Chapter Text
Jam menunjukkan pukul lima sore ketika sebagian besar tim sudah mulai mematikan komputer dan merapikan meja. Di divisi business development, jam segini biasanya jadi batas tipis antara pulang tepat waktu atau tenggelam lagi dalam revisi deck yang “sedikit lagi jadi” dimana artinya, belum jadi sama sekali.
Kim Mingyu masih duduk di kursinya, menatap layar penuh angka proyeksi dan market sizing yang belum terasa ‘klik’. Proposal partnership yang dia kerjakan sejak siang tadi masih terasa kurang tajam di bagian value proposition. Dia menghela napas pelan, lalu meregangkan punggungnya.
Di seberang ruangan, beberapa rekan sudah pamit. Sementara itu, di ujung koridor, pintu ruang manager tertutup rapat dengan lampu yang masih menyala.
Mingyu melirik ke sana sebentar, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.
Dia yakin ini cuma fase.
Serius. Cuma fase.
Tidak mungkin dia, sebagai karyawan yang baru beberapa bulan masuk, masih sibuk membuktikan diri lewat pipeline deal, market research, dan endless revisi pitch, punya perasaan aneh terhadap atasannya sendiri.
Apalagi atasannya itu Lee Jihoon.
Manager business development yang terkenal perfeksionis, detail-oriented sampai ke struktur kalimat di executive summary, dan punya standar tinggi untuk semua hal baik dari cara menyusun strategi ekspansi sampai pemilihan font di proposal.
Dan, sayangnya… terlalu menarik untuk ukuran seseorang yang hobi mengkritik slide sampai margin kanan-kiri.
“Kim Mingyu.”
Nah, itu dia. Suara datar tanpa emosi yang entah kenapa selalu bikin Mingyu refleks duduk lebih tegak.
“Iya, Pak Jihoon.”
Jihoon berdiri di samping mejanya, membawa tablet berisi draft proposal yang tadi dikirim Mingyu.
“Revisi bagian ini,” katanya singkat, menunjuk halaman analisis pasar. “Segmentasi kamu terlalu luas. Targetnya jadi tidak jelas. Kalau kita pitch ke klien seperti ini, mereka akan tanya balik: kita sebenarnya mau masuk ke segmen mana?”
Mingyu mengangguk cepat. “Baik, Pak. Saya perjelas ICP-nya dan fokus ke dua segmen utama.”
“Dan ini,” lanjut Jihoon, menggeser ke halaman berikutnya. “Proyeksi revenue kamu terlalu optimistis. Benchmark-nya dari mana?”
“Dari data campaign sebelumnya, Pak. Tapi mungkin saya belum adjust dengan kondisi market sekarang.”
“Bukan mungkin,” potong Jihoon singkat “Memang belum. Re-check lagi. Gunakan asumsi yang bisa dipertanggungjawabkan.”
Mingyu menerima tablet itu kembali, berusaha mengabaikan fakta bahwa jari mereka sempat bersentuhan.
Singkat. Tidak berarti apa-apa.
Tidak. Berarti. Apa-apa.
“…dan satu lagi,” tambah Jihoon sambil berbalik. “Kalau kamu lembur lagi, pastikan ruang meeting dimatikan lampunya. Kemarin masih menyala.”
Mingyu sempat terdiam sepersekian detik.
Dia ingat jelas semalam dia yang terakhir keluar dari ruang meeting dan lampunya sudah dia matikan. Bahkan, dia juga ingat Jihoon masih di kantor saat itu.
Tapi seperti biasa, Mingyu hanya mengangguk. “Siap, Pak.”
Di divisi mereka punya semacam aturan tak tertulis yaitu semua orang takut sama Jihoon, tapi juga diam-diam menyayanginya.
“Dia cuma nggak bisa ekspresif aja,” kata Seokmin suatu siang, sambil menyeruput kopi
“Kemarin dia beliin snack buat tim, tapi ditaruh di pantry tanpa bilang siapa pun.”
“Classic tsundere,” sahut Soonyoung santai.
Mingyu hanya tertawa kecil, pura-pura tidak terlalu peduli. Padahal dia tahu. Dia yang menemukan Jihoon berdiri canggung di pantry, pura-pura sibuk dengan ponsel saat orang-orang mulai mengambil snack itu. Dan entah kenapa, pemandangan itu… menggemaskan.
