Actions

Work Header

Di Balik Jeruji

Summary:

“Sipir baru ya?” Tanya Soonyoung kepada teman satu selnya—Minghao.

Notes:

commissioned by anonymous

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sudah dua tahun, Soonyoung menghabiskan hari-harinya di balik jeruji salah satu rutan high risk. Bukan tanpa alasan dia bisa berakhir di sini, dan tentu bukan alasan sederhana juga yang membawanya masuk ke sini.

Soonyoung tertangkap basah menjadi pengedar narkoba, di sebuah warung kecil pinggir jalan. Warung yang tampak biasa saja dari luar, tapi di dalamnya menyimpan transaksi gelap yang menyeretnya sampai sejauh ini.

Hidup di rutan tentu tidak ada yang spesial, hari-harinya berlalu begitu saja. Isinya hanya rehabilitasi, yang Soonyoung sudah hafal di luar kepala.

Dan seperti biasa, saat jam makan siang tiba satu atau dua orang sipir akan masuk dan memberikan makanan kepada para narapidana yang ada di dalam rutan.

“Sipir baru ya?” Tanya Soonyoung kepada teman satu selnya—Minghao.

Pertanyaan itu dilontarkan bukan tanpa alasan, sudah dua tahun dan setiap hari berada di tempat yang sama jelas membuat Soonyoung hafal di luar kepala siapa saja yang biasanya keluar masuk. Tapi sipir dengan hidung bangir, mata yang tajam, rahang yang tegas, serta bahu yang lebar baru Soonyoung sadari kehadirannya.

“Kayanya iya, gue juga baru lihat” Jawab Minghao, sambil menyantap makan siangnya ogah-ogahan. “Kaya makanan bebek njir”

Sedangkan Soonyoung, dia masih sibuk menatap sipir berbahu lebar itu sedang menggertak beberapa narapidana lain. Dia seakan tersihir oleh tatapan tajam dari sipir tadi.

“Heh! Malah bengong!” Minghao menyenggol bahu Soonyoung dan membuatnya terkejut. Seolah dia baru sadar dari hipnotis karena si sipir berbahu lebar itu.

Dan jujur saja, untuk pertama kalinya setelah sekian lama perasaan Soonyoung agak sedikit berbeda.

Rasa penasaran, mungkin.

Semenjak kejadian hari itu, jam makan adalah waktu yang paling ditunggu Soonyoung.

Sesekali Soonyoung akan menggoda sang sipir—yang perlahan Soonyoung ketahui namanya Wonwoo.

Soonyoung sering melemparkan perkataan konyol, “Sayur lagi? Bosen ah, Kalo makan bapak boleh gak?” Jelas pertanyaan itu hanya diabaikan oleh Wonwoo.

Tapi Soonyoung tetaplah Soonyoung, dia tidak menyerah. Terkadang Soonyoung berpura-pura sakit, “Aduh pak, Gigi saya sakit tolong elusin pipinya” Dan Soonyoung akan terkekeh jika Wonwoo hanya melewatinya begitu saja, tidak ada maksud tertentu hanya ingin menggoda saja.

“Jangan-jangan Pak Wonwoo kaga doyan lakik, Nyong” Celetuk Minghao yang membuat alis Soonyoung berkerut, “Kata siapa?”

“Abisnya, lo godain segitunya juga ga mempan. Coba lo godain Pak Seungcheol, langsung diterkam,” Perkataan Minghao ada benarnya, sudah menjadi rahasia umum di awal Soonyoung masuk rutan dia sempat menjalin ‘hubungan’ dengan salah satu petinggi rutan, sebelum akhirnya beliau dipindah tugaskan.

“Ah, Pak Wonwoo belom tau aja dalem gue gimana” Soonyoung menjawab dengan senyuman miring di bibirnya. “Entar kalo udah tau juga nagih hahaha”

“Pegang omongan gue dah, kalo lo bisa ngewe sama Pak Wonwoo jatah piket lo sebulan biar gue yang jalanin” Minghao tahu betul teman satu selnya ini sangat nekat, dan dia bisa melihat senyum jahil dari muka Soonyoung.

“Tawaran yang menarik” Jawabnya.

