Chapter Text
Mengemudikan mobil Formula 1 bukanlah sekadar olahraga; itu adalah upaya bertahan hidup di dalam oven bertenaga roket yang melaju di atas tiga ratus kilometer per jam. Di dalam kokpit yang sempit itu, gravitasi menghantam dada seperti godam, suhu panas memanggang kulit dari balik baju balap anti-api, dan setiap tarikan napas terasa seperti menghirup debu karbon. Hanya ada satu aturan mutlak: berkedip pada detik yang salah, dan kau akan mati.
Dan jika ada sirkuit yang paling tidak kenal ampun, itu adalah Monako. Jalanan raya sempit yang diapit oleh pagar pembatas baja dan perairan Mediterania ini tidak memberikan ruang untuk kesalahan.
Dua lap yang lalu, sebuah mobil Haas kehilangan kendali dan menghantam dinding pembatas di Swimming Pool chicane hingga hancur. Safety Car segera diturunkan untuk membersihkan puing-puing karbon yang berserakan di aspal. Bagi Fourth, insiden itu adalah anugerah sekaligus kutukan. Jarak lima detik yang sebelumnya memisahkan mobil Ferrari merahnya di posisi kedua dengan mobil Red Bull Gemini di posisi pertama, kini terhapus tak bersisa. Kumpulan mobil kini merapat (bunched up).
Di sinilah, saat Safety Car akhirnya kembali masuk ke pit dan balapan dilanjutkan (restart) di Lap 71 dari 78, kewarasan Fourth benar-benar diuji.
Tangan Fourth mencengkeram kemudi Ferrari merahnya hingga buku-buku jarinya memutih di balik sarung tangan. Mesin di belakang punggungnya menjerit, memprotes batasan yang dipaksakan padanya. Mobil ini adalah monster yang cacat—sebuah "traktor" berbalut cat merah mengilap yang menuntut darah dan keringat Fourth hanya untuk bisa tetap berada di urutan tiga besar.
Namun Fourth tidak peduli pada batasan mobilnya, karena matanya hanya tertuju pada satu hal: sayap belakang mobil Red Bull berwarna biru pekat tepat di depannya. Mobil nomor satu. Mobil Gemini.
Keringat menetes pedih ke dalam mata Fourth, tapi ia menolak berkedip. Safety car baru saja masuk, jarak mereka kini terhapus. Saat mereka melesat di lurusan lintasan menuju tikungan pertama, Sainte Devote, Fourth melihat celah sekecil jarum. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh kebencian dan kehausan akan pembuktian, Fourth menginjak pedal gas dalam-dalam, menukik tajam ke sisi dalam tikungan untuk menyalip.
Itu adalah manuver yang berani. Atau mungkin putus asa.
Namun Gemini, sang Juara Dunia yang duduk di atas singgasananya, tidak memiliki niat untuk berbagi jalan. Alih-alih memberi ruang saat hidung mobil Ferrari Fourth sudah menyejajarinya, Gemini dengan dingin dan penuh perhitungan, membanting setirnya ke kanan—menutup pintu sepenuhnya.
Dunia Fourth seakan berhenti berputar. Pagar pembatas baja berjarak kurang dari sepuluh sentimeter dari ban depannya. Trauma masa lalu melesat dalam benaknya seperti kilat—Monza lima tahun lalu, suara logam yang remuk, tulang yang patah, dan masa depan yang dirampas.
Dengan refleks dari dewa kematian, Fourth menginjak rem sekuat tenaga. Ban mobilnya terkunci, mengeluarkan asap putih pekat dan bau karet terbakar yang memuakkan. Ferrari merah itu tersentak keras, nyaris menghantam dinding pembatas, kehilangan momentum sepenuhnya. Fourth berhasil selamat, tapi harganya mahal. Tiga mobil di belakangnya melesat menyalip, melemparnya dari posisi kedua jatuh ke posisi kelima dalam sekejap mata.
Di depan sana, mobil biru Gemini melaju bebas tanpa cacat, menyentuh garis finis pertama. Lagi.
"Mobil sialan!" Fourth berteriak di dalam helmnya, suaranya serak, tenggorokannya terbakar amarah yang nyaris membuatnya gila.
Setengah jam kemudian, area penimbangan berat badan (weigh-room) di belakang podium terasa seperti zona perang yang siap meledak.
Fourth berjalan gontai keluar dari kokpitnya, melepas helm merahnya dengan kasar. Napasnya memburu, rambut gelapnya basah lepek oleh keringat, dan matanya menyala seperti bara api. Dari seberang ruangan, ia melihat Gemini. Pria itu baru saja melepas balaclava-nya, terlihat sangat memuakkan dengan betapa sempurnanya ia. Wajahnya tidak memancarkan rasa bersalah sedikit pun; justru ada senyum miring yang arogan saat ia menerima ucapan selamat dari staf timnya.
Tidak ada yang bisa menghentikan Fourth saat kakinya melangkah penuh amarah melintasi ruangan, langsung menuju sang Juara.
"You did that on purpose, didn't you? Bastard," desis Fourth, suaranya rendah namun cukup mematikan untuk membekukan udara di sekitarnya.
Gemini menoleh, menatap Fourth dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot merendahkan yang selalu berhasil membuat darah Fourth mendidih. "Doing what? Racing? Sorry if that's too extreme for your piece of junk car, darling."
Tangan Fourth baru saja terangkat, siap mencengkeram kerah baju balap biru itu, ketika sepasang tangan yang kuat mengunci lengannya dari belakang, menariknya mundur.
"Whoa, whoa, rem sedikit, Kuda Jingkrak," suara Phuwin terdengar tegang di telinga Fourth. Sahabatnya yang membalap untuk tim McLaren itu memegang bahu Fourth erat-erat, sementara Satang, pembalap dari tim Mercedes yang juga sahabat dekat Fourth, dengan cepat melangkah maju, memblokir pandangan Fourth dari Gemini.
"Tahan emosimu, Fourth. Banyak kamera," bisik Satang cepat, matanya melirik waspada ke arah pintu masuk di mana staf media mulai berkerumun. "Jangan biarin dia menang dengan bikin lo keliatan gila di sini."
