Chapter Text
Wonbin membereskan berkas yang ada di meja. Seseorang yang duduk di baris belakang berteriak meminta keadilan. Keadilan sudah ditegakkan, kita menyaksikannya selama lebih dari 5 jam. Wonbin memberikan bukti demi bukti, jaksa yang suka mengulur waktu dan memancing emosi kliennya, serta semua orang di ruangan yang ragu apakah hakim benar-benar mendengarkan. Wonbin lanjut menutup zipper tasnya dan beranjak dari kursi. Otot-otot pantatnya terasa kaku setelah segala pernyataan keberatannya ditolak oleh hakim. Ia sempat menoleh pada klien di sebelahnya. Lelaki itu terlihat siap untuk mematahkan tulang seseorang. Termasuk Wonbin.
Kau ingin minum kopi bersama? Wonbin basa-basi. Suara gebrakan meja yang dramatis bergemuruh di ruangan. Seperti sebuah slate yang dijepret seusai pertunjukkan berakhir. Kerja bagus. Wonbin menepuk pundak kliennya dua kali dan keluar bersama beberapa kameramen. Sebuah sirkus yang disiarkan secara langsung? Berapa orang yang menonton? Semua berharap kliennya dihukum mati, jadi ratingnya kemungkinan di bawah 2%. Dua puluh tahun penjara, akan menjadi headline selama 2 minggu kedepan pada beberapa surat kabar. Wonbin mengelap tangannya dengan sapu tangan.
“Bagaimana perasaan anda telah meringankan hukuman seorang pembunuh?”
“Apakah ada rasa penyesalan ketika melihat keluarga korban?”
Wonbin menyingkirkan recorder dan mic yang ada di depan wajahnya. Suara jepretan kamera tidak berhenti menangkap segala gerak-geriknya. Wonbin terdorong ke depan. Bertepatan dengan itu, seseorang dari jauh melemparkan sebuah telur ke arahnya. Lemparan tersebut mengenai kepala kameramen di belakang. Lalu tepat sasaran untuk telur kedua. Putih telur menetes dari atas kepalanya.
Situasi menjadi kacau.
“Saya tidak memiliki komentar apapun. Permisi”
Kliennya digugat dengan pembunuhan tingkat 1. Berencana dan keji. Kekasih kliennya merupakan artis papan atas yang tergeletak di lantai dapur dengan 18 tusukan. Kenapa 18? Wonbin tidak bertanya. Mungkin karena pertama kali mereka berjabat tangan, ia sudah tahu. Kliennya memiliki inferiority complex yang kronis. Menyebut kekasihnya ‘Tidak tahu malu’ ditambah sifatnya yang mudah marah, tidak penting untuk mengetahui alasan bajingan itu menusuk 18 kali. Hipotesa Wonbin adalah, bajingan itu mabuk dan tusukan ke 18-lah yang membuatnya sadar.
Wonbin masuk ke dalam mobil setelah bergelut dengan lautan manusia yang siap memakannya. Sopirnya, Charles, memberikan kotak tisu dan menyalakan mesin.
“Kau berharap mereka menaburkan bunga padamu?”
“Tidak juga”
“Kau tidak bertemu keluarga korban?”
“Mereka tidak ada hubungannya denganku”
“Salah satu adiknya penyandang disabilitas—“
Wonbin menendang kursi pengemudi dari belakang. Menyebarkan noda lengket pada jok kulitnya. Mobil seharga apartemen di kota sekarang berbau amis yang menyengat. Ia akan membersihkannya nanti, termasuk kuning telur yang ada di jendela.
“Jauhi media sosial untuk sementara” tegur Charles.
“Aku tidak mendengarkan pendapat publik”
“Apa menurutmu ini seperti pendapat?” Charles menunjukkan laman berita yang dipenuhi oleh makian. Setiap kolom terisi namanya. Park Wonbin, Sang pengacara ahli neraka. Tunggu sampai kau yang diadili di akhirat.
Wonbin melonggarkan dasinya yang terasa sesak. Di mobil tidak ada minuman sehingga sekali lagi ia hanya dapat menelan ludah. Ponselnya memunculkan beberapa notifikasi, sebelum kemudian layarnya menjadi gelap.
[Apakah aku harus mengucapkan selamat?]
3 bulan kemudian
Kecocokan 56%.
Wonbin menampilkan layar ponselnya. Memperlihatkan sebuah website dimana kau bisa menuliskan nama seseorang dengan namamu untuk melihat ramalan hubungan. Tangan satunya memegang sub sandwich yang telah tergigit sambil menantikan reaksi teman kantornya, Leo. Alis lelaki tersebut terangkat satu lalu disusul helaan napas.
“You still doing that?”
Wonbin menaruh ponselnya dan lanjut makan. Ia pasti sudah tahu bahwa Wonbin bermaksud untuk menolak ajakan kencan buta dengan kenalannya. Seorang pramugari. Alasannya memang sulit diterima, siapa yang masih menggunakan ramalan sebagai penentu keserasian? Apalagi dengan sistem dan kodingnya yang meragukan. Darimana angka 56% itu datang? Bukankah keterlaluan? Park Wonbin dan Yoon Sihyun, apa yang salah?
“Aku tidak suka kepribadiannya” jawab Wonbin enteng.
“Kau bahkan belum bertemu dengannya”
Wonbin memanggil seorang pelayan untuk menanyakan minumannya.
“Dia bukan tipe ku”
Leo bersandar ke kursi, melipat tangannya.
“Kau terlalu ambisius untuk orang yang percaya tahayyul”
Wonbin tidak membalas. Menyantap sandwichnya penuh hikmat. Dirinya tidak sendirian.
“And you’re not, Leo?” Sengaja menekankan pada namanya.
“Namaku Leonard bajingan”
Bukan Leo, Singa, Si Raja Hutan dari Astrologi, tetapi jerman kuno.
Mereka sudah bersama satu firma hukum selama 2 tahun. Kelemahan Wonbin dalam mengingat nama seseorang cukup mengesankan. Bagaimana ia menjadi pengacara selalu menjadi pertanyaan di kantor. Ruang pengadilan? Semuanya terjawab. Wonbin memang terlihat seperti orang yang tidak peduli dengan sekitarnya, tetapi ia tidak pernah bermain-main dengan nasib kliennya.
Wonbin merasa percakapan mereka telah berakhir. Laki-laki itu menerima minumannya di kasir dari pelayan yang sama. Pelayan tersebut memicingkan matanya sebelum ke televisi di belakang. Rupanya sebuah berita sedang membahas kasus Frank, mengundang seorang pengamat dan— Wonbin harap ia salah lihat.
Politikus? Bukankah dia baru-baru ini mencalonkan sebagai wali kota? Politikus tersebut lalu berceloteh tentang bagaimana keamanan warga akhir-akhir ini terancam dan tindakan pemerintah dalam menangani hal itu, termasuk menonaktifkan pengacara yang membela para ‘bajingan’. Dia menyebut mereka ‘bajingan’ di siaran langsung dan sama saja mengatakan bahwa ia ingin menyabut hak para tersangka untuk mendapatkan pengacara. Foto Park Wonbin kemudian muncul di sana. Berjas hitam dan dasi bergaris, adalah foto yang diambil 2 tahun lalu untuk keperluan paspor. Kini orang-orang bisa melihatnya di kedai roti lapis, sambil meminum secangkir espresso. Ia mengumpat dan meninggalkan toko. Leo memanggil dari mejanya tetapi suaranya terendam begitu saja.
Wonbin melonggarkan dasinya.
Dari awal ia tidak berniat menerima kasus Fransisca. Dia adalah bintang komersial. Menemani di setiap tontonan akhir minggu, bukan sebagai pasangan kencan melainkan dia ada di layar tv mempromosikan perabotan rumah tangga. Wonbin membeli microwave bulan lalu dan wajah Fransisca tercetak di kardus. Sama dengan kardus mesin cuci di gudangnya. Singkatnya, Fransisca Armor ada dimana-mana. Termasuk di mimpi Park Wonbin. Paras Fransisca di sana jauh dari kata sempurna seperti di iklan, ia menjadi mayat busuk yang matanya terbuka lebar. Seolah mengingat wajah pelaku hingga detik terakhirnya. Wajah siapa yang ia lihat? Penggemarnya? Ayahnya yang bermasalah? Pacar sekaligus kliennya, Frank? Orang-orang tidak peduli. Mereka hanya ingin menyaksikan nasib seorang artis muda cantik yang berhasil menyayat hati, lelaki yang dihukum mati. Di penggal, atau disetrum dengan kursi listrik. Sebagai simbol perlawanan. Klise. Mereka menyukainya.
“Park Wonbin?”
Margaret menyambutnya di pintu kantor. Sekilas ia menoleh ke dalam sebelum kembali lagi dengan senyum tidak ramah.
“Kau ada tamu”
Wanita itu menggeser tubuhnya. Wonbin membayangkan seorang klien yang putus asa, atau seseorang yang menyamar sebagai klien lalu melemparinya telur. Ia pun berjaga-jaga menutup mata. Namun, yang Wonbin temukan adalah dua orang berpakaian hitam. Dari belakang, sudah jelas satunya merupakan pria paruh baya. Warna rambut mereka juga berbeda. Satu putih karena uban, satu lagi.. cukup menarik. Hitam bergelombang. Si pria paruh baya sedang berbincang dengan resepsionis sementara si hitam bergelombang, tidak lama berbalik badan. Ia masih sangat muda. Kulitnya putih khas asia, bibirnya ranum dan tebal, tetapi matanya memberi kesan kekanak-kanakan. Polos dan jernih. Wonbin mengenali kartu yang menggantung di lehernya. Si hitam bergelombang mengulurkan tangannya.
“Park Wonbin? Perkenalkan aku detektif Sohee, Lee—”
“Sohee?” Wonbin menyela.
Si hitam bergelombang, kini Lee Sohee melirik ke arah pria baruh baya.
“Kalian saling kenal?” Tanya si pria paruh baya tersebut.
Lee Sohee menggelengkan kepalanya berkali-kali, tentu saja tidak. Melihatnya begitu tersinggung, Wonbin menebak kedatangan mereka bukan awal yang baik. Setelah menyapa Ana (sebenarnya adalah Amy, si resepsionis), Wonbin mengajak mereka berdua ke ruangannya. Meminta tolong Margaret untuk melarang orang lain masuk.
“Kau sedang libur?” komentar pria paruh baya. Merujuk pada kaleng bir yang bertengger di tempat sampah. Seorang pengacara tidak mungkin terang-terang an menunjukkan bahwa kau harus meneguk 2 kaleng bir murah setiap membaca 5 halaman berkas klien. Kecuali jika kau tidak memiliki klien untuk dipuaskan.
Wonbin membereskan tumpukan berkasnya,
“Anda pernah mendengar pengacara ahli neraka?”
Ketika tidak ada jawaban, Wonbin memilih duduk. Mempersilahkan keduanya.
“Itu sebutan saya”
Dari sudut matanya, Wonbin bisa melihat detektif Lee Sohee memperhatikan sekeliling ruangan.
“Tidak ada yang mau datang ke neraka, detektif, tapi saya tahu cara menerima tamu.” Wonbin tersenyum.
Mata Lee Sohee bertemu dengannya. Ia seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi didahului oleh si pria paruh baya.
“Maaf, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan”
“Saya tidak menganggap demikian.”
“Bagus. Saya detektif Bruce dan Sohee adalah detektif yang menemani saya hari ini—”
Percakapan mereka terputus ketika Margaret masuk sambil membawa kopi.
Terima kasih.
Sohee tidak suka kopi, tergambar jelas di wajahnya. Margaret sepertinya menyadari hal itu, tetapi dia tidak cukup baik untuk kembali dengan air putih. Wanita tersebut menampakkan giginya yang rata sebelum pergi meninggalkan mereka dengan nampan kosong.
“Hari yang sibuk?” Tanya Wonbin tiba-tiba. Pandangannya tertuju pada Sohee yang sedang menimang apakah mau tetap meminumnya atau tidak.
Bruce juga menunggu jawabannya.
“Ya— um. Di kantor sedang ramai” jawabnya sedikit terbata. Merasa tidak enak seolah dirinya penyebab firma hukum Wonbin menjadi lengang.
“Saya pikir mereka akan menyerbu kantormu.” Sahut Bruce.
“Siapa?”
“Para bajingan itu, maksudku— kau mengubah sebuah hukuman mati, aku yakin mereka mengincarnya.”
“Bruce, percayalah. Banyak tempat yang lebih baik untuk menerima pengampunan tuhan, dan penjara bukanlah salah satunya”
Tidak ada yang mau membusuk disana bersama kaki diabetes sambil membawa alkitab kemana-mana.
“Kau benar.”
Wonbin menyamankan posisi duduknya. Sinar matahari dari jendela membuat suasana nya cocok untuk sekedar bertemu membahas tempat makan terkenal di pinggir jalan. Melainkan, Wonbin bertanya.
“Jadi.. Frank Peterson, dia kabur?”
Bruce dan Sohee saling tatap.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”
Wonbin menggedikkan bahunya. Ia menggabungkan titik demi titik. Kasus terakhirnya adalah Frank, dan polisi hanya datang ketika ia sedang menangani kasus, tidak pernah di luar itu. Jadi ia menduga sesuatu pasti terjadi dengan Frank. Kabur? Bunuh diri? Wonbin tidak peduli.
“Frank ditemukan hilang pagi ini.” Bruce akhirnya terus terang, menyembunyikan logatnya yang kental ketika menyebut nama Frank.
Bukankah ‘hilang’ kata yang kurang tepat untuk orang yang mendekam di penjara. Hilang? Apa maksudmu hilang? Dia pergi menembus tembok? Ataukah alien kini memutuskan untuk mengambil narapidana sebagai sumber daya mereka? Lebih cepat dan aman. Karena siapa yang peduli dengan para bajingan-bajingan ini.
“Kami sedang mencari jejaknya.”
Lee Sohee, rupanya.
“Oh.”
“Kami tidak menemukan petunjuk apapun di sel penjara Frank. Narapidana disana juga tidak banyak membantu, mereka bahkan tidak sadar Frank telah hilang.” Jelas Sohee.
Dan mereka berharap Wonbin bisa membantu?
“Kami ingin tahu apakah kau terlibat.”
‘Aku perlu tahu jika kau terlibat Frank.’
Wonbin melihatnya tertawa. Terputus-putus dengan garis mukanya yang rapuh.
‘Kau tidak akan mempercayaiku.’
‘Kau pikir itu salahku?’ Nadanya datar.
Frank memukul keras mejanya. Membuat salah satu sipir mulai berjaga. Padahal kaca di tengah-tengah mereka sudah cukup.
‘Sialan Park Wonbin! Itu hanya kaleng bir’
Frank berkata dia meminum 1 kaleng.
‘Dengar Frank. Kau yang membohongiku lebih dulu. Aku tidak peduli apapun keputusan hakim nanti, karena kau tahu? reputasiku akan tetap sama. Tetapi kau lihat orang-orang di luar sana?’
Wonbin menunjuk jendela kecil di belakangnya. Selain langit, mereka dapat melihat beberapa siluet orang-orang di bawah sedang melakukan aksi.
‘Mereka menginginkan kau mati. Mencabik-cabik dagingmu begitu kau bebas. Jadi, kau yang memilih.’
Frank mengepalkan tangannya dan meludah tepat di kaca.
Wonbin melanjutkan, dengan sebelah wajah Frank yang buram.
‘Aku mungkin tidak mempercayaimu. Tetapi aku satu-satunya orang yang menginginkamu keluar dari sini’
“Park Wonbin?” Detektif Lee Sohee memanggilnya.
“Ya?”
“Kami memiliki beberapa pertanyaan untukmu” Ulang Sohee.
Matanya berkilat, menantikan jawaban.
Ruang kantor Wonbin yang kedap suara mengisolasi mereka dari bunyi jalan raya dan kehidupan sosialis di luar, yang mungkin bisa menjadi alasan Wonbin untuk menolak. Tidak, aku punya urusan lain. Aku ada janji. Atau jika dirinya beruntung, mobil Carl menunggunya di luar dan mengklakson berkali-kali. Tetapi, semua itu tidak ada yang terjadi.
Tangan Bruce naik untuk mengelus paha detektif Lee Sohee sebelum kemudian mengambil alih.
“Tenang saja. Ini hanya sebuah prosedur”
Wonbin mengabaikannya dan beranjak dari sofa.
“Maaf. ”
Ia tidak mungkin menerima mereka tanpa surat pemanggilan ataupun surat perintah. Mereka seharusnya lebih paham.
Detektif Lee Sohee mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya.
“Frank meninggalkan sesuatu untukmu”
“Dia sepertinya senang membaca” tambahnya.
Itu adalah secarik potongan kertas dari buku. Sepertinya Alkitab, atau bukan? Wonbin tidak tahu. Ia tidak pernah membacanya.
“Tidak usah. Saya ateis”
Lee Sohee tersenyum, kemudian ikut berdiri. Tangannya kurus dan lentik, Wonbin dapat merasakannya ketika jari mereka bersentuhan.
Dibalik kertas, tertulis oleh tinta merah, namanya hampir tidak terbaca.
Jika kau tidak menemukanku, telepon pengacara Park Wonbin. Dia tahu.
Lalu bajingan itu benar-benar menulis nomornya.
“Dengar—”
Detektif Lee Sohee memiringkan kepalanya.
“Saya tidak pernah menjalin kontak dengan klien saya setelah kasus mereka selesai.”
Tetapi tulisan merah tersebut seperti darah yang menetes di tangannya.
“Frank berbohong.” Tegas Wonbin.
Detektif Lee Sohee mengambil kertasnya kembali. Kali ini sentuhannya lebih lama.
“Sayang sekali hanya kau yang bisa membuktikannya. Bukan begitu.. Pengacara Park Wonbin?” Pertanyaannya retorikal. Diucapkan dengan lembut.
Wonbin masih tidak percaya, wajah putihnya itu telah berhadapan dengan mayat. Apa yang Sohee pikirkan ketika melihat Fransisca?
Wonbin malu untuk mengakuinya tetapi ia pernah bangun tengah malam untuk mengeluarkan isi perutnya. Hanya karena Fransisca Armor sedang memasak di dapurnya, berbalik dan mengerjarnya dengan 18 robekan. Sedangkan Detektif Lee Sohee seperti orang yang tidur nyenyak tiap malam. Darah muda mengalir deras di pembuluh darahnya. Pipinya bisa merona dan bibirnya merah muda.
“30 menit” putus Wonbin. Sebanding dengan wajah Bruce yang tersinggung.
Sohee memiliki hubungan yang rumit dengan pekerjaannya. Penah mendengar,
‘Jangan memasang perangkap tikus di rumah sendiri’?
‘Biar orang asing yang memasangkannya di rumahmu’
‘Itu akan berhasil’
Kenapa? Karena mereka bilang, jika kau yang memasangnya maka kau yang akan jatuh ke perangkapmu sendiri alih-alih tikus di rumah. Terdengar tidak masuk akal memang, tetapi ayahnya percaya. Setiap ada roden di rumah, ia akan memanggil orang dari kantornya, tukang, atau tetangganya untuk memasang, dan hasilnya?
Mereka bisa mendapatkan untung segudang jika menjual daging roden di pasar gelap. Sangat banyak.
‘Kau lihat? Ayah tidak pernah mendapatkannya kalau memasang sendiri’
Sohee?
Sohee tidak percaya itu. Semua bisa dijelaskan oleh konsep probabilitas. Kebetulan. Nasib. Dan Kepercayaan.
Hal itu juga yang membuatnya menjadi polisi meski ayahnya adalah Victor Herling. Jika kau ingin tahu, itu lebih buruk daripada anak asia yang menolak menjadi dokter. Sohee tidak hanya membelot, tapi ia memasang perangkap yang sempurna di keluarganya sendiri. Seperti tikus, Victor juga tidak menyadari perangkap yang datang untuknya.
Hap.
Orang akan bilang dia durhaka, orang lainnya akan bilang dia pemberani, dan sebagian kecil akan bilang dia haus reputasi.
Sedangkan yang Sohee lakukan hanyalah, balas dendam.
Saat itu Sohee berusia 7 tahun ketika menemukan foto ayahnya bersama wanita tanpa keturunan korea sama sekali. Rambutnya blonde, matanya biru, kulitnya seputih porselen. Tentu. Tentu Sohee familiar dengannya. Namun, bukan karena ‘Wanita itu mirip denganku, wanita itu mungkin adalah ibuku, wanita itu memiliki hidung yang sama denganku’ tetapi ‘Aku melihatnya di tv natal tahun lalu’. Alias ibu kevin dari home alone. It is as white as it goes.
Itu adalah bukti kebohongan pertama ayahnya. Tidak ada dari mereka yang keturunan asia, apalagi korea.
Ketika Sohee masuk SMA, ia semakin paham siapa sebenarnya ayahnya itu. Victor Herling bukan orang sembarangan. Satu per satu, orang didekatnya tidak melihat Sohee hanya sebagai Li dari China, tetapi anak emas Victor, si mantan mayor. Dengan begitu, kekuatan yang tak kasat mata mengikuti Sohee di setiap jejaknya. Guru Sohee, Mr. Lamberg dengan senantiasa menginjak jejak tersebut.
“Jim,”
“Berhenti memanggilku itu”
Victor melembut, “Sohee. Aku telah berbuat dosa besar”
Anak yang ia angkat untuk membangun imagenya, sebagai perangkul baik warga negara amerika ataupun imigran, kini menjadi ancaman balik baginya. Mr. Lamberg berhasil memerasnya sebesar 100.000 dolar.
“Tapi aku tidak melakukan apa-apa!” Sohee setengah berteriak, merasa tidak adil. Jangankan berbuat asusila, Sohee bahkan tidak berani berteman. Narkoba? Apa Mr. Lamberg sudah gila?!
“Aku tahu. Ini untuk kebaikanmu juga”
Sohee masih berumur 18 tahun.
“Ayah—”
“Hati-hati terhadap orang dewasa, Sohee. ”
Ayahnya adalah orang dewasa, bapak penjaga kebun juga orang dewasa, bahkan mbok yang selalu menyiapkan makanan enak disaat Sohee merupakan pemilih yang berat, adalah orang dewasa. Lalu siapa orang dewasa yang bisa Sohee percaya?
Tepat sebelum dirinya juga menjadi dewasa. Ia pun mendapat hadiahnya. Kartu identitas, paspor, ATM, mobil, cek, dan kucing peliharaan. Sohee menamainya Milo. Ayahnya bilang, Milo suka berpergian. Sohee tidak suka, tetapi ia bersama Milo sekarang.
Di kartu identitasnya. Nama yang sudah lama tidak singgah di lidahnya tertulis di sana. Lee Sohee. Bukan Jim.
Kalau dipikir-pikir, Sohee tidak ingat bagaimana dia lahir. Ia tidak memiliki memori bagaimana ia ditinggal di sebuah panti asuhan. Ia hanya tahu namanya. Lee Sohee. Satu-satunya yang dia ingat adalah, bahwa ia berbeda dari teman-temannya. Nama mereka, James, Haley, Viona, Max, dan mereka semua tidak memiliki nama belakang sepertinya. Lee? Apakah dibaca Li? Atau Leyi? Atau justru Li-E?
Entah sejak kapan Sohee berganti menjadi Jim. Ia dipanggil Jim. Tanpa Lee.
Sohee adalah Sohee —> Jim —-> lalu kembali menjadi Sohee.
Detektif Lee Sohee. Di buang oleh ayah angkatnya.
Sohee menutup hidungnya menggunakan sapu tangan. Asap berdebu terus melayang di depannya hingga membuatnya terbatuk. Ia menepi ke pinggir trotoar diikuti suara klakson yang terdengar seperti menargetnya. Padahal jalanan memang sedang macet. Orang-orang sedang berunjuk rasa. Membawa papan dan berjalan di tengah lalu lintas. Meneriakkan kalimat yang sama.
Hentikan Percobaan! Kita Menolak!
Hentikan Percobaan! Kita Menolak!
Hentikan Percobaan! Kita Menolak!
Hentikan Percobaan! Kita Menolak!
Hentikan Percobaan! Kita Menolak!
Hentikan Percobaan! Kita Menolak!
Hentikan Percobaan! Kita Menolak!
Hentikan Percobaan! Kita Menolak!
Suara mereka berdengung di kepalanya. Sohee semakin merapatkan diri. Ingin cepat-cepat sampai tujuan. Sampai seseorang dari belakang menabrak dirinya.
Maaf.
Orang tersebut menggandeng anak perempuan yang polos. Satu tangannya lagi memegang papan. Sohee mengenal betul wajah orang yang ditempel di sana. Penuh spidol merah dan lubang karena jarum panah.
Kau bukan lagi bagian dari keluarga Herling, Jim. Kau bebas sekarang.
Sohee menggelengkan kepalanya. Syukurlah bayangannya cepat menghilang.
Kau tidak apa-apa?
Ibu yang menanyainya tampak sangat manis, dan anaknya juga seperti anak baik. Sohee mengelus kepala anak perempuan tersebut,
Hati-hati, ucapnya.
Nurah. Ibunya memberitahu Sohee nama anak perempuan tersebut.
Hati-hati, Nurah.
Lalu setengah berlari meninggalkan mereka. Sohee sempat menoleh ke belakang dan Nurah melambai kepadanya. Rasanya Sohee bisa bernapas. Tidak ada yang tahu dirinya adalah Jim Herling. Tidak ada satupun, dan Sohee tidak akan membiarkan siapapun mengetahuinya.
Itu adalah sebuah ganjaran bagi dirinya karena menjadi orang dewasa.
“Detektif Lee, kau dipanggil ketua tim ke ruangan”
Sohee menarik napas panjang untuk menghirup udara yang lebih segar. Meskipun artificial dari sebuah mesin air conditioner di pojok ruangan.
“Di luar sangat gila” Sohee merujuk pada pendemo yang masih berteriak. Untungnya mereka tidak merusak properti kantor mereka. Ia mengernyit ketika menemukan sapu tangannya hampir berwarna kecoklatan. Seburuk apa udara di sana.
“Sudah sepatutnya mereka marah” Ujar koleganya santai.
Sohee pergi menemui ketua timnya setelah membuat kopi. Menyiapkan satu lagi untuk ketuanya tersebut. Ia mengetuk pintu dan suara dari dalam menyambutnya. Masuk.
Di mejanya, Walter membaca berkas yang lebih tebal dari seluruh edisi Harry Potter dijadikan satu. Tanpa sekali pun memandangnya, Walter menyuruhnya duduk.
“Bagaimana interview mu dengan Park Wonbin?”
Park.. Wonbin? Itu sudah 2 minggu yang lalu.
“Aku rasa aku sudah membicarakannya dengan Bruce dan Bruce pasti melaporkan—”
“Aku dengar Park Wonbin meminta sesuatu yang spesial”
Sohee mulai menyadari arah pembicaraan mereka, tangannya mengepal. Jadi Bruce tidak hanya melaporkan hasil wawancaranya?
“Aku lebih suka menyebutnya permintaan ‘khusus’ karena aku rasa tidak ada yang salah—”
Lagi-lagi Sohee dipotong.
“Tidak ada yang salah? Menurutmu, menyuruh salah satu polisi untuk keluar ruangan dan hanya mau di wawancara oleh polisi amatir, berusia muda, berpenampilan seperti mu, tidak masalah?”
Berpenampilan seperti..Sohee? Ia sama sekali tidak mengerti. Memang ada apa dengan penampilannya?
“Kau pikir penyelidikan ini adalah sebuah lelucon? Apakah dia berpikir polisi adalah sebuah lelucon?!” Nadanya meninggi. Sohee tersentak kecil ketika Walter memukul meja. Alhasil percikan kopi mengotori berkasnya. Ia sangat ingin membela diri, tetapi pita suaranya seperti diikat , menarik kontur lehernya. Tercekik.
“Tidakkah kau merasa itu aneh?”
Sohee menggaruk ujung kukunya. Aneh? Walter kemudian memberikan penjelasan yang tidak lebih baik dari sekedar memojokkan.
“Kukoreksi, bukankah itu aneh? Seseorang seperti Park Wonbin hanya mau diwawancara oleh mu?” sudutnya penuh curiga.
‘30 menit—-
dan saya hanya akan melakukannya dengan detektif Lee Sohee.’
Jika tahu seperti ini, Sohee pasti menolaknya mentah-mentah. Tetapi, Sohee yang naif dan bersemangat beranggapan saat itu adalah kesempatan emas. Kesempatan untuk membuktikkan bahwa ia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik bahkan tanpa harus ditemani oleh Bruce. Sungguh bodoh.
“Aku mengirim detektif senior seperti Bruce untuk membimbingmu, tapi kau—-" Walter menghentikan kalimatnya sendiri. Tidak habis pikir. Mungkin juga merasa teguran ini aneh dan tidak cukup untuk membuat kericuhan.
Walter melempar 1 bundle kertas yang di klip ke arah Sohee.
“Ada tahanan yang hilang lagi.”
Sohee membacanya. Membuka halaman demi halaman dan menemukan gambar sel tahanan yang bersih dari jejak. Sama seperti kasus Frank.
“Kasus mereka kemungkinan besar berkaitan satu sama lain”
Sohee membalik halaman selanjutnya. Mencari nama yang familier.
“Dia bukan mantan klien Park Wonbin” alih-alih Walter yang menjawab pertanyaannya.
“Tidak mungkin.” ucap Sohee lirih.
“Aku tahu.”
Sohee merasa pusing. Ia tidak menyangka kasus ini lebih serius dari sekedar tahanan penjara yang melarikan diri. Tidak mungkin mereka bisa lolos semudah itu di penjara Hanswood, penjagaan nya ketat, dan belum ada kasus pelarian diri yang berhasil sebelumnya. 2 orang dalam sebulan? Sohee bertaruh ini bukanlah sebuah kebetulan.
“Aku menyerahkan kasusnya kepadamu.”
“Kau yakin?”
Walter mengangguk. Lelaki tersebut berdiri dari kursinya. Mengitari ruangan dengan angkuh. Sohee mendengar ketukan sepatunya yang semakin mendekat dari belakang. Walter membungkuk. Kedua tangannya di bahu Sohee.
“Aku ingin kau melakukan investigasi bersama Park Wonbin”
Permintaan tersebut tentu mengagetkan Lee Sohee. Belum sampai 5 menit yang lalu, Walter memarahinya dan menuduhnya bersekongkol dengan Park Wonbin.
“Walter”
“Ini hanya sementara. Setelah kasusnya selesai kau tidak perlu berhubungan dengannya lagi.”
Bukan itu yang dikhawatirkan oleh Sohee. Ia tidak peduli dengan pengacara tersebut barang sedikitpun dan ia tidak takut. Melainkan dirinya ragu apakah ini jalan yang tepat. Saksi yang ikut campur dalam investigasi hanya akan menimbulkan bias. Mencari-cari hal yang tidak perlu agar kesaksiannya terbukti. Bahwa Park Wonbin tidak ada sangkut pautnya dengan Frank Pererson. Meski sebutannya pengacara ahli neraka, ia tidak memiliki niat untuk membawa mereka ke neraka yang nyata.
“Belum bisa dipastikan apakah posisi Park Wonbin benar-benar seorang saksi. Keep your enemies closer, kita bisa sekaligus memata-matainya. Tidakkah kau berpikir ini seperti menyelam sambil meminum air?”
Air laut tidak bisa diminum. Mereka justru bisa membunuhmu. Sayangnya, Sohee selalu selamat dari pengalaman hampir kematian. Ia pernah mendapat tusukan di perut, tangan, dan Lee Sohee masih disini.
Tetapi ada satu masalah.
“Aku tidak bisa” tukas Sohee singkat.
Wajah Walter nampak komikal. Sepanjang karirnya, ia tidak pernah mengira ia akan mendengar Lee Sohee mengatakan kombinasi 3 kata tersebut.
“Kau sakit?”
“Huh?”
Walter menempelkan punggung tangannya ke dahi Sohee yang langsung ditepis.
“Aku baik-baik saja”
“Kalau begitu…” Walter menggantungkan kalimatnya. Penasaran.
Sohee berdehem sebelum menjawab.
“Aku mungkin… telah melakukan sesuatu yang menyinggungnya?” Ucap Sohee sambil meringis. Mengingat kembali percakapan mereka.
Ini pertama kalinya dia melakukan wawancara 1:1. Sebelumnya Sohee harus ditemani oleh Bruce atau detektif senior lain dari tim investigasi. Semuanya menganggap Sohee terlalu ingin tahu. Menanyakan hal-hal diluar kepentingan penyelidikan. Pernah suatu ketika Sohee harus menggali informasi dari wanita yang kehilangan anjing peliharaannya, Marry, malah berakhir dengan penangkapan pembunuh berantai di sebelah rumah. Sohee yang menjadi teman curhat majikan Marry, dari cerita hantu laundry sampai tetangganya yang sering keluar malam, justru harus menuliskan surat permintaan maaf karena telah ‘mencuri’ kasus dari divisi pusat. Sohee tebak mereka bahkan tidak tau Miss Gwen selalu menyimpan pistol di bawah bantalnya, dan biarkan itu menjadi rahasia mereka.
Park Wonbin… dia bukan Miss Gwen. Lelaki itu jelas tahu tujuan Sohee disini dan apa yang sedang dia lakukan. Ditambah umur mereka yang terpaut lumayan jauh, Park Wonbin 32 tahun sedangkan Sohee masih menikmati awal 25 tahunnya. Wonbin sudah berhadapan dengan kriminal ketika Sohee masih di akademi kepolisian menyiapkan kopi untuk seniornya. Walaupun ia meraih nilai tertinggi saat ujian masuk, tetap saja Wonbin lebih berpengalaman darinya. Dia pasti menertawakan Sohee dalam hati, menganggapnya hanya sebatas polisi muda yang naif.
