Actions

Work Header

bring the pain to me, baby.

Summary:

Di balik punggung yang selalu tegap dan kepribadiannya yang lembut, Arsakha menyimpan lagi satu rahasia yang tidak seorangpun ketahui kecuali adiknya.

Notes:

ini adalah bagian dari fanfik arsaka yang di-upload originalnya di twitter.
klik di sini untuk membaca.

Work Text:

Di balik punggung yang selalu tegap dan kepribadiannya yang lembut, Arsakha menyimpan lagi satu rahasia yang tidak seorangpun ketahui kecuali adiknya. Arsa punya wibawa, tetapi sang adik punya kendali. Arsa itu sempurna, tetapi kesempurnaannya berkurang ketika sang adik memainkannya sesuka hati—seperti saat ini.

Tidak disangka bahwa akhir pekan akan semenyenangkan ini ketika rumah sederhana itu hanya tersisa mereka berdua. Rumah itu hanya menyisakan dua orang yang terlalu mengenal satu sama lain. Orang tua mereka lebih memilih untuk bepergian, bagai dua sejoli yang masih diselimuti romansa. Arsa dan Arka yang sudah menginjak usia kepala dua muak karena orang tuanya lebih peduli dengan kencan mesra mereka dibandingkan masa-masa sulit yang selama ini Arsa dan Arka jalani.

Tetapi tidak apa, Arsa dan Arka bebas berbuat semaunya ketika rumah hanya terisi oleh presensi mereka berdua.

Di kamar yang akhirnya dapat dikuasai penuh, Arsa berlutut dengan mata yang membola dan berbinar. Ia tidak dipaksa, tidak pula sedang memohon ampun karena telah membuat kesalahan. Justru ialah yang memilih posisi itu. Arka berdiri di hadapannya dengan tatapan sinis, seakan sang abang telah membuatnya jijik.

Tangannya terangkat perlahan, mengelus pipi Arsa, kemudian menamparnya. Panas. Sakit. Arsa menutup mata, meresapi bagaimana nyeri menusuk kulitnya. Dan ia bukannya marah. Bukan juga kaget. Ia bahagia. "Cuma segitu aja reaksinya?" Tuturnya menunduk pada Arsa.

"Lagi," jawab Arsa pelan.

Sudut bibir Arka terangkat sedikit, lalu pandangannya jatuh ke arah selangkangan Arsa yang terbungkus fabrik dari celana pendek. Ia terkekeh, "Getting bricked up just from a slap on your face, huh?"

Bahkan Arsa tak sanggup menjawab. Mulutnya memang terbuka, hanya untuk menghelakan nafas, menunggu aksi selanjutnya yang akan Arka lakukan padanya.

Arka berjalan ke meja belajarnya di sudut ruangan, membuka kotak peralatan praktikum yang biasa ia bawa ke kampus. Kemudian ia kembali dengan benda logam panjang dengan ujung runcing seperti jarum.

“Tenang,” katanya santai sambil kembali mendekat. “Udah gue bersihin.”

Arsa menelan liurnya, benda itu tak seberapa mengerikan dibanding gunting dan pisau, tetapi adrenalinnya terpacu. Ia bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempat di mana dirinya masih berlutut.

Yang lebih muda mulai menodongkan jarum panjang itu ke arah leher Arsa, ujungnya berhenti tepat di bagian tengah lehernya. Tidak menusuk. Hanya menyentuh. Dan hal itu cukup untuk buat sekujur tubuh Arsa merinding. Arka menunduk sedikit, jarak mereka tinggal beberapa sentimeter. Napas mereka hampir saling bersentuhan.

"What if this needle could kill you, Abang?" bisiknya.

"Then kill me, Adek."

Sesaat, ruang kamar menjadi sangat sunyi.

Tatapan Arka berubah, matanya menggelap penuh nafsu. Lalu ia mengikis jarak antara wajah mereka, bilah bibir mereka saling bertabrakan, cumbuan itu kasar dan berantakan. Arka menekan sedikit leher Arsa. Jarum itu mulai sedikit menembus kulit pada lehernya hingga setetes darah muncul ketika ujung logam itu menekan terlalu dalam. Arsa bahkan tidak mengeluh. Sebaliknya, ia tersenyum tipis di sela-sela cumbuan mereka.

Arsa hanya mengerang kecil dan tersedak. Tonjolan di balik celana pendeknya semakin jelas terpampang. Ia bingung harus fokus dengan rasa sakit pada lehernya atau lidah Arka yang bermain dengan lidahnya. Dan saat bibir itu terlepas, Arsa mengambil nafas.

"Kontol abang nggak bisa nahan, ya? Udah becek begini."

Arka menurunkan pandangannya ke bawah, menunjuk bagian yang menjiplak basah dari celana Arsa dengan jarumnya.

"Arka—f..fuck sakit."

"Sakit? I thought you enjoyed this, Abang."

Arsa meringis saat ia mendapati jarum itu menekan bagian ujung penisnya. Kemudian naik ke bagian perut, menekan-nekan, menyebarkan nyeri di sekirar sana. Arsa ingin tewas sekarang juga. "Gua—ah! Ah, anjing, Arka."

Bibir yang lebih muda mengerucut, "Kok galak sih sama adiknya? Biasanya soft-spoken," ujar Arka dengan nada meledek.

Arka membalik jarum itu ke bagian tumpul, menggesekkan ujungnya dengan celana yang basah. Gerakan maju dan mundur itu buat Arsa kembali meringis kesakitan. Masalahnya yang menyentuh penisnya itu bukanlah mulut hangat sang adik maupun tangan lihainya. Tetapi sebuah benda. Benda logam berujung tumpul dengan sensasi menyayat. Meski terhalang fabrik celana, Arka terus mengarahkannya ke bagian belahan lubang kencingnya.

"Adek, sayang, 'm gonna—"

"Already?"

Arsa mengangguk, menggigit bibirnya keras-keras ketika klimaks merayap pada sekujur tubuhnya. Ketika tubuhnya sudah bergetar dan ia hendak sampai, Arka menarik jarum itu menjauh seolah kehilangan minat. Arsa masih berlutut di sana ketika sang adik berjalan pergi, meletakkan kembali barang yang ia ambil.

"Fuck, why?"

Yang lebih muda terkekeh.

Dari balik bahunya, ia berkata santai, "For fun."

Pada akhirnya, Arsa hanya dapat menggeram penuh frustrasi.

Series this work belongs to: