Chapter Text
Reiner tidak bisa menghentikan kakinya yang bergerak menapak-napak tak nyaman pada karpet ruang tengah rumahnya. Sebenarnya remaja itu sedang merasa gundah. Ia sedang menunggu kedatangan teman satu kelasnya untuk mengerjakan tugas pra-ujian praktik tetapi anak itu tak juga datang. Padahal ini sudah pukul setengah sembilan malam. Bukan apa-apa tetapi Reiner memiliki janji yang seharusnya ia tepati tiga puluh menit lalu. Seharusnya Reiner sudah duduk bersandar pada sofa kelab malam dengan ditemani perempuan-perempuan setengah telanjang sambil menenggak sloki berisi fusion drink antara whisky dan vodka kesukaannya. Sialnya semua itu harus ditunda karena temannya itu tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
“Si babi lama banget anjing”
Remaja itu kembali mengecek ponselnya. Sepuluh menit yang lalu temannya itu sudah mengabari jika bocah itu sedang dalam perjalanan. Reiner menghela napasnya berat, semakin lama emosinya semakin naik. Rencana clubbingnya malam ini gagal dan sekarang waktunya banyak terbuang.
Rumah Hasibuan yang kini hanya diisi oleh Reiner itu kini semakin senyap, membuat kecemasan Reiner meledak. Semenjak dua bulan lalu setelah orang tuanya meninggal, Reiner selalu tak nyaman sendirian malam hari di rumah yang besar itu. Bukan karena takut hantu atau maling, Reiner hanya benci kesepian. Masa kecilnya cukup hangat walau orang tuanya sangat sibuk. Dia paling benci ketika mereka meninggalkanny auntuk urusan bisnis, sendiri dan kesepian. Ia tak menyangka bahwa dia akhirnya ditinggalkan selamanya sendirian di rumah itu. Bukan lagi ditinggal dengan iming-iming mainan robot dari Singapura atau Thailand ketika Ayah dan Ibunya pergi.
Ding dong ~
Suara bel gerbang depan menyita perhatian Reiner. Mendengar itu, dengan cepat Reiner berdiri dan segera berlari ke depan. Gerbang besi itu pun dibukanya dengan tak sabar. Tentu bukan karena tak sabar menunggu kedatangan temannya, tetapi tak sabar agar semua pekerjaan rumah selesai. Di balik gerbang itu, pemuda dengan kacamata kotak berdiri dengan senyumnya yang memamerkan behel dengan karet transparan. Melihat itu Reiner jadi ingin muntah. Sungguh dia benci betapa polos dan kosongnya remaja di depannya itu.
Satu hal yang mengganjal, temannya itu datang tanpa kendaraan. Hanya dirinya dan backpack merah bergambar karakter kartun pahlawan laba-laba itunya. Reiner tak bersuara dan tak ingin begitu memedulikan, dia hanya mengisyaratkan temannya untuk masuk mengikuti dirinya dengan gerakan tangan yang mengayun. Pada akhirnya rumah itu tidak lagi begitu sepi. Begitu sampai di ruang tengah, Reiner langsung menjatuhkan bokongnya di atas sofa besar itu. Mata elangnya menatap tajam temannya yang hanya berdiri dan melihat-lihat sekelilingnya, menyapu ruangan itu dengan matanya.
“Duduk senyaman lo. Buruan kerjain.”
Teman itu sedikit tersentak namun kemudian pemuda berponi pendek rata itu akhirnya duduk, tidak di sofa tetapi di lantai marmer putih yang dingin itu. Reiner menahan tawa melihatnya. Ngebabu banget sumpah. Batin Reiner.
“Um, maaf ya Rei tadi aku gak tau kalo donor darahnya rame. Aku jadi urutan akhir.”
Reiner merotasikan matanya malas. “Tch, bodo amat kerjain sekarang!’
Temannya itu mengangguk patuh dan segera mengeluarkan laptop gaming yang besarnya sedikit bersaing dengan talenan dapur dari tas spiderman merahnya. Tanpa bertanya banyak, pemuda itu segera membuka gadget itu dan mulai mengerjakan tugas pra-ujian tanpa babibu lagi. Disana, Reiner hanya bermain handphone, sesekali melirik kegiatan temannya yang terlihat serius dengan laptop itu sampai mulutnya menganga. Melihat itu Reiner ingin tertawa sebab, entah mengapa setiap melihat behel temannya itu, perut Reiner terasa digelitik oleh tangan tak tampak. Padahal tidak ada hal yang lucu.
Mukanya kocak banget anjing.
“Rei, ini kan kita dapat bioteknologi konvensional. Mau ambil apa prakteknya? Bikin tempe atau apa?” Tanya remaja berbehel itu memecah keheningan.