“Kau membenci Frank Peterson?”
“Benci adalah kata yang kuat detektif”
Pada dasarnya tidak ada pengacara yang benar-benar menyukai kliennya. Mereka membayarmu, lalu apa? Apakah kau bisa memastikan bahwa uang tersebut bersih? Darah siapa saja yang ada disana?
Darah siapa yang ada pada ratusan sapu tangan Park Wonbin?
Sehingga, bertarung moral dengan dirimu sendiri adalah medan perang yang sebenarnya, bukan di pengadilan. Wonbin pasti mengira Frank adalah bajingan yang harus ia kalahkan. Melewati garis finish pada lomba marathon yang berdarah-darah. Darah dari orang-orang yang tidak berdosa.
“Tapi kau benar, Saya tidak menyukainya” tukasnya lagi.
Dengan kasus hilangnya Frank saat ini, garis finish itu menjadi ilusi semata. Wonbin tidak bisa lari dari bajingan sepertinya. Frank adalah bayangan hitam yang menyuruhnya terus berlari. Belum selesai, aku belum tertangkap. Tangkap. Tangkap. Tangkap: Seperti halnya Garraty di novel ‘The Long Walk’ karya Stephen King.
Sohee menimang sesuatu.
“Jadi itu yang kau lakukan kepadanya?”
Wonbin memiringkan kepalanya, tidak mengerti.
“Menjadi brengsek?” tusuk Sohee.
Wonbin tertawa lepas.
“Saya tidak pernah melibatkan perasaan dalam pekerjaan saya. Mereka hanya perlu melakukan apa yang saya perintahkan”
“Jadi kau memperalatnya?”
Wonbin terdiam sejenak. Garis senyumnya lenyap.
“Saya rasa itu tidak penting. Bukankah tugas mu mencari petunjuk tentangnya? Bukan tentang saya.”
Dari awal percakapan mereka, baru sekarang Sohee merasakan intonasinya yang sangat dingin.
Detektif itu menenggelamkan wajahnya.
“Aku terbawa suasana”
“Tapi—”
“Yang jelas aku tidak bisa”
“…….”
“Kau percaya pada instingku kan? Park Wonbin….Aku merasa aneh dengannya. Feelingku tidak enak”
“Kau bisa merayunya.”
Sohee secepat kilat mengangkat kepalanya.
“Kau pintar melakukannya bukan?” Tambah Walter.
Iya. Kepada target penangkapan. Alias menyamar. Bukan kepada pengacara ternama sepertinya.
Walter membenarkan,
“Memang bukan seperti saat kita melakukan penyamaran. Tapi, kau hanya perlu bertemu dengannya, memperlakukannya dengan baik, dia pasti bersedia membantu. Toh dia menyukaimu, kalau tidak, mengapa ia hanya mau diwawancara olehmu?”
Sohee harap bisa sesederhana itu.
Pertemuan mereka berakhir tepat 30 menit. Walter memberinya banyak ide untuk rencana mereka, sedangkan Sohee mau tidak mau menurutinya. Ketika ia keluar ruangan, Sohee tidak sengaja melihat Bruce sedang berjalan menuju kamar mandi.
Dengan cepat, Sohee menarik bahu Bruce dari belakang dan menghentakkannya ke dinding. Ia lalu menendang kakinya keras dan menahannya untuk tidak bergerak. Sedangkan lengan Sohee menekan lehernya kuat-kuat.
“Apa-apaan?”
“Aku yang harusnya bertanya kepada mu” Sohee mencoba mengendalikan nafasnya yang memburu.
Bruce membuang muka kemudian tertawa meremehkan. Amarah Lee Sohee semakin memuncak. Seniornya itu mungkin menganggap ini adalah gertakan biasa tetapi Sohee bersumpah ia akan meremukkan tulang pipi berlemaknya itu jika dia berani tertawa sekali lagi.
“Kau dengar sendiri dia yang ingin melakukan wawancara denganku”
Sohee membuatnya hampir tidak bisa bernafas. Hingga yang keluar dari mulutnya hanya erangan berdahak, mengingatkan Sohee betapa tua Bruce dibandingkan dirinya. Kenapa dia tidak melakukannya dari dulu?
“Jika kau melakukan hal seperti itu lagi… aku akan melaporkanmu atas pelecehan seksual kepadaku——
Jangan pikir aku tidak memiliki buktinya, detektif Bruce” Sohee berbisik di telinganya. Ia sengaja mengalunkan setiap katanya, baru membebaskan lehernya. Bruce mengambil oksigen sebanyak-banyaknya sambil memegang leher. Terbatuk keras berkali-kali.
Tidak lama, Sohee merasakan ponselnya berdering di dalam saku. Tanpa mengecek kondisi Bruce ia berbalik pergi lalu keluar dari kantor.
“Halo”
‘…….’
“Walter meminta ku membawa seseorang kesana”
‘……..’
“Dia mantan pengacara Frank.”
‘…….’
Ia tidak bisa mendengar dengan jelas karena ternyata situasi di luar semakin ricuh.
Para pendemo itu melawan polisi yang turun tangan. Di bawah terik matahari, kaus yang lengket, kulit yang penuh cat berwarna hitam dan merah, Sohee melihat Nurah di antara mereka. Anak kecil itu terhimpit oleh orang-orang dewasa. Sendirian. Kemana ibunya? Mata Sohee mencari-cari. Namun nihil. Nurah yang berada di tengah lautan manusia, memegang sebuah permen lolipop, layaknya warna-warni yang semakin pudar. Termakan oleh amarah.
Sohee membungkuk ketika suara letusan senjata api bergema keras di udara. Teriakan unjuk rasa langsung berganti menjadi histeria massal. Kerumunan berlarian kocar-kacir. Seperti semut yang kehilangan rumah.
Nurah.
Nurah!
Sohee berteriak kencang. Sayangnya, sebelum ia berhasil menyebrang untuk menyelamatkan Nurah, tangannya sudah terlebih dulu ditarik oleh seseorang. Tidak hanya itu, tangan lain juga ikut melingkar di pinggangnya.
Nurah!
Sohee melepaskan diri setelah berhasil menyikut perut orang di belakangnya. Namun, lagi-lagi ia diseret pergi. Sohee memang terbiasa melawan orang 2x lipat besar darinya tapi ini berbeda.
Detektif.
Sohee membabi buta, merapalkan sebuah nama. Nurah. Nurah. Nurah. Nurah. Nurah. Nurah. Nurah. Gadis kecil itu sendirian disana bersama kembang api yang berbahaya. Anak kecil pasti tidak menyukainya. Ia bisa terkena—
Detektif Lee Sohee!
Lee Sohee terpojok. Meskipun matanya terbuka lebar tetapi pandangannya seolah buram. Tidak bisa mengenali orang di depannya. Sedangkan, bayangan Nurah di tengah kerumunan menjadi sebuah kaset rusak.
Bahunya di cengkram erat.
“Detektif Lee Sohee, kau dengar aku?”
Titik embun di lensa matanya turun satu per satu, menyisakan sosok laki-laki 5-10 cm lebih tinggi darinya. Jarak mereka sangat dekat. Bau khas rokok menguar dan menempel di bajunya, tetapi Sohee tetap menarik napas.
“Ada orang disana yang menembakkan peluru, polisi kita sedang menanganinya.” Jelas laki-laki tersebut.
“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya. Memastikan dari ujung kepala sampai kaki.
Mereka kini sedang berada di sebuah gang yang lumayan sempit. Bau tanah basah samar-samar menusuk. Tembakan masih bersahut-sahutan dan teriakan tidak kunjung mereda.
“Nurah..” Sohee berjalan menuju cahaya. Tentu saja langsung ditahan. Laki-laki itu mendekatkan telinganya.
“Nurah?”
Sohee menepis tangannya. Detektif itu masih bersikeras hingga kemudian langkahnya terhenti sendiri. Mereka mendengar suara tembakan yang beruntun. Dengan cepat, ia ditarik kembali ke posisi awal, punggungnya menabrak tembok. Menimbulkan suara yg cukup nyaring. Sohee menahan napas.
Laki-laki asing itu mengikis jarak. Lebih dekat dari sebelumnya. Sementara suara tembakan di belakang memburu mereka. Laki-laki itu merubah posisi mereka berdua, punggungnya menhadap luar gang dan bahunya yang lebar berhasil menutup sempurna badan Sohee.
“Detektif, kau percaya padaku kan?” Bisiknya.
Aneh. Sohee bahkan tidak tahu namanya.
“Aku minta maaf” itu adalah kalimat terakhir sebelum laki-laki asing mencium bibirnya. Lembut dan dalam. Tangan kirinya memegang tengkuk Sohee sedangkan tangan lainnya merangkul pinggang Sohee. Karena perbedaan tinggi mereka, Sohee terdongak keatas. Seluruh pergerakannya dikunci. Sedangkan laki-laki itu tidak bergeming. Ia melumat bibir atas dan bawahnya bergantian lalu memiringkan kepalanya. Mencari posisi yang nyaman.
Sohee bermaksud untuk menginjak kaki laki-laki tersebut sebelum sesuatu tertangkap oleh sudut matanya. Seorang pemuda sedang berdiri di depan gang. Menghalau cahaya. Pistol rifle menggantung di badannya. Memantulkan bayangan.
Pemuda itu terlihat sedang berkomunikasi dengan orang lain melalui two-way radio.
“Benar-benar pasangan gila” Kemudian pemuda tersebut tertawa keras.
“Mereka mengingatkanku padamu dan Kate.” Pemuda itu asik berbica. Suara di seberang radio terputus putus.
“Kate lebih dulu meniduriku bajingan” Dia mulai mengarahkan pistolnya.
“Kau kedua”
Nadanya berubah kesal.
“Berhenti menyuruhku—“
Dor.
Seketika cairan merah pekat mengalir menyentuh sepatu Sohee. Sekujur tubuhnya membeku di tempat. Detektif itu menatap horror. Tidak lama, erangan kesakitan keluar dari mulut si pemuda. Tersungkur lemas sambil meremas kuat betisnya.
Laki-laki asing itu dengan gestur santai memasukkan pistol kaliber, lalu menghampiri pemuda tersebut. Berjongkok di hadapannya. Dia memborgol kedua tangan pemuda tersebut. Meski terdengar tidak masuk akal, tetapi lelaki itu membantunya berdiri. Tidak memedulikan darah yang semakin mengucur deras. Beberapa polisi berdatangan, penuh siaga untuk mengambil alih. Ekspresi mereka beragam. Kaget. Bingung. Tetapi Sohee perhatikan, tatapan mereka lebih ditujukan kepada laki-laki asing.
“Lama tidak berjumpa, Fred” Sapanya.
Dia kenal Freddy?
Fred menaikkan kacamatanya, memandangi mereka bolak-balik.
“Bukankah kau di New Jersey?”
Fred membuka mulutnya heboh.
“Kau turun pangkat?”
Laki-laki asing tertawa. Ia menepuk bahu Fred dua kali, menyuruhnya untuk lanjut bertugas. Namun sebelum itu, ia melirik ke arah Sohee dan mengatakan sesuatu kepada Fred.
“Bisakah kau carikan anak bernama Nurah untukku? Pastikan dia aman”
Walaupun wajah Fred kebingungan, ia mengangguk. Berlagak hormat dengan tangan di dahi.
Laki-laki itu berbalik.
?
“Kau tidak pernah melakukannya?” Tanyanya.
Sohee masih terdiam. Mencerna apa yang barusan terjadi. Tentu saja pernah. Mereka menyebutnya gen asia. Dengan kulit lembut, putih sepertinya, ia sering dikira pelajar SMA. Itu adalah kesan hari pertamanya di kantor polisi. Tapi bukankah SMA juga pasti pernah? Mau se naif dirimu, hal itu adalah hal yang lumrah.
“Tentu. Siapa yang tidak pernah berciuman—”
Pfft.
Laki-laki asing itu menahan tawanya. Ia berjalan mendekat ke arah Sohee. Noda merah di bajunya tidak bisa hilang. Mereka saling tatap.
Harus Sohee akui dia memang tampan. Meski garis wajahnya cenderung tidak tajam, dia tetap menguarkan perawakan yang maskulin. Tipikal detektif yang muncul pada serial CSI. Sekaligus tipe yang membuat Sohee iri. Tahu apa dirinya soal mengintimidasi pelaku dengan postur tubuh, Sohee selalu mendapatkan mereka yang meremehkannya, mengiranya perempuan tomboy karena badanya yang ramping, tidak ada habisnya. Ia harus bekerja ekstra karena menurut Walter, otak lebih dibutuhkan daripada otot. Yang lebih mengesalkan lagi, sepertinya laki-laki itu memiliki keduanya.
“Maksudku, kau pernah menembak?”
Oh.
Sohee tidak pernah. Ia tidak merasa itu perlu.
“Belum.”
Laki-laki asing tersenyum.
“Aku mendengar banyak cerita tentangmu.”
Sohee menunjuk dirinya sendiri. Lalu laki-laki itu mengangguk.
“Hanya hal-hal yang baik tentu saja.”
“…….”
Laki-laki itu terlihat ragu-ragu sebelum kemudian mengulurkan tangannya.
“Aku Anton. Aku dipindah tugaskan hari ini.”
Sohee teringat ucapan Fred.
“Aku pikir kita akan sering bertemu. Jadi aku ingin kita saling kenal”
“…..”
“Maaf—”
Sohee menyambut tangannya.
“Lee Sohee.”
Anton terkekeh. Aku tahu.
“Kita memiliki nama belakang yang sama” Anton memperlihatkan kalung namanya.
Anton Lee.
Reflek, Sohee menggenggam erat kalung tersebut hingga Anton hampir jatuh ke depan. Untungnya dia menahan dengan telapak tangannya di samping tembok.
Aku tidak suka namamu.
Max.
Dengar. Aku hanya tidak menyukai namamu, bukan pertemanan kita.
Apakah sangat aneh?
Tidak. Tapi orang tuaku melarang berteman dengan anak yang memiliki nama seperti mu.
Sepertiku? , Max menyebutkan satu per satu contohnya.
Lee, Xi, Chong—
Sohee menghadiahkan 3 pukulan di wajahnya.
“Kau benar” ucap Sohee. Tangannya mengusap nama Anton. Mata mereka bertemu.
Jarak keduanya tidak jauh berbeda dari saat mereka berciuman. Tapi kali ini, Anton yang lebih dulu menghindar. Lelaki itu terbatuk kecil. Memperbaiki posisi kalungnya.
“Berapa umurmu?” Tanya Sohee.
“Huh?”
“Kau orang korea sama sepertiku, jadi berapa umurmu?”
Meski kebingungan, Anton tetap menjawab.
“Maret depan aku 25 tahun”
Berbeda 4 bulan. Tetap saja hirarki korea, Sohee lebih tua.
Giliran Sohee yang mendekat, tanpa aba-aba ia menendang kaki Anton lumayan kuat.
“Lain kali belajarlah lebih sopan. Aku lebih tua darimu”
Anton Lee.
Lee Anton.
Sohee penasaran dengan nama korea nya.
Ketika Anton mendapatkan surat pindah tugasnya, terselip di celah pintu, ia merenungkan banyak kemungkinan.
“Kau tidak bisa melakukannya dengan cara seperti ini”
Telunjuk James menekan dadanya.
“Kau tidak bisa menegakkan keadilan dengan merusak fondasi itu sendiri”
“Kau mau aku membiarkannya kabur begitu saja?”
“Aku mau kau menangkapnya, bukan menabraknya dengan mobil murahanmu itu dan membuatnya terbaring koma di rumah sakit!”
Mungkin itu alasannya.
Atau karena James tidak menyukainya.
Keduanya bisa benar disaat yang bersamaan, meski Anton lebih condong yang kedua. James mempermalukannya di depan ranjang rumah sakit, bau disinfektan yang menyengat di hidungnya, dan dokter yang mengalungi stetoskop, wajah lelahnya, menjelaskan bahwa kerusakan di kepala pelaku telah mengenai ARAS (Ascending Reticular Activating System) yang mana adalah pusat kesadaran. Sederhananya, Anton seperti memborgol mayat yang bernafas. Monitor yang terhubung ke jantungnya, berbunyi konstan, tiit-tiit-tiit— membuatnya gila. Anton pergi dengan langkah yang terburu-buru.
Ia hanya perlu menenangkan diri. Anton melewati pintu otomatis, tangannya yang gemetar meraih saku celana.
“Ini.”
Conrad sedang di luar, bersandar di tembok, memberinya sebatang rokok.
“Terima kasih”
Bahkan menyalakan untuknya. Anton membuang muka dan menghisap dalam, membiarkan tubuhnya perlahan menjinak. Detak jantungnya pun tidak lagi memukul rusuknya dan pendengarannya lebih jelas. Suara ambulans yang masuk dari gerbang, roda ranjang yang berputar.
“Aku selalu berpikir James terlalu keras padamu”
Anton langsung membantah.
“Tidak. Yang dia katakan sepenuhnya—-”
“Benar. Yang dia katakan memang benar” Conrad melengkapi.
“Kenapa? Kau pikir aku akan membelamu?”
“Maaf. Bukan itu.”
Conrad tertawa renyah. Itu adalah hobinya. Menggoda yang termuda. Ia merangkul pundak Anton.
“Sudah berapa kali kau ke rumah sakit selama menjadi detektif?”
“Ini kedua kalinya, sebelumnya aku pernah terkena flu burung.”
“Aku yang ke-23”
“Kau punya penyakit kronis?”
“Aku harap memang begitu”
Anton mengenali senyuman palsu itu.
“Hari pertamaku bekerja adalah mengejar pelaku pemerkosa anak di bawah umur. Di tengah pengejaran, bajingan itu melompat dari gedung lantai 3.
Kedua tangannya patah. Wajahnya perlu rekonstruksi 10 kali.
Apakah kau percaya? Bahwa kau butuh 1 juta dollar untuk memperbaiki wajah yang sudah jelek menjadi lebih jelek?
Perkataan ibu korban yang paling kuingat adalah,
‘Tidak ada tempat di dunia ini bagi pendendam sepertiku’ ”
“Pendendam?”
“ ‘Aku tidak ingin seluruh hidupku hanya untuk memikirkan cara membunuh bajingan itu. Setiap pagi aku memakan nasi dan yang kupikirkan adalah, bagaimana cara memasukkan racun tikus diantara butir nasinya.’ ”
Anton terdiam.
“Dia tidak mau hidup sebagai pendosa, dan aku tidak mau—dia tersiksa.”
Conrad tertawa di balik jari-jarinya. Wajahnya memerah. Laki-laki 5 tahun lebih tua dari Anton itu nampak mulai rapuh, dan asap yang mengepul dari batang rokoknya semakin tipis.
“Namun, aku tahu kalau sudah terlambat.”
Suara Conrad tercekat. Terbawa oleh kenangan yang buruk. Ia menghisap rokok sedalam-dalamnya.
“Conrad, kau….jatuh cinta?”
Manik Conrad nanar, persetan. Ya. Conrad jatuh cinta dengan ibu dari korban kasusnya sendiri. Conrad tidak melakukan kesalahan, dan perempuan itu bukan pendosa, tetapi dunia-lah yang harusnya bertanggung jawab. Setiap tetes air mata perempuan itu seharusnya membuat dunia berhenti dan mendengar.
“Aku rela melakukan apapun untuknya.
Namun kemudian aku sadar, membunuh mereka hanya akan menciptakan pendosa yang lain”
“Aku tidak berniat membunuhnya, Conrad”
“Aku tahu. Tapi perbuatanmu ini, justru membuat usahamu dan rekan yang lain sia-sia. Percayalah, James juga sama, ingin membunuh bajingan itu sepertimu, tetapi itu artinya kalian kalah.”
“Maafkan aku” Anton menundukkan kepalanya.
Conrad membuang putung rokoknya ke tempat sampah lalu kembali dengan senyumnya yang asli.
“Kau akan dipindahtugaskan.”
“Apakah ini karena James? Conrad aku—”
“Tidak, Tidak. Kepala sebenarnya sangat perhatian denganmu. Dia bilang kau lebih cocok di New York.”
“Itu omong kosong.”
“You’ve got such a reputation, here in New Jersey. It’s a shocking that you still don’t know that. Bahkan keponakanku suka menonton pertandinganmu.”
“Itu semua masa lalu”
“That’s the point. Biarkan Chanyoung Lee, si anjing laut di New Jersey. Dan… Anton Lee, detektif yang tidak segan-segan untuk memburu penjahat di New York!”
“Aku tidak paham”
“Dia menganggap kau detektif yang hebat, dan pantas bekerja di tempat yang lebih baik.”
Anton merasa dipermainkan.
“Aku baru saja membuat buronan kita menyia-nyiakan asuransi, Conrad” keluhnya.
Temannya itu menelan ludah,
“Kau akan bertemu dengan partner yang tepat disana, and he got the same last name as you. Pernah mendengar detektif Sohee, Lee?”
Lee Sohee. 이소희.
Anton menelusuri namanya di internet malam itu. Wikipedia, facebook, portal berita, gossip, dan forum. Sambil meminum secangkir kopi juga layar laptop yang menerangi kamarnya. Lee Sohee, lebih tua 4 bulan darinya. Informasi tentang keluarga dan pribadi-nya sangat dibatasi. Sedangkan karirnya bagai pajangan. Rupaya dia adalah detektif yang memecahkan banyak kasus terkenal, salah satunya pembunuhan pelakon teatrikal Sean Hazard Higg. Sean harusnya menginjakkan kaki di panggung untuk berperan sebagai seorang tentara dengan 2 kehidupan bertolak belakang. Satu adalah seseorang yang mengangkat senjata dalam perang dan satu lagi adalah seorang yang mengangkat kipas untuk memukau dunia dengan tariannya. Melainkan, Sean ditemukan menggantung di langit-langit auditorium, masih memakai gaun panjang berwara merah. Detektif Lee Sohee lah yang mengungkap pembunuh-nya, penggemar setia Sean itu sendiri.
Anton mengusap dagunya, jari nya sibuk menggeser mouse. Membuka banyak laman tentang Lee Sohee, begitu pula video wawancaranya. Laki-laki itu memiliki seleran fashion yang tidak khas untuk detektif. Baju-nya kasual seperti anak kuliah di musim dingin, menonjolkkan darah muda nya. Jika Anton tidak tahu, ia pasti mengira Sohee baru lulus SMA. Ia pun terus menguntitnya melalui media massa. Tidak ada satupun tentang Lee Sohee yang terlewat. Bahkan kebiasannya yang lucu ketika berbicara, sampai ke warna kesukaannya (dinilai dari seberapa sering warna itu muncul). Namun, dari sekian banyak informasi tersebut, Anton masih belum menemukan kompatibilitas mereka. Jelas-jelas Sohee adalah detektif yang sangat taat aturan, mengikuti segala prosedur hukum dengan patuh, gaya penangkapannya rapih, setiap buktinya valid dan resmi.
Apakah karena OCD-nya?
Yang terpenting, mereka berdua sangat berbanding terbalik. 2 kutub yang berlawanan. Anton tidak yakin betah hanya karena paras cantiknya yang enak dilihat. Ia butuh partner yang lebih berani, lebih kasar. Bukan ringkih seperti kaca atau lembut putih sepertinya.
Anton memulai dengan kopi americano 2 shots, mengalungkan name tagnya dan menyapa orang-orang. Meski dia belum mengenal semua nama mereka tetapi ia berusaha untuk memberikan kesan pertama yang baik. Matanya tidak sengaja bergulir ke arah meja detektif Lee Sohee.
Kosong.
“Detektif Lee belum datang?” Tanya Anton pura-pura acuh sambil menyalakan komputer.
“Dia dipanggil Walter”
“Katanya, Brian melaporkan Bruce karena melecehkan detektif Lee, benar begitu Brian?”
“Aku mendengarnya di kamar mandi”
“Aku juga pernah lihat” yang lain mengangkat tangan.
“Kenapa kau tidak bilang?!”
“Kukira mereka memang ada hubungan”
“Malang sekali. Dia pasti menahannya dari lama. Bruce si brengsek itu—”
“Brian.” Anton memotong pembicaraan mereka.
“Ya?”
“Kau yakin Bruce melakukannya?”
“Sohee bilang dia punya buktinya—
Tunggu, detektif! Kau mau kemana?”
Anton bergegas sembari menyumpahi Bruce, laki-laki yang belum seminggu ia kenal. Tangannya memerah karena menggedor pintu Walter.
“Walter!” Gagangnya berdecit, sebentar lagi akan rusak. Untung Walter menyelamatkannya tepat waktu, tapi tidak untuk Bruce. Anton menyelonong masuk dan langsung menghabisinya tiada ampun. Ia melayangkan tinju berkali-kali tepat ke wajahnya. Darah segar seketika keluar dari sudut mulutnya, menetes ke lantai yang dingin. Badan Anton ditarik ke belakang melawan gravitasi,
“Detektif! Apa yang kau lakukan?!”
Bruce yang tua tergeletak tidak berdaya dan bukan karena osteoporosis. Meskipun begitu, Walter tidak menyentuhnya ataupun menanyakan keadaannya. Lee Sohee berdiri di pojok, tidak mengatakan apa-apa.
“Siapa yang memberitahumu?”
“Apa itu penting sekarang?”
“Anton.”
“Brian memberitahu semua orang.” Anton menoleh kearah Bruce.
“and he’s a terrible witness, just so you know.”
Sohee menyeretnya keluar. Walter mengusap wajahnya frustasi. Terpantul di kaca yang mereka lalui, terhubung oleh lorong panjang ke dapur.
“Ada cara untuk mengontrol….” Itu? Mata Sohee turun ke bawah untuk melihat buku-buku jari Anton yang tergores. Dibalas oleh gelengan kepala.
Anton menyeka sedikit darah yang keluar. Sohee berbalik, membuka laci-laci di konter.
“Dimana mereka menyimpan kotak P3K..” gumam Sohee.
“Kau tidak perlu melakukannya.”
“Oke, ini dia”
Sohee dengan cekatan mengambil antiseptik dan kasa yang ada disana.
“Detektif aku baik-baik saja”
Dia tetap meminta tangannya. Menindih satu sama lain. Sohee mengerjakannya penuh hati-hati. Mendekatkan kulit Anton dan meniupnya. Yang lebih muda meringis perih. Karena tingginya, Anton bisa melihat bulu mata Sohee yang lentik, bibir tebalnya yang hampir bersentuhan dengan sebagian dirinya. Sensasi yang rela membuatnya tenggelam dan terbawa ombak. Alih-alih mengayunkan siripnya dan berenang seperti anjing laut, di new jersey, melawan arus.
‘Biarkan Chanyoung, Lee si anjing laut, berada di new jersey!’
Anton menarik tangannya.
“Kubalut dulu” Sohee bersikeras. Anton terkekeh menyadari balutannya bak profesional, simetris tanpa cela. Setelah itu ia bahkan mencuci tangannya.
“Kenapa kau tertawa?”
“Tidak apa-apa” Anton menahan senyumannya.
“Aku tidak percaya mereka benar-benar mengirim berandal”
“Berandal? Aku?”
“Ada rumor kalau, departemen asalmu ingin memutasi detektif ‘kesayangan’ mereka, seorang detektif handal yang merepotkan, rupanya aku salah mengartikan” Anton mengernyit di bagian ‘kesayangan’
“Harus kuakui kalian pintar sekali memakai sarkasme” Lanjut Sohee.
“Mereka ingin menyingkirkanku” Anton tahu kesempatan yang lebih baik adalah omong kosong belaka.
Sohee memiringkan kepalanya.
“Jika mereka ingin melakukannya, New York bukan jawaban, Anton. Kau pasti sudah di antah berantah” Poin yang bagus. Namun tetap saja Anton merasa tidak puas dan dimanfaatkan.
“Rekanku, Conrad, yakin sekali aku akan menemukan partner yang cocok disini.”
Telunjuk Sohee bergerak ke Anton lalu dirinya sendiri bergantian.
“Jangan bilang—”
“Sudah kukatakan, Aku hanya mendengar hal-hal yang baik tentangmu”
“Detektif yang ringan tangan, yang bahkan tidak ragu untuk menembak….” Sohee melebih-lebihkan suaranya.
“If you say it like that—.”
“Mereka sama saja seperti memintaku menjinakkan hewan buas”
“Setidaknya aku lebih baik dari Bruce”
Sohee memicingkan matanya.
“Kau tetap harus meminta maaf kepadanya.”
“Kau bercanda kan?”
“Tindakan mu tadi bukan termasuk pembelaan diri, jadi ya. Kau harus meminta maaf”
“Aku tidak akan meminta maaf kepada pria mesum sepertinya” Protes Anton.
“Thats really thoughtful of you, untuk seseorang yang mencium orang asing di pertemuan pertama mereka.”
“Aku menyelamatkan kita berdua”
“Oh, terima kasih atas ciumanmu pangeran.” Sohee bermain-main dengannya. Membungkuk, melakoni putri tidur.
“Hentikan itu.”
Sohee tertawa kecil.
Anton memperhatikannya dalam diam.
“Sudah berapa lama?”
“Huh?”
“Sudah berapa lama Bruce melakukannya padamu?”
“Setelah dia tahu seksualitasku. Kurang lebih 1 tahun yang lalu.”
Mendengar itu, Wajah Anton berubah masam, ia nampak sangat menyesal. “Aku minta maaf.
Aku minta maaf itu terjadi padamu”
Sohee merasa malu tiba-tiba. Mengapa dia memberitahunya?
“Detektif Lee Sohee” Brian di pintu memanggil.
“Ada yang mencarimu”
“Pencuri sapu tangan?” Brian mengangguk.
“Kali ini dia membawakan motif beruang untukmu” Sohee mengerang, menaruh kembali kotak P3K ke tempat asalnya. Sekali lagi mencuci tangan.
“Aku ke sana sebentar lagi. Suruh dia menunggu”
Brian mengangkat jempolnya.
“Detektif—” Anton meraih tangannya.
“Hm?”
“Tentang Bruce…”
“Dia sudah dipecat” jawab Sohee.
Anton menghembuskan nafas lega, pegangannya ikut melonggar.
Sohee membasahi bibirnya. Salah satu kebiasaannya yang Anton tahu.
“Aku seharusnya mengatakan ini lebih awal, tapi terima kasih.
Mungkin kita bisa menguji teori temanmu? Apakah kita partner yang cocok?”
Brian muncul lagi di pintu. Melambaikan sapu tangan cokelat bermotif teddy bear. Anton pernah melihatnya di toko aksesoris.
“Coming!”
Anton menatap punggung Sohee yang menjauh. Memang belum terbukti, tetapi ia yakin Conrad benar tentang mereka.
Nafasnya terengah-engah. Sambil membawa belanjaan, Lee Sohee naik ke lantai 7. Tangga apartemennya mengeluarkan suara berderit. Dirinya sudah mengajukan komplain berkali-kali namun tidak ada balasan. Justru bukan tukang lift yang datang, melainkan penghuni baru di sebelah Sohee. Remaja labil dengan selera musik yang menyedihkan dan kisah asmaranya yang panas. Ketika Sohee masuk, ia langsung disambut oleh angin dari jendelanya. Tiupannya dingin. Buru-buru Sohee menutupnya. Di seberang, Mr. Scott keluar dari mobil sedan, menggendong anaknya. Hiru piruk malam terasa lebih bersahabat hari ini, beberapa orang pulang dari kerja dan menerima pelukan dari keluarganya. Ia menyaksikan semuanya. Sohee bukanlah laki-laki melankolis yang mencintai kota nya dan bersumpah untuk melindungi mereka semua. Sohee adalah laki-laki yang ingin menjadi bagian dari mereka. Karena nyatanya, Sohee merasa asing dimanapun ia berada. Termasuk di apartemennya sendiri.
Malam ini Sohee memasak serba instan. Ia menumis spam dan sayur beku yang ia simpan di kulkas, ditambah nasi putih hangat. Ia juga tidak lupa memberikan Milo makan. Sohee menyalakan televisi. Sesuai dugaannya, kejadian penembakan tadi mengambil slot setiap saluran berita. Sohee mengganti-ganti saluran hingga berhenti pada sebuah tayangan. Footage ditampilkan dari pov salah satu warga pendemo yang berlarian. Di antara kaki-kaki, kamera yang goyah, sebuah lolipop tergeletak di atas aspal. Itu adalah lolipop Nurah. Selama beberapa detik, jantungnya berpacu cepat. Namun, secepat datangnya, rasa cemas itu juga dengan cepat digantikan oleh rasa tenang ketika mengingat ucapan Walter. Memberitahunya bahwa Nurah baik-baik saja. Selamat di rumah bersama ibunya.
Aku malah mau menanyakanmu, apakah Nurah keponakanmu?
Sohee menggeleng.
Mereka tetanggamu?
Sohee lagi-lagi menggeleng.
Nurah mengingatkannya sewaktu ia dibuang oleh keluarga Herling. Sohee yang berjalan tanpa tujuan, terombang-ambing di keramaian para warga yang menyambut pemilihan umum dengan meriah. Tanpa tahu bahwa wajah yang mereka tempel di mana-mana adalah orang yang membiarkan remaja berumur 18 tahun hidup berkelana, memanfaatkan hidup Sohee hanya sebagai penampilan politik. Tetapi Sohee terlalu baik untuk menghapus senyuman mereka yang merekah ketika menyerukan nama ayah angkatnya.
Sohee merogoh ponselnya. Mencari nama kontak yang beberapa hari terakhir ini baru ia simpan.
[Bisakah kita bertemu? Aku perlu membicarakan sesuatu]
Sohee tidak usah menunggu karena jawabannya datang sangat cepat.
Pengacara Park Wonbin
[Detektif Lee Sohee?]
[Benar]
Sohee berpikir beberapa saat sebelum menambahkan,
[Kau bebas memilih tempat dan waktunya]
Kali ini jawabannya datang lebih lama.
Pengacara Park Wonbin
[Kalau begitu sampai bertemu besok, detektif]
“Maaf, saya pikir ajakannya hanya untuk dua orang” Wonbin mengabaikan satu orang lagi yang duduk bersama mereka.
It was.
Sohee memang bermaksud hanya dia yang datang. Sampai kemudian Walter memecat Bruce dan resmi memasangkan Sohee dengan detektif Anton, Lee.
Aku memang tidak menyukainya. Walter berterus terang.
Apalagi setelah kejadian tersebut, Walter menjadi lebih protektif dengannya dan merasa pukulan sepihak yang dilakukan Anton memang diperlukan. Laki-laki dari New Jersey itu seketika menjadi malaikat pelindung Lee Sohee.
Detektif itu sedang membaca menu, membolak-balik halaman.
“Detektif Lee Sohee, kau suka pasta kan?”
Sohee tahu Anton hanya menebak asal, tapi kebetulan sekali.
“Biarkan Detektif Lee Sohee sendiri yang memilih” Wonbin mengambil menunya dari Anton.
“Silahkan detektif”
Anton yang melihat itu tersenyum miring. Menurutnya pemandangan ini menarik. Dari mulai restauran pilihan Wonbin hingga pakaiannya. Jelas-jelas Sohee mengajaknya bertemu untuk membahas kasus Frank, namun pengacara ahli neraka muncul seolah ia sedang dijodohkan.
Detektif itu melipat kedua lengannya. Memperhatikan gerak-gerik mereka.
“Aku… tomato pasta” jawab Sohee hati-hati. Kedua pipi Anton terangkat.
Wonbin mengangguk kecil sebelum memanggil pelayan. Ia memesan steak sekaligus menyebutkan pesanan Sohee. Sedangkan Anton harus mengulangi pesanannya 3 kali karena ia tidak tahu bagaimana cara mengucapkannya.
Makanan datang 10 menit kemudian. Mereka bertiga memilih untuk menikmati terlebih dahulu. Lagu klasik yang menjadi latar, pelayan yang datang menuangkan wine, dan meja-meja yang didominasi oleh pasangan, tentu bukanlah suasana yang tepat untuk membicarakan Frank. Ini adalah tempat untuk berkencan. Tidak pas dan membuat Anton merasakan jarum yang menusuk nusuk di bawah kulitnya.
Sementara itu, Sohee memikirkan tentang perkataan Walter.
Perlakukan dia dengan baik. Aku yakin dia bersedia membantu.
“Aku sering menonton sidang mu”
Sohee menggigit bibirnya.
“Sebenarnya aku tidak terlalu suka…uhm. Jadi maksudku, aku menontonnya karena.. karena kau menarik”
Wonbin menaikkan alisnya.
“Bukan itu— cara kau membela klienmu. Itu menarik”
“Saya tersanjung detektif”
Sohee tersenyum paksa.
Biasanya Bruce adalah orang yang membuka percakapan karena Sohee tidak pintar berbasa-basi. Namun, meski ia merasa payah sekarang, ia sangat menghargai sikap Anton yang jauh berbeda dengannya. Tidak menyela dan membiarkan Sohee mengatakan apapun yang perlu ia katakan.
“Kau pasti sudah menduga alasanku mengajakmu bertemu.”
“Frank.” Wonbin memperjelas.
“Benar. Tetapi ada sedikit pengajuan”
“Saya mendengarkan” ucap Wonbin.
“Sebelumnya aku minta maaf untuk waktu itu. Aku memang terlalu cepat menilai orang, kau— tentu. Membela mereka adalah tugasmu, kau dibayar untuk itu. Dan…
Aku juga dibayar untuk menangkap Frank, jadi— mungkin, kita bisa bekerja sama?”
“Kau mau saya membantu polisi mencari Frank?”
“Kurang lebih? Tidak hanya Frank—”
“Ada tahanan yang kabur selain Frank?”
Sohee mengangguk.
“Anggap ini sebagai caramu untuk membuktikan bahwa kau memang tidak terlibat dengan hilangnya Frank. Meski kau mengaku tidak bersalah, namun kertas yang ditinggalkan oleh Frank lambat laun akan menjadi bukti yang kuat jika kita tidak menemukan bukti-bukti yang lain.
Statusmu, tidak akan lagi menjadi saksi melainkan tersangka. Aku disini menawarkan sesuatu yang bisa menguntungkan kita berdua.”
Kata-katanya mengalir begitu saja.
Namun itu belum cukup memuaskan si pengacara. Laki-laki tersebut melonggarkan dasinya.
“Saya butuh waktu untuk berpikir” putus Wonbin.
Sohee melirik ke arah Anton yang melahap hati bebeknya, Foa? Foei? Foie Gras?
“Kau orang korea?” Tanya Anton di luar topik.
“Saya pindah dari kecil”
“Wah, aku seperti berada di china town. Mau kuberitahu restauran tiongkok yang paling enak di sekitar sini?”
Wonbin menatapnya datar.
“Detektif Anton, Lee benar?”
“Yep”
“Wajahmu familiar”
“Aku sering mendapatkannya”
“Apakah orang-orang juga sering menanyakan kalau kau pernah bernafas di dalam air selama 7 menit?”
Anton tidak bergeming.
“Rekor yang cukup mengesankan di New Jersey.”
“Saya penggemar beratmu, detektif” Tambah Wonbin, menyisipkan senyuman tipis.
“Apa orang-orang pernah menanyakan tentang namamu? Wonbin? Bukankah itu nama aktor korea tampan Wonbin? Bagaimana reaksi mereka setelah melihat wajahmu?” Balas Anton tidak mau kalah.
“Anton” Sohee menyenggol sepatunya.
“ ‘Kau pantas memakai namanya’ atau… ‘kau kesini karena melarikan diri? Setidaknya namamu bukan Brad dari Brad Pitt’ —Argh”
Sohee menendang kaki Anton di bawah meja. Jika dibiarkan, lelaki itu benar-benar akan menghancurkan rencananya.
Anton memperbaiki posisinya.
“Kenapa kau menerima kasus Frank?”
“Sama halnya dengan pengacara lain, saya pikir saya bisa menang.”
Sohee tidak setuju.
“Aku sudah melihat filenya, kau tahu kau akan kalah, Park Wonbin.
Biar ku tebak, kau membutuhkan sesuatu dari Frank?”
Wonbin masih terlihat santai.
“Mungkin kau mendapat informasi penting darinya? Tapi kau kalah di pengadilan, then he decided to turn his back on you, balas dendam, mankanya dia menuliskan namamu?”
“Kau tahu sesuatu?” Cecarnya.
“Kau tidak benar-benar membaca file nya” ujar Wonbin.
“I, in fact, read the whole thing. DNA Frank ditemukan di TKP dan alibi Frank tidak bisa dibuktikan. There’s literally no room for you to win, kalian pasti menjalin kesepakatan satu sama lain, tapi sayangnya pengacara Park Wonbin tidak mengerjakan bagiannya dengan baik. 20 tahun penjara pasti sangat menyayat hatinya”
“Frank sering menginap di apartemen Fransisca, tentu forensik akan menemukan DNAnya disana. Tapi saya tidak membicarakan tentang itu”
“Apa maksudmu?” Tanya Sohee bingung. Ia mengecek Anton di sebelahnya.
“Nexware.”
“Nexware?”
Anton menautkan jari-jarinya.
“Frank bekerja di Nexware. Nexware adalah perusahaan terkenal yang bergerak di bidang IT. Aku pernah datang ke Expo mereka, mereka menciptakan banyak hal yang menarik. Meski aku tidak bisa bilang revolusioner— tetapi salah satu yang paling berkesan bernama Emotiva.”
“Emotiva? Apakah itu semacam software? Robot?”
“Bukan. Emotion-Activation. Mereka menanamkan sesuatu yang disebut eksorphine ke dalam otakmu. That thing let you have fully control to your own emotions. “
“We always do.”
“Ini berbeda. Kau bisa berganti emosi secepat menyalakan lampu. Snap. Kau bahkan bisa merasa senang di upacara kematian nenekmu, tergantung bagaimana kau mengontrolnya ”
“Benar sekali detektif.” timpal Park Wonbin.
“Apa hubungannya dengan kasus ini?”
“Emotiva dituntut karena efek samping yang ditimbulkan.”
“Seperti?”
“That thing fucks with your brain impulses, so memory loss. Slowly progress. Para penuntut menyewa pengacara untuk kasus tersebut, total terdapat 10 pengacara. Park Wonbin, he’s one of them”
Sohee tidak tahu harus berkata apa.
“Everything comes with a price.” Wonbin mengangkat gelasnya.
“Jadi kau memanfaatkan Frank?”
“Jadi kau memperalatnya?”
Sohee merasa deja vu.
“Tidak, detektif. Like you said, we had a deal.”
“Dimana Frank?”
“He told me that he was willing to tell everything about emotiva if i could get him out. But as you know, that never happened. ”
“Lalu menurutmu kenapa Frank menuliskan namamu di suratnya?”
“That’s also what i’m trying to find out, detective”
Kalau begitu kita cari tahu bersama, Sohee baru mau mengatakannya, tetapi ia mendengar sesuatu dari meja sebelah.
‘Sinyal mu bagaimana?’
‘Punyaku juga’
Pasangan laki-laki dan perempuan mengayunkan ponsel mereka di udara. Menggerakkan ke kanan dan ke kiri. Serentak satu restauran melakukan hal yang sama.
Sohee mengecek ponselnya. Di pojok kanan atas, No Signal.
“Anton”
“Hm?”
“Kau punya sinyal?”
“Tentu saja. Kau mau—
—Oh?”
Sohee berdiri dari tempat duduk. Secara tiba-tiba, seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Para pengunjung menjerit.
“Detektif?”
Sohee menyipitkan mata dari flash kamera Wonbin.
“Aku akan mengecek keluar, Sohee kau disini bersama Park Wonbin.”
Sohee sudah pasti keberatan.
“Aku ikut”
Wonbin mengeluarkan uang dari dompetnya. “Saya juga”.
It wasn’t the best decision either. Langit di luar runtuh menjadi hamparan hitam pekat. Secercak cahaya dari mobil polisi, merah dan biru, melewati mereka. Sirine-nya yang nyaring terdengar mencekam. Sepanjang blok dipenuhi huru-hara. Mobil-mobil yang tidak sabar karena lampu lalu lintas yang mati. Orang-orang di jalan yang kebingungan. Juga toko yang kecolongan. Laki-laki keluar dan melaju kencang dengan motornya. Membawa tas yang menumpahkan selebaran hijau. Melayang-layang di udara sebelum mendarat di dahi Sohee. Pemilik toko yang berjenggot putih, marah-marah kepada polisi.
“It’s the fucking lights. I can’t fucking see. Do you know what it feels like to get robbed right in front of your fucking eyes?!”
“Seluruh kota padam. Tidak hanya Queens.” Petugas patroli lain menerangi dengan senter selama polisi satunya mencatat.
Anton mendekati polisi tersebut. Sementara Sohee mencoba menelpon.
………
Tidak bisa tersambung.
“Pasti karena sinyal.” Celetuk Wonbin. Like heck Sohee didn’t already know that.
“Kau bisa mengirim pager?”
“Pager?”
“Polisi sekarang tidak memakainya?”
Sohee ternganga kecil. Pager? Benda tahun 90 an?
“Tidak.”
“Then there’s nothing we could do”
Sohee memandangi punggung Anton yang sedang berbincang. Polisi patroli terlihat menggelengkan kepalanya berkali-kali. Detektif itu lalu kembali dengan langkahnya yang berat diikuti tatapan sinis pemilik toko.
“Mereka tidak tahu penyebab pemadamannya.” Anton menengok sekali lagi ke belakang.
“Mereka hanya memilih untuk tidak memberitahumu”
Anton sependapat.
“Kemungkinan kejahatan siber berskala besar. Sebaiknya kita di rumah, matikan hp kita, dan berdoa.”
“Berapa lama…” Sohee nampak khawatir.
“Pemadamannya? Mereka juga…”
Ekspresi Anton melembut, “Sohee, ada apa?”
“Tidak apa-apa” jawabnya terlalu cepat.
“Aku akan mampir dulu ke kantor untuk membahas ini dengan Walter, lalu aku mengantarmu” Anton mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku,
“Tidak perlu” cegat Sohee.
“Hm?”
“Kau bolak-balik.”
“Dan kau akan kesulitan mencari taksi malam ini”
“Biar saya saja” tawar Wonbin yang sejak tadi diam.
“Kau mau menyetel musik?” Wonbin mengutak atik head unit. Radionya tidak bekerja dan menyemburkan derau statis.
“Mendengarkan musik di situasi ini, rasanya seperti aku yang psikopat.” Tutur Sohee sambil menatap keluar jendela. Satu-satunya penerangan di jalan berasal dari mobil mereka.
“Menurutmu siapa yang melakukannya?”
Psikopat mana yang cukup pintar meretas seluruh kota dan membawanya kedalam kegelapan.
“Siapapun itu, detektif, Saya harap dia mendapatkan apa yang diinginkan.”
Mata mereka bertemu.
“Fair enough”
“Saya tidak menyangka kita seperti di ‘Zero Day’ sekarang, kau tahu? Serial yang dibintangi Robert De Niro?”
“Tentu saja!” Mata Sohee berbinar ketika nama salah satu aktor favoritnya disebut. Mereka berdua tertawa renyah.
Ini pertama kalinya Sohee menyaksikan Wonbin tanpa tembok tinggi tak kasat mata diantara mereka.
Sohee tidak mengatakannya secara langsung tetapi ia mulai menyukai Park Wonbin, more than he should. Bukan tentang romansa, melainkan pribadi lelaki itu yang berbeda dari yang ia bayangkan, dan… juga dari surat kabar penjual gosip. Jika mereka bertemu dalam keadaan yang berbeda, tidak sebagai pengacara dan detektif yang sedang memburunya, mereka mungkin bisa menjadi teman baik.
“You can just drop the formalities” usul Sohee.
“Saya bisa memanggilmu Sohee?” Wonbin tersenyum miring.
“Yeah”
“Sohee”
“Itu terdengar lebih baik” Sohee terkekeh disela napasnya. Ia bersumpah ini karena wine.
“Jadi… mau menginap di tempat saya malam ini?”
“Apa?”
Tunggu, dia atau Wonbin yang salah dengar? Karena Sohee yakin he said drop the formalities not drop me at your place?
“Teman-temanmu pernah bilang kalau kau mudah ditebak detektif?”
“Tidak. Um— mereka— tidak peduli tentang itu”
Mereka tidak peduli tentangku.
Wonbin melanjutkan,
“Menurut saya, detektif Lee Sohee dan Lee Sohee adalah 2 orang yang berbeda.
Detektif Lee Sohee, dia adalah orang yang tidak takut jika memiliki 1000 pendendam dibandingkan penggemar”
Sohee tertawa lepas
“I deal with the bad guys asshole, kalaupun aku mendapatkan penggemar, itu akan lebih menakutkan ” canda Sohee.
“Saya tahu, tapi kalau Lee Sohee, dia dengan mudah mendapatkannya.”
“Penggemar?”
“Tidak hanya itu, penggemar, teman, kekasih. Orang-orang di sekitar mu.”
Jika yang dimaksud adalah Jim Herling, Park Wonbin mungkin saja benar. Namun, Sohee bukan lagi Jim Herling, dia Lee Sohee. Detektif atau bukan. Dia Lee Sohee.
“So you’ve got a lot to be afraid of. For them, for you.”
“You know everything now? Huh? Smartass” Sohee tidak bermaksud untuk menjadi defensif, tetapi sikapnya keluar begitu saja. Sementara Wonbin dengan sikapnya yang lebih dewasa tidak mengambil hati dan memilih untuk kembali fokus menyetir. Rintik hujan hadir diantara mereka. Memecah suasana. Tetesannya mengalir dan melebur di depan mata. Sekaligus menenangkan pikiran Sohee. Wonbin di kursi kemudi menyalakan wiper.
“Kau melakukannya lagi”
“Apa?”
Mata Wonbin turun ke tangannya.
Itu adalah kebiasaannya. Menggaruk ujung kuku ketika perasaan takut dan khawatir menggerogoti.
Sohee menarik napas,
“Tempatmu bagus?”
“Mungkin tidak malam ini—because you barely see anything, but it was. It was a nice place.”
It was a fucking penthouse.
Sohee tercengang ketika menginjakkan kakinya di ‘apartemen’ Park Wonbin. Dia memang tidak bisa menikmati keindahan tata ruang, interior ataupun furniturnya yang berkelas, tetapi Sohee tahu rumahnya adalah penthouse besar yang elit. Lantai marmer-nya dingin di bawah kaki. Setiap langkahnya menggema pelan, menambah kesan hening. Kelima inderanya pun meningkat.
“Kau tinggal sendiri?”
“Ya.”
Sohee menghampiri dinding kaca yang mengelilingi, menempelkan tangannya disana. Distrik yang membentang seperti mozaik raksasa di timur kota, samar-samar tergambar di balik matanya. Gedung-gedung menjulang yang menyapa mata Park Wonbin setiap pagi, ketika membuka tirainya dan memulai hari. Kepadatan di bawah oleh pertokoan pinggir jalan, kedai makanan yang penuh cita rasa dari berbagai negara, orang yang mengantri untuk shawarma di bawah truk, dan kendaraan yang mesinnya selalu hidup.
Sekejap imajinasi Sohee dibuyarkan oleh sedan tua Mr. Scott yang berhenti di bawah jendela apartemennya.
Unlike the outcast, Lee Sohee, Park Wonbin is a New Yorker, with a capital of each letters.
“Lampu darurat ada di kamar, dapur, dan kamar mandi”
“Hm.”
“Sohee?”
“Hm?”
Wonbin berdiri di dapur dengan cahaya remang-remang.
“Pemadamannya tidak akan lama” ujarnya meyakinkan.
Sohee harap begitu.
Ia mengikutinya ke lantai dua. Tangganya tidak berderit. Wonbin membuka pintu hitam dari kayu Oak, menyalakan lampu darurat. Sohee menyusuri setiap sudutnya, di tengah ruangan adalah kasur berukuran king size dilapisi seprai abu-abu polos, tampak lembut dan disetrika rapih. Perpaduan warna hitam-abu-cokelat tua dan cahaya remang-remang menciptakan suasana maskulin sekaligus intim.
“Dimana aku akan…” Sohee merasakan permukaan halus dari karpet berbulu.
“Kasur saya cukup untuk dua orang”
“Maksudnya… kau dan aku..?”
“Jika kau tidak nyaman saya bisa tidur di kamar sebelah—”
“Tidak, Park Wonbin, tunggu—Aku tidak menyuruhmu” Sohee mengerucutkan bibirnya.
“Diam disini” Wonbin berjalan ke lemarinya, memberikan Sohee satu set piyama bermotif matahari. Detektif itu menatapnya heran. Merasa perlu menjelaskan, Wonbin cepat-cepat menampik.
“Itu dari pesta ‘Sweater Jelek’ natal tahun lalu.”
Sohee tidak menggubris.
“Hadiah dari teman saya. Dia suka bercanda”
Masih diam.
“Saya belum pernah memakainya. Itu sepenuhnya baru”
Rupanya hanya itu yang perlu Sohee dengar.
“Aku ke kamar mandi dulu”
“Baiklah” Wonbin menghela napas.
Sohee keluar 15 menit kemudian, sudah mengenakan piyamanya. Tercium bau sabun yang biasa Wonbin pakai, namun entah mengapa wanginya lebih manis. Mereka berdua akhirnya tidur di kasur dengan memunggungi satu sama lain. Telinga Sohee yang lebih sensitif mendengar nafasnya sendiri dan merasakan setiap desakan di kasur. Pengacara itu terus merubah posisinya.
“Park Wonbin, kau sudah tidur?”
“Belum”
Sohee tiba-tiba terpikir sesuatu,
“Sharley ingin menyampaikan terima kasih”
Hening.
“…….”
“Kau ingat?”
“Hm”
“Dia bilang cita-citanya ingin menjadi pengacara sepertimu” Sohee terkekeh, teringat oleh wajah Sharley yang berseri ketika menceritakan mimpinya.
“……”
“Kenapa.. kau melakukannya?”
“Saya hanya mampir karena lewat depan rumahnya.” Wonbin beralasan.
“Kau tahu bukan itu yang kumaksud”
“Apa yang mau kau dengar, detektif? Bahwa pengacara ahli neraka sepertiku merasa bersalah? Because damn well i do. Pengacara ahli neraka yang merasa bersalah kepada keluarga lawan sendiri, apakah saya bahkan pantas mendapat julukan itu?”
Sohee perlahan berbalik. Memandangi belakang kepala Park Wonbin, mencoba menebak ekspresinya saat ini. Apakah marah? Apakah Sohee terlalu sok tahu? Apakah ia… melewati batas? Tangan Sohee ragu-ragu untuk menyentuh bahunya yang sedikit bergetar. Namun, pada akhirnya tangannya hanya mengepal di udara.
“Park Wonbin, bahkan jika kau pantas dijuluki pengacara ahli neraka, iblis, atau apapun itu, kau tetaplah manusia. Tidak ada yang bisa mengubur hati nuranimu. Itu adalah warisan kita”
“……..”
“Katamu, aku akan baik-baik saja dengan 1000 pendendam, tapi jika salah satu dari mereka adalah orang seperti Sharley, aku pasti akan sedih juga.”
Sohee tahu Wonbin mendengarkan.
“Tindakanmu untuk membiayai pendidikan Sharley, adalah langkah yang tepat.”
Sharley, adik Fransisca Armor yang diketahui penyandang disabilitas. Beberapa hari yang lalu, Sohee datang ke rumah mereka untuk meminta keterangan terkait kakaknya dan Frank. Kebetulan Sharley ada disana, dan yang pertama kali keluar dari mulutnya adalah, “apakah kau teman— ayah siapa namanya?”, ayah-nya lalu menjawab dengan nada yang canggung, “Pengacara Wonbin” mungkin tidak terbiasa dengan nama asia. Darisitulah, Sharley bersemangat memberitahunya bahwa ia akan sekolah hukum dan menjadi pengacara hebat seperti Park Wonbin. Sohee tanpa bisa ditahan, mencibir “Jika memang seperti itu, ia harusnya membiarkan Frank dihukum mati”, sedangkan Sharley menimpali dengan lebih bijaksana “Dia sudah sangat baik kepada ku.”.
“Apalagi jika kau bisa membawa keadilan kepada kakaknya dan keluarganya” singgung Sohee, lagi. Memanfaatkan kesempatannya. Meski menggelikan karena ibaratnya Sohee menyuruh iblis untuk bertaubat.
Sohee mengedipkan matanya, merapalkan, “Biarkan yang ini berhasil” berkali-kali dalam hatinya. Persetan rencana Bruce, ia butuh pendekatan lain.
“Sohee.”
“Ya?”
Kini mereka berhadap-hadapan. Wonbin menggunakan lengannya sendiri sebagai bantal.
“ ‘Aku merasa buruk karena bersenang-senang di atas peti mati kakakku’ ”
“Apa—”
“Itu yang Sharley katakan kepada saya..
Oleh karena itu, sebesar apapun uang atau kompensasi yang saya berikan kepada mereka, itu tidak akan cukup.”
“Mungkin jika kau mulai berhenti mengaitkan semuanya dengan uang dan bisnis, kau akhirnya bisa melihat dunia secara lebih abu-abu.
—Tidak semua orang di dunia ini adalah lawan yang harus kau taklukkan. Sharley… meskipun dia merasa buruk, dia harus melanjutkan hidupnya. Dia juga berhak bahagia,
Menurutmu berapa banyak orang yang datang ke pemakaman dan benar-benar berduka? Mereka hanya melakukannya karena itu adalah hal yang benar, menangis, bersedih, mungkin kasihan, tetapi itu semua akan berlalu.” Lanjutnya pelan, hampir berbisik, karena rasa kantuk yang sedikit demi sedikit datang.
Wonbin terpaku.
Meski wajah Sohee mirip karakter kartun anak, tetapi ia memiliki pikiran yang dewasa dan mandiri.
Untuk Wonbin, sikapnya itu sangat seksi, melihat wajah lucunya berbicara kepadamu, tentang validasi, kehidupan, dan naluri. Membuat Wonbin ingin terus mendengarkan dan mengagumi parasnya.
Setiap lekuk wajah Sohee membuatnya tertarik. Mata, hidung dan mulut Lee Sohee seperti diciptakan untuk memikat. Maniknya yang membuat lawan ingin menyelam ke dalamnya, hidungnya yang kecil dengan ujung membulat, lalu bibirnya yang Wonbin bisa tulis menggunakan pena bulu dengan celupan tinta besi empedu diatas keras—khas medieval, tentang betapa mempesona warna nya, bentuknya, dan tekstur kenyal yang selalu ia gigit ketika gugup.
Wonbin kembali memunggunginya.
Lee Sohee adalah laki-laki sama sepertinya. Seharusnya semua perkataan itu ditujukan kepada wanita cantik yang akan menjadi pujaan hati. Contohnya ; Sihyun, pramugari yang dikenalkan Leonard. Dia-lah wanita yang harusnya ia puja kecantikannya.
Haruskah Wonbin mencoba bertemu dengannya seperti yang Leonard sarankan?
(Sesuatu mengganjal di hatinya)
Namun seiringnya, Wonbin rasa tidak masalah untuk membagi waktunya dengan bertemu detektif Lee Sohee. Itu adil bukan?
Ya.
“Saya akan melakukannya”
“…….”
Wonbin tidak mau Sohee berpikir itu karenanya,
“Untuk Sharley. Saya tidak mau mengecewakannya.”
“…….”
Tidak ada jawaban.
“Detektif?”
Wonbin mengintip, rupanya Sohee telah terlelap.
Wajah damainya lebih menggugah lagi. Bibirnya yang sedikit terbuka dan matanya yang tertutup memamerkan bulu matanya yang lentik. Piyamanya sedikit tersingkap, menunjukkan pinggangnya yang ramping dan mulus. Wonbin buru-buru berbalik.
Tunggu, apa yang baru saja ia pikirkan tentang laki-laki muda 7 tahun darinya? Apa Wonbin sudah gila?
Sohee tidak pernah percaya namanya keajaiban, dan dia tidak merasa dirinya menyedihkan. Sehingga dia sering bermimpi. Berlari di tengah hutan, tanpa alas kaki, rumput membelai kakinya, dan penghuni alam yang menyukainya. Seolah mereka mengerti perasaannya. Sohee yang tertawa senang dan seekor burung berkicau, katak yang ikut melompat bersamanya ketika menyebrangi sungai, bunyi cicadas yang menemaninya saat malam sunyi. Ia menikmati itu semua, sampai kemudian tupai kecil yang membawa kenari bertanya kepadanya, ‘kau lari dari apa?’, barulah Sohee sadar bahwa ia tidak bisa menjawab. Membuka mulutnya tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia juga tidak bisa menghentikkan kakinya yang terus bergerak. Bahkan menginjak kayu yang tajam, mencoreng merah darah dari telapak kakinya, meninggalkan jejak di tanah, akar pohon, dan bebatuan. Sohee terus berlari, dengan kondisi kaki yang sangat buruk. Terpikir di benaknya, kenapa ia tidak menoleh ke belakang?
Barulah disaat melakukannya, Sohee mendengar bunyi kretak. Mirip tulang yang patah.
Dan disana, tidak jauh darinya, berlari dengan kecepatan yang sama, adalah dirinya sendiri. Wajah yang sering ia lihat di cermin. Mengejarnya mati-matian.
Jantung Sohee berpacu sangat cepat.
Yang semakin aneh adalah, bagaimana Sohee ‘tiruan’ berlari dengan senyuman yang lebar meski badannya berlumur darah. Batang pohon menancap tepat di perutnya tetapi tidak ada sepercikpun ketakutan di wajahnya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan Sohee ‘tiruan’ tergigit oleh ular yang melilit tangannya, dan dia masih tersenyum manis.
Demi tuhan.
Mulut Sohee terbuka lebar, berteriak sekencang-kencangnya.
Haaah.
Sohee bangun dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Ia mengambil nafas sebanyak-banyaknya untuk menenangkan diri. Tangannya meraba-raba permukaan kasur, mengikuti sumber getaran lembut, lalu mengangkat ponselnya yang sejak tadi berdering.
“Halo?”
“Sohee.”
Sohee menjauhkan ponselnya dari telinga, pertama, yang ia tangkap adalah signal internet yang telah kembali. Kedua, adalah suara yang hampir 7 tahun menghilang dari hidupnya. Sohee melihat nama kontaknya dengan mata setengah terbuka, ‘Vic’.
“Victor?”
Dari seberang telepon, Victor menghela nafas lega.
Sohee menengok ke-arah jam waker yang berdiri di meja. Pukul 08.30. Benda itu lalu berbunyi keras. Ugh. Dengan satu tangannya, Sohee mencoba meraih jam tersebut— kenapa sulit sekali?
“Tunggu sebentar—”
Sohee melepaskan lengan yang memeluknya erat dari belakang.
Jam waker itu akhirnya berhasil diam.
“Kau ada dimana?”
“Aku…”
Sohee mencerna situasinya. Melihat refleksinya di cermin. Ia masih mengenakan piyama yang lengkap, duduk di pinggir kasur bersama satu orang lagi yang tertidur pulas, tanpa atasan.
Park Wonbin menggeser tubuhnya mendekat.
“Aku.. di rumah teman.”
Sohee beranjak untuk merapikan kasur. Melakukannya pelan-pelan karena tidak ingin membangunkan pengacara yang tertidur pulas. Sohee juga belum siap mendengar alasan kenapa laki-laki itu setengah telanjang.
“Aku sama sekali tidak… menyangka kau akan menelponku duluan”
Sohee mencoba menyalakan lampu di dapur dan benar saja, listrik sudah kembali normal.
“Aku… juga”
Tentu saja. Pernah tahu majikan yang mencari kucing buangannya sendiri?
“Apa yang terjadi?”
“Sohee tadi malam… Apa kau mengalami hal aneh?”
Sohee menyalakan mesin penyeduh kopi. Mengapit ponselnya di bahu.
“Sohee?”
“Ya—ya, aku disini.”
“Kau tidak mendengarkan.”
Sohee berdecak ketika mesin tersebut tersendat-sendat mengeluarkan tetesannya.
“Vic, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan”
Sohee menolak untuk memanggilnya ayah.
“Kau tidak bertemu mereka?”
Mereka?
“Apa ini berkaitan dengan pemadaman tadi malam?”
“Ya. Jawab aku”
“Semuanya baik-baik saja Vic. Tidak ada yang aneh”
“Syukurlah.. aku—aku senang mendengrnya.”
“Vic. Kau tidak bisa seperti ini. Kau harus memberitahuku apa yang sebenernya terjadi tadi malam”
Di seberang telepon, ayahnya lagi-lagi terbata.
“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang”
Sohee mendesah frustasi, terserah. Dia tidak peduli.
Gelasnya sudah terisi penuh.
“Saya mencarimu”
Sohee cepat-cepat berbalik, alhasil menumpahkan kopinya.
Park Wonbin disana, bersandar pada dinding, masih enggan mengenakan atasan.
“ Saya pikir kau akan pergi tanpa berpamitan”
“Sohee, siapa disana?”
“Vic, kita akan bicara lagi nanti.
Dah.”
Sohee menutup panggilan mereka, lalu mencuci tangannya yang terkena tumpahan kopi.
“Kenapa tidak membangunkan saya?”
“Kau punya sesuatu untuk sarapan?” Sohee membuka kulkas.
Sesuai dugaannya, rak-rak Wonbin bersih dari bahan makanan, baik segar maupun busuk. Bir yang tahan lama di paling bawah, dan beberapa telur yang terlihat baik-baik saja. Sohee mengambil dua. Kemudian ia membuka lemari atas. Menemukan roti gandum. Mengecek kadaluarsanya, lebih dari 2 hari. Mereka tidak akan mati.
“Kau suka toast?”
“Siapa yang menelponmu?”
Sohee menghela napas,
“Dia sama sekali bukan urusanmu.”
“Pacar?”
“Matang atau setengah matang?”
“Setengah matang”
Sohee menyalakan kompornya,
“Dia ayahku”
Perkataan Victor terngiang-ngiang di kepala Sohee. Ia tidak pernah mendengar nada ayah angkatnya sekhawatir itu. Kali terakhir adalah ketika Sohee kecil bermain di taman dan sebuah truk eskrim hampir menyerempet tubuhnya. Victor mengganggap semua orang adalah musuhnya, dan celakanya benar. Supir truk tersebut memang di pekerjakan oleh oposisi. Jadi ketika Victor merasakan bahaya, Sohee sudah sepatutnya percaya. Layaknya hukum alam.
“…Saya bisa memberi kalian ruang,”
“Tidak perlu.” Sohee menolak dengan sopan. Ia menaruh telur mata sapi sempurna diatas roti yag sudah terpanggang. Menaburkan garam dan lada.
“Sebaiknya kita harus pergi hari ini” Ajak Sohee.
“Kemana?”
Wonbin memberinya pisau dan garpu. Mereka berdua duduk berhadapan-hadapan di meja makan. Pertanyaan tersebut dibiarkan mengambang oleh Sohee, karena dirinya sendiri tidak tahu harus kemana.
Mereka?
Mereka siapa yang ayahnya maksud?
Di tengah sarapan, ponsel Wonbin berdering singkat.
“Seseorang di luar.”
“Siapa?” Tanya Sohee sambil mengunyah roti.
Wonbin memperlihatkan kamera intercom yang terinstal di ponselnya. Pada layar, menunjukkan seorang laki-laki, berperawakan tinggi sedang berdiri menunggu.
“Detektif Anton,”
“Sepertinya dia sangat khawatir”
Sohee tersenyum tipis. Walter jelas menyuruhnya.
Sohee yang pertama menyambutnya di pintu.
“Aku menelponmu berkali-kali”
Sohee juga baru sadar terdapat 16 panggilan tidak terjawab sebelum Victor. Ia melihat luka di pelipis Anton. Tangan Sohee bergerak untuk menyentuhnya, “Kau habis berkelahi?”
Anton mundur. Mengusap darah di jemarinya.
“Itu bukan salahku,
Seseorang menabrak bumper belakang mobilku dan bukannya meminta maaf.., dia malah memberiku ini” tunjuknya.
“Darimana kau mendapat alamat saya?” Tanya Wonbin, memecah reuni kecil mereka.
“Kalau kau lupa, aku hanya ingin mengingatkan tentang pekerjaanku.”
“Itu melanggar hukum”
“Tidak jika ini bagian dari kasus Frank,”
“Apa maksudnya?”
“Aku harus membawa detektif Lee Sohee ke suatu tempat”
“Kemana?” Pertanyaan yang tadinya mengambang kini mendarat kembali.
“Penjara Frank. Mereka menemukannya”
“Mereka menemukan Frank?” Sohee tidak bisa menyembunyikan semangatnya.
“Kita harus bersiap”
“Mau memakai mobil saya?” Sahut Wonbin,
Anton melempar tatapan penuh tanya kearah Sohee, apakah dia menerima tawaranmu? yang dibalas tanda tanya balik. Sambil memegangi kepalanya yang pusing, Anton memimpin jalan. “Kau yang menyetir” tepuknya pada dada Wonbin. Mobil Wonbin adalah SUV dengan 3 baris, Anton duduk di baris kedua sendirian. Kepalanya menyendul atap setiap berguncang. Untung perjalanannya tidak lama, gerbang lapas dijaga ketat dua kali lipat. Wonbin, Sohee dan Anton masing-masing harus menunjukkan identitasnya. Melalui proses yang sangat rumit di depan, mereka akhirnya diperbolehkan membawa alat elektronik. Berjalan di antara penghuni yang waras, sipir yang meminum kopi dari cangkir kertas, dan penghuni yang tidak waras mencengkram jeruji besi dengan kuku mereka yang menghitam. Meraung-raung. Suara mereka bak hantu malam yang melayang-layang di udara, menegakkan rambut. Sepanjang lorong, lantainya berpasir, reruntuhan dari cuilan bata tembok. Sel tahanan berjejer membentuk persegi bertingkat, Samping kanan lorong adalah pagar besi yang mencegah para tahanan terjun ke bawah.
Baunya menyengat dari keringat dan bekas makanan kantin yang menempel di baju mereka, tahanan yang ‘tidak berbahaya’ dibiarkan seliweran, mengenakan baju setelan hijau tua. Bersiul, khususnya ketika mereka mengenali kalung polisi Sohee. Anton bereaksi cepat dengan memelintir tangan tahanan tersebut hingga memekik kesakitan. Ia menendang perutnya sampai terhantam pagar besi, menimbulkan suara deratan yang menjalar. Kranggg. Arrghhhh. Setengah badannya melengkung ke bawah, melewati pagar. Dadanya naik turun, memohon untuk di selamatkan. Satu tangannya yang bebas bergerak liar untuk menahan badannya agar tidak jatuh.
Sipir, Sohee, dan Wonbin menyaksikan aksinya tanpa berkedip.
“Sel Frank… apakah masih jauh?” Tanya Anton santai.
Sipir penjara yang pertama menuntun kembali, merentangkan tangan kanannya, “Lewat sini”.
Sohee memicingkan matanya, Ada apa denganmu?, Anton mengangkat bahu. Dia… tidak tahu. Tangannya bergerak begitu saja.
Kau benar-benar harus menemukan cara untuk mengontrol emosimu itu.
Anton yang mendengar itu mengusak rambut Sohee.
Aku mengerti, Senior. Menggodanya.
Mereka berempat sampai pada ruangan yang tidak terlihat seperti sebuah sel. Lebih mirip ruangan interogasi yang dikelilingi dinding kokoh putih dan kaca bening mengarah pada petugas. Kursi mereka berjejer.
“Ini selnya?” Tanya Sohee.
“Untuk sementara. Ini prosedur kami ketika ada tahanan yang kabur.”
Anton menggulung kemejanya dan mengambil kursi.
“Kau bisa mendengarku?” Ucapnya melalui mic. Frank mengangguk lemah dari balik kaca.
Di belakang mereka, Sohee masih bertanya-tanya, “Jadi dia kabur?”
“Itu yang kami percaya” jawab sipir tersebut lugas.
“Bagaimana bisa dia tidak tertangkap cctv?”
Sipir seolah telah mengantisipasi pertanyaan tersebut. “Frank belum memberitahu kami caranya”
“Bagaimana dengan tahanan lain yang juga hilang?”
Sipir itu menggeleng. “Kami belum menemukannya”
Sohee mengengok ke arah Frank. Keadaan laki-laki itu sangat buruk. Pucat dan kurus. Di bagian kepalanya terdapat banyak luka dan darah yang mengering.
“Kalian yang melakukan itu padanya?” Terka Wonbin sembari mendekat ke kaca. Sipir itu langsung menyangkal.
“Tidak, tentu tidak. Dia yang melakukannya sendiri”
“Maksudmu…”
“Dia memukul kepalanya, menghantamnya sendiri ke permukaan, mankanya kita tidak lagi sediakan meja untuknya”
Percakapan mereka terpotong.
“Frank, perkenalkan aku Detektif Anton, NYPD. Aku tahu kau lelah, tetapi jika kau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami dengan baik, kau bisa cepat keluar dari sana dan ini semua akan berakhir. Kau mengerti?”
Frank tidak menjawab, namun mulutnya bergumam komat-kamit. Kepalanya terayun-ayun.
“Frank. Aku perlu suaramu”
“Aku… aku ingin mengakhirinya.” Suara Frank kehilangan tenaganya.
“Frank?”
“Mereka bilang— mereka.. aku seharusnya tidak.. tidak percaya mereka. Mereka bilang akan membawaku..”
“Siapa mereka?”
Entah apapun itu dari pembicaraan mereka, entah pertanyaan Anton, membuat laki-laki di dalam sel tersadar. Matanya membulat dan ekspresinya menjadi serius. Frank berdiri lalu menempelkan kedua tangannya di kaca.
“Kau siapa?!”
“Detektif Anton Lee, NYPD. Aku—”
“Bukan. Orang yang bersama denganmu. Kau siapa?”
Anton memastikan kepada sipir, “Kau yakin dia tidak bisa melihat kita dari dalam?”, sipir itu pun menggeleng.
Sohee mengambil alih, “Detektif Sohee Lee, NYPD.”
“Satunya lagi” tuntut Frank, belum puas.
“Tidak ada lagi. Hanya kita berdua, aku dan detektif Anton—”
Frank tertawa keras. Mulutnya sejengkal lagi dari kaca, mengembulkan asap yang buram.
“Oi. Kau yang bernapas dengan keras. Aku mendengarnya.”
Semua mata, kecuali Frank, otomatis tertuju pada Wonbin. Laki-laki itu diam di pojok, memperhatikan sedari tadi. Perlahan dia membungkuk untuk meraih mic.
“Kau benar. Ini aku”
Frank memukul kacanya dengan amat keras. Tawanya menggelegar ke penjuru ruangan. Pipinya yang tadi tirus seperti tersedot ke dalam kini mengembang berkali-kali. Giginya yang menguning menampakkan diri.
“Lama tidak berjumpa, Park Wonbin.”
Anton hendak berbicara kembali di mic namun di tahan oleh Sohee.
Park Wonbin memberikan isyarat kepada keduanya, lalu pengacara tersebut duduk di samping. Tidak berhadapan langsung dengan wajah Frank.
“Bagaimana kabarmu?”
“You’re seeing me right now, how do i look?”
“Pretty good” Wonbin berbohong.
“Sayang sekali… kau pasti berharap aku mati bukan?”
Pengacara itu masih terlihat tenang. Untuk saat ini.
“Tidak juga. Kami membutuhkan kesaksianmu.”
“Kami?”
“….”
“Kau bersekongkol dengan polisi sekarang?” Lagi-lagi Frank tertawa. Lalu beberapa detik kemudian kepalanya memutar ke kanan. Menebak letak para detektif.
“Kau percaya dengannya? Park Wonbin?”
“A—”
“Kita percaya atau tidak padanya, itu tidak penting. Tapi ada satu hal yang aku bisa pastikan, kami percaya padamu.” Sahut Sohee mendahului Anton. Ia akan melakukan segala cara untuk membuat Frank berbicara.
Laki-laki tersebut menggertakan giginya, seperti menahan sesuatu. Matanya bergulir kesana-kemari, frustasi tidak bisa menatap lawan bicara dan membaca ekspresi mereka. Ujung-ujung kukunya mengetuk pelan.
Tuk.
Tuk.
Tuk.
“Baiklah.”
Sohee menghela nafasnya lega. Ia mengeluarkan voice recorder dari sakunya.
“Sebelum itu, bolehkah aku meminta segelas air?”
———————
Place : Gikers Island
Time : 13:40
Tape #7284
Sohee : Kenapa kau mencoba kabur?
Frank : Aku tidak kabur. Kau tidak lihat semua tembok tinggi yang mengelilingi lapas ini?
Sohee : I thought so. Jadi bagaimana kau kabur?
Frank : Aku tidak kabur detektif.
Sohee : Lalu?
Frank : Aku.. tidak tahu.
Sohee : Frank.
Frank : Itu kenyataannya Detektif. Aku membuka mata… dan tiba-tiba sudah berada di sel bajingan ini. Mereka bilang aku hilang selama 1 minggu, tapi bagaimana mungkin? Aku bahkan masih ingat mimpiku malam itu.
Frank mendekatkan tubuhnya,
Frank : Ini pasti perbuatan mereka.
Sohee : Mereka?
Frank : Mereka ingin balas dendam kepadaku.
Sohee : Bukan malah kau yang ingin balas dendam?
Frank : Apa yang—
Sohee menyerahkan robekan kertas yang bertuliskan, Jika kau tidak menemukanku, telepon pengacara Park Wonbin. Dia tahu.
Frank : Siapa yang menulisnya?
Sohee menatapnya seolah jawabannya sudah jelas,
Frank : Apa? Bukan. Bukan aku.
Sohee : Tetapi Park Wonbin mengenali tulisanmu.
Frank tertawa mencemooh
Frank : Kau benar-benar percaya padanya?
Sohee : Apa gunanya dia berbohong?
Frank : Kau tanya sendiri padanya, detektif. Oh dan bukankah kau bilang kau akan percaya padaku?
Sohee : Kau tidak meyakinkan.
Frank : Aku mengatakan yang sebenarnya.
Sohee : Katakan dulu siapa ‘mereka’ dan aku akan percaya semuanya.
Frank terkikik.
Frank : Kau… sangat menarik detektif.
Sohee : …
Frank : Kenapa bukan kau saja yang menjadi pengacaraku hm?
Jelas tidak bisa. Sohee bukan seorang pengacara, dia adalah detektif. Karena itu, ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memancingnya.
Sohee : Kalau aku menjadi pengacaramu, apakah kau mau memberitahu informasi Nexware kepadaku?
Frank menggertakan giginya. Tangannya mencengkram kuat.
Frank : Darimana kau tahu—
Sohee : Tenang, itu tertulis di berkasmu. Nexware.. kau dulu bekerja disana?
Tidak sepenuhnya bohong, karena memang benar semua telah tertulis. Namun, faktor terbesar yang membuat Sohee mengungkit Nexware adalah karena keterangan Park Wonbin. Instingnya yang kuat mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan perusahaan tersebut. Jika tidak, mengapa seorang pengacara ternama seperti Park Wonbin mati-mati an menggali informasi darinya.
Frank : Apa yang mau kau tahu detektif?
Sohee : Mereka yang kau maksud… apakah Nexware?
Frank : Aku tidak bisa memberitahumu.
Sohee : Kenapa?
Frank : Apa untungnya untukku?
Intonasi Frank lebih ke menyatakan daripada mempertanyakan.
Sohee : Kau benar. Tidak ada untungnya untukmu.. dan aku juga tidak bisa memperingan hukumanmu atas imbalan informasi ini, namun..
Frank : ….
Sohee : Jika aku jadi kau, aku akan mengatakan semuanya.
Frank : …..
Sohee : 20 tahun penjara, memang apa yang bisa kau lakukan?
Frank terlihat marah,
Frank : Detektif.
Sohee : Apa ucapanku salah?
Frank : Nexware… bukanlah sesuatu yang bisa kau usik dengan mudah. Mereka bukan tandinganmu.
Sohee : Kau seperti mengatakannya pada dirimu sendiri.
Frank : Persetan! Aku— Aku tidak sama dengan kalian!
Sohee : Buktinya, kau disini Frank.
Frank : Tidak. Sedikit lagi aku bisa— aku hanya perlu waktu. Aku sudah separuh jalan sialan!
Frank memukul meja.
/Derau statis, suara— “Detektif Anton, kau tidak bisa masuk/
Sohee mempertahankan posisinya,
Sohee : Kalau begitu, kau harus menyelesaikan apa yang kau mulai.
Frank : Dengan bersekongkol denganmu?
Dia mencibir.
Sohee : Aku tidak suka kata itu… bagaimana kalau kita menyebutnya ‘masa percobaan’? Jika kau dan aku— atau apapun ini, ternyata membuahkan sesuatu, bukankah artinya 20 tahun itu.. tidak terlalu sia-sia?
Frank : …..
Sohee : Kita bisa menetapkan, apakah kau— Frank Peterson, pembunuh sadis pacarnya sendiri yang sekarang menjalani hukuman 20 tahun penjara, seperti pecundang… atau Frank Peterson, penyelamat revolusioner yang bekerja di balik penjara?
/Derau statis/
Frank : Masa percobaan.
Sohee : Benar.
Tape #7284
———-
Sohee : Sudah berapa lama kau bekerja di perusahaan Nexware?
Frank : Kurang lebih 3 tahun.
Sohee : Kau bekerja sebagai apa?
Frank : Technical Engineering
Sohee : Tepatnya?
Frank : Mereka menyebutnya technical enhineering tetapi sebenarnya kita yang melakukan semua pekerjaan kotor.
Sohee : Salah satunya… apakah Emotiva?
Frank : …….
Sohee : Frank?
Frank : Ya.
Sohee : Bisa jelaskan lebih rinci terkait Emotiva?
Frank : Emotiva adalah project lanjutan dari project 5 tahun yang lalu, Halo Project. Halo gagal karena dianggap melanggar kode etik.
Sohee : Pelanggaran seperti apa?
Frank : Kontrak kami terkait uji klinis pada manusia dianggap tidak memenuhi standar.
Sohee : Jadi mereka melakukan penjenamaan ulang?
Frank : Ya.
Sohee : Apakah… orang-orang tahu?
Frank : …. Tidak.
/Derau statis/
Sohee : Apakah menuru&@;/ (derau) orang-orang pantas tahu?
Frank : … Ya.
Sohee : Kenapa? Apa kau mengindikasikan bahwa Emotiva berbahaya?
Frank menelan ludah,
Frank : Mereka bilang mereka melakukan hal yang benar.
Sohee : Kau tidak setuju dengannya?
Frank : Aku bukan ilmuwan detektif, aku tidak tahu.
Sohee : Tapi kau merasa bersalah, bukan?
Frank : …..
Sohee sempat berpikir, untuk orang yang menikam pacarnya sendiri sebanyak 18 tusukan, Frank Peterson termasuk orang yang sentimental.
Sohee : Frank, tidak ada yang perlu kau takutkan.
Frank menarik napas,
Frank : Aku.. aku menyaksikan semuanya.
Sohee : Menyaksikan apa?
Frank : Bagaimana mereka melakukannya.
Sohee : ……
Frank : Bagaimana mereka memasangkan chip kecil pada otak mereka, dan mereka bangun seperti orang yang berbeda.
Sohee : Chip?
Frank : Eksorphine.
Sohee : Apa itu semacam obat? Senyawa kimia?
Frank : Bukan, itu hanya sebutannya. Secara harfiah artinya Endorphine dari luar tubuh.
Sohee : Maksudmu dia buatan?
Frank : Ya. Seperti Endorphine, dia seharusnya memberi rasa senang, euforia, mengurangi stress dan rasa sakit. Orang-orang menyukainya.
Sederhananya, narkoba.
Sohee : Bagaimana cara kerjanya?
Frank : Aku tidak tahu details secara ilmiahnya, yang aku tahu chip itu…dia bekerja layaknya otak kita seperti biasa. Hanya perlu stimulus dari luar, dia akan langsung menterjemahkannya menjadi perasaan emosional, tindakan, atau yang aku ingat sensorik, motorik. Itu yang tertulis.
Sohee : Bagaimana jika stimulus yang di luar merangsang mereka memberikan emosi yang buruk?
Frank : Tidak akan detektif. Itu lah kelebihannya. Setidaknya itu klaim mereka.
Sohee : Maksudmu?
Frank : Mereka akan selalu menterjemahkan menjadi rasa senang, aman, tenang, tanpa rasa sakit sama sekali. It keeps you alive.
Sohee : ….
Frank : Dan satu lagi, pengguna bisa mengontrol emosi mereka sepenuhnya.
That thing let you fully control your own emotions.
Ini tidak berbeda dengan peredaran narkoba ilegal. Narkoba yang mereka pikir revolusioner, sebenarnya adalah senjata pemusnah massal terhadap kemanusiaan.
Sohee : Jika begitu, kenapa kau.. keluar?
Frank : Awalnya aku berpikir… itu adalah inovasi yang akan menggetarkan seluruh dunia. Bayangkan kau memiliki narkoba permanen di dalam otakmu. Tidak ada yang bisa mendeteksinya kecuali teknologi canggih yang bahkan sekarang belum ada. Kita terlalu jauh di depan.
Aku akan kaya, kau tahu? Aku tidak akan lagi menjadi benalu bagi Fransisca.
Sohee : …..
Frank : Namun, aku baru sadar, bahwa manusia terlalu lemah untuk dirinya sendiri.
Sohee : Apakah yang kau maksud, efek samping dari emotiva?
Frank menatapnya intens.
Frank : Aku merasakannya 1 bulan setelah pemasangan.
Sohee : Kau… juga—
Frank : Mereka menyuruh semua orang di perusahaan memakainya detektif, untuk mengurangi biaya sampel uji klinis.
Sohee : Itu.. kejahatan.
Frank terkekeh.
Frank : Bagi kami itu kesempatan.
Sohee : …..
Frank : Tetap saja, penyesalan selalu datang di akhir bukan?
Sohee : …….
Frank : Yang dimulai dari melupakan ‘dimana aku meletakkan sepatuku’, menjadi ’dimana aku..’. Aku kehilangan separuh diriku detektif.
Sohee : ….
That thing fucks with your brain impulses, so memory loss. Slowly progress.
Frank : Aku tidak tahu… apakah aku masih Frank Peterson yang sama? Apakah aku Frank Peterson yang membunuh Fransisca Armor? Kekasihnya sendiri?
Sohee : Bagaimana dengan gugatan mereka? Park Wonbin salah satu pengacaranya.
Frank : Itu tidak berguna, karena kita semua menandatangani informed consent.
Jadi, pada akhirnya tidak ada yang bisa kita lakukan… Sohee membatin pasrah.
Frank : Hanya saja, yang tidak mereka ketahui adalah, bahwa aku memegang rahasia terbesar dari Nexware.
Sohee : Rahasia?
Frank : Aku ingat, saat dimana mereka membawaku untuk mengetes alat terbaru mereka. Itu pertama kalinya aku melihat alat seperti itu. Mereka datang dari perusahaannya yang sama ‘Vestar’.
Entah kenapa, nama tersebut terdengar familiar di telinga Sohee.
Frank : Anehnya, ketika aku mencarinya di internet, tidak ada yang muncul. Perusahaan yang mengirim alat secanggih itu, tidak mungkin tidak terdaftar bukan? Jika aku bisa menilai, alat itu sendiri bisa dihargai jutaan dolar.
Jutaan dolar?
Frank : Detektif mungkin berpikir aku berlebihan, tetapi alat itu…. Aku benar-benar tidak pernah melihat alat secanggih itu. Dari sensor, aktuator, material, desain, dan sistemnya, semua melampaui teknologi yang kita miliki sekarang.
Sohee : Bisa kau jelaskan fungsi dari alat itu?
Frank : Alat itu menyimpan big data dari semua pengguna emotiva, termasuk memori mereka. Mereka bisa memantau setiap aktivitas, penglihatan, pendengaran, hampir semua indera kita.
Sohee merasakan tenggorakannya mengering.
Frank : Tidak hanya itu, mereka juga bisa menghantarkan impuls ke setiap chip yang telah tertanam di kepala orang-orang.
Sohee : Apa artinya?
Frank : Mereka bisa mengendalikan chip itu tanpa rangsangan dari luar yang diterima oleh pengguna emotiva.
Sohee tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.
Sohee : Kau… bercanda?
Frank : Tidak.
Sohee : Jadi maksudmu, selain pengguna emotiva yang bisa sepenuhnya mengontrol emosi mereka sendiri, ternyata orang lain juga bisa mengontrol mereka sepenuhnya?
Nexware?
Frank : Benar. Memori pengguna yang termakan oleh mesin itu, satu persatu akan membuat kita kehilangan kendali. Kita bukan lagi manusia seutuhnya yang memiliki kehendak bebas.
We’re a dying power…
Frank berucap lirih.
Sohee memaksa suaranya keluar,
Sohee : Apa… itu yang terjadi pada malam Fransisca di bunuh?
Frank mengangguk.
Sohee : Kau tidak minum..?
Frank : Aku membenci alkohol. Aku hanya tidak menemukan alasan yang masuk akal dari ‘aku tidak ingat apapun karena tubuhku bukan milikku lagi’ kepada Park Wonbin, selain ‘aku mabuk’
Sohee : Apa itu juga.. yang terjadi pada malam kau hilang?
Frank : Kau… benar.
“Dan tadi malam”, Frank menambahkan.
Sohee memiringkan kepalanya,
Sohee : Bagaimana kau tahu kejadian tadi malam jika kau tidak ingat apa-apa sebelum ditemukan pagi ini?
Frank : Sipir memberitahuku, dan itu bukan yang terpenting detektif.
Aku rasa… kejadian tadi malam ada kaitannya dengan Vestar.
Sohee : Bagaimana bisa?
Frank : Vestar…. Aku belum tahu pasti cara kerjanya karena saat itu mereka sudah memindahkanku ke divisi lain, yang jelas… Vestar memakai sinyal untuk menghantarkan impuls itu.
Sohee : …..
Frank : Sinyal yang sangat kuat. Aku yakin agar alat secanggih itu bekerja, sinyal sekecil apapun itu, jika sinyalnya dari luar Vestar, maka sinyal itu akan menganggu kerjanya.
Sohee : Jadi mereka memadamkan listrik dan sinyal satu kota…
Frank menyandarkan punggungnya di kursi,
Frank : Itu dugaanku.
Tunggu— jika benar begitu.. apakah itu artinya percakapannya dengan Frank telah disadap menggunakan chip itu?
Sohee : Tapi—
Frank : Aku tahu apa yang kau khawatirkan. Aku telah melepas chipku jadi tenang saja. Percakapan kita aman. Aku tidak sebodoh itu, detektif.
Tidak mungkin. Tentu menghubungan titik demi titik, Sohee akan berpikir Frank menghantamkan kepalanya untuk menghancurkan chip yang ada di dalam. Jika ia telah mengeluarkan chipnya, lalu…. Jari Sohee menunjuk pelipis dan dahi Frank yang berdarah.
Sohee : Lalu kenapa kau melakukannya?
Frank : Melakukan apa—
Frank menyentuh pelipisnya, dan seketika ketiga jarinya tercap darah yang mulai mengering. Matanya melebar ketakutan.
Frank : Aku.. yang melakukan ini?
Sohee : Kau tidak ingat..?
Frank : Aku tidak merasakan sakit, apapun…
Barulah saat itu keduanya tersadar.
Frank : DANIEL BAJINGANNN!!!!
Frank berteriak kesetanan bersama dengan sumpah serapahnya. Sohee menebak Daniel adalah orang yang seharusnya mengeluarkan chip itu dari Frank. Apakah Frank ditipu?
Frank tiba-tiba memukul kepalanya dengan keras, tepi tajam dari borgol menggores dan menancap ke kulit nya. Sohee mundur dari kursi, dadanya berdegup kencang, melihat Frank yang tidak puas dengan darah yang mengucur, kini juga melempar kepalanya ke meja. Berkali-kali.
Sohee merogoh radio dua arah dari sakunya. “Panggil Ambulans! Cepat!”
Terakhir kali yang Sohee lihat sebelum tangannya dicengkram erat oleh Anton dan diseret keluar ruangan, adalah mata Frank yang kosong meski kepalanya sudah hampir berubah bentuk dan darah terciprat di mana-mana.
Sohee teringat mimpinya.
2 minggu kemudian.
“Kau sangat manis”
Sohee tersenyum di sela ciuman mereka. Tangannya yang mengalung di leher laki-laki yang lebih tinggi, meremat lembut rambutnya.
“Mungkin karena pelempab rasa strawberry ku”
Anton mengernyit, hm?
“Aku biasanya membenci strawberry”
Sohee tertawa kecil sebelum memperdalam ciuman mereka. Ia semakin berjinjit karena detektif itu tidak mau mengalah. Setidaknya, pelukan di pinggangnya sangat erat dan nyaman. Mereka menikmati waktu mereka, meski di dalam dapur kantor yang lebih mirip gudang, diam-diam.
“Bagaimana dengan Vestar? Kau menemukan sesuatu?”
“Tidak.”
Anton menggigit sensual bibir Sohee yang memerah, mengeluarkan lenguhan dari yang lebih kecil. Sohee pun semakin lebar membuka mulutnya, yang dibalas ciuman handal lelaki New Jersey itu.
Apa ia sering melakukannya? Ciuman?
Berbeda dengan Sohee yang masih besar di korea, Anton pasti sudah terbiasa dengan budaya Amerika.
Sohee memberi isyarat, tubuh mereka pun semakin menempel. Anton yang paham, menaruh tangannya di bawah paha Sohee, sementara satunya lagi di pinggang rampingnya.
Hah..
Anton mengangkat tubuhnya tanpa perlu usaha sama sekali. Meskipun begitu, Sohee tetap ingin merasakan ototnya. Jemari lentik dan putih itu menyusuri dari bahu bergerak ke bisep Anton. Mengelus dan meremas-meremas. Ciuman mereka tidak terlepas barang sedetikpun kecuali untuk mengambil nafas.
Anton mendudukkan Sohee di atas konter. Tangannya terus aktif menggerayangi badan Sohee untuk memberikan sensasi keenakan pada laki-laki itu. Mencari titik sensitif yang terus membuatnya mendesah, menarik-narik rambutnya, hingga mengulum lidahnya tidak sabar.
“Kau tahu, saat aku melihat wajahmu, aku langsung berpikir bahwa kau lebih muda dariku.”
“Hm? Benarkah?” Sohee terus menciuminya, kecupannya sangat gemas dan lucu. Seolah menarik Anton kedalam putaran yang memabukkan, dengan wajahnya yang polos itu.
Jika Anton mengatakan semua isi benak dan hatinya ketika melihat wajah Sohee yang putih dan mulus itu pertama kali di laptopnya, ia akan dipenjara.
“Kau.. sangat cantik Lee Sohee.”
Sohee seperti terbiasa mendengarnya, tidak tersipu malu, ataupun mengatakan ‘terima kasih’. Ia benar-benar sangat seksi. Anton tidak percaya ia pernah mengatakan bahwa dirinya dan Sohee tidak memiliki kompatibilitas, dan wajahnya itu tidak akan menyelematkannya, karena sial, Anton rela melakukan apapun untuk melihat wajah itu setiap detik.
“Tapi wajah ini tidak cukup membuatmu belok, benar?” Canda Sohee. Laki-laki itu meligkarkan kakinya di pinggang Anton, dan bermain-main dengan jaketnya.
“Benar. Untuk saat ini”
Seperti sebuah isolator yang memutus aliran listrik, Sohee mendorong tubuh Anton menjauh darinya. Menghilangkan panas tubuh yang tadinya menempel satu sama lain.
“Tidak. Kau sendiri yang mengatakannya. This is.. this is not that kind of thing.”
“Baik. Kau benar. Maafkan aku” Anton cepat-cepat meminta maaf. Karena sejatinya memang ini semua berawal dari dirinya sendiri, dan dia yang memakan umpan ini sendirian. Ia mengelus punggung Sohee dan menciumnya lagi untuk menenangkan.
Setelah kejadian Frank, Sohee seperti mummy yang berjalan. Laki-laki itu merasa semua yang terjadi murni kesalahannya. Jika saja ia tidak memaksa Frank untuk berbicara— Jika saja, ia tidak mencampuri urusan orang—- Jika saja, ia tidak terlalu penasaran—
Jika saja— Semua itu hanya jika, jika, dan jika. Sohee menyesalinya setengah mati. Ia tidak hanya membunuh seorang manusia, tetapi ia juga membunuh informan penting yang bisa menyelamatkan banyak orang.
Anton, The quick-witted that he is, langsung menyadari perubahan sikap Lee Sohee. Badannya yang sudah kurus semakin kurus. Ditambah laki-laki itu yang menghabiskan setengah harinya dengan melamun. Jika Anton bisa melakukan sesuatu yang bisa membantunya, kembali seperti Lee Sohee, ia dengan senang hati akan melakukannya. Tentu saja awalnya, Sohee yang mendorongnya menjauh, menghindarinya, bahkan sempat membencinya. Tetapi bukan Anton juga namanya jika dia menyerah. Laki-laki itu terus bersikeras, Brian bahkan mengira Anton hendak mengajak Sohee berkencan.
“Kau sudah ditolak berkali-kali, kini saatnya kau berhenti”
Brian yang sok tahu, Brian yang konservatif, karena malamnya, Sohee mengiriminya pesan.
‘Kau mau bermalam di rumahku?’
Jika Anton bisa melakukan sesuatu yang bisa membantunya, kembali seperti Lee Sohee, ia dengan senang hati akan melakukannya. :
Termasuk membantu laki-laki itu melampiaskan semuanya. Di dalam kamarnya yang kecil dan suara kucing Sohee, Milo, yang kelaparan, Anton dan Sohee menyentuh titik terdalam dari hubungan mereka.
Malam itu, kemudian berlanjut menjadi malam-malam selanjutnya, dan Sohee kembali menjadi Sohee yang ia kenal.
Dok Dok Dok
Anton dan Sohee melepaskan pangutan mereka, mata keduanya melebar sebelum otomatis merapikan diri secepat kilat dan mengusap bibir mereka, terburu-buru.
“Brian?” Panggil Sohee untuk memastikan.
“Ya, ini aku. Kenapa kau mengunci pintu ini?” Kenop pintu pun berputar beberapa kali. Untungnya mereka tidak lupa mengunci.
“Aku akan keluar sebentar lagi”
“Kau ada tamu”
Anton mengerang kesal, ia bersumpah jika itu adalah laki-laki pengirim sapu tangan—
“Tom?” Tebak Sohee.
Benar itu namanya. Anton semakin kesal hanya mendengar nama itu.
“Bukan. Dia anak kecil”
Anton dan Sohee saling bertatap-tatapan. Sohee kemudian menyuruh Anton untuk bersembunyi di dalam lemari.
“Oke. Tunggu disana.”
Setelah memastikan penampilannya, Sohee membuka pintu, mendapati Brian yang memandanginya aneh.
“Kau sering kesini”
Sohee hanya tersenyum paksa sebagai jawaban.
“Dimana?”
Brian menuntutnya ke ruangan. Lebih tepatnya ruangan Sohee sendiri. Di kursinya, duduk seorang anak perempuan kecil yang sedang memunggunginya dan Brian.
“Siapa kau bilang?” Bisik Sohee nyaris tidak kedengaran.
“Oh? Aku belum bilang? Nurah. Nurah Emilia.”
Nurah berbalik. Dari tangan kecilnya, menetes darah yang jatuh ke lantai.
Tes.
Tes.
Brian berbisik ke telinganya, “Dia membunuh ibunya sendiri.”
“Dia bilang tidak ingat apa-apa, tetapi polisi menemukannya di rumah dalam keadaan sadar. Lengkap dengan pisau dan sidik jarinya.”
“Sohee?”
Berkas yang tadi diserahkan oleh Brian, seketika jatuh begitu saja.
