenyut frustasi.
Gatal. Gatal… Gatal!
Kalau dalam 10 detik kedepan mulut rahimnya tidak ditekan kasar pakai kejantanan yang sudah dia hafal di luar kepala, Anaxa rasa dia bisa gila.
Pakai sisa tenaga Anaxa menggeser tangannya, menggenggam banyak helai rambut belakang Phainon. Jambak, bikin kekasihnya mendongak dan berhenti kecup mesra wajahnya.
“Kasur!”
Baru sadar kalau sudah dimarahi begini. Anaxa berdecak lihat Phainon terkekeh dan kembali cium-cium pipinya, usap-usap hidung di sana, sebelum menidurkannya.
Sedetik dia mendesah lega karena tangannya engga perlu kram menahan beban tubuhnya saat digendong, detik berikutnya Anaxa memekik begitu kakinya dibuka lebar, dilipat ke dada, membuat dia melihat jelas mulut analnya yang berkedut-kedut, mendorong keluar cairan lubrikasi yang terlalu banyak.
Dia longgar. Hampir sepuluh menit analnya dimainkan, dari jarak segini, kelihatan cincin ototnya berdenyut membuka.
Phainon menunduk, lagi-lagi kecup wajahnya. Sambil tangan pria itu menelusuri setiap senti tubuh dari pundak, dada, mencubit gemas putingnya, perut, sampai pinggulnya yang ramping. Kemudian ke pinggang, habis itu menyelinap ke belakang, mendorong panggulnya lebih naik.
Setelah itu pipi bokongnya ditarik ke arah berlawanan.
“Ah— Phainon… mmnn!”
Membuatnya terbuka lebar.
Sedetik kemudian, Anaxa diisi. Penuh.
Phainon menikmati semuanya.
Anaxa yang terkulai di bawahnya, lemas. Melingkupinya dengan liang yang panas dan berlendir. Tidak lagi fokus, hanya bisa pegang perut bawah sendiri, meraba betapa dalam omega itu diisi.
Berbanding terbalik dengan dia yang menahan diri mendapat sensasi jepitan kencang di penis. Anaxa memerah haus, kayak lagi coba bikin Phainon langsung klimaks cuma dari sensasi mempenetrasi. Bahkan, buat dia menarik separuh kelaminnya keluar, butuh usaha luar biasa.
Ditambah dapat pemandangan Anaxa gemetar, menyemburkan semen dengan berantakan gara-gara dia menarik penisnya hampir keluar, dan kembali di menekan dalam—menyentuh semua titik enak kekasihnya—dengan gerakan lambat, Phainon rasa dia bakal betah di posisi ini mau berjam-jam juga.
“Naxa…” memuji, memijat pelan samping pangkal paha kekasihnya yang (pasti) bakal pegal karena mengangkang begini, Phainon bersiul kecil lihat cincin otot yang sampai mengerucut saat dia tarik kelaminnya sampai tersisa hanya ujung, “Aku masukin semua, ya?”
Ngomong kayak minta izin, tapi nyatanya habis tekan kejantanannya, Phainon engga nunggu jawaban Anaxa buat masukin bakal knotnya—daerah di pangkal penisnya yang lebih gemuk—buat ngunci peraduan mereka.
Mungkin karena sibuk, sudah lama engga ada seks-seks hebat, begitu Phainon mengisi anusnya pakai gumpalan knot, Anaxa langsung membusung. Mencengkram erat bantal di bawahnya, mengerang berisik, karena kepalanya langsung berisik dengan instingnya yang buru-buru ingin diisi semen, diisi pakai knot, lalu semalaman penuh memastikan rahimnya banjir sperma.
“Phainon!” Sudah tahu begini, Phainon malah menuang banyak feromon. Membuat kepalanya yang seharian pening karena sakit, makin pusing karena mabuk feromon. Wangi khas rerumputan basah yang tersiram matahari dengan aksen musky, Anaxa tidak tau harus merespon bagaimana lagi.
