Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-01
Words:
4,601
Chapters:
1/1
Comments:
23
Kudos:
236
Bookmarks:
13
Hits:
3,464

Meja Jati

Summary:

Batavia, 1883. Di bawah megahnya lampu kristal Societeit de Harmonie, seorang putri Bupati nekat melanggar aturan demi rasa penasarannya pada dunia luar. Di sana, ia bertemu dengan Nanami Kento, seorang Meneer Belanda yang dingin dan otoriter. Apa yang dimulai sebagai pertemuan terlarang di galeri seni, berubah menjadi candu yang membara di balik pintu ruang kerja sang Kontrolir.

Work Text:

Batavia, 1883. Udara malam itu terasa berat, lembab oleh sisa hujan sore hari yang membasahi aspal kasar di sekitar Rijswijk. Suara derap kaki kuda yang menarik kereta-kereta mewah para pejabat Hindia Belanda terdengar bersahutan dengan riuh rendah musik klasik yang mengalun dari dalam gedung Societeit de Harmonie. Malam ini adalah pembukaan pameran seni rupa kiriman langsung dari Amsterdam.

Kamu berdiri di balik bayang-bayang pohon asam yang besar, jantungmu bertalu-talu seperti perkusi yang tak beraturan. Sebagai putri seorang Bupati, hidupmu adalah sebuah atraksi yang membosankan: belajar tata krama, membatik, dan menunggu pinangan yang akan diatur oleh ayahmu. Bagai anak itik yang tak punya arah mengikuti induknya. Namun, darah mudamu yang baru menginjak usia tujuh belas tahun menolak untuk terus dikurung. Kamu haus akan dunia luar, terutama pada lukisan-lukisan cat minyak yang sering diceritakan oleh guru privat belandamu.

Dengan nekat, kamu mengenakan kebaya encim sutra berwarna putih gading dan kain batik parang yang paling gelap, berusaha melebur dengan kegelapan malam. Kamu menyelinap melalui pintu belakang yang biasanya digunakan oleh para pelayan pribumi untuk mengantar cerutu dan anggur.

Lantai marmer yang dingin terasa asing di bawah kakimu saat kamu berhasil masuk ke aula utama. Ruangan itu bermandikan cahaya dari ribuan lilin di atas lampu gantung kristal yang megah. Aroma tembakau mahal, parfum Eropa yang menyengat, dan bau apek dari kanvas tua memenuhi indra penciumanmu. Kamu terpaku, merasa seperti kancil yang tersesat di sarang serigala.

"Wat doe je hier, meisje?" (Apa yang kau lakukan di sini, gadis?)

Sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan teramat tenang menghantam tengkukmu. Suara itu tidak membentak, namun memiliki otoritas yang membuatmu membeku seketika.

Kamu perlahan memutar tubuh, jemarimu meremas kipas kayu cendana hingga buku-buku jarimu memutih. Di hadapanmu, berdiri seorang pria yang tampak seperti jelmaan dari pangeran Inggris di buku yang pernah kamu baca. Pria itu tinggi, dengan bahu lebar yang dibalut setelan jas hitam tweed yang dipotong sempurna. Rambut pirang gelapnya tertata sangat rapi, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya yang mancung, memberikan kesan intelektual sekaligus dingin, tak mudah digapai.

Meneer Nanami Kento. Sang Kontrolir Keuangan yang terkenal paling disiplin dan tak punya belas kasihan dalam urusan birokrasi.

"M-meneer..." suaramu hampir hilang. Kamu menunduk, tak berani menatap langsung pada sepasang mata biru keabu-abuan yang seolah bisa membaca isi kepalamu.

Nanami tidak segera memanggil serdadu untuk menyeretmu keluar. Ia justru melangkah mendekat, sangat dekat hingga kamu bisa mencium aroma sandalwood dan sedikit sisa wangi kopi pahit dari tubuhnya. Ia menyesuaikan letak kacamatanya, menatapmu dari atas ke bawah dengan tatapan datar namun intens.

"Je bent een inlander," (Kau adalah pribumi) gumamnya. "Dan jika aku tidak salah ingat, kau adalah putri dari Bupati yang baru saja menandatangani kontrak dagang kemarin pagi."

Kamu menelan ludah. "Saya... saya hanya ingin melihat lukisan-lukisan dari Eropa yang dikabarkan ada di sini, Meneer. Saya tidak punya maksud lain."

Nanami mendengus tipis, sebuah suara yang terdengar hampir seperti tawa kering.

“Keinginanmu bisa membawamu ke penjara bawah tanah, atau setidaknya mempermalukan ayahmu di depan Gubernur Jenderal. Apakah lukisan sepadan dengan martabat keluargamu?"

"Seni tidak mengenal kasta, Meneer," jawabmu dengan keberanian yang muncul tiba-tiba. Kamu mendongak, menantang manik matanya yang tajam.

