Actions

Work Header

Fever Getting Worse

Summary:

Ketika Hyunjin menerima telpon dari Jeongin, suara desahan kekasih menyapa rungunya.

"Kamu baru kena demam. But why are you touching yourself?" Hyunjin terkekeh. "Mind to explain?"

Suara menuntut Hyunjin membuat Jeongin makin dalam mendorong jarinya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

Jeongin terbangun dari tidur yang ke sekian kalinya. Demam yang melanda lelaki 20 tahun itu membuatnya tidak bisa melakukan kegiatan apapun selain berbaring di kasurnya. Keringat dingin menetes dari dahi dan pelipisnya. Kasurnya terasa lembap akibat Jeongin sudah seharian berbaring di sana. Ia melirik jam, sekarang baru jam 10 malam. Jeongin memejamkan matanya erat-erat, menghembuskan napasnya dengan berat. Matanya tidak bisa dipejamkan lagi karena kepalanya sudah mengirimkan sinyal cukup untuk tidurnya yang berlebihan ini.

Tinggal di apartment yang penghuninya bersifat individualis tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Jeongin yang sehari-harinya berangkat pagi dan pulang malam karena berkuliah, merasa nyaman karena tidak ada yang peduli dengan jam kepulangannya, dengan penampilan dirinya yang kadang nyentrik, dan tidak ada yang peduli jika ia sering membawa inap lelaki ke kamarnya.

Sampai ia jatuh sakit di kamarnya. Tidak ada yang acuh terhadap mimik mukanya yang menahan ringisan akibat dentuman hebat di kepalanya, tidak ada keluarga atau tetangga yang menyiapkan makanan untuknya, tidak ada yang mendatanginya untuk menggantikan kompresan hangat di dahi panasnya.

Hyunjin kesal dengan kabar kekasihnya yang sedang lemah imunnya itu. Kesal karena dirinya tidak bisa menyuapinya makan dengan teratur, tidak bisa memberinya obat sesuai jamnya, tidak bisa mengganti kompresan agar demamnya segera lari—Hyunjin kesal karena dirinya tidak bisa memeluk kekasihnya agar suhu panas itu berpindah ke badannya. Mahasiswa semester tua itu sedang melakukan internship di kota sebelah. Jeongin tau bagaimana susahnya Hyunjin mencari-cari hotel untuk tempat ia bermagang, dan yang akhirnya ia temukan di luar kota, jaraknya lumayan jauh dari apartment Jeongin.

Maka saat suara khawatir Hyunjin akan mengetahui kondisinya dan tanpa mempertimbangkan program intern-nya ia ingin menemani kekasihnya saja, Jeongin dengan tegas menolak permintaan spontan Hyunjin.

"Nanti aku telpon kalau aku butuh ditemenin." finalnya saat mereka sempat berargumen melalui telpon. "Kamu fokus magang aja. Jam segini baru pulang, besok berangkat pagi lagi kan?"

Dibilang seperti itu, Hyunjin tidak bisa tidak setuju. Kabar bahwa kekasihnya demam tinggi membuat fokusnya pecah. Tapi ia tidak bisa mengabaikan kegiatan intern-nya di hotel yang selalu overwork itu. Berangkat jam 6 pagi dari kosnya dan baru pulang jam 9 malam, seharusnya. Hyunjin di sana hidup setengah mati rasanya. Ia rindu terhadap keluarganya dan kekasihnya yang berjarak dengannya lebih dari 100 km. Mentalnya terlalu diguncang keras, lelah pada batinnya mulai terasa. Pesan-pesan lucu dan konyol di ruang pesan mereka sudah jarang tercipta. Hyunjin lebih suka menepis rindu dengan melakukan panggilan suara ataupun video dengan kekasihnya.

Kini Hyunjin sedang makan malam di ruang staff di basement hotel. Walau sering overwork, ia tetap diberi makan siang dan malam oleh staff tetap di sana. Jari-jarinya tengah menggulir media sosial, memberi tanda suka pada foto kucing, lukisan, berita viral, berita pemerintahan yang tidak becus—

 

Si Cantik is calling....

 

Matanya yang melebar menjadi reaksi pertama atas notifikasi tak terduga itu. Segera ia menekan tombol hijau pada layarnya.

"Halo sayang? Gimana demam kamu? Udah turun atau masih demam?"

Jeongin yang baru ingin memanggil namanya jadi tertahan. "Hyuunnn," Jeongin tertawa kecil, "satu-satu dong sayang. Demam aku udah turun, tapi masih anget anget aja."

Hyunjin tidak bisa menyembunyikan napas leganya. "Puji Tuhan. Sekarang udah malem, kamu udah makan? Aku lagi makan soalnya."

Padahal sepiring makan malamnya kini terlihat tidak menarik.

Jeongin bergumam panjang.

"Belum ya?" tanya Hyunjin.

Kekasihnya tertawa lagi. "Belum makan malem. Maunya..." Jeongin menggigit sudut kanan bibir bawahnya. "Makan kamu."

"Sayang..." Hyunjin menghela napas. Jeongin ini sangat suka bercanda yang membuatnya panik. "Yang bener kamu. Udah makan belum? Aku pesenin aja ya?"