“Bebas, kan ntar lu juga yang bikin”
“Yogurt! Aku suka yogurt soalnya biar bisa diminum, hehe”
Reiner menaikkan alisnya, gue gak nanya? Batin pemuda yang duduk santai di sofa. Walau begitu, Reiner tidak begitu terkejut dengan too much information yang tiba-tiba karena bocah yang duduk di bawah sambil membenarkan kacamata itu memang orangnya naif dan polos. Hal itu juga yang menjadi alasan Reiner selalu menjadikan bocah itu target empuk bercandaan dan suruh-suruhan.
Handphone Reiner bergetar, menunjukkan notifikasi pesan dari teman sepergaulan bebasnya. Namun Reiner hanya menatapnya ogah-ogahan. Dia terlanjur malas karena sudah telat lama dari kegiatan malam itu. Lalu sekarang dia stuck dengan bocah berbehel yang tidak sanggup menutup bibirnya dengan benar sehingga bibir merah muda tebal itu selalu memble kalau kata Reiner. Pemuda di sofa itu mengedarkan pandangannya ketika menyadari dia sudah menatap bibir temannya itu terlalu lama.
Ruangan itu kembali senyap dan hanya dipenuhi oleh suara ketukan pada keyboard laptop gaming yang suaranya berisik sekali. Lama kelamaan tenggorokan Reiner terasa kering dan haus. Bukan haus akan air minum biasa. Namun kecanduannya terhadap alkohol mulai meraba tubuhnya. Setelah orangtuanya meninggal, tiada hari tanpa alkohol di hidup Reiner. Walau dia baru saja memiliki KTP, tetapi adiksinya terhadap alkohol sudah bisa disandingkan dengan Tulangnya di Medan yang berumur 60an dengan pengalaman luar biasa. Beer bintang saja cuma penggelitik leher saja. Reiner bahkan sudah mulai menyetok whisky di lemari pendinginnya.
“Oi babi, ambilin gue minum dong.” Ucap Reiner memerintah. Laki-laki yang dipanggil babi itu menengok dengan kondisi kacamatanya yang turun di pangkal hidung, terlihat dongo di mata Reiner.
“Dimana Rei?”
“Di kulkas tuh liat kan sono, yang botolnya kaca warna cokelat.” Reiner menunjuk ruang gelap yang berada di sebelah kanan ruang tengah.
Pemuda berkacamata itu hanya mengangguk paham dan berdiri, meninggalkan laptopnya yang menyala. Reiner tersenyum miring, dia yakin temannya itu akan terkejut atau bahkan mulai membaburkan ayat-ayat alkitab. Namun tak lama kemudian, pemuda itu kembali dengan botol whisky di pelukannya. Reiner menegakkan duduknya, jujur dirinya sedikit terkejut sebab bocah ingusan itu terlihat biasa saja dengan apa yang ia bawa.
“Ini Rei, ga pake sloki, kah?” tanya bocah itu polos sambil meletakkan botol itu di meja.
“Uh? Ngga perlu…”
Mendengar itu, bocah behel itu kembali duduk di lantai dan lanjut dengan kegiatannya yang tertunda, yaitu mengerjakan tugas pra ujian. Di atas sofa, Reiner masih terdiam sedikit bingung dengan gelagat temannya itu. Otaknya sedikit susah memproses situasi ini. Reiner percaya sekali bocah ingusan itu pasti membenci hal seperti ini dan menunjukkan reaksi jijik. Setidaknya itu yang dia pikirkan.
“Kaget ya aku gak berisik megang gituan?”
Lamunan Reiner terbuyarkan oleh ucapan temannya yang sedikit menyedakkan.
“Lu diem-diem minum, mbrot?” Pertanyaan Reiner dibalas tawaan datar oleh temannya yang masih fokus mengetikkan kata-kata penutup untuk tugas proposal pra ujian praktek itu.
“Engga, tapi yang begituan banyak di rumah aku. Papa aku suka banget.”
“Terus kenapa lu ga minum?”
Laki-laki yang duduk di lantai itu menghentikan aktivitas mengetiknya dan sedikit menutup laptopnya namun tidak sampai tertutup rapat. Tatapan Reiner fokus pada setiap pergerakan temannya itu.Tanpa dia pikirkan sebelumnya, tiba-tiba saja anak itu meraih botol kaca itu lagi. Jari jemarinya yang sedikit tambun itu memutar tutup botol itu dengan mudah seolah ia terlatih untuk itu.
“Di rumah kalo aku ikut minum, nanti Mama yang dipukul, bukan aku.”
Reiner berdehem dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia sedikit merasa canggung karena sudah menyinggung hal yang benar-benar ia tidak berani untuk bahas. Sejauh Reiner mengganggu temannya itu, Reiner tidak pernah menyinggung urusan rumah. Selama ini Reiner selalu menganggap bocah behelan ini adalah anak manja yang dirumahnya disayang sepenuh hati dan dibelikan ini itu. Sebab, rumah Reiner sendiri penuh kehangatan sehingga asumsi pertamanya terhadap keluarga lain selalu positif. Anak yang tumbuh penuh kasih sayang memang cenderung berpikir kehidupan orang lain juga sama seperti hidupnya.
Bocah ingusan itu kembali meletakkan botol itu di meja. Anak itu tiba-tiba saja membuka jaket jeans putih usangnya, memperlihatkan lengan kencang berisinya, meninggalkan singlet hitam saja pada tubuh sintal dan membuat Reiner otomatis memusatkan perhatiannya. Seolah disihir dengan ilmu hitam Madura, Reiner tidak bisa memalingkan pandangannya dari bahu dan dada bocah itu. Reiner menelan ludahnya kasar dan segera mengedipkan matanya karena demi Tuhan, Reiner tidak bermaksud menatap aneh seperti itu. Hanya saja Reiner sedikit terkejut karena dia selama hampir tiga tahun sekelas dengan anak itu, Reiner belum pernah melihatnya dengan pakaian terbuka. Jangankan singlet ketat seperti itu, kaos pendek saja belum pernah. Seragam anak itu juga selalu lengan panjang atau dipakaikan hoodie dengan gambar spiderman memuakkan itu.
Kini pandangan tajam Reiner mengedar secara acak dan entah mengapa fokusnya tercuri oleh lengan kiri anak itu. Di atas kulit pucat dengan rona kemerahan itu terdapat sebuah kontras memar kebiruan yang mulai menghitam. Tatapan itu pun turun ke pergelangan si polos yang tertoreh banyak sekali bekas sayatan yang terlihat jelas. Otak Reiner baru saja menangkap sebuah kejanggalan. Dia tidak melihat satupun plester bekas donor darah.
“Lo boong kan, lo ga dari donor darah? Ngapain di rumah sakit?”
Bocah itu tak menanggapi dan malah meraih laptopnya lagi, mulai mengetikkan kata penutup yang belum selesai. Reiner mengerutkan alisnya, tak percaya dengan situasi aneh ini. Ia terus menerus memikirkan kemungkinan-kemungkinan atas fakta mengapa anak itu berbeda sekali seperti bukan bocah behel memble yang selalu diganggu. Namun Reiner tak ingin terlalu memusingkan itu, ia pun meraih botol kaca itu dan langsung tenggak minuman keras itu dari botol. Rasa pahit tapi menyenangkan itu membuat Reiner menghela napas panjang, seolah ia baru saja diinjeksi oleh ketenangan duniawi.
Tak ada lagi dialog antara mereka, membuat ruangan itu kembali sunyi seolah dua manusia dengan jiwa yang rapuh tidak sedang berada disana. Kenyataannya dua insan itu sama-sama diam menahan rasa ingin tahu atas derita masing-masing. Reiner kembali menenggak botol itu, entah seberapa banyak namun kepalanya mulai sedikit enteng. Diluar kendalinya, pandangannya terkunci pada bibir kemerahan yang komat kamit membatin setiap kata untuk dituangkan pada tugas itu. Sesekali matanya melirik bulu mata laki-laki yang entah sejak kapan kacamata tebal itu tak lagi ditempatnya. Reiner baru menyadari, dia belum pernah melihat temannya itu melepas kacamata. Di bawah lampu remang-remang itu, Reiner menemukan hal yang menarik perhatiannya.
“Rei, udah selesai ya. Abis ini aku pulang”
Suara baritone dengan nada lugu itu sekarang terdengar menggemaskan di telinga Reiner, entah apakah karena pengaruh alkohol atau sebenarnya selalu terdengar seperti itu dan tertutupi oleh penolakan batin Reiner sendiri. Reiner menegakkan duduknya lagi dan sedikit bergeser dari tempatnya seolah membuatkan ruang untuk seseorang duduk disebelahnya.
“Sini, duduk dulu, gue belum terimakasih nih” ucap Reiner sedikit serak.
Reiner tidak paham kenapa dirinya tersenyum ketika melihat teman lugunya itu berdiri dan berjalan mendekat dengan wajah naifnya. Polos banget. Mata sipit dengan bulu mata lentik itu seperti baru saja sukses menambah kadar alkohol dalam tubuhnya. Begitu laki-laki itu menutup ruang kosong di sebelahnya, aroma woody musk menyeruak, menginvasi indra penciuman Reiner. Aroma ini tak ada disepanjang memorinya mengenal anak lugu itu. Biasanya laki-laki yang sekarang duduk termenung di sampingnya itu selalu memakai parfum eskulin bergambar spiderman yang selalu dibawa kemana-mana sampai waktu itu Reiner muak melihat benda serba spiderman milik temannya itu dan membuangnya entah kemana.
Keduanya masih diam, membiarkan suara air conditioner yang mendominasi ruangan itu. Reiner hanya memandangi bocah berponi crop itu dalam diam. Reiner terus mengamati setiap gerak kecilnya, bagaimana mata cantik yang baru Reiner akui keindahannya itu terus menatap botol whisky itu seperti sedang menahan sesuatu. Reiner tersenyum lagi, ia paham sekali mata itu menahan kehausan akan benda memabukkan disana. Seolah terkuar oleh energi negatif Reiner, bocah itu mengulurkan tangannya, meraih botol kaca itu dan menenggaknya tanpa ragu dan menelan minuman jahat itu seperti air putih.
Reiner bersiul menggoda bocah ingusan yang baru saja menunjukkan sisi lainnya yang tersembunyi dari dunia. Bocah itu kembali meletakkan botol whiskynya dan bersandar pada sofa, diam lalu memejamkan matanya.
“Noel Alexander Tanoto, gue baru tau lo nakal juga ya”
Noel, namanya. Nama yang entah bagaimana caranya sangat cocok bagi bocah itu. Setidaknya itu yang Reiner pikir. Nama yang terdengar polos untuk laki-laki yang polos.
“What do you know about it, Reiner?”
Jawab Noel datar, tanpa menoleh. Matanya masih nyaman terpejam, menikmati tiupan dingin air conditioner yang mulai tidak terlalu dingin akibat reaksi minuman jahat yang membuat tubuhnya memanas. Sialnya lama-kelamaan efek minuman itu membuat Noel kepanasan. Maka tanpa permisi, Noel melepas singletnya. Membiarkan badannya yang terlihat kencang dan sehat itu tersentuh oleh udara dingin secara langsung.
Reiner menaikkan alisnya, gerak gerik yang cukup mengejutkan baru saja ia saksikan. Noel, si lugu itu mungkin sebenarnya tidak selugu yang ia pikirkan. Pandangan Reiner tidak lepas dari tubuh putih bersih yang terlihat kencang dan terbentuk bagus tapi tidak sampai membentuk kotak-kotak pada abdomennya. Sayangnya, kulit putih itu sedikit ternodai oleh beberapa bekas memar di bagian perut hingga punggungnya. Hal itu membuat Reiner hampir tersedak air liurnya sendiri sebab, entah setan mana yang merasukinya tetapi melihat bagaimana Noel bersandar dengan santai, memejamkan mata tanpa kacamata culunnya dan bertelanjang dada seperti itu membuat darahnya seperti dipompa ke arah selangkangannya.
Seumur hidup, Reiner belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya terhadap laki-laki. Tenang saja, Reiner bukan manusia dengan pemikiran sempit dan ia tidak mempermasalahkan itu. Tetapi yang jadi gangguan dipikirannya adalah mengapa dari jutaan manusia di bumi, Noel si babi lugu itu yang menjadi kebangkitan ketertarikan sesamanya. Reiner bersumpah, dia tidak pernah bermaksud melihat Noel dengan pandangan brengseknya.
“Noel, gue ajarin cara minum yang keren mau?”
Pemuda yang dipanggil namanya itu pun membuka kedua matanya, kini duduknya menegak, siap mendengar kelanjutan ucapan Reiner. Reiner tersenyum lebar, ia mendekatkan duduknya dan tangannya langsung menyambar botol kaca itu. Maka Reiner kembali menuangkan minuman itu ke dalam mulutnya. Tidak banyak, namun cukup untuk membuat mulutnya tidak bisa bicara. Di sampingnya, Noel memperhatikan setiap gerakan Reiner dengan fokus, seolah benar-benar ingin mendalami ilmu baru.
Reiner masih menyimpan alkohol itu di dalam mulutnya, rasa panas dan pahit sudah membuat mulutnya sedikit kebas. Tangan Reiner sudah tak lagi memegang botol, kini ia sudah berpindah, mengejutkan Noel dengan ia yang tiba-tiba memegang tengkuk Noel. Namun Noel hanya diam di tempatnya, sedikit bingung. Reiner mendekatkan kepalanya, semakin dekat dan mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah si lugu yang tampak cantik dalam jarak sedekat jari kelingking itu. Dari jarak itu, Reiner bisa melihat bulatnya manik cokelat gelap yang tertutup oleh kelopak sipit dan bulu mata lentik yang membuatnya merasa tersihir.
Cantik.
Tangan Reiner tidak diam, jari jemarinya mengelus lembut tengkuk Noel sampai membuat Noel merinding. Walau begitu, Noel tetap diam, seolah tatapannya dikunci oleh tatapan sayu milik Reiner.
“Rei—hmmph”
Saat bibir itu terbuka untuk memanggil namanya, Reiner menutupnya dengan bibirnya. Alkohol itu seolah merembes masuk ke dalam rongga mulut Noel tanpa permisi. Noel hampir tersedak, untungnya ia bisa menelannya dengan baik. Noel hendak menjauh namun Reiner menekan tengkuknya, membuat bibirnya semakin menempel. Mata Reiner sudah terpejam, bibirnya sibuk melumat bibir bawah Noel yang jelas sekali menunjukkan penolakan. Walau seperti itu, Reiner tidak melepaskan ciumannya. Justru kini tangan kanannya bergerak menguasai pinggang Noel dengan cengkraman kuat.
Bibir tipisnya terus melumat bibir gemuk Noel seolah tak mengindahkan gerakan tak nyaman Noel. Tekanan lembut di tengkuk Noel sudah tak lagi disana, kini jari-jari panjang itu beralih mencengkram pipi tembam Noel, membuat sisi dalam pipi bocah itu terluka oleh kawat behel dan membuat Noel melenguh secara tak sadar. Lenguhan kecil itu membuat Reiner melepaskan lumatan dan cengkramannya, sedikit membuat jarak tak lebih dari dua jengkal tangan Reiner.
Keduanya bernapas tak teratur, dada mereka kembang kempis bersahutan. Rei merutuki dirinya dalam hati, dia baru saja memaksakan sebuah ciuman kepada bocah yang kemungkinan menyentuh orang saja belum pernah. Namun ia pun mencoba santai, Reiner kembali menatap mata itu, memaksa untuk membuat koneksi agar ia dapat mengkomunikasikan hasratnya sedangkan tangan itu kini terangkat, bergerak mengelus kepala Noel dengan lembut.
Batin Reiner tidak berhenti memberikan pemujaan kepada indahnya mata itu dan sesekali melirik bibir merah yang sedikit bengkak dan basah setelah ia cicipi. Noel hanya bisa diam dan diam. Tubuhnya seperti dikunci oleh setan-setan yang memeluk Reiner, seolah Noel di dominasi seperti mangsa yang sudah tertangkap oleh predatornya. Mata Noel bergerak memindai, dari bawah ke atas. Mengamati tangan Reiner yang masih dengan kuat mencengkram pinggangnya, bersamaan dengan jari-jari lain mengelus lembut kepalanya seperti anak baik yang patut diberi apresiasi.
Matanya menelisik setiap urat-urat yang tercetak sempurna dari tangan sampai lengan ke atas milik Reiner. Garis bahu Reiner yang tajam dan jakun tajam itu, membuatnya menelan ludah. Semakin ke atas, bibir tipis itu terlihat sangat maskulin. Hingga pandangannya semakin naik dan bertemu dengan mata sayu itu lagi. Noel yakin sebenarnya, laki-laki di depannya itu sama panasnya dengan Noel akibat alkohol itu. Jujur saja, tatapan itu terasa berbeda dari tatapan jijik atau kesal yang selalu ia dapatkan dari Reiner. Tatapan ini adalah tatapan yang belum pernah Noel lihat sebelumnya dan senyum tipis itu, seolah hendak membuat Noel merasa terlihat.
“Pinter banget minumnya, good boy, Noel.”
Good boy, Noel.
Bulu roma Noel berdiri. Kalimat itu adalah rangkaian kata-kata yang selalu ingin didengarkan belasan tahun hidupnya. Dengannya diucapkan bersamaan dengan sentuhan lembut di kepala itu membuat pipi Noel panas, memerah. Reiner tidak bodoh, otak predatornya itu melihat semuanya. Jari jemarinya kini bergeser kebawah, mengusap lembut pipi Noel yang merah muda sempurna. Jempolnya dengan nakal bergerak kebawah, menekan lembut bibir yang ia rindukan untuk dilahap itu.
Reiner menghapus jarak diantara keduanya, mendekat, tak menyisakan ruang untuk udara dan menutup kedua matanya. Bibirnya menempel sempurna pada bibir tambun itu. Sedikit demi sedikit bergerak, melumat lembut tak ingin membuat Noel takut. Jari-jarinya tak lupa untuk menciptakan sentuhan halus agar ruang nyaman semu memanipulasi Noel agar menerima sambutan hangat. Di posisinya, Noel sedikit terkejut, namun ia memutuskan untuk menutup kedua matanya dan membiarkan dirinya jatuh ke dalam lubang buaya yang mungkin akan ia sesali nantinya.
Predator itu menikmati setiap detiknya dalam menikmati hidangan manis yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Reiner menciumi bibir Noel atas bawah secara bergantian. Tangannya tak pernah diam, jika tadi berada di pipi sekarang jari-jari itu menjaga tengkuk Noel agar tidak pernah menjauh. Sedangkan tangan yang semula bertengger di pinggang halus itu sudah bergerak nakal merayap ke atas kulit telanjang Noel yang sensitif. Jarinya yang berdosa itu menyentuh pelan puting tegang Noel, membuat Noel melenguh kecil.
Reaksi itu membuat Reiner bisa mengakses bibir Noel lebih baik lagi. Noel yang perjaka dan tidak berpengalaman itu sebenarnya hanya diam dan tak membalas ciuman itu namun tidak menolak saat Reiner meraup lapar bibirnya. Namun entah mengapa setelah sengatan panas tadi, Noel bergerak untuk membuka mulutnya, menghisap kembali bibir tipis Reiner dengan pelan seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hal itu membuat Reiner tersenyum disela ciumannya. Beneran gak pernah disentuh ya?
Ciuman itu semakin dalam, lidah dan lidah bertemu saling beradu mana yang lebih hebat dalam melumat. Air liur sudah bersatu walau rasanya sama—sama pahitnya akibat whisky itu. Reiner yang nakal mulai menekan dan memijat puting Noel dengan stimulasi yang cukup membuat Noel mendesah lirih. Semakin dalam ciuman itu, semakin banyak air liur terproduksi dan mulai menetes dari sela bibir Noel jatuh, membasahi leher dan dadanya sendiri. Namun seiring berjalannya edukasi panas yang diajarkan Reiner itu, semakin sulit Noel menghirup udara. Itu membuat Noel perlu meremas kuat bahu Reiner yang masih terbungkus kaos hitam katun. Reiner paham sebab napasnya juga semakin terasa mencekik. Ia pun melepaskan ciuman itu, namun nafsu menyetirnya gila-gilaan. Reiner pun beralih menciumi leher indah Noel yang dulu sering ia cekik atas dasar bercanda. Ah, mengingat itu Reiner jadi membayangkan bagaimana jika wajah polos itu mendesah kesakitan saat ia cekik bukan merengek berisik seperti saat itu.
Aroma woody musk yang terus menerus menempel di lidah Reiner sama sekali tidak mengganggu setiap kecup dan jilatannya pada setiap inci permukaan halus tanpa bulu-bulu lembut seperti laki-laki pada umumnya. Setiap gerakan lidah itu selalu berhasil membuat Noel menggeliat dan mendesah. Semakin liar Reiner menjilat, semakin terdorong badan Noel hingga bersandar pada bahu sofa itu. Pemujaan Reiner kini turun, mengeksplorasi bahu dan dada Noel yang terekspos hanya untuknya. Lidahnya dengan lihai menjilati pucuk puting cokelat terang dengan semu merah itu. Tak cukup, Reiner menenggelamkan puting Noel ke dalam mulutnya, menyesap dan sesekali dimainkan dengan lidah. Tak lupa, Reiner menggigit kecil kulit disekitar puting itu dan menyesapnya hingga meninggalkan warna ungu kemerahan.
“hnghh…R-rei uhhh”
Cengkraman kuat pada bahu diiringi desahan lembut itu memberikan nyanyian penggoda bagi nafsu Reiner. Rasanya setara digoda oleh penari latar di klub malam, bedanya sekarang nada-nada desahan itu terdengar eksklusif, hanya untuk dirinya dan hanya Reiner yang tahu. ‘Hanya Reiner’ terdengar seksi, pikiran itu berhasil membuat kepemilikan Reiner yang bersembunyi di bawah celana kusut khas rumahan itu menyembul, mulai terasa menyesakkan.
Rei menghentikan kegiatannya dan menjauh, memberi ruang diantaranya dan Noel. Melihat wajah Noel yang terlihat lemah dan tak memiliki kuasa selalu menjadi hiburan yang tak bisa dijelaskan oleh Reiner. Namun melihat Noel memasang wajah lemah dengan gurat nafsu yang terlihat jelas dari lengkung alis dan tatapan sayu itu, sepenuhnya membuat penis Reiner tegang.
Reiner menarik bahu Noel, menegakkan duduk Noel dan mengecup singkat bibir mangsanya itu. Noel hanya diam, mengatur napas. Namun Reiner yang tiba-tiba menurunkan celananya dan menunjukkan kepemilikannya itu membuat Noel tersedak air liurnya sendiri dan terbatuk. Noel, belum pernah melihat yang besar, berurat dan panjang seperti itu. Noel bergidik ngeri namun tubuhnya memanas melihat itu. Miliknya sendiri pun mulai terasa sesak.
“Suck it, Noel. Be a good boy”
Mendengar kata itu, mata Noel berbinar seperti anak anjing yang senang diajak bermain oleh tuannya. Noel mengangguk patuh seperti badannya bergerak sendiri tanpa logika yang mengontrolnya. Reiner menyandarkan dirinya, membiarkan Noel dengan ruang dan waktunya untuk menampilkan adegan yang berputar di kepalanya sejak awal. Melihat Noel merangkak untuk mendekat, membuat pinggang yang terlihat bergeol dengan pantat yang sintal membuat darahnya mengalir lebih panas daripada sebelumnya. Noel benar-benar menggodanya.
Jari-jari dingin Noel mulai bertemu dengan kulit penisnya yang hangat, membuatnya merasakan sensasi beku yang menjalar ke neuron-neuron otaknya. Walau begitu, jari Noel terasa lembut. Reiner bersumpah jika ruangan ini tidak ada lampu mungkin ia akan mengira tangan yang mengelus penisnya itu adalah tangan perempuan. Noel terus menatap benda Reiner yang begitu keras digenggamannya. Benda cokelat terang dengan kepala sedikit kemerahan dan urat-urat menonjol itu menghipnotis Noel. Biasanya ia hanya membayangkan yang seperti itu saat membaca cerita fiksi spiderman genre smut garapan author amatir di twitter. Ia tidak menyangka ternyata yang seperti itu ada di dunia nyata.
Noel mulai menggerakkan jari-jarinya, menggerakkannya naik turun, mengurut pelan benda panjang itu. Mendengar desisan Reiner, Noel langsung melahap penis tegang itu seperti sebuah lolipop besar yang ia lumat dengan hasrat memuncak. Pelan tapi kuat, permainan mulut itu membuat Reiner melenguh setiap kepala penisnya menabrak dinding mulut Noel.
“Hahh…ah yeah, good boy Noel…good boyhh”
Reiner meracau bebas, kenikmatan yang ia capai sangatlah memabukkan, lebih dari whisky yang biasa menjadi teman kesendiriannya. Walau sedang menikmati permainan itu, mata Reiner tidak bisa pergi dari wajah Noel yang terlihat menggemaskan dari posisinya. Bibirnya tebal kemerahan itu menganga lebar seperti tak kuasa membuka untuk penis besarnya. Fakta itu cukup mendorong ego Reiner dalam cara yang paling nikmat. Air liur Noel mulai menetes beriringan dengan semakin dalamnya penyelaman mulut itu. Reiner mendesah keenakan, Noel seperti sudah ahli dalam tugasnya. Penisnya tak pernah menyentuh gigi ataupun behel sedikitpun. Mungkin Reiner akan menarik kata-katanya saat bercanda dengan teman tongkrongannya yang mengejek Noel apabila anak itu melakukan blowjob, maka behel itu akan menyiksa penis siapapun yang masuk. Ejekan itu ternyata salah besar. Faktanya, Noel berhasil memuaskan nafsunya sampai rasanya ia ingin meledak hanya dengan mulut itu.
“Pinter banget…yeahhh hhh…keep going”
Lama kelamaan gerakan kepala Noel memelan, menciptakan reaksi kesal dari Reiner. Bagaimana bisa bocah itu seolah menghentikan permainannya saat Reiner hampir di puncak? Fuck it Noel. Reiner menggerutu dalam diam, tanpa ragu dengan segala nafsu yang memuncak Reiner menarik rambut pendek Noel dan mendorong kepala itu untuk bergerak maju mundur. Noel tersedak-sedak dibuatnya sebab Reiner mendorong sangat dalam sampai menyentuh epiglotisnya.
Tangan Noel meremas kuat paha Reiner yang sedikit terekspos, membuat paha itu ngilu dan merah sekali. Reiner tidak masalah, justru itu membuat dirinya semakin naik ke langit ke sembilan dengan kenikmatan itu. Mulut Noel sungguh memanjakannya, memberinya belaian yang berbeda. Reiner dapat melihat wajah Noel yang menahan muntah dengan air liur yang menetes-netes tak terkontrol lagi. Wajah itu sangat cantik saat terlihat lemah, mata sayu berbulu mata lentik itu pun sudah basah dan memerah—menatapnya dengan tatapan memohon untuk dihentikan. Reiner tak peduli, sedikit lagi pelepasannya bebas. Ia lagi lagi menarik kepala Noel untuk mengulum penisnya semakin dalam sampai bibir bawah Noel menabrak testisnya dan perlahan dibasahi oleh liur yang jatuh membuat becek selangkangannya. Suara rintihan tertahan terus menerus keluar dari mulut Noel bersamaan dengan suara jorok dari aktivitas mereka. Noel ingin menangis hebat rasanya, lehernya terasa sangat sakit setiap kali penis itu menabrak pangkal kerongkongannya dengan keras.
