Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-27
Words:
1,533
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
14
Bookmarks:
1
Hits:
409

Menunggu Akhir, Menjemput Awal

Summary:

Pada akhirnya Shua sadar, ia tidak bisa menyelamatkan semuanya.

Termasuk belahan jiwanya.

Notes:

aku menulis ini karena ingin meluapkan dukaku karena salah satu anggota keluargaku meninggal karena kanker.
my heart goes out to those cancer survivors and warriors. you're the true superheroes on earth.

Work Text:

Shua duduk di pinggir ranjang rumah sakit tempat suaminya terbaring setelah operasi. Ia memandangi wajah pucat pasi yang biasanya ceria dan penuh dengan tawa. Seokmin tertidur pulas setelah berjuang di kamar operasi mempertaruhkan nyawanya.

Rumah sakit bukanlah tempat yang asing bagi Shua. Ia mencari nafkah dengan menyembuhkan banyak orang dan membantu bagi mereka yang butuh pertolongan. Ia sangat menyukai pekerjaannya, ia sangat suka menjadi dokter. Namun ia tidak suka berada di rumah sakit sebagai seorang pasien atau keluarga pasien. Bau antiseptik yang seharusnya tidak lagi memuakkan baginya, saat ini begitu memuakkan. Ia sangat ingin keluar dari sini.

“Hmm..” Seokmin mengernyitkan dahinya dan meracau tidak jelas. Shua buyar dari lamunannya kemudian segera berdiri mendekati Seokmin yang baru saja siuman. “Sayang..?” bisik Shua lembut.

“Udah selesai operasinya?” Seokmin melihat ke sekitar dan terasa nyeri di bagian luka setelah operasi. “Iya, udah selesai. Ini kamu udah dibawa ke rawat inap. Tadi kata dokter bedahnya pendarahan kamu sedikit, tanda vital kamu bagus jadi ga perlu nginep di ICU.”

Seokmin masih seperti linglung.

“Kamu istirahat aja lagi, nanti kalau ada apa-apa aku panggilin nersnya.” Shua menyibakkan selimut sambil melihat perban bekas operasi dan kantong drain yang berfungsi menampung cairan sisa operasi. Semenjak kanker menggerogoti tubuh suaminya, ia tidak tega melihat Seokmin semakin kurus seperti ini.

Being a doctor is a blessing and a curse sometimes.

Cursenya adalah ketika ia tahu pertama kali suaminya didiagnosa kanker stadium empat, ia tahu prognosis atau peluang kesembuhannya. Ia tahu bahwa suaminya tidak memiliki peluang besar untuk sembuh.

Butuh waktu berminggu-minggu untuk Shua berdamai dengan keadaan dan kenyataan. Badannya pun juga menjadi kurus karena tidak nafsu makan memikirkan keadaan suaminya.

Shua pun menyadari bahwa berlarut dalam keterpurukan dan kesedihan tidak membawanya kemana-mana. Ia bersikeras akan mencari rumah sakit, dokter, dan pengobatan yang terbaik untuk suaminya. Tuhan tidak tidur, Shua percaya itu. Ia masih percaya bahwa secercah keajaiban untuk suaminya hidup panjang itu masih ada.

Sebulan sudah berlalu, Seokmin sudah dirumahkan. Ia duduk di teras dengan sweater yang dulu pas tapi sekarang tampak kebesaran. Shua menyuapinya bubur polos dengan ayam suwir, semenjak kemoterapi, lidahnya terasa seperti bukan miliknya, bumbu kuning bubur yang biasa menjadi favoritnya kini terasa begitu aneh.

“Enak ga buburnya?” tanya Shua.
“Enak dong, bikinan suamiku yang paling cakep.” Seokmin tersenyum.

Satu hal yang membuat Shua semangat ingin terus berjuang menyembuhkan Seokmin adalah, walaupun ia tahu kanker di tubuhnya begitu sakit, Seokmin tidak pernah mengeluh. Ia menjadikan penderitaannya penuh dengan canda dan tawa. Setiap kali ada keluarga atau teman yang datang, mereka bilang Seokmin tidak seperti orang sakit karena kelakuannya tidak berubah dari saat ia sehat.

“Kamu makan juga dong, Yang. Masa aku doang yang sarapan.” Seokmin menyeruput air putih hangat setelah selesai disuapi Shua. “Iya, ini aku mau nyeplok telur aja sama nasi anget ditambah kecap. Kamu masih mau di teras apa mau pindah ke kamar?”

“Mau disini dulu aja, aku mau berjemur, udah lama ga kena matahari.” Shua menuruti kemauan Seokmin. Ia masuk ke dalam membawa gelas dan piring Seokmin.

Pagi itu cerah sekali, matahari menyinari pekarangan rumah mereka. Hangat rasanya, Seokmin suka. Ia menatap kosong rumput hijau yang sudah panjang di halamannya. Biasanya dulu ia dan Shua membagi tugas, urusan dapur tugasnya Shua, urusan berkebun tugasnya Seokmin. Tapi semenjak sakit, rumput halaman yang biasanya bersih kini mulai memanjang. Beberapa tanaman juga jadi kering karena sudah lama tidak disiram dan hanya mengandalkan air hujan di musim kemarau ini.

Akan seperti apa rumah mereka apabila Seokmin pergi?

Seminggu kemudian jadwal Seokmin kontrol. Seperti biasa Seokmin diperiksa oleh profesor onkologi lalu dijelaskan hasilnya ke Shua dan suaminya.

Raut wajah profesor itu tidak mengenakkan. Seperti akan ada berita buruk untuknya.

“Kalau dari hasil scan terbaru, ini sudah ada penyebaran atau metastasis ke paru ya. Itu juga penyebabnya kenapa Pak Seokmin agak sesak dan batuk. Kita sambil terus usaha dengan kemonya ya, nanti setelah siklusnya selesai kita scan lagi.” jelas dokter. Shua rasanya seperti terjun dari rollercoaster.

“Prof, sebenarnya usaha yang kita lakukan ini arahnya lebih ke kuratif atau paliatif?” tanya Shua dengan wajah yang sudah lemas.

“Sepertinya untuk kuratif sudah tidak memungkinkan lagi. Kita tetap lakukan pengobatan untuk mengurangi rasa sakitnya ya. Keajaiban itu masih mungkin, tapi kita harus usaha dulu.” jawab profesor itu. Tangan Shua dingin, kakinya lemas. Ia ingin jatuh, tapi masih ada Seokminnya yang harus ia dukung.

Sepulang dari konsultasi, Seokmin duduk berdua dengan Shua melihat langit senja yang indah.

“Udah ga ada harapan ya?” tanya Seokmin dengan nada datar. “Sayang..”
Shua tidak bisa membendung lagi air mata yang ia tahan dari ruang konsultasi sampai rumahnya. Ia menangis sejadi-jadinya, memeluk Seokmin erat seolah ia akan pergi saat itu juga.

“Maaf ya, maaf aku ga bisa apa-apa.” derasnya air mata Shua membasahi sweater Seokmin. “Kenapa minta maaf? Kamu udah mengusahakan yang terbaik buat aku. Kamu sabar, kamu ikhlas dengan keadaan suami kamu yang kayak gini. Kamu tetap berjuang cari cara buat aku sembuh sambil kerja juga. Aku tau kamu juga capek.” Seokmin mengusap kepala Shua dan menyeka air matanya.

“Aku yang harusnya minta maaf dan berterima kasih banyak sama kamu.”
Shua melepaskan pelukannya dan melihat ke kedua mata Seokmin yang juga membendung air mata.

“Aku mau lebih lama sama kamu…”
“Kalau aku ga bisa nemenin kamu sampai tua, nanti dedek yang nemenin ya.” Seokmin mengelus perut Shua. Ya, beberapa hari lalu Shua dinyatakan positif hamil oleh obgynnya setelah lima tahun menjadi pejuang dua garis. Berkali-kali gagal IVF, mungkin ini cara Tuhan untuk membuatnya semangat melanjutkan hidup walau kenyataannya pahit.

Satu bulan kemudian, Seokmin terbaring di ranjang rumah sakit setelah melalui pengobatan kemoterapi kelimanya. Ia begitu lemas, mual, badannya sakit-sakit sampai rasanya bergerak sedikit pun tak nyaman.

“Mau muntah…” rintih Seokmin lemas. Shua yang tadinya sedang duduk memainkan ponselnya langsung bergerak cepat berdiri namun keduluan oleh Jeonghan, iparnya.

“Udah Shu, kamu duduk aja, biar Mas yang beresin.” Setelah mengetahui bahwa sakit adiknya semakin parah, Jeonghan, kakak Seokmin langsung terbang ke Jakarta untuk membantu Shua.