"Hyun," panggil Jeongin yang membuat lawan bicaranya mengernyit, karena suaranya seperti sedang menahan sesuatu.

Jeongin tidak melanjutkan kalimatnya lagi.

"Sayang?" 

Tidak ada jawaban, namun Hyunjin dapat mendengar napas Jeongin yang makin memberat.

"Sayang? Kamu nggak apa-apa?" Hyunjin panik, bagaimana kalau ternyata tubuhnya panas lagi? Bagaimana kalau Jeongin sedang menggigil sehingga napasnya terdengar memburu? Bagaimana kalau Jeongin—

"Hyun..." panggil Jeongin lagi, nadanya masih sama seperti tadi.

Hyunjin baru tersadar. Jantungnya berdetak lebih kencang, tapi ia tidak mau buru-buru menyimpulkan.

Karena itu adalah intonasi suara yang sama ketika Jeongin sedang merintih di bawahnya.

"Aku kangen kamu." bisik Jeongin dari sebrang sana dengan napas yang memberat.

Hyunjin tidak tau pasti kekasihnya sedang melakukan apa, tapi yang jelas bagian selatannya mulai berdenyut.

 

(**)

 

Kegiatan internship menyebalkan Hyunjin berlangsung selama 8 bulan, 4 bulan magang terbimbing dan 4 bulan magang mandiri. Kekasihnya akan mengakhiri magang terbimbing dalam waktu 2 minggu lagi. Sudah hampir 4 bulan sejoli itu tidak bertemu.

Maka tidak mengherankan ketika Jeongin sedang iseng menggulir galeri melihat foto kekasihnya dan menggulir ruang pesan mereka berdua yang dulunya mereka masih sempat bertukar pesan konyol dan tidak sengaja membaca pesan erotis mereka, Jeongin rasakan gatal menghampiri.

Jeongin akui dirinya mudah terpancing. Bagian yang terbiasa dijamah saat mereka masih bersama akan mudah sekali mengirim sinyal butuh disentuh jika Jeongin mengingat hal erotis di antara mereka berdua.

Sungguh 4 bulan ke belakang ini mereka hanya bertukar cerita tentang kegiatan sehari-hari mereka. Keduanya sibuk, jikalau Jeongin sedang luang, Hyunjin pasti ada kegiatan lain. Kekasihnya menggunakan waktu luang untuk tidur, bukan seperti Jeongin yang menggunakan waktu luangnya untuk berbaring di kasur, menggapit bantal di antara tungkainya, menekan bantal itu dengan pinggangnya, dan dalam pejamnya ia membayangkan jika yang diapit adalah kekasihnya.

Dalam rengekan mendayunya yang memanggil nama Hyunjin, Jeongin tidak akan menghubungi kekasihnya hanya untuk memberi taunya jika ia butuh disentuh. Jeongin sangat sayang Hyunjin, ia tidak berani mengganggu waktu istirahat kekasihnya.

Mungkin pengecualian untuk malam ini.

Entah bagaimana bantal yang menjadi korban ke sekian kalinya telah mendarat manis di selangkangannya. Baju yang seharusnya melindungi badan yang panas itu juga sudah terangkat sampai ke atas dada. Jeongin abaikan demam yang menyerangnya. Rasa rindu terhadap Hyunjin lebih besar.

Rindu akan eksistensi Hyunjin.

Rindu akan suara Hyunjin.

Rindu akan pelukan Hyunjin.

Rindu akan pesan-pesan tidak bermoral yang mereka tukar pada siang bolong dan tengah malam.

Rindu akan ketika badan mereka berbagi hangat dalam deru napas yang memburu.

Jeongin sudah sebisa mungkin menahan segala inginnya, tetapi memang pada dasarnya tubuhnya sudah rindu dengan Hyunjin.

Di balik selimutnya yang menahan kehangatan di dalamnya, Jeongin bergerak gelisah pada pinggulnya, mencari kenikmatan dari friksi yang ia ciptakan antara bagian senggamanya dan bantalnya.

Jeongin menggigit bibirnya agar rintihan kecilnya tidak menggema. Usapan-usapan halus ia berikan pada tubuh atasnya, perut bawah, perut atas, kemudian berhenti di area dada. Tangannya mengusap pucuk dada sebelah kanan dan kirinya bergantian. Belum puas, ia tambahkan cubitan agar ciptakan gelenyar aneh pada senggama bawahnya.

Jeongin mengeratkan pejamannya ketika dengan berani ia tambahkan kekuatan untuk mencubit pucuk dadanya.

"H—Hyun..."

Jeongin gerayangi pucuk dadanya lebih berani lagi ketika kilasan Hyunjin memainkan daerah itu lewat. Dadanya makin membusung. Kakinya rapatkan lebih erat bantal di sana. Pinggulnya ia gerakkan, ke depan dan ke belakang, mencari sentuhan yang ia ciptakan sendiri.

Bermain dengan dadanya membuat bagian selatannya tambah ngilu dan gatal. Ia sudahi tangannya menjamah kedua pucuk itu. Ia membalikkan posisi menjadi menunggangi bantal tak bersalah itu. Selimut pun tidak ada gunanya lagi. Jeongin singkirkan karena badannya sudah gerah.

Ketika tidak ada yang bisa ia naiki, maka inilah satu-satunya solusi. Jeongin tekan lagi pinggulnya pada bantal yang sudah lembap. Bergoyang asal ke depan, ke belakang, memutar, asal lubang senggamanya dapat digaruk. Penisnya terasa sesak. Jeongin membebaskan batang yang sudah berdenyut itu lalu ia genggam. Cairan yang keluar dari ketika dadanya ia jamah, ia balurkan ke seluruh permukaan dengan tangannya.

Jeongin memompa penisnya yang sudah amat licin dengan cepat. Telapak tangan kirinya menumpu berat badannya di atas kasur. Kepalanya mendongak, pikirannya sudah berkabut. Tidak henti-hentinya ia menggerakkan pinggulnya dan memompa penis dengan tangannya.

Lubangnya gatal sekali. Habis ini ia ingin meregangkan agar tidak gatal lagi. Matanya terpejam, mulutnya sangat berisik, rintihan itu berubah menjadi desahan terputus-putus atas respons dari kenikmatan pada penis dan lubangnya.

Jeongin melafalkan nama Hyunjin lagi. Berharap jika kekasihnya muncul di apartment-nya dan bantu hilangkan sesak dan gatalnya. Ia hentikan gerakan pada pinggulnya. Putihnya sebentar lagi muncul. Ia rasakan penisnya berdenyut lebih sering tanpa niat berhenti memompa dari pangkal hingga kepala penisnya. Dengan tangan kiri, ia mengusap-usap kedua bola yang sudah ikut licin.

"Mmhh... Hyunjin..."

Miris sekali, bahkan di saat dirinya minta dikasihi, masih saja nama orang lain ia ikut sertakan.

Napasnya menderu. Cairan putihnya mengotori sprei lembabnya. Kepalanya masih berdenging. Jeongin tidak ingin malam ini hanya sekedar penisnya yang disentuh.

Maka dengan tangan yang bergetar dan basah akan semen, ia cari kontak Hyunjin, lalu tanpa ragu menekan tombol telpon.

Baru ingin ia memanggil namanya, Hyunjin sudah menembakinya dengan rentetan pertanyaan yang membuat hatinya hangat.

Sialnya, mendengar suara Hyunjin saat ini malah membuat badannya bereaksi lagi.

 

(**)

 

"Sayang?" Hyunjin menegak ludahnya. "Kamu lagi apa?"

"H—Hyun..."

Hyunjin tidak bodoh. Pikirannya sempat kosong sepersekian detik mendengar Jeongin merintihkan namanya. Makanan di hadapannya sudah tidak bisa ia sentuh lagi. Buru-buru ia mengambil wireless earphone-nya di saku lalu menghubungkan dengan ponselnya.

Hyunjin berdiri dari kursinya. Ia beralasan ingin merokok sehabis makan kepada seniornya. Tidak ada yang menyangka Hyunjin lakukan itu sambil mendengarkan Jeongin yang berkali-kali memanggilnya. Memanggilnya dengan erangan kecil yang membuat bagian bawahnya bereaksi.

Baru lah saat sudah cukup jauh dari ruangan staff, Hyunjin memangilnya, "Cantik?"

Kena telak.

"H—Hyun... Hyunjin... Ah."

Satu desahan lolos dari mulutnya. Hyunjin mengetahui jika panggilan itu membuat kekasihnya berereksi kembali. 

Jeongin, yang badannya bertambah panas, dari sebrang sana sedang meloloskan jemarinya ke dalam anal yang berkedut. Telunjuknya yang sedang bersarang di sana, ia gerakkan keluar-masuk, ciptakan rentetan desahan yang sebisa mungkin ia tahan.

"Cantikku lagi apa?" Hyunjin ulangi kalimatnya setelah ia berdeham. Setenang mungkin ia bertanya walau nyatanya ia ikut rasakan sesak.

"Hyun... j—jangan panggil cantik dulu. J—jangan..."

Panggilan itu membuat Jeongin bergetar. Ia rasakan lubangnya makin lebar untuk kemudian ia undang jari tengahnya masuk. Jeongin rasakan penuh di bawah, padahal baru dua jari.

Hyunjin terkekeh. Tangannya usap mukanya, tutupi mulutnya yang sedang menyeringai.

"Aku cuma tanya, Je, kamu lagi apa?"

Sengaja Hyunjin bertanya akan pertanyaan yang sudah jelas ia tau jawabannya. Karena Hyunjin suka jika Jeongin menjawab jujur.

Tapi si cantiknya itu tidak membalas pertanyaannya, alih-alih hanya suara desahan kecil dan pendek yang ia dengar. Jeongin tidak mampu menjawab. Ia kepalang malu, dan hanya ingin menggerus lubangnya dengan suara Hyunjin.

"Je, are you still there?"

Baru ada jawaban, "I—I am..." tentu saja dengan terputus-putus.

"Kamu baru kena demam. But why are you touching yourself?" Hyunjin terkekeh. "Mind to explain?"

Suara menuntut Hyunjin membuatnya makin dalam mendorong jarinya. Jeongin belum temukan titik manisnya, tapi jarinya yang sengaja menekan-nekan dinding analnya, membuat desahan semakin tak terelekkan.

"Bandel. Aku nanya loh, kenapa kamu malah desah? Sange ya sama suaraku?"

Dan Jeongin temukan titik manisnya.

"H—Hyuunnn." Jeongin mempercepat gerakannya untuk menekan titik itu lagi. Jika tau Hyunjin akan membalas seperti ini; jika tau Hyunjin juga senang menggodainya seperti ini, kenapa tidak dari awal saat bermasturbasi ia menelpon kekasihnya?

Jemari kakinya melengkung. Desahannya kini ia vokalkan lebih berani dengan terselip nama Hyunjin di dalamnya. Jeongin cepatkan, dalamkan, semua tusukan jarinya dengan menyentuh titik manisnya, bersiap menjemput putihnya yang kedua kalinya.

"Tunggu sampe aku di kos." ucap Hyunjin yang membuatnya membuka matanya, secara ajaib stimulan pada analnya pun terhenti. "Jangan berani-berani kamu keluar, tunggu sampe aku pulang."

"Hyunjin..." Jeongin masih saja berani merengek.

"Jeongin." suara Hyunjin yang bulat mampu membuatnya terdiam. "Tunggu ya, Cantik? Nggak mungkin aku dengerin kamu ngobok-ngobok di hotel." Ada kekehan jenaka di akhir kalimatnya.

Telpon itu akhirnya Hyunjin matikan sepihak. Ia menarik napas, menenangkan dirinya. Ia masih bersyukur karena penisnya belum terlihat menggembung dari luar.

Baru kali ini Jeongin menelponnya saat sedang bermasturbasi. Hyunjin tidak mempermasalahkan itu, tapi ia cukup terkejut. Terlebih kekasihnya berpikir untuk menyentuh diri sendiri saat sedang demam. Hyunjin menggeleng-gelengkan kepalanya, ada saja perilaku baru Jeongin yang harus ia hadapi.

Saat berjalan ke ruangan staff, ponselnya bergetar kembali. Hyunjin cek dari notifikasi.

Si Cantik

hyunj pls tellme klo kmau udahdi kod

please hyyn i want you tonigh

Hyunjin baru membaca dua pesan itu, segera ia matikan ponselnya dan ponselnya bergetar kembali. Lebih baik ia membaca pesan jorok itu saat di kos. Ia menyimpan ponselnya di saku dan membersihkan piring yang ia tinggali tadi. Masih ada 30 menit lagi baru ia bisa absen pulang.

Hyunjin menghela napasnya berat. Setidaknya malam ini ia temukan hal menarik baru.

 

(**)

 

Sejam lebih Jeongin biarkan kakinya terbuka, tidak berniat untuk bersihkan cairan yang kini telah kering.

Jeongin anak baik, Jeongin anak pintar. Ia benar-benar tidak melanjutkan kegiatan bercinta dengan dua jarinya. Ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar dan melirik ke jam dinding. Ia berani bersumpah jika demamnya mendadak hilang. Rasa pusing menggerayangi kepalanya saat tau malam ini Hyunjin akan ikut serta. Bibirnya tersenyum malu, tapi rasanya juga mendebarkan.

Tiba-tiba pikiran Hyunjin yang frustasi mendengarkannya mendesah tadi mampir di kepalanya.

Jeongin juga bandel. Hyunjin pasti keras rahangnya menahan lontaran kalimat kotor yang tidak pantas ia ucapkan di publik, Hyunjin pasti menggigit bibirnya frustasi karena tidak bisa langsung ikut dalam rintihan cabulnya, Hyunjin pasti...

Tampan.

Kekasihnya itu sangat tampan jika matanya menggelap ingin menghabisi dirinya. Dari atas, dari bawah, dari samping, Hyunjin dengan rambut lepek dan keringat menghiasi mukanya selalu menjadi kesukaan Jeongin. Ia ingin usap peluh itu, mencumbunya hingga lupa waktu, menyerahkan dirinya seutuhnya hanya untuk Hyunjin.

Sekarang penisnya berkedut lagi.

Pikiran akan dirinya tidak menurut permintaan Hyunjin dan Hyunjin akan memarahinya membuat Jeongin berdebar. Jeongin suka membuat Hyunjin kelimpungan akan sifat bandelnya, membuat ranjang berdecit lupa menit.

Ia elus ujung kepala penisnya, mengurut, dan mengelus bagian yang belum terkena semen. Kepalanya mendongak, mulutnya merapalkan desahan erotis kembali. Kakinya bergerak gelisah seiring tempo pada pompaan penisnya bertambah.

Semakin cepat, semakin Jeongin putus asa.

Tangan kanannya meraba-raba ponsel yang layarnya terdapat noda kering bekas semennya.

Hyunjinhyunjinhyunjinhyunjin.

Tangannya langsung mencari kontak itu.

Ruang pesan mereka terbuka. Dua pesan awal sudah terbaca dan tiga pesan berikutnya belum dibaca.

Jeongin mengurangi tempo pada penisnya. Sengaja agar ia tidak orgasme lebih awal. Jeongin suka rasa nikmat ketika penisnya dipompa secara cepat kemudian sengaja dilambatkan. Menyakitkan, namun badannya akan membusur lebih tinggi jika hampir mencapai puncak.

sayang wheer r u :((

kamu blm sampe kos?? :((

i misa yyou so bad

god i loge you

i think i reakly miss ykh nowadays so tht my body getting sensitive

i fant handle it by mhself ::(

i need yoj please

oenggen di pangku kmm trus akkh genjot di ataas km :(

pengen dipenuhin km pleae

kanbgen bgt kontkl km hyun

kanveb dikontolinckm :(((

Tiap pesan yang ia kirim, dadanya berdebar. Kencang, dan tambah kencang.

Pikirannya kalut. Bukan rasa takut akan reaksi Hyunjin yang marah karena dirinya nakal, melainkan rasa terangsang karena tiap bait-bait kalimat yang terkirim, Jeongin juga bayangkan itu.

Jeongin merintih, memejamkan matanya karena gelombang klimaks akan menghampiri lagi. Matanya sempat menangkap tanda baca pesannya telah berganti warna.

Hyunjin telah membaca semua pesan menyedihkannya itu.

Tidak lama setelah itu, kekasihnya menelpon.

"Hyun—"

"God, I really miss you too, Pretty." Hyunjin menggeram. "You want me tonight, huh? I'm all yours, Cantik."

Jeongin tidak bisa menahan desahannya lagi. Kalimat Hyunjin membuat gelombang klimaksnya makin cepat datang.

"Dibaikin malah dijawab desah aja. Use your words, Je. Masih bisa ngomong kan?"

Ini dia kelemahan Jeongin.

Jeongin keluar untuk ketiga kalinya.

"Hyunjin, please." Tangan Jeongin kini teralihkan pada lubang senggamanya. Ia mengelus-elus pintu masuknya. Dirinya masih sensitif, tapi ia merasa kurang. "Kangen dikontolin kamu, Hyun. P—please, tell me kamu juga kangen kontolin aku."

Napas Hyunjin ikut memburu. Ia tertawa mendengar kekasihnya kacau sekarang.

"Bandel. Tadi aku nyuruh kamu tahan dulu, Je? Lupa?"

"S—sorry..."

"Kenapa begitu? Kamu udah nggak sabar ya pengen ngobok sendiri? Gatel banget keliatannya?" Hyunjin tertawa geli. "Kasian banget dari kemaren nggak pernah dikontolin lagi. Kangen ya aku rojokin sampe dalem?"

Jeongin merengek lagi. Jarinya sudah di dalam sejak Hyunjin memanggilnya bandel.

"P—please, kangen dimentokin sama kamu H—Hyun..." dua jarinya menusuk lubang menyedihkannya. Kakinya makin ia lebarkan. "Nggak enak pake jari... nggak segede kontol kamu..."

Hyunjin mendesis. Bayangan Jeongin sedang mencari titik nikmatnya sungguh menggelitik saraf tubuh bawahnya. Ia rasakan mulai cairan yang basahi dalamannya.

"Iyalah nggak enak. Kamu cuma pake 2 jari kan? Coba masukin 3 jari, sayang."

Jeongin melenguh.

Segera ia masukkan jari telunjuknya, ikut menumbuk titik manisnya.

Lenguhannya makin panjang.

"Terus disodok, sayang. Pinter... Enak pake tiga jari? Atau mau ditambahin satu jari lagi?"

"G—gila kamu, Hyun." Jeongin masih ada energi untuk menimpali.

"Kontol aku aja bisa muat di kamu, masa empat jari nggak muat?"

Napas Jeongin tercekat. Hyunjin ini sudah hapal serangkaian kalimat yang membuatnya terus ingin digerus. Dengan gemetar, ia lebarkan lagi kakinya. Tangannya meraih sebotol lubrikan di sampingnya yang sempat ia ambil dari lemarinya.

Cairan dingin itu menyapa tangan kirinya. Jeongin tuang banyak-banyak karena ia akan memasukkan empat jarinya—gila memang, tapi perkataan Hyunjin bagaikan mantra untuk dirinya.

Jeongin memejamkan matanya ketika baru ujung dua jarinya masuk ke lubang sempit itu.

"Bisa, Cantik?"

"Ngh, Hyun!"

Hyunjin meneguk ludahnya. Jeongin dari balik telpon sangat jelas desahannya. Pendek dan putus asa. Jeongin masih berusaha memasukkan empat jarinya. Analnya sudah berkedut, tanda cukup atas benda asing yang memaksa masuk ke sana.

"H—Hyun." Jeongin merengek menyedihkan. "I think I can't take it a—anymore..."

"Slow down, sayang."

"U—udah, but still." Jeongin menggigit bibir bawahnya. Napasnya terengah-engah. "Kepenuhan... nggak kuat."

"Pelan-pelan, sayang." Hyunjin menggeram, seperti dapat melihat kekasihnya kesusahan menggerakkan jarinya sendiri. "Ikutin aku geraknya."

Jari Jeongin terdiam di dalam sana. Pilih ikuti sang kekasih.

"Sekarang udah berapa jari yang bisa masuk?"

"Udah m—masuk semua, t—tapi ah, tapi baru setengah."

"Pinter. Sekarang masukin lagi semuanya pelan-pelan."

"Hyun, ng—nggak bis—"

"Bisa sayang." ucap Hyunjin meyakinkan dan menuntut. "Biasanya juga kamu pinter, kontol aku bisa muat semua."