Dan sejak perjanjian itu, Soonyoung semakin menjadi. Dia tidak segan menggoda Wonwoo di mana pun itu, entah ketika Wonwoo lewat di depan selnya, ketika jam makan, bahkan Soonyoung tidak segan melempar tatapan dan senyuman usil ketika para napi sedang berkumpul untuk kegiatan.

“Pak Wonwoo, ganteng banget hari ini” Suara Soonyoung menggema di lorong sel, menimbulkan tawa dari beberapa napi lain akhir-akhir ini.

Sedangkan Wonwoo— dia tidak peduli, tatapannya lurus ke depan seakan Soonyoung hannyalah angin lalu.

“Yakin lo bisa ngewe sama Pak Wonwoo, Nyong? Digodain juga diem aja tuh orangnya” Minghao tertawa remeh di depan Soonyoung.

“Yakin gue, Cuma belom nemu cara yang pas aja” Alis Soonyoung berkerut memikirkan taktik apa yang selanjutnya harus dia pakai, demi taruhan konyolnya bersama Minghao. Soonyoung memang tipe orang yang gampang penasaran dan ambisius, jadi merasa ini adalah sebuah tantangan yang harus dia selesaikan.

BRAKKK

Minghao terjingkat kaget, ketika Soonyoung di depannya menggebrak meja. “Gue ada ide, tapi lo harus ikutin ide gue ini”

Soonyoung mengucapkan itu dengan mata berbinar. Merasa akan diseret ke dalam sebuah ‘jebakan’ Minghao menggelengkan kepalanya kuat, sebelum Soonyoung menjelaskan apa rencana yang ada di kepalanya.

“Ogah ya anjing” Minghao menolak mentah-mentah, tapi Soonyoung tidak tinggal diam melihat penolakkan dari temannya itu.

Soonyoung harus membuat penawaran jika begini caranya, “Kalo cara gue ini berhasil, lupain taruhan piket itu. Yang penting gue berhasil ngewe sama Pak Wonwoo, deal?”

Soonyoung mengulurkan tangannya ke depan Minghao, sempat dilirik ragu sampai sebelumnya tangan Soonyoung disambut oleh tangan Minghao.

Soonyoung tersenyum miring, “Tunggu tanggal mainnya” Ucapnya dalam hati.

Hari ini jadwal sel Soonyoung dijaga oleh Wonwoo.

Pagi ini Wonwoo akan bertugas seperti biasa, mengawasi Soonyoung dan teman satu selnya itu. Wonwoo tentu juga bertanggung jawab atas jam makan siang mereka.

Tapi pagi ini, begitu Wonwoo masuk dan sudah siap berjaga dia samar-samar mendengar suara desahan dari dalam bilik sel. Sempat mengira salah dengar, karena siapa yang akan bersenggama sepagi ini?

Yang tadi Wonwoo kira dia salah dengar, begitu masuk mengamati semua narapidana di sekitar ruangan itu mata Wonwoo sedikit membelalak terkejut.

Begitu Wonwoo di depan sel Soonyoung dan Minghao dia berhenti. Di sana Wonwoo melihat posisi keduanya sangat tidak sopan untuk dilihat. Soonyoung sekarang sedang berada di atas pangkuan Minghao, dan tangan Minghao dengan telaten memegang dan mengelus pinggang ramping milik Soonyoung. Bibir keduanya saling beradu diselingi desahan kecil yang merdu.

Melihat adegan itu darah di tubuh Wonwoo sedikit mendesir, bulu kuduknya berdiri. Dan semakin menjadi ketika Wonwoo melihat Soonyoung dan Minghao mulai saling menyilangkan kaki mereka. Dan desahan keduanya juga semakin keras, ketika Soonyoung dan Minghao mulai menggerakkan pinggul masing-masing.

“Ahhh.... Hao...nghhh” Soonyoung meracau hebat di tengah pergumulan itu, bersahutan dengan suara desahan Minghao. “Nghhh, enak Nyong hhhh”

Tanpa Wonwoo sadar, dia malah mengamati sesi make out keduanya— dan itu membuat sesuatu dalam diri Wonwoo berdiri tegak selain keadilan.

Soonyoung dan Minghao masih sibuk mendesahkan nama mereka masing-masing, keduanya juga sadar ada Wonwoo yang diam-diam menonton mereka sambil tangannya mulai turun ke bawah, ke area selangkangan.

“Ahhhhh..... Minghao hhhh” Soonyoung mendesah panjang, pertanda dia sudah menjemput putihnya. Tapi Minghao masih menggerakkan pinggulnya, “Bentar ahh, Nyong ahh” Soonyoung yang masih sensitif pun tubuhnya bergetar, menikmati kenikmatan yang tiada tara. Sampai akhirnya Minghao ikut bergetar, dan selangkangan keduanya basah.

Keduanya tersenyum, bersamaan dengan suara pintu ditutup yang artinya ada orang baru saja keluar. Dan mereka tahu itu adalah Wonwoo.

Di luar, Wonwoo bergegas lari ke kamar mandi, benar-benar di luar nalar. Wonwoo terangsang karena desahan Soonyoung dan Minghao, ditambah dengan jelas Wonwoo bisa melihat bagaimana ekspresi keenakan dari Soonyoung— dengan nafas terengah dan wajah memerah serta keringat membanjirinya. Semua terekam jelas di kepala Wonwoo.

Suara desahan Soonyoung seakan bergema dan terus berputar di telinga serta kepalanya.

Begitu Wonwoo masuk ke kamar mandi dan memastikan pintu sudah terkunci, dia segera duduk di kloset yang sudah dia tutup itu. Tangannya mulai mengelus pelan gundukan penisnya yang sudah mulai berontak minta dikeluarkan.

Suara desahan rendah mulai sayup-sayup terdengar diudara, bersamaan dengan Wonwoo yang sedang meremas pelan kejantanannya mencari kenikmatan. Penis yang dia jamah dari luar celana itu lama-lama semakin berontak, minta dibebaskan seakan kurang cukup.

Dengan cepat Wonwoo menurunkan celana, dan membebaskan penisnya. Penis itu mengacung tinggi begitu celana seragam Wonwoo sudah lepas.

“Mhh nghh” Wonwoo mendesah, sambil tangannya terus mengelus kepala penisnya sendiri. Masih terekam jelas bagaimana wajah keenakan dan suara desahan Soonyoung. Kedua hal itu yang membuat Wonwoo semakin terangsang.

Tangan yang tadinya hanya mengelus penisnya, kini perlahan mulai memompanya. “Nghh... Ahhh, Soonyoung...” Wonwoo mulai kehilangan akal, dia mulai menyebut nama Soonyoung di tengah desahannya.

Kocokan penis di tangannya mulai mengacak, kadang cepat kadang pelan menyesuaikan kenikmatannya sendiri. Sedangkan kepala Wonwoo mulai membayangkan fantasi jorok bersama Soonyoung.

Wonwoo, sipir yang dikenal ta’at peraturan ternyata seperti ini kelakuaannya—mendesahkan nama napi yang ada di sel.

“Ahh... mhhh” Wonwoo masih sibuk mendesah sambil mengocok kejantanannya. “Ahh... sepongin, Nyong” Racauan itu semakin liar, bersamaan dengan jempolnya sendiri yang sedang mengusap kepala penisnya.

Wonwoo seakan sedang terkena kutukan dari Soonyoung, dia tidak bisa berhenti memikirkannya barang sedetik pun. Semakin Wonwoo memikirkan Soonyoung, semakin keras penisnya.

“Ahhhhh..... ahhhhh” Sampai akhirnya desahan panjang dari Wonwoo mulai menggema, dia sudah mencapai putihnya. Bisa Wonwoo lihat spermanya berceceran di sekitar kakinya. Dengan nafas yang masih tersengal, dan keringat membanjiri wajahnya Wonwoo mencoba sadar dari tingginya sebelum dia harus membersihkan kamar mandi ini dan kembali bertugas.

Persetan ada orang yang dengar, salahkan Soonyoung yang buat Wonwoo begini.

Soonyoung tersenyum miring melihat Wonwoo yang kembali dari tempat jaga, dan keadaannya masih bisa dilihat sedikit kacau— wajahnya masih basah karena keringat dan nafasnya masih tersengal.