Tidak. Ini bukan fase aneh. Ini cuma… rasa hormat berlebihan. Ya. Itu saja. Yakin Kim Mingyu.
—•—
Hari lain, ritme yang sama.
Mingyu kembali lembur.
Layar komputer di lantai kantor sudah banyak yang mati. Hanya beberapa kubikel yang masih menyala.
Dan seperti dugaan, satu ruangan di ujung masih terang.
Tentu saja.
Jihoon.
Mingyu melirik jam di komputernya. Hampir pukul sepuluh malam.
Dia menutup sebentar file-nya, lalu berdiri. Bukan karena pekerjaannya selesai tetapi justru karena otaknya mulai penuh.
Langkahnya berbelok ke pantry. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan dua gelas kopi.
Satu dia letakkan di mejanya.
Satu lagi dia bawa ke ujung koridor.
Tok. Tok.
“Pak Jihoon.”
“Masuk.”
Jihoon mendongak dari komputernya. Sedikit terlihat terkejut.
“Kamu belum pulang?”
Mingyu mengangkat bahu kecil. “Bapak juga.”
“…Proposal untuk klien minggu depan belum final,” jawab Jihoon singkat.
Mingyu mengangguk, lalu mengulurkan gelas kopi yang dia bawa.
“Ini, Pak.”
Jihoon menatap gelas itu, lalu ke arah Mingyu.
“Saya tidak minta.”
“Iya,” jawab Mingyu tenang. “Tapi Bapak pasti butuh.”
Hening beberapa detik.
Jihoon akhirnya menerima gelas itu. “Terima kasih.”
Suaranya pelan, hampir tidak terdengar, sangat berbeda dari nada tegasnya saat meeting.
Mingyu hanya tersenyum kecil. “Sama-sama, Pak.”
Dia tidak menunggu lebih lama, langsung kembali ke mejanya.
Anehnya, malam itu angka-angka di layar terasa sedikit lebih masuk akal. Revisi yang tadi terasa berat mulai menemukan bentuknya.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, lembur tidak terasa seperti beban. Hatinya terasa lebih ringan.
—•—
Hari-hari berikutnya mulai berubah.
Tidak drastis. Tidak jelas. Tapi cukup untuk membuat seluruh kantor, khususnya satu baris meja di divisi business development, saling melirik dengan senyum penuh arti.
Di tengah ritme kerja yang tetap padat, ada pola kecil yang mulai terasa berbeda.
Jihoon mulai memanggil Mingyu lebih sering.
Terkadang untuk hal-hal yang, kalau dipikir-pikir, sebenarnya bisa dia lakukan sendiri. Atau minimal, bisa didelegasikan ke siapa saja di tim.
“Mingyu, cek ini.”
“Mingyu, kamu ngerti bagian ini, kan?” katanya sambil menunjuk layar laptop di ruang meeting kecil yang biasa mereka pakai untuk internal review.
“Mingyu, ikut saya ke meeting.”
Dan bukan meeting biasa, beberapa di antaranya adalah diskusi awal dengan klien potensial. Biasanya hanya dihadiri senior atau minimal yang sudah cukup lama di tim.
Mingyu yang pertama kali diajak sempat kaku setengah mati. Duduk dengan punggung terlalu tegak di kursi ruang meeting, mencatat lebih banyak dari yang diperlukan, dan hanya berbicara ketika ditanya langsung.
Tapi lama-lama, dia mulai terbiasa.
Mulai berani menyela dengan insight kecil saat diskusi berlangsung. Mulai bisa membaca arah pembicaraan Jihoon, bahkan kadang melanjutkan penjelasannya tanpa perlu kode yang jelas.
Bahkan kadang… menikmati.
Menikmati bagaimana diskusi strategi berubah jadi sesuatu yang hidup. Menikmati bagaimana Jihoon, yang biasanya kaku di luar, bisa sangat tajam dan fokus saat membahas peluang bisnis.
Dan mungkin, sedikit menikmati bagaimana Jihoon selalu melirik ke arahnya lebih dulu setiap kali ada pertanyaan teknis.
“Kayaknya Pak Jihoon punya favorit,” bisik Seokmin suatu sore, saat mereka bertiga berdiri di pantry menunggu kopi keluar dari mesin.