Dia cuma tau tubuhnya menerima Phainon dengan mudah. Sudah tidak ada resistensi dari bokongnya yang tadi masih berusaha menyesuaikan. Kekasihnya sekarang bisa bergerak sesuka hati, pakai lubangnya jadi tempat kocok kelamin.
Sensasi knot yang mulai terbentuk bergerak keluar-masuk—bikin suara ‘plop-plop’ berisik, Phainon yang merunduk dan mengusal di perpotongan lehernya, tubuhnya yang tersentak setiap kekasihnya bergerak, dan sensasi kelewatan enak di liang senggamanya… gila. Anaxa mengerang, memeluk Phainon erat saat dia sekali lagi orgasme.
“Hngg— Phainon…” merengek, pegang perutnya sendiri. Sudah klimaks pun, Anaxa rasa semuanya masih kurang. Phainon belum keluar, dia belum diisi! “Cepeet!”
Gemas. Phainon mendekut sebelum membenamkan wajahnya ke leher, dekat kelenjar feromon omeganya. Menghirup, mengusap ujung hidungnya.
Anaxa panas, tapi harum wangi feromon kekasihnya bikin dia tidak bisa berhenti. Belakang kepalanya mengingatkan kalau ini harusnya cuma quick sex. Tapi dia masih ingin lebih lama mendamba, menyusuri setiap senti kulit kekasihnya.
Makanya begitu dia mengejar klimaks, pakai anus kekasihnya dengan cepat, lihat mata Anaxa memutar ke belakang sambil terus-terusan pegang perut sendiri—tepat di mana penisnya menusuk titik paling dalam, Phainon menggeser mulutnya. Mencari bibir pacarnya, membawa Anaxa dalam ciuman panas. Meraup habis liur yang berceceran, sekaligus membungkam desahan berisik kekasihnya saat dia:
menekan ujung kelaminnya ke mulut rahim Anaxa.
Menyemburkan spermanya di sana.
Enak.
Saking enaknya, walau knotnya pelan-pelan terbentuk, Phainon tidak mau berhenti bergerak. Malah menghentak makin kencang, makin cepat. Bikin semennya mengalir deras dari celah sempit cincin anal Anaxa yang menjepit erat—tidak rela kalau sperma-sperma itu terbuang sia-sia.
Gerakan yang bikin Anaxa merengek berisik saat ciuman mereka terlepas. Karena Phainon pakai knot buat meng’hancurkan’ otot anusnya. Knot-fuck.
“Phainon… Phainon! Angh, mmn. Berhenti, berhenti!” mencengkram lengan kekasihnya, Anaxa bicara kacau. Bukannya tidak suka, tapi setiap kekasihnya bergerak menggesek dinding analnya pakai knot gemuk, kantung kemih dan prostatnya digosok kelewatan enak.
Kalau lagi engga sakit, Anaxa bakal rela-rela aja. Tapi sekarang?
Pandangannya berputar. Phainon menyetubuhinya kelewatan gila. Membuat penisnya terus-menerus menyemburkan semen.
“HNGG!” Mengerang panjang saat dia sekali lagi klimaks, di tengah nikmatnya, Anaxa putar otak cari cara agar Phainon berhenti. Pakai tenaga juga bakal sia-sia kalau mengingat fisiknya dan Phainon yang berbanding terbalik.
Satu-satunya cara:
“Phainon— Phainon,” merengek memanggil nama alphanya, Anaxa menyentuh sisi wajah Phainon. Mengalihkan kekasihnya dari kabut nafsu, “Capek, sudah… engga bisa lagi,” semanis mungkin merayu, “Aku lagi sakit, capek, mau tidur.”
Phainon berhenti, berkedip lucu. Menekan dahi ke dahinya, membuat nafas hangat menerpa wajah. Lalu mengadu pipi, seolah memastikan perbedaan suhu keduanya.
Dipikirnya setelah itu pacarnya bisa sedikit waras! Bukannya malah (lagi-lagi) seperti anjing yang dibuang, ngambek pas harus berhenti ditengah lagi asik main. Menggerung, “Engga boleh lagi?”
