Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-20
Words:
3,324
Chapters:
1/1
Kudos:
4
Hits:
55

We Meet Again

Summary:

Jika saat LiuYan membuka mata, dia bisa bertemu Lici lagi.

Work Text:

"ah? Aku tertidur lagi?"

Liu Yan mengucek matanya dan melihat sekelilingnya. Ribuan kelopak peach blossom mengelilinginya. Tempat ini memang tempat paling enak untuk beristirahat.

Liu Yan memegang kepalanya, beberapa kali ia sering tertidur di ladang bunga ini. Dan dia selalu bermimpi tentang seseorang tak bernama. Wajahnya indah, Liu Yan sempat berfikir bahwa dia adalah dewa yang datang ke mimpinya. Penampilannya sangat tidak biasa.

Namun dia tak mengerti, orang yang ia fikir dewa itu tidak banyak memberikan petunjuk untuknya. Entah untuk apa dia datang.

Terkadang dia datang dan hanya memandangi Liu Yan sambil tersenyum. Liu Yan tidak bisa bergerak kemana-mana.

Awalnya mimpi itu terasa ringan dan biasa saja. Namun beberapa hari belakangan, adegan-adegan di mimpi itu menjadi lebih gelap. Sosok itu lebih sering menatapnya dengan tatapan sedih. Matanya memancarkan tragedi yang Liu Yan tidak tau pasti.

Baru saja ia bermimpi, sosok itu batuk mengeluarkan darah dari mulutnya. Belum sempat Liu Yan menolong, ia sudah terbangun.

Ya semuanya hanya mimpi, tapi mengapa rasanya seperti asli? Seolah ia mengalami itu semua...

Liu Yan menggendong keranjang berisi tanaman herbal miliknya dan berjalan pulang ke balai Zhoudi.

Dia menemukan ZhuMei sedang duduk membaca buku sambil meminum teh. Namun tak menemuka keberadaan Fangzhou

"Dimana Fangzhou?"

ZhuMei mengangkat kepalanya dan menggeleng

"Tidak tau, lagipula mungkin dia akan pulang sebentar lagi"

Liu Yan mengangguk paham. Ia kemudian masuk ke ruangannya untuk bersih-bersih

 

Makan malam mereka berkumpul bersama. Liu Yan bercerita tentang mimpi aneh yang ia alami dalam beberapa hari belakangan, dan bagaimana mimpi itu semakin terasa mengkhawatirkan.

"Sebenarnya, aku juga bermimpi aneh belakangan ini" ujar Fangzhou membuat kedua adik perguruannya penasaran

"Aku sering mendengar suara seseorang memanggilku, terus-terusan dalam tidurku. Tapi aku tidak tau itu siapa"

"Kau belum pernah mendengar suara itu sebelumnya?" Tanya ZhuMei yang di balas gelengan oleh Fangzhou

"ZhuMei apa kau bermimpi aneh belakangan ini?"

ZhuMei diam sejenak dan berfikir sebelum menggelengkan kepalanya

"Tidak, sepertinya aku baik-baik saja"

 

Dan mereka melanjutkan makan malam dengan tenang.

 

Keesokan harinya, LiuYan dan Fangzhou pergi pagi-pagi sekali guna mengurusi suatu hal. ZhuMei ditinggal sendirian seperti biasa. Dia akan mulai mencoba-coba resep baru.

Tak berapa lama, ZhuMei merasakan ada orang yang datang. ZhuMei melirik keluar dari dapurnya dan menemukan seorang pria berdiri di pintu masuk.

ZhuMei membasuh tangannya dan berjalan menghampiri pria itu. Awal melihatnya ZhuMei merasa pria ini memiliki penampilan yang luar biasa menakjubkan.

 

Benar-benar seperti dewa.

"Apa kau mencari seseorang?"

ZhuMei bertanya dengan hati-hati. Pria itu menggenggam sebuah gulungan di tangannya erat-erat.

ZhuMei melirik gulungan kertas itu dan bertanya lagi

"Kau mengantar ini?"

Ketika tangannya hendak menyentuh gulungan itu ia menariknya dan memperlihatkan ekspresi defensif.

ZhuMei hanya tersenyum

"Apa gulungan itu buat seseorang disini?"

Pria itu mengangguk dengan pelan

"Kau disuruh mengantarkan ini padanya dan tidak boleh diberikan ke orang lain?"

Pria itu mengangguk lagi membuat ZhuMei tersenyum

"Masuklah" ZhuMei mempersilahkannya tapi pria itu tidak melangkah sedikitpun

"Kenapa? Kau tidak mau masuk?"

Pria itu menggeleng dan melirik ke arah gulungan di tangannya

"Hmmm" ZhuMei berfikir sejenak, sepertinya dia tidak menolak masuk karena belum bertemu orang yang dia cari.

"Baiklah kau boleh tunggu disini, kau lihat di sana ada sebuah bangku kecil dibawah pohon. Kau bisa duduk disana menunggu"

Pria itu menoleh, pandangannya jatuh ke arah bangku di bawah pohon peach blossom. Bangku itu bertabur kelopak bunga merah muda yang menarik mata.

ZhuMei masuk kembali setelah pria itu duduk disana.

 

Pria itu duduk melihat ke sekeliling, kakinya menyapu-nyapu kelopak bunga di tanah. Gulungan itu tidak lepas dari tangannya. Bahkan ia menariknya ke pelukannya saat ZhuMei datang lagi menghampirinya dan menaruh seb piring kue kacang hijau yang terlihat lezat.

"Makanlah"

Pria itu memandangi kuenya dan ZhuMei bergantian. ZhuMei hanya tersenyum dan meninggalkan pria itu untuk makan.

Matahari mulai berada di atas kepala, ZhuMei khawatir pria itu akan kepanasan. Dia memutuskan untuk keluar memeriksanya dan mendapati pria itu tertidur dengan posisi tidak nyaman.

ZhuMei ingin menghampirinya namun sebuah suara menginterupsinya

"ZhuMei?"

"Oh Fangzhou, kau sudah pulang"

Fangzhou mengangguk dan tersenyum

"Apa yang kau lakukan diluar?"

ZhuMei menunjuk sosok pria yang tengah tertidur di bawah pohon peach blossom. Fangzhou mengerutkan keningnya dan kemudian melihat ZhuMei dengan tatapan bertanya.

"Aku juga tidak tau, dia tidak berbicara apapun dari tadi"

"Aku mengerti, kau masuk dulu"

 

ZhuMei pun masuk menuruti perkataan Fangzhou.

Fangzhou berjalan ke arah pria itu. Dia memandangi pria yang tengah tertidur dengan posisi tak nyaman itu. Tangannya kemudian terulur pelan, namun belum sampai ia menyentuh pria itu dia malah di pukul.

Sebuah pukulan mendarat di lengannya dengan cukup kuat. Pria itu terlihat terkejut dan mungkin tidak sengaja melakukannya.

Pria itu mengangkat kakinya dan meringkuk.

Fangzhou tersenyum dan mulai berbicara

"Namaku Fangzhou, apa kau mencari seseorang di balai Zhoudi?"

Pria itu kemudian mengerutkan keningnya, dan setelahnya dia menurunkan kakinya dengan tergesa dan menjulurkan gulungan di atas tangannya

"Apa ini surat untukku??"

Pria itu mengangguk, entah kenapa dia terasa seperti tidak berbahaya.

Fangzhou membuka gulungan suratnya dan membaca isinya. Ia terkejut dengan isinya. Pria ini akan jadi murid balai Zhoudi untuk sementara. Dia adalah calon suri.

Calon tumbal kerajaan. Awalnya Fangzhou fikir ini adalah lelucon, tapi dia terdiam setelah menyibak lengan pria itu menemukan tatto di tubuhnya. Tatto khas seorang tumbal.

Fangzhou mengulur tangannya dan membawa pria itu masuk. Yang membuatnya bingung adalah kenapa pria itu ada disini. Tidak jelas siapa pengirimnya. Hanya ada satu karakter di surat itu "Tang", dan dia belum pernah mendengarnya.

"ZhuMei, tolong nanti kalau Liu Yan sudah pulang, katakan padanya untuk menemuiku di ruangan ku ya"

ZhuMei hanya mengangguk dan tersenyum.

Fangzhou membawa pria asing itu ke dalam ruangannya, ZhuMei penasaran namun dia enggan bertanya banyak.

Sore harinya Liu Yan kembali ke balai, dia langsung berlari ke dapur

"Hei sobat" dan merangkul ZhuMei yang tengah mencicipi masakannya, itu membuatnya tersedak

ZhuMei melepas dan memukul punggung LiuYan membuat pria itu meringis

"Ah, jahat sekali"

"Aku hampir mati tersedak kau tau?!"

LiuYan nyengir dan mengeluarkan sebatang ranting dengan daun-daun bertengger

"Lihat, ini yang kau cari bukan?"

ZhuMei melebarkan matanya dan mengambil tanaman itu dari tangan LiuYan

"Kau temukan?"

"Ya, nanti aku mau daging tambahan ya?"

"Ada maunya, tsk"

"Ah sudah aku mau ke kamar, Fangzhou sudah kembali kan?"

ZhuMei mengangguk "mm, dia menyuruhmu menemuinya"

"Oh? Oke aku bertemu dia dulu"

LiuYan menaruh tas berisi tanaman herbal miliknya di samping dapur dan bergegas menemui Fangzhou.

Fangzhou terlihat duduk meminum tehnya dengan tenang sambil memegang sebuah kertas.

"Kakak senior, kau mencari ku?"

Fangzhou mendongak dan meletakkan cangkir tehnya. Dia mengangguk menyuruh LiuYan duduk. Mata LiuYan menangkap sosok pria yang tidur menghadap tembok di atas ranjang Fangzhou.

Kenapa ada pria asing yang tidur disana?

"Dia siapa?" Tanya LiuYan berbisik

"Itu yang mau aku bicarakan denganmu, A-Yan"

Fangzhou menyerahkan sebuah kertas ke LiuYan. LiuYan membaca surat itu dengan seksama. Sama seperti Fangzhou dia juga terkejut.

"Dia..."

Fangzhou mengangguk. Kenapa bisa suri kerajaan disini?

"Apa ada kabar aneh dari kerajaan?"

LiuYan tau Fangzhou tidak suka gossip. Tapi saat seperti ini, gossip bisa saja menjadi petunjuk.

LiuYan mengingat-ingat apa ada desas desus yang ia dengar, dan ia kemudian teringat akan sesuatu

"Ah! katanya pangeran mahkota sedang sakit. Aku juga dengar suri kerajaan belum di umumkan, tidak tau ada berapa banyak yang mengetahui pria itu adalah seorang Suri"

Fangzhou mengangguk, entah ini benar atau tidak. Dia harus mengetahui apa sebenarnya tujuan pria itu datang, dan siapa yang mengirimkannya

"Aku belum mengerti maksud surat ini secara keseluruhan, tapi kenapa dia tidur diatas ranjangmu?"

Fangzhou menghela nafasnya dan tersenyum.

Pria itu tidak bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Dia mendengarkan semua kata Fangzhou tapi tidak yakin apa dia mengerti. Matanya selalu menatap Fangzhou setiap kali ia menjelaskan sesuatu, dan bertanya. Fangzhou merasa ada hal aneh tapi tatapan mata pria itu terasa tidak berbahaya.

"Dia menolak pergi, selalu menggeram kepadaku"

"Apa dia siluman?"

"Tidak tau"

"Fangzhou bisa kau kemari sebentar" suara ZhuMei menginterupsi mereka membuat Fangzhou keluar meninggalkan LiuYan dan pria itu di kamarnya.

LiuYan memandangi punggung pria itu, terlihat damai dan... menawan. Mungkin bukan kata yang tepat, sebab LiuYan merasakan hal lain setiap melihatnya.

Ketika pria itu berbalik, wajah LiuYan berubah lebih terkejut lagi. Pria itu, pria yang sama yang selalu ada di mimpinya. LiuYan berjalan perlahan mendekatinya. Wajahnya benar-benar mirip, rahang tegas dan kulit putih berkilau itu selalu menjadi bunga tidurnya.

Bahkan LiuYan tau bagaimana wajah pria ini saat berekspresi. LiuYan mengulurkan tangannya hendak menyentuhnya, namun pria itu terbangun dan menarik tangannya dengan cepat.

"Ah" LiuYan limbung dan terduduk di depannya. Wajah mereka sangat dekat hingga mereka bisa rasakan deru hangat nafas satu sama lain.

"Hai..." LiuYan menyapa dengan canggung. Pria itu yang awalnya berwajah masam langsung mengendurkan ekspresinya dan membulatkan matanya. Tanpa LiuYan sadari pria itu sudah memeluknya.

"Yan" walau kurang jelas namun LiuYan tau pria itu melontarkan namanya dengan terbata dari mulutnya.

"Kau mengenalku?"

Pria itu mengangguk, LiuYan bahkan tidak sadar bahwa pria itu sudah membanjiri pundaknya dengan airmata.

LiuYan tidak tau harus berbuat apa, namun dia juga tidak ada keinginan melepas pelukannya.

Tak lama pintu terbuka, Fangzhou dan ZhuMei masuk ke ruangan namun dikejutkan dengan pemandangan di depan mereka.

"L- LiuYan?"

"Ah, eng... tolong?"

Fangzhou tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

....

"Jadi, apa kamu kenal LiuYan?"

Pria itu mengangguk dengan lemah. Mereka bertiga duduk di kamar Fangzhou. Setelah kejadian tadi, pria itu berhasil di tenangkan dan diajak mengobrol.

Namun sejak satu kata tadi, pria itu tak mengucapkan apapun.

"Dia memanggil namamu?" Tanya ZhuMei setengah berbisik

"Mm" LiuYan mengangguk, dia yakin pria ini bisa berbicara.

Fangzhou mendekatkan wajahnya ke arah Pria itu

"Kau ingat namamu siapa?"

Pria itu diam, memandangi mereka bergantian. Dia kemudian memeluk kakinya dan menggeleng.

ZhuMei tiba-tiba menarik Fangzhou dan berbisik ke LiuYan

"Cari informasi"

"Huuuh??? Aku??"

ZhuMei dan Fangzhou sudah keluar meninggalkan LiuYan dan pria asing itu.

LiuYan melirik pria itu, pria itu memandanginya sedari tadi. Entah kenapa itu membuat jantung Liu Yan berdebar lebih kencang.

"Eng... kau ingat sesuatu tentang dirimu?"

Pria itu kemudian menyingkapkan lengan bajunya, dan tato di pergelangan tangannya terlihat jelas.

LiuYan tau itu apa, jelas dia mengetahuinya. Tangannya kemudian terulur, menyentuh tato pria itu dengan hati-hati

"Kau tau artinya ini?"

Pertanyaan itu sepertinya memberikan pengaruh besar kepadanya. Tubuhnya bergetar dan air mata mulai mengalir namun suaranya tidak keluar.

LiuYan menjadi panik

"Eh... aku tidak bermaksud"

Tanpa sadar dia memeluk pria itu saat berusaha menenangkannya. Dan sepertinya berhasil.

"Kau tidak berani berbicara ya?" Tanya LiuYan lagi saat pria itu masih di pelukannya. Pria itu menggeleng dan balas memeluk LiuYan.

"Ta... kut"

LiuYan mendengar suara lemah itu lagi, suara pria di depannya. Yang keluar hanya saat dia memeluknya.

"Namamu..."

"Tang"

"Tang?"

"Ti-dak ingat la-gi"

"Baiklah, bagaimana kalau kami berikan nama untukmu? Aku akan diskusikan dengan saudara lain-"

Pria itu menggeleng dengan cepat

"A-Yan... beri aku" ujarnya dengan terbata-bata

"Aku?? hmmm aku buruk dalam memberi nama, eng... ngomong-ngomong apa kita harus berpelukan begini baru kau mau bicara?"

Pria itu menenggelamkan wajahnya ke bahu LiuYan, membuat LiuYan pasrah dan melanjutkan percakapan mereka dengan berpelukan.

...

LiuYan keluar setelah beberapa saat. Dia kemudian duduk di atas batu di bawah pohon di halaman.

Fangzhou menghampirinya dan bertanya. Sebenarnya tak banyak yang bisa ia dapatkan. Dia tidak terlalu ingat namanya, hanya satu kata saja 'Tang' dan juga tentang kehidupannya.

Dia takut berbicara, dan hanya berbicara sangat pelan dan terbata saat dipeluk LiuYan—dan bagian ini membuat Fangzhou sedikit kaget— mau tidak mau mereka berpelukan sambil LiuYan mencari tau tentangnya.

 

Dia terbangun pada suatu hari di tempat gelap, dengan jeruji besi mengelilingi tempat itu. Hanya ada satu sumber cahaya, jendela kecil yang letaknya sangat tinggi. Setiap malam ia bermimpi buruk. Suatu hari orang-orang yang ia tak kenal datang dan memberikan tanda di tangannya.

