Actions

Work Header

Hadiah Taruhan

Summary:

Dengan mengajukan taruhan, siapa yang berhasil membujuk keponakan Soobin, maka dialah sang pemenang dan berhak mengajukan keinginan. Dan, Yeonjun yakin bahwa dia akan berhasil membujuk anak gemas itu dengan mudah, lalu menjadi pemenang.

Sayangnya, keyakinan Yeonjun hanyalah harapan yang tidak terkabul.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Ungh!”

Lenguhan sang istri membuat Soobin menyeringai kecil. Tangannya menggosok area bawah Yeonjun yang masih terbalut celana dalam, juga telah basah.

Yeonjun menyesal, ia tak menyangka jika ini akan terjadi. Tujuannya membuat taruhan hanyalah untuk mendapatkan kembali hartanya. Mie instan, camilan pedas dan manis favoritnya, serta minuman bersoda rendah dari cengkraman suaminya. Entah di mana laki-laki itu menyimpannya, Yeonjun selalu tak bisa menemukan tempat persembunyian itu.

Dengan mengajukan taruhan, siapa yang berhasil membujuk keponakan Soobin, maka dialah sang pemenang dan berhak mengajukan keinginan. Dan, Yeonjun yakin bahwa dia akan berhasil membujuk anak gemas itu dengan mudah, lalu menjadi pemenang. Keyakinannya didasari oleh kepercayaan diri bahwa si menggemaskan akan memilihnya, karena Yeonjun-lah yang paling sering menemaninya.

Namun, anak itu justru menghampiri Soobin yang membawa dua bungkus es krim dan menawarkan pelukan. Ketimbang Yeonjun yang membawa tiga boneka barbie beserta kain baru untuk boneka mirip manusia itu.

Tentu saja, anak kecil itu memilih pamannya yang tampan, selalu memanjakannya namun sedikit waktu bersama, dan yang pasti banyak uang.

Soobin-lah sang pemenang. Maka, Yeonjun terduduk di depan cermin, paha terbuka lebar, bibir yang tak berhenti melenguh, dengan pakaian yang tersisa hanya celana dalam, suaminya yang juga duduk di belakangnya, serta jari panjang yang terus menggosok kemaluannya. Mengakibatkan celana dalam yang masih menempel di tubuhnya itu semakin basah oleh cairan.

Benar, yang diinginkan Soobin sebagai ‘hak’ pemenang taruhan ialah tubuh sang istri. Soobin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, apalagi masih ada dua hari liburan sebab hari besar keagamaan.

“Basah banget, sayang.”

Yeonjun tak merespon sindiran yang dilontarkan suaminya. Ia tak lagi bisa berfikir. Rasa yang tak bisa ia jelaskan, menggelitik perutnya setiap kali jari sang suami mencoba menusuk liangnya. Sebab terbatas oleh celana dalam, membuat Yeonjun merintih tak puas.

“Lihat, padahal Mas masih belum ke intinya, Adek sudah basah kelojotan begini.”

Uuh!”

Yeonjun terus merengek dengan ucapan tak jelas. Tangannya yang diikat ke belakang, menggantung pada leher suaminya, membuatnya semakin tersiksa. Ia tak bisa mencengkram apapun untuk melampiaskan gairah yang terpaksa ditahan. Bahkan, meraih rambut Soobin yang mulai panjang saja, Yeonjun tak mampu.

Soobin berhenti. Tangannya meraba perut istrinya, mengelus lembut perut berusia lima bulan itu. Merasakan nafas sang istri yang terengah-engah. Perlahan-lahan naik hingga mencapai payudara yang masih terbalut oleh bra. Meremas dengan lembut, menikmati sensasi empuk dari area favoritnya.

Jari Soobin menarik kain itu ke bawah, membantu bagian tubuh istrinya yang menonjol untuk bebas. Bermain-main pada puting Yeonjun yang sudah menegang akibat rangsangan pada bagian bawah.

“Sayang, Mas selalu suka lihat Adek begini. Baju nggak lengkap, berantakan, apalagi memeknya Adek basah, terus sekarang perutnya besar. Perutnya Adek ada isi, anaknya Mas. Mas suka banget. Makanya, Mas ajak Adek ke depan cermin, biar Adek tau, bagaimana keadaan Adek yang paling Mas sukai.”

