Actions

Work Header

Remember When The Sun Goes Down

Summary:

Dohoon bertemu lagi dengan mantan kekasihnya, Shinyu, setelah satu tahun menjaga jarak darinya. Dohoon tidak tahu bahwa Shinyu masih menyimpan perasaan kepadanya.

“Sayangnya nggak berkurang..."

Ucapan Shinyu itu membuat Dohoon kembali mengingat momen satu tahun lalu.

Notes:

I wrote this half asleep so please pardon any typos or mistakes... I recommend listening to "Always Remember Us This Way" while reading this :3

Work Text:

Hari ini Dohoon sedang sibuk membersihkan kamar yang barang-barangnya sudah berdebu semua. Sebenarnya bukan karena rajin, Dohoon hanya mencoba mengalihkan pikirannya. Pesan dari Shinyu yang semalam Dohoon baca seperti menjerit minta diingat olehnya terus. Sudah setahun semenjak Dohoon dan Shinyu putus hubungan dan tidak berinteraksi sama sekali. Itu sebabnya Dohoon cukup terkejut ketika Shinyu memintanya untuk bertemu sore ini.

Dohoon mencoba melupakan sejenak pesan itu, kembali fokus ke agenda bebersih. Lemari, meja, dan rak buru sudah selesai ia bersihkan. Sekarang giliran laci di bawah kasur yang sudah bertahun-tahun tidak Dohoon buka. Isinya hanya kenangan barang-barang lama ketika Dohoon masih kuliah. Surat dari teman-temannya yang diberikan saat wisuda, barang couple dengan temannya, dan beberapa printilan tidak penting. Saat mengeluarkan barang-barang itu, Dohoon menemukan scrapbook dengan sampul bertuliskan “happy birthday, love."

Sudah terlanjur larut dalam kenangan masa lalu, Dohoon memberanikan diri membuka scrapbook itu. Dohoon masih ingat ia membuatnya selama tiga hari tiga malam. Mencari refrensi kesana kemari, menganggu temannya untuk memberikan ide, dan rela tidak tidur karena ingin segara ia berikan kepada Shinyu. Isinya masih sama seperti yang Dohoon buat dua tahun yang lalu. Foto-foto Shinyu dan mereka berdua, berbagai ucapan ulang tahun, dan surat kecil yang tidak ingin Dohoon baca lagi isinya—bisa-bisa ia menangis.

Di halaman terakhir, terdapat sebuah tanggal lahir, tujuh november. Hari ini ulang tahun Shinyu. Dohoon baru ingat, ternyata karena itu Shinyu meminta Dohoon untuk bertemu. Dohoon berpikir, bukankah seharusnya Shinyu menikmati hari ini bersama orang-orang yang dia sayangi? Walaupun dulu Dohoon masuk ke dalam kategori tersebut.

"Mungkin Kak Shinyu ketemu sama pacarnya dulu,” Dohoon meyakinkan dirinya sendiri.


Dohoon pergi lebih awal dari jam temu yang ditentukan. Ia tidak mungkin bertemu Shinyu dengan tangan kosong, makanya sekarang ia sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan. Sudah dua jam Dohoon berkeliling, tetapi masih bingung ingin memberikan apa. Ia takut selera Shinyu sudah berubah. Takut Shinyu tidak lagi menyukai barang pemberian darinya. Dohoon hanya bisa menghela napas. Memutuskan untuk tidak membeli apapun setelah dua jam sibuk memilih hadiah.


Shinyu: kamu udah nyampe? kalau belum tunggu aku di lobi aja ya, ke atasnya bareng

Shinyu: 15 menit lagi aku nyampe


Pusat perbelanjaan yang Dohoon datangi bersebelahan dengan hotel tempat ia dan Shinyu akan bertemu. Bahkan, bisa dibilang keduanya berada di gedung yang sama. Setelah membaca pesan tersebut, Dohoon menunggu Shinyu di lobi hotel. Staf hotel memainkan lagu klasik untuk meramaikan sunyi malam ini. Tanpa sadar Dohoon menggerakkan kepalanya mengikuti alunan musik yang pelan. Sepertinya mulai sekarang Dohoon akan mencoba mendengarkan lagu-lagu klasik.

“Kamu nggak lama, ‘kan, nunggunya?” Suara berat itu familiar di telinga Dohoon. Dohoon membalikkan badannya ke belakang. Tepat sekali, sosok pria yang sudah lama tidak ia lihat sudah datang. Shinyu memakai kaos putih polos yang dipadukan dengan jas hitam, rambutnya berwarna cokelat muda, dan memakai jam tangan di sebelah kiri. Masih sama seperti dahulu. “Langsung ke atas, yuk,” ajak Shinyu.