Dia mencoba berteriak, namun orang-orang itu mengancam akan memotong mulutnya dan mencabut semua giginya jika dia masih berteriak.

Darahnya di ambil setiap 4 hari sekali bahkan lebih. Saat dia sudah sangat lemah, tiba-tiba keadaannya menjadi panas. Api dimana-mana dan dia berusaha meminta tolong, namun dia tak mengeluarkan suara. Suaranya menjadi sangat lemah.

Tapi pintu tiba-tiba terbuka dan dia melarikan diri.

Di tengah perjalanan dia bertemu seseorang. Seorang dewa—begitu sosok itu memperkenalkan diri pada pria ini— yang melihatnya dengan rasa kasihan. Memberikannya kesempatan.

Dia kemudian diberikan petunjuk untuk pergi ke balai Zhoudi bertemu dengan Fangzhou.

"Ah? Seorang dewa? Mengenalku??" Membuat Fangzhou bertanya-tanya, LiuYan hanya mengangkat bahunya

"Itu yang dia katakan, mau aku lanjutkan?"

Fangzhou mengangguk

"Lalu jadinya begitu, dia datang kesini. Tapi entah bagaimana dia mengingatku, katanya... saat di sel besi itu dia beberapa kali bertemu denganku dalam mimpinya—ah... dia juga pria yang aku lihat dalam mimpiku"

Fangzhou mengangguk paham dengan cerita yang di sampaikan ulang oleh LiuYan.

"Apa mungkin suara yang kau dengar juga suaranya, Fangzhou?" tanya ZhuMei sambil meletakkan kue kacang di depan mereka.

LiuYan mencomot satu kue kacangnya dan memakannya.

"Ah, enak. Aku berikan pada si pria Tang itu"

ZhuMei tersenyum dan mengangguk

"Kemungkinan memang dia, tapi aku belum dengar suaranya. Hanya A-Yan yang dengar"

"Ya, kau benar. Lagipula kita tidak bisa memanggil dia dengan sebutan Tang saja"

LiuYan menggosok-gosok dagunya dengan jarinya, setuju dengan ZhuMei

"Aku sangat buruk dalam memberi nama" ucap LiuYan, tapi pria itu bersikeras agar LiuYan yang memberikan dia nama.

"Pikiran saja baik-baik, kita bisa panggil dia dengan sebutan 'adik' untuk sementara ini"

Keduanya mengangguk setuju.

....

Hari-hari berlalu, terasa damai di balai zhoudi seolah-olah tidak ada peristiwa besar di balik pria yang saat ini tinggal bersama mereka.

Pria itu hanya menghabiskan waktunya di kamar. Terkadang membaca buku yang Fangzhou berikan dan berlatih menulis. Namun dia masih belum bersuara.

"LiuYan tanyakan dia ingin makan apa"

LiuYan menghela nafasnya "aaah aku sedang tidak ingin memeluk siapapun"

ZhuMei dan Fangzhou tertawa geli namun LiuYan tetap pergi.

LiuYan menghampiri pria yang tengah menatap kolam ikan di atas gazebo kecil.

"Hei"

Pria itu berbalik dan tersenyum melihat LiuYan. LiuYan menghela nafas dan memeluknya. Pria itu balas memeluk dengan erat.

"Mau makan apa? ZhuMei bertanya"

"I-kan"

Setelah mendapat jawaban, LiuYan langsung melepaskannya dan pergi. Pria itu memandanginya dengan cemberut. Dia menjadi sedikit kesal. Tapi dia memang tidak ingin berbicara kalau LiuYan tidak memeluknya. Dan itu malah membuatnya kesal.

'Menyebalkan' rutuknya dalam hati.

....

LiuYan saat ini tengah di pasar, mencari beberapa keperluan untuk bahan obatnya. Dan dia tidak sendiri, Fangzhou memaksanya mengajak pria itu. Alasannya agar dia bisa sedikit beradaptasi.

Namun sebentar saja dia di kerumunan orang dia sudah panik dan hampir menangis. Bahkan memeluk LiuYan di tengah-tengah pasar membuat orang-orang memandangi mereka.

"Yan... Yan...."

Serta tidak berhenti memanggil nama LiuYan.