Untuk sesaat, keheningan menyelimuti kalian berdua di sudut aula yang remang-remang itu. Nanami menatapmu cukup lama, seolah sedang melakukan inspeksi pada sebuah dokumen penting yang penuh dengan kesalahan. Namun, ada kilatan aneh di matanya—bukan amarah, melainkan rasa penasaran yang tertahan. Baginya, kamu bukan sekadar ‘gadis pribumi’ yang lancang; ada api di matamu yang tidak ia temukan pada noni-noni Belanda yang selalu berusaha menarik perhatiannya.

"Ikuti aku," titahnya singkat.

Ia tidak menyentuhmu, namun kehadirannya yang dominan seolah menarikmu untuk menurut. Ia membawamu berjalan melewati kerumunan orang-orang Eropa yang sibuk tertawa dan memegang gelas kristal berisi jenever. Entah bagaimana caranya, Nanami membuatmu seolah tak terlihat, ia berjalan sedikit di depanmu, membelah kerumunan dengan auranya yang mengintimidasi.

Ia membawamu ke sebuah ruangan kecil di sayap kiri gedung yang tertutup tirai beludru merah. Di sana, hanya ada satu lukisan besar yang diterangi oleh satu buah lampu minyak. Sebuah potret lukisan alam Eropa yang begitu digembor-gemborkan.

"Ini yang kau cari?" tanyanya. Ia berdiri di sampingmu, tangannya masuk ke dalam saku celana, namun otot-otot lengannya yang kokoh tetap terlihat jelas di balik kain jasnya.

Kamu terpesona, baik oleh lukisan itu maupun oleh kehadiran pria di sampingmu. "Indah sekali..."

"Sesuatu yang indah biasanya berbahaya, Nona," ujar Nanami pelan. Suaranya kini terdengar lebih lembut, namun tetap berat dan serak. Ia menoleh padamu, dan kali ini ia tidak menatap lukisan itu, melainkan menatap profil samping wajahmu yang terkena cahaya lampu minyak yang kekuningan.

Kamu bisa merasakan panas menjalar ke pipimu. Kamu merasa telanjang di bawah tatapannya, seolah ia bisa melihat betapa jantungmu sedang berdegup kencang karena kedekatan ini. Preferensimu sejak dulu memang selalu pada pria yang lebih matang, pria yang memiliki kendali penuh dan karisma yang tenang. Dan Nanami Kento adalah definisi sempurna dari fantasi terliarmu selama ini.

"Meneer, kenapa Anda membantu saya?" tanyamu pelan.

Nanami terdiam sejenak. Ia mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh helai rambutmu yang keluar dari tatanan sanggul, namun ia menghentikannya di tengah jalan. Jemarinya yang besar dan tampak kuat itu bergetar sangat halus sebelum ia kembali menariknya.

"Omdat je anders bent," (Karena kau berbeda) jawabnya pendek. "Sekarang, sebelum ada orang lain yang melihat, aku akan mengantarmu ke pintu belakang. Jangan pernah kembali ke sini sendirian lagi. Mengerti?"

Kamu mengangguk pelan, merasa ada kekecewaan kecil karena pertemuan ini harus berakhir begitu cepat. Namun, saat kamu berbalik untuk pergi, Nanami kembali mengucapkan sebuah tanya.

"Siapa namamu?"

Kamu termenung sejenak, tampak jelas terkejut sebelum pada akhirnya menyebutkan namamu dengan suara lirih.

Nanami mengulangi namamu di bawah nafasnya, seolah sedang mencicipi rasa kata itu di lidahnya. "Mooi," (Cantik) gumamnya hampir tak terdengar. "Besok sore, aku akan mengunjungi kediaman ayahmu untuk urusan pajak. Pastikan kau sedang menyeduh teh di beranda saat itu."

Itu bukan sebuah permintaan. Itu adalah sebuah titah yang membuat perutmu terasa seperti diaduk oleh ribuan kupu-kupu. Kamu pergi meninggalkan gedung itu dengan langkah tergesa, meninggalkan sang Meneer yang masih berdiri di kegelapan, menatap kepergianmu dalam diam.


Sore itu, langit di atas pendopo kabupaten berwarna jingga pekat, seolah terbakar oleh matahari yang enggan beranjak. Kamu duduk di beranda samping, jemarimu bergerak mekanis memutar sendok perak di dalam cangkir porselen berisi teh melati. Namun, pikiranmu sama sekali tidak ada pada teh itu. Kamu teringat perintah—atau lebih tepatnya titah—sang Meneer semalam.

Suara derap kereta kuda yang berhenti di depan gerbang utama membuat jantungmu seolah berhenti berdetak. Dari kejauhan, kamu melihat sesosok pria tinggi besar turun dengan anggun. Nanami Kento. Hari ini ia tidak memakai jas hitam formal, melainkan kemeja putih berbahan linen tipis yang lengan bajunya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengan bawahnya yang kokoh dan dipenuhi bulu-bulu halus pirang.