Dohoon mengekori Shinyu dari belakang, masih belum berani mengucapkan sepatah katapun. Jari-jari Dohoon saling bertaut satu sama lain, memainkan kukunya dengan cepat, ia sangat gugup. Sampai-sampai Dohoon tidak menyadari bahwa Shinyu memperhatikannya sejak tadi. Tangan Shinyu bergerak ke arah genggaman Dohoon, membawa tangan Dohoon ke samping. “Jangan digituin kukunya, nanti sakit,” tegur Shinyu dengan lembut. Lagi-lagi Dohoon tidak bisa berucap apapun.


Dohoon dan Shinyu sudah berada di lantai restoran paling atas, dengan view yang menurut Dohoon cukup indah. Ia bisa melihat gedung-gedung tinggi dan lalu lalang kendaraan dari atas. Alunan musik klasik yang sama seperti di lobi tadi terdengar kembali. Satu hal yang Dohoon kira sebuah kebetulan, di restoran itu hanya ada Dohoon dan Shinyu.

“Kamu mau pesen apa?” Shinyu membuka obrolan. Dohoon melihat-lihat menu yang diberikan waitress. Kepala Dohoon rasanya seperti akan pecah saat melihat jumlah nol di menu tersebut. Bahkan, air minelar pun seharga cardigan yang ia pakai sekarang. Padahal niatnya Dohoon ingin mentraktir Shinyu sebagai pengganti kado ulang tahun, tetapi sepertinya jumlah angka di ATM miliknya tidak sebanyak angka-angka itu. Seperti bisa membaca pikiran Dohoon, Shinyu berkata, “aku yang bayar.” Dohoon reflek mengangguk, tidak ingin terlihat aneh di depan Shinyu setelah sekian lama tidak bertemu.

Dohoon memutuskan untuk memesan makanan dengan nama menu yang familiar. Bukan tidak terbiasa makan di tempat seperti ini, tetapi otaknya berhenti bekerja. Dohoon memberikan kembali daftar menu ke waitress dengan senyuman kikuk—masih bingung dengan situasi saat ini. Makan di restoran bintang lima dengan view yang indah, bukankah terlihat romantis? Dohoon jadi teringat kembali masa-masa ketika masih menjalin hubungan dengan Shinyu.

“How’s your life?”Shinyu tiba-tiba bertanya.

“You knew that damn well, everything is alright.” Berbanding terbalik dengan kondisinya yang sedang gugup, Dohoon menjawab dengan cukup percaya diri. Dohoon memasang ekspresi bingung saat Shinyu merespon dengan tawa. Matanya semakin sipit saat tersenyum seperti itu. “Kenapa?”

Shinyu memelankan tawanya. “Lucu aja,” ucapnya dengan yakin. “Maksudnya aku seneng aja bisa ngobrol lagi sama kamu,” jelasnya saat melihat Dohoon masih kebingungan.

“Emangnya nggak masalah kamu di sini bareng aku?” Kali ini Shinyu yang kebingungan dengan pertanyaan Dohoon. “Nanti pacar kamu marah gimana?” Pandangan Dohoon beralih ke jalanan di bawah sana, tidak ingin menatap Shinyu setelah melontarkan pertanyaan yang blak-blakan. Cukup berani untuk seorang pengecut seperti Dohoon.

Bukannya langsung menjawab, Shinyu hanya menatap Dohoon dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Jari-jarinya bergerak di atas meja menimbulkan suara ketukan. Dohoon merasa terintimidasi olehnya. Hingga tiba-tiba badan Shinyu dibawa maju ke depan, tangannya ditempelkan ke dahi Dohoon, “Kamu sakit?”

Dohoon menepis tangannya, “kok malah nanya balik, sih?”

“Lah, lagian kamu nanyanya aneh banget. Sejak kapan aku punya pacar?”

“Loh?” Dohoon dan Shinyu sama-sama mengerutkan dahi, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dohoon masih ingat dengan jelas kejadian setahun yang lalu. Salah satu temannya mengirim foto Shinyu yang sedang berpelukan dengan seorang perempuan. Tepat setelah dua bulan mereka sudah putus.

“Tunggu, jangan bilang kamu ngejauh karena ngiranya aku punya pacar?” Shinyu lontarkan hipotesis miliknya yang hanya dijawab anggukan oleh Dohoon. “Dohoon...,” lirihnya sambil tertawa kecil. Dohoon sudah tidak tahan ingin sekali meminta penjelasan dari Shinyu, tetapi ia sudah terlanjur malu sendiri melihat responnya.

Baru saja Shinyu ingin melanjutkan ucapannya, tetapi harus terhenti saat pesanan mereka sudah datang. Dohoon memesan steak biasa, sedangkan Shinyu memesan spaghetti dengan udang yang tidak diketahui namanya oleh Dohoon. “Thank you,” Dohoon tak lupa ucapkan terima kasih setelah sang waitress selesai menuangkan wine ke dalam gelas. “Jadi gimana maksud kamu?”

“Makan dulu.” Shinyu tidak membiarkan topik pembicaraan tadi dilanjutkan secepat mungkin. Dohoon dan Shinyu sibuk menyuapkan makanan masing-masing. Hanya musik klasik dan suara lalu lintas dari bawah sana yang terdengar.

Dohoon meletakkan sendok dan garpunya ke piring, “nggak bisa, aku penasaran.” Shinyu meluruskan tatapannya ke arah Dohoon, ikut meletakkan alat makannya. “Bukannya kamu punya pacar? Atau udah putus? Sejak kapan? Kok bisa?”

Wow... satu-satu dong.” Shinyu masih terlihat santai. Dohoon tidak bisa menebak isi pikirannya. Sempat berpacaran selama enam tahun pun Dohoon masih tidak bisa membaca mimik wajah Shinyu.

“Kamu tahu aku punya pacar dari mana?”

“Bulan Januari kemarin, kamu pelukan sama pacar kamu, ‘kan?” ucapan Dohoon barusan bukan seperti pertanyaan, melainkan pernyataan.

“Oh, ternyata bener kamu ngejauh karena ngira aku punya pacar.” Shinyu menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya, “itu bukan pacarku, loh. Kayaknya aku inget deh, itu sepupu aku. Dia baru aja keterima di company impian dia, jadinya aku peluk buat tanda selamat. Cuma gitu doang, kok.”

Sekarang rasanya Dohoon ingin lompat saja dari lantai paling atas gedung ini, menghilang dari hadapan Shinyu. Dohoon tidak tahu menahu tentang hal tersebut karena Dohoon langsung menjauh dari Shinyu tanpa kabar. Shinyu sendiri tidak menanyakan apapun, makanya Dohoon semakin yakin ia sudah berpacaran lagi. Sepertinya semua orang akan melakukan hal yang sama jika melihat mantan pacarnya berpelukan dengan seseorang.

“Terus kenapa kamu diem aja, nggak nyariin aku pas aku ngejauh?”

“Aku kira kamu lagi butuh waktu sendiri, aku nggak mau ganggu.” Shinyu menatap Dohoon dengan lembut. Dohoon meratapi dirinya sendiri yang melakukan hal bodoh selama satu tahun ini.

“Maaf...”

“Kok malah minta maaf?”Shinyu dibuat gemas lagi oleh Dohoon.

Matahari mulai menyembunyikan dirinya, menimbulkan warna indah di langit. Dohoon tidak bisa melanjutkan sesi makannya lagi, terlalu menyesakkan saat mengetahui semua yang sudah ia lakukan untuk move on selama ini ternyata sia-sia.

“Kenapa nggak dimakan?”

Dohoon menatap Shinyu dengan matanya yang berbinar. Terlihat seperti bulan yang sebentar lagi akan muncul. Dohoon berdeham, terlalu sulit untuk mengeluarkan sepatah kata.

“Oh iya, aku mau ngomong sesuatu,” kata Shinyu—membuat Dohoon memfokuskan dirinya kepada Shinyu.

“Kenapa?”

“Besok aku flight ke jepang. Bukan cuma sebulan dua bulan, tapi aku pindah ke sana.” Dohoon seperti tidak mendengar dua kata terakhir dengan jelas. Pandangannya seketika memudar. Dohoon kembali berpikir. Setelah satu tahun tidak berkomunikasi, mereka berdua hanya bertemu untuk mengucapkan selamat tinggal. Dohoon tidak tahu harus menyalahkan siapa.

Dohoon menyeka air matanya yang mulai turun dengan tidu.“Maaf, maaf... hahaha,” tawanya canggung,“jadi ini dinner terakhir.”

“Enggak, kok. We still can have another dinner together, tapi nggak tau kapan lagi. Aku dipindahin ke cabang sana, maaf baru ngabarin sekarang.”

It’s ok. ‘Kan, aku yang nggak ngabarin kamu.” Dohoon tidak lagi memberikan senyuman manisnya. “Kamu masih sayang aku nggak?” pertanyaan itu entah kenapa bisa Dohoon lontarkan dengan bodoh—membuat suasana menjadi canggung lagi. Namun, Shinyu langsung menjawab dengan yakin.

“Masih, kok... justru sayangnya nggak berkurang. Tapi pas kamu mulai ngejauh, I think I can live without you. Makanya aku rela pergi ke Jepang. Bukan maksud aku mau ngejelekin kamu, tapi kalau dipikir-pikir, kita emang harus perbaiki diri sendiri dulu.” Shinyu mengatakannya dengan tegas.

Dohoon menundukkan kepalanya. Jari-jarinya kembali sibuk menekan satu sama lain. Shinyu berusaha meraih tangan Dohoon, tetapi kali ini ditolak halus oleh Dohoon.

“Kamu gimana? How’s your feeling?

“Mau jujur atau bohong?” Dohoon berusaha mencairkan suasana dengan bercanda, walaupun ia sendiri tidak tertawa dan hanya Shinyu yang kembali tersenyum. “I still love you so badly, kak. Jelek banget ya aku mikir gini? Padahal aku sendiri yang ngejauh, aku sendiri yang bikin kita jadi agak canggung gini.” Kalimat terakhir itu Dohoon ucapkan dengan suara yang bergetar.

Satu tahun yang lalu, Dohoon dan Shinyu sebenarnya masih menjalin hubungan yang manis. Mereka berdua terbilang jarang sekali beradu argumen. Namun, ada satu momen di mana Dohoon merasa hampa dengan hubungannya. Hingga akhirnya Dohoon meminta putus. Out of nowhere. Shinyu terlalu menurut, ia tidak menolak permintaan Dohoon. Rasa sayang tidak harus selalu mengikat, pikir Shinyu.

“Heiii. Kok nangis?” Teringat momen sebelum putus membuat Dohoon menangis. Ia buru-buru mengusap air matanya lagi dengan tisu. Dohoon tidak ingin terlihat lemah di depan Shinyu.

Dohoon mengeluarkan scrapbook dari tas, lalu memberikannya kepada Shinyu. “Aku nggak tahu mau ngasih apa. Kebetulan tadi pagi aku nemu ini. Tadinya aku mau ngasih ini tahun lalu, tapi lupa keburu putus. Happy birthday, kak.”

Shinyu menerimanya dengan senang hati, “it means a lot to me, Dohoon.” Senyum Shinyu kembali merekah. Melihatnya seperti itu membuat Dohoon semakin merasa sesak. Andai saja semuanya baik-baik saja.

Pada dasarnya, dua-duanya sama-sama selalu pasrah dengan hubungan mereka berdua. Jika memang mereka ditakdirkan bersama, maka mereka percaya akan diberi jalannya. Karena itu lah Dohoon lebih memilih untuk ucapkan perpisahan juga 

“Semoga kamu baik-baik aja di sana, ya. Jangan lupa selalu minum air putih, jangan lupa minum vitamin setiap pagi, jangan lupa catat pengeluaran kamu biar nggak boros, jangan... jangan lupa...” Kali ini Dohoon sedikit cengeng. Ia tidak bisa melanjutkan ucapannya.

Tangan Shinyu terulur mengelus punggung tangan Dohoon. Rasanya sangat lembut, masih sama seperti dulu. “Take a deep breath," Shinyu berusaha menenangkan Dohoon. Bukannya berhenti, tangisnya semakin pecah. “Dohoon...”

Tangisan Dohoon ditemani oleh langit yang berubah menjadi jingga, hangatnya hari menuju malam menyelimuti kulit.

Tangan Shinyu tidak lagi terasa. Dohoon baru saja ingin menatapnya, tetapi Shinyu tiba-tiba sudah berada di samping. Tangannya memegang tengkuk Dohoon, membuatnya memandang ke atas karena sekarang posisi Shinyu berdiri, sedangkan Dohoon masih duduk. Tangan satunya ia bawa untuk mengelus pipi Dohoon yang basah.

Shinyu berlutut di hadapan Dohoon yang masih duduk. Ia kecup mata Dohoon yang masih menangis itu. Tangan Dohoon diusap pelan oleh Shinyu—menyalurkan rasa nyaman untuknya.

Shinyu menempelkan keningnya dengan milik Dohoon “Harus selalu bahagia, yaa. Walaupun nggak sama aku.”

Dohoon terima. Dohoon tidak menahan Shinyu. Dohoon masih menangis, tetapi ia tidak menyangkal satupun ucapan Shinyu.

Dohoon dan Shinyu sama-sama tahu. Mereka akan berada dijalan yang sama lagi jika mereka berdua memang ditakdirkan.