Work Text:
Dari jaman Keonho masih mengagumi Juhoon, sampai sekarang Juhoon sudah menjadi milik Keonho, hanya satu yang akan terus menarik perhatian Keonho — yaitu jakun nya Juhoon. Setiap Juhoon menelan air liurnya sendiri, setiap Juhoon berbicara, setiap Juhoon menelan minuman atau makanan, atau bahkan Juhoon sedang diam pun akan terlihat seksi dimata Keonho. Karena menurutnya bentuk jakun milik Juhoon itu sangat elok. Menonjol iya. Tajam iya. Gede iya. Memikirkannya saja membuat Keonho gila. Ingin sekali. Tapi Keonho sama sekali tidak berani berbicara terkait hal seperti itu pada Juhoon. Ia hanya merasa.. malu?
Tapi entah apa yang ada di pikiran Keonho malam ini, ketika Juhoon memutuskan untuk menginap di rumahnya. Bilang saja Keonho sudah tidak waras, memang iya. Lihat saja sekarang Juhoon sudah sibuk terlelap mengarungi alam mimpi, badannya lurus terlentang, sembari membuka lengan kanannya. Keonho yang meniduri lengannya Juhoon, dengan mengarahkan setengah badannya ke arah Juhoon, seperti memeluk. Namun Keonho tak bisa tidur, jadi ia mainkan jari tangannya, membuat pola membulat berulang di atas dada bidang Juhoon. Sang empunya sama sekali tak terganggu dengan kegiatan itu.
Karena Keonho sudah sangat muak, matanya tak kunjung bisa diajak kerjasama untuk tidur, jadi ia dongakkan kepalanya menatap wajah Juhoon. Ia perhatikan satu satu, mulai dari kulit wajahnya yang putih bersih, rambutnya, alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya, dan terakhir jakun nya yang menonjol. Tepat di depan wajah Keonho. Ia langsung membeku, tak melepaskan pandangannya dari jakun itu. Ia raba pelan. Sungguh sangat pelan, seolah itu barang yang mudah rusak. Susah payah sekali Keonho menahan.
Semenit.
Dua menit.
Tiga menit.
Empat menit.
Semakin lama menatap jakun milik Juhoon, semakin Keonho bernafsu. Memek nya jadi gatel banget. Disaat inilah Keonho nyerah.
Keonho tarik selimut yang menutupi setengah badannya dengan Juhoon. Dengan terburu-buru ia mengubah posisinya dari tiduran menjadi duduk menindih Juhoon, ia langsung menunduk untuk meraup jakunnya Juhoon. Ia jilat berbagai arah, kanan kiri, atas bawah sampai permukaannya basah oleh air liurnya. Layaknya anak kecil yang sedang menjilati permen gede.
Ketika Keonho sibuk menjilati jakunnya Juhoon dengan serakah, Juhoon merasa seperti ada yang merayap diatasnya, karena ia merasa berat dan geli? Ia perlahan membuka matanya. Tentu saja dirinya terkejut melihat ada gerakkan kepala, dengan tempo acak sembari menunduk tepat di tengah lehernya. Sudah pasti itu kekasih kecilnya, karena ada aroma strawberry dari rambut panjangnya itu. Juhoon tidak langsung menahan kegiatan itu, ia hanya sedikit merasa aneh dan keheranan? Kenapa tiba-tiba jakunnya di jilati oleh Keonho di tengah malam begini? Katanya, “Adek.. ngapain, sayang?” suara berat nya menggema di ruangan yang hanya diisi berdua. Keonho semakin semangat, sebab ketika suara itu keluar, otomatis jakunnya akan bergerak keatas dan kebawah. Keonho semakin gencar dengan kegiatan tak senonohnya itu.
Juhoon juga jadi kegelian, dengan cepat ia tahan kepala Keonho dan ia angkat sedikit, tatapan mereka bertemu, “Keonho. Aku tanya. Ngapain jilatin jakun aku?” Juhoon memerhatikan wajah Keonho yang sudah sangat memerah, air liur yang keluar dari sudut bibirnya, mata sayu dengan napas terengah — bangsat seksi banget, pikir Juhoon. Keonho yang seperti kegep, jadi malu sendiri, tapi nafsu nya sudah terlanjur menutupi rasa malu nya. Jadi Keonho nekat memohon, “Kakak.. aku mau ngulum jakun Kakak.. please.. aku suka jakun Kakak yang nonjol gede..”
Juhoon yang melihat Keonho kikuk namun sebenernya sangat ingin mengulum jakunnya, jadi tersenyum kecil, “Selama ini Adek nahan?” anggukan cepat diberikan oleh Keonho. Tanpa izin dari Juhoon, Keonho lihai menunduk lagi untuk meraup jakun Juhoon. Kali ini bukan hanya dijilat, tapi di kulum. Oh Tuhan, Keonho tidak bisa lagi berpikir jernih, pikirannya sudah sangat runyam.
Juhoon dengan jahil mengangkat kepala Keonho lagi. Sengaja. Ingin melihat ekspresi Keonho yang sudah digelapi nafsu. Keonho mendengus kesal, sebab kegiatannya mendadak diberhentikan seperti itu, bibirnya melengkung kebawah, “Kakak.. please..” Keonho pusing sekali. Ingin lebih dari itu.
Keonho dekatkan lagi ranum kecilnya menuju jakun itu. Ia jilat acak dan mengulumnya dengan kasar. Sampai tonjolan itu masuk penuh ke mulut Keonho yang hangat. Diiringi desahan Keonho yang terendam, “Hmmhh.. mmhh.. mmmhh..”
Juhoon jadi ikut pusing, karena lama kelamaan rasa geli itu terganti jadi rasa nikmat. Mana disitu Keonho mengeluarkan suara laknatnya dengan ribut. Yang membuat kontol Juhoon menegang sesak didalam celana pendeknya. Juhoon juga terpancing.
“Adek, bentar, lepas dulu.” Itu perintah, Keonho menurutinya. Keonho perhatikan Juhoon yang mengubah posisi dari tiduran menjadi duduk menyenderkan setengah badannya ke headboard ranjang. Keonho masih diatas Juhoon. Tepatnya dipangku.
Juhoon meraih pinggang Keonho dengan kedua tangannya, ia memperdalam rengkuhannya. Sedangkan Keonho mengalungkan kedua tangannya ke leher Juhoon. Kini wajah mereka hanya satu centimeter jaraknya. Keonho peduli setan, ia langsung mencium bibir bawah Juhoon. Ia kulum dengan kasar seperti mengulum jakun Juhoon tadi.
Juhoon yang juga bernafsu, lidahnya lihai bermain diluar bibirnya Keonho, seperti meminta izin masuk kedalam. Keonho mengerti, jadi ia buka mulutnya untuk mempersilahkan. Juhoon menggunakan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Keonho, mengabsen deretan gigi Keonho yang rapih, berakhir lidah mereka menyatu dan saling bergelut. Keduanya membuka mulut, namun Keonho yang paling berisik disini, “Ahmmhh.. hhh.. hmmhh.. ahm.. Kak — akhm..”
Ciuman mereka semakin dalam, sampai dimana ciuman itu terlepas. Karena Keonho sudah kehabisan napas. Sungguh sekarang napasnya terengah engah lelah. Tapi berbanding terbalik dengan memeknya yang sekarang secara tak langsung bersentuhan dengan kontolnya Juhoon yang besar dibawah sana. Bahan kain celana pendek mereka itu tipis sekali. Jadi sangat mudah merasakan kelamin satu sama lain.
“Memeknya udah basah banget ya, Adek?”
“Ka — ewe aku, Kak. Masukkin kontol gede Kakak ke memek becek aku..”
“Coba masukkin sendiri.” Juhoon berkata seperti itu dan terkekeh kecil.
Keonho sudah tidak tahan. Tak ada waktu lagi untuk dirinya berdiri dan melepas celananya serta celana kekasihnya. Sial. Juhoon lebih ingin menyaksikan dirinya bergerak sendiri.
Keonho memegang pundak Juhoon, untuk menahan tubuhnya yang sekarang sedang memaju mundurkan pantatnya tepat di kontol Juhoon yang menonjol keatas. Keonho mendongak keenakan, “Ahh.. Kakak.. Ahh.. Enak.. Kontol Kakak gede banget.. Memek aku keenakan.. Ahhmmh..”
Juhoon juga mendesah pelan karena kontolnya digesek gesek sama memeknya Keonho yang basah. Juhoon bisa rasain gimana cairan basah itu nembus ke celana berbahan tipis nya itu. Gila. Gila. Juhoon udah gila karena sekarang pantatnya Keonho ia raba, lalu ia remas. Beberapa detik kemudian, bokong milik Keonho ia angkat sedikit, agar Juhoon juga bisa bergerak dibawahnya. Keonho semakin ribut, “Ahh.. Kakak.. gerakkin terus sampe kita bucat.. angh.. anghh.. nghh..”
Kini mereka saling menggesekkan memek dan kontol masing-masing dengan tempo acak tak beraturan. “Ah anjing, enak banget kamu Adek. Dasar perek. Memeknya murahan, ngulum jakun aja bisa sebecek ini. Ahhmm..” Keonho mendengar segala kata kata kotor yang Juhoon lempar kepadanya. Tapi pandangannya sibuk memerhatikan jakun Juhoon yang naik turun sebab Juhoon berbicara dan mendesah.
Keonho tak ingin diam saja, ia memiringkan kepalanya untuk masuk lagi ke tengah leher Juhoon. Juhoon mendongakkan kepalanya memperbolehkan. Jadi Keonho dengan bebas menghisap, menjilat, mengulum penuh sampai masuk ke mulutnya itu. Dibarengi oleh kontol dan memek mereka yang masih saling gesek.
Juhoon sekarang malah gesekin kontolnya lebih keras dari sebelumnya dibawah Keonho. Keonho mendesah ribut lagi sambil ngulum keenakan, “Mmmhh.. ahmmm.. enakhhmm..”
Sampai dimana dua duanya klimaks. Juhoon ngeluarin peju di dalam celananya. Sedangkan Keonho pipis banyak banget, pipisnya meleber nembus ke celana Juhoon nyampur sama peju nya. Juhoon ngerasain hangatnya pipis Keonho yang meleleh. Enak banget rasanya. Enak.
Juhoon membawa Keonho ke pelukannya. Kini mereka berpelukan dengan keadaan napas yang masih terengah engah nikmat, badan mereka yang sama sama terasa lengket dan panas, dengan bawahan mereka yang banjir karena klimaks berdua.
Keonho melemas, jadi ia menurut ketika tubuhnya dibawa untuk dipeluk. Menaruh kepalanya di dada Juhoon.
“Kakak.. makasih.. enak banget..”
Tanpa sepengetahuan Keonho, Juhoon menyeringai tipis. Pikiran jahatnya membawa Juhoon melakukan hal yang lebih dari sekedar menggesekkan kontol dan memek mereka. Tapi juga memasukkan kontol itu ke lubang memek milik Keonho.
Menurut Juhoon, yang tadi itu hanya pemanasan. Permainan yang sesungguhnya dimulai sekarang.
