Work Text:
Hari yang Wonwoo tunggu tiba, hari di mana dia menginjakkan kakinya di sebuah universitas— bukan universitas ternama, tapi cukup untuk bisa membuat dia kabur dari rumah.
Saat itu, Wonwoo resmi meninggalkan seragam putih abu-abunya. Mungkin kebanyakan orang merayakan masa SMA sebagai kenangan yang indah, namun tidak untuk Wonwoo. Baginya itu adalah masa di mana dia harus bertahan, antara hidup dengan tekanan batin atau pergi membawa dendam.
Entah kapan bermulanya semua amarah yang meledak, tapi di saat ayahnya tertangkap berselingkuh dari ibundanya Wonwoo marah besar. Dunianya seketika hancur begitu melihat ibundanya sering menangis, dan ayahnya yang tak segan membentak serta bermain tangan kepada istrinya. Dan itu membuat ibundanya juga tak segan melampiaskan emosinya kepada Wonwoo.
Sejak saat itu, berkali-kali Wonwoo berpikiran untuk kabur dan pergi jauh. Tapi dia menahan diri, karena dia tahu betul pergi tanpa arah dan rencana hanya akan menambah masalah. Dia baru lulus SMA, dan setidaknya ayah Wonwoo masih ada akal sehat untuk membiayai pendidikannya.
Kali ini dia benar-benar pergi, setidaknya tidak hanya kabur tapi juga untuk tumbuh. Walau tak dipungkiri dendam masih membara di hati. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Wonwoo merasa lega. Sunyi di kamar itu terasa lebih menenangkan daripada keramaian rumahnya sendiri. Wonwoo tahu masa lalunya tidak bisa dihapus. Tapi ia juga tahu, masa depannya masih luas dan belum ditentukan.
Wonwoo termasuk salah satu mahasiswa yang aktif—selain memang pandai bergaul dia lebih senang berada di lingkungan kampus dari pada di lingkungan keluarganya sendiri. Dan ‘kesibukan komunitas’ itulah yang selalu Wonwoo jadikan alasan jika ditanya “kapan nengokin rumah?”
Pagi ini seperti biasa, Wonwoo harus berangkat mengejar kelas pagi. Tenang saja, Wonwoo bukan tipe orang yang susah dibangunkan di pagi hari. Mungkin itulah efek dari lebih sering hidup sendiri.
Dan biasanya setelah kelas Wonwoo akan kumpul bersama teman-temannya di area kampus— entah kantin, selasar, atau parkiran. Biasanya mereka menghabiskan waktu untuk menunggu kelas berikutnya, atau hanya sekedar berbincang santai tentang orang-orang di sekitar sana.
Seperti sekarang Wonwoo dan ketiga temannya— Seungcheol, Jeonghan, dan Seokmin sedang berkumpul di kantin setelah kelas. Setelah ini mereka tidak ada jadwal lain, jadi di sini mereka sekedar makan siang sambil membicarakan apa saja yang terlintas di antara mereka.
Ada satu pemandangan yang membuat Wonwoo heran, di ujung sana ada anak berpipi gembil yang tadinya duduk sendirian sambil menikmati sepiring mie goreng tiba-tiba dihampiri 3 orang mahasiswa lainnya. Suara mereka menggelegar di sana, meneriaki anak yang duduk itu. “Heh! Kok malah makan anjing, kan gue suruh nganterin tugas ini ke dosen” Wonwoo tahu, itu suara Bagas—konon katanya mahasiswa tua yang sangat disegani oleh anak-anak lain.
Suara Bagas yang menggelegar terasa tidak cukup untuk mengintimidasi anak berpipi gembil itu, dan bisa Wonwoo lihat dari jauh tangannya mulai terangkat dan mendorong kepala anak itu dengan cukup kencang. Wonwoo tidak ingin ikut campur, maka segera dia alihkan wajahnya dari pemandangan di meja belakang sana.