Mereka pulang cepat hari itu.

Saat di ceritakan, Fangzhou dan ZhuMei hanya tertawa.

....

Pagi ini LiuYan bilang dia menemukan nama bagus untuk pria itu.

"Tang Lici"

Tidak mengecewakan, namun mereka bertanya-tanya darimana dia mendapatkan idenya.

"Awalnya aku mau beri nama tanghulu, tapi..."

Pria itu mengerutkan keningnya, dia pernah dengar seorang paman membawa banyak buah merah meneriakkan kata itu.

"Tapi ya begitulah, aku... sepertinya mendapatkannya begitu saja saat bangun pagi ini. Terlintas di otakku begitu saja"

Fangzhou kemudian mengangguk dan menoleh ke arah pria itu

"Kau suka?"

Pria itu— Tang Lici— mengangguk.

"Baiklah, A-Li mau makan apa malam ini?" Tanya ZhuMei, namun Lici justru melirik LiuYan

"Oh ayolah... mau sampai kapan..."

Namun LiuYan tetap berdiri dan memeluk Lici, Fangzhou dan ZhuMei hanya tersenyum melihatnya.

"Mmm, dia mau sup ayam" ucap LiuYan, Lici tersenyum dan memeluk LiuYan semakin erat. LiuYan menjadi sedikit gugup dan... nyaman.

...

Pagi itu LiuYan terbangun dengan Lici di sebelahnya. Sudah beberapa malam, Lici tidak berani tidur sendiri. Dan dia tiba-tiba mengalami demam tengah malam. Fangzhou memutuskan agar Lici tidur bersama LiuYan agar LiuYan bisa dengan cepat memberikan pertolongan padanya.

LiuYan menatap wajah Lici yang tertidur damai di sampingnya. Tangannya terulur merapikan rambut Lici yang jatuh ke wajahnya.

Tadi malam Lici tegang lagi. Tubuhnya sangat dingin dan panas di waktu bersamaan. Dan baru bisa di tenangkan beberapa saat kemudian.

 

"Aku akan coba cari tahu, mungkin... Aku bisa bertemu dewa yang diceritakan A-Li"

Fangzhou memutuskan untuk pergi, sementara LiuYan harus menjaga Lici.

ZhuMei awalnya ingin ikut, namun dilarang karena bagaimanapun juga Lici dan LiuYan akan butuh banyak makanan bergizi. Dan hanya ZhuMei yang bisa memenuhinya.

.....

2 hari sejak kepergian Fangzhou, keadaan Tang Lici belum berubah. Liu Yan menjadi kurang tidur dan istirahat. ZhuMei menjadi kasihan padanya, tapi saat melihat kondisi Tang Lici yang juga tidak lebih baik ia menjadi semakin sedih.

Tang Lici duduk di atas tempat tidur, menatap keluar jendela. Angin musim semi membawa aroma bunga yang menyegarkan, namun perasaannya justru tidak baik.

Mengingat bagaimana orang-orang di sekitarnya menjadi lebih repot dan lelah karena dirinya, membawanya kembali pada ingatan yang ingin dia singkirkan.

Ingatan tentang dirinya yang hanya menjadi bencana. Kemanapun dia pergi.

Pintu kamar terbuka, dan LiuYan masuk kedalam membawa nampan berisi mangkuk obat di tangannya. Pria itu tersenyum dan duduk di pinggir tempat tidur.

"A-Li, minum obatnya"

Lici mengangguk dan menggeser badannya ke sisi tempat tidur LiuYan duduk.

LiuYan mengangkat mangkuknya dan menyerahkannya ke Lici, namun pria itu enggan mengangkat tangannya dan minum langsung dari tangan LiuYan.

"Bagaimana perasaanmu?" Tanya LiuYan

Lici tidak menjawab apapun, dia merasa baik-baik saja saat ini. Tapi nanti penyakitnya pasti akan kambuh di saat-saat tertentu.

"Istirahatlah"

...

Pagi berikutnya, Fangzhou kembali dari perjalanannya. Dia bercerita, dia tak menemukan apapun. Namun gosip dari istana semakin kuat. Tentang pangeran mahkota yang diisukan meninggal. Namun hal itu tentu saja dibantah oleh pihak istana, dan siapapun yang berani menyebarkan berita ini akan di eksekusi di tempat.

