Actions

Work Header

Aku Mau Kamu 🔞

Summary:

Remaja memang pada dasarnya penasaran untuk banyak hal, mengira diri mereka sudah dewasa dalam beberapa hal.

Namun Nakula dan Sadewa sepertinya sudah terbiasa dengan semesta yang hanya berisi keduanya.

Jadi saat mereka mencumbu dalam kenikmatan, mengabaikan segala hal yang terjadi di luar sana.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

TW // 🔞, Dead Dove : Do Not Eat, Twincest, Incest, Explict Sexual Scenes, Explict Naration, Intersex Nakula, psychological, minor, first time, intercourse.

CW // Kinky, Porn With Plot, nipple play, cunninglust, fellatio, orogenitial, foreplay, penetration, masturbation, humping.

 

#Beerlens 🥃🔎 focus

 

💛🩵💛🩵💛🩵💛🩵💛🩵

 

Bagi Nakula, Sadewa adalah semestanya.

 

Sejak ia memiliki ingatan itu, Sadewa selalu ada di sisinya. Baik dalam kehangatan kehidupan maupun rasa sakit dari bertahan, entah memang takdir yang menggariskan keduanya atau apa. Dunia mereka hanya berisi satu sama lain.

Keduanya jelas adalah kembaran, namun kedua orangtua mereka memperlakukan mereka dengan begitu asing. Nakula yang memiliki kelainan pada kelaminnya dipandang bagai aib oleh sepasang mata ibunya sendiri, dan Sadewa membenci siapapun yang memperlakukan Nakula dengan jahat.

Nakula menjadi tertutup, pemalu dan pendiam.

Sadewa juga menjadi malas menanggapi apa yang terjadi di sekitarnya dan berhenti peduli.

Jadi di semesta ini, Nakula hanya peduli pada Sadewa dan begitu juga sebaliknya.

 

Pada usia remaja keduanya juga enggan memiliki kamar masing-masing karena nyaman dengan kehadiran satu sama lain. Nakula dan Sadewa yang mulai memasuki masa pubertas mulai tertarik pada hal-hal berbau seksualitas.

Saat mandi Nakula menatap ke arah cermin yang ada di kamar mandi, melihat pantulan dirinya. Kepalanya miring ke kanan dan ke kiri dengan tangannya yang berada di dada. Ia menyadari payudaranya berbeda dengan milik Sadewa, cara payudara itu tumbuh dari hari ke hari membuatnya malu untuk bertelanjang dada seperti anak-anak laki-laki pada umumnya.

Puting Nakula berwarna coklat kemerahan, Nakula meremas putingnya dan melihat warna semakin merona.

“Hmmm kalau kayak gini gak bisa lagi ganti bajunya telanjang dada di sekolah,” gumam Nakula pelan.

Puting yang mengeras itu entah kenapa membuat Nakula merasa gatal. Jadi ia mulai mengelus dadanya dengan lembut sesuai instingnya, saat melihat ke atas dan pantulan wajahnya yang merona Nakula lalu menjepit putingnya dan menariknya.

“Hngg….”

Tanpa sadar Nakula mendesah karena rasa geli dan nikmat, ia mulai ketagihan dan melihat bayangannya di kaca. Memainkan payudaranya saja sudah membuat Nakula basah di bagian bawah.

“Ternyata … gini ya.”

Nakula lalu mengambil jet shower untuk mencuci cairan lengket yang keluar dari vaginanya. Namun perasaan Nakula saat menggosok vaginanya membuatnya ketagihan, tidak hanya vagina menjadi lembut dan empuk, setiap kali jus vaginanya keluar Nakula dengan lembut membuat gerakan memutar dan semakin hanyut dalam kenikmatan itu. Vagina yang cabul dan penis kecilnya yang tegak berdiri itu merangsangnya begitu gila.

Jet shower yang menembakkan air dengan kecepatan sedang cenderung kuat itu menembak lubang vagina Nakula yang gatal. Tangan Nakula sibuk menggosok vagina itu seolah ingin mengaburkan jus vagina yang keluar dari lubangnya. Tapi hal itu malah semakin membuat Nakula terangsang untuk memainkan vaginanya lebih lama.

 

Tok tok tok—

 

“Nakula, lama gak? Saya kebelet nih.”

Suara bariton Sadewa terdengar dari luar dan Nakula langsung ejakulasi hebat. Menyemprotkan jus vaginanya ke lantai dan dinding kamar mandi, kakinya juga lemas dan gemetar. Ia terkejut dengan hal itu, padahal pada awalnya perasaan memainkan vaginanya membuatnya nyaman, namun saat ia ejakulasi vaginanya terus berkedut.

“Nakula!”

“Bentar-bentar ini mau cebok!”

Nakula mencoba mengumpulkan tenaganya dan menyiram bukti-bukti yang ada di sekitarnya. Setelah selesai, ia memakai pakaiannya dan keluar, menemukan Sadewa yang berdiri dengan bertelanjang dada.

“Lama banget sih.”

“Yakan boker.”

Sadewa langsung masuk dan menutup pintu kamar mandi, Nakula menghela nafas dan pergi ke ranjang. Mengambil ponselnya dan membuka akun twitter yang biasa ia gunakan untuk hal-hal rahasia. Nakula menggigit bibirnya dan mencari tahu tentang cara masturbasi, baik saat menggunakan vagina atau penis.

Nakula selama ini merasa hal-hal intim itu hanya hal sepele belaka, namun sekarang ia merasa benar-benar ingin menampar dirinya yang begitu sombong itu. Ia melihat beberapa video orang-orang yang memamerkan payudaranya atau bahkan organ intimnya ke kamera tanpa malu, meski ekspresi wajah beberapa orang seperti dibuat-buat, namun ia tidak mengeluh. Lagipula rasanya memang enak.

Sebelum Nakula bisa mencari lebih jauh, pintu kamar mandi kembali terbuka, Sadewa keluar dan pergi ke meja belajar.

“Ngerjain apa Dew?”

“Hmm? Ini ada tugas sebelum pelantikan pengurus OSIS baru.”

“Berat banget ya jadi ketua hihihi….”

“Ya mau gimana lagi.”

Nakula diam dan melihat punggung Sadewa yang lebar dan kekar. Ia tahu saudara kembarnya itu memiliki hobi olahraga bahkan olahraga ekstrem belum lagi setiap 2 kali seminggu ia akan pamit dan pergi ke gunung untuk mendaki. Sadewa punya banyak teman dan mudah disukai, meski kadang galak, namun ia adalah tipikal orang yang jujur dalam bertindak dan berkata. Karena itu semua orang yang berada di sisinya menyukainya, Nakula tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana ia yang berada di dalam bayangan Sadewa memiliki sisi yang begitu bertentangan.

Teman-teman Nakula kebanyakan akan merasa ia lucu, sedikit manja, namun tetap memiliki jarak yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Nakula yang lebih senang chat, Nakula yang lebih senang menghabiskan waktunya di rumah.

Keduanya begitu bertentangan.

 

“Eh bentar lagi kan kita mau ulang tahun nih yang ke 18, kamu udah punya rencana belum mau kemana?”

“Di rumah aja gak si?” Jawab Nakula.

“Gak asyik banget sih kamu.”

“Ya kan kita gak ada duit lebih juga mau traktir temen yang lain, di rumah aja lah.”

“Emangnya Mom sama Dad gak ngasih kamu uang gitu?”

“Ada tapi gak banyak.”

Sadewa yang melihat Nakula tidak bersemangat akhirnya tidak memperpanjang pembahasan mereka berdua. Ia akan memberitahu temannya bahwa ia ada rencana lain, dirinya memang memiliki sedikit uang hasil menjadi tutor, ia akan membelikan Nakula hadiah dan kue untuk mereka gunakan.

Ayah dan Ibu mereka masih berada di Australia beberapa bulan ke depan dan ulang tahun yang hanya tinggal sepuluh hari ini tidak akan memungkinkan mereka kembali. Jadi Sadewa memutuskan membuat kejutan ulang tahun untuk Nakula.

Nakula yang mengingat mereka akan berulang tahun ke delapan belas merasa tidak sabar. Sebentar lagi mereka akan memasuki usia dewasa, Nakula sangat ingin kuliah di luar kota, tinggal sendirian dan tidak perlu diawasi oleh orangtuanya. Sementara untuk Sadewa, Nakula tidak tahu. Ia tidak ingin berpisah dengan kembarannya itu namun ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri.

 

💛🩵💛🩵💛🩵💛🥃🔎💛🩵💛🩵💛🩵💛

 

“Nakul!” Panggilan seseorang membuat Nakula berhenti dan berbalik.

Saat melihat Arjuna dan Yudis menghampirinya, Nakula langsung memasang senyum. Keduanya adalah teman-teman paling dekat Nakula sejak SD.

“Eh lu sama Sadew kan udah mau ultah nih, kalian mau ngerayain di mana?”

“Belum tahu juga sih, si Sadewa yang mau ngatur soalnya.”

“Oalah pantesan.”

“Nih kadonya, karena besok udah masuk libur kita bagi kado ultahnya sekarang.” Yudis menyodorkan sebuah kantong paper bag ke arah Nakula yang diterima dengan senyuman lebar.

“Wih Baek bener nih sohib gue.”

“Yakan emang kita baik.”

“Hehehe thanks ya Yudis, Juna. Nanti gue ajak makan bareng deh.”

“Santai aja. Kita mah gak perlu yang begituan.”

“Ya udah ini gue balik dulu, thank hadiahnya.”

“Yoi hati-hati.”

Nakula lalu pergi ke lapangan parkir dan mencari motor Sadewa yang terparkir, melihat sosok berkulit Tan dengan jaket kulit miliknya itu—Nakula bergegas.

“Dew!”

“Apa tuh?”

“Kado, dari Juna sama Yudis.”

“Oooh, ya udah. Mau balik langsung apa makan dulu?”

“Balik aja deh, masih ada sisa makanan semalam. Kita panasin aja.”

“Oke deh.”

Sadewa memberikan helm putih biru ke arah Nakula dan keduanya mengendarai motor bersama. Matahari yang bersembunyi di balik awan kini mulai membiarkan awan menitikkan air, melihat hal itu Sadewa dan Nakula berteduh sejenak di salah satu toko yang tutup.

“Bawa jas ujan gak?”

“Ada. Wait….”

Nakula menunggu dengan patuh, bajunya hampir basah semuanya, yang tidak Nakula sadari tatapan milik saudaranya menangkap bagian dadanya yang memiliki dua titik timbul yang cukup mencolok. Sadewa menelan ludah dan mengeluarkan jas hujan sesegera mungkin.

Usai menggunakan jas hujan, keduanya lalu bergegas kembali. Menerobos hujan yang semakin kencang. Suasana menjadi muram, namun baik Sadewa maupun Nakula tidak menyalakan lampu, keduanya naik ke lantai atas dan hendak mandi.

“Eh aku pakai kamar mandi sini ya, kamu ke kamar mandi bawah aja.”

Sadewa tidak menolak dan meraih handuknya di kamar mandi beserta sikat gigi. Nakula yang melihat Sadewa pergi bergegas masuk ke kamar mandi untuk mandi air hangat. Ia takut terserang demam.

Nakula mandi hanya dalam kurun waktu sepuluh menit dan ia merasa nyaman, melihat Sadewa belum kembali berarti kembarannya itu belum selesai mandi. Nakula mengambil ponselnya dan melihat kabar sosial media, karena haus Nakula meletakkan ponselnya dan turun ke bawah untuk minum di dapur.

Di lantai bawah, Sadewa yang telah bertelanjang, menyalakan shower. Penis yang setengah tegang itu seperti ingin mengamuk, ia mulai menggenggam penisnya itu dan membuat gerakan naik-turun. Ingatannya kembali pada tubuh Nakula, puting yang berwarna coklat kemerahan yang tegang itu; ia hampir gila ingin menghisapnya dan memainkannya.

Terkadang saat Nakula tidur, ia akan bangun menatap tubuh kembarannya yang seperti kuncup bunga yang belum mekar. Kulit putih kemerahan yang terbungkus oleh pakaian tidak akan menghentikan Sadewa dari perasaan cabul yang dirasakannya sejak empat tahun lalu. Ia yang masih begitu belia telah memiliki keinginan tidak senonoh kepada kembarannya sendiri.

Bahkan saat Nakula tidur menggunakan celana pendek, Sadewa akan menatap lama ke gundukan celana Nakula yang berbeda darinya. Lekuk vagina yang terlihat lezat itu berulang kali ingin Sadewa singkap dan ingin disentuhnya.

Kabut di sekitar kamar mandi mengaburkan pemandangan, Sadewa masih berkhayal bahwa Nakula ada di depannya, menatap dengan wajah malu-malu dan memegang penis miliknya.

“Fuck … Haaah Nakula… tangan kamu enak sekali.”

Kepala penis Sadewa dimainkannya, mengusapnya secara melingkar membuat penisnya mulai mengeluarkan cairan pre-cum yang kental dan bening. Sadewa berharap ia bisa memasukkan penisnya itu ke dalam mulut atau vagina cabul Nakula.

“Haaah haaah Nakula … Nakula!”

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, “apa? Kelupaan handuk kah?”

Dan tepat saat Nakula masuk, Sadewa menembakkan muatannya dengan kekuatan penuh. Adegan itu membuat Nakula terdiam dan terkejut, nafas Sadewa yang memburu, tangan yang memegang penis Sadewa yang belum selesai menembak dan tatapan penuh nafsu ke arahnya. Nakula kebingungan.

“M-Mas….”

“Sorry… saya gak manggil.”

Sadewa mencoba bersikap santai, namun pada kenyataannya ia sedang panik dalam hatinya. Namun Nakula bukan anak kecil, ia hanya sedang mencerna.

“Mas coli ya?”

“Fuck diem!”

“Mas manggil nama aku! Mas bayangin aku ya?”

Pertanyaan berani Nakula membuat Sadewa seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. Ia tahu karena hal ini, pasti Nakula tidak akan berhenti mengungkitnya.

“Mas jawab.”

“Hmm….”

Jawaban cuek dari Sadewa membuat Nakula merasa senang. Bukannya takut, ia malah masuk ke dalam kamar mandi, mendekati tubuh telanjang Sadewa. Tangannya menyentuh pipi Sadewa agar melihat ke arahnya.

“Mas … mas kalau inget aku, Mas sange?”

“Hmmm….”

“Mas udah pernah liat tubuh aku?”

“Kita kan sering mandi bareng sampai SMP.”

“Jadi mas masih inget?”

Provokasi Nakula membuat Sadewa kesal, namun saat melihat wajah Nakula ia menelan amarahnya.

“Aku banyak yang berubah loh, karena kita lusa ulang tahun… Mas mau lihat gak perbedaannya?”

“Kamu….”

Sebelum kata-kata Sadewa selesai, Nakula membuka kaosnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya. Puting yang mengeras itu kini terpampang nyata di depan mata Sadewa.

“Ini… ini aku berubah kan?” ucap Nakula sambil meremas payudara miliknya untuk diperlihatkan.

“Yah,” suara Sadewa menjadi serak saat melihat payudara Nakula.

