Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-27
Updated:
2026-05-03
Words:
33,917
Chapters:
18/?
Comments:
17
Kudos:
130
Bookmarks:
3
Hits:
1,166

Classified Obsession

Summary:

Di DSO, kesalahan terkecil bisa membunuhmu—tapi di bawah pengawasan Leon S. Kennedy, satu-satunya hal yang lebih berbahaya dari kegagalan misi adalah keinginan untuk menyentuh sang instruktur.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Washington D.C. selalu terlihat lebih abu-abu dari balik kaca jendela bus yang membawaku menuju Federal District. Di pangkuanku, sebuah map hitam dengan logo elang perak—simbol Division of Security Operations—terasa seberat beton.

Menjadi agen DSO bukan sekadar pilihan karier bagiku. Itu adalah obsesi yang tumbuh dari reruntuhan.
Aku masih ingat bau asap dan jeritan yang membeku di udara saat tragedi biologis pertama kali menyapu kota kelahiranku bertahun-tahun lalu. Dunia menyebutnya statistik, tapi bagiku, itu adalah alasan mengapa aku tidak pernah bisa tidur tanpa lampu menyala. Aku bosan menjadi korban.

Aku bosan merasa tidak berdaya saat monster—baik yang berbentuk mutasi maupun manusia—menghancurkan segalanya.

Maka, di usiaku yang ke-24, setelah lulus dari akademi militer dengan predikat sepuluh besar, aku memberikan segalanya untuk satu tujuan: DSO.

"Y/N," suara berat dari interkom membuyarkan lamunanku. "Ruang evaluasi akhir. Sekarang."
Aku berdiri, merapikan kemeja putihku yang kaku. Di dalam ruangan itu, tiga panelis menatapku dengan wajah tanpa ekspresi.

Di atas meja, terdapat hasil tes fisikku yang melampaui standar rata-rata rekrutan pria, dan hasil tes psikologiku yang menunjukkan tingkat ketahanan mental yang... berbahaya.

"Kau tahu risiko bergabung dengan divisi ini?" tanya salah satu panelis, seorang pria tua dengan bekas luka di pelipisnya.

"Kita tidak melawan kriminal biasa. Kita melawan sesuatu yang seharusnya sudah mati."
"Saya tahu," jawabku tegas. Suaraku tidak bergetar.

"Dan itulah alasan saya di sini. Saya lebih suka mati dengan pistol di tangan daripada mati bersembunyi di bawah tempat tidur."

Panelis itu terdiam sebentar, lalu menggeser sebuah tablet ke arahku.

"Skormu di simulasi taktis hampir sempurna. Instingmu tajam, mungkin terlalu tajam untuk seseorang seusiamu. Tapi ada satu hal yang tidak bisa diajarkan di akademi."
Dia menatap pintu di belakangku yang perlahan terbuka.

"Pengalaman lapangan. Dan orang yang akan memastikan kau tidak mati di hari pertama adalah instruktur barumu."

Aku menoleh. Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.

Seorang pria masuk. Rambut pirang gelapnya yang ikonik sedikit menutupi matanya, wajahnya keras seolah dipahat dari batu, dan jaket kulitnya membawa aroma dingin malam Washington.

Dia tidak menatapku langsung, dia hanya mengambil dokumenku dengan gerakan efisien yang sangat profesional.

Leon S. Kennedy.

Pria yang fotonya ada di setiap buku sejarah taktis DSO. Legenda hidup.

Pria yang selamat dari Raccoon City dan menyelamatkan putri presiden di Spanyol saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah.

"Dia punya potensi," suara Leon rendah, serak, dan mengirimkan getaran aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya ke sumsum tulang belakangku.

“Tapi potensi tanpa disiplin hanya akan membuatnya menjadi mayat yang cantik."

Dia akhirnya menatapku. Mata birunya yang tajam mengunci mataku, seolah dia sedang membedah setiap rahasia yang kusimpan.
Tidak ada keramahan di sana. Hanya otoritas mutlak.

"Selamat datang di DSO, Rookie," ucapnya dingin.

"Latihan dimulai jam lima pagi. Jangan terlambat, atau kau bisa langsung mengemasi barang-barangmu."

Dia berbalik pergi bahkan sebelum aku sempat memberi hormat. Aku berdiri di sana, mengepalkan tangan di samping tubuh.

Di antara rasa kagum yang meluap dan ego yang sedikit tergores, aku menyadari satu hal.

Dua belas tahun pengalaman memisahkan kami. Namun, di bawah tatapannya yang sedingin es tadi, aku tahu bahwa bertahan hidup
dari monster hanyalah awal dari ujian yang sebenarnya.

Ujian terberatku... adalah pria itu.