Di belakang mereka, whiteboard kecil masih penuh sticky notes berisi daftar prospek klien minggu ini.
“Jelas,” sahut Soonyoung santai, menyandarkan pinggang ke meja pantry. “Mingyu terlalu denial aja tuh buat sadar.”
“Gue nggak—” Mingyu berhenti, lalu menghela napas, menatap gelas kopinya sejenak. “Ini cuma hubungan kerja profesional aja kali.”
Seokmin mengangkat alis. “Yang ngajak lo ke hampir semua meeting klien itu?”
“Yang minta lo review deck dia langsung, bukan lewat grup?” tambah Soonyoung.
Mingyu membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Di kepalanya, terlintas beberapa hari terakhir ia mendapatkan notifikasi chat internal dari Jihoon yang hanya berisi satu kalimat singkat, “ke ruang saya”, atau bagaimana namanya hampir selalu disebut setiap kali ada diskusi mendadak.
“…ya kan emang gue yang lagi pegang beberapa project itu,” akhirnya dia bergumam, terdengar lebih seperti pembelaan diri daripada penjelasan.
Mereka berdua tertawa.
“Sure,” kata Soonyoung ringan.
“Profesional banget,” tambah Seokmin, masih menahan senyum.
Mingyu hanya menggeleng kecil, mencoba mengabaikan mereka. Tapi saat dia kembali ke mejanya, layar komputernya masih menampilkan kalender yang penuh dengan undangan meeting dengan nama Lee Jihoon di sebagian besarnya.
Dan entah kenapa, kali ini dia tidak langsung mengeluh.
—•—
Suatu malam, hujan turun deras.
Dari balik dinding kaca lobby gedung perkantoran itu, kota terlihat kabur oleh tirai air. Lampu-lampu jalan memantul di lantai marmer yang mengilap, sementara suara hujan terdengar samar, teredam oleh pintu kaca otomatis yang sesekali terbuka saat orang keluar masuk.
Sebagian besar karyawan sudah pulang lebih awal juga termasuk tim divisi lain yang biasanya masih bertahan sampai malam. Area lobby yang biasanya ramai kini hanya menyisakan beberapa orang dengan payung dan ekspresi terburu-buru.
Mingyu berdiri di dekat pintu, tas ransel tersampir di bahunya, menatap hujan dengan ekspresi pasrah. Aplikasi ojek dan taksi online di ponselnya terus dia refresh, tapi hasilnya sama saja. Tidak ada driver yang mengambil.
“Tidak membawa kendaraan?”
Mingyu menoleh. Jihoon berdiri di sampingnya, sudah memakai jaket, rambutnya sedikit berantakan seperti baru saja dilepas dari headset meeting.
“Gak, Pak. Tadi kesiangan jadi saya naik gojek hehe. Ini mau ke halte depan aja deh pak, pesen taksi online dari tadi gak dapet.”
Jihoon melirik ke arah hujan yang semakin deras, lalu kembali ke Mingyu.
“Kalau payung, bawa?”
Mingyu kembali menggelengkan kepalanya tanda menjawab tidak pada pertanyaan Jihoon.
Jihoon terdiam sejenak, lalu membuka tas kerjanya. Dari dalam, dia mengeluarkan payung lipat berwarna gelap yang tersusun rapi, seperti semua hal lain yang dia miliki.
“Kita searah,” katanya singkat. “Pakai ini.”
Mingyu berkedip. “Maksudnya… bareng?”
Jihoon menghela napas, seolah sedikit kesal.. atau mungkin menutupi sesuatu.
“Kalau tidak mau, saya pergi duluan.”
“Mau!” jawab Mingyu terlalu cepat.
Jihoon menatapnya sebentar, lalu berbalik, mulai berjalan keluar saat pintu kaca terbuka otomatis, membiarkan suara hujan masuk lebih jelas ke dalam lobby.
Mingyu buru-buru menyusul, berdiri di bawah payung yang sama.
Dekat. Terlalu dekat.
Trotoar di depan gedung basah, memantulkan cahaya lampu. Orang-orang berlalu dengan langkah cepat, sebagian berlari kecil menghindari hujan. Di antara semua itu, mereka berjalan berdampingan, berbagi ruang sempit di bawah payung.
Mingyu bisa mencium aroma parfum Jihoon yang lembut, bisa melihat garis rahangnya dari jarak yang… tidak aman untuk jantungnya.