Ia berjalan melewati taman dengan langkah yang nampak kalkulatif, tas kulit berisi dokumen pajak tersampir di tangannya. Ayahmu menyambutnya dengan sebuah bungkukkan dalam, namun mata biru keabu-abuan Nanami tak mengindahkan hal itu dan justru melalang buana menyapu area beranda, mencarimu. Saat mata kalian bertemu, ia tak tersenyum. Pria itu hanya menyesuaikan letak kacamatanya, memberikan anggukan kecil yang seolah sarat akan makna tersembunyi.

"Nduk, buatkan teh terbaik untuk Meneer Nanami," perintah ayahmu sebelum mereka masuk ke ruang kerja.

Kamu mengangguk patuh. Dengan tangan yang sedikit gemetar, kamu menyiapkan nampan. Kamu sengaja menunggu beberapa menit sebelum masuk ke ruang kerja ayahmu. Saat kamu mengetuk pintu dan masuk, aroma cerutu ayahmu bercampur dengan aroma sandalwood milik Nanami yang memenuhi ruangan.

"Terima kasih, Nona," ujar Nanami saat kamu meletakkan cangkir di hadapannya. Suaranya yang berat dan serak membuat bulu kudukmu meremang.

Jemarinya yang besar sengaja menyentuh milikmu saat ia menerima cangkir tersebut. Sentuhan itu singkat, tak sampai dua detik lamanya. Namun, panasnya sudah seperti bara api yang menyengat kulitmu luar dalam. Kamu menelan ludah, berusaha keras untuk tidak memekik di depan ayahmu.

"Bupati, saya rasa ada beberapa dokumen yang tertinggal di kereta saya. Bisakah putri Anda membantu saya mengambilnya? Saya tidak ingin merepotkan ajudan Anda yang sedang sibuk," ujar Nanami dengan nada yang sangat meyakinkan.

Ayahmu, yang terlalu segan pada sang Kontrolir, tentu saja mengiyakan. 

Kamu berjalan keluar diikuti oleh Nanami di belakangmu. Begitu sampai di lorong sepi yang menghubungkan pendopo dengan area luar, Nanami tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganmu dan menarikmu ke balik pilar besar yang tertutup tanaman merambat.

"Meneer... apa yang Anda lakukan?" bisikmu terengah, punggungmu terhimpit di antara tembok dingin dan tubuh panasnya yang menjulang.

"Ik heb de hele dag aan je gedacht," (Aku memikirkanmu sepanjang hari) gumamnya parau. Wajahnya mendekat, hidungnya yang mancung mengendus aroma lehermu yang terbuka karena sanggulmu yang rapi.

Kamu bisa merasakan gairah yang tertahan dari hembusan nafasnya yang memburu di kulit lehermu. Tangannya yang besar kini berpindah ke pinggangmu, meremas kain jarikmu hingga kamu bisa merasakan tekanan jari-jarinya di pinggulmu. Kamu merinding, menyadari betapa kuatnya pria di hadapanmu ini.

"Anda lancang sekali, Meneer," cicitmu pelan. Namun, alih-alih menjauh, kamu justru menyandarkan kepalamu di bahunya yang lebar, menghirup aroma maskulin yang baru-baru ini jadi hal favoritmu.

Nanami terkekeh rendah, sebuah suara yang menggetarkan dadanya yang bidang. "Je bent zo verleidelijk," (Kamu begitu menggoda). Ia mengangkat dagumu dengan ibu jarinya, menatap bibirmu dengan pandangan lapar seolah ia adalah seorang predator yang telah lama berpuasa.

"Aku ingin kamu datang ke rumah dinasku malam ini. Ada sebuah lukisan baru yang ingin kutunjukkan padamu," bisiknya di depan bibirmu. "Hanya kita berdua. Tanpa protokol, tanpa kasta."

Kamu tahu ini adalah awal dari kehancuranmu. Kamu tahu hubungan ini tidak akan memiliki masa depan di tanah jajahan ini. Namun, saat melihat binar gairah di mata Nanami yang biasanya dingin, kamu merasa seperti laron yang tertarik pada api.

"Jam berapa, Meneer?" tanyamu, menyerah pada rasa haus akan perhatiannya.

Nanami tersenyum tipis—kali ini sebuah senyuman yang benar-benar mencapai matanya, namun tetap terlihat berbahaya. "Tepat saat lonceng gereja berdentang sepuluh kali. Aku akan menunggumu di pintu samping, Nona."

Ia melepaskanmu begitu saja, meninggalkanmu yang masih terengah dan gemetar di balik pilar, sementara ia kembali ke ruang kerja ayahmu seolah-olah tidak terjadi apa pun. Kamu menatap telapak tanganmu yang masih bisa merasakan panas bekas sentuhannya; menyadari bahwa malam ini, kamu akan menyerahkan segalanya pada sang Meneer Belanda itu.


