Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Serabi Pandan Kinca
Stats:
Published:
2026-04-05
Words:
2,250
Chapters:
1/1
Comments:
16
Kudos:
61
Hits:
1,172

kunobatkan dia sebagai manusia paling gila

Work Text:

Jonathan Arga mungkin bisa dinobatkan sebagai manusia paling gila karena ribuan foto Sevanya telah berhasil terabadikan di ponsel miliknya dari sejak mereka berkencan pertama. Arsitek lain mungkin akan lebih perhatikan bangunan dari pada sang pacar saat mereka berkencan keluar kunjungi bangunan yang dirasa menarik untuk dipelajari bagaimana cara membangunnya serta mengambil gambar bagaimana rumit struktur lalu mengetuk-ngetuk bahan yang dipakai.

Menyimpan seluruh foto itu pada akun instagram yang hanya bisa dilihat oleh dirinya seorang, bahkan yang menjadi objeknya pun tak pernah ia izinkan untuk meneladan. Ia juga tak pernah biarkan Sevanya kemana-mana sendirian, kukuh mengantar kemanapun pergi bahkan rela menunggu sampai Sevanya selesai kegiatan dan pulang lagi.

Meski Sevanya sudah membicarakan pada Jonathan untuk tidak terlalu kelelahan, karena ia juga tahu bagaimana sibuknya anak arsitektur sampai sering tak punya waktu untuk tidur. 

Jonathan masih bersikeras.

Menjadi pacar seorang Sevanya Bening Cendikia yang tiap kali orang baru melihat langsung memujanya ini menurut Jonathan, obsesi pada dia pun dirasa sangat pantas.

 

Hari ini tepatnya di mana mereka bisa menghirup udara bebas sejenak karena telah menjalankan Ujian Akhir Semester yang cukup membuat otak seperti akan meledak.

Membaringkan diri masing-masing di atas kasur yang sama dengan menatap lurus ke atap sama pula, kaki masih menapak pada lantai.

Lelah karna kuliah begini membuat pikiran mereka jadi kemana-mana, alias dengarkan saja percakapannya.

"Pengen langsung nikah ..."

"Gila!"

Salah satunya cekikikan, lalu disambung dengan obrolan lain yang cukup menarik perhatian.

"Aku pengen, aku sendiri yang desain rumah."

Jonathan tersenyum manis dengar pernyataan dari Sevanya yang tengah melihat lurus ke depan sementara ia sendiri tatap Sevanya dari samping. 

Dengarkan Cantiknya ini berkicau tentang rumah yang akan ia bangun seaman dan sekuat cinta sampai muat banyak dan lega. Mereka tak perlu berpusing tentang perabotan atau wangi-wangian karena semua akan diurus berdua, tata ruang pun mereka ahlinya. Pencahayaan sampai meja panjang di ruang makan tempat mereka berkumpul ketika lelah menyapa tak luput dari perbincangan.

Semua dibangun sebegitu nyaman dengan tanaman megah yang akan Sevanya tanam di masa depan.

Setelah selesai dengan kicauannya, ia langsung berguling ke arah Jonathan yang masih terbaring, posisinya sekarang perut masih menempel pada kasur namun dada yang terangkat dengan sikut sebagai tumpuan, mereka saling berhadapan.

"Besok setahun kita, Kak."

"Iya, Sayang. Kenapa? Mau rayain di mana? Atau mau makan malem?"

Tangan Sevanya kini memainkan rambut Jonathan, menyisir tiap helaian ke belakang oleh jarinya.

Dari bawah, Jonathan perhatikan paras Sevanya yang makin hari semakin membuatnya gila. Tangan tak mau kalah, terangkat dan mengelus punggung Sevanya berikan kenyamanan.

"Aku punya kejutan buat Kak Jo."

"Kalo bikin kamu repot, mending jangan. Nanti kitaㅡ"

"I refuse refusal, lagian gak bikin aku repot kok."

Jonathan angkat kepala untuk mengecup dagu dan bibir Sevanya sekejap lalu simpan kembali kepalanya di atas kasur.

Sang empu terdiam, masih dengan tangan yang memainkan rambut sambil menatap mata dalam.

"Nginep di sini, ya, Anya?"

"Ngga .."

"Kenapa engga? Udah gak sayang?" Terdengar suara Jonathan nyaris parau, air muka sedikit berubah.

"Gak bisa dong .. Nanti gak bisa ngasih kejutan .."

Senyum manis terpatri di bibir melihat wajah di depan sedang cemberut, Jonathan kegemasan. Tangan langsung tarik punggung kecil yang di atas menuju pelukan dan menaruh dagu di pundak sang lawan.

"Anya, aku sayang kamu ... Jangan pernah tinggalin aku, Anya ..."