“Boleh! Tapi engga sekarang…” Mengerang, Anaxa rasanya mau protes. Pipinya digigit saat dia bilang tidak dan Phainon di bawah sana kembali bergerak. Kali ini lambat, malas. Seolah Phainon tengah menikmati tiap gesekan kelamin mereka.
“Naxa diem aja,” malah sekarang tangannya ditarik buat melingkari leher. Phainon menghilangkan jarak di antara tubuh mereka. Mendekap erat, dada berkeringat saling menekan, “Rileks, sayang.”
Bibirnya dipagut mesra. Phainon mencumbunya lembut, pelan, lebih sabar. Mau protes soal sakitnya dan kemungkinan kekasihnya bakal tertular juga percuma. Rambutnya yang menempel di wajah disisir ke belakang, Phainon memegang kepalanya agar diam saat pria itu menelusuri setiap celah mulutnya.
“Mmn— nn…” Anaxa tidak bisa berbuat banyak. Cuma meremas tengkuk Phainon saat liurnya dihisap rakus, sementara tubuhnya dipakai sesuka hati.
Phainon masih menyetubuhinya pelan saat kepalanya berdenyut pening. Matanya memburam. Panas demam ditambah ciuman yang tidak ada henti bikin matanya berair. Menggeser wajah ke samping, menghentikan paksa pacarnya yang tidak kenal bosan melumat bibirnya, Anaxa mengerang, “Pusing!”
“Karena aku cium?”
“Ngg!” Meremas anak rambut Phainon yang ada di pangkal leher, Anaxa menggeliat. Phainon sialan, malah membenamkan penis pria itu dalam. Menyuapi analnya sampai bakal knot tertelan habis, “Stop— stop teken rahimku!”
“Bukannya Naxa suka?”
Suka! Tapi lagi-lagi, engga sekarang! Lihat dia, terkulai tanpa daya, ditekuk sedemikian rupa, cuma bisa menggerakkan kepala atau tangannya buat protes. Kakinya seperti jelly, lengannya sudah tidak ada tenaga lagi.
“Buktinya, perutku makin basah. Penismu kayak air mancur.”
Phainon dan mulut sialannya! Di posisi saling nempel begini, jelas kelaminnya yang layu menempel ke perut pacarnya. Tergesek enak setiap Phainon bergerak, walau sudah tidak bisa keras lagi.
Cuma… sepertinya Anaxa baru menyadari kalau sedari tadi semennya mengalir seperti keran bocor. Sensasi klimaksnya mengabur karena mempertahankan kesadarannya, tidak sadar kalau dia berkali-kali orgasme setiap dihentak dalam.
Tubuhnya suka,
dipakai alphanya sesuka hati begini.
Anaxa membuka mulut. Mau sekali lagi meminta Phainon buat berhenti. Tapi kok…
semua tiba-tiba gelap?
***
“Anaxa…”
Goncangan kecil di lengannya, dibarengi dengan sensasi tubuhnya didudukkan memaksanya untuk membuka mata.
Hal pertama yang Anaxa rasakan adalah seluruh tubuhnya sakit! Tapi detik berikutnya—seperti mengerti kalau dia mengeluarkan ekspresi tidak nyaman—ada harum delima dan citrus segar yang membuatnya rileks. Ada lengan yang mendekapnya, dibarengi usapan sayang di pundak dan lengan.
“Mydei…” suaranya serak. Anaxa menelan banyak ludah saat dirasa tenggorokannya sakit. Untungnya seperti paham, detik selanjutnya ada ujung gelas menempel di bibirnya.
“Minum dulu.”
Satu gelas air hangat langsung habis! Anaxa mengusap wajah, mengucek mata, merasakan hangat di dahi dan leher belum hilang. Membuat kejadian Phainon semalam langsung tereka ulang. Makanya begitu kesadarannya sudah terkumpul, nadanya langsung galak, “Mana Phainon?!”
Bikin Mydei tertawa lihat kerutan kesal di dahi Anaxa. Mengambil sup ayam hangat yang sudah dia siapkan buat disuapi ke kekasihnya, “Di luar, lagi makan juga. Dan… demam juga.”
