Work Text:
Bunyi hentakan sepatu cukup nyaring terdengar di atas lantai manor yang mengkilap, Ciel mengakhiri hari lebih cepat dari biasanya. Mantel panjang menjuntai dilepas oleh tangan cekatan Sebastian, sepatu hak tinggi berenda juga dilepas mempertunjukkan tungkai kecil milik sang tuan muda. Penutup mata, kemeja gelap dan rompi berlapis berganti menjadi baju putih kebesaran tanpa celana yang sering kali menjadi pendamping sesinya menjemput mimpi.
Ciel hempaskan tubuhnya di atas kasur besar yang kemudian selimutnya ditarik Sebastian menutupi kaki dan paha polosnya hingga setengah dari tubuhnya. Tanpa menunggu ucapan apapun dari Sebastian, Ciel memejamkan matanya bermaksud menjemput mimpi dengan segera. Dia sudah benar-benar lelah menghadapi kebangsatan para orang dewasa.
Gemerlap manor megah Phantomhive telah sunyi dan redup dari temaram lilin penerangan, satu-satunya cahaya yang dapat menembus luasnya kamar utama sang kepala keluarga hanyalah terang rembulan yang kebetulan bulat sempurna.
Namun, detik berikutnya kedamaiannya terancam sirna tatkala jendela kamar dibuka dengan paksa —yang anehnya tidak menimbulkan dentuman sedikitpun, padahal telah diyakini bahwa sang pelayan telah menguncinya rapat-rapat. Dan pada pantulan sinar terang rembulan purnama, sosoknya yang berperawakan tinggi berjalan pelan kepada Earl Phantomhive yang larut terlelap dalam mimpi panjang.
Dia diam cukup lama, memandang lamat rupa elok Ciel yang terlelap tanpa terusik. Setelahnya jemari panjangnya yang terbungkus sarung tangan putih membelai lembut pipi gempil Ciel, mengagumi bagaimana rupa menawan itu diciptakan.
Dia kemari bukan sebagai pencuri, pun juga penculik yang berniat membawa kabur tuan rumah yang disegani. Ia hanya berniat mengambil sedikit waktu untuknya bisa menghempas rindu yang tak mungkin ia sanjungkan pada hari biasa, dan mengagumi bagaimana indahnya tuan muda yang tentu saja amat ia hormati.
Jemari itu beralih pada ranum kecil tuan muda Phantomhive, mengusapnya pelan lalu mengecupnya lamat dan melumatnya dalam serupa makhluk serakah yang mengais esensi kepuasan seolah-olah hari esok tiada pernah terjadi.
Ciel terbangun, merutuki siapa saja yang dengan berani membangunkannya dengan cara yang tidak dia sukai. Dan sesaat kemudian dia terpekik mendapati pria tak asing yang mencumbu dirinya dengan begitu serampangan.
Ciel melawan, mencoba mendorong dan meronta minta dilepaskan seraya diberi penjelasan atas kelancangan kepada dirinya yang notabenenya adalah sang tuan. Sedangkan ia yang menggagahi tanpa peduli keengganan dari sosok yang dianggapnya mangsa kali ini menyingkap selimut tebal dan membuka kemeja kebesaran yang Ciel kenakan. Mengekspos segera pundak putih pucat selembut susu Ciel yang begitu kontras terpadu dengan surainya yang segelap langit malam.
Sarung tangan dilepas cepat-cepat dan dilempar entah kemana, kemudian menyentuh kembali suguhan apa yang memang menjadi miliknya malam ini. Membelai pinggang dan mengusik dada Ciel yang menegang naik turun. Dibawah kekuasaan dirinya yang perkasa, Ciel tak kuasa. Lidahnya entah mengapa terasa kelu untuk layangkan protes dan melempar sumpah serapah pada satu lagi bajingan keparat yang anehnya kali ini dapat membuat Ciel mati terbuai. Maka dia biarkan saja bajingan ini berbuat apa yang disuka, lagi pula ini bukan kali pertama meskipun dengan cara yang sangat tidak biasa.
Pagutan dilepas begitu saja, membiarkan bibir kosong Ciel ternganga dengan liur yang turun mengotori ujung dagu hingga leher. Rupanya menawan dengan pipi berseri-seri kemerahan usai agenda bangun pagi tidak sopan yang pria itu sadari akan memancing kekesalan si tuan bangsawan. Namun tiada sesiapa peduli, pria yang merangkap sebagai penyusup kali ini akan mengurusnya nanti sebab ia tau tuan kecilnya menikmati tanpa disadari.
Bekas saliva yang menetes diusap dengan ibu jari, kemudian dijilatinya jari sendiri penuh nafsu disertai tawa pelan gemas bukti bahwa tuannya telah berada dalam kuasa atas birahinya sendiri —padahal ia baru mencumbunya kali ini. Maka, ia mulai melucuti seluruh pakaian yang Ciel kenakan. Pelan-pelan membuka pertahanannya lewati paha yang sudah kepalang basah sedari tadi.
Satu jari, dua, hingga tiga jari dimasukkan berkala memporak-porandakan pertahanan diri. Tubuh Ciel menggeliat dengan akal sehat yang seakan-akan mulai terkikis tipis hampir tak tersisa. Mulutnya terbuka melolongkan nyanyian kotor yang mengisi kosong udara yang dingin nan sunyi. Ia yang menggagahi tentu saja berbangga diri, merasa dirinya berada diatas awan kali ini. Sebab kali ini berbeda dari biasanya, kali ini dia yang berkuasa penuh atas tuan muda Phantomhive yang arogansinya menjunjung tinggi. Tuannya sendiri.
“S-seba … Sebastian! Mhh, b-berhenti.”
Oh, betapa indahnya suara itu mengalun tepat di samping telinga pria yang dipanggil Sebastian itu. Begitu sekiranya satu dari sekian banyaknya kepuasan dari kerakusan Sebastian atas tuan kecil yang lucunya begitu ia kasihi. Pasrah dan berserah diri, Ciel persembahkan tubuhnya untuk dikuasai nafsu birahi, dibawah kuasa Sebastian malam ini. Pikirnya, hanya untuk kali ini.
Pujian-pujian singkat dibisikkan pada kedua telinga Ciel bergantian untuknya mempercayai bahwa dialah satu-satunya yang menjadi fokus dan objek paling memikat di mata Sebastian. Fokusnya tertuju hanya pada satu titik, terpaku pada cantik rupa dan elok tubuhnya yang menyandang gelar sang anjing penjaga.
Tegak dan keras Sebastian mendesak untuk dikeluarkan, menyapa belahan pantat dan selangkangan Ciel yang siap sepenuhnya dengan lubrikan alami hasilnya bercinta dengan jari jemari pelayan kepercayaannya.
Sebastian melesakkan dirinya ke dalam tubuh Ciel pelan-pelan, lambat laun tempo gerakannya terasa semakin meningkat. Kedua kaki Ciel dibuka lebar dan dibawa naik bersandar pada pundak Sebastian, menyebabkan miliknya melesak dengan keras hingga titik terdalam tubuh Ciel.
“Aghh–kubilang b-berhenti!” pinta Ciel kemudian, namun Sebastian enggan untuk mengindahkan. Bukan sebab tidak suka, melainkan Sebastian akan tunduk pada egonya yang dikuasai keserakahan dan nafsu untuk membuat Ciel bertekuk dan merengek dibawahnya. Tubuh indah tuan mudanya, sayang bila tidak dinikmati.
“Ahh … Tuan Muda, betapa cantiknya.” Pujian manis sekali lagi Sebastian sanjungkan atas nama tuan muda Phantomhive. Deru nafas mereka memburu dan berlomba untuk menjadi siapa cepat mencapai pelepasan yang pertama. Dan tentu saja Ciel hadir sebagai pemenangnya.
Punggungnya melengkung naik dan kedua tangannya menggenggam erat benda apapun yang berada di sekitarnya, bantal, boneka, apapun itu. Namun, meski putih telah tercapai Sebastian tiada keinginan untuk berhenti. Ia terus menghujami titik sensi hingga tuannya harus sekali lagi bertitah untuk berhenti, namun tentu saja Sebastian tiada niat menyanggupi. Terus saja ia bawa nafsunya sendiri untuk terus memanjakan dirinya di lubang senggama tuan mudanya hingga sekali lagi Ciel mencapai putihnya untuk yang kedua kali.
Salivanya menetes hingga dagu, diterima oleh lidah Sebastian yang masih terbelenggu oleh libido diri sendiri. Sedari tadi meniduri, Sebastian masihlah sanggup bermain sampai pagi. Seraya mengagumi bagaimana merdu suara tuannya mendesahkan namanya tepat di samping telinga.
“Kau tidak mendengar mhh–perintahku. Aku bilang berhenti! Ahh, mau pipis–!”
“Hm? Betapa tidak biasa. Kalau begitu coba pipis disini, aku yakin anda akan terlihat semakin menggoda, Tuan Muda.”
Ciel melirik tajam kepada Sebastian mendapati ide kotor itu terlontar dari mulut brengseknya tersebut. Ciel enggan menuruti, dipaksanya sekuat tenaga menahan air seni yang seolah memaksa untuk dikeluarkan. Semakin diperparah dengan Sebastian yang semakin menghujami selangkangan Ciel sembari jarinya memberi rangsangan pada kemaluan dan area sekitar paha yang bergetar.
Berulang kali Ciel menggelengkan kepala tidak sanggup menahan nikmat bertubi-tubi yang pelan-pelan benar-benar akan mengikis habis akal sehatnya. Pikirnya benar-benar kacau, kepalanya bersandar pasrah pada bantal tinggi yang ia jadikan tumpuan dan pegangan.
Keluhan tak lagi terucap dari lidahnya yang sudah terlalu kaku dari lenguhan menyebut nama Sebastian yang dengan bejat menggagahinya tanpa permisi. Ia tentu berada diatas awan, menikmati suguhan pemandangan menggairahkan tatkala Ciel benar-benar pipis dan mengotori baju serta kasur besar miliknya.
Ah, dia benar-benar mengotori dirinya sendiri. Betapa tuan muda yang menggemaskan.
Kemudian, ranum yang masih sibuk mengais nafas banyak-banyak itu dikecupnya sembari berbisik, “aku akan bermain denganmu lagi lain waktu.”
Ciel terperanjat dari tidurnya, netranya membola menatap bagian atas ranjang seolah ia baru saja mengalami hal paling memalukan sepanjang hidupnya. Bagian bawah bajunya basah sebagian, selimut dan kasurnya pun basah, ia merasa begitu kotor dan berpeluh. Lantas, di detik berikutnya ia menyadari bahwa mimpi kotornya itu tidak hanya berakhir sebagai mimpi.
Ini ulah Sebastian, dia yakin akan hal itu. Benar-benar brengsek! Ciel berdecak.