“Pak” Soonyoung memanggil Wonwoo, membuat Wonwoo menaruh atensi kepadanya walau hanya sekedar menoleh pelan.

Tapi Soonyoung malah tertawa, “Gapapa” Wonwoo sebetulnya paham Soonyoung sedang mengejeknya karena ketahuan coli di kamar mandi. Tapi dia memilih pura-pura bodoh di depan Soonyoung.

Setelah hari itu, Soonyoung semakin gemar menggoda Wonwoo. Dia semakin berani setelah tahu ternyata Wonwoo gampang digoda, mungkin sebentar lagi hari itu akan tiba.

“Makan” Ucap Wonwoo saat memberikan piring berisi makanan kepada Soonyoung dan dibalas, “Mau disuapin Pak Wonwoo...” sengaja dengan suara mendayu. “Kalo ga disuapin ga mau makan” Soonyoung pura-pura merajuk, “Suapin satu sendok aja gapapa” Dia masih berusaha membujuk Wonwoo.

“Sini” Wonwoo mengalah, dan menggapai sendok itu lalu mengarahkannya ke Soonyoung. Soonyoung tentu menerimanya dengan senang hati, dia tersenyum manis sampai matanya hilang. Tanpa sadar senyum Soonyoung membuat Wonwoo ikut tersenyum.

Minghao yang sejak tadi di sebelah mereka, pura-pura tidak melihat.

Malam pun tiba, Soonyoung dan Minghao belum bisa tidur—biasanya mereka akan mengobrol sampai bisa tidur.

“Kayanya, rencana kemarin kurang gacor” Soonyoung bergumam, “Soalnya belom diajak ngewe”

Perkataan Soonyoung membuat Minghao menoyor kepalanya, “Orang gila mana yang terang-terangan ngajak orang lain ngewe sih Nyong? Kecuali elu pacarnya.”

“Kenapa seakan-akan jadi ajang perlombaan sih, Nyong?” Tanya Minghao, karena dia sangat penasaran apa yang ada di otak temannya itu. Soonyoung tersenyum sebelum menjawab, “Sayang aja ga diajak ngewe, kemarin dia abis coli gue liat masih ngaceng. Gede banget anjing” Minghao menggeleng karena jawaban Soonyoung, “Kaya orang nafsuan” Soonyoung tertawa.

“Ya kalo beneran gede mah enak, apalagi kalo lebih gede dari Pak Seungcheol. Rela deh gue tinggalin Pak Seungcheol, buat Pak Wonwoo” Soonyoung mengucapkan itu semua dengan senyum lebar seakan tidak ada yang salah dari perkataannya.

“Udah tidur, memek lo basah noh” Minghao melempar bantal ke arah Soonyoung yang sedang membayangkan fantasi jorok kepada sipir-sipir yang ada di sana. “Kenapa lo ga caper aja Nyong? Cari ribut sama orang, entar kan dipanggil ke kantor tuh. Nah lo godain aja di sana” Walau Minghao sering tidak habis pikir dengan isi kepala Soonyoung, tapi dia senantiasa membantu apapun yang ingin Soonyoung lakukan.

“Bener juga, besok dah gue ajak ribut anak sebelah” Soonyoung tersenyum penuh menang, tidak sabar menunggu hari esok.

Ingat, Soonyoung bukan tipe orang yang suka omong kosong. Apa yang sudah dia rencanakan akan benar-benar dia lakukan.

Pagi ini, setelah semua narapidana dan petugas rutan menyelesaikan senam pagi bersama. Tiba-tiba suara Soonyoung menggelegar di tengah lapangan, bersahutan dengan suara salah satu napi lain yang dikenal memang gampang buat onar.

Menurut saksi mata, memang dari awal senam Soonyoung lah yang cari gara-gara. Dia terus-terusan menyenggol orang itu, sampai akhirnya batas sabar orang tersebut benar-benar habis dan dia sempat mendorong Soonyoung. Soonyoung meneriaki namanya, seakan tidak terima—tanpa ada orang tahu jika semua ini adalah bagian dari rencana liciknya.

Rencana Soonyoung berjalan mulus, sekarang dia sedang dituntun Wonwoo menuju kantor guna diinterogasi apa maksud dan tujuan Soonyoung buat onar.

Begitu Soonyoung masuk dan duduk dia tidak terlihat merasa bersalah, justru kakinya disilangkan dan bibirnya tersenyum lebar.

“Ngapain kamu bikin ribut kaya tadi?” Wonwoo bertanya, suaranya yang rendah malah membuat Soonyoung semakin tersenyum.

“Biar bisa ketemu bapak lah” Soonyoung menjawab masih dengan senyum tengil di wajahnya, “Ogah banget saya masuk kantor gini kalo bukan sama bapak” Tak hanya senyum, alis Soonyoung mulai naik turun.

Wonwoo menghela nafas panjang, dia berusaha profesional walau kesabarannya mulai menipis. “Serius, bukan waktunya main-main” Ucap Wonwoo dengan sedikit menggertak Soonyoung, yang digertak justru hanya terkekeh.

Soonyoung mencondongkan tubuhnya ke meja, dan menumpukan sikunya di sana. “Beneran, Emang mau ketemu orang ganteng harus ada alasan khusus dan resmi?” Bibirnya tersenyum miring, ditambah bisa Soonyoung lihat Wonwoo mulai memijit pangkal hidungnya—tempat kacamatanya biasa bertengger.

“Di sini ada cctv ga sih, pak?” Tanya Soonyoung sambil menatap sekeliling ruangan Wonwoo.

“Ada...” Wonwoo membalas dengan nada dan tatapan yang terkesan malas—tanpa orang tahu sebenarnya Wonwoo takut jika Soonyoung nekat melakukan hal yang di luar prediksinya.

“Yah ga bisa enak-enak di sini dong?” Benar saja firasat Wonwoo, Soonyoung mulai berdiri di belakangnya, dan tangannya mulai menggerayangi pundak lebar Wonwoo. “Atau mungkin bisa aja enak-enak di sini sambil direkam cctv” Soonyoung mengatakan kalimat itu di dekat kuping Wonwoo, wajah mereka sudah sedekat nadi bahkan nafas Soonyoung terasa berhembus di Wonwoo. Dan itu membuat bulu kuduk Wonwoo berdiri perlahan.

Seolah tidak habis melakukan apa-apa, Soonyoung kembali berjalan menatap sekeliling dan berakhir duduk di tempat awalnya. “Perasaan adem pak, bapak kenapa keringetan gitu ga?” Soonyoung benar, dahi Wonwoo mulai mengeluarkan bintik keringat—yang jelas karena Soonyoung penyebabnya.

Wonwoo bisa melihat, Soonyoung tersenyum menatapnya dari seberang sana—senyum yang terlihat menjengkelkan. Bagaimana bisa, penis Wonwoo kini mulai perlahan berdiri karena melihat senyum Soonyoung. Atau mungkin dia teringat momen di mana Soonyoung mendesah kemarin.

“Kenapa sih pak?” Soonyoung seakan sedang memancing Wonwoo, dan akhirnya dia mulai bangun lalu berjalan ke arah Wonwoo. Entah bagaimana ceritanya, Soonyoung sudah menempatkan dirinya di pangkuan Wonwoo. “Gini kan enak duduknya berdua ya pak?”

Wonwoo tidak menjawab, dia berusaha menelan ludahnya perlahan. Di jarak sedekat ini, Wonwoo bisa melihat kulit bersih Soonyoung. Dia termasuk orang yang bisa merawat diri, walau sedang di dalam tahanan.

Kulit itu terasa berkilau di mata Wonwoo, dan seakan memanggil-manggil agar dibelai.

Soonyoung yang di atas Wonwoo juga tidak tinggal diam, tangannya naik ke pundak Wonwoo dan mulai mengalungkannya di leher Wonwoo. Tidak berhenti di sana, Soonyoung yang tadinya duduk menghadap samping mulai merubah posisinya agar duduk menghadap Wonwoo.

Tangan Wonwoo refleks menahan pinggang Soonyoung yang sedang sibuk bergerak menyamankan posisi.

