Work Text:
Panggung cerira ini dimainkan oleh ;
Windu - Winny Thanawin
Sakha - Satang Kittiphop
Ganta - Great Sapol
Faiz - Fourth Nattawat
Putra - Phuwin Tangsakyuen
Siapa di dunia ini yang tidak suka nasi goreng? Apalagi disantap malam-malam dengan tambahan acar dan kerupuk. Dimakannya saat panas-panas ditemani secangkir es teh dan seseorang yang disayang. Duduk saling berhadapan. Senyum-senyum makan dibuat lambat agar mengulur waktu bersama. Mengobrol tipis-tipis soal kegiatan hari ini atau yang sedang hangat dibicarakan. Bisa juga berdiskusi apakah harus membungkus seporsi lainnya untuk buah tangan orang rumah. Ditambah ini adalah malam minggu pula. Alamak! Sangat mantap rasanya.
Windu baru makan dua suap. Agak seret di tenggorokan, jadi lelaki berusia dua puluh tujuh itu memilih menyedot es teh manisnya dulu. Di hadapannya, ada sang pacar yang sudah menjalin hubungan dengannya selama hampir sepuluh tahun. Namanya Sakha, matanya bulat lucu dan menggemaskan. Siapapun yang melihat dua sejoli ini akan berpikir bahwa mereka pasangan mesra yang awet tanpa badai masalah. Warung nasi goreng Mas Kus di bawah tenda biru di perempatan jalan jadi langganan mereka sejak jaman baru pacaran. Rasanya masih sama. Kenangannya juga. Orangnya juga.
"Kenapa nggak di makan? Pedes kah?" Windu tanya ke pacarnya. Sedari tadi itu sendok tidak juga pindah dari tempatnya. Di pinggir, bersih, seperti tidak akan digunakan untuk menyuap makanan yang sudah disediakan.
Sakha menggeleng.
"Terus kenapa? Kok dari tadi diem aja?"
Ada helaan napas panjang dari Sakha. Ia mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan Windu. Tapi tak lama. Seperti ada yang disembunyikan, Sakha langsung buang muka supaya tidak lama-lama beradu pandang dengan pacarnya sendiri.
"Ka, kenapa? Ada masalah?" tanya Windu sekali lagi.
Hening di antara mereka. Beberapa menit. Hanya suara orang-orang yang silih berganti datang dan spatula Mas Kus di wajan yang terdengar.
"Kamu inget Mas Ganta kakak kelas kita pas di SMA?"
"Inget. Yang ketua PMR kan?"
"Iya"
"Lucu deh. Dulu aku inget dia pernah nganterin kamu karena kalian latihan buat lomba PMR sampai sore. Padahal udah kubilang aku aja yang jemput. Toh lagi nongkrong juga di wardep"
Sakha gigit bibirnya. Matanya terasa panas. Bukan efek asap dari kegiatan memasak Mas Kus, tapi dari hatinya yang kini seolah ditindih batu besar.
"Win, kemaren Mas Ganta dateng ke rumah. Sama ibu dan adeknya juga...."
Windu masih diam. Dia tatap Sakha seolah membiarkan lelaki itu menyelesaikan perkataannya yang menggantung.
"Dia ngajak aku nikah, Win"
Sebentar....
Sebentar-sebentar....
Apa katanya tadi?
Nikah?
"Aku udah bilang aku masih pacaran sama kamu. Hubungan kita juga baik-baik aja. Tapi mama sama papaku bilang kenapa nggak terima pinangannya Mas Ganta aja"
"Loh kok gitu?" Nada Windu sudah mulai naik seoktaf.
"Katanya nunggu kamu kelamaan, Win. Kita udah pacaran dari jaman SMA, tapi kamu belum kelihatan serius sama aku. Dari sejak aku wisuda juga udah aku bilang kan, dateng dulu ke rumah buat kasih tau niat kamu kalau kamu serius sama aku"
Seperti es teh dan nasi goreng mereka yang dibiarkan menganggur, keduanya seolah melebur, menjadi hambar, dingin.
"Ke rumah kamu kan nggak mungkin tangan kosong, Sakha. Aku selama ini kerja dan nabung buat serius sama kamu, lho!"
"Aku tauuu! Aku tau banget. Tapi mana buktinya, Windu? Kamu ngomong nabung-nabung tapi kerjaan kamu tiap minggu perbaiki motor ninja kamu terus"
"Ya kan itu juga dipake jalan sama kamu. Emang jalan sama kamu nggak butuh jajan? Gak butuh minum? Kok bisa orangtua kamu bilang gitu padahal tau aku udah macarin anak mereka?"
"Jangankan papa mama aku, Win. Aku aja nggak bisa lihat masa depan aku di kamu!"
Akhirnya kata-kata yang tertahan itu keluar juga. Sakha beringsut mundur setelah mengatakannya dengan satu tarikan napas. Mata Windu yang sipit itu membelalak tak percaya pada apa yang barusan didengarnya.
"Kita selama ini jalan di tempat, Windu. Kamu nyadar gak sih? Semua yang kita lakuin cuma karena kita udah terbiasa aja. Nggak ada sesuatu yang spesial, nggak ada sesuatu yang baru. Aku selalu minta kepastian kamu kapan kamu mau ke rumah? Kapan mau ketemu mama papa? Mereka udah sering banget nanyain kamu ke aku"
"Kamu masih sayang aku gak sih, Ka?"
"Sayang. Aku sayang sama kamu, Windu. Tapi aku nggak lihat masa depan di hubungan kita. Nggak ada bayangan aku kedepannya sama kamu gimana dengan sikap kamu selama ini"
Jeda hening lagi. Mungkin keduanya menyadari kalau urat mereka sudah timbul dan percakapan ini mulai mengganggu pengunjung lain yang tengah makan nasi goreng juga.
"Terus, kamu mau terima pinangannya Mas Ganta?"
Sakha mendesah berat. "Mas Ganta ngasih aku pilihan, Win. Dia nggak mau ganggu hubungan kamu sama aku, tapi niat dia baik. Dia udah suka aku dari pertama lihat aku di PMR. Sekarang dia udah mapan, udah jadi manager di salah satu bank swasta. Udah punya rumah, mobil, tabungan. Ibunya juga seneng sama aku karena sering diceritain sama Mas Ganta—"
"Intinya kamu terima dia kan?" tanya Windu menyela.
"Dengerin aku dulu!"
"Mama papa bilang kalau sama Mas Ganta, hidup aku akan terjamin. Aku gak perlu capek-capek kerja berat. Dan usia aku juga udah siap buat bangun rumah tangga, Win. Kalau aku nungguin kamu terus, lama-lama aku keburu tua. Iya kalau kamu siapnya dalam waktu dekat, kalau nggak? Butuh berapa tahun lagi buat kamu siap lamar aku?"
"Segitu aja hubungan kita di matamu ya, Ka?"
"Aku sayang sama kamu, Windu. Sayang sekali ... tapi aku juga butuh realistis untuk hidup, Win. Aku butuh orang yang sama-sama siap buat nikah, buat habisin hidup sampai mati bareng. Bukan sekedar ketemuan bentar, jajan, muter-muter naik motor yang joknya nungging banget itu!"
"Jadi kamu mau kita udahan?"
Tangan Sakha mengepal di bawah meja. Ia mengangguk pelan. "Kalau kamu belum bisa kasih aku kejelasan dan kepastian, biarin aku terima pinangan Mas Ganta ya, Win?"
Dan malam itu, Windu menyadari bahwa ini adalah porsi nasi goreng terakhirnya yang ia beli di Mas Kus. Bersama Sakha.
***
Kabar terkait Ganta yang melamar Sakha cepat menyebar. Beruntung Sakha memiliki dua sahabat karib yang selalu bisa diajak berkeluh kesah. Sore setelah pulang bekerja, ia mampir ke apartemen Faiz untuk membicarakan terkait hubungannya dengan Windu yang kandas bersama Faiz dan Putra. Ditemani dua kotak pizza berukuran sedang dan sebotol kola berukuran 1.2 liter, percakapan dengan topik cukup berat pun dimulai.
"Terus, kamu udah kasih jawaban ke Mas Ganta?" tanya Faiz.
Sakha menggeleng. "Aku masih gak bisa berhenti mikirin Windu. Kami kan sekantor, cuma beda divisi. Dia kelihatan kucel banget belakangan ini. Kayak gak keurus"
"Biarin lah! Siapa suruh selama ini temenku dianggurin gitu aja! Inget dong kata Armada, mau dibawa kemana hubungan kita~!" Putra menyanyikan selirik lagu dari band kondang untuk menyindir Sakha. Faiz di sebelahnya tertawa.
"Inget gak di nikahan aku dia bilang mau nyusul. Segala nanya-nanya kontak WO nya pula, padahal kesiapannya nol besar!"
"Tau tuh, aku udah sampai mau nikah nih akhir tahun ini. Padahal sengaja nunda sama Gema biar kamu duluan lho, Ka"
Sakha yang mendengar itu terkekeh pelan. Seminggu ini ia mencoba memproses semuanya, namun tak kunjung menemukan titik terang.
"Ka, nikah itu seumur hidup. Kalau kamu yakin bisa hidup sama orang yang udah kamu pacarin satu dekade itu, ya silakan. Nunggu aja sampai kamu jadi kakek-kakek. Biar aja kalian makan printilan motornya yang udah numpuk kayak tumpukan rongsokan di kontrakannya itu"
"Bener sih kata Faiz. Aku ngerasa banget, Sakha. Beruntungnya Panji udah mapan sebelum kita nikah. Realistis ya, hidup tuh gak murah. Kebutuhan sandang, pangan, papan. Belum lagi kalau punya anak harus ekstra buat biaya besarin anak yang gak sedikit. Mental Panji sama aku juga emang udah siap sih, Ka. Bukan cuma soal finansial ya"
"Gema juga udah siap mental"
"Yeeee, dia mah emang ngebet aja!"
"Jangankan itu, aku juga udah ngebet sih pengen punya temen bobok tiap malem!"
Bantal sofa terlempar tepat ke arah Faiz. Sakha tertawa pelan melihat tingkah kedua temannya.
"Intinya, kalau kamu udah siap dan kamu ngerasa Mas Ganta bisa jadi temen hidup kamu, gas aja, Ka. Kesempatan emas gak dateng dua kali. Kita semua juga tau gimana latarbelakang Mas Ganta. Dia baik puooll!"
"Tapi aku sama Windu gimana?"
"Ya putus lah! Masa mau suaminya dua sih?!"
"Faizzz!!!"
"Hahaha! Lagiann.... Gak usah peduliin Windu lah. Kamu udah cukup sabar berkali-kali minta dia buat ketemu orangtua kamu dan nabung serius buat persiapan nikah kalian. Sekarang tuman tuh dia! Nikahin aja motor ninjanya itu"
"Kita juga tahun ini dua puluh delapan, Ka. Seumuran kita harusnya udah gendong anak ke TK. Bukan ngurusin audit sampe teler sambil nungguin pacar ngelamar!'"
"Hubungan aku sama Windu tuh gak sebentar, lho"
"Emang gak sebentar. Siapa coba yang bilang? Sepuluh tahun itu lama, dan kamu udah kasih dia waktu selama itu buat membuktikan apakah dia layak jadi temen seumur hidup kamu apa nggak. Sekarang ada laki-laki baik, bertanggung jawab, mapan dan sayang sama kamu yang siap jaga kamu sampai kamu tua nanti, Ka. Kamu yakin masih mau pertahanin hubungan kalian yang belum jelas bakal berakhir di altar atau nggak?"
Sakha terdiam. Omongan itu seperti kucuran air untuk hatinya yang belakangan ini terasa kering kerontang. Sedikit demi sedikit logikanya mendominasi. Perihal cinta, memang cinta. Tapi Sakha jelas tau tagihan listrik tidak bisa dibayar dengan kata I Love You. Lagi-lagi, ia mendapat alasan valid bahwa keputusannya menerima pinangan Ganta adalah hal yang tepat.
***
"Kamu resign, Ka?"
Sore itu, Windu tau-tau menghadang motor Sakha yang hendak melaju pergi dari parkiran kantor. Ternyata berita mengenai pengunduran dirinya sampai juga di telinga mantan kekasihnya itu.
"Kamu tau kan aku emang udah punya rencana resign dalam waktu dekat?"
"Terus udah dapet tempat kerja baru? Apa kamu resign karena Mas Ganta gak bolehin kamu kerja? Masa kamu lembek gini sih, Ka? Kemana Sakha yang etos kerja tinggi itu?"
Merasa egonya disenggol, Sakha memutuskan mematikan mesin motor dan memarkirkannya lebih dulu sebelum turun. Helmnya ia lepas agar kepalanya tak semakin panas mengebul.
"Kok bisa kamu ngomong kayak gitu, Win? Aku resign karena mau nikah sama Mas Ganta pun harusnya bukan urusan kamu nggak sih? Kita udah putus! Lagian juga aku udah punya tempat yang baru. Mas Ganta gak sama sekali ngelarang aku buat kerja. Walaupun dengan apa yang dia punya sekarang udah bisa hidupin aku tanpa aku harus capek-capek kerja!"
"Ohhh sekarang udah bisa ngebelain dia ya? Jadi bener kamu udah terima lamarannya?"
Sakha menarik napas mencoba mengontrol emosinya. Ia menyisir rambutnya ke belakang dan mencoba menarik senyum simpul.
"Aku gak mau berantem sama kamu ya, Windu. Kita udah bahas ini dan kita udah sepakat buat pisah baik-baik. Makasih buat hubungan kita selama ini. Nanti undangan kamu aku titipin aja ke anak kantor ya"
Setelah mengucapkan itu, Sakha kembali memakai helmnya. Ia segera menaiki motor dan menyalakan mesinnya kembali.
"Aku balik dulu, Win. Sampai ketemu di hari nikahan aku ya. Jaga diri kamu baik-baik"
Bersamaan dengan klakson dan motor Sakha yang berlalu, bersamaan itu pula mimpi masa depan Windu dan Sakha dalam bahterai rumah tangga pupus. Hilang dibawa pergi angin sore yang mendung.
"Iya, Sakha. Sampai Jumpa di Hari Pernikahanmu"
*)
