Work Text:
Ducheng got letter from himself in future that he will meet someone that change his life... His whole life.
Ada belasan surat bertumpuk di meja, sebagian berserakan. Rumah kecil itu terlihat penuh dan memuakkan. Namun untungnya pemiliknya tidak merokok. Cahaya matahari seolah enggan masuk ke dalamnya. Sangat lembab dan bocor hampir di semua dindingnya.
Seorang pria tidur dengan nyenyak di atas sofa tua yang warnanya tidak lagi jelas. Seperti campuran debu dan lumut. Entah bagaimana dia bisa melakukannya.
Saat ia terbangun, dia akan merobek surat-surat itu dan membuangnya sembarangan.
"Pajak, listrik, air... Apa ini?"
Pria itu membolak-balik suratnya. Suratnya polos tidak ada tulisan—oh ada sebuah daun kering menempel di ujungnya.
Pria itu membukanya dan menemukan secarik kertas di dalamnya. Tulisannya cukup simple.
"Aku memandang matanya, dan hidupku berubah"
Apa ini semacam surat nyasar? Atau orang iseng yang menerbangkannya melalui sela-sela rumahnya?
Di dalam amplop ada hal lainnya—sebuah kelopak bunga kering. Dia bahkan tak tau itu bunga apa.
Sebelum sempat ia berfikir, seseorang memasuki rumahnya dan mulai mengomel
"Ah rumahmu selalu seperti tempat sampah. Eh cepat ganti bajumu, ada proyek besar"
Pria itu melirik teman di depannya, memandangnya dengan senyum lebar bodoh itu.
"Menyebalkan, sudah kubilang aku takkan melakukan pekerjaan itu lagi"
Namun pria temannya itu tidak mau tau dan mendorongnya ke kamar mandi
"Airmu ada?" pertanyaan itu membuat keduanya berhenti
Benar, dia belum bayar air sejak 4 Minggu lalu.
"Aish, sudahlah ayo kita langsung kesana saja. Kau hanya perlu berdiri disana agar orang-orang itu tidak menggangu"
Berbulan-bulan lalu, sebuah penemuan membuat masyarakat marah. Ribuan obat perangsang yang mematikan di selipkan dalam obat obatan bantuan dari pemerintah.
Tujuan mereka tentu mengeliminasi kalangan bawah.
Saat ini instansi sedang di gruduk, kekacauan di mana-mana.
"Hei Ducheng, kau lihat itu? Dia adalah kepala pengawas disini"
Temannya menunjuk sosok gagah yang tengah berbincang dengan beberapa orang
'terlihat gagah tapi pengecut' Ducheng melengos pergi tanpa mendengarkan temannya.
Dia mengambil beberapa peralatan dan mulai berjaga. Entah apalagi yang akan di lakukan orang-orang ini dengan masyarakat yang marah. Apakah cukup hanya dengan menakuti mereka dengan beberapa pria berbadan besar?
Dalam sekejap keadaan mulai kacau, Ducheng dan beberapa orang lainnya memukul mundur masyarakat yang mulai protes. Beberapa orang bahkan mulai mengadu domba dan kekerasan mulai terjadi.
Di tengah kekacauan itu mata Ducheng menangkap seseorang yang tengah berusaha keluar dari sana.
'untuk apa wanita hamil kesini?'
Ducheng mungkin bisa mengabaikan nurani nya untuk yang lain tapi tidak untuk seorang ibu yang tengah mengandung.
Ducheng menyimpan tongkatnya dan mulai menyerobot masuk untuk menyelamatkan wanita itu dari keramaian.
"Ayo kita keluar dari sini" Ducheng sedikit berteriak dan langsung menggendong wanita itu untuk keluar.
Setelah bersusah payah, mereka berhasil keluar dari kerumunan dan Ducheng mendudukkan wanita itu di bawah pohon.
Wanita itu tampak kesakitan, Ducheng bertanya-tanya apakah dia akan melahirkan.
Namun dia bilang dia takkan melahirkan. Perutnya membesar bukan karena dia hamil.
Dia adalah kelinci percobaan yang lepas.
Dan dia seorang pria.
Tidak menduga hal seperti ini terjadi membuat Ducheng tak tau harus berbuat apa.