“Pak,” Mingyu tiba-tiba berkata.
“Apa.”
“…Bapak baik, ya.”
Jihoon berhenti berjalan.
Hening.
Hanya suara hujan yang jatuh di atas payung.
“Jangan bicara sembarangan,” katanya akhirnya, sedikit lebih pelan dari biasanya. “Saya hanya tidak mau karyawan saya sakit.”
Mingyu tersenyum.
“Iya, Pak.”
Tapi dia tahu. Bahkan semua orang di kantor juga tahu bahwa perlakuan Jihoon itu bukan sekadar tanggung jawab.
Dan untuk pertama kalinya, Mingyu mulai ragu.
Mungkin ini bukan fase. Mungkin… ini sesuatu yang lebih.
Sementara di sampingnya, Jihoon menggenggam payung itu sedikit lebih erat, menjaga agar tetap menutupi Mingyu lebih banyak daripada dirinya sendiri dengan harapan Mingyu tidak menyadari betapa cepat jantungnya berdetak.
Karena beberapa hal…
Memang lebih aman tidak diucapkan.
Setidaknya, untuk sekarang.
—•—
Hujan malam itu tidak langsung berhenti.
Dan itu merupakan suatu masalah. Masalah besar, tepatnya, untuk seseorang seperti Kim Mingyu yang secara tidak sadar tidak bisa berhenti memperhatikan setiap detail kecil dari Lee Jihoon yang berjalan di sampingnya. Dia tertegun memperhatikan langkah Jihoon yang stabil sampai caranya sedikit memiringkan payung agar tidak mengenai bahu milik Mingyu.
“Pak, kita jalan terlalu dekat,” gumam Mingyu, setengah sadar.
“Kalau kamu mau basah, silakan menjauh,” balas Jihoon datar.
“…gak juga sih.”
Jihoon mendecak pelan.
Mereka terus berjalan, melewati deretan gedung kantor yang sudah mulai gelap, hanya beberapa lantai yang masih menyala menandakan masih ada orang-orang seperti mereka yang belum selesai dengan pekerjaannya.
Langkah mereka tanpa sadar selaras.
Sampai tiba-tiba—
Brugk
Mingyu terpeleset di permukaan trotoar yang licin.
Dan refleks, dia meraih apa pun yang ada di dekatnya.
Termasuk Jihoon.
Payung miring. Dunia seperti berhenti sebentar.
Dan sebelum Mingyu sempat benar-benar sadar… Jihoon langsung menarik Mingyu ke pelukannya.
Hingga…
Bibir mereka bertemu.
Hening.
Benar-benar hening.
Hujan masih turun, tapi suara itu seperti jauh sekali. Lampu jalan terasa redup. Segalanya seperti melambat.
Mingyu membeku. Jihoon juga.
Detik terasa terlalu lama.
Sampai akhirnya Mingyu tersentak mundur, hampir kehilangan keseimbangan lagi.
“S-saya—” napasnya kacau. “Saya nggak sengaja—”
“Saya tahu.”
Nada suara Jihoon… aneh.
Lebih pelan. Lebih goyah dari biasanya.
Mingyu menatapnya, jantung berisik.
“Pak Jihoon…” ucapnya takut-takut.
Jihoon tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Mingyu, lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam.
“Ehm..” Jihoon berdeham, mencoba menetralkan suaranya. “Kamu mau pulang bareng saya?” sambungnya kemudian.
“Hah?” sejujurnya Mingyu belum sepenuhnya tersadar dari kejadian tadi. Ditambah Jihoon seperti mengatakan hal-hal yang menurutnya hanya bisa didapatkan di mimpi.
“Maksud saya, baju kamu terlanjur basah. Bukannya tidak enak jika harus menaiki angkutan umum dalam keadaan basah?”
“Oh.”
“Boleh, Pak.”
Seperti terhipnotis, Mingyu langsung menerima begitu saja ajakan sang atasan.
Masih dalam keheningan, mereka berdua berjalan menuju area parkir mobil. Suasana lebih sepi, hanya suara tetesan air dan beberapa mobil yang tersisa. Lampu neon memantul di lantai beton yang lembap.
Keheningan itu masih berlanjut hingga keduanya memasuki mobil milik Jihoon.
“Ini.”