Jeongin mengerang lebih keras dipuji seperti itu. Ia masukkan lebih dalam jemarinya. Jari tengahnya langsung menumbuk prostatnya, mengakibatkan lututnya menyilang, menghimpit penis merahnya yang berdiri.

"H—Hyun."

"Mmhm?"

Pelan-pelan Jeongin gerakkan jemarinya keluar masuk. Selipkan nama kekasihnya dalam alunan erotisnya.

"Penuh banget ah, ah. K—kalo kita ketemu, please..." Jeongin mendesah, nikmati gerakan itu sampai air mata menitik. "P—please sodokin aku pake empat jari."

Hyunjin menggigit keras bibirnya, nyaris terluka. Jeongin sudah berisik di sebrang sana. Mungkin kekasihnya sudah temukan titik manisnya.

"Enak sayang? Cepetin lagi sekarang. Teken-teken prostat kamu. Masukin sampe ke dalem sayang, lebih dalem. Desah lagi yang kenceng buat aku."

Jeongin menggelengkan kepalanya. Suara Hyunjin menggema di pikiran berkabutnya. Gerakan keluar masuk yang mengundang syahwat itu semakin cepat, semakin tinggi busungan dadanya, semakin erat pegangan pada pahanya agar kakinya tetap terbuka lebar.

"Fuckfuckfuck, Hyunjin..."

"Terus sayang, terus." Helaan napas Hyunjin memberat. Celananya sudah mengembung sekarang. Terlalu kentara jika ia sangat terangsang. "Pinter sayang. Udah mentok ya? Kedengeran banget lubang kamu becek. I wish it was my fingers fucking your hole." bisiknya dengan suara berat.

"H—haa... Hyun... I wish it is your ngh... finger. Enak banget... sayang ah! Pleasepleasepleaseplease aku pengen keluar lagi." ucap Jeongin dengan napas tak beraturan. Dahinya mengernyit, mulutnya terbuka, lantunkan desahan yang membuat Hyunjin pilih buka resleting celananya, bebaskan ereksinya yang makin bereaksi.

Jeongin menahan tungkainya yang ingin merapat pada kasur. Ia tidak berkata apa-apa lagi selain mendesah. Pikirannya sibuk untuk terus dalamkan empat jarinya, membuat penisnya makin mengacung menyedihkan. Dan ketika cairan itu ingin memancar lagi, Jeongin dengan sialnya menyelipkan nama Hyunjin.

"Fuck, Jeongin...."

Hyunjin tidak bisa lagi membiarkan penisnya yang sudah tegak, minta dilemaskan. Ia keluarkan batang itu dari balik celana dalam yang lembab. Cairannya sudah keluar malu-malu, siap keluarkan lebih banyak saat Hyunjin genggam dan pompa.

Jeongin keluar untuk keempat kalinya.

Desahannya lebih panjang. Dadanya membusur cantik. Napasnya masih menderu.

Sungguh pemandangan yang sayang untuk Hyunjin lewatkan. Kekasihnya sungguh indah.

Saat mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, Jeongin mendengar sesuatu yang aneh dari telpon itu.

"H—Hyun?"

"Dalem, Cantik?"

Jeongin terdiam dulu. Ragu-ragu ia bertanya, "Are you touching yourself?"

Hyunjin lantas tertawa. "Apa yang kamu harapin pas aku denger kamu desahin namaku? Duduk manis, nonton tv sambil nemenin kamu fingering? You wish I didn't hard too? Yang bener aja, Je?"

"Sayang..."

"Kamu kan tau aku sange kalo denger kamu desahin namaku pas lagi ngewe?" serang Hyunjin sambil mulai menggerakkan tangannya lebih intens. Hyunjin berdesis, gelanyar nikmat itu mulai menyerang dirinya. Penisnya dengan mudah mengeluarkan cairannya lagi karena kejantanannya sudah sensitif sejak ia menuntun kekasihnya untuk menuntaskan rasa gatalnya.

Tidak ada jawaban.

Hyunjin lanjut memompa alat senggamanya yang sudah merah, berkedut ingin keluarkan isinya. Cairan itu makin banyak, membuat kamarnya bergaung suara lengket yang Jeongin juga dengar.

Dengan tangan kirinya yang masih memegang ponsel, Hyunjin arahkan ponselnya ke samping ereksinya.

"Did you hear that, sayang?" Hyunjin loloskan desahannya. "Gara-gara kamu ini."

"Ngh, Hyunjin..." Jeongin gigit bibirnya. Menggapit penisnya yang bereaksi kembali. "Basah banget... Pengen bersihin peju kamu..."

Hyunjin menggeram lagi. Gerakan tangannya lebih cepat. Kakinya menapak lebih kuat agar pahanya tetap melebar. "Fuck, sayang." Kepalanya mendongak, nikmati orgasme yang segera menjemput. "Seneng ya jilatin kontol aku? F—fuck... I wish you're here between my thighs."

"God, I wish. I really miss you, Hyun." Jeongin mengelus kepala penisnya yang keluarkan cairan kembali. Ia bawa jari basahnya ke anal yang telah kering.

"Hyun... I think I'm really crazy tonight. Lubangku gatel terus... S—should I... ride a dildo?"

Hyunjin langsung hentikan menyenggama penisnya. 