Kandungan Shua menginjak trimester dua, kata dokter ini kehamilan yang riskan jadi harus benar-benar dijaga. Namun bagaimana caranya Shua menghindari dirinya dari stress kalau setiap malam ia melihat suaminya terbaring di kasur rumahnya ia selalu memerhatikan dadanya apakah masih ada gerakan pernapasan atau tidak. Tidak ada yang tahu berapa bulan atau hari atau bahkan jam yang tersisa untuknya bersama suami.

“Udah ya.. Aku mau berhenti kemo.” Kalimat itu membuat Shua dan Jeonghan terkejut.
“Aku capek, sakit..” Baru kali ini ia mendengar Seokmin menyerah. Sepertinya memang pertempuran harus mereda. “Shua, aku ga mau kemo lagi. Udah ya, Sayang? Kita pulang aja ke rumah.”

Shua menatap lekat-lekat kedua mata Seokmin yang mulai kehilangan apinya.

Mungkin ini jawabannya.

Mungkin langkah yang selanjutnya ia ambil bukan untuk menambah waktu namun menghargai waktu yang tersisa. Setiap jam, menit, dan detik yang tersisa bersama belahan jiwanya adalah waktu yang paling berharga.

Shua seperti berlari menuju akhir yang tidak kelihatan ujungnya tapi sewaktu-waktu akan dipaksa berhenti. Ia menangis sejadi-jadinya seolah Seokmin sudah tiada. Ia membayangkan betapa hari-harinya akan sepi dan muram kalau ‘matahari’nya sudah tidak menghangatkan rumah mereka lagi.
Selama Shua berkarir menjadi dokter, ia selalu mengusahakan yang terbaik untuk pasiennya. Ratusan terima kasih, pelukan, rasa syukur yang diterima olehnya dari pasien adalah bahan bakar semangatnya. Duka dan suka sudah ia lalui.

Ia tidak bisa egois, ia tidak bisa memaksakan kehendak, ia tidak bisa merubah takdir.
Pada akhirnya, kita tidak bisa menyelamatkan semuanya. Sekalipun itu orang yang kita sayang.
Ia berdamai dengan keadaan dan menghormati keputusan sang suami. Mereka menghabiskan saat-saat terakhirnya dengan membuat memori indah untuknya dikenang di kemudian hari.

Mereka bilang level cinta yang paling tinggi ada keikhlasan.
Itulah yang Shua lakukan ketika harus melihat suaminya di peti berwarna putih, tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Ia akan sangat merindukan senyum itu. Ia akan rindu menggenggam tangannya, mencium bibirnya, memeluk tubuhnya.

Duka itu aneh dan tidak ada obatnya.

Walaupun Shua tahu bahwa umur suaminya tidak panjang, tapi tidak ada yang pernah bisa mempersiapkan dirinya saat ditinggal orang yang dicintai. Seokmin itu belahan jiwanya, separuh hidupnya, sahabat sehidup sematinya. Hari ini, ia harus kehilangannya.

Selesai prosesi pemakaman, keluarga besar Shua dan Seokmin berkumpul di rumah dan menemani Shua selama beberapa hari ke depan. Rumah itu ramai, bahkan lebih ramai dari biasanya. Namun Shua merasa sepi, sangat sepi.

“Kamu udah makan?” Jeonghan duduk di samping Shua yang melamun di sofa. “Makan yuk, ada rendang.” Shua hanya bisa tersenyum. Boro-boro makan, minum air putih pun seperti menelan beling.

Jeonghan mengelus perut Shua yang sudah mulai terlihat membesar.

“Raga Seokmin memang udah ga ada di dunia ini, tapi jiwanya tetap ada di sekitar kita, ngejagain kamu dan dedek juga.” kalimat Jeonghan menenangkannya sedikit. “Anak ini juga yang bakal ngejagain kamu nantinya.”

Seokmin memang sudah tiada, namun di dalam perut Shua sedang tumbuh bagian dari suaminya. Kenyataan bahwa saat bayi ini lahir ia tidak akan melihat wajah Ayahnya membuat hatinya sakit. Ia rasanya ingin sekali menyusul Seokmin.

Namun ia harus kuat, tidak untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri. Shua melihat sekitarnya, ia dikelilingi keluarga yang terus akan menemaninya. Beberapa bulan lagi juga akan ada bayi kecil yang merupakan anugerah dari Tuhan. Ia tidak boleh menyerah.

Ia harus melanjutkan hidup. Ini adalah awal dari perjalanan barunya.

Sayang, doakan aku dari atas sana ya. Kunjungi aku dalam mimpi agar rinduku sedikit terobati. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.







my tellonym

my X