“Buset dah, donatur kampus emang ga ada adab” Suara Seokmin berbisik lirih, dan dibalas anggukan oleh Seungcheol. “Seumuran abang gue tuh, abang gue udah jadi orang dia masih ngider di sini”
“Kasian, dia sering njir digituin sama si kating itu. Biasanya kalo lagi nunggu lo pada gue sering ketemu dia lari-lari bawa tugasnya si Bagas dan kawan-kawan sendirian.” Jeonghan menimpali.
“Ga ada yang bantuin?” Wonwoo bertanya dengan wajah penasaran. “Ya namanya baru semester 1, kaya kita pas baru masuk juga belom ada temen. Dia anaknya juga pendiem” Jeonghan memang sering mengobservasi orang-orang di sekelilingnya. “Siapa namanya?” Wonwoo semakin penasaran.
“Naksir, Won?” Tanya Seungcheol menggoda. “Engga, ya emang pengin tau ga boleh?” Ketiga kawan Wonwoo terkekeh. “Ga tau namanya, tapi biasanya Bagas manggilnya ‘Nyong’” Jeonghan benar-benar penguping handal.
“Won, kalo lo bisa deketin dia gue beliin sepatu yang kemarin lo incer dah” Seungcheol memecah keheningan dengan ide yang tak masuk akal. “Gue tambahin 1,5 juta dah” Tapi ide yang tidak masuk akal itu malah didukung oleh Seokmin, sedangkan Jeonghan bergeleng melihat kelakuan teman-temannya yang memang sudah bisa bermain seperti ini.
Jadi, tidak jarang agenda nongkrong di kantin mereka terganggu oleh orang yang melabrak salah satu dari tiga orang di depan Jeonghan saat ini.
“Njir, bener ya?” Wonwoo jelas menerima tawaran dari keduanya, kapan lagi dia mendapatkan sepatu impiannya tanpa harus bohong ke ayahnya soal uang bulanan yang tiap bulan naik itu.
“Iya, tapi gue kasih waktu dua minggu. Kalo lama-lama mah sama aja bohong” Seungcheol tersenyum miring melihat Wonwoo menerima tawarannya. “Ah ngeremehin gue lo, liat aja” Wonwoo dengan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi.
Tidak menunggu waktu lama untuk Wonwoo melancarkan aksinya, dan sepertinya takdir sedang berpihak padanya.
Seperti biasa, Wonwoo dan teman-temannya akan mencari spot nongkrong di kampus. Kali ini mereka berempat ada di parkiran, niat awal mau langsung pulang. Tapi mereka mengurungkan niat saat melihat mahasiswa baru— yang kemarin mereka lihat di kantin. Sedang berjalan tergopoh-gopoh mengikuti Bagas si kakak tingkat yang tidak tahu diri—yang kemarin menindas anak itu.
“Won” Seungcheol menyenggol lengan Wonwoo sedikit, memberi kode tanpa banyak kata.
Wonwoo hanya mengangkat alisnya dan bibirnya tersenyum miring, ‘Ini saatnya’ batin Wonwoo.
Soonyoung terlihat kewalahan, dan napasnya agak terengah. Bisa Wonwoo lihat langkahnya sedikit tidak stabil.
BRUK
Dan benar saja, Kaki Soonyoung menyenggol tiang yang ada di parkiran. Dan tubuhnya oleng ke samping.
Kebetulan posisi Wonwoo paling dekat, dia langsung menahan tubuh Soonyoung sebelum tubuh kecilnya menyentuh tanah.
“Eh— aduh” Soonyoung kaget, tubuhnya tersentak ketika sadar ada tangan yang sedang menahan tubuhnya.
Soonyoung dan Wonwoo sama-sama diam beberapa detik, jarak mereka terlalu dekat. Hingga Soonyoung bisa merasakan jantungnya sendiri yang berdetak sangat cepat.
“Heh, Soonyoung! Malah caper sama cowok ya lu? Sini anjing”
Suara Bagas menggema di parkiran, nadanya tinggi dan sangat keras—membuat beberapa kepala menengok menatapnya.
Soonyoung langsung tersentak, dan memundurkan pelan tubuhnya dari Wonwoo. Dia merapikan bajunya, dan memungut beberapa kertas yang jatuh sebelum akhirnya melangkah menghampiri Bagas.
Baru tiga atau lima langkah, Soonyoung dibuat berhenti oleh suara Wonwoo.
“Sok keras banget lu” Suaranya tidak keras, terkesan datar tapi tajam. Membuat Soonyoung diam di tempat.
Kaki yang tadinya sudah siap melangkah, mendadak berat. Soonyoung menatap Wonwoo lalu ke Bagas bergantian, seakan mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan. Dan dari sini Soonyoung bisa melihat wajah Bagas yang jelas tidak terima atas perkataan Wonwoo.
“Ikut campur banget lu bocah” Bagas melangkah mendekati Soonyoung. Saat tangan Bagas hampir menarik lengan Soonyoung, Wonwoo langsung maju dan menarik lengan Soonyoung untuk berdiri di belakangnya.
“Mau ngapain?” Wonwoo mendongakkan kepalanya ke Bagas, seakan menantang. “Mentang-mentang dia anak baru lo bentak-bentak, ga ada otak ya?” perkataan Wonwoo benar-benar menyenggol ego Bagas, yang notabenenya lebih tua dari dirinya.
Seungcheol yang dari tadi memperhatikan mulai tersenyum tipis, dan kedua temannya yang lain hanya diam melihat perlawanan Wonwoo terhadap Bagas.
“Lo ga usah ikut campur, gue lagi ngajarin dia biar sopan sama kakak tingkat” Wajah Bagas benar-benar merah menahan amarah. Perkataan Bagas membuat Wonwoo tersenyum kecil—dan lebih terkesan meledek.
“Sopan santun? Anak bayi kalo liat kelakuan lo juga ngerti kalo lo tuh salah.” Wonwoo melirik Soonyoung yang berdiri di belakangnya, kepalanya ditundukkan dan bisa Wonwoo lihat Soonyoung sibuk memainkan jarinya—tanda Soonyoung sedang ketakutan sekarang.
“Udah Soonyoung pulang aja” Wonwoo menyuruh Soonyoung untuk pergi dari situasi ini, tapi Soonyoung tidak langsung beranjak. “Engga, Sini lo Soonyoung!” Bagas menginterupsi situasi.
Soonyoung menatap Wonwoo dan bagas bergantian sebelum akhirnya “Maaf Kak, aku pulang aja” Wonwoo tersenyum menang karena keputusan Soonyoung, dan Bagas pergi dari sana dengan perasaan jengkel dan amarah menggebu.
Begitu Bagas benar-benar menjauh, suasana yang tadi tegang langsung mengendur. Soonyoung kelihatan langsung kehilangan tenaga, bahunya turun. “Kak, terima kasih ya udah nolongin aku” Kata Soonyoung sambil tersenyum ke arah Wonwoo.
“Iya, lain kali jangan mau digituin lagi ya. Udah pulang gih keburu sore” Wonwoo tersenyum melihat Soonyoung yang dengan langkah ringan pergi menjauh dari mereka.
Seungcheol tertawa kencang sekali melihat interaksi Wonwoo dan Soonyoung. “Gokil” perkataan Seungcheol itu membuat Wonwoo menaikkan alisnya dengan senyum miring.
Dan tanpa mereka sadar, di sinilah semuanya bermula.
Keesokan harinya, Ketika Wonwoo sedang duduk sendirian di kantin—menunggu teman-temannya. Soonyoung datang membawa kota makan, dan tangan Soonyoung menyodorkan itu kepada Wonwoo.
“Kata mamah, ini ucapan terima kasih karena kakak udah bantu aku kemarin” Soonyoung sekarang berada di depannya dengan senyum yang sangat lebar dan manis.
“Eh, Repot-repot. Makasih ya” Wonwoo menerima kotaknya dan mulai membuaknya, seketika wangi masakan rumahan mulai tercium—jujur dia rindu ibundanya. “Makasih sekali lagi ya, Soonyoung.” Wonwoo tersenyum kepada Soonyoung. “Sama-sama! Aku kelas dulu ya kak” Soonyoung berpamitan masih dengan senyum yang lebar dan manis.
Jujur Wonwoo sedikit tertarik karena senyuman anak itu.