Dadanya makin berdebar. Hyunjin tau Jeongin memang gila, tapi ia tidak tau akan segila ini jika mereka berpisah.

"Anjing, Jeongin."

"Please... pengen banget genjot kontol kamu, but I can't." Sudah tidak ada malunya lagi Jeongin, benar-benar malam ini kekasihnya sangat butuh belaian karena 4 bulan tidak disentuh.

4 bulan sialan.

Hyunjin juga nantikan ini. Nantikan akan sebandel apa kekasihnya bertindak. Nantikan akan sekotor apa lontaran mereka berdua demi raih surga. Nantikan akan sebanyak apa lendir lendir menjijikan yang mereka hasilkan dan mereka berdua anggap suci ketika birahi.

Hyunjin izinkan. "Iya, sayang. Jangan lupa pake lubrikan yang banyak."

Jeongin dari awal, sebelum menelpon Hyunjin, ia sudah bawa lubrikan dan dildo seukuran penis kekasihnya di sampingnya.

Dapat Hyunjin dengar Jeongin membuka tutup botol lubrikan, menuang dengan tenaga karena sepertinya sudah akan habis isinya, dan mengoles pada entah anal menggoda itu atau pada penis palsu itu.

Jeongin posisikan dildo basah itu berdiri di kasurnya. Ia bersimpuh di atas kasur dengan kedua betisnya. Perlahan ia turunkan pinggul untuk temui dildo yang mengacung tegak pada analnya.

"Ngh... Hyun..." Mata Jeongin terpejam, bibirnya tergigit. "Baru ujungnya, aku udah nggak bisa..."

"Tadi disodok empat jari bisa, masa baru ujung kamu udah lemes, Cantik? You have a whore hole, pasti muat."

"S—sayang... jangan bilang begitu dulu..." Sialan memang Hyunjin. Kekasihnya tau segala yang membuat Jeongin luluh dan dengan senang hati melebarkan kakinya.

"Kamu mau pelan-pelan? Sodok pelan-pelan dildonya? Rasain lubang kamu dilonggarin pelan-pelan? Lebih enak ya?"

"F—fuck, Hyunjin... Please." Jeongin tak sanggup mendengar dengan anal yang belum terisi. Ia turunkan pinggulnya. Setengah dari dildo itu sudah menggerayangi dinding senggamanya. "Aku bayangin ini kontol kamu, Hyun... K—kamu pengen rojokin aku pelan-pelan kan? Kamu suka aku rengek-rengek minta d—dicepetin kan?"

"Je, anjing. Jangan gitu anjing."

"H—Hyun... fuckfuckfuckfuck, enak banget. Kangen kontol kamu ngh... kangen dikontolin kamu s—sampe mentok."

Ternyata mulut Jeongin lebih sialan. Hyunjin pastikan jika Jeongin seperti ini, ia akan mendorong penisnya lebih dalam sampai kekasih bandelnya tersedak air liurnya sendiri, tidak mampu berkata apa-apa selain mendesah terputus-putus dengan pinggul yang lemah, sehingga Hyunjin harus menahan pinggul kekasihnya agar tidak terjatuh.

Terdengar jelas di ponsel Hyunjin jika Jeongin sedang menaik turunkan pinggulnya. Terdengar jelas suara cairan dan anal yang beradu. Ah, Hyunjin jadi cemburu pada dildo kekasihnya.

Hyunjin gerakkan tangannya seirama dengan gerakan pinggul Jeongin. Jemari kakinya sudah melengkung. Orgasme yang sempat tertunda, ketika datang lagi, rasanya menyakitkan tetapi sangat nikmat. Belum, Hyunjin sengaja menahan cairan yang akan keluar dengan deras.

"Iya, sayang. Aku juga kangen... Wish it was my cock. Fuck, Je... aku mau ngentotin kamu sampe nangis, sampe pipis."

"Hyun... ah! M—mau banget. Enak... enak..." Jeongin makin cepat gerakkan pinggulnya. Kali ini ia benamkan penis palsu itu sampai habis, raih titik manis terdalam analnya. 

"Di sini ya enaknya? Di sini yang bikin pipis?" ujar Hyunjin seakan benar-benar sedang menumbuk prostatnya berkali-kali dengan cepat, membuat Jeongin tidak sanggup berbicara dengan benar, jika mereka bertemu.

"Pleaseplease ngh! Hyun please cepetin. M—mau sampe pipis." Jeongin bergerak heboh, ranjangnya sampai berdenyit keras. Tangannya ikut menumpu badannya agar tidak oleng.

Sedikit lagi. Sedikit lagi Jeongin rasakan cairan yang keluar berupa pipis. Penisnya sudah empat kali mengeluarkan lendir yang tidak habis-habis. Sebentar lagi Jeongin akan merealisasikan disenggama sampai pipis.

Hyunjin menggeram, salivanya mulai mengental, sayang jika tidak ditukar dengan saliva sang kekasih. Desahannya mulai tidak beraturan, mengejar putih yang tidak jadi dijemput.

"You taking me so well, sayang...."

"H—Hyun... ah!" Jeongin meremat sprei kuat-kuat. Salivanya mengalir dari mulut akibat desahan yang tidak terkontrol. Kakinya bergerak resah, jepit penis menyedihkan yang kini keluarkan air lebih cair yang membasahi perut dan spreinya. "Oh my god... bocor banget aku."