“Aku sering pijitin kalau lagi nyeri, katanya itu tanda ukurannya tumbuh.”

Nakula meraih tangan Sadewa dan menuntunnya ke payudaranya.

“Mas remas aja,” izin dari Nakula membuat Sadewa terkejut.

Tapi karena sudah diberi izin, Sadewa tidak ingin melewatkannya. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya ke arah payudara Nakula, memijat bagian bawah dan samping.

“Hnggg haaah….”

“Sakit?” Tanya Sadewa khawatir.

“Nggak kok. Enak banget malah.”

Sadewa mengingat beberapa video porno yang ditontonnya, jadi ia bergerak lebih antusias. Ibu jarinya menekan puting Nakula dan menggeseknya dengan gerakan memutar, ia juga mendekat dan menjilat leher Nakula yang putih.

“Aaaahng….”

Desahan Nakula membuat Sadewa horny, penisnya kembali tegang dan membuatnya bahagia. Nakula melingkarkan tangannya ke bahu Sadewa dan memejamkan matanya, menikmati sentuhan dari kembarannya itu.

Tangan Sadewa memijat payudara Nakula dengan gerakan lembut dan memuaskan, setiap kali ia menggenggam payudara Nakula, kembarannya itu akan mendesah di telinganya. Penis Sadewa beberapa kali berkedut menyentuh paha Nakula, Nakula yang merasakannya, memandang Sadewa.

“Kontol kamu nyentuh aku terus.”

“Sorry.”

Mata Nakula terpaku pada penis kembarannya itu, penis yang sudah lama tidak dilihatnya. Penis yang beberapa kali diintipnya diam-diam hingga membuat vaginanya basah. Tangan Nakula lepas dari leher Sadewa dan menyentuh kepala penis Sadewa dengan telunjuknya. Saat telunjuknya menunjuk penis itu bergerak-gerak acak.

“Ehehehe kontolnya lucu.”

“What … kok kamu malah bilang kontol saya lucu?”

“Yakan memang lucu, nih liat kalau aku sentuh dianya gerak-gerak sendiri.”

“Nakula… kamu jangan nakal.”

“Mas … aku kedinginan. Ganti tempat yuk.”

Mendengar hal itu, Sadewa sadar kalau Nakula kedinginan karena ia yang sedang mandi air dingin. Sadewa segera memadamkan air di shower dan mengambil handuk, mengeringkan tubuh Nakula dan dirinya. Keduanya lalu kembali ke kamar, namun karena berganti tempat, ada kecanggungan yang terjadi.

Nakula yang menyadari hal itu, ingat sesuatu. Jadi ia pergi ke dalam kamar mandi setelah mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Sadewa mengeringkan badannya dan memakai celana pendek. Melihat penisnya yang masih setengah keras, ia bingung harus bagaimana. Tapi tidak lama kemudian Nakula keluar dari kamar mandi dan mata Sadewa hampir keluar.

“Mas… gimana? Cocok?”

Sosok pemuda itu berdiri di tengah kamar menggunakan kaos anime berwarna putih dengan lengan biru bergambar karakter pokemon yang dulu diberikan oleh Sadewa, lalu Nakula berdiri hanya dengan celana dalam lucu berenda putih-biru dengan pita.

Dalam sekejap penis Sadewa tegang. Melihat reaksi jujur Sadewa, Nakula tersenyum. Ia mendekat dan duduk di atas ranjang bersama Sadewa, keduanya saling memandang dengan wajah merona.

Tangan Sadewa terulur dan memegang pinggang Nakula.

“Kamu masih nyimpen hadiah ini ya.”

“Iya, bajunya sekarang ngepas banget ke badan aku. Aku … aku malu.”

Mendengar hal itu Sadewa paham kenapa Nakula enggan memakai baju hadiah darinya lagi, pakaian itu pas di badannya yang telah tumbuh lebih tinggi dan bagian dadanya memperlihatkan dengan jelas payudaranya dan puting keras yang membayang.

“Saya sange banget Nakula.”

Ucapan Sadewa yang jujur membuat Nakula semakin malu, ia maju dan merasakan nafasnya dan Sadewa saling bertabrakan.

“Can I kiss you?” Tanya Sadewa pelan.

“Hmmm….”

Nakula merasakan Sadewa mendekat dan bibirnya disambut oleh bibir panas Sadewa. Mereka saling memberi kecupan-kecupan kecil lalu bergerak ke arah yang lebih intim, memungut bibir satu sama lain dan perlahan lidah Sadewa telah masuk dan mengobrak-abrik isi mulut Nakula. Saliva yang lolos dari mulut keduanya menetes ke dagu dan hal itu masih tidak menghentikan mereka.

Perlahan Nakula dapat merasakan bahwa pakaian dalamnya mulai basah, ia sedikit takut dan malu. Ciuman pertamanya begitu intens hingga ia merasa hampir pingsan, namun sebelum ia kehabisan nafas—Sadewa menarik wajahnya dan memandang Nakula dengan nafas memburu.

Keduanya memiliki nafsu yang membumbung dalam diri mereka, Sadewa membiarkan Nakula berbaring di ranjang. Dada Nakula naik turun dengan cepat, bibirnya yang merona membuat Sadewa merasa Nakula sangat cabul.

Ia melihat ke bawah dan menyadari bahwa celana dalam Nakula lembab hingga terlihat.

“Dek … memek kamu basah ya.”

Nakula sangat malu dan berniat menutup pahanya, Sadewa yang melihatnya malu-malu langsung tertawa pelan.

“Ngapain di tutup? Mas pengen lihat.”

“Gak mau!”

“Adek, biar Mas liat ya.”

Bujukan Sadewa membuat Nakula malu setengah mati. Saudara kembarnya itu seperti Ares si dewa Yunani, begitu menggoda dan penuh aura maskulin. Nakula seperti jalang yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya saat ini. Semakin vulgar kata-kata Sadewa, semakin ia merasa senang dan terangsang.

“Dek… Mas boleh pegang?” tanya Sadewa dengan ekspresi serius namun cabul.

“Pegang?”

“Shit Nakula … saya mau tidurin kamu.”

Nakula menggigit bibirnya dan akhirnya membuka pahanya, memperlihatkan celana dalamnya yang basah dan area pribadinya secara gamblang di depan Sadewa. Mata Sadewa seperti berputar melihat persetujuan dari Nakula, tangan kanannya bergerak dan menuju ke arah labia tembam Nakula.

“Memek tembem kamu enak ya diginiin?” tanya Sadewa sambil menggosok labia Nakula dari luar membuat celana dalam Nakula semakin lembab.

“Mas … hngggg.”

“Enak? Kamu sering mainin memek kamu dek?”

“Enggaah….”

“Masa?”

Nakula kesal dan menendang perut Sadewa pelan, namun bukannya marah Sadewa malah tertawa. Ia mulai menaik turunkan gerakannya di labia Nakula, membuat Nakula mulai menggeliat karena terangsang.

Celana dalam Nakula semakin basah dan Sadewa merasakan bahwa lubang vagina Nakula terbuka. Jari telunjuknya mengarah ke arah lubang basah itu dan makin yakin bahwa Nakula memiliki vagina jalang yang menginginkan sentuhan.

“Memek kamu basah gini, kamu beneran jarang main ya Dek. Tapi Mas suka, nanti Mas bakalan sering mainin memek kamu ya.”

Pembicaraan cabul itu membuat Nakula malu setengah mati, meski tidak merespon; jus vagina Nakula terus merembes keluar mendengar perkataan Sadewa. Sadewa menggeser pakaian dalam Nakula dan memperlihatkan vagina Nakula yang basah, labianya dibuka dan memperlihatkan lubang yang berkedut.

“Celana dalamnya juga lucu, kamu suka? Nanti Mas beliin yang lain.”

“I-ini gak sengaja kebeli.”

“Tapi kamu cocok pakenya dek. Lucu sekali.”

Sadewa menarik bagian tengah celana dalam Nakula dan membuat celana itu menyumbat lubang vagina basah Nakula. Klitoris Nakula berkedut dan membengkak membuat Sadewa sadar penis kecil Nakula menjadi sensitif.

Penis kecil Nakula keras dan tegang. Sadewa mengusap penis kecil itu yang terlihat seperti klitoris. Rambut pubis Nakula tumbuh lebat namun lembut, Sadewa mengusapnya dan membuat Nakula akhirnya tidak tahan dan ejakulasi dengan keras. Jus vagina Nakula terasa hangat menyembur keluar dan membasahi celana dalamnya dan tangan Sadewa.

“Fuck Nakula … sexy … Did you squirt now?”

Nakula tidak tahu dan malu, ia menutup pahanya dan ingin menangis. Tapi Sadewa mencium keningnya dan memujinya pelan.

“Kamu seksi sekali, Nakula saya pengen nidurin kamu.”

“Diem!”

“Lihat Dek, kontol Mas sampai tegang banget. Mas sange banget liat kamu kayak tadi.”

Mata Nakula mengintip ke bawah dan melihat Sadewa mengocok penisnya di pahanya, kini keduanya berada dalam posisi berbaring yang sangat intim. Sadewa ingin meniduri Nakula sesegera mungkin, namun ia masih harus menunggu kesediaan Nakula. Jadi untuk membujuknya Sadewa mencium bibir Nakula lagi, saat bercumbu keduanya begitu hanyut dalam kenikmatan.

“Dek, kocok kontol Mas ya?” Permintaan Sadewa yang mendominasi itu dituruti.

Tangan pucat Nakula bergerak dan menyentuh penis panas Sadewa yang menggila. Ia memainkan kepala penis itu dan keduanya juga berciuman penuh nafsu, Sadewa juga tidak berhenti dan memainkan vagina Nakula yang basah dan panas.

“Mas Dewaaa … hnggg aah ah ah hnggg.”

“Enak ya dek?”

“Hmmmm….”

Sadewa bangun dari posisinya dan menarik celana dalam basah Nakula ke samping, memperlihatkan vagina Nakula yang merona dan berkedut. Sadewa mengarahkan penisnya ke vagina Nakula dan mulai menggosok kedua kelamin mereka.

Setiap kali penis Sadewa menyentuh bagian klitoris Nakula, ia merasa panas dan terbakar saat kepala penis itu menyentuh lubang vagina Nakula. Posisi keduanya yang saling menggesekkan genetalia mereka, semakin panas suhu tubuh mereka.

“Mas … aku mau hnggg cum!”

“Cum aja… Mas juga mau.”

Keduanya semakin kuat menggesekkan penis dan vagina mereka dan pada akhirnya jus cinta mereka menyemprot ke masing-masing perut. Cairan kental Sadewa diarahkannya ke vagina Nakula dan digunakannya untuk melumasi seluruh bagian labia dan lubang vaginanya.

Lelah dengan pergumulan mereka, Sadewa memeluk Nakula dan berbaring. Matanya yang sayu memandang kembarannya dengan lembut, ia mencium pipi, kening dan bibirnya. Melihat perlakuan Sadewa yang sangat lembut, Nakula malu dan menyembunyikan wajahnya ke dada Sadewa.

“Kok malu? Saya mau lihat muka kamu.”

“Apaan sih….”

“Dek … kamu kalau main sendiri, sampai mana batasnya?”

Nakula bergumam pelan, “ya cuma main di luar memek aja kok.”

“Berarti main kocok memek aja ya?”

“Hmmm!”

“Pernah masukin jari ke dalam?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Perih, aku juga takut.”

“Hehehe takut gak perawan ya kamu.”

Nakula mencibir dan memukul bahu Sadewa yang tertawa, tanpa Nakula sadari sebenarnya kesenangan Sadewa sedang membumbung tinggi.

Mendengar pernyataan Nakula, Sadewa memiliki ide yang tergambar di benaknya. Karena mereka kelelahan keduanya akhirnya berbaring hingga tertidur sampai malam hari. Sadewa bangun dan memasak makanan untuknya dan Nakula, ia juga bermain dengan ponselnya. Pandangan Sadewa terfokus pada deretan barang di toko online. Ia ingin memberikan Nakula hadiah yang berkesan untuk ulang tahunnya.

“Dew?” Suara Nakula yang datang dari arah tangga membuat Sadewa mendongak ke arahnya.

“Udah bangun? Ayo saya sudah buat makan malam.”

“Masak apa? Yang simple aja, ini ada sup, nasi sama ayam goreng.”

“Hmmm oke.”

Nakula duduk dan mengambil piring, wajahnya yang masih terlihat mengantuk membuat Sadewa gemas. Ia lalu memeluk Nakula dan memangkunya, terkejut dengan tindakan Sadewa—Nakula mencubit pipi Sadewa.

“Saya suapin ya.”

Diperlakukan layaknya anak kecil, Nakula tetap menurut. Ia makan dengan tenang dan bersandar di tubuh Sadewa.

“Ulang tahun nanti kamu mau sesuatu?”

Pertanyaan Sadewa membuat Nakula yang awalnya biasa saja pada acara ulang tahun mulai berpikir. Jika menginginkan barang, ia ingin sekali jaket bordir naga yang dulu pernah dilihatnya di toko tapi untuk hadiah seperti itu rasanya biasa saja. Nakula yang baru saja merasakan kenikmatan bercumbu dengan orang yang disukai masih memiliki beberapa keinginan cabul dalam dirinya.

“Ka-kalau sesuatunya kayak … minta kamu kencan sama aku seharian… boleh?”

“Kencan?”

Nakula mengangguk.

“Kencan yang seperti apa sayang? Hmm?”

“Y-ya yang biasa aja.”

Sadewa menyeringai, meletakkan sendok yang digunakannya dan meraih dagu Nakula.

“Mau yang gimana Dek? Pegangan tangan? Makan di Restoran? Kita berdua udah ngelakuin semua itu kan? Kalau kamu menganggap semua itu sebagai kencan, itu berarti kita sudah berkencan cukup lama bukan?”

Nakula merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Sadewa. Namun sebelum sempat ia mencerna logika yang diberikan, jemari Sadewa sudah kembali menyelinap ke dalam celananya.

“Memek kamu bengkak begini, bengkak karena dimainin sama saya kan? Dek … kita sudah lebih dari acara kencan anak-anak itu. Ini… ini kencan orang dewasa yang saling mencintai.”

“Mas….”

“Saya pengen masukin kontol saya ke memek kamu, bikin kamu jerit karena ejakulasi. Saya pengen kamu terobsesi sama kontol saya ini. Sekarang saja saya pengen naruh kamu di atas meja makan dan mulai makan memek kamu yang tembam dan putih ini.”

“Ta-tapi kita baru aja tadi….”

“Tapi kita gak have sex … Nakula, saya mau gila karena keinginan saya buat tidurin kamu sejak dulu. Tiap malam kalau kamu tidur nyenyak saya rasanya mau robek baju kamu dan remas memek dan payudara kamu sampai puas. Jangan pernah berpikir kalau pesona kamu ini gak bikin saya seperti orang gila yang punya obsesi meniduri saudaranya sendiri.”

Pengakuan jujur Sadewa membuat Nakula tersipu, ia memejamkan mata dan melihat ke arah Sadewa.

“Then … make me yours.”

“Are you sure?”

Nakula mengangguk.

“You will be my first and last.”

Di luar hujan yang mengaburkan pemandangan, Nakula dan Sadewa yang saling bercumbu dengan begitu intens melupakan batasan apapun yang selama ini menghalangi mereka. Tubuh telanjang mereka dan pakaian yang berserakan di lantai seperti saksi bisu keduanya.

Vagina Nakula kembali di obrak abrik oleh Sadewa, namun kali ini ia menggunakan mulutnya. Memakan vagina kembarannya layaknya hewan buas, beberapa kali Nakula tidak sanggup menahan desahannya dan merengek. Bulu pubisnya meremang karena sensasi gila yang dibawa, vagina yang dibuka dan ditahan oleh tangan Sadewa kini basah dan memanas.

“Cantik … kamu cantik sekali.” Gumam Sadewa sambil terus memuaskan Nakula.

Pengetahuan seks Nakula sangat minim, ia tidak banyak belajar karena kondisi tubuhnya. Namun sekarang mendengar betapa Sadewa mengaguminya, ia menjadi lebih percaya diri. Menikmati saat kembarannya memuaskan vaginanya, Nakula tidak pernah menyangka di atas meja makan di rumahnya ia akan membiarkan saudaranya menjilati vagina miliknya.

“Dek… saya masukin ya? Udah cukup ini Mas persiapin. Tolong kamu pegang lutut kamu biar pas masukinnya enak.”

“Kayak gini?” Nakula mengangkat kakinya seperti gambaran film porno yang pernah dilihatnya.

“Pinter banget.”

Sadewa menurunkan celananya dan memperlihatkan penisnya yang perkasa lagi. Ia mulai menggesek-gesekkan penisnya ke mulut vagina Nakula melumasinya dengan jus vagina Nakula yang tidak berhenti. Kepala penis Sadewa perlahan mulai bergerak ke arah mulut vagina, mata keduanya terpaku pada penyatuan yang mereka inginkan.

Namun tiba-tiba Sadewa berhenti, “punggung kamu mungkin sakit kalau kita lakuin di sini.”

“Kya!”

Lalu Sadewa mengangkat tubuh Nakula dan membawanya naik ke kamar mereka. Vagina basah Nakula menempel di perut Sadewa, stimulasi yang ia rasakan membuat Nakula tanpa sadar ingin menggesek vaginanya ke otot perut saudara kembarnya itu. Sadewa menyadari gerakan Nakula dan penisnya bergerak-gerak seolah ingin masuk ke dalam lubang Nakula sesegera mungkin. Dengan langkah mantap keduanya kembali ke kamar, setelah membaringkan Nakula di atas ranjang dan menciumnya lembut, dengan bantal dan ranjang yang empuk Nakula memang menjadi lebih nyaman. Ia membuka pahanya tanpa malu, memperlihatkan vagina miliknya ke arah Sadewa.

“Becek banget ya.”

“So-soalnya tadi memeknya digesek-gesek … enak.”

“Seneng banget ya memeknya Mas mainin?”

Sadewa melumasi penisnya lagi dan dengan perlahan mendorong masuk kepala penis.

“Aduh!”

Rasa perih karena penetrasi pertama membuat Nakula memegang tangan Sadewa erat. Ia bisa merasakan, vagina yang selama ini terasa biasa saja kini memiliki suatu benda asing memasukinya. Perasaan penis Sadewa yang masuk sedikit demi sedikit membuat Nakula gemetar tidak karuan.

“Nakula enak banget ya?”

“Sa-sakit.”

“Padahal tadi Mas udah jilatin memek kamu, tapi ternyata emang memek kamu perawan ya. Belum pernah diajak main gini.”

“M-Mas!” Nakula gemetar dan mulai merengek.

Nakula kehilangan akal sehatnya, namun saat Sadewa masih tetap dengan agendanya meniduri Nakula. Dorongan penisnya ke dalam semakin jauh dan dia merasakan dinding penghalang ia memandang Nakula dan memeluknya.

“Dek, saya nemu selaput dara kamu….”

Mendengar hal itu Nakula mencium kelopak mata Sadewa dan tersenyum, “aku udah bilang kan make me yours….”

Keduanya semakin merasa terharu dan bahagia, Sadewa mendorong penisnya dengan kuat untuk mengurangi rasa sakit saat ia menerobos selaput dara Nakula. Dan saat penisnya bisa maju tanpa halangan keduanya berhenti sejenak dan bertukar ciuman dan pikiran yang dalam. Penyatuan mereka adalah bukti bahwa cinta mereka tidak akan terkalahkan.

“Hnggg Maaaas!”

“Kontol Mas udah masuk dek, adek sekarang udah bukan perawan lagi. Adek punya Mas mulai sekarang.”

Pinggul Sadewa bergerak dengan kecepatan stabil, menusuk vagina Nakula, suara cabul yang ditimbulkan membuat keduanya bersemangat. Menikmati sensasi luar biasa dari seks membuat keduanya mulai hilang kembali, tangan Nakula meremas rambut Sadewa dan memaksanya memanjakan puting payudaranya yang gatal.

“Ooouh enak Mas, hnggg jilat puting akuuuh.”

Tangan Sadewa tidak diam, ia meremas puting di bagian kiri dan tangan kanannya memainkan klitoris Nakula yang tegang sambil beberapa kali menyelipkan ibu jarinya masuk ke dalam lubang vagina Nakula. Lidahnya bahkan lebih hebat, membuat puting Nakula bergetar setiap ia menghisapnya.

“Haaah ha ha ha ah ah Mas … ah ah ah pelan-pelan!”

Sadewa mengurangi kecepatan genjotannya dan membuat pinggulnya bergerak lebih santai. Namun ia tidak ingin membuat Nakula merengek lagi, jadi meskipun pinggulnya bergerak lambat namun tusukannya berulang kali membuat perut Nakula memiliki bayangan penis yang menusuknya.

“Mas … Mas … aku mau cum! Aku mau cum!”

“Cum aja dek, Mas juga pengen cum.”

Mendengar hal itu Nakula tanpa sadar mengetatkan vaginanya, meremas penis Sadewa dengan lebih kuat. Ia tidak ingin penyatuan pertama mereka berakhir begitu saja.

“Dek… kalau kamu ketat gini, Mas susah keluar di luar.”

Nakula tersenyum dan melingkarkan tangannya ke leher Sadewa, “cum di dalam ya, buat hadiah ulang tahunku.”

“Gimana kalau kamu hamil?”

“Mas pasti tanggung jawab kan?”

Sadewa tertawa dan mencium Nakula, “Saya harap kalau itu terjadi bayinya mirip kamu.”

Goyangan pinggul keduanya saling mengejar, suara cabul mereka menggema di dalam kamar. Kata-kata vulgar saling memuji mereka membuat bahkan titik hujan urung menenggelamkannya dalam hening.

“Kontol Mas gede banget ah ah ah aku sukaaah!”

“Mas juga suka memek kamu dek, ketat banget. Cantik banget.”

“Ah ah ah ahnggg Mas mentok iniiih ah ah ah mentok!”

Sadewa menghantam penisnya ke dalam Nakula dan menahannya hingga seluruh cum miliknya bersarang di dalam tubuh kembarannya itu, sementara Nakula yang merasakan panasnya sperma Sadewa berada di langit ketujuh dengan kedua kaki yang lemas dan gemetar mulut vaginanya bahkan enggan menutup segera.

“Selamat ulang tahun Nakula.”

“Happy birthday juga Mas Dewa.”

 

💛🩵💛🩵💛🩵💛🥃🔎💛🩵💛🩵💛🩵💛

 

“Kenapa kamu?” Suara bariton Sadewa menyadarkan Nakula.

“Eh?”

“Ngelamun aja.”

“Ya maap, aku abis keinget waktu kita pertama kali ngewe.”

“Ha?”

“Dulu kamu belum banyak gaya hahaha… inget gak waktu aku sampai kencing di rambut kamu waktu kamu gigit memek aku?”

“Oh pas kita abis ujian kan itu?”

“Iya.”

“Dulu kamu sensitif banget pas saya cukur bulu pubis kamu. Tiap kali saya elus bagian perut bawah, memek kamu langsung basah.”

Nakula tidak bisa percaya bahwa mereka melakukan semua hal cabul itu di usia muda. Sekarang sudah sepuluh tahun berlalu, mereka masih bersama dan ia tidak pernah mendapatkan bayi meskipun mereka sudah berulang kali melepaskan hasrat di dalam.

“Kenapa?” Tanya Sadewa dengan tenang melihat wajah Nakula yang cemberut.

“Kok aku gak pernah hamil ya? Padahal aku punya memek, kamu juga suka cum di dalam. Sepuluh tahun tapi aku gak hamil.”

“Santai aja. Kita masih muda.”

“Tapi kalau lebih lama lagi, gap kita sama anak kita jauh banget gak si?”

“Ya udah kalau emang kita gak bisa punya anak, kita adopsi aja kucing atau anjing.”

Nakula tidak bisa banyak membantah, ia dan Sadewa sama-sama menyukai binatang, jadi usulan adopsi itu pasti masuk dalam pertimbangan.

“Saya sebenarnya juga gak suka berbagi sama orang lain terutama untuk sesuatu yang saya suka.”

Sadewa menyelipkan rambut Nakula ke telinganya dan menciumnya pelan. Bagi Nakula juga hidup seperti saat ini juga bukan hal yang buruk. Menikmati hidup dengan orang yang paling dicintainya mungkin cukup bagi Nakula.

“Ya udah Mas … memek aku dimainin lagi dong, jatah abis dinas kamu dipake.”

“Gak capek kamu? Siapa tadi yang ngeluh punggungnya capek?”

“Ya salah sendiri tadi posisinya anu banget.”

“Terus mau gimana posisinya hm?”

“Main di ruang tamu yuk.”

“Jangan macam-macam ya kamu Nakula mau rekam-rekam.”

“Gaaaak, aku paling pengen liat video aku squirt karena kontol Mas aja.”

“Dasar kamu nih, makin hari makin mesum.”

“Ya gak papa dong. Kan Mas suka.” Nakula tertawa dan memeluk Sadewa yang memiliki wajah cemberut.

 

The End

Notes:

Rajin banget nih gue wkwkwk