Di sisi Gemini, Pond—rekan setimnya di Red Bull sekaligus sahabat pria itu—sudah berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap kubu Fourth dengan senyum santai yang menipu. Pond tahu bagaimana cara melindungi Juara Dunia-nya. "Kamu dengar teman-temanmu, Fourth. Balapan sudah selesai. Kalau kamu marah karena kalah cepat, lebih baik mengeluh pada mekanikmu, bukan pada pemenangnya."
"Dia hampir memasukkanku ke dinding pembatas, Pond!" bentak Fourth, suaranya pecah oleh frustrasi yang tertahan.
"Kamu yang maksa masuk di celah yang gak ada," balas Gemini dingin, melangkah maju hingga jaraknya dan Fourth hanya tersisa beberapa jengkal. Tubuh tinggi Gemini menjulang, memberikan bayang-bayang yang mendominasi. "Lain kali, kalau kamu gak punya nyali untuk bermain dengan para pria dewasa, jangan berani-berani masuk ke lintasan."
Gemini berbalik, melenggang pergi menuju ruang ganti, meninggalkan Fourth yang gemetar hebat di antara pelukan penahan Phuwin dan Satang.
Sahabat-sahabatnya mengira Fourth gemetar karena amarah murni antar pembalap. Mereka mengira Fourth membenci Gemini karena pria itu selalu merebut pialanya. Mereka berusaha keras memisahkan keduanya agar tidak terjadi adu fisik yang bisa merusak karir Fourth.
Mereka tidak tahu.
Mereka tidak tahu bahwa tangan yang baru saja memutar kemudi untuk mencelakai Fourth di lintasan tadi adalah tangan yang sama yang menyentuh pinggul Fourth di bawah selimut tebal sebuah hotel di Suzuka, Jepang. Mereka tidak tahu bahwa pria angkuh yang berlalu pergi itu adalah pria yang secara hukum menjadi nama belakangnya. Dan mereka tidak akan pernah tahu, bahwa di dalam penthouse megah tak jauh dari sirkuit ini, ada seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dengan mata gelap persis milik Gemini, yang sedang memegang mainan mobil merah dan menunggu kepulangan "Papa"-nya.
Ketidaktahuan itulah yang membuat topeng kebencian ini harus terus terpasang.
Beberapa menit kemudian, di dalam media pen yang sesak dan silau oleh kilatan flash, aroma pelumas mesin dan sisa sampanye kemenangan mengudara dengan pekat.
"Tentu saja balapan tadi cukup menantang," suara Gemini mengalun melintasi barikade, berat dan lengket seperti madu gelap yang tumpah di atas luka terbuka. "Tapi saat berada di posisi pertama, hanya perlu memastikan tidak ada orang bodoh di belakang yang melakukan manuver putus asa."
Mata Gemini melirik tajam, melewati bahu para reporter, bertubrukan langsung dengan mata Fourth yang baru saja tiba di bilik wawancara sebelah.
Para jurnalis, dengan insting predator mereka, langsung menyodorkan alat perekam ke wajah Fourth. "Fourth, Gemini menyinggung manuver putus asa di Sainte Devote. Apa tanggapanmu?"
Fourth menatap lurus ke kamera, namun kata-katanya murni ia arahkan ke jantung pria berbaju biru di seberang sana. Ia membiarkan seluruh kepahitan Monza, kebencian Suzuka, dan kesepiannya di salju pegunungan Swiss melebur ke dalam suaranya.
"Dia bisa menyebutnya manuver putus asa," balas Fourth, sedingin es, sehalus bilah pisau. "Tapi aku menyebutnya balapan. Sesuatu yang mungkin sudah dilupakan oleh Juara Bertahan kita karena terlalu sibuk berada di zona nyamannya. Berhati-hatilah. Banteng yang terlalu lama duduk tenang di padang rumput, bisa dengan sangat mudah disembelih dari belakang."
Kilatan kamera meledak, memotret setiap nano-detik saat rahang Gemini mengeras. Senyum arogannya lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata dingin yang mematikan. Di balik ingar-bingar media dan sorak-sorai dunia balap, peperangan pribadi mereka telah memasuki babak baru.
Pintu penthouse ganda di distrik Monte Carlo itu terbanting tertutup, mengunci hiruk-pikuk Monako di luar. Namun, peperangan di antara mereka baru saja berpindah arena.
Fourth melempar tas ranselnya ke lantai marmer dengan kasar, napasnya memburu. Di dekat mini bar, Gemini berdiri melepas jam tangan mahalnya dengan gerakan kelewat tenang. Ketenangan yang membuat isi perut Fourth melilit oleh amarah murni.
"Kamu sengaja ngelakuin itu," desis Fourth, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah. Suaranya bergetar menahan luapan emosi yang sejak tadi ia bendung di depan kamera. "Kamu sengaja nutup celah di Sainte Devote. Kamu tahu persis kalau aku telat ngerem nol koma sekian detik aja, kita berdua bakal hancur di dinding pembatas!"
Gemini meletakkan jam tangannya di atas konter. Ia menoleh, menatap Fourth dengan mata gelap yang sedingin dasar lautan. "Kalau kamu tau celahnya bakal kututup, kenapa kamu masih maksa masuk? Kamu terlalu emosional, Fourth. Kamu mengemudi pakai amarah, bukan otak. Itu bedanya pemenang dan pengecut."
"Pengecut?!" Dada Fourth naik-turun dengan cepat. Udara di antara mereka terasa seberat timah. "Satu-satunya pengecut di ruangan ini itu kamu, Gemini! Kamu selalu milih jalan kotor buat nyingkirin aku karena kamu tahu mobil sialanku mulai bisa ngejar kamu! Sama kayak lima tahun lalu di Monza. Kamu nabrak aku karena kamu takut aku menang secara adil!"
Rahang Gemini mengeras. Kata 'Monza' selalu menjadi pelatuk yang fatal. Pria itu memangkas jarak mereka dalam satu langkah lebar, mengurung Fourth di antara tubuh besarnya dan konter marmer. Hawa kemarahan yang pekat menguar dari tubuh Gemini, terasa memabukkan sekaligus mengancam. Kehadirannya begitu mendominasi hingga Fourth nyaris kehilangan napas.
"Kita udah bahas ini ratusan kali," geram Gemini pelan, suaranya berat dan mengancam. "Itu murni insiden balapan. Kapan kamu bakal berhenti bertingkah seolah seluruh dunia berutang padamu, Fourth? Kapan kamu—"
"Di saat kamu asyik minum sampanye dan diarak keliling kota ngerayain gelar pertamamu, aku berdarah-darah sendirian di pegunungan Swiss, Gemini!" Fourth memotong dengan pekikan tertahan, matanya memerah oleh genangan air mata yang mati-matian ia tolak untuk jatuh. "Aku nahan sakit sendirian! Aku ngelahirin anakmu tanpa—"
"PAPAAAAAA!"
Waktu seolah membeku di detik itu juga.
Suara lengkingan ceria itu menghantam punggung mereka seperti godam. Di ujung lorong, berlari tertatih-tatih di atas karpet tebal, seorang bocah empat tahun dalam balutan piyama Iron Man meluncur dengan tawa yang menggema.
Perubahan yang terjadi di detik berikutnya sangat cepat hingga terasa memuakkan.
Dalam sekejap mata, Gemini mundur satu langkah, memutus aura intimidasi yang mencekik udara. Rahangnya yang mengeras langsung mengendur, dan sorot matanya yang tadi siap menguliti Fourth berubah menjadi kehangatan yang begitu lembut hingga terasa seperti sihir.
Fourth melakukan hal yang sama. Tubuhnya yang kaku dan gemetar seketika rileks. Ia memaksa bibirnya yang bergetar untuk melengkung membentuk senyuman paling lebar, menelan seluruh sisa kalimatnya kembali ke tenggorokan. Rasanya seperti menelan pecahan kaca berkarat—berdarah, perih, dan menghancurkan dari dalam. Tapi ia menelannya. Ia akan menelan apa saja demi Luca.
"Hai, Jagoan!" Fourth berlutut tepat waktu untuk menangkap misil kecil itu ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Luca, menghirup aroma bedak bayi dan sampo stroberi, menggunakannya sebagai oksigen darurat agar ia tidak pingsan.
"Papa lama pulangnya! Kata Nanny, Papa sama Daddy lagi kerja nyetir mobil cepet-cepetan!" cerocos Luca dengan mata bulat yang berbinar terang. Mata gelap yang identik dengan milik pria yang baru saja ingin Fourth bunuh beberapa detik lalu.
"Iya dong, kan Papa harus kerja," bisik Fourth, mengecup pipi gembil putranya berkali-kali hingga Luca memekik geli. "Udah makan malam, hm?"
"Udah! Sama Nanny. Terus tadi Daddy yang mandiin Luca!" Luca menunjuk Gemini dengan jari mungilnya.
Fourth mendongak, dan untuk pertama kalinya sejak perdebatan panas tadi, mata mereka kembali bertemu. Tidak ada lagi musuh bebuyutan di sana. Di atas kertas, dan di hadapan putra mereka, dua pria ini memutar sebuah mesin domestik yang bekerja tanpa cela.
"Kamu udah makan?" tanya Gemini. Suaranya normal. Kasual. Begitu halus seolah racun yang tadi hampir keluar dari mulutnya hanyalah ilusi. Ia mengusap rambut Luca dengan penuh kasih sayang, ujung jarinya sempat menyentuh punggung tangan Fourth secara kebetulan. Sentuhan itu terasa membakar.
"Belum," jawab Fourth, suaranya berhasil ia buat stabil, meski butuh seluruh sisa tenaganya untuk tidak terdengar parau. "Mau makan di sirkuit tadi nggak sempat."
"Nanny udah aku suruh pulang dari jam delapan tadi," kata Gemini seraya berjalan santai menuju dapur, mengambil segelas air. "Masih ada pasta di kulkas. Nanti aku panasin. Kamu mandi gih. Bau aspal terbakar. Biar aku yang bacain Luca cerita malam ini."
"Oke," jawab Fourth singkat, bangkit berdiri sambil menggendong Luca dan menyerahkannya ke dalam pelukan Gemini yang kuat. Gemini menerimanya dengan mudah, mencium pelipis Luca sekilas. Refleks yang sangat memuja.
"Selamat malam, Papa!" seru Luca sambil melambai dari gendongan Gemini saat mereka berjalan menuju kamar anak itu.
"Mimpi indah, Sayang," balas Fourth dengan senyum manis.
Ia berdiri mematung di ruang tengah, menatap punggung Gemini yang menghilang di balik pintu kamar Luca. Begitu pintu itu tertutup dengan bunyi klik yang pelan, senyum di wajah Fourth luruh seketika. Pertahanannya hancur. Bahunya merosot turun, dan ia harus mencengkeram pinggiran konter marmer kuat-kuat untuk menahan tubuhnya yang mendadak lemas.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh menetes ke lantai. Membenci Gemini adalah hal yang mudah saat pria itu bersikap seperti monster di sirkuit. Namun, melihat betapa luar biasanya Gemini sebagai seorang ayah... itulah yang menghancurkan Fourth setiap harinya.
Mengemudikan Ferrari bernomor empat tahun ini tidak terasa seperti mengendarai sebuah mahakarya Italia; tapi terasa seperti mengendarai peti mati.
Understeer mobil itu sangat parah hingga setiap kali Fourth memasuki tikungan, ia harus bertarung secara fisik melawan kemudi agar tidak meluncur lurus ke dinding. Namun, manajemen tidak peduli pada data telemetri. Di ruang rapat Maranello yang dingin, Marco—Direktur Tim Ferrari—melemparkan setumpuk laporan ke atas meja dengan suara keras.
"Satu podium, Fourth! Hanya satu podium dalam delapan balapan!" bentak Marco, urat lehernya menonjol. "Kami membayarmu jutaan dolar bukan untuk mengamankan posisi keenam. Kalau kamu tidak bisa menjinakkan mobil itu, di luar sana ada antrean panjang pembalap muda yang bersedia mati demi kursimu!"
Ancaman itu berdenging di telinga Fourth jauh setelah ia meninggalkan markas. Stres memakan kewarasannya hidup-hidup, menggerogoti jam tidurnya, dan mengubahnya menjadi cangkang kosong yang bergerak secara otomatis.
