Actions

Work Header

Keisengan Yudis

Summary:

Yudis iseng ganggu Arjuna yang lagi kerja

Notes:

i write this on april fools lol

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Yudis itu isengnya minta ampun. Iseng banget sampai sering buat Arjuna pijet pelipis dan ngomel ini itu walau yang bersangkutan cuma jawab sambil cengengesan. Kalau aja Arjuna nggak butuh duit, mungkin dia udah usir Yudis dari apartemennya. 

Tapi kali ini isengnya Yudis udah kelewatan. 

Maksudnya apa-apaan kirim foto menggoda begitu di siang bolong waktu Arjuna masih bergelud sama deadline kerjaannya yang nggak habis-habis. Belum lagi omelan atasannya yang ikut nggak ada habisnya minta revisi. Kalau bisa saat itu juga Arjuna pengen banting komputer dan loncat dari atap gedung kantornya. Tapi tentu saja Arjuna nggak semudah itu buat menyerah.

Selain karena beban kerjanya yang sebesar badan presiden, ada satu hal lagi yang bikin Arjuna mengurungkan niatnya. 

Pesan Yudis yang lain. 

Maka dari itu, begitu jam nunjukin pukul 4 sore, Arjuna langsung beres-beres dan cabut dari kantornya. Buru-buru mau pulang dan buktiin perkataan Yudis itu bener atau cuma candaan doang. 

Emang kalau bener punya memek, Arjuna mau ngapain? Itu urusan belakangan. 

Sekarang yang ada di pikiran Arjuna adalah gimana caranya cepat sampai apartemen dan menerobos masuk ke kamar Yudis. 

Entah ini efek Arjuna yang kelamaan jomblo dan nggak punya waktu buat coli, dikasih bahan dikit sama Yudis aja langsung bikin dia ereksi. 

'Lemah banget lu anjing,' ucap Arjuna dalam hati di sela-sela fokusnya saat menyetir.

Kalau Arjuna sedang bertarung sama ereksinya di jalan pulang, si pelaku utama alias Yudis malah santai-santai aja di ruang tamu sambil nonton TV. Kelihatannya aja santai, tapi dalam hatinya Yudis ikut deg-degan takut kalau Arjuna beneran pengen buktiin omongannya. Karena dari awal niat Yudis itu cuma bercanda. Dia cuma pengen tau gimana reaksi Arjuna digodain berlebihan kaya gitu. Untung aja hari ini bertepatan sama April Fools, jadi dia bisa pake alasan itu dan ngetawain Arjuna pas pulang nanti. 

Sebenernya udah lama Yudis pengen isengin Arjuna kaya gini. Biasanya caranya godain Arjuna itu cuma tipis-tipis dengan sering pakai hot pants dan kaos oversize pamerin pahanya yang mulus sambil berkeliaran di apartemen. Tapi entah si Arjuna yang kuat iman atau emang si Yudis bukan tipenya, godaan Yudis sama sekali nggak bikin Arjuna tertarik. Yang ada malah si Yudis diomelin disuruh buat pakai baju proper biar nggak masuk angin. 

Pas lagi fokus nonton, Yudis denger suara pintu yang udah dibuka. Laki-laki yang badannya lebih kecil itu noleh ke asal suara dan ada Arjuna berdiri di situ. 

"Halo," sapa Yudis berusaha tenang. 

Arjuna nggak jawab. Laki-laki itu cuma diem dan jalan ke arah Yudis berada. 

"Buka baju lo." 

Yudis kaget. Apa-apaan baru pulang langsung disuruh buka baju. 

"Kok diem? Kan tadi lo sendiri yang bilang kalau punya memek dan nyuruh gue buktiin. Sekarang gue dah disini nih nunggu lo buka baju."

Anjing. Anjing. Anjing. Rasanya Yudis mau kabur ke kamarnya sekarang. 

"Ehehehehe."

Arjuna menaikkan satu alisnya, "Kenapa malah ketawa? Takut?"

Jujur Yudis emang takut, tapi yang dibawah bukannya kompromi malah kedut-kedut gajelas. Pasalnya ini pertama kalinya Arjuna keliatan lebih galak di matanya karena biasanya laki-laki itu cuma ngomel-ngomel lucu, bukan ngasih tatapan mendominasi kaya gini. 

Karena nggak dapet jawaban dan Arjuna udah kepalang kesel, langsung aja dia tarik tangan Yudis dan dibawa masuk ke kamarnya. 

"Buka."

"Ih apasih jun, sabar dikit lah." 

"Nggak ada sabar-sabar. Buka."

Kalau udah kaya gini Yudis nggak bisa menghindar lagi. Jadi mau gamau laki-laki itu sekarang copotin bajunya satu persatu sesuai titah Arjuna. Sedangkan Arjuna diem aja bersedekap di depannya merhatiin Yudis. 

Arjuna bisa lihat dengan jelas kalau sekarang muka Yudis udah semerah tomat. Udah pasti Yudis malu tapi Arjuna nggak peduli, salah sendiri kan Yudis duluan yang nantangin. 

Sekarang sisa celana dalam aja yang nutupin badan Yudis. Bukannya cepet-cepet dicopot, Yudis malah diem aja natap mata Arjuna. 

Arjuna menaikkan satu alisnya, "Kenapa berhenti?" 

Yudis bukannya jawab malah narik satu tangan Arjuna, diarahkan langsung ke bagian bawah tubuhnya. 

"Lepasin dong," ucap Yudis menggoda.

Buru-buru Arjuna langsung tarik tangannya. 

Arjuna bisa lihat dengan jelas wajah Yudis yang ngejek ke arahnya. Apalagi dia juga bisa rasain kalau pasti sekarang telinganya ikut memerah. 

"Kenapa? Emang gamau lihat sendiri?" 

Kurang ajar, batin Arjuna.

Merasa makin tertantang, didorongnya badan Yudis sampai telentang di atas ranjangnya. Matanya lamat-lamat merhatiin setiap inci lekuk tubuh Yudis yang sudah terekspos bebas. 

“Oh ternyata gini bentuk asli badan yang selama ini lo coba pamerin ke gue. Not bad.

Yudis menyeringai nakal. Kakinya yang semula  diam sedikit terangkat dan ujung jarinya menyentuh gundukan yang menyembul di tengah-tengah selangkangan Arjuna.

“Bisa bikin sange ya?” 

Arjuna tanpa basa basi langsung raup bibir ranum Yudis. Yang dicium tiba-tiba juga cuma bisa terima apalagi waktu bibirnya dipaksa buat buka dan lidah Arjuna masuk buat absen deretan giginya. Yudis akui, ciuman Arjuna enak walau berkali-kali dia kode karena kehabisan nafas. 

Tangan Arjuna yang nggak tinggal diam meraba-raba dada Yudis. Dicubit dan ditariknya puting merah muda yang dari tadi udah menarik perhatiannya dan desahan lolos gitu aja dari bibir Yudis. Waktu ciuman Arjuna beralih ke leher jenjangnya berhasil bikin Yudis meremas rambut hitam legam roommate-nya itu dan bikin Arjuna makin ketagihan meninggalkan jejak kemerahan di tubuhnya.

Arjuna melepas ciumannya dan bangkit berdiri di hadapan Yudis. Tangannya beralih ke celana dalam sedikit berenda milik Yudis yang sedari tadi masih nempel dan tanpa babibu langsung ditariknya. 

Selama dua puluh lima tahun hidup, baru kali ini Arjuna lihat langsung bagaimana rupa asli vagina karena biasanya dia cuma lihat di video-video bokep atau manga hentai yang dia baca pas masih sekolah. Makanya pas lihat punya Yudis yang mulus bersih tanpa sehelai rambut secara langsung gini bikin dia nge-blank karena gatau mau ngapain lagi.

Yudis ikut kebingungan waktu lihat Arjuna yang cuma diem sambil merhatiin bagian intimnya akhirnya memilih buat bersuara. 

“Kok diem aja sih? Aneh ya?”

Arjuna mendongak dan menggeleng, “Nggak sih, cuma bingung aja. Boleh pegang?” 

Ditanya begitu jelas bikin Yudis langsung kesenengan. Tentu saja dia langsung memperbolehkan Arjuna buat pegang. 

Yang minta izin juga nggak buang-buang waktu karena dari tadi matanya fokus sama tonjolan kecil yang mencuat. Arjuna nggak sebodoh itu buat tau apa itu makanya pas tangannya akhirnya bisa pegang, Yudis langsung melenguh kecil. Geli.

Walau klitoris Yudis beda sama punya perempuan kebanyakan, Arjuna tetep kagum. Bentuknya agak lebih besar dan lebih kemerahan, senada dengan warna lipatan labianya yang masih tertutup rapat. 

Tangan Arjuna yang semula sibuk sama klitorisnya, mulai meraba-raba ke labianya, terus turun sampai jarinya nemuin lubang kecil yang dari tadi sembunyi. Desahan Yudis yang sedari tadi masih coba dia tahan akhirnya keluar juga apalagi waktu jari nakal Arjuna mencoba masuk tanpa permisi ke dalam lubangnya.

“Ah!” pekiknya. 

“Eh maaf sakit ya?” 

Arjuna menarik jarinya dan mulai merendahkan tubuhnya, memposisikan diri di antara selangkangan Yudis lalu menyejajarkan wajahnya dengan vagina yang merah merekah itu. Cuma berbekal pengalaman nonton bokep bertahun-tahun, laki-laki itu coba julurin lidahnya. Reflek Yudis rapatin pahanya karena sensasi aneh yang dia rasakan namun ditahan oleh tangan Arjuna. 

Yudis bisa rasain daging tak bertulang yang beberapa menit lalu masuk ke mulutnya mulai menyapu seluruh area intimnya. Gerakan Arjuna kaku, tapi mampu membuat Yudis mendesahkan namanya berkali-kali. Air liur Arjuna yang bercampur dengan cairan yang keluar dari lubangnya membuat bagian bawahnya terasa sangat becek sampai-sampai membuat Yudis tak sadar Arjuna melesakkan satu jarinya masuk. 

“Anjir sempit banget. Ini nggak pernah ada yang masukin?” Yudis geleng dan entah kenapa Arjuna seneng dengernya.

Arjuna nggak langsung gerakin jarinya seolah sedang menikmati sensasi jarinya yang dijepit-jepit. Sedangkan Yudis yang udah ngerasa gatel di bagian sana sesekali gerakin badannya, seolah lagi ngode Arjuna buat masukin jarinya lebih dalam lagi.

“Eh sabar dong gue lagi adaptasi, kalau dipaksa nanti sakit.” 

Walau sedikit kecewa, Yudis cuma bisa nurut. Tapi namanya juga Arjuna, laki-laki itu sudah punya motif lain dengan terus mempermainkan klitorisnya yang mulai sedikit membengkak. Satu tangannya yang menganggur sesekali mencubit gumpalan kecil itu dan berhasil membuat Yudis terus mendesah kelonjotan sampai dia tidak sadar Arjuna sudah menambahkan satu jarinya lagi ke dalam lubangnya. 

Lubang vaginanya yang terus mengeluarkan cairan pelumas mempermudah Arjuna menggerakkan jarinya. Gerakannya pelan, seolah menikmati sensasi tiap jepitan yang diberikan dinding sempit milik Yudis. Sedangkan si empunya cuma bisa merem melek sambil desah keenakan. Tapi waktu dia rasa pelepasannya makin dekat, bukannya mempercepat gerakan si Arjuna malah berhenti kobelin memeknya dan bikin Yudis kecewa. 

Melihat tatapan Yudis yang seperti itu membuat Arjuna terkekeh dan mundur perlahan. Melepas semua pakaiannya yang masih menempel di tubuhnya sebelum kembali mendekati Yudis yang telentang pasrah. 

Yudis bisa lihat dengan jelas penis Arjuna dengan cairan precum yang membasahi ujung kepalanya. Ukurannya memang tidak terlalu besar, warnanya agak kemerahan, tapi Yudis tau kalau itu bakal susah masuk ke lubangnya. Apalagi dalam kondisi udah ereksi berdiri tegak seolah siap menggempur lubangnya itu. 

“Boleh nggak?” Yudis tau kalau pertanyaan itu cuma formalitas soalnya kepala penisnya itu udah digesek-gesekin ke lubangnya, minta izin buat masuk. 

Yudis mengangguk. Lagian dia udah pasrah sejak awal. Sejak dia mutusin kirim foto buat godain Arjuna yang lagi kerja, dia udah tau apa konsekuensi yang harus dia hadapi.

Mungkin karena lubang Yudis masih sempit, Arjuna cukup kesulitan buat masuk. Bahkan waktu kepalanya udah berhasil nembus, bagian dalam Yudis nggak menerima gitu aja. Arjuna harus berusaha berkali-kali, keluar-masuk perlahan, membuka jalur untuk penisnya. Sedangkan Yudis sedang menahan rasa sakit dengan melampiaskannya pada punggung Arjuna. 

Arjuna melenguh panjang saat semua bagian penisnya tertanam sempurna di dalam milik Yudis. 

‘Anjir ini ya rasanya lubang perawan,’ ucapnya dalam hati karena merasa jepitan dinding vagina Yudis sangat ketat. Kalau Arjuna nggak pandai nahan dirinya, mungkin sekarang dia udah keluar di dalam.

Sembari membiarkan Yudis beradaptasi dengan ukurannya, Arjuna merendahkan tubuhnya dan kembali memagut bibir ranum laki-laki di bawahnya yang bisa dipastikan keesokan harinya akan bengkak. Pinggulnya sesekali bergerak perlahan dan dibalas dengan remasan pada lengannya. 

Tapi namanya juga manusia, Arjuna yang udah nggak sabar lagi tiba-tiba menghentakkan pinggulnya sampai membuat Yudistira kaget dan tidak sengaja menggigit lidah Arjuna. Yang digigit akhirnya menegakkan tubuhnya. Diambilnya satu kaki Yudis dan diletakkan di pundaknya.

Biasanya Yudis cuma lihat pose ini sebagai salah satu adegan seks JAV yang biasa dia tonton kalau lagi bosen. Sekarang lihat kakinya yang diangkat begitu malah bikin vaginanya makin kedutan. 

“Duh, kok malah makin dijepit sih. Enak ya?” 

Arjuna tanpa aba-aba langsung bergerak bebas. Bebas tanpa arah membiarkan ujung penisnya menumbuk setiap titik milik Yudis. Sedangkan Yudis cuma bisa desah ah uh ah uh pasrah biarin lubangnya yang beberapa waktu lalu masih perawan dihujam habis-habisan. Kalau aja tembok kamar Arjuna nggak kedap suara, pasti desahannya udah bocor ke luar dan tetangganya bisa denger dengan jelas kegiatan persenggamaan mereka.

Hujaman Arjuna yang bebas tanpa tempo pasti bikin Yudis terus-terusan meremas sprei di bawahnya yang udah basah duluan sama keringatnya. Kadang pelan dan perlahan, kadang tiba-tiba kasar sampai-sampai dia bisa rasain testis Arjuna yang berkali-kali nubruk pantatnya dengan suara plak plak plak yang terdengar jorok di telinganya itu. 

Hah… hah… hah… Gue nggak tau kalau lubang lo seenak ini.” 

Yudis makin kelonjotan waktu jari Arjuna malah ikut ngasih rangsangan tambahan ke klitorisnya yang nganggur. Walau cuma dicubitin tapi bisa bikin badan Yudis bergetar. Bahkan dia bisa rasain dinding vaginanya makin menjepit penis Arjuna dan membuatnya mau tak mau melepaskan tautan mereka. 

Belum juga lima detik, lubang itu langsung menyemprotkan cairan orgasmenya yang deras seperti air mancur. Arjuna yang lihat itu cuma bisa terkekeh geli. 

Akhirnya Yudis orgasme untuk yang pertama kalinya. 

Melihat lubang yang berkedut-kedut itu membuat Arjuna tak membuang waktu lebih lama lagi. Kembali dilesakkanya penisnya yang sepertinya hampir mencapai orgasme juga ke dalam lubang itu. 

Ahnghh, Ju-junahh—AHH! T-tungguhhh… ngiluhhh, shhh—ah, ah, ah!

Peduli setan sama rasa ngilu. Desahan Yudis yang kaya gitu malah bikin Arjuna makin semangat genjotin lubang yang udah becek banget sama air liur dan cairannya sendiri tadi. 

Yudis bisa rasain kalau penis itu mulai membesar dan berkedut di dalam. Maka satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah terus meremas lengan Arjuna, memohon ampun agar memperlembut gerakannya. Tapi namanya juga sudah hampir sampai puncak, Arjuna malah terus numbukin ujung penisnya ke titik sensitif Yudis. 

“Gue keluar di dalem ya?” Yudis nggak denger apa-apa karena sekarang pikirannya ngawang. 

Lihat Yudis yang cuma diem aja sambil merem melek membuat Arjuna menganggap kalau laki-laki itu bersedia menampung benihnya di dalam. Maka dari itu, tanpa butuh waktu lama Arjuna langsung menumpahkan ejakulasinya yang sedari tadi sudah ditahannya. 

Mungkin efek karena sudah lama nggak coli, Arjuna bisa rasain kalau maninya kali ini lebih kental dari biasanya. Sedangkan Yudis cuma bisa rasain kalau perutnya penuh dan hangat. ‘Oh gini rasanya tembak dalam,’ ujarnya dalam hati. 

Arjuna diam sebentar sebelum akhirnya melepas penisnya. Bisa dilihat dengan jelas lubang yang tadinya sempit itu langsung megap-megap dan memuntahkan ejakulasinya setelah tidak ada benda yang menyumpal. 

Bukannya kasian sama Yudis yang masih atur pernapasan setelah digempur habis-habisan untuk pertama kalinya, Arjuna malah makin turn on. Tanpa aba-aba dibaliknya tubuh Yudis dan mengangkat pinggulnya agar lubangnya kembali sejajar dengan penis Arjuna yang entah sejak kapan kembali berdiri tegak. 

“Sekali lagi ya?” tanpa menunggu jawaban dari Yudis pun Arjuna sudah memasukkan kembali penisnya ke dalam lubang itu.

Sekarang Yudis cuma bisa pasrah digenjot habis-habisan sama laki-laki ini sampai perutnya kembung sama peju Arjuna yang nggak ada habisnya. 

Apakah Yudis menyesal sudah menggoda Arjuna? Ya

Apakah Yudis lelah? Pasti.

Apakah Yudis kapok buat bersenggama sama Arjuna? Tentu saja tidak

Kalau boleh sih Yudis selamanya mau ngewe aja sama Arjuna, sampai hamil, sampai Arjuna kering nggak bisa keluarin sperma lagi.

Notes:

thank you sudah baca