Sevanya makin tenggelamkan wajah di ceruk leher Jonathan saat mendengar ungkapan sebesar apa sayangnya, kalau ditanya mana yang paling cinta, maka jawabannya adalah setara. Sama-sama hidup dari bayang-bayang obrolan yang tak mengenakan membuat mereka menjadikan masing-masing sebagai tumpuan, tak pernah saling merasa paling sedih apalagi adu nasib. Obrolan yang tak ada habisnya karena memiliki jurusan dan kecintaan yang sama pula. 

Sering membantu satu sama lain saat kesusahan tak perlu dijabarkan, itu sudah menjadi standar dalam hubungan. Dewasa ini, mereka ingin selalu awet dalam percintaan.

Sampai salah satu dari keduanya mungkin tak menyadari bahwa cintanya tumbuh menjadi sesuatu hal yang tak wajar.
 
Jonathan Arga mungkin bisa dinobatkan sebagai manusia paling gila karena tiap kali mendengar nama Sevanya Bening Cendikia, ujung bibir selalu terangkat ke atas sambil bayangkan betapa cantik ia saat tampil di atas panggung pagelaran seraya lenggangkan badan.

Tak pernah sedikitpun terbesit di benak akan menjalin hubungan dengan sesama, apalagi dengan seorang Ratu Drag yang masih dianggap tak biasa. Bawa wajah ceria tiap kali bertemu hingga hapus segala ragu yang masih tersimpan dalam kalbu. Tak menyesal Jonathan berlutut padanya setahun lebih lalu jika balasan yang ia dapat adalah penampilan Drag pribadi dari Sevanya tiap minggu.

Kalian tidak akan percaya bagaimana sinting Jonathan saat melihat keadaan Sevanya sekarang.

Biasa melihat pacar cantiknya itu di atas panggung hadir dengan gaya satir, vokal tentang sesuatu yang orang lain anggap sebagai penyimpangan padahal mereka tak tahu apa arti penyimpangan sebenarnya, pandai sekali menjadi hakim di kehidupan orang dengan sukarela hingga keluarkan kata yang menyayat hati penerima, memang durjana!

Namun kali ini sungguh beda, kembali pakai rambut palsu pirang dengan pita bahan velvet berwarna merah menyala. Bayangkan sendiri bagaimana pakaian yang ia kenakan hingga ingin terlihat sangat menawan dan dihujani pujian oleh Jonathan, pakai baju empat jengkal orang dewasa sekali pun akan Sevanya lakukan.

Riasan tebal namun tak merubah muka, masih tetap sama, Sevanya yang cantiknya istimewa. Jonathan bukan hanya gila, tapi sudah hilang waras luar biasa.

Ini adalah perayaan setahun mereka.

Duduk di sofa dengan mata tak alihkan pada Sevanya, jantung berdegup kencang padahal sudah hampir habiskan berminggu mendapat perlakuan serupa. Rasanya masih tetap sama, tak ada pembeda.

Dia malah semakin jatuh cinta.

Kalau sudah begini, rasanya Jonathan semakin serakah sampai ingin mengcongkel tiap mata yang telah melihat cantiknya Sevanya. Ia sungguh tak rela pemandangan yang selalu disuguhkan di pagelaran ini ditonton oleh banyak orang, inginnya hanya untuk dia saja.

Tangan kanan yang sedari tadi bertumpu di sandaran lengan sofa sambil memegang kepala, entah sakit apa yang menimpa sampai ia menggeleng seraya mengerutkan hidung dan senyum manis terpasang di wajahnya. 

Jonathan kegemasan melihat si Cantik sedang pentas super centil di depannya.

Tubuh yang sedikit lebih kecil dari Jonathan itu terlihat lihai bergerak anggun.

Berkat Sevanya, ia jadi sungguh lupa dengan segala tugas dan Ujian Akhir Semester lima yang sudah seperti mengancam jiwa.

Ini adalah pengalaman kedua Jonathan berpacaran. Namun bersama Sevanya, semuanya serba pertama. Dia pacar lelaki pertama, ciuman pertama, dan segala hal wajar yang belum pernah Jonathan lakukan sebelumnya.

Di pengalaman pertama ini pula Jonathan mendapatkan pacar yang ia anggap amat sempurna. Dari roman, cara berpakaian, kepribadian, perlakuan yang ia dapatkan, semuanya membuat Jonathan seolah melupakan kata selesai.

Ia tak akan pernah cukup tentang Sevanya.

Jonathan malah ingin lebih dan kadang membuatnya bertingkah seperti tak bisa berpikir jernih.

Apalagi sekarang.

Tiba-tiba terputar lagu pop ballad dengan melodi klasik oleh Elvis Presley dicampur sentuhan orkestra perdengarkan di kedua pasang telinga.

Segera hapus pikiran yang mungkin akan celakakan keduanya, Jonathan kembali fokus pada Sevanya yang kini menarik lengan yang mengajaknya berdansa.

Di dalam rumah yang lembab bulan Januari ini mereka saling berhadapan badan dengan lengan berkaitan. Tangan kiri Jonathan melingkar sempurna di pinggang Sevanya, begitu tangan kanan Sevanya menggantung pada leher Jonathan.

Tinggi yang hampir seimbang membuat kedua pasang mata bisa langsung bertatapan.

Amati kedua paras masing-masing yang semakin hari makin membuat mereka jatuh pada pesonanya. Tarikan senyum tipis yang ditahan serta nafas keluar beraturan saling bersahutan sampai pada kulit wajah ciptakan ketenangan meskipun jantung berdegup sangat kencang seperti akan mati secara instan.

Kiri kanan belakang depan tungkai dilangkahkan meskipun tak terlalu pandai tapi keduanya mampu menyamakan.

Muncul tawa kecil saat salah satunya menginjak kaki lain tak sengaja, tapi tak apa, mereka memang bukan ahlinya berdansa. 

Sedikit terkesiap saat Sevanya tiba-tiba melepas kaitan lengan di pundak serta menghindar tanpa melepas satu tangan yang masih berkenaan, badan kecil itu berputar centil lalu kembali tempelkan dirinya pada tubuh depan Jonathan, kali ini kaitannya lebih erat.

Oh Tuhan ...

Pipi merah yang menyembul saat tersenyum itu selalu Jonathan damba, mengecupnya saja bisa membuat ia sinting tak kepalang. Apalagi menatap dari kedekatan seperti ini ... Jonathan seperti ingin mati.

Dua pasang mata sabit saling berhadapan ketika keduanya sama-sama salah tingkah tak karuan, padahal umur hubungan sudah menginjak setahunan. Bibir Sevanya yang terlihat menahan senyuman itu akhirnya pecah juga saat mendapat pujian.

"Kamu cantik, Sayang."

Kening tiba-tiba jatuh pada pundak Jonathan sembunyikan salah tingkah yang semakin membuncah, semburat merah makin terlihat di telinga dan wajah, lalu senyum kaku yang tak terbantah.

Keduanya total jatuh cinta.

Jonathan raih pinggang Sevanya dengan kedua tangan sampai yang punya menatap ke arah dia. Kali ini tatapan pada Sevanya berbeda, seperti ada kesedihan kuat yang tersemat di muka meski masih banyak pula bahagianya.


Take my hand

Take my whole life, too

For I can't help falling in love with you

For I can't help falling in love with you


Saling dekatkan muka sampai bersentuhan kening mereka, jatuh senyum Sevanya saat melihat air muka Jonathan dengan tatapan menghunus tajam ke arah mata.

Kaki masih bergerak kiri kanan.

Tiba tangan Jonathan menekan tengkuk Sevanya hingga bibir bagian atas dan filtrum yang selalu menjadi favoritnya itu masuk kedalam mulut dia.

 

 

Musik berganti pada lagu dansa energik yang membuat Jonathan sedikit kewalahan, tubuhnya seperti diombang-ambing oleh Sevanya. Kali ini bukan tawa kecil lagi yang terpatri di wajah, melainkan gelegar tawa besar karena beberapa kali salah langkah tapi keduanya tak kunjung menyerah. 

"Anya, aku gak bisa .."

"Ikutin aja aku, Kak Jo .."

Sampai di tengah lagu, mereka terjatuh di atas ranjang kebesaran. Kaki masih menapak lantai, nafas sedikit terengah akibat gerakan lincah. 

Jonathan dan Sevanya tatap lurus atap yang sama.

Satu, dua, sampai puluhan detik mereka terdiam padahal nafas sudah kembali normal. Mungkin kesunyian yang tiba-tiba datang seperti ini membuat hubungan mereka tahan lama.

Tak ada yang berbicara, berada di samping sambil mendengar nafas masing-masing saja rasanya sudah cukup bagi mereka.

Biasanya mereka akan tertidur setelahnya.

Namun kali ini Jonathan dengan sekuat tenaga rengkuh badan Sevanya untuk mendekat padanya sampai sang empu terkesiap.

Mata mereka saling bertatap.

Bawa lengan Sevanya menuju pipi Jonathan sendiri sambil mengecup telapaknya beberapa kali. Hirup wangi yang selama ini menjadi obsesi.

"Kak Jo?"

Sepertinya panggilan dari Sevanya tak cukup membuat Jonathan kembali ke alam bawah sadar karena lihat lah dia seperti hilang waras betulan saat tangan Sevanya bertemu dengan bibirnya.

Netra Jonathan kini pandangi wajah Sevanya, mengitari dari berbagai sisi tak temukan celahnya. Dia sempurna, Sevanya Bening Cendikia yang hebat cantiknya.

Patutlah orang lain memuja sampai memantik amarah dia.