"Tolong saya... Saya mohon..."
Ducheng menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Api mulai terlihat, sepertinya akan ada ledakan. Ducheng semakin panik dan lagi-lagi karena melihatnya kesakitan, dia mengangkat pria itu dan pergi dari sana.
Se sampainya di rumah, Ducheng menurunkan pria itu di atas sofa kumuhnya.
Pria itu tampak memperhatikan. Rambutnya hampir menutupi wajahnya, Ducheng pikir tadi dia adalah seorang wanita dengan rambut pendek.
Perutnya seperti seseorang yang hamil 3 bulan, dengan mengenakan pakaian seperti pasien dia berlari tanpa arah.
Ducheng melirik kakinya yang bergerak tidak nyaman, kaki putih itu di penuhi ruan merah merah yang tampak gatal dan nyeri.
Ducheng melihat sekeliling dan mengambil sebuah botol berisi cairan lalu mulai menuangkannya ke kaki pria itu.
Kakinya terasa lembut walau kelihatannya buruk.
Ducheng meliriknya dan menemukan pria itu menatapnya dengan cemas dan menahan sakit.
"Apa yang terjadi dengan perutmu"
Pria itu memegang perutnya yang buncit
"A- ada anak..."
Ducheng kaget, ia mengerutkan keningnya
"Kau bilang takkan melahirkan"
Pria itu menggeleng "belum waktunya..."
Benar-benar mengejutkan, Ducheng tidak tau harus berkata apa.
Pria itu melihat ke sekeliling, dia tak berkata apapun
"Kenapa? Kau merasa tidak nyaman dengan keadaannya?" Ucap Ducheng dengan ketus
Pria itu menggeleng dengan cepat "tidak tidak, sama sekali tidak— maaf..."
Ducheng menghela nafasnya dan duduk di sebelah pria itu
"Siapa namamu?" Tanya Ducheng dan pria itu menggeleng tanda ia tak tau, atau tak punya?
"Mereka mencarimu?"
Lagi-lagi pria itu menggeleng
"Aku tidak tau... aku hanya tidak ingin disana"
"Semua orang yang ada disana tidak mungkin ingin disana"
Pria itu mengelus perutnya lagi, dia berperilaku seperti ibu hamil
"Kenapa kau terus mengusapnya? Kau menantikan anak itu lahir? Maksudmu bagaimana dia akan lahir?"
Pria itu mengerjapkan matanya, seolah pertanyaan itu sangat sulit ia jawab karena ia pun tak tau jawabannya. Dia hanya merasa dia ingin menjaganya
"Mungkin, ini yang di rasakan seorang ibu"
Ducheng tertawa pelan dan mendengus
"Ngomong apa, kau ini laki-laki"
Pria itu mengulum bibirnya, benar apa yang dikatakan Ducheng
"S- siapa namamu?"
"DuCheng"
Pria itu mengangguk "aku tidak ingat namaku"
Ducheng berdiri dan menaruh botolnya di atas meja
"Pergilah kalau kau sudah merasa sehat"
Mendengarnya membuat pria itu menjadi sedikit kecewa. Ya dia tidak bohong jika dia berfikir Ducheng mengajaknya hidup bersama. Lagipula mereka baru bertemu
Namun dia tidak bisa mengatakannya. Jadi dia hanya mengangguk.
"Aku paham, terimakasih sudah menolongku sebelumnya"
Seseorang datang terburu-buru meneriakkan nama Ducheng dari luar membuat pria itu panik. Dia langsung berlari entah kemana dan bersembunyi. Ducheng ingin bilang untuk tidak khawatir tapi sudah terlanjur
"Hei kawan, ah itu gila sekali. Beberapa eksperimen kabur dan terjadi pembataian massal di sana" temannya duduk di atas sofa dan melemparkan segepok uang ke atas meja
"Bayaranmu" ujarnya
Ducheng mengambil uangnya "kalau sudah pergilah"
"Ya ya ya si paling tidak mau diganggu. Aku juga tidak mau berada di kandang babi ini"
Ducheng tidak berkata apapun namun sesuatu ada di kepalanya saat ini.
Saat temannya keluar, Ducheng mengejarnya dan terjadi perbincangan.