Dan ternyata, itu bukan interaksi mereka terakhir. Mengingat dare yang Seungcheol berikan, dengan bantuan semesta Wonwoo merasa akhir-akhir ini dia sering sekali berpapasan dengan Soonyoung.
Seperti sekarang, Wonwoo tidak sengaja bertemu Soonyoung yang berdiri di pinggir jalan sendirian. Dia berhentikan motor hitamnya di depan Soonyoung yang tampak terkejut. “Ngapain di sini?” Setelah Soonyoung tahu itu Wonwoo dia bernafas lega. “Nunggu gojek, dari tadi dicancel” Soonyoung tampak lelah, memang cuaca hari ini sangat panas. “Bareng gue aja” Wonwoo memberikan tawaran, Soonyoung tidak langsung menerima dia sempat ragu.
“Ayo gapapa” Setelah tawaran yang kedua kali Soonyoung naik ke atas motor Wonwoo. “Makasih ya kak, maaf ngerepotin.” Wonwoo tersenyum dan melajukan motornya ke arah rumah Soonyoung.
Perjalanan terasa sangat tenang, sesekali Wonwoo bertanya kepada Soonyoung ke mana arah rumahnya dan sesekali basa-basi. “Masih digangguin Bagas gak?” Wonwoo bisa melihat Soonyoung menggelengkan kepalanya “Udah engga, makasih ya kak” Wonwoo tersenyum. “Kalo ada yang gitu lagi, mau selain Bagas jangan takut buat nolak” Wonwoo seperti seorang ayah yang sedang memberikan wejangan kepada anaknya. “Iya kak” Soonyoung tersenyum mendengar nasehat Wonwoo.
Tak lama motor Wonwoo berhenti di depan rumah, yang menurut petunjuk dari Soonyoung itu adalah rumahnya. Soonyoung pun turun dari motor, “Makasih ya kak wonwoo, mau mampir gak?” Soonyoung menawarkan Wonwoo mampir sebagai tanda terima kasih.
Sebelum Wonwoo menjawab, terdengar ada suara “Adek, temennya diajak masuk” Dari dalam rumah. Dan begitu pagarnya terbuka Wonwoo mendadak kaku melihat siapa orang di belakang pagar.
“Pulang duluan ya, Tante, Soonyoung” Wonwoo berpamitan dengan sopan, tanpa ada yang tahu apa di balik isi kepala Wonwoo.
“Anjing, Mamahnya Soonyoung selingkuhan bokap gue” Pesan yang Wonwoo kirim ke grup chat bersama teman-temannya. Wonwoo hanya menatap kosong. Rahangnya mengeras, napasnya masih tak beraturan.
Hp Wonwoo bergetar tanda pesan masuk, dia kira itu dari teman-temannya tapi ternyata nomor asing yang mengirim pesan ke ponselnya. “Kak Wonwoo, maaf lancang aku dapet nomor kakak dari Kak Jeonghan. Sekali lagi terima kasih ya maaf sering ngerepotin.”
Entah, kata-kata yang terdengar manis dan sopan itu justru membuat hati Wonwoo semakin terbakar emosi, dan dia memilih tidak membalasnya.
Wonwoo mengembuskan nafas kasar, dan menatap kosong ke arah depan, rahangnya mengeras. Wonwoo berpikir mungkin ini saat yang tepat untuk membalas dendam atas apa yang sudah keluarga Soonyoung perbuat kepadanya.
Tanpa pikir panjang Wonwoo mengetikkan sesuatu kepada Soonyoung “Nyong, besok ada waktu gak?”
Tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan balasan “Ada, Kak. Ada apa?” Wonwoo tersenyum miring membaca balasan yang dikirim Soonyoung. Tangannya pun mulai mengetik balasan “Besok ketemu ya, mau ngobrol sedikit”
Wonwoo menyandarkan kepalanya ke tembok, matanya terpejam sebentar. Dan untuk pertama kalinya sejak sore itu— Wonwoo merasa emosi menguasai dirinya lagi.
Hari esoknya pun datang, Wonwoo yang sedang bersantai bersama teman-temannya tiba-tiba dihampiri Soonyoung. “Kak Wonwoo, aku baru selesai kelas. Ada apa?” Benar-benar sikap anak yang manis dan sopan.
Respon teman-teman Wonwoo tentu saja tertawa meledek, sambil ada satu dua suara siulan menggoda mereka. “Ikut gue mau gak?” Wonwoo bertanya, dan dibalas anggukan kecil oleh Soonyoung.
“Mau kemana kak?” Tanya Soonyoung begitu motor Wonwoo melaju di tengah jalan raya. “Mau ngajak makan, tapi mampir kos gue dulu ya. Ada yang ketinggalan” Soonyoung pun ikut saja ke mana Wonwoo akan mengajaknya.
“Yuk, masuk dulu” Ajak Wonwoo begitu mereka sampai di kos Wonwoo. Soonyoung dengan malu-malu ikut masuk ke dalam kamar Wonwoo. “Duduk dulu aja, Nyong. Kalo capek boleh tidur dulu” Kata Wonwoo sambil meletakkan segelas air dingin, mengingat suhu cuaca sekarang sangat panas.
Soonyoung mengambil gelas itu dan meminumnya. “Kak Wonwoo, kalo makan di sini aja gapapa?” Tanya Soonyoung, karena jujur dia agak capek setelah kegiatan seharian. “Eh iya boleh, pesen aja mau apa, gue samain aja” Jawab Wonwoo dengan senyum miring ‘Kebetulan’ Batinnya berkata.
Soonyoung hanya diam menatap Wonwoo yang bolak-balik di kamar itu, sesekali sambil membereskan sesuatu. Dan tidak lama, Soonyoung mendapat pesan makanan mereka sudah sampai. Soonyoung tadinya berinisiatif untuk keluar mengambil makanannya, tapi diinterupsi oleh Wonwoo dan berakhir Wonwoo yang keluar mengambil makanan mereka.
Tak lama Wonwoo pun sudah masuk lagi dengan membawa makanan yang mereka pesan, meletakkannya di depan Soonyoung. “Makan dulu”
Mereka mulai makan dalam diam. Awalnya terasa canggung, hanya suara plastik kresek dan sendok yang sesekali beradu dengan wadah makanan. Soonyoung beberapa kali melirik Wonwoo, tapi setiap kali pandangan mereka hampir bertemu, ia langsung mengalihkan tatapannya.
Soonyoung ragu sejenak, jemarinya bermain dengan ujung plastik makanan. “Aku… gak ganggu kan di sini?”
Wonwoo langsung menoleh. “Ganggu? Kalau gue ngerasa keganggu, dari awal gue gak bakal ngajak lo ke sini.”
Suasana kamar mendadak terasa lebih sunyi setelah mereka selesai makan. Plastik bekas makanan masih tergeletak di meja, tapi tidak ada yang benar-benar berniat membereskannya.
Soonyoung menatap Wonwoo beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. “Kak…” suaranya lebih pelan sekarang, hampir seperti bisikan. Wonwoo yang tadi pura-pura fokus ke makanannya akhirnya mengangkat kepala. “Hm? Kalo capek tiduran aja Soonyoung”
Soonyoung ragu, tapi malu. Bukannya Wonwoo bilang ada yang mau dia omongin?
Soonyoung diam duduk menyender ke kasur Wonwoo, dan Wonwoo di sebelahnya sibuk dengan ponselnya. Soonyoung sibuk mengamati Wonwoo dari samping, rasanya dadanya berdegup kencang tak karuan.
Mungkin ini adalah rahasia, tapi Soonyoung sudah tertari kepada Wonwoo sejak dia baru menginjakkan kaki di kampusnya.
“Kenapa?” suara Wonwoo tiba-tiba memotong pikirannya.
Wonwoo menoleh dan menatapnya lama, tanpa dia sadari tatapan itu ke arah bibir ranum Soonyoung . “Dari tadi ngeliatin gue,” kata Wonwoo datar, tapi nadanya terdengar menggoda.
Soonyoung hanya bisa diam dan berharap Wonwoo tidak mendengar detak jantungnya, mengingat jarak antara mereka sangat dekat. Keduanya tidak bergeming, dan tanpa sadar nafas mereka sudah beradu.
Soonyoung bisa melihat jelas mata Wonwoo—yang kali ini tidak dingin seperti biasanya. Ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang bikin napasnya terasa berat.
Tanpa sadar tangan Wonwoo terangkat, menyentuh sisi wajah Soonyoung. Soonyoung diam, Sentuhan itu ringan, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhnya membeku.
Wajah Wonwoo semakin mendekat, dan semakin terasa nafas mereka mulai beradu. Soonyoung sangat gugup, tangannya mulai naik dan meremas kaos Wonwoo.
Tatapan mereka turun sekilas, ke bibir masing-masing lalu kembali bertemu. Wonwoo perlahan mulai memajukan kepalanya, Soonyoung yang melihatnya memilih memejamkan matanya. Jantung Soonyoung sangat bergemuruh.
Waktu terasa sangat lama, hingga tiba-tiba Soonyoung bisa merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Sontak remasan Soonyoung dibaju Wonwoo sedikit lebih kencang.
Wonwoo bisa merasakan kegugupan Soonyoung, karena bahu cowok kecil itu terasa sangat tegang. Tangan Wonwoo pun mulai naik ke pinggang Soonyoung, dan perlahan mulai mengusap pelan pinggang itu—dengan tujuan membuat Soonyoung sedikit lebih rileks.
Tubuh Soonyoung pun terasa sedikit lebih tenang, dan cengkeramannya di kaos Wonwoo pun sedikit mengendur. Kecupan tadi mulai perlahan menjadi lumatan halus, perlahan, tidak ada unsur menggebu dari kedua belah pikah. Baik Soonyoung dan Wonwoo menikmatinya. Merasakan seperti mendapat lampu hijau, Wonwoo mulai memperdalam ciuman. Tangannya pun masih setiap mengusap pinggang Soonyoung, bahkan sekarang tangannya mulai menyelusup masuk ke kemeja yang Soonyoung gunakan.
“Nghhh” Wonwoo bisa mendengar lenguhan kecil dari Soonyoung, dan itu membuat Wonwoo tersenyum miring. Tangannya mulai mengangkat Soonyoung agar duduk di pangkuannya. Dan itu membuat Soonyoung mengalungkan lengannya ke leher Wonwoo. Ciuman mereka berdua pun semakin dalam, sesekali Wonwoo menggigit bibir, dan membelit lidah Soonyoung. Membuat lenguhan kecil itu keluar sesekali.
Nafas Soonyoung mulai habis, dia mulai menepuk pundak Wonwoo pelan. Wonwoo yang sadar dan paham langsung melepaskan ciuman mereka. Wonwoo tersenyum begitu melihat wajah Soonyoung memerah, dan nafasnya terengah, ditambah bibir kecil itu mengkilap bekas liurnya.
“Kak Wonwoo, maaf” Soonyoung panik, dia menarik tubuhnya agar turun dari pangkuan Wonwoo. Tapi sebelum Soonyoung berhasil turun, Wonwoo menahan pinggangnya. “Kenapa minta maaf? Sama-sama suka kan?” Wonwoo tersenyum melihat Soonyoung yang salah tingkah.
“Mau lagi gak?” Wonwoo terkekeh, dan memiringkan wajahnya menatap wajah Soonyoung yang menunduk. “Mau gak?” Tanya Wonwoo sekali lagi. Dan Soonyoung mengangguk.
Dengan gerakan cepat, Wonwoo menggendong Soonyoung untuk naik ke kasurnya dan membaringkan tubuh kecil Soonyoung di sana.
Sebelum Wonwoo kembali mencium Soonyoung, dia bisa meihat Soonyoung yang tersenyum dan berkata lirih “Kak Wonwoo, aku sebenernya suka kakak dari awal lihat kakak waktu ospek” dan entah mengapa perkataan Soonyoung itu berefek ke dirinya, jantungnya menghangat dan berdegup kencang. Dia hanya tersenyum, dan kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Soonyoung sambil memberi kecupan-kecupan kecil.