Tak suka miliknya jadi perhatian orang.

Dia benci keadaan di mana ribu pasang mata dimanja oleh penampilan Sevanya. Tak bisa mencongkel satu-satu mata mereka, mungkin Jonathan akan langsung saja ke pusatnya.

 

Jonathan Arga, kunobatkan dia sebagai manusia paling gila karena tiba-tiba memasukan satu jari telunjuk Sevanya ke dalam mulut sendiri dengan sengaja.

Sang pemilik terkejut bukan main.

Jangan mengira Jonathan hanya menggigit gemas biasa, nyatanya telunjuk Sevanya sudah hampir mati rasa karena gigitan kuat luar biasa. Dia tak berkutik, dari raut wajah dan tatapan Jonathan padanya saja sudah bisa ditebak kenapa amarahnya. 

Sebulan lalu Jonathan melihat pesan masuk dari WhatsApp Sevanya, padahal menurutnya itu adalah pesan biasa yang menanyakan kebenaran tentang ia melakukan Drag. Tapi bagi Jonathan itu berbeda karena dia tahu betul siapa orang yang mengirimnya.

Sama seperti tatapan yang ia dapatkan saat berdansa dan Jonathan meraih pinggang dengan kedua tangan dia serta saat bercumbu yang Sevanya rasa tak ada rasa cintanya, tatapan tajam langsung menusuk mata. 

Sevanya sudah tak bisa membendung bulir bening di mata yang akhirnya jatuh bebas dari pelupuknya lalu bibir ia gigit kuat salurkan nyeri karena jari yang saat ini dilukai oleh Jonathan.

Entah apa yang membuat Sevanya tak berani melawan padahal darah dari bibir sudah ikut keluar akibat ia menahan kesakitan.

Telunjuk keluar dari mulut dengan keadaan setengah lebam sampai memerah buku-nya. 

Jonathan segera kecup kembali jari lebam itu seolah tak terjadi apa-apa. Tangan sendiri kini terangkat untuk mengelus pipi Sevanya yang sudah basah terkena air mata.

"Boleh kamu berenti nge-Drag, Anya?"

Sevanya tercekat, tak menyangka kalimat yang selalu ditanyakan oleh Ayah nya ini keluar dari mulut Jonathan juga, ia menggeleng masih dengan bibir yang terkatup.

Air muka Jonathan berubah total, muncul kesedihan sampai bulir bening dari mata jatuh juga.

"Kenapa, Anya? Kamu suka ya dipuji banyak orang? Kamu suka jadi pusat perhatian? Dari aku kurang kah, Anya?" Suaranya terlalu parau dan tergagap seperti emosi yang tak kunjung diluap. 

"Aku janji bakal kasih perhatian sama pujian lebih banyak lagi, Anya." 

Ibu jari bukan hanya mengelus muka saja, tapi selipkan setiap helaian rambut palsu yang menganggu pemandangan cantik alias wajah memerah akibat menangis hebat di depannya juga.

Kalau seperti ini, Jonathan dan Ayah sama saja tak ada pembeda.

Melarang lakukan apa yang menjadi pusat kesenangan.

Mungkin ini yang dimaksud Jonathan menginginkan lebih sampai tak bisa berpikir jernih. 

Cintanya pada Sevanya terlalu besar hingga berubah menjadi obsesi tak terhindar. Bicara dan bertingkah layaknya ia memegang penuh kendali penuh atas apa yang dilakukan oleh Sevanya. 

Sampai tega menyakiti hati dan fisik pula.

Tatapan Jonathan melembut sekarang.

Dekatkan wajah lalu raup muka dengan kedua tangan dan hujani Sevanya dengan kecupan di semua sisinya, kening, kedua pipi, dagu, tak ada yang terlewat, bahkan di filtrum sekalipun Jonathan mengecupnya, berakhir ke bawah tepat pada bibir yang basah terkena air mata.

Kecupan nya cukup lama. Area yang sering membuat Jonathan menjadi gila.

Bawa Sevanya ke dalam pelukan dengan mudah.

Badan yang terlihat seimbang dengan Sevanya ini harusnya tak perlu diragukan kekuatannya. 

Ia peluk begitu erat.

Orang lain kalau sudah disakiti begini, harusnya enggan mendekat walaupun sekedar berpelukan. Tapi Sevanya masih menerima, balas pelukan Jonathan dengan sepenuh cinta meski jari yang tadi digigit Jonathan hampir mati rasa.

Tak usah ditanya kenapa, dia juga sudah kepalang cinta.

Bibir didekatkan tepat pada telinga, Jonathan kecup daunnya lalu berbicara amat pelan dengan suara serak.

"Aku sayang kamu, Anya ..."

Kalimatnya terdengar menggantung. 

" ... nurut sama aku, ya?"

Series this work belongs to: