Work Text:
Nama Kwon Ohyul sudah sering masuk ke indra pendengaran Kim Ryul.
Saat dirinya pertama kali menjadi anak Sekolah Menengah Pertama, nama Kwon Ohyul sudah mulai jadi perbincangan teman sebayanya. Saat dirinya pertama kali menjadi salah satu anak ekskul pramuka, Kwon Ohyul hampir setiap saat menjadi topik utama dalam percakapan.
“Kim Ryul! Nanti ice lemonade-nya kasih ke meja nomor 8 ya! Atas nama Kwon Ohyul.”
Bahkan saat pertama kali bekerja sebagai pelayan restoran cepat saji pun, namanya seperti lantunan lagu yang diputar berulang kali.
Kwon Ohyul, Kwon Ohyul, Kwon Ohyul.
“Ada ga sih satu hari tanpa nama sialan itu?!”
“Kenapa selalu susah sebut nama gue sih Ryul?”
Kwon Ohyul, Kwon Ohyul, Kwon Ohyul.
Ryul menggeleng kuat. Gigitan pada kemeja garis-garisnya sudah mulai mengendur, tangannya yang dari awal kuat meremat rambut Ohyul juga sudah terkulai lemas. Sayup-sayup Ryul melihat Ohyul menatapnya dengan tatapan memuja, bibirnya yang semerah buah delima juga terangkat tipis—saking tipisnya Ryul tak akan menangkapnya jika tidak tatap lamat-lamat.
“Oh, shit Kim Ryul!”
Ryul hampir terjatuh dari posisinya sekarang yang sungguh indah. Kaki tersampir di kedua lengan Ohyul, punggung menempel di tembok dengan tegang, dan Ohyul yang dengan tempo teratur memberi nikmat di sekujur tubuh Ryul yang memerah.
“AHHH!” Ryul berteriak dengan suara serak yang sudah ia tahan satu jam yang lalu.
Tubuh Ryul di banting ke atas kasur dengan kasar. Penyatuan mereka; yang sudah menghabiskan hampir sekotak alat kontrasepsi—kesukaan Ohyul dan Ryul—yang di beli dua hari lalu, terlepas tanpa aba-aba. Membuat Ryul merasakan sakit di punggungnya serta kekosongan di mawar merahnya.
“Say my name!”
Ohyul menekan leher Ryul dengan kedua tangannya. Senyum si laki-laki Aquarius itu terlihat jelas di mata Ryul yang sedang susah payah meraup oksigen.
Ohyul makin menekan lebih kuat ketika melihat wajah Ryul mulai memerah, sudah mulai menikmati, dan dari awal Ryul tidak ada tindakan untuk melepaskan cekikan di lehernya.
“O-Ohyul,” kata Ryul.
Kemenangan terpahat jelas di wajah sang pemilik nama. Cekikan yang ia beri juga terlepas begitu saja. Ohyul mengecup jejak jarinya yang terlihat jelas di leher lawan mainnya, suara basah dari kecupan-kecupan itu membuat Ryul mengeluarkan suara cantiknya. Rasa geli di perutnya lama-lama menguasai. Mawar merah yang gemar Ohyul hirup dan di makan dengan lahap pun mulai basah kembali.
“Udah mau diisi lagi itu?”
Mendengar pertanyaan yang lebih tua, Ryul menganggukkan kepala pelan. Wajahnya yang masih memerah, dengan noda kering sisa pelepasan Ohyul yang entah kapan makin membuat dirinya terlihat sempurna.
Nama Kim Ryul jarang sekali masuk ke indra pendengaran Kwon Ohyul.
Sampai ia harus paksa kawan sebayanya untuk membicarakan Kim Ryul si anak pramuka. Sampai ia harus sebut nama Kim Ryul dengan mulutnya di kamar mandi sekolah saat jam istirahat.
“Fuck, fuck, Kim Ryul! Kapan lu… bisa liat gue?”
Jari-jari tangan kirinya terus bergerak, memijit, dan bahkan mengusap tonjolan yang selalu sesak di celana sekolahnya, saat Kim Ryul ada di pikirannya, saat ujung rambut Kim Ryul yang terlihat di jendela kelasnya, saat Kim Ryul yang tak acuh ketika berada di dekatnya. Tangan kanan Ohyul terus bergerak di layar ponselnya ketika foto Ryul yang ia ambil diam-diam sudah tidak membuatnya bergairah.
“Ohyul, fuck— Ohyul, udah, jangan di dalam!”
“Jangan banyak mau sialan!”
Ohyul terus menggerakan pinggulnya maju dan mundur, menumbuk titik manis terus menerus sampai Ryul mengangkat bokongnya naik, punggungnya melengkung sempurna, dan wajahnya terbenam di bantal.
Wajah cantik Ryul sudah tidak bisa di deskripsikan dengan baik. Air liur di mana-mana; dan entah miliknya atau milik Ohyul, air mata yang sudah mulai mengering, keringat bercucuran, bibir bengkak dengan noda putih yang mengering.
Tangan Ryul makin meremas kuat seprai tilam yang sudah basah dan berantakan saat tangan Ohyul menampar kedua bokongnya secara bergantian.
“Udah! Nanti ada bekasnya.”
Ohyul mendengar rancauan itu terkekeh, gerakan pinggulnua berhenti dengan dirinya yang tertanam dalam di tubuh Ryul.
“Emang siapa lagi yang bakal liat pantat lu selain gua?”
Ryul menggeleng. Entah sebagai jawaban tidak ada atau tidak tahu.
Ohyul tak puas dengan jawaban yang ia dapat. Dengan sekali hentak, pelepasan keenamnya, tanpa alat kontrasepsi kesukaannya itu, menyembur deras di dalam tubuh Ryul. Tentu dengan spontan Ryul mendesah merasakan hangat dan nikmat yang tiada duanya itu, menangis juga dirinya karena rasakan perih dan lengket ketika Ohyul melepaskan dirinya.
Tangan Ryul yang panjang ia gunakan untuk meraba si merah delima yang tengah mengeluarkan sisa-sisa si putih yang tak mampu ia tampung. Di tepuk-tepuk basah sampai menetes ke seprai tilam miliknya, jari tengah dan jari telunjuknya juga ia masukan sedikit, guna untuk mengeluarkan sebagian lagi.
“Susah?”
Ohyul dari tadi hanya menatap aksi yang lebih muda bermain dengan makanan favoritnya itu, sambil masih telungkup, bokong yang masih terangkat dan wajah yang sekarang menatap dirinya.
“Bantu aku bersihin dikit, Ohyul,” kata Ryul.
“Abis itu boleh ya ludahin muka lu lagi.”
Belum juga dibantu, Ryul sudah beri balasan untuk Ohyul. Saat Ohyul sudah meniup si merah delima, Ryul malah merubah posisinya jadi telentang, melebarkan kakinya sedikit, meraba dirinya sendiri dengan jarinya, lalu sedikit merapikan rambutnya agar tidak menempel ke wajahnya.
“Aku aja yang beresin, k-kamu mau ludahin mukaku sekarang juga boleh.”
Apa ini balasan atas seruan nama Kim Ryul yang ia ucapkan dengan nikmat saat dulu?
“Sekalian main lagi ya?”
Kim Ryul tak akan pernah bisa menemukan hari di mana ia tak mendengar nama Kwon Ohyul, karena sejatinya, sekarang ialah salah satu di antara mereka yang selalu ucapkan nama itu.
Kwon Ohyul tak butuh lagi orang-orang sebut nama Kim Ryul agar bisa ia dengar, agar bisa ia ingat selalu, karena sosok yang sedari dulu ingin ia simpan untuk dirinya sudah dengan bebas ia sebut namanya setiap saat.