Ciuman itu mulai kembali memanas seperti di awal, dan mulai terdengar lenguhan dari keduanya. Tangan Wonwoo tidak tinggal diam, tangan itu mulai naik ke perut Soonyoung dan mulai naik ke dadanya. Soonyoung pun muali kewalahan dengan sentuhan Wonwoo. “Ahhh—kak...” Soonyoung melenguh panjang begitu jari Wonwoo mulai memelintir kecil putingnya. Wonwoo tersenyum senang, melihat Soonyoung yang kewalahan dengan rangsangan darinya.
Ciuman itu berakhir ketika Wonwoo mulai membuka satu persatu kancing kemeja Soonyoung, Soonyoung yang merasakan angin dingin mulai menerpa tubuhnya sempat merasa malu, sebelum akhirnya Wonwoo ikut membuka kaosnya, dan tubuh Wonwoo mulai naik ke atas tubuh Soonyoung dengan kedua tangannya sebagai penahan berat tubuhnya.
Soonyoung sempat ragu, dan sebelum makin jauh Soonyoung mengeluarkan suaranya. “Kak... aku sebenernya... eumm...” Soonyoung terbata-bata dan ragu mengatakannya. Karena ini sedikit tidak wajar di kalangannya.
Wonwoo menatap Soonyoung penasaran, “Kenapa, cantik?” Dipanggil seperti itu Soonyoung tersipu. “Kenapa?” Tanya Wonwoo sekali lagi.
“Aku... sebenernya punyanya memek...” Soonyoung menundukkan kepalanya, menunggu respon dari Wonwoo. Dan yang Soonyoung dapatkan adalah senyum menggoda dari Wonwoo. “Mana coba lihat?” Katanya, yang membuat Soonyoung semakin malu.
Tangan Wonwoo mulai turun ke area selangkangan Soonyoung, dan benar dia tidak menemukan gundukan penis seperti miliknya. Bisa Soonyoung lihat, Wonwoo tersenyum. Dan Soonyoung terangsang karena usapan yang Wonwoo berikan ke selangkangannya.
Wonwoo paham, Soonyoung sudah tidak bisa menahannya. Dan Wonwoo mulai membuka kancing di celana Soonyoung berserta dalamannya perlahan. Soonyoung sempat menutupi selangkangannya, karena malu dan Wonwoo menatapnya dengan senyum dan berkata “Mana? Mau lihat”
Merasa Soonyoung sedikit gugup, Wonwoo mulai memberi kecupan-kecupan di bibir Soonyoung. “Nghhh” Soonyoung mendesah panjang, ketika jari Wonwoo mulai mengelus labianya. “Jangan ditahan” Bisik Wonwoo di sela ciuman mereka.
Soonyoung mulai mendesah tak karuan ketika jari Wonwoo perlahan mencoba masuk, mengingat ini kali pertama untuk Soonyoung. Tubuh Soonyoung mulai berkeringat, karena mendadak suhu di kamar Wonwoo berubah jadi sangat panas.
“Ahhhh” Soonyoung benar-benar kehilangan akal, ketika Wonwoo berhasil memasukkan jarinya ke dalam lubang vagina milik Soonyoung. Soonyoung menggelengkan kepalanya, dia tidak tahan dengan rangsangan ini. Tapi Wonwoo mendadak tuli, Dia meneruskan apa yang sudah dia lakukan. ‘Ternyata seru juga’ Batin Wonwoo disertai senyum miring tipis.
“Kak... ahhh... nghhh—keluar aahhhh” tidak butuh waktu lama, Soonyoung sudah mencapai puncaknya dan tubuhnya bergetar hebat. Wonwoo mengeluarkan jarinya, dan mulai mengecupi seluruh permukaan wajah Soonyoung. “Enak cantik?” Yang ditanya tidak bisa menjawab, dia masih mencoba sadar dari tingginya.
Soonyoung yang belum sepenuhnya sadar, bisa merasakan ada sesuatu yang memaksa masuk ke vaginanya. Tangannya pun mencengkeram lengan Wonwoo “Kak pelan-pelan nghh” Wonwoo juga masih ada perasaan, maka dia turuti permintaan Soonyoung.
Perlahan tapi pasti, Wonwoo mencoba menyatukan tubuh mereka. Pinggulnya terus bergerak untuk mendorong penis yang sudah tegak dan keras, ke dalam vagina Soonyoung yang merah dan bahas.
Keduanya beradu lenguhan, yang sama-sama hanya mereka yang mendengarnya.
“Ahhhh” Keduanya mendesah panjang, begitu penis Wonwoo sudah masuk ke dalam vagina Soonyoung. Wonwoo tidak langsung bergerak, dia harus menyesuaikan penisnya—agar Soonyoung juga enak dan nyaman.
“Ahhh— gerak kak” Soonyoung menggeliat, membuat penis Wonwoo terasa dicengkeram oleh yang di bawah. Dan dengan persetujuan Soonyoung, Wonwoo mulai menggerakkan pinggulnya, mengeluar masukkan penisnya.
Benar-benar sensasi yang memabukkan, ditambah suara desahan Soonyoung membuat Wonwoo merasa bagai disurga. Dia kehilangan akalnya, dan hanya fokus mengejar nikmatnya.
Tangannya juga tidak tinggal diam, dan mulai memelintir puting Soonyoung. “Ahhh” Gerakan Wonwoo berhadiah desahan yang lebih mendayu dari Soonyoung.
Desahan Soonyoung semakin intens, berirama dengan gerakan pinggul Wonwoo yang terus memompa penisnya di dalam vagina Soonyoung.
Dan tak lama setelahnya, Wonwoo merasa tangannya dicengkeram dengan kuat—tanda Soonyoung akan menyampai puncaknya lagi. Wonwoo sadar akan hal itu, dia semakin liar menggerakkan pinggulnya. Dan benar saja keduanya menjemput puncaknya secara bersama, dan mungkin di luar sekarang hari sudah gelap.
Keduanya tertidur setelah membersihkan seluruh kekacauan yang mereka buat.
Keesokan harinya, ketika Wonwoo bangun sudah tidak ada Soonyoung di sana. Tidak, dia tidak ditinggal kabur, karena saat Wonwoo bangkit dari kasurnya sudah ada dua piring nasi goreng di meja belajarnya. Dan dari dalam kamar mandi juga ada suara percikan air, kemungkinan Soonyoung ada di dalam sana.
Dan benar saja, Soonyoung keluar setelah mencuci muka dan menggosok giginya. “Kak Wonwoo, maaf ya aku numpang kamar mandinya” Soonyoung tersenyum malu, “Itu aku udah bikin nasi goreng, sarapan dulu”
Wonwoo memilih membersihkan dirinya dulu sebentar, dan bergabung dengan Soonyoung duduk menyantap nasi gorengnya. Mereka makan dengan hening sebelum akhirnya “Soonyoung, lo beneran suka sama gue?” Pertanyaan Wonwoo membuat Soonyoung yang sedang minum tersedak.
Soonyoung menundukkan kepalanya, dan Wonwoo bisa melihat semburat merah di pipi gembulnya. “Kenapa suka sama gue?” Tanya Wonwoo lagi.
“Hmmm, alasan klasik sih kak. Aku ngeliat Kak Wonwoo baik, dan ternyata Kak Wonwoo beneran baik bantuin aku.”
‘Baik’ Wonwoo yang mendengar kata itu merasa dirinya sudah kelewat jahat, dia menghukum orang yang tidak tahu apa-apa. Bukan salah Soonyoung juga kan orang tua mereka menjalin hubungan yang terlarang.
“Dan aku merasa, akhirnya ada orang yang peduli sama aku selain mamah. Jadi aku seneng banget pas Kak Wonwoo mau bantu aku.”
Kalimat tambahan dari Soonyoung semakin membuat Wonwoo merasa bersalah.
“Cheol, sepatunya gajadi” Wonwoo mengetikkan tiga kata itu kepada Seungcheol, dan berjanji kepada dirinya sendiri akan menjaga dan menyayangi Soonyoung sepenuh hati.
—End
