Actions

Work Header

Sweet Poison

Summary:

Omega Lohen memasukkan pakaian dalam yang ia pakai ketika heat ke dalam barang pribadi Varka yang sedang rut, membuatnya menjadi mangsa sempurna Varka untuk dilahap.

Sesuai dengan rencana Lohen.

Notes:

HAHDAKSD A HAII AKU GILA HABIS LIAT ULTIMATE BURST LOHEN, AKU JUGA IKUTAN BURST----

Anyway happy reading, aku selalu kepikiran kalo varhen omegaverse ga cocok Varka yang non-con in, yang ada malah Lohen yang ngebet pengen digigit lehernya sama Varka

DISCLAIMER: ALL CHARACTERS BELONG TO HOYOVERSE, THIS IS A FICTION WORK MADE BY A FAN.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Oh udah waktunya ya?”

 

“Hehe iya, bilangin ke temen-temen nanti ya, Bang Ven? Kek biasa taruh bingkisannya di sekre aja. Makasih bantuannya pertiga bulan ini.”

 

Venti mengangguk paham. Varka menghela napas melihat respons katingnya yang sekali lagi membantu dirinya di masa-masa sulit ini. Pemuda pirang itu menatap kalender di hp-nya, matanya terpaku pada tanggal yang telah ia tandai.

 

Rut Phase

28/03/2026

 

Reminder: Minta bingkisan ke bang venti dan teman-teman 3 hari sebelumnya

 

Varka menghela nafas. Mating cycle untuk alpha tidak sesering omega yang biasanya terjadi sebulan sekali, tapi tetap saja ini sangat sulit baginya karena Varka berprinsip untuk tidak menggauli omega hanya demi mempercepat berakhirnya masa rut..

 

Varka adalah alpha terhormat yang memiliki martabat, ia tidak pernah berpikir untuk memesan PSK atau pergi ke distrik merah —walaupun ini hal yang wajar dilakukan oleh alpha seumurannya— karena ia tahu risiko kesehatan maupun gangguan batin yang akan terjadi jika suatu hari apes karena tidak berhati-hati. Ikatan antara alpha dan omega itu sakral dan kuat, Varka tidak mau bermain-main dengan sesuatu yang berhubungan dengan masa depannya.

 

Namun, tetap saja rasa gairah primal yang tertanam secara genetik tentu bukan sesuatu yang dapat Varka bengkokkan sesuai dengan moralnya.

 

Selain dengan berhubungan badan, ada satu cara agar alpha bisa terpuaskan selama masa rutnya. Tidak seefektif knotting tapi cukup membuat alpha tidak melolong ingin kawin setiap malam.

 

Tumpukan besar barang-barang omega yang sudah dibaluri feromon yang kuat.

 

Semenjak Varka mendapatkan hasil gendernya, ia dengan sopan akan meminta teman-teman omeganya untuk secara anonim mengumpulkan barang-barang bekas yang pekat dengan aroma feromon. Barang-barang para omega itu akan dikumpulkan oleh Venti —yang juga omega— dibiarkan berpindah melalui banyak tangan agar baunya tercampur dan tidak bisa lagi dikenali.

 

Sistem ini membuat Varka tidak bisa mengenali masing-masing barangnya dan tidak ketergantungan dengan satu feromon. Kalau harus dideskripsikan, ketika bingkisan itu sudah penuh, aromanya di hidung Varka akan seperti terjebak di kereta yang penuh sesak yang dipenuhi oleh omega yang sedang heat. Libido alphanya akan memuncak seakan ditampar oleh feromon-feromon itu, membuat knot Varka mengembang dan ejakulasinya terjadi lebih cepat dari biasanya.. Satu-satunya efek samping metode ini hanyalah mainan sex varka yang hancur tiga kali sehari karena alphanya yang hampir gila mendambakan daging hangat yang nyata untuk digenggam alih alih silikon.

 

Bertahun-tahun ia melakukan, tidak pernah kecolongan. Varka tidak pernah tahu identitas teman-teman omega yang sudah berbaik hati meminjamkan barang-barang berbau manis itu.

 

Varka bersenandung di dalam ruang sekre sambil membawa bingkisan yang sudah ditinggalkan di pintu ruangannya. Ketika membuka pintu untuk keluar, ia terkejut melihat Lohen ada di depan pintu.

 

“Bang Varka gak pulang?”

 

“Iya, ada yang mau diurus sedikit tadi, ini mau ke toilet bentar sebelum balik.”

 

Lohen mengangguk, matanya tidak bisa tidak menghiraukan plastik yang ada di tangan Varka, terutama dengan feromon yang begitu menyengat itu.

 

“Itu apa, Bang? Rut kit?

 

Varka tampak malu ketika mendengar pertanyaan Lohen, “Iya, hadiah teman-teman omega yang baik hati.”

 

“Ribet gak sih ke toilet bawa gituan? Nanti kalo ada alpha lain yang curi di dalem gimana?”

 

Varka terlihat berpikir ketika mendengar perkataan lohen, Lohen tertawa.

 

“Bang, titipin ke aku aja maksudnya. Aku kan omega juga, aku yang jagain di sekre.”

 

Setelah beberapa menit peperangan batin terjadi di dalam diri Varka, akhirnya ia setuju untuk meninggalkan barang-barangnya dengan Lohen. Insting Varka merasa ada yang aneh dari Lohen, tapi sebagai teman organisasi yang ia percayai, Varka tidak mungkin menolak kebaikan yang ditawarkan kepadanya.

 


 

Lohen menatap ke setiap sudut sekre dan tidak menemukan satupun bayangan ketua BEM nya itu. Pagi tadi ia mendengar berita dari teman organisasinya kalau Varka izin tidak ikut perkuliahan satu minggu ke depan.

 

Rut alpha bukan sesuatu yang dapat ditahan dengan medikasi ringan seperti heat omega, di saat alpha memasuki jadwal rut-nya, mereka berubah menjadi binatang tanpa akal, Varka bukan pengecualian. Lohen pernah melihat beberapa kasus ketika alpha tidak berhati-hati dengan tanggal penjadwalannya —dalam hal tidak melakukan preparasi seperti menyewa brothel atau Rut Kit— dan berakhir mengaktifkan insting alphanya di ruang publik, mereka harus ditembak petugas dengan bius berdosis kuat layaknya menangkap hewan buas.

 

Lohen menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya ke dinding, telapak tangannya menutup bagian bawah wajahnya.

 

Bingkisan yang Varka bawa itu tersimpan dengan rapat beserta dengan ziplock yang sudah didesain menutup rapat feromon apapun yang ada di dalamnya. Varka tidak akan membuka isinya sebelum rutnya dimulai, alpha itu dari awal mengambil bingkisannya sampai rutnya dimulai, tidak akan tahu apa saja isinya. Setelah rutnya berhenti pun, Lohen yakin Varka tidak bisa mengenali satupun barang-barang itu karena tenaga Varka yang akan merobek kain-kain itu dengan mudah.

 

Secara teori, Lohen tau bagaimana cara Varka mengatasi rut-nya.

 

Menggemaskan.

 

Oleh karena itu, Lohen mulai berhipotesis, apa yang akan terjadi jika Rut Kit alpha yang isinya kumpulan beberapa omega diganti dengan hanya satu bau omega saja?

 

Varka tidak akan tahu perbedaan Rut Kit yang diberikan teman-teman omeganya, Varka tidak akan tahu yang ia bawa pulang adalah Rut Kit yang Lohen siapkan dengan spesial. Varka tidak akan mewaspadai wakabid yang ia begitu percayai.

 

Apakah alpha itu akan menyadarinya setelah rutnya berakhir? Akankah ia mengenali satu feromon spesifik itu jika omega tersebut tidak hadir ketika rut?

 

Lohen hanya bisa berandai-andai, tapi satu hal yang Lohen tahu, alpha yang kelaparan mendambakan daging panas.

 


 

Satu minggu berlalu dengan tenang.

 

Varka telah kembali berkuliah, tidak ada yang berubah, tidak ada pembicaraan mengenai rutnya. Ia menemui Venti dan mengucapkan terima kasih seperti biasa dan tolong sampaikan kepada teman-teman omega yang telah membantunya.

 

Lohen tidak menemukan hal janggal.

 

Mungkin benar bahwa alpha tidak terlalu terpengaruh oleh feromon jika omega yang bersangkutan tidak hadir, adanya senggama antara knot gemuk alpha di dalam diri omega sepertinya memang berperan penting.

 

Namun, sangkaan itu perlahan berubah semenjak Varka tampak sering membuntutinya tanpa sadar.

 

Varka akan berjalan di belakangnya seperti anjing yang ditarik di lehernya, postur tubuh condong ke depan, seperti sedang mengendus sesuatu. Setiap kali Lohen menoleh ke belakang, adrenalin yang ia terima seperti ada pemburu yang mengikutinya, tapi yang ia temukan hanya wajah bingung Varka yang tampak seperti ia tidak tahu kenapa ia berada di sana.

 

Keyword: Tampak

 

Lohen sangat yakin ada pergumulan hebat di dalam diri Varka saat ini, entah bagaimana cara alpha itu akan mengatasinya nanti. Untuk sekarang, Lohen lebih baik bersikap seperti omega naif pada umumnya.

 


 

Varka bohong jika dibilang tidak merasakan perubahan setelah rutnya kali ini.

 

Feromon Lohen sangat sangat manis.

 

Ya, feromon omega pada umumnya memanglah manis, baik aroma bebungaan yang lembut seperti mawar ataupun cairan manis hewani seperti susu. Namun, setelah rutnya berakhir, Varka sering mendapati dirinya tanpa sadar mendekatkan hidungnya ke area kelenjar feromon Lohen setiap kali mereka berdiri berdekatan.

 

Setiap kali Varka bertemu dengan Lohen, ia seperti hewan yang kehausan. Taringnya gatal secara harfiah. Menyembunyikan taring adalah tata krama tak tertulis untuk para alpha di hadapan omega, tapi setiap kali Varka harus berhadapan dengan Lohen,mulutnya akan terbuka dan tanpa sadar menjilati taringnya yang gatal ingin menggigit. Beberapa kali ia harus mengepalkan tangannya begitu keras sampai berdarah hanya untuk menahan diri untuk tidak meneteskan air liur setiap kali mencium feromon Lohen.

 

Hari ini Varka mendapatkan pesan dari omega kecil itu, diskusi singkat profesional antara ketua dan anggota. Varka keringat dingin di dalam ruangannya, seharusnya ia meminta Lohen untuk bertemu di ruang publik saja—

 

“Bang, aku mau nanya soal proker yang ini, udah bisa dinaikin gak ya proposalnya?”

 

Varka menoleh ke arah Lohen yang sedang menunduk mengambil laptop di tasnya, Varka yang ada di dekatnya tidak bisa tidak menghiraukan leher ber-collar Lohen yang terekspos di hadapannya. Varka berjalan ke arah Lohen, tubuhnya tanpa sadar menunduk dengan mulut sedikit terbuka..

 

Daging hidup tampak sangat lezat.

 

“Bang?”

 

Ketika Lohen mengangkat kepalanya, Varka dengan cepat mengangkat tubuh dan menutupi mulutnya.

 

“Iya, udah ok. Naikin aja nanti dibantu sama Jean ya.”

 

“Ohiya, makasih, Bang.”

 

Varka dapat menangkap bau kebingungan dan keterkejutan di feromon Lohen. Sadar bahwa ia mungkin sudah membuat omega itu takut, ia langsung berjalan ke pintu sekre untuk keluar.

 

“Lohen, sorry banget ga bisa lama diskusinya, gue ada urusan bentar. Nanti kita nongkrong bareng ya.”

Varka dengan cepat pergi sebelum Lohen dapat menjawabnya, ia berlari ke toilet dengan begitu cepat sambil menutupi mulutnya. Sesampainya ia di wastafel kampus, Varka perlahan membuka tangannya yang menutupi bibir Varka sedari tadi.

 

Saliva kental membalut telapak tangan dan bibirnya bersamaan dengan taring yang gatal, bahkan setelah ia telah berdiri jauh dari radius feromon Lohen, air liurnya tidak bisa berhenti mengalir keluar. Varka menatap tangannya dengan horror.

 

Celaka sudah, bahkan Varka tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.

 


 

Varka dan masalah barunya hidup berdampingan. Lohen, objek dari masalahnya, tampak tidak terpengaruhi tentang hal ini. Di satu sisi Varka senang, omega itu tidak takut olehnya. Malah, Varka dapat mencium feromon Lohen yang selalu tenang dan bahagia setiap kali bersamanya.

 

Beberapa kali Varka tidak bisa menahan diri dan berakhir seperti waktu itu, tapi karena sudah terlalu sering terjadi, Varka mulai bisa menahan dirinya dan sedia sapu tangan setiap kali terjadi sesuatu.

 

Varka cukup percaya diri dengan self-control nya sampai ia bisa berdua bersama Lohen di satu mobil hari ini. Meskipun terdengar sangat berisiko, Varka cukup tenang berada di dalam satu mobil dengan Lohen, karena setelah banyaknya kasus penyerangan terhadap Omega di dalam mobil, peneliti di Mondstadt menciptakan penemuan pewangi yang menyamarkan setiap feromon yang ada di dalam mobil. Varka seperti anjing yang sedang pilek saat ini, dia tidak bisa mencium feromon Lohen sedikitpun. Mereka bisa melakukan perjalanan dengan aman dan memenuhi keperluan BEM tanpa hambatan.

 

Lohen, “Habis ini perlu apa lagi, Bang?”

 

Varka, “Udah cukup dah kayaknya, Kaeya udah gak ada ribut ngechat tambahan barang yang diperlu lagi. Bisa finalisasi hari ini.”

 

Lohen mengangguk, ia memasang sabuk pengamannya. Sesaat Varka dapat melihat Lohen tampak tegang, seakan teringat sesuatu.

 

Varka, “Kenapa? Ada yang kelupaan.”

 

Lohen, “Ngga, gapapa.”

 

Varka, “Kalo mau sekalian beli sesuatu, gapapa, ditemenin kok nanti.”

 

Lohen tampak berpikir sebentar, “Kalo boleh, kita bisa mampir ke apotek sebentar gak?”

 

Mendengar itu, Varka tampak terlihat panik, “Kamu sakit, Lohen?? Sakit apa?? Gapapa, nanti lo stay di mobil, gue yang beliin ya.”

 

Lohen menggeleng, “Bukan, gue mau ambil subsidi suppressant. Baru inget kalo di rumah abis, biasanya nge stok banyak gitu sekali ambil, tapi bulan ini lupa.”

 

Nafas Varka tertahan mendengar itu, tapi ia mencoba untuk tampak normal, “Oh penting berarti, abis ini gue anterin ya. Emang bentar lagi ya tanggalannya?”

 

Kalimat terakhir itu sangat personal dan intim, bahkan Varka terkejut mulutnya menyuarakan itu. Untungnya Lohen tidak tampak tersinggung Varka menanyakan itu.

 

“Empat hari lagi sih, Bang.”

 

Varka hanya mengangguk paham, mereka tidak banyak bicara setelah itu dan Varka menepati janjinya untuk mengantarkan Lohen seperti tujuan awal. Sebenarnya ini lebih ke Varka nya yang bingung harus mengatakan apa lagi, karena ia tidak bisa mencium emosi Lohen dari feromonnya karena berada di dalam mobil.

 

Namun, seandainya Varka dapat menciumnya, feromon Lohen seperti kembang api di tahun baru yang begitu meledak-ledak menulikan telinga.

 

Setelah mengantar Lohen pulang,, Varka dalam diamnya mengambil sapu tangan di saku dan mengusap air liur di sisi mulutnya hingga hilang.

 


 

Kehidupan Varka berjalan seperti biasa, mungkin kecuali bagian di mana ia selalu terbayang ucapan Lohen yang memberitahunya kapan tanggal heatnya dimulai. Ya, sebenarnya itu bukan sesuatu yang se-spesial itu, kalau satu kelas dengan Lohen pasti tahu jadwalnya jika dilihat dari kapan ia mengambil izin. Namun, ini informasi baru untuk Varka karena mereka beda fakultas.

 

Ia memikirkannya sampai tidak bisa tidur dan terus-terusan memutar momen di dalam mobil itu. Seandainya saja dia bisa mencium feromon Lohan Saat itu, seandainya saja Varka dapat menilik lebih dalam emosi di feromon yang Lohen pancarkan saat itu, seandainya ia bisa menggigit—

 

Varka menampar wajahnya sendiri, tapi tangannya tidak bisa diberhentikan untuk tidak turun ke bawah masuk melewati karet celananya dan menyentuh pilar daging yang sudah mengeras sejak ia mencoba mengingat aroma Lohen.

 

Tangan Varka bergerak naik turun memompa burung elangnya yang tegah dan gagah, mata Varka fokus menatap plafon kos-kosannya yang ada cicak dan noda bocor tapi isi kepalanya membayangkan bagaimana ekspresi Lohen ketika sedang heat?

 

Apakah ia tipe omega yang menangis di kaki alpha memohon untuk di-knotting? Apa dia tipe omega yang terus-terusan membicarakan tentang memilki anak dari alpha yang sedang menyentuhnya? Apa Lohen tipe omega yang akan menerjang alphanya ketika memasuki pintu ke kamar nest-nya?

 

Lohen.

 

Lohen.

 

Lohen.

 

Setiap sudut sisi otak Lohen diisi fantasi mengenai apa yang Lohen lakukan jika ada alpha yang memanjakannya dan Varka mengharapkan alpha yang beruntung itu adalah ia. Disini Varka tidak lagi mempertanyakan dirinya kenapa ia begitu terangsang membayangkan Lohen secara spesifik mengingat ia punya banyak teman omega lain yang ia juga tahu jadwal heatnya, tapi instingnya mengatakan ia harus membuahi rahim kosong Lohen yang hangat dan ketat itu.

 

Gerakan tangan Varka semakin cepat. Otaknya dipenuhi kabut, tubuh terangkat dari bantalnya, nafas Varka memberat dan mulutnya terbuka dengan lidahnya yang keluar seperti anjing, sekali-kali ujung lidahnya naik menjilati taringnya yang gatal, geraman hewani keluar dari diri Varka, imajinasinya membayangkan dirinya yang mengunci kejantanannya dengan knot di dalam lubang Lohen, mengunci dan membuahi liang kawinnya.

 

Varka mencapai puncaknya ketika membayangkan dirinya menggigit kelenjar feromon Lohen dari empunya yang mencoba melarikan diri dari genggamannya, seperti kelinci yang dimangsa serigala jahat.

 


 

Ketika omega mendekati heat, 1-2 hari sebelum mencapai heat-nya, para omega memiliki masa pre-heat, karena kecanggihan di masa sekarang, mereka masih bisa beraktivitas seperti biasa karena suppressant yang disubsidi oleh pemerintah, pre-heat tidak seburuk heat, hanya saja feromonnya menjadi jauh lebih kuat daripada biasanya sebagai petunjuk masa ovulasi mereka akan dimulai.

 

1-2 hari sebelum heatnya dimulai, Lohen masih aktif kuliah dan berorganisasi seperti biasa, beberapa kali berpapasan dengan Varka, dan demi archon Varka rasanya ingin jatuh dari kakinya dan berlutut karena feromon Lohen seperti membius otaknya.

 

Varka tidak tahu apa penciumannya hari ini terlalu sensitif atau bagaimana, tapi alpha lain seperti Eula dan Diluc tidak terpengaruh dengan feromon Lohen hari ini. Varka menghela nafasnya berat, ia masuk ke dalam kelas kosong ber-AC yang sedang tidak dipakai di fakultasnya untuk menenangkan diri, ia tidak boleh bertemu dengan Lohen 2 hari ini, tidak terutama ketika ia baru malam tadi memfantasikan hal-hal tidak senonoh tentang adik tingkatnya satu itu.

 

Saat terduduk di kursi ujung kelasnya, Varka menemukan sebuah buku dengan cover mencolok warna merah muda ditaruh rapi di ujung meja. Buku itu kecil dan tipis, lebih mirip seperti buku panduan yang biasa ditemukan di dalam kotak elektronik.

“The Myth of Fated Mate”

Isinya cerita pendek mengenai kisak klasik alpha dan omega yang bertemu tanpa sengaja, menyadari mereka adalah fated mate, lalu mereka menikah. Kisah romansa yang sering ditemukan di manapun, tapi yang membuat Varka tertarik adalah bagaimana penulis buku itu memberikan pointer mengenai apa saja yang terjadi pada tubuh alpha dan omega setiap kali bertemu, bagaimana alpha tidak bisa menahan diri setiap kali berada di sekitar omega itu, bagaimana omega itu mendapatkan heatnya ketika bertemu dengan sang alpha pertama kali, dan rut alpha yang terpicu karena mencium feromon omega fated matenya.

 

Varka menutup buku itu lalu melanjutkan istirahatnya, matanya terasa berat karena lelah, ia tertidur di kelas itu sampai lupa waktu.

 


 

Sesuatu menusuk pipinya, Varka yang terganggu mengerang dan mencoba menangkap benda itu, tapi ketika matanya terbuka, yang mengejutkannya adalah ruang kelas yang sudah gelap dan jam dinding yang menunjukkan pukul 23.55. Berapa lama ia tertidur di sini?

 

Varka menoleh ke kiri, ia mulai takut pelaku yang menusuk pipinya ini bukan hewan atau manusia tapi—

 

“AAAH!”

 

“HAH! BANG, KOK TERIAK.”

 

“Astaga Lohen, gue kira setan…”

 

“Yang bener aja, aku disuruh kesini sama Jean soalnya katanya abang bolos tiga matkul hari ini dan gak keliatan juga di sekre.”

 

“Oh…”

 

Varka melihat ke sekitarnya, lampu kelas tidak menyala dan satu-satunya penerangan adalah dari sinar bulan yang menembus jendela dan lampu di luar gedung yang masih menyala. Varka menatap ke arah Lohen dan hidungnya menangkap sesuatu, otaknya bekerja dengan cepat menghitung hari dari tanggal ia menemani Lohen ke apotek.

 

“Lohen… heat kamu besok…”

 

Feromon Lohen membelai indra penciuman nya dengan lembut, tapi aroma manis itu juga menusuknya dengan cepat seperti kereta api yang melaju. Taringnya kembali gatal dan seluruh tubuhnya bereaksi. Lohen di satu sisi tampak santai, ia duduk di meja Varka dan membuka kedua pahanya di hadapan Varka, memperlihatkan selangkangannya yang lembab dengan cairan kawin.

 

Varka… Aku harus apa?”

Varka memegangi kepalanya yang sekarang sudah dipenuhi oleh feromon Lohen dan visual cabul di hadapannya, “Antar….Lohen ke rumah…. Supaya aman…”

 

“Hmm, yakin? Gamau ngasih aku anak aja?”

 

“Jangan…”

 

Lohen mengangguk, tangannya naik untuk melepaskan collar yang ada di lehernya, membiarkan feromonnya semakin mengerumbungi alpha di hadapannya, “Emang kamu yakin, kamu orang yang tepat untuk antar aku pulang dengan selamat?”

 

Varka mengangguk cepat, bahkan di keadaan seperti ini, lelaki itu masih mencoba untuk memberikan yang terbaik kepada adik kelasnya yang malang ini.

 

“Tapi Alpha…” Lohen mengulurkan tangannya, mengelus pipi Varka lalu mencium bibir Varka dengan lembut.

 

“Air liur kamu banjir dari tadi sampai netes ke lantai.”

 

Sudut pandang dunia seperti terpusat kepada Varka saat ini, alpha yang mencoba untuk waras itu baru menyadari separah apa keadaannya saat ini. Mulut terbuka dengan saliva yang terus-terusan mengalir keluar dari bibirnya dan membasahi dagunya, senyuman yang terukir tanpa ia sadari, dan taring yang dipamerkan dengan begitu vulgar kepada Lohen.

 

“Kamu lupa bawa sarung tangan kamu yang biasa? Aku pinjemin.”

 

Lohen melepaskan celana pendeknya dan juga celana dalamnya yang sudah lembab oleh cairan omeganya, mata Varka melotot melihat lipatan cantik di balik kain itu, tapi setelahnya lebih terkejut lagi ketika Lohen melemparkan celana dalam bekasnya ke wajah Varka.

 

Hidung mancung Varka menghirup aroma itu dalam-dalam seperti alpha mesum yang tidak bermoral. Anehnya, di sisa sisa sel otaknya yang belum dikuasai nafsu, ia dapat mengingat ini feromon apa. Matanya membelalak terkejut, tapi mulut dan hidungnya tidak bisa berhenti menghirup dan mengemut celana dalam itu.

 

Oh

 

Oh—

 

Ah gausah ribet, persetan lah, yang penting kawin dulu ya.

 

Lohen membuka kedua tangannya seakan mengajak Varka untuk masuk ke dalam dekapannya, Varka dengan tangan yang dengan buru-buru melepaskan celananya sendiri melemparkan dirinya ke pelukan Lohen, menciumi feromon Lohen yang terlepas dengan liar menari di ruang kelas yang kosong dan remang-remang ini.

 

Burung kebanggaan Varka keluar dari sangkarnya dan sedari tadi mengetuk mengetuk labia Lohen yang licin karena cairan omeganya, Varka yang masih gila karena feromonnya masih betah menjilat leher Lohen. Pinggul Lohen bergerak menggesekkan lipatan labia nya ke milik Varka yang sedari tadi menampar-nampar memeknya, clitnya ia mainkan sambil merasakan feromon Varka yang kini ikut keluar menyapa hidungnya.

 

Di momen ini, keduanya berhenti bersuara, Varka dan Lohen saling bertatapan untuk pertama kalinya, nafas saling bertabrakan menandakan sedekat apa keduanya. Varka memecah keraguan itu dan mencium bibir Lohen yang memanggilnya sedari tadi. Di balik ciuman itu, ada Varka yang mencoba untuk waras untuk tidak menyetubuhi Lohen dengan terburu-buru. Namun, niat baik itu hancur ketika mendengar ucapan Lohen selanjutnya.

 

“Varka, kamu tau gak? Waktu omega lagi heat dan ada Alpha baik hati yang nemenin, kalo tempiknya makin cepet dientot, bakalan makin enak.”

 

“Paham kan? Ga usah diprep, langsung trobos aja masukin anak kamu ke rahim aku.”

 

Varka teringat kembali dengan fantasinya malam itu. Ternyata Lohen adalah tipe omega yang minta dikasih anak di masa heatnya. Ini membangunkan sesuatu yang ada dalam dirinya, Varka ternyata suka breeding kink.

 

Varka dengan seluruh kesadarannya menggenggam erat pinggan Lohen dan menghentakkan penisnya ke dalam vagina Lohen yang kedutan. Satu hal yang harus diingat, Varka adalah perjaka. Semua yang dilakukannya saat ini adalah pertama kali. Ini pertama kalinya ia melihat vagina omega yang secara langsung, ini pertama kalinya ia menggigiti omega secara langsung, ini pertama kalinya pilar dagingnya Varka masuk ke dalam memek hangat omega yang birahi.

 

Jangan berekspektasi terlalu banyak karena setelah masuk, Varka tidak bisa menahan diri dan langsung crot di dalam.

 

“Lohen…. Maaf…”

 

Rasanya seperti melihat anjing yang baru saja dimarahi, tapi Lohen yang baik hati dan pemurah hanya memeluk kepala Varka dan menuntunnya untuk menaikkan lagi penisnya ke dalam vagina Lohen yang masih lapar. Untungnya karena sudah ejakulasi terlebih dahulu, Varka bisa bertahan lebih lama kali ini.

 

Pernah dengar bagaimana anjing manja yang terlalu bahagia ketika makan? Suara rengekan Varka ketika merasakan ketatnya dinding hangat sama seperti itu. Mulut Varka terbuka sambil menggigit setiap inci leher Lohen, untuk pertama kalinya taring Varka tidak lagi gatal karena sudah mendapatkan mainan kesukaannya.

 

Yang terjadi antara Varka Lohen itu seperti hewan buas yang disuguhi kotak hitam berisikan aroma yang lezat, serigala itu mencium baunya dan mendamba untuk apa yang tersembunyi di dalamnya, setiap hari digoda oleh kotak misterius yang bahkan hewan itu tak pernah melihatnya dan dibiarkan kelaparan akan membuatnya gila. Di hari kotak itu dibuka, tanpa serigala itu sendiri mangsa di dalamnya sudah habis dimakan.

 

Nafsu alpha itu gila, mau perjaka atau tidak perjaka. Alpha jinak seperti Varka pun jakan menghabisi Lohen yang melambaikan daging segar di hadapannya. Air liurnya menetes tidak karuan bahkan setelah taringnya tak lagi gatal, pinggulnya bergerak cepat tanpa sadar setelah Lohen menuntunnya.

 

Varka mencoba menahan diri tapi feromon Lohen yang pecah di mulutnya dan menyebar ke seluruh tubuhnya seperti racun membuatnya tidak bisa berhenti, erangan Lohen di telinganya membuatnya dirinya merasa bangga ia dapat membuat omega di hadapannya keenakan.

 

Tangan besar Varka membungkus pinggang ramping yang mungil, dengan tenaga besarnya mengangkat tubuh Lohen dari meja dan menempatkan tubuh Lohen di lantai yang dingin. Lohen terbaring di bawah Varka hanya dengan sinar bulan dan lampu jalan di samping gedung kampus yang menyinari wajahnya, wajahnya memerah, lehernya penuh darah dari gigitan Varka, seluruh bagian tubuhnya berantakan, tapi senyumnya tidak hilang dari wajah Lohen.

 

Varka sekali lagi mencoba waras, tapi Lohen mengalungkan tangannya di leher Varka sebagai isyarat Varka dapat melanjutkan apa yang ia lakukan sebelumnya.

 

Varka membuang nafasnya kasar, mengikuti instingnya ia menghujam isi tubuh Lohen dan menyusun ulang isi perutnya. Penis Varka menggaruk dinding ketat Lohen yang banjir dengan cairan omeganya, sekilas Varka dapat merasakan sebuah lubang kecil yang sekali-kali tertabrak oleh kepala kelaminnya, reaksi Lohen juga tampak berbeda setiap kali Varka menghujamnya.

 

Rahim omega.

 

Anak.

 

Anak Varka dengan Lohen.

 

Otak Varka seakan diisi dengan kabut putih menyenangkan ketika membayangkan itu, memenuhi Lohen dengan spermanya dan menghamili Lohen tanpa henti, semalaman, setiap hari, tanpa henti, Lohen yang selalu penuh dengan sperma Varka, melahirkan buah cintanya dengan Varka—

 

Oh, Varka mulai gila.

 

Feromon omega bersifat adiktif, sekarang Varka paham kenapa sekali Alpha merasakan senangnya bermain dengan tubuh omega, mereka menjadi ketagihan. Varka membalik tubuh Lohen agar menungging di hadapannya, kini mereka persis seperti hewan yang kawin di hutan. Varka teler merasakan memek Lohen membungkus kontolnya dengan begitu rapat, saat ini tujuannya hanya crot di dalam rahim Lohen supaya Lohen cepat hamil.

 

Wajah Lohen menghadap ke samping di lantai, tangannya sudah lunglai tidak bisa menumpu tubuhnya. Varka yang tidak lagi melihat sesuatu menggenggam tangan Lohen lalu mengarahkannya ke perut Lohen yang saat ini sedang sangat sibuk diobok-obok oleh Varka dan menonjolkan gundukan hasil hujaman Varka.

 

“Ini anak kita, Lohen.”

 

Agak tolol sih soalnya itu kan kontol dia sendiri, tapi disini mereka sama-sama mabok jadi Lohen iyakan saja.

 

Varka mencengkram pinggul Lohen dan menariknya sampai pantat Lohen bersentuhan dengan pelvisnya, cairan subur Varka keluar tepat di mulut cervix Lohen yang terbuka untuk Varka, tubuh keduanya menggelinjang hebat merasakan perpaduan cairan duniawi yang nikmat itu. Varka dapat merasakan knotnya mulai terbentuk mengunci persenggamaannya dengan Lohen.

 

Dengan munculnya knot dan keluarnya peju Varka, kabut putih di kepala Varka mulai menghilang dan kewarasannya sedikit kembali. Pinggulnya sedikit bergoyang merasakan memek Lohen yang nikmat, tapi sel otaknya yang sedikit waras mulai menyadari apa yang telah ia lakukan.

 

“Lohen, aku keluar di dalem ya sebelum knotting?”

 

“Iya, kan kamu bilang pengen punya anak.”

 

Varka memijat pelipis nya, ia menatap penyatuannya dengan Lohen yang tidak memberikan tanda-tanda akan reda 10 menit ke depan. Namun, setidaknya itu juga memberikannya waktu 10 menit untuk memikirkan cara membawa Lohen pulang dan menelpon Kaeya.