Lonceng gereja di pusat kota berdentang sepuluh kali, suaranya menggema membelah sunyi malam yang pekat di Batavia. Kamu berdiri di depan pintu samping rumah dinas yang megah itu, tubuhmu dibalut jubah hitam panjang untuk menyembunyikan kebaya sutramu. Jantungmu berdegup kencang, seolah-olah setiap detaknya bisa terdengar oleh para serdadu yang berpatroli di kejauhan.

Bahkan kamu tak perlu mengetuk saat pintu di hadapanmu terbuka pelan tanpa suara. Nanami berdiri di sana, hanya mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, menampilkan pangkal lehernya yang kokoh. Tanpa sepatah kata pun, ia menarikmu masuk dan mengunci pintu di belakangmu.

Ruang kerja Nanami hanya diterangi oleh beberapa batang lilin yang hampir habis. Aroma kertas tua, tinta, dan jenever yang kuat memenuhi udara. Nanami berbalik menatapmu, obsidian biru keabu-abuannya tampak menggelap di bawah remang cahaya.

"Je bent gekomen," (Kau datang juga) gumamnya dengan suara yang lebih parau dari biasanya. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga kamu bisa merasakan panas dari tubuhnya yang besar.

"Saya seseorang yang menepati janji, Meneer," ujarmu pelan. Kamu mendongak, terpaku pada wajahnya yang tampak begitu tampan di bawah cahaya temaram.

Tangan Nanami yang kasar dan hangat hinggap di pipimu, ibu jarinya mengusap bibir bawahmu dengan gerakan yang sensual. "Je bent zo prachtig," (Kamu begitu menawan). Ia menunduk, menghirup aroma melati di ceruk lehermu, membuatmu meremang hebat. "Bau tubuhmu membuatku sulit berkonsentrasi pada dokumen-dokumen sialan itu sepanjang hari."

Kamu tidak bisa lagi menahan diri. Kamu mengalungkan tanganmu pada leher betonnya, menarik wajahnya agar sejajar denganmu. "Kalau begitu, jangan pikirkan dokumen itu lagi malam ini, Meneer."

Ujaranmu bagaikan pemantik di atas genangan minyak. Nanami mendengus rendah sebelum membungkam mulutmu dengan sebuah ciuman. Ini bukan lagi sekadar perkenalan; ini adalah sebuah penandaan. Bibir Nanami terasa sedikit kasar karena sisa cerutu, namun ia sangat andal dalam membolak-balikkan duniamu lewat pagutan itu.

Lidahnya yang panjang melesak masuk, mengacak-acak mulutmu hingga saliva menetes di sudut bibir. Kamu mengerang, meremas rambut pirangnya yang biasanya tertata rapi kini mulai berantakan karena jemarimu. Nanami mendorongmu hingga punggungmu membentur meja kayu jati yang besar. Dokumen-dokumen pajak berserakan jatuh ke lantai, namun ia tak peduli.

Ia mengangkat tubuhmu, mendudukkanmu di atas meja sementara ia berdiri di antara kedua pahamu. Tangan besarnya merayap masuk ke balik kain jarikmu, mengusap kulit pahamu yang halus dengan friksi yang membakar.

"Ik wil je nu," (Aku menginginkanmu sekarang) bisik Nanami di telingamu, nafasnya yang panas membuatmu hampir kehilangan kesadaran karena euphoria.

Kamu menatapnya dengan manik yang berkabut, bibirmu bengkak dan basah. 

"Lakukan, Meneer. Gagahi saya sampai saya lupa siapa diri saya sebenarnya." Jawabmu di sela-sela nafas yang terengah. 

Cahaya lilin yang meliuk-liuk di atas meja jati besar itu menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding, seolah ikut mengintip dosa yang tengah kalian bangun. Nanami menarikmu lebih dekat hingga dadamu yang terbalut kebaya sutra menempel pada kemeja linennya yang tipis. Kamu bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu—cepat dan kuat. 

Ruangan itu pengap oleh aroma maskulin yang kental dan panas yang menjalar dari dua tubuh yang saling mendamba. Nanami tidak terburu-buru. Ia adalah pria yang terbiasa dengan ketelitian, dan malam ini, tubuhmu adalah dokumen paling berharga yang harus ia periksa inci demi inci.

​Tangannya yang besar merayap perlahan ke tengkukmu, jemarinya menyusup di antara anak rambut yang basah oleh keringat dingin. Ia menarik kepalamu sedikit ke belakang, memaksamu menatap matanya yang berkilat tajam di balik lensa kacamata.

​"Kau gemetar, Nona," gumamnya, suaranya seberat gesekan beludru. "Apakah kau takut pada apa yang akan aku lakukan, atau kau takut karena kau begitu menginginkannya?”

Kamu tidak bisa menjawab. Lidahmu kelu saat Nanami mulai menanggalkan kancing kebayamu satu per satu dengan sangat perlahan. Setiap kali kulit bahumu terekspos udara malam, kamu bergidik. Ketika kain sutra itu akhirnya luruh ke lantai, Nanami terdiam sejenak, membiarkan matanya 'memakan' sosokmu yang hanya berbalut kemben tipis yang hampir tidak bisa menahan desakan dadamu.

Ia membungkuk, menempelkan bibirnya di ceruk lehermu, menghisap kulit halus di sana hingga meninggalkan bekas kemerahan yang mencolok—sebuah tanda kepemilikan yang kontras dengan kulit putihmu. Tangannya yang kasar merangkul pinggangmu, menarikmu hingga perutmu menempel pada sabuk kulitnya yang dingin.

​"Mooi, je bent zo mooi," (Cantik, kamu sangat cantik). Tangannya yang besar dan kasar kini meraup payudaramu. Ia meremasnya dengan gemas, memilin putingmu di antara ibu jari dan telunjuknya hingga sebuah desahan panjang lolos dari bibirmu.

​Kepala Nanami bergerak turun, membenamkan wajahnya di belahan dadamu, menghirup aroma melati dan keringat dingin yang mulai muncul di kulitmu. Sementara itu, tangannya yang lain menyusup ke balik kain jarikmu yang masih melilit pinggang. Jemarinya merangkak naik di sepanjang paha dalammu, menciptakan sensasi terbakar yang luar biasa. Tak pernah terbayangkan olehmu sebelumnya akan hal-hal asusila seperti ini jika bukan karena Nanami. 

“Annghh…mmhm…” Kamu mengerang, mengeluarkan desahan yang tak pernah tahu bisa kamu keluarkan. 

Nanami mengangkatmu dengan satu sentakan kuat, mendudukkanmu di tepi meja jati yang keras. Ia menyibak kain jarikmu hingga ke pangkal paha, memamerkan kaki jenjangmu yang kini terbuka lebar di hadapannya. Ia berdiri di antara kedua pahamu, mengekspos bagian intim yang tak pernah sesiapapun tahu setelah dirimu akil baligh. Rasa malu dan birahi bercampur aduk jadi satu membuatmu pening. 

Saat jemari Nanami menyentuh vaginamu yang sudah basah kuyup, seketika tubuhmu tersentak. Dada terbalut kemben tipis membusung, menampilkan dua puting yang menjeplak dibaliknya. Nanami terkekeh rendah, merasakan denyutan gairahmu di ujung jarinya. 

​"Ben je al zo geil, mijn kleine bijwijf?" (Apakah kamu sudah sange, gundik kecilku?) ejeknya dengan nada seksi yang tak pernah terpikir bisa keluar dari belah bibir seorang Nanami yang terkenal dingin. 

Kamu mengangguk patah-patah dan Ia langsung melesakkan dua jarinya sekaligus, menyusuri liang perawanmu yang sempit, dengan gerakan maju mundur dan menggunting untuk meregangkanmu. Ibu jarinya akan sesekali menggesek klitorismu dan setiap kali itu pula, kamu akan melayang. Seolah-olah ini semua hanyalah sebuah mimpi dikala demam. Rasanya tak bisa dideskripsikan dengan frasa manusia. 

Tanpa melepaskan tatapan matanya darimu, Nanami membuka kancing celananya. Saat kejantanannya yang besar dan berdenyut itu terbebas, kamu menahan nafas. Gila. Ukurannya benar-benar mencerminkan dominasinya sebagai seorang penguasa kolonial. 

Ia memegang pangkal miliknya, menggesekkan ujungnya yang panas pada liangmu yang sudah berdenyut-denyut meminta diisi. Kamu merengek tanpa kata, memohon dengan dua mata yang berkabut pada sang pria. Tanpa bicara pun kamu yakin, Nanami akan tahu apa maksudnya. 

​"Katakan padaku," Nanami berbisik, mengikis jarak di antara kalian hingga hanya tersisa tak sampai sejengkal jaraknya dari wajahmu. Dua hidung bersentuhan geli. "Siapa yang memilikimu malam ini?"

​"Anda. Meneer Nanami...mmmh…saya milik Anda," jawabmu dengan nafas yang tersengal.

Mendengar itu, Nanami tidak lagi menahan diri. Ia menghujamkan dirinya masuk dalam satu dorongan yang dalam dan mantap. Kamu mengerang keras, kepalamu mendongak ke belakang saat merasakan setiap inci dari dirinya mengisi kosong yang selama ini tak pernah kamu ketahui ada dalam dirimu. Meja jati di bawahmu berderit, menjadi saksi bisu betapa kuatnya hantaman yang diberikan Nanami.

Ia bergerak lambat namun penuh tenaga. Setiap kali ia menarik diri hampir sepenuhnya keluar, ia akan menghujam kembali dengan lebih keras, memastikan kamu merasakan setiap urat dan kepala penisnya yang panas menumbuk dinding rahimmu. Pergerakan pria itu penuh kalkulasi dan kalkulasinya, tak pernah meleset sedikitpun. Rasanya luar biasa, seperti digagahi oleh sang dewa senggama. Kamu mendesah lagi dan lagi, menggemakan suaramu di ruang kerja tersebut. 

"Kijk me aan," (Tatap aku) perintahnya tegas. "Zeg dat je mijn kleine bijwijf bent," (Katakan bahwa kau adalah gundik kecilku) desahnya parau tepat di telingamu.

​"J-ja, Meneer... ahh! Saya gundik Anda…!" kamu meracau, benar-benar teler oleh kenikmatan yang diberikan oleh pria matang tersebut. 

Tempo persenggamaan itu meningkat begitu cepat. Suara kulit yang beradu dan cairan yang becek memenuhi ruangan, mengalahkan suara detak dari jam kayu yang berisik. Nanami mengerang rendah, suaranya terdengar seperti singa yang tengah menandai wilayahnya. Kamu meracaukan namanya dalam bahasa Belanda yang terbata-bata, benar-benar kehilangan kewarasan saat puncak itu mulai mendekat.

​"Ik ga komen…" (Aku akan keluar...) Nanami berbisik rendah.

​Ia mempercepat gerakan pinggulnya lagi dan lagi seolah tak ada hari esok. Di saat kamu merasakan dinding vaginamu menjepitnya dalam orgasme yang hebat, Nanami menghujamkan penisnya dengan satu hentakan kuat untuk terakhir kalinya, sebelum menumpahkan benihnya yang panas ke dalam rahimmu. 

Kalian berdua terengah-engah, saling berpegangan dalam keheningan yang kini terasa sangat berat. Nanami menyandarkan keningnya di bahumu, nafasnya yang panas masih terasa di kulitmu yang berkeringat.

Het was fantastisch.” Ujarnya dengan suara lembut sembari memberikan sebuah kecupan ringan pada puncak kepalamu. 

Tubuhmu yang telah lemas direngkuh, dan dibiarkannya dua manikmu tertutup, jatuh ke alam mimpi meninggalkan yang lebih tua sendiri dengan dokumennya yang berserakan. 


Bulan-bulan berikutnya adalah rangkaian pertemuan rahasia yang memacu adrenalin. Di luar sana, Nanami Kento adalah Meneer Kontrolir yang disiplin, dan kamu adalah seorang putri Bupati yang begitu patuh. Namun, tak ada yang tahu bahwa saat lonceng gereja berdentang atau saat hujan badai menyamarkan suara derap kereta, ada sisi lain yang tak seorangpun tahu perihal kalian berdua. 

Kalian belajar untuk mencuri waktu. Terkadang di gudang rempah yang pengap oleh aroma cengkeh, terkadang di dalam kereta kuda yang tertutup rapat saat ia mengantarmu pulang dari jamuan resmi. Nanami menjadi jauh lebih protektif. Ia akan menatap tajam pria mana pun—termasuk para opsir muda Belanda—yang berani menatapmu terlalu lama di pesta dansa.

Suatu sore di paviliun belakang rumah dinasnya yang rimbun oleh pohon kamboja, Nanami duduk di kursi rotan dengan kancing kerah yang terbuka. Ia baru saja menyelesaikan laporan mingguan, dan kamu duduk di lantai, bersandar pada kakinya yang panjang.

"Kom hier," (Ke sini) gumamnya parau.

Ia menarikmu naik ke pangkuannya. Kamu bisa merasakan kerasnya otot paha Nanami di bawah kain jarikmu. Jemarinya yang besar merayap ke wajahmu, melepas kacamata emasnya dan menaruhnya di meja, menunjukkan mata lelahnya yang seolah nampak penuh damba.

"Meneer tidak lelah terus bersembunyi?" bisikmu sambil mengusap rahangnya yang kasar karena mulai ditumbuhi janggut halus.

Nanami mendengus, menarik pinggangmu hingga tak ada celah di antara kalian. "Het is gevaarlijk, maar je bent het waard," (Ini berbahaya, tapi kau sepadan).

Ia mulai menciummu. Bukan lagi sebuah ciuman penaklukan yang brutal seperti malam pertama lalu, melainkan sebuah ciuman yang lambat, dalam, seolah berusaha untuk mengatakan bahwa kamu adalah miliknya. Lidahnya membelit lidahmu dengan ritme yang memabukkan. Tangannya menyusup ke balik kebayamu, meremas payudaramu dengan posesif.

"Ahh...Nanami..." Kamu mendesah pelan, menyebut namanya tanpa gelar untuk pertama kalinya.

Ia berhenti sejenak, menatapmu lurus dengan dua maniknya yang berkilau singkat. "Zeg het nog eens," (Katakan lagi).

"Nanami..."

Mendengar namanya disebut oleh bibirmu dengan nada memohon, pertahanan pria itu runtuh. Ia mengangkatmu, membawamu ke ranjang kayu jati yang tertutup kelambu putih tipis. Di sana, di bawah putaran kipas angin langit-langit yang lamban, Nanami mencumbumu tak selayaknya seorang pria yang tahu bahwa waktunya terbatas.

Ia akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyesap kulit bahumu, menggigit kecil telingamu, dan membisikkan kata-kata dalam bahasa Belanda yang semakin kotor saat gairahnya memuncak.

"Je bent mijn kleine bijwijf, toch? Zeg me dat je van niemand anders bent," (Kamu gundik kecilku, kan? Katakan padaku kamu bukan milik orang lain).

"Hanya milikmu, Meneer. Hanya milikmu," jawabmu sambil meremas sprei putih yang kini berantakan.

Saat ia memasukimu, gerakannya kini lebih sinkron dengan keinginanmu. Ia tahu persis di mana harus menekan, kapan harus mempercepat tempo, dan kapan harus berhenti sejenak hanya untuk melihat ekspresi keenakan di wajahmu. Nanami adalah kekasih yang egois sekaligus pemurah; ia ingin kamu hancur di tangannya, namun ia juga memastikan kamu mencapai puncak berkali-kali sebelum ia menumpahkan benihnya.

Kalian sering menghabiskan waktu setelah bercumbu hanya dengan berpelukan di bawah selimut, mendengarkan suara jangkrik di luar. Nanami akan membacakan puisi Belanda atau menceritakan tentang salju di Eropa yang belum pernah kamu lihat. Di saat-saat seperti itu, kamu merasa seolah-olah kamu adalah satu-satunya wanita di hidupnya.

Kamu merasa dicintai. Kamu merasa menjadi ratu di kerajaan rahasia yang dibangun oleh sang Kontrolir Belanda ini. Sebuah cinta yang tak pernah terbayang akan hadir dalam hitam putih kehidupan pribumimu.

Namun, setiap kali fajar menyingsing dan Nanami harus mengenakan kembali jasnya yang kaku, ada jarak yang kembali tercipta.

"Sampai jumpa besok, Nona," ujarnya dengan suara dingin yang kembali formal saat mengantarmu ke pintu belakang.


Hujan badai mengguyur Batavia malam itu, suara guntur bersahutan dengan deru angin yang menggoyahkan dahan-dahan pohon kamboja di luar rumah dinas Nanami. Di dalam ruang kerjanya, suasana justru terasa sangat panas. Kalian baru saja selesai bercumbu di atas sofa kulit yang licin, menyisakan nafas yang masih tersengal dan keringat yang membasahi kulit.

​Nanami berdiri, membelakangimu sambil merapikan kemeja putihnya yang kusut. Ia tampak tenang, kembali ke sosok birokrat yang tak tersentuh. Sementara itu, kamu masih terduduk lemas dengan kebaya yang tersampir longgar di bahu.

Saat Nanami melangkah ke sudut ruangan untuk menuang jenever ke dalam gelas kristal, matamu tertuju pada laci tengah meja jatinya yang tidak tertutup rapat—mungkin karena terburu-buru oleh gairah tadi, ia lupa menguncinya.

​Ada sesuatu yang berkilau di sana. Sebuah bingkai perak mungil yang terselip di antara tumpukan surat dinas berstempel lilin merah.

​Didorong oleh rasa penasaran yang begitu janggal, kamu mendekat. Dengan santai, kamu menarik laci itu perlahan; mengambil bingkai tersebut dan membaliknya.

​Detik itu juga duniamu seolah berhenti berputar. Waktu berjalan begitu lambat dan nafas seolah direnggut secara paksa. 

Foto itu nampak cukup baru, sebuah daguerreotype mahal. Di sana, Nanami Kento berdiri dengan seragam militer Hindia Belanda yang kaku, tangannya merangkul pinggang seorang wanita Eropa yang luar biasa cantik. Wanita itu mengenakan gaun beludru hitam dengan kerah renda tinggi, dan rambut pirangnya tertata dalam sanggul yang rumit.

​Namun, yang paling mengejutkan dan mengoyak hatimu adalah sosok anak kecil di depan mereka. Seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun, mengenakan setelan jas pelaut kecil. Ia memiliki hidung yang sama dengan Nanami, dan yang paling mencolok—ia menatap kamera dengan sepasang mata biru yang identik dengan mata yang baru saja menatapmu penuh damba beberapa menit lalu.

Di bawah foto itu, ada tulisan tangan yang rapi dengan tinta emas:

Mijn lieve echtgenoot Kento, en onze zoon Adriaan. Amsterdam, 1881.”

(Suamiku tersayang Kento, dan putra kita Adriaan.)

​"Leg het neer, nu." (Letakkan itu, sekarang.)

Nanami buka suara, kini sudah berdiri di belakangmu dengan menjulang.

​"Siapa mereka, Nanami?" suaramu pecah. Kamu tidak lagi memanggilnya Meneer. "Siapa wanita ini? Dan anak kecil yang memiliki matamu ini…siapa dia?"

​Nanami merebut bingkai itu dengan tanpa terburu-buru. Ia menatap potret tersebut cukup lama sebelum akhirnya meletakkannya kembali ke dalam laci. Ia menghela nafas panjang, sebuah desahan yang terdengar seperti kekalahan. Seolah ia tahu bahwa cepat atau lambat hal ini akan datang. 

​"Namanya Mathilde. Dan anak itu... namanya Adriaan," jawabnya pelan, matanya menatap kosong ke arah jendela yang basah. "Mereka adalah keluargaku di Amsterdam.”

Air mata mulai jatuh membasahi pipimu, membasahi kebaya sutra yang tadi ia puji kecantikannya. "Lalu apa artinya saya, Nanami? Apa artinya semua malam yang kita lalui? Apakah saya hanya gundik untuk pemuas nafsu Anda di tanah jajahan ini?"

​Nanami berbalik, menatapmu dengan sorot mata yang hancur. Ia melangkah maju, memegang kedua belah pipimu dengan telapak tangannya yang besar.

​"Nee luister naar me," (Tidak dengarkan aku) bisiknya, suaranya tercekat. "Je bent meer dan alleen dat. Ik houd van je. Ik houd echt van je." (Kamu lebih dari itu. Aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu.)

​"Tapi Anda memiliki mereka!" teriakmu pedih.

​"Itulah kutukanku!" Nanami membalas, matanya kini memerah. "Aku adalah seorang pejabat Belanda. Aku memiliki kewajiban, kontrak, dan nama baik keluarga yang harus kujaga di Eropa. Di sana, aku adalah seorang suami dan ayah yang terhormat. Tapi di sini, di dalam ruangan ini, bersamamu; aku hanyalah pria yang egois."

​Ia menarikmu ke dalam pelukannya, mendekapmu begitu erat seolah takut kamu akan menguap dan melebur di hadapanya.

​"Surat mutasiku sudah keluar pagi ini," gumamnya di telingamu. "Aku harus kembali ke Amsterdam minggu depan. Kapalnya sudah menunggu di pelabuhan Tanjung Priok."

​Kamu melepaskan diri dari pelukannya, menatapnya seolah tak percaya. Seperti dipuja lalu dijatuhkan ke neraka. "Jadi, Anda akan pergi? Anda akan kembali ke pelukan istri Anda seolah saya tidak pernah ada?"

​Nanami menunduk, mengalihkan pandangannya dari dua manikmu yang basah akan air mata; seolah itu akan meringankan rasa bersalah yang becokol dalam dadanya. "Ik heb geen keus." (Aku tidak punya pilihan.)

​"Anda selalu punya pilihan, Nanami! Anda hanya terlalu pengecut untuk memilih saya!"

​Nanami kembali mendekat, mencium keningmu dengan sangat lama. Ciuman yang terasa begitu menyakitkan, seperti sebuah perpisahan. Kemudian, ia merobek sepucuk surat dari mejanya, sebuah cek bank yang bernilai sangat besar, dan menyodorkannya padamu.

​"Gunakan ini untuk hidupmu. Pergilah ke Yogyakarta, atau ke mana pun yang kau mau. Hiduplah dengan layak, Nona.”

Kamu meraih kertas itu, lalu merobeknya tepat di depan Nanami. Begitu marah akan fakta bahwa sang pria menganggap hatimu bisa disembuhkan dengan tumpukan gulden. Potongan kertas itu jatuh seperti salju di antara kalian.

​"Saya tidak butuh uang Anda, Meneer," bisikmu pedih. "Saya hanya butuh pria yang saya cintai. Tapi pria itu ternyata tidak pernah ada." Ujarmu sebelum berbalik, berlari keluar menembus hujan badai tanpa menoleh.


Seminggu kemudian, Pelabuhan Tanjung Priok diselimuti kabut tipis dan aroma garam yang menyengat. Kapal uap raksasa Prins Hendrik sudah bersandar, cerobongnya mengeluarkan asap hitam yang membumbung ke langit abu-abu. Riuh rendah kuli angkut dan tangis perpisahan para keluarga kolonial bergema memenuhi dermaga.

​Nanami Kento berdiri di dek atas, mengenakan setelan jas wol yang terlalu tebal untuk iklim tropis, seolah ia sudah berusaha menyesuaikan diri kembali dengan suhu Eropa yang dingin. Matanya yang merah di balik kacamata terus menyisir kerumunan di dermaga. Ia berharap, sekaligus takut, akan melihat sosokmu di sana.

​Namun, hingga saat jangkar kapal itu diangkat, sosokmu tak pernah datang.

​Di tangannya, Nanami meremas sapu tangan sutra pemberianmu yang masih menyisakan sedikit aroma melati. Ia teringat Adriaan, ia teringat tanggung jawabnya, tapi setiap kali ia memejamkan mata, yang ia dengar adalah rintihanmu di atas meja jatinya di Batavia. Ia menyadari satu hal yang terlambat; ia tidak sedang pulang. Ia sedang meninggalkan satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar hidup.

​"Vaarwel, mijn liefste," (Selamat tinggal, cintaku) bisiknya lirih ke arah daratan yang perlahan menjauh saat kapal mulai bergerak. Sepenuhnya meninggalkan Hindia Belanda dan cintanya.