Yeonjun menatap pantulan dirinya. Paha mengangkang lebar menempel pada perut buncitnya, memamerkan celana dalam yang basah sebab cairannya, payudara yang dicengkeram tanpa tenaga dengan puting mengintip di sela jari-jari panjang suaminya, dan wajahnya yang memerah.

“Biasanya kalau malam, sebelum tidur, Mas emut ini.” Soobin berucap sembari memilin kedua puting istrinya. Merangsang Yeonjun dengan anggota tubuh lainnya.

Tubuh Yeonjun sedikit melonjak, “Euhh— Mas … jangan main-main aja,” Yeonjun merengek pada suaminya. “Ayo, Adek mau Mas di dalemnya Adek.” Pipi Soobin yang dapat ia jangkau, oleh Yeonjun dikecup lama. Hingga keduanya saling menatap. Dan Yeonjun tak membuang kesempatan, mendekatkan bibirnya pada bibir sang suami, mengajak pria itu untuk bertemu lidah.

Soobin luluh, ia menuruti keinginan istrinya. Kedua tangan Yeonjun yang terikat, dilepas olehnya. Membawa tubuh kecil istrinya di atas kasur. Melucuti sisa kain pada tubuh keduanya.

Soobin menindih tubuh Yeonjun. Menatap kembali tubuh kecil istrinya, memandang ciptaan Tuhan paling indah, paling ia cintai. Menunduk untuk mengecup setiap inci kulit bersih Yeonjun. Sampai pada perutnya yang membuncit, Yeonjun kembali merengek. “Mas, mau langsung.”

Soobin terkekeh kecil, mencium sekali lagi perut istrinya, "Baby Foxie, Papa mau jenguk kamu ... Mama merengek terus, minta Papa masuk." katanya, berhasil membuat pipi yeonjun semakin memerah. Dia menarik tubuhnya, menyanggupi keinginan istrinya. Namun, “Kocok dulu, sayang.” ucapnya. Yeonjun juga menurut. Mengocok kontol suaminya dengan tangan kecilnya. Sesekali memberi jilatan pada ujung batang kemaluan. Soobin puas, selalu puas.

“Cukup, sayang.” Soobin mengurai jari-jari kecil yang melingkupi kontolnya. Membawa kedua telapak tangan itu untuk ia kecup. “Anak pintar.” ucapnya.

Yeonjun tersipu, pujian yang diberikan suaminya ketika ia telah berbuat, terdengar menyenangkan. Yeonjun menyukainya. Selalu. “Hadiah apa yang didapat anak pintar?”

Soobin terkekeh lagi. Lalu berucap, “Hanya kecupan kecil, karena hadiah sesungguhnya, milik Mas.”

Ahh!” Yeonjun memekik desah. Terkejut dengan hal yang menusuk liangnya. Meski sempat diberi rangsangan hingga menghasilkan cairan, tusukan tiba-tiba itu membuat Yeonjun terkejut.

“Bagaimana jika dia bangun? Jangan berteriak, sayang.”

Mendengar lontaran kata dari sang suami, Yeonjun kesal. “Mas yang bikin Adek teriak!” ucapnya mendelik sebal. Delikan matanya lekas berubah ketika ia merasakan penis suaminya menarik diri. “Ungh!”

“Adek—”

“Om! Ochin mau masuk! Ochin mau liat Onty Njun!”

Yeonjun dan Soobin saling bertatap. Suara di balik pintu dan ketukan kecil namun brutal itu, mereka mengenalnya. Dengan teriakan cadelnya, Sujin, si keponakan Soobin, berucap untuk memaksa masuk ke sarang milik sang paman.

“Sayang, Sujin belum tidur?”

Yeonjun menggeleng, “Sujin beneran sudah tidur tadi, Mas. Adek yang bantuin Sujin tidur. Apa karena Adek teriak tadi?”

Soobin menghembus nafas kasar. Menarik kontolnya dari memek Yeonjun. “Sebentar, Sujin!” Buru-buru mengenakan pakaian.

“Cepet, Om! Ochin dengal Onty Njun teliak!”

Ketika Soobin melirik istrinya, Yeonjun menahan tawanya. Sungguh, hal seperti ini tidak pernah mereka duga. Lalu, bagaimana jika mereka memiliki anak kelak?

Notes:

terima kasih sudah membaca fanfik jorok ini. mohon untuk tidak memposting karya ini di platform lain.