"Pinter sayang, pinter... fuck. Aku pengen keluar juga."

Oh.

Kekasih tersayangnya belum keluar sekalipun.

Dengan napas tersengal-sengal, Jeongin sempat-sempatnya berkata, "Pake lubang aku, Hyun. Pake sepuasnya sampe kamu bisa keluar."

"J—Je, anjing—"

"Penuhin aku pake peju kamu please...." pancing Jeongin agar Hyunjin yang mudah terpicu oleh kalimat kotor Jeongin segera keluarkan semennya.

Dan beberapa detik setelah itu, Jeongin dengar desahan panjang dari kekasih.

Mereka berdua terdiam. Sama-sama mengambil napas. Berusaha mengumpulkan akal sehat kembali setelah pikiran mereka berkabut atas nama nafsu.

"Hyun?" Jeongin yang memanggil duluan dan dibalas gumaman oleh sang kekasih.

"I love you."

Hyunjin terkekeh geli. "I love you too, sayang."

Lucu sekali beberapa menit yang lalu mereka melontarkan umpatan yang membuat libido makin naik dan menawarkan diri seakan tubuhnya adalah satu-satunya milik kekasih, tapi sekarang mereka malah menyatakan cinta.

"Maaf tiba-tiba aku telpon kamu pas lagi touching myself, biasanya nggak—"

"Biasanya? Kamu sering gesek-gesek sendiri?"

"Eh..." Jeongin salah omong. Otaknya benar-benar tidak bekerja saat nafsu masih menyertai.

"B—bukan gitu. Maksudku... ya intinya begitu! Maaf kamu jadi nemenin aku yang lagi sange... terus kamu jadi ikutan itu... Padahal tadi kamu masih di hotel...." Jeongin meringis. Malu kini berkabut di akalnya.

Hyunjin tertawa. "Aku nggak siap loh sama kamu yang kayak gini." Hyunjin tersenyum. "Jangan sering-sering ya, Je, nanti aku nggak fokus kerjanya."

"Ya... makanya aku minta maaf???" Jeongin masih mencari pembelaan.

"Iya nggak apa-apa, sayang.... Nanti aku pulang, nggak usah begini lagi ya—"

"MAKSUD KAMU—"

"Ya karena I'll fuck you properly? Nggak akan ada I wish I wish kayak tadi. Nanti aku beneran ngentotin kamu sampe pipis—"

"Hyun..." suara Jeongin bergetar, memotong perkataan Hyunjin agar tidak lebih jauh.

Hyunjin tertawa mendengarnya. "Kenapa sayang? Kamu basah lagi?

"Nyebelin...." rengek Jeongin lucu. "Aku bener-bener nggak kuat kalo harus keluar 6 kali semalem..."

"Rencananya aku pengen bikin kamu pipis 10 kali?"

Jeongin terbatuk. "Orang g—gila." Hyunjin hanya tertawa terbahak-bahak.

Mereka terdiam lagi.

"I wish aku di sana, Je. Bantuin kamu bersih-bersih, cuci sprei kamu, ganti kompres—LAH KAMU LAGI DEMAM YA??"

Gantian Jeongin yang tertawa. "Iya? Tapi demamku turun, Hyun, abis begini?"

"Halah. Akal-akalan setan itu, Je."

Jeongin tertawa geli, sangat geli hingga perutnya keram. Hyunjin tersenyum hangat mendengar tawa sang kekasih. Ia juga makin merindukan Jeongin. Berapa senin lagi yang harus ia lewatkan agar dapat pulang ke rumahnya?

"Hyun... aku ngantuk... aku tidur duluan ya?"

Jeongin memang selalu mengantuk jika sehabis bersenggama, dengan Hyunjin maupun dengan dirinya sendiri.

"Kamu udah bersih-bersih, sayang?"

"Belum... ngantuk banget. Besok aja. Aku udah lap pake tisu ini."

"Besok jangan ditunda-tunda ya. Habis bangun langsung dibersihin."

"Iyaaa bawel." Jeongin tersenyum lebar. "Aku matiin ya. I love you."

"I love you too, Cantik."

Telpon mereka berakhir. Hyunjin ambil tisu untuk mengelap kekacauannya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk bersihkan cairan yang menempel pada tubuh dan bajunya. Sehabis ini ia mandi dan langsung tidur, menyusul kekasihnya ke alam mimpi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Atau ia tidak bertemu Jeongin di sana?

 

 

 

 

 

 

 

(**)

 

Si Cantik

20260402_082002.mp4

i haven't push out my dildo yet...

hehe

wish you wake up, watch my video, and get wet...

enak deh didiemin gitu dildonya di dalem aku

would you put your cock inside me for a night then we wake up and make a love :]

morning sex sounds good yeah?

kayaknya aku gatel terus sampe disodorin kontol kamu deh...

kamu kapan pulanggggg

i micc you coo much :(

not only bc of your cock

i miss everything about you

i love you ♡♡♡

janji abis ini tidur HAHAHAHHAHA

02.13 a.m.

Notes:

Siapa setuju kita bikin versi perngentotan pas mereka ketemu?? 🤤🤤🤤