Chapter Text
Surabaya, Mei 1891
Dhateng Raden Mas Durmagati Kartawijaya,
Aku menulis ini sembari menatap debu yang berdansa di bawah cahaya lampu minyak yang menyedihkan. Petugas di Penjara Kalisosok memberitahuku dengan nada yang sangat tidak simpatik bahwa aku hanya berhak mengirimkan selembar kertas setiap bulannya kepadamu. Aku telah menghabiskan sepuluh lembar sebelumnya hanya untuk berakhir menjadi gumpalan kertas di sudut ruangan; tanganku seolah terkunci dalam kekakuan bahasa birokrasi yang selama belasan tahun ini menyelimuti jiwaku. Ternyata, membuang kebiasaan sebagai Ketua Perhimpunan jauh lebih sulit dan menyakitkan daripada melihat seluruh harta bendaku disita oleh negara.
Durma, rumah besar di pusat kota itu kini sudah bukan lagi milik kita. Kursi jati di perpustakaan, tempat di mana engkau dulu sering menyesap tembakau sembari menantang logikaku, kini telah berlabel sita dan segera dilelang. Aku telah berpindah ke sebuah paviliun kecil yang pengap di dekat dermaga pelabuhan. Di sini, suara peluit kapal uap dan bau amis laut menjadi teman baruku, menggantikan keheningan kelas atas yang dulu kita agungkan.
Willem dan Lodewijk telah berangkat menuju Leiden minggu lalu. Perpisahan itu sungguh meremukkan hati. Mereka menangis di dermaga, memohon dengan sangat agar aku menanggalkan segala kegilaan ini dan ikut pulang ke Eropa demi membersihkan nama keluarga Mauritsen yang kini sudah tercemar. Namun, bagaimana mungkin aku bisa melangkah ke atas kapal itu, Durma?
Di atas bantal tidurku, masih tertinggal satu kancing emas berlogo singa Kartawijaya yang terlepas malam itu. Benda kecil itu adalah satu-satunya jangkar yang menahanku tetap berpijak di tanah Jawa ini. Aku tidak akan pernah bisa mencari keselamatan di benua lain sementara pemilik kancing ini masih mendekam di balik jeruji besi yang dingin, menanggung beban dosa yang sebagian besarnya adalah karena keberadaanku.
Surabaya saat ini sedang panas-panasnya, udara terasa begitu mencekik dan kering, namun kurasa tak ada yang lebih gersang daripada kesunyian di sisiku tanpa suaramu.
Jaga kesehatanmu dengan baik di dalam sana. Jangan biarkan dinding sel itu memakan semangatmu.
Aku tetap di sini, menunggu hingga lilitan ini menemukan muaranya.
Milikmu,
Albertus Mauritsen