Lagi-lagi Jihoon membuat suatu kejutan dengan menyodorkan jasnya yang baru saja ia ambil dari kursi belakang.
“Hah?” dan Mingyu kembali bereaksi sama terkejutnya dengan kejadian di depan gedung tadi.
“Biar kamu tidak kedinginan, Kim Mingyu.”
“Ah.. terima kasih, Pak Jihoon. Saya pinjam dulu jasnya.”
Dengan cepat Mingyu mengambil jas yang ada di tangan Jihoon dan segera memakainya. Seketika tubuhnya merasa nyaman. Entahlah. Ini sekadar efek tubuhnya terselimuti sesuatu atau aroma parfum Jihoon yang menguar di indera penciumannya.
Tapi yang pasti, tubuhnya merasakan kehangatan kembali.
—•—
“Kim Mingyu,” ujar Jihoon memanggilnya.
Menghentikan aktivitas Mingyu yang baru saja melepaskan sabuk pengaman untuk kemudian turun dari mobil. Ya, mereka kini sudah sampai di depan kostan Mingyu, gang kecil yang sedikit gelap, dengan deretan bangunan sederhana yang kontras dengan gedung kantor mereka tadi.
Hujan masih turun, lebih pelan sekarang.
“Kalau saya bilang,” katanya akhirnya, “itu bukan sepenuhnya tidak sengaja… kamu akan bagaimana?”
Mingyu terdiam.
“Maksudnya… apa, Pak?”
Jihoon menghela napas. Pandangannya masih ke depan. Dia menutup mata sejenak, lalu membukanya lagi, kali ini menatap tepat ke arah Mingyu yang masih terduduk di kursi sampingnya.
Untuk pertama kalinya, dia terlihat… tidak punya pertahanan.
“Saya menyukai kamu, Mingyu.”
Langsung. Tanpa basa-basi.
Mingyu seperti kehabisan kata.
“Saya tahu ini tidak profesional. Saya juga tahu seharusnya saya tidak—” Jihoon berhenti, menelan kata-katanya sendiri. “Tapi saya sudah lelah pura-pura tidak peduli.”
Di luar, suara hujan jatuh pelan di atap mobil.
Dunia terasa terlalu sunyi.
“Mingyu,” lanjut Jihoon, lebih pelan. “Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita lupakan saja. Besok kita kembali seperti biasa—”
“Saya juga suka, Pak Jihoon.”
Jihoon terdiam.
Mingyu balas menatapnya, kali ini tanpa ragu.
“Saya cuma… terlalu denial buat ngaku,” katanya sambil tertawa kecil, gugup. “Saya pikir ini cuma fase. Ternyata bukan.”
Jihoon berkedip pelan.
“…kamu serius?”
Mingyu mengangguk.
Dan entah siapa yang lebih dulu mendekat, tak ada yang benar-benar ingin mengingat. Seolah dunia di sekitar mereka ikut menahan napas, membiarkan momen itu terjadi begitu saja. Kali ini, saat bibir mereka kembali bertemu, tak ada lagi keraguan, tak ada kesan kebetulan. Semuanya terasa begitu pasti.
Bibir Jihoon yang lembut akhirnya menyentuh miliknya dengan hangat. Bibir yang diam-diam telah lama dinantikan Mingyu. Ada rasa manis yang samar, bercampur dengan dinginnya udara malam, menciptakan kontras yang justru membuat detik itu terasa semakin nyata.
Namun Jihoon tidak berhenti di sana. Dengan napas yang sedikit bergetar, ia melepaskan sabuk pengamannya, seakan jarak sekecil apa pun kini terasa mengganggu. Ia mendekat, lebih dekat, hingga tak ada ruang tersisa di antara mereka. Kecupan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, pelan, hati-hati, namun penuh perasaan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Selama ini, Jihoon hanya bisa mencuri pandang pada bibir itu di sela-sela rapat, menahan diri dari keinginan yang terus tumbuh tanpa izin. Kini, semua yang ia pendam seperti meledak sekaligus memberikan perasaan hangat, membingungkan, namun juga memabukkan.
Perutnya bergejolak seperti kembang api yang menyala di langit gelap, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa lega. Karena akhirnya, tanpa perlu kata-kata yang rumit, ia telah mengungkapkan apa yang selama ini diam-diam mengusiknya. Lewat sentuhan yang tak bisa lagi disangkal.