Ducheng kembali kerumahnya dan mendapati pria tanpa nama itu berdiri di tengah ruangan
"Em... aku tidak akan merepotkanmu lebih lama. Terimakasih sekali lagi"
Pria itu berjalan dengan pelan melewati Ducheng hendak keluar, namun di tahan oleh Ducheng.
Pria itu membalik badannya dan menatap Ducheng yang menatapnya
"Em?"
"Kau... apa kau punya tempat tujuan?"
Pria itu melihat keluar, dunia sedang kacau. Cepat atau lambat dia pasti akan tertangkap.
Pria itu kemudian tersenyum, senyum yang dipaksakan
"Tidak apa-apa, kalau memang aku bisa hidup aku akan bertahan"
Ducheng tau pria itu tidak punya tempat pergi, dia akan segera di bantai begitu keluar dari tempat ini. Atau lebih parah dia akan di paksa melanjutkan eksperimen. Ducheng melirik perutnya yang besar dan pakaiannya yang bahkan hanya menutupi sebagian kakinya.
Pria itu bisa jadi bahan pelecehan.
"Tinggal saja disini"
Seakan tak percaya dengan omongan Ducheng, pria itu tidak berkata apapun dan hanya menatapnya dengan tanda tanya.
"Kau... yakin?"
Ducheng mengangguk. Pria itu tersenyum lagi namun kali ini senyumnya lebih manis karena ada ketulusan di baliknya.
Beberapa jam saja sejak pria itu datang, rumahnya sudah hampir bersih. Pria itu langsung menunjukkan rasa terimakasihnya dengan melakukan pembersihan menyeluruh
Saat ini dia tengah mencuci piring dengan air yang baru saja mengalir sebab Ducheng langsung membayar semua tagihannya. Dia tidak biasanya melakukan ini. Biasanya uangnya akan ia gunakan untuk minuman dan junk food.
Namun kini dia justru berbelanja, membeli beberapa kebutuhan rumah.
Setelahnya mereka duduk bersama untuk makan malam.
Ducheng menyodorkan sebuah kantong dengan merknya ter print di atasnya.
Pria itu melihat ke arahnya dengan tatapan bingung
"Baju, kau sebaiknya menggantinya. Aku pilih yang cocok untuk keadaanmu"
Pria itu mengambilnya dan melihat isinya. Wajahnya cerah seketika.
"Terimakasih, aku merepotkan"
Ducheng hanya diam dan mereka melanjutkan makan malam.
Berhari-hari terlewati. Sejauh ini kehidupan mereka baik-baik saja. Perut pria itu semakin besar, sepertinya akan melahirkan sebentar lagi.
Pertanyaannya...
Bagaimana dia akan melahirkan anak itu?
Ducheng kembali dari pekerjaan hariannya, dia melamar di beberapa tempat namun belum ada panggilan. Namun untungnya dia punya banyak koneksi dan kemampuan. Pekerjaan harian pun sudah cukup untuk mereka berdua.
"Apa kau masih sakit?"
Pria itu terbaring dia sofa menatap ke arah Ducheng hendak berdiri namun di larang oleh Ducheng.
Ducheng duduk di sebelahnya dan memberikannya sebuah amplop
"Apa... Ini?"
"Buka saja"
Pria itu menyobek kertas amplopnya dan mengeluarkan isinya. Dia tampak serius membacanya dan di beberapa kata matanya melebar
"I... Ini???"
Ducheng mengangguk dan pria itu memeluknya dengan erat
"Terimakasih"
"Kau... suka? Ini adalah kado ulangtahun dariku"
Pria itu kemudian melepas pelukannya dan menatap Ducheng dengan heran
"Ulang tahun?"
"Mm, kita bertemu hari ini 4 bulan lalu. Maksudku... aku berniat membuat hari itu adalah hari lahir mu. Tapi aku tidak bisa menunggu satu tahun"
"Namaku..."
Ducheng menunjukkan satu baris kata di kertasnya
"ShenYi, namamu Shenyi, kau... suka?"
ShenYi mengangguk, namun perutnya terasa sakit lagi
"Ah benar, aku sudah mencoba telfon temanku di rumah sakit. Kau akan melahirkan Caesar disana. Kita akan kesana sekarang"
Ducheng berlari ke kamar dan membawa beberapa perlengkapan. Mobil yang ia rental membelah jalanan kota, sambil menghindari petugas pemerintahan di jalan.
20 menit mereka tiba di rumah sakit besar di kota itu. Tak banyak yang bisa masuk, untungnya Ducheng punya akses.
Hampir 2 jam Shenyi di ruang operasi. Ducheng menunggu dengan cemas, selain itu dia juga masih memikirkan apakah orang-orang yang dibawa temannya bisa tutup mulut soal ini. Kalau keberadaan Shenyi dan calon bayinya nanti tersebar, mungkin dia harus nekat.
Lampu ruang operasi padam, tandanya operasi sudah selesai.
Seorang berpakaian scrub keluar dari ruangan operasi melepas sarung tangannya dan menurunkan maskernya.
Ducheng menghampirinya dengan tergesa-gesa
"Bagaimana?"
Pria itu mengangguk kepada Ducheng, Ducheng disisi lain merasa lega. Tapi dia juga khawatir.
Anak itu berhasil tumbuh di rahim percobaan pada ShenYi. Tandanya semakin banyak bahaya.
"Aku akan atur laporan operasi kali ini. Dan aku hanya dibantu 2 orang saudaraku. Kau bisa tenang"
Ducheng mengangguk
"Aku mengenal mereka?"
Pria itu tersenyum dan menepuk pundak Ducheng
"Kejadian pabrik 2 tahun lalu kau masih ingat?"
Kejadian itu disebabkan oleh mesin yang overheating, begitu hasil akhir penyidik. Belasan pekerja jadi korban, 9 orang meninggal.
Walau begitu justru berita yang panas adalah pertarungan sengit antara 2 bos pemilik pabrik besar di kota itu.
Salah satunya adalah pemilik pabrik yang kebakaran.
Biadabnya bukan hak-hak korban yang di prioritaskan, melainkan dugaan sabotase dari pihak saingan.
Bahkan keluarga korban tak luput dari serangan. Guna menutup mulut mereka, pihak pabrik diduga melakukan hal-hal kejam.
Ducheng saat itu menyelamatkan 2 orang saat dia pulang larut dari pekerjaannya.
Awalnya dia tak peduli, namun dua orang ini menyusahkannya sehingga mau tak mau dia menolong mereka.
"Aku tidak tau mereka sekarang dokter"
Pria itu tertawa "belum. Ngomong-ngomong, apa rencanamu untuk mereka?"
Ducheng memandang ke ruang operasi
"Bagaimana keadaannya?"
"Lemah. Tapi kalian harus pergi dari negri ini secepatnya. Kau tau kan... kau punya banyak yang berhutang budi padamu. Kau bisa"
Ducheng mengangguk.
Ducheng baru saja memberikan kependudukan pada ShenYi tapi mereka harus pergi lagi. Jadi tampaknya mereka harus mulai dari nol.
Keadaan masih memanas, Ducheng melobi orang sana sini agar lolos imigrasi.
"Aku berjanji kau takkan melihatku lagi, terimakasih kawan"
Ducheng menjabat tangan pria tinggi berpakaian polisi bandara. Pria itu mengangguk dan melirik Shenyi. Pria itu memakai penutup kepala, rambut panjangnya di biarkan tergerai. Di dekapannya ada bayi yang tidak berusia lebih dari seminggu.
"Apa kau yakin mereka akan baik-baik saja?"
"Apa menurutmu mereka akan baik-baik saja disini?"
Pria itu mengangguk dan menepuk lengan Ducheng, meninggalkan mereka yang akan masuk ke pesawat sebentar lagi.
Pesawatnya akan terbang jauh dari negri ini. Ducheng berencana mengambil perjalanan laut kemudian untuk pergi ke tujuannya.
Anak itu menangis dan keduanya berusaha menenangkannya.
"Hei nyonya, beri anakmu itu susu dia sangat kelaparan. Mengganggu tidur saja"
ShenYi menatap Ducheng dengan panik. Mereka hanya punya susu formula, tapi bayi itu belum bisa minum dari botol susu.
Berakhir dengan ShenYi membiarkan anak itu menyusu padanya. Anehnya tanpa ada yang keluar, anak itu justru tenang.