Hingga suatu pagi, di dapur penthouse mereka, neraka itu bocor ke dunia nyatanya.
Fourth berdiri di depan konter, matanya menatap kosong ke arah deretan stoples selai, pikirannya masih terjebak di ancaman Marco dan data aerodinamis mobil sialan itu. Tangannya bergerak mekanis, mengoleskan selai di atas setangkup roti tawar panggang sebelum memotongnya menjadi bentuk segitiga.
"Makanannya datang, Jagoan," gumam Fourth parau, meletakkan piring itu di depan Luca yang sedang sibuk mewarnai di meja makan.
Ia baru saja berbalik untuk menyeduh kopi ketika suara batuk yang aneh terdengar. Awalnya hanya dehaman kecil, lalu berubah menjadi tarikan napas basah yang mencekik.
Fourth menoleh. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
Wajah Luca memerah padam, tangan mungilnya mencengkeram leher piyamanya sendiri. Bocah itu terengah-engah, matanya membelalak panik mencari udara yang mendadak menolak masuk ke paru-parunya.
Di atas meja, stoples yang terbuka itu bukanlah selai cokelat almond seperti biasanya. Itu selai kacang.
Alergi. "Luca!" Fourth berteriak histeris, menyapu piring itu hingga pecah berserakan di lantai. "Ya Tuhan, Luca, hei! Napas, Sayang, napas!"
Dunia di sekeliling Fourth runtuh. Semuanya bergerak dalam slow motion yang memuakkan. Ia ingat berlari menelepon dokter pribadi tim, ia ingat tangannya yang gemetar hebat saat menyuntikkan EpiPen darurat ke paha putranya, dan ia ingat rintihan menyakitkan Luca yang perlahan memudar menjadi isakan lemah seiring dengan masuknya obat ke dalam aliran darah.
Dua jam kemudian, penthouse itu sunyi senyap. Dokter sudah pulang setelah memastikan kondisi Luca stabil dan tertidur karena efek obat penenang.
Di depan pintu kamar Luca yang tertutup, Fourth merosot jatuh ke lantai marmer yang dingin. Kakinya menolak menopang berat badannya lagi. Ia menekuk lututnya, membenamkan wajahnya di antara lipatan lengannya, dan tangisnya pecah. Tubuhnya bergetar hebat, dihantam oleh gelombang rasa bersalah yang nyaris membunuhnya.
Aku hampir membunuhnya. Aku ayah yang buruk. Aku tidak pantas untuknya.
Suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari lorong depan. Gemini. Pria itu baru saja menyelesaikan sesi simulator di markas Red Bull saat telepon darurat masuk. Gemini berlari menghampiri Fourth, masih memakai kaus timnya yang basah oleh keringat.
Fourth mendongak, wajahnya hancur oleh air mata, napasnya tersengal. Ia menunggu Gemini memulainya. Ia menunggu pria itu berteriak, memanggilnya ceroboh, memakinya karena hampir merenggut nyawa anak mereka. Fourth sudah bersiap menerima semua kebencian itu, karena ia pantas mendapatkannya.
Namun, tidak ada teriakan.
Gemini tidak mengomel. Pria itu menjatuhkan dirinya ke lantai, berlutut tepat di depan Fourth, dan merengkuh tubuh yang gemetar itu ke dalam pelukannya. Sangat erat. Sangat membumi.
"Hei... sstt, hei," bisik Gemini, suaranya tebal dan serak. Tangannya yang besar membuai belakang kepala Fourth, menekan telinga Fourth ke dadanya yang bergemuruh. "Luca nggak apa-apa. Dia selamat, Fourth. Dia nggak apa-apa."
"Aku—aku hampir bunuh dia, Gem..." Fourth terisak hebat, meremas kaus biru Gemini hingga buku-buku jarinya memutih, mencari jangkar agar ia tidak tenggelam. "Aku nggak fokus. Kepalaku kacau. Aku ayah yang brengsek..."
"Enggak. Kamu ayah yang luar biasa. Itu cuma kecelakaan. Berhenti nyalahin dirimu sendiri," potong Gemini tegas, namun sentuhannya di rambut Fourth begitu lembut, kontras yang membuat pertahanan Fourth semakin hancur berkeping-keping. Gemini mengecup puncak kepala Fourth berulang kali, menghirup aroma keputusasaan pria itu, dan menyerapnya. "Aku di sini. Kita rawat Luca sama-sama."
Sore itu, batas kebencian mereka luluh lantak di atas dinginnya lantai pualam.
Keesokan harinya, Gemini berdiri di balkon penthouse, sebelah tangannya dimasukkan ke saku celana training sementara tangannya yang lain memegang ponsel di telinga.
Fourth, yang baru saja keluar dari dapur membawakan air hangat untuk Luca, menghentikan langkahnya di balik tirai kaca tipis yang memisahkan ruang TV dengan balkon. Ia tidak berniat menguping, namun suara berat Gemini terlalu mendominasi untuk diabaikan.
"Aku tidak peduli tentang masalah terowongan angin kalian, Marco," suara Gemini mengalun dingin, sehalus beludru namun setajam pisau bedah.
Fourth membeku. Marco. Direktur Tim Ferrari.
"Data menunjukkan mobil itu mengalami understeer ekstrem yang bisa membunuh pembalapnya," lanjut Gemini. Senyum miring yang kejam tergambar di bibirnya meski lawan bicaranya tidak bisa melihat. "Jadi, tutup mulutmu, dan jangan berani-berani mengancam suamiku karena kegagalan insinyurmu sendiri."
Dada Fourth bergemuruh hebat mendengar kata itu. Suamiku. Gemini mengucapkannya dengan begitu posesif, begitu mutlak, seolah kata itu adalah sebuah deklarasi perang.
Samar-samar, Fourth bisa mendengar suara Marco yang berteriak defensif dari seberang telepon, mungkin mengungkit soal kontrak dan posisi Fourth yang terancam.
”Kamu mau tau apa ancaman yang sebenarnya, Marco?" Gemini memotong, nada suaranya turun satu oktaf, tenang namun mematikan. "Pecat dia. Lakukan saja. Karena detik di mana surat pemecatan Fourth keluar dari meja kerjamu, aku akan memutus kontrakku dengan Red Bull dan menyerahkan kursi utamaku padanya."
Hening yang memekakkan telinga merambat dari ujung telepon. Di balik tirai, Fourth harus menahan napasnya hingga paru-parunya sakit.
"Kamu mau bertaruh?" desis Gemini, kali ini dengan nada mengejek yang sangat gelap. "Lakukan, Marco. Aku sangat menantikan saat dunia melihat suamiku mengangkat trofi Juara Dunia menggunakan mobil saingan terberatmu, sementara mobil rongsokan merahmu terus merangkak mencari poin di posisi buncit. Perbaiki masalah understeer di mobil Fourth minggu ini juga, atau kamu akan melihat takhtamu hancur lebur."
Gemini mematikan sambungan secara sepihak, menyisakan keheningan yang tebal di udara pagi.
Di balik tirai, lutut Fourth mendadak terasa lemas. Jantungnya berdebar dengan ritme yang gila. Kata suamiku itu terus berdenging di telinganya. Gemini tidak mungkin melakukannya karena cinta, kan? Pria itu pasti melakukannya murni karena arogansinya. Ya, pasti begitu. Namun, kepastian bahwa Gemini rela membuang kursinya di Red Bull—kursi yang selama ini ia agungkan—hanya demi memastikan Fourth tidak diinjak-injak... kehangatan membingungkan yang menjalar di dada Fourth sangat sulit untuk ditolak.
Malam itu, sesuatu bergeser dari porosnya.
Kamar Luca sedang dibersihkan secara menyeluruh dari potensi alergen, jadi bocah itu merengek meminta tidur di ranjang besar. Alhasil, untuk pertama kalinya sejak insiden Jepang lima tahun lalu, Fourth dan Gemini berbaring di satu ranjang yang sama. Luca tertidur pulas di tengah-tengah mereka, pernapasan kecilnya yang sudah kembali normal menjadi satu-satunya suara di ruangan remang-remang itu.
Fourth berbaring miring menghadap putranya, dan di seberang sana, Gemini berbaring dengan posisi yang sama. Mereka hanya terpisah oleh tubuh kecil Luca.
Saat Fourth menggeliat untuk membenarkan selimutnya, tanpa sengaja, jemari kakinya menyentuh kaki Gemini di bawah sana.
Sengatan listrik kasat mata melonjak naik ke tulang belakang Fourth. Udara di dalam kamar mendadak terasa menipis. Biasanya, Fourth akan langsung menarik kakinya seolah baru saja menyentuh bara api. Ia akan menggeser tubuhnya menjauh, membangun dinding esnya kembali.
Namun malam ini, dengan aroma sabun mandi pria itu yang menguar menenangkan, dan bayang-bayang kata suamiku yang masih menghantuinya, Fourth membiarkannya.
Ia tidak menarik kakinya.
Dan selama detik-detik yang terasa seperti keabadian, Gemini juga tidak menjauh. Kaki mereka tetap bersentuhan dalam gelap, kulit bertemu kulit, sebuah kontak fisik sepele namun sarat akan pengakuan diam-diam.
Sirkuit Spa-Francorchamps di Belgia selalu memiliki reputasi sebagai arena gladiator yang menuntut darah. Lintasan sepanjang tujuh kilometer itu membelah hutan Ardennes, dihiasi tikungan buta dan cuaca yang bisa berubah menjadi neraka dalam hitungan menit.
Di Lap 24, hujan turun dengan brutal.
Fourth sedang bertarung mempertahankan posisinya di urutan keempat saat suara insinyur balapnya memecah konsentrasi di radio komunikasi. Suara itu tidak terdengar seperti instruksi teknis biasa; ada kepanikan tajam yang menyayat frekuensi.
"Red flag, Fourth. Red flag. Ada kecelakaan masif di Raidillon. Hantaman 50G. Red Bull nomor satu."
Dunia Fourth berhenti berputar pada porosnya. Kokpit Ferrari-nya mendadak terasa seperti peti mati yang kehabisan oksigen.
50G. Itu bukan sekadar angka; itu adalah batas antara hidup dan mati. Itu adalah gaya gravitasi yang bisa meremukkan tulang rusuk dan menghancurkan organ dalam. Layar di kemudinya berkedip, namun mata Fourth buta oleh teror murni. Semua amarahnya, semua ego dan kebencian yang ia pelihara bertahun-tahun, menguap tak bersisa.
Membenci Gemini di saat pria itu berdiri angkuh adalah satu hal, namun membayangkan dunia ini berputar tanpa pria brengsek itu di dalamnya... Fourth tidak sanggup. Ia sadar, dengan rasa bersalah yang mencekik dada, bahwa ketakutannya kehilangan Gemini jauh lebih besar daripada kebenciannya.
"Gemini… is he okay?" Suara Fourth di radio terdengar begitu kecil, kehilangan seluruh durinya. "Please tell me he's still breathing!"
"Medical car sedang mengevakuasinya, Fourth. Pit sekarang."
Saat Fourth tiba di rumah sakit lokal Belgia dua jam kemudian, ia melanggar semua protokol. Ia mengabaikan tatapan manajernya, mendorong pintu kamar rawat inap, dan mendapati Gemini terbaring di sana.
Pria yang biasanya mengenakan arogansi layaknya mahkota itu kini terlihat begitu fana. Bahu dan dada kirinya dibalut perban tebal untuk menahan tulang selangkanya yang patah dan tiga tulang rusuknya yang retak. Selang infus menancap di punggung tangannya.
Melihat dada Gemini yang masih naik-turun mengambil napas, pertahanan Fourth runtuh total. Ia melabrak maju, air matanya tumpah ruah.
"Kamu gila ya?!" Fourth berteriak, suaranya pecah menggema di dinding ruangan, sementara tangannya mengepal di sisi tubuh, terlalu takut untuk menyentuh dan menyakiti pria itu lebih jauh. "Kamu pikir kamu dewa?! Kamu pikir mobil sialan itu nggak bisa bunuh kamu?!"
Fourth menangis, isak tangis yang kasar dan putus asa. Isakan dari seseorang yang diam-diam sadar bahwa ia mulai jatuh pada monster yang menghancurkan hidupnya.
Alih-alih membalas dengan tatapan tajam atau senyum mengejek, mata Gemini melembut—terlalu lembut hingga terasa menyakitkan bagi Fourth. Perlahan, dengan lengan kanannya yang bebas, Gemini meraih tangan Fourth yang bergetar.
"Maaf," bisik Gemini, suaranya parau dan kering. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Fourth dengan kehati-hatian yang memuja. "Aku cuma mau pulang, Fourth. Bawa aku pulang."
Malam harinya di penthouse, udara masih terasa mencekik.
Gemini bersandar kaku di tumpukan bantal di ranjang utama mereka. Di sisinya, Luca meringkuk seperti bola kecil yang ketakutan. Bocah empat tahun itu menangis nyaris tanpa henti sejak melihat tayangan kecelakaan ayahnya di televisi, menolak dilepaskan barang sedetik pun, memegang erat ujung kaus Gemini dengan jari-jarinya yang gemetar.
"Papa," panggil Luca, suaranya serak sehabis menangis. Mata gelapnya menatap Fourth yang berdiri canggung di sisi ranjang membawa nampan berisi mangkuk bubur dan obat penahan sakit. "Suapin Daddy. Tangan Daddy sakit."
Fourth menelan ludah. Ia duduk di tepi ranjang. Rutinitas domestik ini terasa menguliti jiwanya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Fourth menyendok bubur dan mengarahkannya ke bibir Gemini. Pria itu menatap Fourth sepanjang waktu, menelan makanannya dalam keheningan yang sarat akan makna.
Setelah mangkuk itu kosong dan Fourth memberikan obatnya, Luca duduk tegak. Alis mungilnya bertaut serius.
"Papa, kata Nanny, kalau Luca jatuh, ciuman Papa itu obat supaya sembuh," ucap Luca dengan bibir bawah yang bergetar. "Daddy kan baru jatuh. Mobilnya rusak. Papa harus cium Daddy biar Daddy cepet sembuh."
Napas Fourth tercekat di tenggorokan. Wajahnya memanas hebat. "Luca, Sayang... Daddy udah minum obat dari dokter, Daddy nggak butuh—"
"Papa, please," rengek Luca, air mata kembali menggenang. Tangannya yang mungil menarik lengan baju Fourth, memaksa pria itu mendekat ke arah Gemini. "Luca takut Daddy nggak sembuh."
Fourth tidak akan pernah bisa menolak tangisan putranya. Ia menoleh ragu ke arah Gemini, setengah berharap pria itu akan mencari alasan, namun Gemini diam saja. Mata gelap sang Juara Dunia menatapnya lekat, menanti dengan antisipasi yang membakar.
Tangan Fourth gemetar saat ia memaksakan diri mencondongkan tubuh ke depan. Udara di antara mereka menyusut habis. Aroma sabun maskulin Gemini bercampur dengan bau medis menyerbu indranya. Bibir Fourth menyentuh bibir Gemini.
Sangat ringan. Canggung. Seharusnya ini hanyalah sandiwara untuk menenangkan anak mereka.
Namun, saat Fourth berniat menarik diri, Gemini tidak membiarkannya. Tangan kanan pria itu naik, menelusup ke tengkuk Fourth, menahannya di sana. Bibir Gemini mengecap bibir Fourth, melumatnya perlahan namun putus asa. Sengatan listrik merambat di sepanjang tulang belakang Fourth. Tubuhnya menegang, namun ia tidak bisa mundur. Ciuman itu tidak dipenuhi nafsu liar seperti malam di Jepang lima tahun lalu; ciuman ini dipenuhi oleh rasa syukur karena masih hidup, rasa takut, dan ribuan kata 'aku milikmu' yang tak terucap.
Ketika Fourth akhirnya berhasil menarik diri dengan napas terengah dan wajah semerah tomat, Gemini menatapnya dengan tatapan yang nyaris memuja. Luca di sebelah mereka sudah tersenyum lega, tidak menyadari tensi pekat yang baru saja meledak di ruangan itu.
Tengah malam, saat hujan rintik-rintik mengetuk kaca jendela penthouse.
Luca sudah tertidur pulas di tengah ranjang. Fourth berbaring miring, membelakangi Gemini, mencoba menenangkan jantungnya yang sedari tadi berdetak abnormal. Ia merasa bersalah. Sangat bersalah karena ia mulai menikmati sentuhan pria itu, padahal pria itu yang telah menghancurkan karirnya.
"Fourth," panggil Gemini dari seberang ranjang. Suaranya sangat pelan, nyaris tertelan suara hujan. "Kamu belum tidur, kan?"
Fourth tidak menjawab, tapi ia mengeratkan cengkeramannya pada selimut.
"Aku... aku minta maaf."
Dua kata itu membuat seluruh punggung Fourth menegang.
"Aku masih muda..." Gemini memulai. Di seberang sana, Fourth bisa mendengar suara tarikan napas pria itu yang dangkal dan bergetar. Terdengar bunyi pelan saat Gemini menelan ludah, seolah kerongkongannya dipenuhi beling. "...bodoh. Dan pengecut."
Hening sejenak. Gemini mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lelah.
"Ayahku... manajemen Red Bull... mereka menekan otakku, Fourth," lanjut Gemini, suaranya kini terdengar serak, dipaksa keluar dalam bisikan yang menyakitkan. "Bertahun-tahun. Sampai aku benar-benar pikir... satu-satunya nilaiku sebagai manusia... cuma kalau aku menang di lintasan."
Fourth menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dalam gelap, matanya mulai memanas.
"Waktu di Monza..." Napas Gemini tercekat. Pria itu terdiam selama beberapa detik, berjuang menekan emosi yang menyumbat tenggorokannya. "...melihat kamu mengemudi jauh lebih cepat dari aku... itu menghancurkan egoku. Aku takut, Fourth. Aku takut lihat seberapa hebatnya kamu."
Suara gesekan kain terdengar saat Gemini bergerak gelisah, menahan ringisan nyeri dari tulang selangkanya yang patah.
"Dan waktu malam di Jepang itu terjadi... lalu kamu hamil..." Suara Gemini akhirnya pecah. Ia menarik napas pendek yang terdengar sangat putus asa, seolah udara di kamar itu habis. "Ya Tuhan... aku panik. Aku takut setengah mati. Aku membiarkan mereka membuangmu ke Swiss karena aku pengecut yang brengsek. Aku nggak punya nyali buat ngelawan sistem."
Air mata Fourth yang sejak tadi tertahan akhirnya luruh membasahi bantal.
"Dulu aku pikir, kalau aku memenangkan semua gelar ini, aku bisa membelikanmu dunia untuk menebus kesalahanku," Gemini berbisik dengan keputusasaan yang telanjang. Tangan kanannya terulur di atas tubuh Luca, mencari tangan Fourth dalam kegelapan, dan menggenggamnya erat. "Tapi saat mobil itu terpelanting hari ini... saat aku pikir aku akan mati... satu-satunya hal yang aku sesali adalah aku belum sempat membuatmu tahu bahwa kamu jauh lebih berharga dari semua piala sialan itu."
Pertahanan Fourth hancur tanpa sisa. Dinding es yang ia bangun bertahun-tahun runtuh lebur oleh kejujuran itu. Sambil terisak pelan, Fourth beringsut mendekat, melewati batas tak kasat mata di antara mereka. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Gemini yang tidak terluka, melingkarkan lengannya di dada pria itu. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, mereka berpelukan, saling mendekap erat dalam kegelapan hingga matahari terbit.
Masa pemulihan Gemini di minggu-minggu berikutnya adalah siksaan tersendiri bagi Fourth. Namun kali ini, bukan karena kebencian, melainkan karena gairah yang mati-matian ia tahan.
Suatu pagi, Luca yang sedang asyik bermain Lego di ruang tengah menoleh ke arah Fourth yang baru selesai membuat kopi. "Papa, bantuin Daddy pakai baju! Daddy kesusahan masukin tangannya!"
Fourth menelan ludah. Ia meletakkan cangkirnya dan berjalan ke kamar utama. Gemini sedang berdiri di depan cermin, hanya mengenakan celana training rendah yang menampakkan garis V-line perutnya. Tubuh atasnya terekspos, menampilkan otot-otot kokoh, tato samar di tulang rusuknya, dan memar kekuningan bekas kecelakaan yang membingkai perban di selangkanya.
"Sini," gumam Fourth kaku, mengambil kemeja flanel longgar dari tangan Gemini.
Jarak mereka tidak sampai satu jengkal. Saat Fourth membantu memasukkan lengan kanan Gemini, dan kemudian dengan sangat hati-hati menarik sisi kiri kemeja melewati bahu yang cedera, jari-jari Fourth tanpa sengaja menyapu dada telanjang pria itu. Kulit Gemini terasa panas membakar.
Gemini menunduk, matanya menelusuri wajah Fourth yang bersemu merah. Napas pria itu menerpa helai rambut Fourth, berat dan tertahan. Fourth mendongak untuk mengancingkan kemeja itu dari bawah ke atas. Setiap kali jari Fourth bergerak naik ke kancing berikutnya, dada Gemini ikut naik-turun menahan sesuatu yang liar.
Saat jemari Fourth mencapai kancing teratas, tepat di bawah leher, tangan kanan Gemini tiba-tiba terangkat dan menutupi tangan Fourth. Ibu jari Gemini mengusap nadi di pergelangan tangan Fourth yang berdenyut gila-gilaan.
"Biar aku aja yang lanjutin," bisik Gemini, suaranya serak dan sangat berat, matanya gelap menyala oleh sexual tension yang rasanya sanggup membakar seisi penthouse.
Fourth mengangguk kaku, menarik tangannya seolah baru saja tersengat listrik, dan buru-buru keluar dari kamar sebelum kakinya benar-benar kehilangan tenaga. Di balik pintu, ia bersandar dengan napas terengah. Sialan. Ia telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada suaminya sendiri.
Namun, luka yang menganga selama lima tahun tentu tidak bisa disembuhkan hanya dengan satu malam berpelukan.
Butuh obrolan-obrolan panjang yang menguras air mata di balkon penthouse mereka. Butuh pengakuan-pengakuan telanjang di mana Gemini akhirnya menceritakan kembali semua detail maafnya.
Dan butuh kebesaran hati yang luar biasa bagi Fourth untuk menyadari bahwa ia lebih memilih mendekap suaminya daripada mendekap masa lalunya. Fourth memaafkan Gemini. Malam itu, perjanjian damai mereka ditandatangani di bawah lautan selimut tebal, menyatukan rindu yang tertahan selama lima tahun dalam keintiman yang menyembuhkan.
Sayangnya, Fourth sama sekali tidak menduga efek samping dari perdamaian itu.
Begitu dinding kebencian mereka runtuh, monster arogansi di dalam diri Gemini seolah ikut mati. Pria yang ditakuti seluruh grid F1 itu mendadak bermutasi menjadi anjing pelacak raksasa yang tidak bisa lepas dari pemiliknya. Di dalam penthouse, Gemini akan merengek melarang Fourth pergi ke sesi simulator di Maranello, memeluk pinggang suaminya dari belakang saat sedang mencuci piring, dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Fourth seolah itu adalah satu-satunya sumber oksigen di bumi.
Memasuki bulan-bulan terakhir kejuaraan, menjaga kebohongan ini di sirkuit terasa jauh lebih menguras tenaga daripada balapan itu sendiri.
Dulu, menempatkan mereka di satu media pen yang sama sama saja dengan melempar pemantik api ke dalam tangki bensin. Namun belakangan ini, dinding itu mulai retak. Dunia Formula 1 kebingungan setengah mati melihat dua rival paling mematikan ini mendadak kehilangan taring mereka.
Ada momen di mana Gemini tanpa sadar memuji manuver Fourth dengan sebutan "cantik" saat wawancara langsung, membuat Fourth panik dan diam-diam menendang tulang kering pria itu dari bawah barikade. Ada pula saat Phuwin dan Satang memergoki Gemini menatap Fourth dengan senyum memuja, membuat kedua sahabat itu saling bertukar pandang dengan ngeri, mengira Gemini sudah gila karena stres perebutan gelar.
Sampai, semua sandiwara itu harus berakhir di satu titik.
Langit senja di Sirkuit Yas Marina perlahan berubah warna menjadi ungu keemasan, tergantikan oleh ribuan lampu sorot raksasa yang menyilaukan aspal. Ini adalah balapan penentuan gelar. The Grand Finale. Di grid sebelum balapan dimulai, ketegangan bisa diiris dengan pisau. Sesuai kesepakatan mereka, tidak ada interaksi untuk menjaga kebohongan publik di hari yang krusial ini. Namun, saat Gemini berjalan melewati mobil Ferrari merah Fourth, jari-jari pria berseragam biru itu mengetuk pelan pelindung kepala (halo) mobil Fourth sebanyak dua kali.
Sebuah ketukan rahasia yang berarti: "Win this for us, my husband."
Fourth menarik napas panjang. Udara di paru-parunya tidak lagi terasa seperti debu dan keputusasaan, melainkan api.
Saat lampu merah padam, peperangan dimulai.
Berbeda dengan Monza lima tahun lalu, tidak ada manuver kotor dan tidak ada keangkuhan yang buta. Di bawah siraman cahaya lampu Abu Dhabi, mereka tidak sedang bertarung; mereka sedang menari. Mobil biru dan merah itu melesat membelah lintasan, saling menyalip dan bertukar posisi, namun selalu memberikan ruang agar tidak ada yang terluka. Itu adalah pertarungan paling bersih dan paling legendaris yang pernah disaksikan oleh sejarah.
Di lap terakhir, di lurusan panjang menuju tikungan pamungkas, Fourth melihat celahnya. Ia menukik ke sisi dalam tikungan, dan kali ini, Gemini tidak menutup celah itu. Gemini memberinya ruang, dan Fourth mengambilnya dengan sempurna. Mobil Ferrari merah itu melesat melewati bendera kotak-kotak (chequered flag), satu detik lebih cepat dari sang Juara Bertahan.
"YES! P1, FOURTH! WORLD CHAMPION!" Suara insinyurnya meledak di telinga Fourth, diiringi sorak-sorai seluruh kru Ferrari yang menangis histeris.
Di dalam kokpitnya, Fourth memejamkan mata. Air mata membanjiri wajahnya. Semua luka, pengasingan, dan malam-malam dingin di Swiss... terbayar lunas. Ia merebut mahkota itu kembali.
"Kita berhasil," bisik Fourth di radio dengan suara pecah, tahu pasti bahwa satu-satunya orang yang benar-benar memahami makna kata 'kita' itu sedang tersenyum di dalam mobil yang melaju di belakangnya.
Area Parc Fermé meledak dalam euforia.
Fourth memanjat keluar dari kokpitnya, berdiri di atas moncong Ferrari-nya dengan kedua tangan terangkat ke udara. Saat ia melompat turun, Phuwin, Satang, dan puluhan kru langsung menerjangnya dengan pelukan histeris.
Lalu, kerumunan itu mendadak terbelah.
Semua suara seolah tersedot ke dalam ruang hampa saat Gemini, yang baru saja melepas helmnya, melangkah mendekat. Matanya terkunci pada Fourth. Para jurnalis seketika menahan napas. Staf keamanan, Pond, dan Phuwin sudah mengambil ancang-ancang, takut Gemini akan meledak marah dan memukul Fourth karena gelarnya direbut.
Namun Gemini terus melangkah, menerobos barikade kru, hingga ia berdiri tepat di hadapan Fourth.
Di sana, di bawah jutaan kilatan cahaya kamera, Gemini tidak melihat seorang rival yang mencuri takhtanya. Ia melihat dunianya. Ia melihat suaminya.
Persetan dengan seluruh dunia.
Tanpa aba-aba, tangan besar Gemini mencengkeram rahang Fourth, menarik pinggang pria itu hingga tubuh mereka bertabrakan, dan di depan siaran langsung yang ditonton oleh separuh populasi bumi... Gemini mencium Fourth.
Itu adalah ciuman yang brutal, lapar, dalam, dan luar biasa posesif. Ciuman seorang pria yang telah menahan diri selama lima tahun untuk meneriakkan kepada dunia bahwa permata merah ini adalah miliknya.
Keheningan horor melanda seluruh sirkuit, sebelum akhirnya meledak menjadi teriakan syok yang memekakkan telinga. Kamera-kamera bergoyang kacau. Di pinggir lapangan, rahang Phuwin jatuh nyaris menyentuh tanah, sementara Pond dan Satang berteriak histeris tak percaya.
Fourth terkesiap, namun sedetik kemudian, tembok es itu runtuh untuk selamanya. Ia membalas ciuman itu dengan gairah yang sama gilanya, melingkarkan lengannya di leher Gemini, meleburkan warna merah dan biru menjadi satu.
Saat mereka akhirnya melepaskan diri dengan napas memburu, dahi mereka masih bersentuhan. Gemini mengusap air mata bahagia di pipi Fourth dengan ibu jarinya. "Mahkotanya cocok untuk kamu, Sayang," bisiknya memuja.
Belum sempat dunia memproses serangan jantung massal akibat ciuman itu, terdengar lengkingan ceria dari area VVIP.
"PAPA! DADDY!"
Seorang bocah laki-laki berusia empat tahun berlari menerobos penjagaan. Penampilan bocah itu adalah pukulan telak terakhir bagi kewarasan media: ia mengenakan kaus merah menyala Ferrari, namun di kepalanya bertengger topi biru Red Bull.
Gemini tertawa lepas, menangkap tubuh Luca, dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Fourth merangkul pinggang Gemini dari samping, ikut mencium puncak kepala putra mereka dengan senyum termanis yang pernah ia tunjukkan.
Jepretan kamera mengabadikan momen itu. Bukan lagi potret dua musuh bebuyutan, melainkan sebuah keluarga kecil yang sempurna. Di sirkuit mana pun mereka berada esok hari, tidak ada lagi rahasia, pengasingan, atau dinding pembatas. Mulai malam ini, dunia tahu pasti, kepada siapa hati sang dewa kecepatan itu berlabuh.