 

Kaeya yang manis dan baik hati sedang nongkrong di warkop terdekat dengan teman-teman tiba-tiba mendapatkan telepon dari komandan, ia mengangkatnya dengan santai dan menyalakan bluetooth speakernya, merasa nyaman mengingat teman-teman nongkrongnya saat ini juga anak BEM, mana tau perintah penting.

 

“Tumben, Bang. Kenapa nelpon jam segini?”

 

Varka, “Kae, minta tolong beliin pil plan B sama suppresant rut ya. Anter ke kos gue kalo gak keberatan, atau lu gojekin aja, bebas yang penting sampe depan rumah.”

 

Kaeya, “Wih, abang pecah telor sama omega akhirnya?”

 

Varka, “Hah? Ah iya, eh sorry anternya ke kosan Lohen, jangan ke rumah gue, di sana dah ada nestingnya. Dah, thank you yak.”

 

Kaeya terdiam, teman-teman di sekitarnya juga ikut terdiam, “Pecah telornya sama Lohen?”

 


 

Setelah knot Varka kempes,perjalanan pulang adalah hal selanjutnya yang berbahaya karena sepanjang jalan Lohen tidak bisa diam di belakang motornya dan terus-terusan mencoba membuka resleting celana Varka.

 

Lebih bahaya lagi ketika Varka sadar rutnya muncul 2 bulan lebih cepat. Namun, sebagai alpha yang bertanggung jawab, ia harus memastikan mereka pulang ke kosan Lohen dengan selamat, setelahnya sudah di luar kendalinya karena Lohen akan habis Varka makan.

 

Varka membopong Lohen untuk masuk ke dalam kosan, ia bernafas lega ketika melihat kantong kresek yang disangkutkan di gagang pintu kos-kosan Lohen.

 

Hidung Varka seperti diserang ketika memasuki kos-kosan Lohen yang sudah dipenuhi feromon karena nest yang omega itu bangun. Lohen tampaknya sudah sedikit santai karena sekarang sudah berada di tempat aman, tapi sekarang dia melucuti pakaian Varka lalu memasangnya di nest yang ia bangun.

 

Oh, Varka-nya juga diseret masuk ke nest dong pastinya.

 

Lohen mendorong Varka ke dalam nestnya sampai terbaring, “Ayo kita buat anak lagi~”

 

Pupil Varka melebar, tubuhnya menarik Lohen mendekat untuk duduk di pangkuannya. Tubuh omega itu unik, mereka… lembut, Varka dapat merasakan otot di beberapa bagian tubuh Lohen, tapi otak mesumnya tidak menghiraukan itu dan fokus pada perut ramping Lohen. Penisnya mengeras membayangkan baru saja perut mungil ini baru saja melahap miliknya yang raksasa.

 

“Varka tanggung jawab, aku udah ga bisa dikawinin alpha lain lagi habis ini.”

 

Wajah Lohen kini berhadapan dengan selangkangan Varka yang memperlihatkan pilar daging Varka yang menjulang, mulutnya terbuka untuk menciumi ujung kepala Varka yang lembab karena pre-cum.

 

“Kita harus nikah, terus aku hamil anak kamu, terus kita punya anak— MMH—”

 

Alur antara alpha dan omega di kos-kosan sempit itu berjalan begitu mulus. Dalam waktu yang Varka tidak bisa takar lagi entah itu sudah malam atau sudah mencapai subuh. Kepala Varka dipenuhi oleh feromon Lohen yang membungkus sisa-sisa kewarasnnya. Niat awalnya Varka ingin menyuntikkan suppressant rut-nya terlebih dahulu sebelum melanjutkan, tapi kresek oren itu terlempar entah kemana.

 

Satu hal yang ada di kepala Varka saat ini, “Oh, heat omega tuh kayak gini ya?”

 

Seluruh badan Varka seperti diselimuti feromon Lohen, dalam waktu cepat ia sudah mengisi setiap lubang yang ada di diri Lohen seperti orang tidak waras. Mulut, vagina, dan anal Lohen penuh oleh Varka.

 

Varka mengangkat tubuh Lohen dengan satu tangannya dan kembali menggigit leher omega itu, seringai asing muncul di wajah Varka yang lembut, 

 

“Harusnya aku kawinin kamu dari dulu—”

 

Varka menghentakkan penisnya ke dalam Lohen, memuntahkan cairan putih hangat dan mengembangkan kembali knot-nya.

 

“Kalo tau badan omega seenak ini.”

 

Bahkan setelah knotting, isi pikiran Varka belum bisa jernih, accidental rut yang terpicu sepertinya benar-benar merubah isi kepala Varka menjadi serigala jantan yang sedang birahi. Otak Varka saat ini dipenuhi dengan pikiran mesum melihat tubuh Lohen yang dipenuhi gigitan dan lembab karena air maninya, selain itu juga perasaan haus untuk menghamili omega birahi yang ada di bawahnya.

 

Varka menatap knotnya yang belum kempes,

 

Kalau knotnya digerakin juga gimana?

 

Varka memposisikan dirinya di belakang tubuh Lohen, omega di hadapannya sudah tidak bisa lagi merespon apa-apa karena kini otaknya sudah dipenuhi penis Varka, ingat nama sendiri pun sepertinya tidak. Lohen sudah di tahap ia hanya bisa bilang lagi dan memanggil nama Varka.

 

Namun, ketika Varka menggerakkan pinggulnya dan menyeret keluar knotnya, tubuh Lohen mengejang hebat, kepala Lohen menoleh ke belakang dan mencoba menghentikan Varka. Sebelum Lohen mengucapkannya, Varka mengira Lohen tidak menyukai ini. Akan tetapi, kalimat selanjutnya sungguh berbeda dari apa yang ia kira.

 

“Bang Varka! Jangan! Anak kita nanti tumpah, jangan dicabut knotnya, anak aku mpphh—”

 

Varka menghentakkan knotnya lebih masuk ke dalam, “Masih bisa bikin lagi…”

 

Varka menarikkan knotnya keluar sekali lagi, “Terus nanti kamu hamil..”

 

Varka hentakkan lagi lebih dalam, “Terus lahirin anakku, terus hamil lagi…”

 

Varka menggerakkan pinggul Lohen melingkar di selangkangannya, mata Varka berkedut merasakan lubang kawin Lohen mengetat dan menghisap miliknya, “Sampe anak kita banyak, kita kawin terus kayak kelinci yah.”

 

Sekali lagi, badan omega membuat Varka kagum. Setiap kali Varka menghentakkan knotnya ke dalam vagina Lohen, omega itu akan menyemprotkan cairan bening seperti kencing dari kelaminnya yang kini sudah merah dan bengkak, membuat nest mereka menjadi lebih lembab daripada sebelumnya. Ah… nanti harus Varka makan itu memek tembemnya. 

 

Lohen sudah tidak bisa membalas, dia sangat suka cara Varka menggerakkan knot-nya. Dia tidak tahu bahwa alpha bisa melakukan ini, biasanya mereka akan menunggu knotnya kempes baru dilanjutkan. Senyum di wajah Lohen sulit disembunyikan, ia sangat sangat suka setiap kali Varka berkata ingin menghamilinya.

 

Kamar Lohen dan nest yang ia bangun kini tidak hanya dipenuhi feromon Lohen tapi juga tercampur dengan Varka, untuk omega yang sedang heat ini adalah kesempurnaan. Di sisi lain, alpha Varka yang kebingungan kenapa rut-nya muncul 2 bulan lebih awal mulai mencari alasan kenapa ini terjadi. Isi pikirannya yang berkecamuk tercampur dengan feromon Lohen dan daging ketat yang membungkus penisnya membuat Varka sulit berpikir. Di tengah-tengah angin ribut di kepalanya, buku berwarna pink itu muncul di benaknya.

 

Mate.

 

Fated mate.

 

Alam bawah sadar Varka seakan bersorak riang ketika menyadari ini, ia menemukan omega yang ditakdirkan untuknya. Varka menatap kelenjar feromon Lohen yang sedari tadi ia hindari untuk ia gigit sepenuhnya, suara desahan keluar dari mulut Lohen ketika merasakan nafas Varka dan air liurnya yang menetes di atas kelenjar itu. 

 

Taring Varka kembali gatal.

 

Varka menjilat tengkuk Lohen, ia menunggu reaksi apakah omega di bawahnya ini akan mempersembahkan diri kepaadnya atau tidak. Alih-alih menghindar, Lohen merenggangkan lehernya, mempamerkan tengkuk penuh gigitan itu kepada Varka seakan berjalan ke dalam rahang hewan buas yang kelaparan.

 

Daging panas, mangsa hidup yang mempersembahkan dirinya, Lohen adalah apa yang Varka damba selama ini.

 

Ketika kelenjar perawan itu ditembus oleh taring tajam dan memancarkan darah segar ke dalam mulut sang Alpha, seperti ada kembang api yang meletus riuh di dalam hati omega yang kelaparan itu.

 


 

Pergumulan mereka… intens.

 

Butuh dua hari sampai rut Varka mereda, butuh tiga hari sampai heat Lohen mereda. Selama kejadian itu, yang lemas tidak hanya Lohen, Varka juga menjadi korban. Bahkan saat isi buah zakar Varka sudah kering, Lohen akan memaksa Varka untuk memasukkan sekali lagi.

 

Ketika kepalanya sedikit waras dan tidak dipenuhi feromon, ia merasa seperti Varka lah yang sedang dijebak oleh Lohen saat ini—

 

“Kamu mikirin apa?”

 

Varka menoleh cepat melihat Lohen di pelukannya, “Hmm? Ngga gapapa. Kamu mau mandi atau minum? Harusnya besok udah normal lagi.”

 

“Mau dinikahin Varka terus hamil.”

 

Lohen sepertinya belum sepenuhnya waras. Varka lanjut memeluk tubuh Lohen yang sudah ia bungkus seperti kepompong di dalam selimut agar tidak bisa menerjang Varka lagi. Varka menghirup udara di kamar Lohen yang kini penuh dengan baju kotor mereka berdua. Varka jadi teringat kembali, feromon yang familiar ini walaupun ia tidak terlalu ingat, sepertinya memang sama dengan feromon yang ia cium ketika rut, apa artinya ketika ia ke toilet, Lohen—

 

“Kamu mikirin apa?”

 

Varka terdiam menatap Lohen yang menatapnya dengan tatapan sayu dan senyum polos.

 

Varka mengecup kening Lohen, “Mikir nikah terus hamilin kamu.”

 

Lohen memekik senang dan bergoyang di dalam kepompongnya, “Yey!”

 

Sepertinya memang ada beberapa hal yang tidak perlu Varka cari tahu lebih dalam.

 




Epilogue

 

“Eh bang Varka, selamat ya pecah telornya, semoga bahagia terus sama Lohen.”

 

“...Dliuc, kok lu tau gue jadian sama Lohen.”

 

“Ah itu… kemaren waktu abang minta pil KB sama suppressant rut, kedengeran satu tongkrongan soalnya disambungin ke speaker warung sama Kaeya.”

Notes:

Please leave kudos and comments supaya aku terus semangat berkarya~~~