Orang-orang tidak tau fakta bahwa Shenyi bukanlah wanita. Dia terlihat sangat feminim.
Ducheng tidak tau harus apa sekarang. Shenyi sedang menyusui bayinya. Pemandangan yang sedikit... menggairahkan. Padahal Shenyi sudah menutupi tubuhnya agar tidak ada orang yang melihat dadanya yang rata.
Ducheng membuang wajahnya dan mencoba tidur. Setidaknya anak itu tenang sekarang.
.....
7 tahun berlalu. Sebuah pulau kecil dengan pantai yang indah adalah tempat tinggal bagi tidak banyak orang lokal, namun turis sering datang kesana. Keindahan alam yang natural dan bersih membuatnya terkenal di kalangan orang-orang kaya yang doyan menghamburkan uangnya.
Shenyi dan Ducheng tinggal bersama disana. Ducheng membantu Shenyi membuka kafe and resto. Siapa sangka masakannya menjadi favorit disana. Dan lukisan-lukisan yang dilukis Shenyi tergantung sebagai daya tarik turis. Terkadang dia akan menjualnya.
Selain membantu Shenyi, Ducheng juga sering membantu orang-orang disana. Dia di anggap sebagai salah satu orang yang mengamankan disana.
"Dadaaa, aku gambar kerang"
Seorang anak laki-laki yang tampan berlari ke arah mereka. Tangan kanannya memegang kertas berisi coretan dan tangan kirinya memegang botol cat
"Astaga, kamu sudah kotor lagi"
Anak itu menundukkan kepalanya
"Maaf Dadda"
"Kamu minta maaf terus tapi bikin daddamu marah terus, kamu gak dengarkan kata daddamu lagi ya, XiaoXuan"
Anak itu menggeleng
"Dengar kok, Papa. Maaf"
ShenYi menghela nafasnya dan tersenyum
"Kemarikan gambarmu. Biar papamu taruh di buku jurnal"
"Mm" anak itu menggangguk dan memberikan kertasnya ke Shenyi. Ducheng mengambil buku jurnal di dalam laci dan menaruh hasil karya anak itu kedalamnya.
"Sekarang mandi, sebentar lagi makan malam"
"Baik Dadda"
Kehidupan mereka damai. Entah sampai kapan tapi mereka akan hidup seperti itu untuk waktu yang lama.
Selepas makan malam, ShenYi menemukan Ducheng melihat ke arah laut. Matahari sudah tenggelam sejak lama. Angin malam berhembus lembut menyapa ombak yang berderu ringan.
"Sedang apa?"
Ducheng menengok ke arah Shenyi dan tersenyum
"Kemari"
ShenYi duduk di samping Ducheng dan memeluk lengannya.
"Kau tidak dingin?"
Ducheng menggeleng dan mengusap rambut Shenyi lembut.
"Apa yang kau lakukan?"
ShenYi bertanya lagi. Ducheng mengambil sebuah botol berisi gulungan surat di dalamnya.
"Apa itu?"
"Seseorang pernah mengirimkan kertas itu padaku. Aku tidak tau dari siapa. 7 tahun yang lalu, sebelum kita bertemu. Aku fikir itu adalah pertanda, hal baik akan terjadi"
ShenYi melirik ke Ducheng "kau akan membuangnya?"
Ducheng menggenggam botolnya erat dan melemparkannya ke lautan lepas. Botol itu terapung-apung sebelum akhirnya ditelan air asin. Entah kemana lautan akan membawanya.
"Aku hanya merasa harus melakukannya" ujar Ducheng, dia kemudian memiringkan kepalanya dan mengecup bibir ShenYi dengan hangat.
"Terimakasih sudah meminta bantuan padaku hari itu. Dan terimakasih sudah mempertahankan Xiaoxuan waktu itu"
ShenYi tersenyum dan memeluk Ducheng erat
"Akulah yang berterima kasih. Mungkin aku sudah mat-"
Ducheng mendorong ShenYi ke pasir lembut pantai, menelan semua kata-kata kedalam ciuman panas mereka malam itu.
"Menurutmu, apa kamu bisa hamil lagi?"
ShenYi memukul lengan Ducheng pelan dan menyembunyikan wajah tersipunya ke dada Ducheng.
"Coba saja"
....
