Actions

Work Header

Push Push

Summary:

“Mas ngga sekuat itu buat ngontolin aku setiap hari. Not even a viagra can help you.”

Omega Joshua demand to be pounded by his Alpha.

Notes:

yes, it is because joshua’s photoshoot with puss puss

Work Text:

Jari lentik Joshua mengalun anggun dari kanan ke kiri. Ketukan lembut sebanyak dua kali Ia labuhkan pada parfum pilihannya. Disemprotkan pada belakang telinga, ceruk leher, hingga paha bagian dalam, Joshua pastikan setiap inci tubuhnya harum wangi memabukkan. 

Hasil pemotretan bulan lalu sudah terbit di berbagai platform media sosial hingga menjadi trending utama tadi siang.

“Joshua Hong Kembali ke Public setelah Menikah. Kini Tampil Berani Memamerkan Aset Milik Sang Alpha” dan berbagai tajuk sejenis memenuhi deretan atas portal berita. 

Ia yakin informasi ini sudah terdengar hingga telinga Jeonghan. Bulan lalu saat meminta izin kembali menjadi model untuk salah satu brand, Jeonghan hanya mengiyakan tanpa pikir panjang. Mungkin karena pernikahan mereka hanya di atas kertas, maka tidak seharusnya Jeonghan memberi keputusan untuk pilihan karir Joshua. 

Namun, Joshua inginkan lebih dari sekedar pernikahan yang dingin. Ia mau tahu seberapa jauh Jeonghan dapat menahan diri untuk tidak menjadikan Joshua miliknya secara utuh. Maka, dipilihnya konsep yang paling menantang. Ia pamerkan lekuk tubuh dan kulit secara lantang. Dengan harapan Jeonghan akan hilang kendali. 

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tadi sore Joshua menerima pesan singkat dari asisten pribadi Jeonghan yang sudah Ia titipkan amanah untuk memberi kabar akan keseharian suaminya itu. 

“Bapak rungsing, semua kerjaan ngga ada yang beres. Tolong tanggung jawab, Kak.” Lengkap dengan emotikon 🙏🏻 membuat sudut bibir Joshua terangkat puas. 

Pukul tujuh Jeonghan memasuki kediaman mereka lebih awal dari biasanya. Joshua langsung mengangkat satu kakinya ke atas meja rias, berpura-pura membalurkan lotion walau tadi sudah Ia lakukan. Kain jubah berbahan sutera jatuh ke pangkal paha dan memamerkan kaki jenjangnya yang bersih dan siap dibubuhi tanda. Jeonghan membuka pintu dengan gusar karena wangi semerbak feromon Joshua yang sudah tercium dari sela-sela pintu. Selama menikah dan tinggal bersama, Jeonghan tahu Joshua diam-diam suka melepaskan feromonnya saat mereka bersama, tetapi kali ini wanginya tercium lebih legit. Entah karena placebo akan hasil pemotretan yang Ia lihat tadi siang atau karena memang heat Joshua telah dekat. 

Pemandangan pertama yang Jeonghan lihat adalah wajah cantik Joshua serta bahu mulus yang tidak tertutupi oleh jubah longgar miliknya. Jeonghan menahan nafas menenangkan diri saat sadar Joshua memang sengaja memamerkan itu semua untuknya. Sekujur tubuh Jeonghan bereaksi hebat. Matanya mulai berkabut, kulitnya terasa panas, dan nafasnya tersengal. 

“Mas, kok tumben sudah pulang?” Joshua mengerjapkan mata bertingkah polos. Dalam hatinya terselip rasa awas saat mencium feromon Jeonghan yang langsung mendominasi ruangan saat Ia masuk. 

Dengan tangan yang bergetar, Jeonghan menyentuh pundak Joshua. Ia berdiri di belakang tubuh omeganya dan membungkuk menyamai posisi kepala mereka. Nafas Jeonghan terasa panas di kulit Joshua saat alpha itu mengendus lehernya. Bibir dan Hidung Jeonghan tidak langsung menempel pada kulit Joshua sehingga menyisakan ruang panas yang menambah tegang pada tubuh keduanya. 

You're playing a dangerous game which you can't handle.” Jeonghan membuka mata dan menatap tajam pantulan omeganya di depan cermin. 

Joshua balas menatap pantulan mata gelap Jeonghan dengan sayu. “I'm not the one who's gonna play the game,” tangan kiri Joshua menangkup sisi kiri wajah Jeonghan hingga pipi kirinya dan pipi kanan sang alpha menempel penuh, “it's you Jeonghan. Do me, I'm your game tonight.” 

Setelah mendengar jawaban Joshua, alpha di dalam diri Jeonghan lepas kendali. Dengan sekali tarikan tali longgar yang mengikat jubah tidur Joshua terlepas. Kain licin itu meluncur dengan mudahnya menampilkan tubuh telanjang Joshua. Jeonghan mengecup rahang atas Joshua dengan gairah. Lalu berpindah ke sudut bibir sang omega untuk meminta akses dan balasan. Tentu saja Joshua dengan senang hati memberi akses untuk bibir Jeonghan menjamah miliknya. Tidak ada kecupan kecil yang mengawali pagutan liar mereka. Sepasang Alpha dan Omega yang sudah lelah menahan diri sejak awal pernikahan kini memagut dan meneguk satu sama lain. 

You don't understand,” Jeonghan melepas pagutan mereka dan menarik pinggang Joshua. Ia menuntun omeganya untuk berbaring di kasur mereka yang tidak jauh dari meja rias, “how much I want to devour you.” 

Kaki Joshua otomatis melingkar di pinggang Jeonghan, menarik sang alpha ke pelukannya. 

“Badanku sakit setiap Mas hesitate buat nyentuh aku.” 

“Bagian mana yang paling sakit?” Jeonghan berusaha menanggapi perkataan Joshua di sela kesibukannya mengecup dan menggigit dada atas omeganya. 

“Di sini, si–ahh, sama di sini.” Joshua menggenggam pergelangan tangan Jeonghan. Kemudian Ia mengarahkan untuk menyentuh dada, penis, dan lubang analnya yang sudah berkedut panas.

Jeonghan menenggelamkan wajahnya pada dada Joshua. Ia menyesap dalam pucuk kanan dada omeganya yang sudah merah dan mengacung keras. Jari tangan kanan Jeonghan memainkan pucuk dada kiri Joshua, sementara tangan kirinya mulai membelai batang penis omeganya yang tidak lebih dari panjang telapak tangan. 

Joshua mendesah dan melengkungkan dadanya ke atas, mendorong pinggulnya semakin menempel dengan kasur. Double stimulasi yang diberikan sang alpha membuat tubuh Joshua semakin menggila. Tidak mau kalah, Joshua berusaha membuka kancing kemeja Jeonghan dengan tidak sabar dan malah membuat dirinya kesusahan. 

Jeonghan terkekeh dan menghembuskan nafas panas di atas pucuk dada omeganya. Joshua melenguh dan menepuk lengan Jeonghan dengan lemas. “Hng, Mas!” rasanya enak tapi Joshua kesal sendiri. 

“Ternyata kamu ngga sabaran ya.” Jeonghan tersenyum miring dengan mata jahil. Joshua memalingkan wajah merahnya menahan malu. Di bawah sinar lampu yang menyala redup, kulit omega yang sudah basah dengan keringat dan liur alpha-nya itu berkilau cantik. 

“Cantik banget kamu, Shua.” Jeonghan mencium pipi Joshua sambil membuka kancing kemejanya. “Trying so hard to allure me into your embrace.” 

“Sepengen itu kamu dikontolin sama Mas?” Jeonghan membuka seluruh atasannya hingga tersisa celana bahan panjang yang menutupi bagian bawah. 

Joshua menutup kedua mata dengan lengannya agar memberikan sugesti bahwa Ia bisa menyembunyikan diri dari Jeonghan karena rasa malu yang bertubi-tubi. “Mulut Mas jorok banget.”

“Ngomong kayak gitu tapi kamu ngga sadar kalau bibir basahmu yang udah bengkak itu malah lebih jorok kalau dilihat.” Jeonghan menyesap dalam bibir bawah Joshua. Kali ini lebih perlahan, tidak menggebu-gebu. Kenyal dan manis bibir omeganya membuat Jeonghan candu. 

Jari lentik Joshua menyelinap di antara rambut suaminya yang sudah mulai tebal. Sesekali dijambak pelan saat Joshua nilai dirinya butuh lebih banyak oksigen. 

Dengkul kaki Joshua bergerak gelisah karena keenakan hingga menyentuh gundukan penis Jeonghan yang sudah sangat keras di balik celana kerjanya. Ketidaksengajaan malah disalahartikan oleh Jeonghan kalau omeganya menginginkan sesuatu yang lebih.

“Eh sorry.” Joshua meminta maaf dengan tulus karena sejujurnya Ia masih menikmati ciuman dari suaminya. Tetapi, di telinga Jeonghan perkataan itu terdengar menantang.

Did you?” Jeonghan memelintir puting susu Joshua hingga omega itu melenguh ngilu. “Did you really sorry?” Jeonghan membalas perbuatan Joshua dengan menekan dengkulnya menjepit penis telanjang milik Joshua. 

“Ahh ah! Hng…” Rasa nikmat dan sakit menguasai hingga ubun-ubunnya berdenyut pusing. Joshua hanya bisa mendesah dan menggelengkan kepala lemas.

Jeonghan tersenyum puas melihat pemandangan indah itu. Kemudian Ia melucuti celananya sendiri tanpa mengalihkan pandangan sama sekali.

“Lihat sini,” Jeonghan sadar Joshua tidak fokus pada suaranya maka Ia kecup kening Joshua dengan lembut untuk meminta perhatian omeganya, “Shua, lihat Mas.” 

Pipi Joshua merah padam saat Jeonghan menarik ikat pinggang. Pikiran kotornya berlarian dengan liar. Belum lagi saat celana diturunkan bersamaan dengan boxer daleman milik Jeonghan. Lubang anal Joshua berkedut kencang melihat penis Alpha-nya yang langsung berdiri tegak hingga menempel dengan perut. Pre-cum yang sudah menetes sejak tadi membuat kepala penis kecoklatan itu mengkilap. Joshua bangun dari posisi telentang dan langsung duduk bersimpuh di atas kasur. Pandangan matanya tidak lepas dari batang berurat yang coba Ia hapalkan detail guratannya. 

“Sampe nces gini.” Jeonghan tertawa kecil melihat reaksi omeganya yang kelewat spontan. Kemudian mengelap sudut bibir Joshua dengan ibu jarinya.

“Mau, boleh?” Jeonghan mengangguk memberi izin dan menyisipkan anak rambut Joshua ke belakang telinganya. 

Tanpa jeda barang sedetikpun, Joshua langsung meraih penis suaminya. Ia membalurkan pre-cum dari ujung kepala turun ke batangnya. Dirasa kurang licin maka Joshua masukkan penis Jeonghan ke dalam mulutnya. Walau mulut dan lidahnya hanya bermain di ujung, tetapi liur berhasil dibawa hingga ke pangkal. Jeonghan meremas rambut omeganya saat dirasakannya tekstur lidah Joshua menggoda lubang sensitif miliknya. Jika bisa protes mungkin aliran darah di tubuh Jeonghan sudah berteriak kebingungan. Sebagian mengalir ke kepala atas dan sebagian lagi mengalir ke kepala bawah. 

Stop it. Stop.” Jeonghan menghentikan Joshua secara paksa dan dihadiahi dengan raut kecewa omeganya. 

“Kenapa sih! Let me finish it.” 

“Bahaya Joshua. Lihat, it’s ready to knotting your mouth. Nanti rahang kamu bisa sakit.” Jeonghan mengelus pipi Joshua dengan sayang. “Udah ya, sekarang gantian Mas yang enakin kamu lagi.” 

Jeonghan mendorong tubuh Joshua hingga jatuh telentang. Kemudian Ia angkat tungkai kaki Joshua dan dibubuhi sesapan kencang. Jeonghan menandai tubuh Joshua di setiap jengkal kulit yang terjamah. Paha dalam Joshua menjadi salah satu spot favoritnya. Setelah puas meninggalkan jejak, Jeonghan memutar badan Joshua hingga omega itu tengkurap di kasur. Dada menempel datar dan bokongnya ditarik naik hingga menungging. “I’ll prep you.

Jari Jeonghan menekan dinding luar anal Joshua yang sudah licin karena slick alami. Jarinya memutari kerutan-kerutan yang ada di sana. Lalu, dua jari dimasukkan dan Jeonghan langsung memijat dinding dalam anal omeganya. “You’re so tender.” Penis Joshua berkedut kencang saat Jeonghan mengenai G-spotnya berkali-kali hingga akhirnya,

“Mas, aku mau keluar.” Baru sebentar stimulasi yang Jeonghan berikan tetapi Joshua tidak bisa tahan.

Do it for me, Joshua.” 

Untuk pertama kalinya Joshua mencapai klimaks karena sang alpha. Jeonghan bisa merasakan lubang Joshua berkedut dan menjepit dua jarinya dengan sangat kencang. Stimulasi di ujung jari menghantarkan ngilu pada penis Jeonghan yang sedari tadi juga sudah menanti untuk diberi perhatian.

Lutut Joshua lemas dan tidak sanggup menahan posisi tubuhnya. Tetapi, kedua lengan Jeonghan memegang pinggul Joshua untuk menahan omeganya tetap pada posisi siap untuk dimasuki. Tanpa menunggu Joshua pulih dari orgasme, Jeonghan memasukkan batang penisnya.

Ah, Joshua. I don’t… even need to pump myself. Lobang kamu mijet kontol Mas pake semangat.”

“Mas!” Joshua berteriak lemas kewalahan karena masih merasakan nikmat dari orgasme sebelumnya ditambah lubangnya yang sekarang sudah diisi penuh penis Jeonghan. 

Saat dirasa kedutan lubang Joshua sudah berkurang, Jeonghan mulai menggerakan pinggulnya. Ia memompa penisnya pada lubang anal Joshua. Urat-urat keras yang tercetak di penis Jeonghan bergesekan dengan dinding anal Joshua hingga menghantarkan keduanya ke puncak kenikmatan. Kepala penis Jeonghan membesar membentuk knot yang sempurna di dalam sana. Spermanya mengisi penuh ruang kosong hingga masuk jauh lebih dalam. Jeonghan menggenjot pelan saat keduanya masih terengah-engah, mencari friksi lebih di antara kekalutan yang didera. 

“Aku mau diewe lagi, Mas. Kalau kamu jailin begini lobangku jadi gatel mulu.” Perkataan Joshua teredam kasur karena wajahnya Ia tenggelamkan di sana, tetapi Jeonghan bisa mendengar dengan sangat jelas. “Aku mau diewe sampe hamil.”

“Mulut kamu nakal banget, emang sengaja mau bikin Mas tegang lagi ya.” Jeonghan berkata dengan penuh penekanan. Genjotan yang tadi berlangsung pelan kini perlahan kencang bersamaan dengan penis Jeonghan yang mengeras kembali. 

“Iya, aku emang gini Mas. Omeganya kamu memang kepengen dikontolin mulu.” 

“Terus selama ini kamu ngga Mas kontolin berarti kesiksa banget, huh?”

“Aku cari alpha lain yang bisa kontolin aku sampai hamil.” 

Jawaban Joshua memancing amarah Jeonghan. Bayangan akan Joshua nungging memamerkan lubang merahnya untuk dipakai oleh alpha lain membuat ego Jeonghan tersentil. Jeonghan menampar pantat mulus sang omega hingga merah. Rasa sakit yang dirasakan Joshua malah membuat lubangnya menjepit penis Jeonghan dengan kencang. Joshua tersenyum puas tanpa Jeonghan ketahui.

“Mulai sekarang kamu bakal mas kontolin setiap hari sampai kamu mohon-mohon untuk Mas berhenti.”

“Mas ngga sekuat itu buat ngontolin aku setiap hari. Not even a viagra can help you.

 

Jeonghan melepas penisnya dari lubang Joshua dan membalik posisi omega itu hingga telentang. Jeonghan turun dan menarik tubuh Joshua ke ujung kasur. Kedua tungkai kaki Joshua disatukan dan diangkat lurus ke atas. Tanpa sepatah katapun Jeonghan menancapkan penisnya kembali, kali ini dengan lebih kasar. Jeonghan terus menerus mengejar nikmat, berulang kali dengan berbagai posisi hingga Joshua klimaks 5 kali.

“Jangan pernah kamu bercandain Mas seperti itu lagi.” Jeonghan menggenjot Joshua tanpa ampun hingga omega itu tidak bisa membuat sepatah kata yang koheren. Wajah cantik Joshua sudah tidak karuan. Airmata bercampur dengan liur dan mani milik alphanya, entah orgasme yang keberapa Jeonghan muntahkan di wajah Joshua—Dia sudah tidak bisa berpikir lagi.

“Mas genjot lobangmu sampai dadas, sampai kamu nangis kayak begini. I don’t need a viagra when it comes to you. You’re my omega belongs to me, to be filled by me.” Setiap kata ditekankan dengan sungguh-sungguh.

“Iyah, Mas.” Joshua sesenggukan merasakan overstimulasi. Saat Ia pikir penisnya sudah kering tidak bisa mengeluarkan apapun lagi, cairan bening hangat membanjiri kasur mereka bersamaan dengan Jeonghan yang mencapai orgasmenya. Paha dalam Joshua sudah lengket dengan sperma Jeonghan dan miliknya sendiri.

“Ma–Mas, aku pipis hiks.” Joshua sudah pasrah. Tubuhnya sudah berada di luar kendalinya. 

“Badan kamu enak banget. Jangan salahin Mas kalau tiba-tiba kamu hamil. You’re the one who demanded it.” Sejenak Jeonghan merasa puas but guilt creeps into his sense. Omeganya terbaring lemas dengan kesadaran yang sudah 90% hilang. Jeonghan mencabut penisnya untuk yang terakhir kali. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11.20 malam. Hampir empat jam mereka bersenggama, pantas saja tubuh Joshua menyerah.

Jeonghan menyapu rambut basah Joshua dari wajahnya. Ia kecup bibir, hidung, mata, dan kening omeganya. 

“Maaf, Shua. Mas bantu bersihkan tubuh kamu ya.” Joshua berusaha membuka matanya di tengah lelah saat mendengar Jeonghan berbicara padanya, “shh, no need to wake up. You can sleep, Joshua.” 

Series this work belongs to: