Work Text:
“My mom will arrive around 11pm.”
“So what?”
“Go kiss me. Strip me bare.”
Emira menghempaskan dirinya pada sofa kecil empuk di kamar Binar. Matanya memicing, menatap Binar dengan senyum miring yang menganggap ini hanya gurauan semata. “Lagi hormon, ya? Kita baru balik acara, Binar, jangan ngada-ngada minta ditelanjangin deh.”
Binar merayu Emira. Enam bulan berpacaran, dia tidak pernah memancing perempuannya sampai sebegininya, jadi ini adalah yang pertama. Binar juga tidak mengerti, jujur. Namun sensasi ingin disentuhnya mendominasi. She wants Emira to touch her body. She needs it to be her.
Binar beringsut, angkat rok hitam ketat yang dikenakan Emira. Ia sentuh perlahan paha bagian dalam lawannya, Emira terlonjak. “Sayang?”
Kemudian tangan nakal itu naik ke atas, sentuh sesekali kedua buah dada Emira. Lalu lepaskan kancing-kancing kemeja putih milik Emira. Gila mampus, Binar di atasnya seperti ini buat Emira tahan mati-matian lenguhannya.
Seakan belum cukup, Binar turut angkat rok hitam ketatnya hingga underwear-nya nampak. Kemudian ia menyentuh bokongnya menggoda.
Lagi-lagi, ia bayangkan Emira yang lakukan itu terhadapnya.
Emira menghela nafas berat. Make out dengan Binar tidak pernah ada dalam rencana hidupnya. Tidak sekalipun dengan status pacaran mereka.
Binta menyatukan bibir mereka. Ia lumat lamat-lamat objek kesukaannya hingga timbulkan suara basah akibat pertukaran saliva.
Pagutan sesaat itu dilepas juga oleh sang pemulai. Nafas mereka menderu, dalam jarak sedekat itu mereka bisa rasakan lenguhan masing-masing. Emira juga bisa rasakan matanya berair, perasaan membuncah nan memabukkan kuasai dirinya dalam sekejap. Sedangkan Bintan? Ia lebih parah. Seluruh wajahnya nyaris memerah akibat rangsangan-rangsangan yang diperbuat oleh dirinya sendiri.
Sekarang Binar ada di pangkuannya. Tanggalkan kemejanya. Lepaskan pengait bra miliknya. Namun ketika melihat Emira minim reaksi, ia dengan gila menyentuh tak sabaran buah dada miliknya sendiri.
“A-ah, Emira. Please do me.”
Sinting, batin Emira.
Ikuti instingnya, Bintan tuntun bagian atas tubuhnya mendekati Emira. Benturkan buah dada mereka, pancing Emira untuk bereaksi lebih atas perlakuannya. Emira frustrasi lihat Bintan hilang akal begini—tapi ia suka, sangat.
Sinting memang Binar Anindya ini.
“Kasur yuk, Bin?”
---
Sekarang keduanya nyaris hilang akal. Binar tertidur lemah dalam rengkuhan sang dominan. Kecupan-kecupan bernada acak tidak lagi menggema ke seluruh ruangan. Kemeja mereka pun sudah tanggal. Menyisakan mereka dengan rok ketat yang sudah terangkat hingga underwear mereka yang basah itu terlihat. Pola-pola yang terbentuk pada bibir, leher, tengkuk, bahkan dada. Basah, bibir mereka bermandikan saliva. Basah, bagian bawah mereka juga turut respon kegiatan tak senonoh yang mereka perbuat.
“It was good to feel you touch mine, Binar. Sleep well, sayang.”