“Dari jauh aja bapak udah ganteng, apalagi sedeket ini” Soonyoung memuji Wonwoo secara terang-terangan, sambil tangannya membelai pahatan-pahatan yang ada di wajah Wonwoo. “Hidungnya juga mancung banget ya ternyata” dan dengan jari mungilnya, Soonyoung mencubit pelan hidung Wonwoo. “Coba aja bapak ga galak, pasti makin banyak yang naksir” Soonyoung terkekeh, merasa lucu dengan apa yang dia katakan.

Karena faktanya memang beberapa napi lain juga sering membicarakan Wonwoo.

“Mata bapak indah, tapi ketutupan kacamata tau. Coba kaya gini” Tangan mungil Soonyoung mulai melepas kacamata yang dari awal membingkai mata rubah Wonwoo. Kacamata itu ditaruh di meja belakangnya. “Nah gini, aduh cakep banget udah boleh dicium belom ya?” Soonyoung semakin ugal-ugalan melihat Wonwoo yang mulai berkeringat.

Benar, tubuh Wonwoo semakin berkeringat. Dia hanya berdoa agar Soonyoung tidak sadar bahwa penisnya sudah berdiri di atas sana—tapi mustahil. Karena sekarang Soonyoung mulai menggerakkan pinggulnya menggoda ereksi Wonwoo.

“Boleh dicium gak?” Soonyoung bertanya sekali lagi—masih sambil menggoyangkan pinggulnya pelan. Dan entah setan dari mana, Wonwoo menganggukkan kepalanya.

Tangan Soonyoung mulai membelai bibir tipis Wonwoo, sambil menatapnya dengan intens. Tubuh Wonwoo tidak bisa bohong, sekarang bulu kuduknya mulai berdiri juga.

Seakan sudah puas membelai bibir itu, Soonyoung mulai mendekatkan wajahnya. Melihat itu Wonwoo memejamkan matanya, sampai akhirnya dia bisa merasakan sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya. Begitu dia buka mata, di depannya wajah Soonyoung. Benar-benar sedekat itu. Membuat Wonwoo menahan nafasnya.

Merasa ciumannya tidak dibalas, Soonyoung mulai mengigit bibir Wonwoo agar bisa memaksa lidahnya masuk ke sana.

Dan benar saja, ketika Soonyoung menggigitnya pelan Wonwoo mulai membuka bibirnya. Ini kesempatan emas untuk Soonyoung, dia mulai memaksa lidahnya untuk masuk dan menggelut lidah lawannya.

Wonwoo sempat kewalahan, tangannya mulai mencengkram baju tahanan Soonyoung pelan. Sebelum akhirnya dia bisa menyesuaikan ciuman Soonyoung.

Ciuman itu terasa sangat panas bagi keduanya, bagaimana cara mereka saling membelit lidah dan mengecap satu sama lain. Seakan tidak ada keraguan di antara mereka, keduanya begitu menikmati waktu bersama.

Tangan Soonyoung yang tadinya diam bertengger di bahu Wonwoo, sekarang mulai membelai sisi wajah Wonwoo. Sesekali Soonyoung juga mendorong tengkuk Wonwoo agar ciumannya semakin dalam. “Nghhh” Soonyoung mulai melenguh, karena tangan Wonwoo mulai membelai permukaan kulitnya di balik kaos.

Tangan Wonwoo bergerilya di sekitar pinggang dan perut Soonyoung, sambil mulut mereka masih saling membelit. Keduanya melenguh sesekali. “Mphhh...” Suara Wonwoo yang rendah dan dengan jarak sedekat ini membuat Soonyoung ikutan merinding.

Nafas mereka mulai habis, dan keduanya melepas bibir itu. Bisa diliat bibir keduanya mengkilap, karena saling bertukar air liur.

“Bapak tahu gak? Aku punyanya memek” Soonyoung kembali menggoda Wonwoo dengan kata-kata vulgarnya. Tapi sekarang Wonwoo meresponnya, “Oh ya? Mana lihat” Dengan kesan menantang, Wonwoo mengangkat Soonyoung dan mendudukkannya di meja kerjanya. Soonyoung tersenyum lebar melihat respon Wonwoo.

Tangan Wonwoo mulai menarik celana Soonyoung perlahan, hingga Soonyoung setengah telanjang. Mata Wonwoo berbinar dengan apa yang dia lihat, “Beneran memek” Keduanya terkekeh. Tangan Wonwoo mulai jahil, membelai dan membuka labia vagina Soonyoung. Soonyoung hanya bisa mengigit bibirnya merasakan sentuhan dari Wonwoo.