Dan dewa yang di ceritakan Lici tidak bisa di temui Fangzhou.

Lici yang mendengar hal itu menjadi tidak karuan. Jika dia terus disini dia akan menjadi kehancuran bagi semua orang di sini.

....

Keesokan paginya LiuYan bangun dengan segar. Entah mengapa pagi ini rasanya dia istirahat dengan cukup. LiuYan keluar dari kamarnya, suasana cukup damai. ZhuMei dan Fangzhou mungkin masih di ruangan mereka. LiuYan menghirup udara dengan segar.

Namun kemudian dia baru teringat, Lici tidak kambuh tadi malam? Bahkan sejak sore dia tidak sibuk.

Apa penyakitnya sembuh?

LiuYan bergegas ke kamar Lici, dibukanya pintu kamarnya dan mendapati Lici berbaring di atas kasurnya. LiuYan tersenyum, dia tampak damai.

LiuYan mendatangi kasur Lici dan mencoba membangunkannya untuk memeriksanya.

"A-Li, kau tidak kambuh semalam, aku sangat bersyukur. Mari aku akan periksa nadimu"

LiuYan menarik pelan tangan Lici, namun pria itu tidak bergerak. LiuYan menjadi sedikit curiga, dia kemudian meletakkan jarinya pada pergelangan tangan Lici. Tidak ada detak nadi yang ia rasakan.

"A- A-li???" LiuYan bergerak semakin dekat dan memeriksa nafasnya. Tidak ada nafas bahkan suara jantungnya tidak terdengar lagi.

Mata LiuYan sudah berkaca-kaca, dan air matanya jatuh tak terbendung lagi.

"A-Li bangun, A-Li!!!!"

.....

Pemakamannya di laksanakan sederhana, LiuYan menolak membakar jasad A-Li dan disetujui oleh kedua saudara seperguruannya.

Dia di kuburkan di dekat balai.
....

3 tahun kemudian banyak hal yang di lalui oleh ketiganya. Beberapa bulan lalu pihak kerajaan datang dan bertanya tentang A-Li. Namun mereka tidak memberikan info apapun. Pihak kerajaan menggeledah balai namun tak menemukan apapun. Bahkan mereka sampai di kuburan A-Li.

"Itu makam saudara kami, namanya Lici" tanpa menyebut nama depannya, pihak kerajaan akhirnya menyerah dan mereka tidak mengusik balai Zhoudi lagi.

"A-Yan kau yakin akan pergi?"

Pagi ini, ketiganya berkumpul untuk sarapan seperti biasa. LiuYan mengatakan ia ingin pergi dan menjelajahi dunia sendirian.

Dia ingat suatu malam, Lici bilang ingin pergi melihat dunia yang luas. Saat itu LiuYan bilang kalau dia sembuh dia akan mengajak Lici menjelajahi dunia bersama.

Kini dia sudah tidak sakit lagi, dan mungkin LiuYan bisa mewakilinya untuk melihat dunia. Dia akan membawa jiwa Lici untuk pergi.

"Aku... pernah berjanji padanya"

.......

"Aku belum pernah kemanapun, saat aku terbangun aku sudah berada di sel itu. Menakutkan"

LiuYan mengusap lembut rambut Lici yang berbaring dan memeluknya. Malam itu sangat hangat, berbeda dengan malam dingin hari-hari sebelumnya.

Keduanya berbaring di bawah pohon diatas rumput, menikmati malam dengan tenang.

"Aku akan mengajakmu pergi, saat kau sembuh nanti"

Lici mendongak dan menatap LiuYan, matanya yang indah menatap dua mata LiuYan yang gelap seperti kedalaman laut.

"Benar?"

LiuYan mengangguk dan tersenyum

"Tentu"

"Apa... bisa sembuh?"

Lici mengangkat tangannya, tato di pergelangan tangannya bereaksi

"Ah!"

"Kau baik-baik saja A-Li?"

Lici memeluk LiuYan semakin erat

"S-sebentar, begini saja"

LiuYan menjadi cemas, namun dia memeluk Lici dengan hangat dan mengusap rambutnya dengan lembut berusaha menenangkannya.

"Yan... jantungmu berisik"

"Mm aku cemas, maaf ya"

Lici menggeleng, saat ia mengangkat kepalanya lagi bibir mereka bertemu. Hangat dan manis.

.....................