“Gue mau keluar…telen”
Reiner mendesah terakhir kalinya sebelum ia melepaskan kenikmatannya pada mulut Noel dan membuat Noel tersedak hebat dan sedikit membuat sperma Reiner menetes keluar namun Reiner tetap menahan kepala Noel agar tetap berada disana. Setelah melihat Noel menelan cairannya dengan kesulitan, Reiner melepaskan dorongannya. Noel segera menjauh, duduk dengan tegap dan mengelap mulutnya dengan lengan berkeringat miliknya.
Pemuda yang masih bersandar itu mengatur napasnya lalu segera menyimpan penisnya yang tak lagi begitu tegang perkasa ke dalam celananya. Kini ia menikmati sandarannya dan memperhatikan Noel yang sedang menggenggam botol whisky itu lagi, niat Noel sederhana, ia ingin menghilangkan rasa anyir dengan tanda rasa yang sedikit mirip dengan alpukat matang. Satu tegukan kecil menyegarkan leher Noel walau sedikit membuat dinding mulutnya sedikit perih.
Reiner tersenyum miring, ia puas sekali dengan apa yang baru saja ia lewati. Egonya sudah terbang menembus galaksi bima sakti karena diberi makan oleh Noel. Sentuhan dan rasa yang Noel berikan sangat berbeda dari setiap permainan yang pernah dia lakukan di kelab-kelab malam langganannya. Terlebih biasanya Reiner cenderung berkata kasar saat menikmati dosa itu tetapi entah mengapa melihat mata cantik itu berbinar saat Reiner memanggilnya dengan sebutan anak baik membuat Reiner ingin memperlakukan Noel dengan lembut.
“Gue ga tau lo jago juga”
Noel menatap Reiner dengan tatapan polosnya lagi dan tertawa miris sambil menggelengkan kepala tak percaya dengan ucapan Reiner.
“Not my first time”
Mata Reiner membulat, ia sedikit tak percaya ternyata asumsinya salah lagi.
“Huh? you had sex?” tanya Reiner spontan.
“Nope”
“Make out?”
Noel menggeleng tipis, “More specific”
“Blow job?”
Noel tersenyum tipis dan kembali menenggak whisky itu. Sedikit saja sih, Noel takut dirinya tak sadar dan mabuk sepenuhnya mengingat Noel memiliki toleransi alkohol yang rendah. Reiner menggigit bibir tak percaya. Noel si naif, cupu dan freak itu pernah melakukan blow job sebelumnya? Gila, tidak ada di bayangan Reiner.
“Aku nolak sih dulu, tapi ga bisa”
Mendengar itu, Reiner menegakkan duduknya dan sedikit merubah posisinya untuk bersila. Matanya kembali menajam dan menuntut Noel untuk menjelaskan.
“Sexual assault? Who did that” tanya Reiner sedikit dingin.
“P-papa…tiga kali. Hehe, maaf oversharing”
Badan Reiner membeku. Sungguh, rupanya dunianya terlalu sempit sampai Reiner tidak pernah menyangka di luar sana ada manusia yang dengan sadar merusak keturunannya sendiri. Sial tangan Reiner mengepal dengan sendirinya. Ia paling benci pedofilia dan incest. Dia tidak peduli dengan urusan orientasi seksual, toh dirinya doyan segala jenis manusia. Hanya saja, dua kategori itu ditambah dengan necrofilia benar-benar membuatnya mual. Kini Reiner paham mengapa Noel selalu menerima dominasinya, menerima tindasannya dengan senyuman lebar dan bahkan senang sampai overstimulasi saat dipanggil good boy olehnya. Severe case of Daddy issues.
Reiner mendekatkan dirinya kepada Noel, badannya seolah bergerak begitu saja entah atas empati atau memang sesuatu yang manis tumbuh mendobrak pintu hati Reiner yang terkunci oleh gembok beton. Tangannya terbuka, merengkuh badan Noel yang lebih berat darinya ke dalam pelukan yang lembut. Noel sendiri tidak menyangka apa yang sedang ia lakukan dengan Reiner saat ini namun Noel menyukainya. Hal ini membuat badai di kepalanya yang sudah bergemuruh berhari-hari itu meringan.
Noel meletakkan kepalanya pada dada bidang Reiner. Rasa kantuk menyerangnya, bersamaan dengan kepalanya yang dibelai lembut oleh Reiner. Noel merapatkan kelopak matanya. Noel lupa entah kapan terakhir kali dirinya merasa aman dalam tidurnya namun untuk saat ini, Noel hanya berharap di masa depan ia dapat menjumpai rasa yang familiar ini lagi. Sebab Noel tahu, esok hari Reiner akan kembali ke pribadi yang mengganggunya di sekolah. Setidaknya Noel bisa bernapas dengan nyaman untuk beberapa waktu sebelum dunianya kembali terasa seperti neraka.