Mampus! Rasanya mau mengumpat begitu. Tapi sendok di bibir mengalihkan perhatian, Anaxa mengerang panjang. Merasa tubuhnya perlahan rileks saat Mydei memposisikan diri di samping, membuatnya separuh bersandar ke pundak kekasihnya sambil mulai menyuapi.
Singkat, tapi di sesi sarapan pagi dibumbu dengan suapan mesra sama Mydeimos, membuatnya bersendawa kenyang. Menikmati makannya sambil dengar kronologis kejadian kemarin sampai hari ini.
Dari Mydeimos yang capek lembur malah pulang mendapati Phainon dengan knot masih nyangkut dan lagi asik grepe-grepe ke dia yang sudah pingsan. Mydei yang tendank Phainon sambil marah-marah, membersihkan tubuhnya. Phainon yang mengkerut di ujung karena masih ereksi tapi kena marah, Mydei yang jadi penengah, dan Phainon semalaman engga boleh nempel-nempel lagi.
Lalu subuh-subuh Mydei yang terbangun dengar dia dan Phainon mengigau kacau—karena tertular. Panik lihat dua kekasihnya demam berkeringat, lalu sibuk jauh sebelum matahari terbit untuk menyiapkan makan dan mengganti pakaian dia dan Phainon yang basah.
Anaxa dengar semuanya sampai tertawa. Mengusap pipi Mydei sambil bergumam, “Terima kasih, Mydei. Tapi hati-hati tertular!”
Mydeimos mendengus. Sebentar menikmati sentuhan hangat di pipi, dia merunduk, menekan dahinya dengan Anaxa yang panas. Cari kesempatan 2 menit pacaran singkat sebelum harus buru-buru pergi kerja.
Hembusan nafas menerpa wajah, bisa lihat bulu mata Anaxa yang lebat sedikit basah air mata karena pengaruh demam, rona di muka, kekasihnya yang ikutan pakai sedikit tenaga menyundul balik ke arahnya. Gemas.
Jadinya Mydei kasih satu ciuman singkat di bibir sebelum ambil obat yang sudah dia siapkan. Minta kekasihnya minum sebelum dia berangkat, “Habis ini aku langsung minum segenggam vitamin. Kalian sih, susah buat jaga kesehatan.”
Mengerang karena rasa obat yang pahit, Anaxa engga mau disalahkan, “Salah Phainon.”
“Salahmu, tidak ada, memang?”
“Engga!”
Mydei terkekeh, menyisir rambut Anaxa yang lepek karena berkeringat, sebelum mengecup dahi kekasihnya, “Sudah, aku berangkat dulu.” Setelah itu taruh ponsel Anaxa yang sudah terisi penuh di nakas, “Kalau ada apa-apa, telpon. Kamu atau Phainon makin panas, telpon. Apapun, telpon.”
Kibas-kibas tangan, Anaxa sok-sokan mengusir, “Iya, iya.”
Lihat pintu ditutup, Anaxa menyamankan posisi setengah duduk. Tumpuk-tumpuk bantal tinggi, bersandar, mau kasih jeda makanan buat turun sambil buka ponsel, balas chat asistennya yang konfirmasi materi kuliah hari ini. Cek silabus, balas email sponsor, baca singkat revisi dari mahasiswa di bawah bimbingannya, kasih masukan, ah… banyak!
Engga sampai 30 menit, tapi ini rutinitasnya setiap pagi begitu sampai kampus. Tidak bisa lepas walau sekarang kepalanya digerakin dikit langsung heboh berputar.
Sampai pintu kamar terbuka dan muncul Phainon yang terseok lesu. Kelihatan lebih segar karena seperti habis cuci muka, tapi Anaxa bisa lihat bibir kekasihnya yang mencebik sebelum merangkak naik ke atas kasur.
“Sudah minum obat?”
Phainon mengangguk kecil. Bersingut ke sampingnya, peluk pinggul sambil sibuk ngetek. Manja! Bikin Anaxa mengusap-usap sayang helai rambut, tengkuk, terakhir punggung Phainon, “Kamu, sih. Sudah aku bilang buat hati-hati ketularan. Malah engga mau berhenti.”
Phainon panas. Walaupun tidak sepanas tubuhnya. Menggerung tidak koheren dengan wajah terbenam di sisi torsonya. Walau engga bilang, tapi kelihatan kalau kekasihnya lagi di kondisi tidak nyaman. Mengendus-endus harumnya seolah cari tenang. Anaxa baru mau taruh ponselnya, balas peluk Phainon, habis itu puk-puk pelan sampai ketiduran.
Kalau saja…
Phainon tidak tiba-tiba jadi agresif,
membauinya kelewatan semangat.
“Phainon?”
Pinggulnya didekap, erat. Satu tangan Phainon merayap masuk ke baju tidurnya, meraba setiap lekuk sambil kekasihnya menggosok hidung ke lipatan ketiaknya. Naik ke pundak, lalu perpotongan leher.
Seperti kemarin! Bahkan lebih parah.
Dia bahkan tidak kasih stimulus apapun, tapi sudah ada benda keras toel-toel sisi pahanya. Menoleh cepat, Anaxa bisa lihat raut sayu dan wajah kekasihnya yang memerah. Mata Phainon tidak fokus, seperti sibuk lihat kabut tak kasat mata sambil tubuh pria itu bergerak sendiri cari lebih banyak sentuhan.
Kalau kayak gini, rasanya Phainon lebih pas disebut lagi masuk masa kawin dibanding demam! Mana ada demam tapi masih punya tenaga buat grepe-gre—
Eh… tunggu.
Anaxa buru-buru merunduk. Cari kelenjar feromon Phainon buat ikut dia hirup. Ada wangi yang lebih kental dibanding biasanya, membuat pundaknya bergidik. Sensasi setruman langsung menjalar turun melewati tulang punggung dan berakhir membuat area belakangnya berdenyut merespon.
Harum khas rut.
AH! Mungkin karena hidungnya mampet, dari kemarin engga dapat sinyal soal kondisi Phainon. Sekarang semua jadi masuk akal kenapa alphanya tiba-tiba cuma bisa mikir soal seks dan gak bisa sedetik aja lepas dari badannya.
Kalau lagi dia lagi fit seperti biasa, Anaxa bakal ok saja temenin Phainon. Walau kadang di tengah bakal kasih timeout dan kabur sebentar buat isi tenaga, tapi sudah bertahun-tahun bersama, dia sudah kelewatan handal buat menghadapi masa kawin kedua kekasihnya.
Hanya saja, Phainon baru selesai rut awal bulan kemarin. Mydei juga sudah selesai dengan masanya bulan ini. Anaxa engga punya persiapan apapun, baik fisik ataupun mental buat menghadapi Phainon yang masa kawinnya dateng 2 bulan lebih cepat!
Tidak masuk akal!
Ah, dia harus cepat-cepat telpon Mydei. Kayaknya Phainon butuh dibawa ke rumah sakit! Jangan-jangan ada gangguan hormon, makanya siklus pacarnya sampai kacau balau begini.
Tapi dengan ponsel di tangan pun, Anaxa engga bisa pencet apapun! Terutama karena detik Phainon gesek-gesek ke badannya sampai kekasihnya tiba-tiba membalik tubuhnya, semua terjadi kelewatan cepat!
“Mmn— Phainon!” merengek, pose apa-apaan ini?
Dia dibuat menelungkup dengan bokong menungging tinggi. Tangan Phainon mencengkram pinggulnya naik, lalu dalam kondisi berpakaian lengkap alphanya mencengkram satu pipi bokongnya ke samping dan pakai celah yang ada buat gesek-gesek batang kejantanan yang masih tertutup.
Tapi karena tertutup, Anaxa bisa merasakan kasar kain celana menggesek mulut analnya. Sensasi seperti digaruk yang bikin area senggamanya berdenyut, dan mulai basah.
“Stop, Phainon! Tunggu sebentar, aku telpon Mydei. Kamu rut!” Sudah protes, tapi Phainon sama sekali tidak merespon! Anaxa tau betul kalau sudah begini, mau dia omeli panjang juga bakal mental. Biasanya karena sudah ada persiapan, ada banyak cara buat kabur dari alphanya yang tidak mau lepas. Salah satunya jelas, cari bantuan dari alphanya yang lain.
Tapi sekarang, gimana caranya? Mentang-mentang punya fisik yang lebih ok, semua pakaiannya dilucuti dengan mudah. Begitu kulitnya bergesekan dengan seprai, detik selanjutnya ada jempol yang menggosok analnya. Menarik cincin otot yang masih longgar—karena knot-fuck kemarin—untuk selanjutnya Anaxa merasakan lidah panas menyeruak masuk.
Menghisap lubangnya haus, diajak berciuman panas seolah Phainon sedang melahap bibirnya.
Anaxa gemetar. Kalau mengikuti instingnya, dia bakal mendorong bokongnya mundur, minta kekasihnya lebih banyak menstimulasi di sana. Cuma beruntung otaknya masih bisa dipakai, jadi di kesempatan Phainon asik dengan bokongnya dia bisa buka ponsel: telepon Mydei!
Cuma butuh dua nada dering sampai dia dengar nada khawatir dari Mydei.
“Naxa, ada apa?”
“Nggh!” baru mau bicara, tapi keburu Phainon merangkak naik, mengikuti garis tulang punggungnya pakai lidah. Membawa sensasi setruman menggelitik dari tulang ekor, naik ke pinggul, rusuk, leher, sampai otaknya. Membuat tubuhnya bereaksi cepat, mengeluarkan harum yang menggoda saat alphanya mengecup tengkuknya—tepat di kelenjar feromon.
Phainon menekan dada ke punggungnya. Membuat mereka kelewatan rapat. Deru nafas di ceruk leher, dentuman jantung di punggung, pinggul yang menempel di bokong, dan yang terutama ujung tumpul menekan masuk ke liang basahnya.
Rasanya seperti dihantam dengan nikmat bertubi. Pakai sisa kewarasannya, Anaxa mengerang panjang saat merasakan dinding analnya perlahan dilonggarkan kembali dengan penis yang mengisinya semalam. Membawa sensasi yang bikin kelaminnya mengucurkan banyak cairan bening tanda nikmat. Tersedak kecil, Anaxa pakai kalimat seadanya, “Phai—ah! Phainon rut!”
“Rut? Belum jadwalnya, kan? Phainon bukannya habis—”
Anaxa tidak bisa dengar sisanya, terlena nikmat. Malah saat ingin balas omongan pacarnya lewat telepon, suara yang keluar hanya pekikan kacau, “Mydei!” Mau minta Mydei buat pulang, bawa Phainon ke dokter, tapi tidak ada kata yang mau keluar. Terutama ketika Phainon menekan dalam, menekan kuat titik sensitifnya, “Mmn, Myd— ah!”
Phainon merebut ponsel di tangannya, didorong jauh. Seolah tidak suka Anaxa mengalihkan perhatian dari sesi seks mereka. Seperti balas dendam 30 detiknya dicuri, Phainon menyetubuhi kelewatan cepat. Menggosok semua titik enaknya, menggeram intim, mengendusi feromonnya.
“Mnn… Phainon, pelan… hng! Pelaan—”
Phainon menggosok hidung di kelenjarnya yang meremang, mencumbunya di sana. Anaxa seperti dihantam dengan kewarasan begitu dirasa kekasihnya menggigit main-main daerah ‘berbahanya’. Kadang kalau sedang rut begini, Anaxa bakal pakai pelindung leher menghindari salah satu dari kekasihnya menandai. Tahu kalau selama rut ada urgensi bagi para alpha selain untuk menghamili, memberikan bond-mark juga. Tapi sekarang, terlambat sadar, mana sempat pakai begituan!
Satu-satunya pertahanan yang bisa ia lakukan: menutup area tengkuknya pakai tangan. Tentu aksi yang bikin Phainon langsung merengek tidak setuju karena wangi kesukaan pria itu jadi terhalang.
“Naxa, awas!”
“Enggak— ah!!!” dapat larangan darinya, Phainon langsung menghentak dalam. Bikin pening! Ditambah alphanya memberikan gigitan kecil di punggung tangan, biar minggir. Tapi di atas itu semua, yang menarik perhatiannya jelas Phainon yang memeluk erat, bergerak kacau menyetubuhi. Khas mengejar klimaks, “Phainon, ngg… di luar, di luar—MMN!”
Terlambat, analnya keburu diisi dengan semen panas. Malah sekarang dia bisa merasakan pangkal penis yang menggemuk.
Phainon knotting. Mengunci persetubuhan mereka, memastikan dinding rahim Anaxa terisi penuh dengan spermanya.
“Ang!”
Mengabaikan omeganya yang masih berusaha memproses ini semua, tidak seperti kemarin saat dirinya bergerak kacau terus menyetubuhi, Phainon menegakkan tubuh. Dengan mudah mengangkat Anaxa yang ada di dekapannya berganti posisi.
Phainon duduk.
Membuat Anaxa di atasnya ikut duduk memunggungi, sambil di bawah sana knotnya ‘dihangatkan’.
Tubuh Anaxa yang lebih kecil, terasa pas di dekapan. Memeluk pinggang, sementara lengannya yang satu melewati dada biar tangannya bisa melingkar cantik di leher kekasihnya. Menahan Anaxa tetap diam sementara dia mengendusi tengkuk yang terus ditutup omeganya.
“Naxa, awas…”
Dapat gelengan tidak setuju, bikin Phainon menggerung. Menggosok pipi ke punggung tangan Anaxa yang menutupi kelenjar feromon pria itu, mengecup kecil, sampai digigit pelan. Kekasihnya tidak bergeming.
Kalau gini, jadinya dia cari perhatian yang lain.
Menaruh dagu di pundak Anaxa, Phainon melirik ke bawah sambil bawa tangannya turun. Mengusap dada, mencubit puting kekasihnya. Dipilin antara jari, sementara lengannya yang mendekap pinggul bergeser mengusap perut bawah Anaxa.
Mengecup pucuk pundak omeganya, menekan tonjolan samar di atas pubis Anaxa, bisik-bisik kecil, “Tempat bayi.”
Omongan yang langsung dapat reaksi kelewatan seksi. Anaxa menegang, menjepit kuat seolah meremas sisa semen dari penisnya.
“Naxa mau? Bayi?”
“Phainon,” merengek. Meremas pergelangan tangan Phainon yang terus menekan-nekan perut bawahnya, membuat Anaxa merasakan jelas kelamin yang menyumpalnya, menoleh ke alphanya yang menatap penuh damba, “Engga sekarang…”
“Tapi mau?”
Lagi-lagi, Anaxa tidak bisa melawan refleks langsung menjepit kejantanan di dalamnya saat bicara tentang ini. Salahkan insting omeganya yang kelewatan semangat membayangkan perutnya terisi buah cinta mereka. Walau otaknya tidak setuju dan dia tidak punya rencana punya anak, tubuhnya berkata lain.
Walau sudah disumpal knot, sudah tahu ini proses alami alpha untuk memastikan pasangan mereka terbuahi, rasanya masih kurang. Instingnya bilang dia butuh lebih banyak semen.
Mencicit pelan, memenuhi ego sisi omeganya, “Mau…”
Kecupan di sepanjang pundak, dibarengi tangan Phainon yang ganti jadi mengusap-usap perutnya sampai hangat, Anaxa rasanya ingin mengubur diri begitu Phainon balas omongannya dengan, “Mau apa?”
“Punya bayi.”
“Sama?”
“Bayi— dengan Phainon…”
Sepertinya Anaxa salah bicara. Karena detik di rasa knot Phainon mulai mengecil, alphanya menggenggam pinggulnya, mengangkatnya naik sebelum kembali dijatuhkan dalam-dalam, sambil bicara, “Berarti lagi… kita buat bayi sekarang.”