Wajah Wonwoo sangat dekat dengan permukaan vagina Soonyoung, dia bisa merasakan nafas hangat Wonwoo berhembus. Itu membuat klitorisnya berdiri.

“Udah ngacung nih” Wonwoo mencubit tonjolan itu sambil terkekeh, sedangkan Soonyoung hanya bisa mendesah sambil menggigit bibirnya. “Ahh... Pak...”

“Mau apa?” Tanya Wonwoo, tangannya masih setia membelai vagina milik lelaki kecil itu.

“Masukkin.... ngghhh” Soonyoung mendesah, dia mulai menggapai tangan Wonwoo yang ada di selangkangannya dan memaksa tangan itu untuk mengucek vaginanya. “Ahhh ahh....”Dia mendesah kencang akibat ulahnya sendiri.

“Eh nakal ya...” Wonwoo sengaja menarik tangannya, dan membuat Soonyoung menghela nafas kecewa. “Mau dimasukkin gimana sih? Gini?” Wonwoo mulai memasukkan jarinya ke dalam vagina Soonyoung, tentu saja langsung disambut hangat dan pijatan dari dinding vagina itu. Soonyoung mendesah keenakan, seakan merasakan sebuah kenikmatan yang tidak ada tandingannya.

Karena terlalu nikmat, Soonyoung sampai di puncaknya dengan cepat. Vagina Soonyoung mengeluarkan cairan yang membasahi jari serta meja kerja Wonwoo. “Loh udah ngecrot” Wonwoo menggoda Soonyoung yang masih gemetar dengan menarik jarinya dari sana.

“Masukkin kontol ya?” Walau Soonyoung belum sepenuhnya sadar, dia mengangguk menjawab pertanyaan Wonwoo. Sementara Wonwoo, sibuk membuka celananya. Keduanya sama-sama setengah telanjang.

Wonwoo mulai memosisikan penisnya di depan vagina Soonyoung, sambil mengocoknya. Bisa Soonyoung lihat penis itu sangat besar, berbeda dengan milik Pak Seungcheol yang dari usia pun beda dengan Wonwoo.

“Ahhhhh.....” Keduanya mendesah panjang begitu Wonwoo berhasil memasukkan penisnya ke dalam vagina Soonyoung. “Boleh digerakkin ga, cantik?” Tanya Wonwoo dengan lembut sambil membelai wajah Soonyoung.

“Nghhh... gerakin pak...” Setelah mendapatkan lampu hijau, Wonwoo mulai menggerakkan pinggulnya memasukkan penisnya ke dalam vagina Soonyoung.

Tubuh Soonyoung terhentak-hentak seirama dengan hentakkan Wonwoo di pinggulnya. “Ahh ahhh.... enak nghhh” Soonyoung meracau hebat.

Setelah cukup lama, Wonwoo mulai merasakan penisnya dijepit dengan erat oleh dinding vagina Soonyoung—tandanya sebentar lagi Soonyoung akan sampai puncaknya.

Dan Soonyoung pun bisa merasakan penis Wonwoo semakin besar di dalam sana. “Ahhh ahhh... kayanya... ahh.. mau sampai ahhh...” Wonwoo dibuat semakin semangat dengan desahan Soonyoung.

Sampai akhirnya tubuh keduanya bergetar, Soonyoung menyemburkan cairan dari vaginanya. Begitu juga Wonwoo, dia menyemburkan putihnya di dalam vagina Soonyoung.

Keduanya dengan nafas terengah saling memandang dan tersenyum, “Enak gak pak?” Tanya Soonyoung dan dijawab anggukkan oleh Wonwoo.

Setelah keduanya membereskan keadaan yang kacau, Soonyoung dituntun keluar oleh Wonwoo. “Itu yang di cctv jangan lupa dihapus, apa mau dipindah ke flashdisk buat coli?”

—Fin.

Notes:

terima kasih kakak anon baik yang sudah mempercayakan prompt kerennya kepadaku, semoga kakak suka dan juga bisa menghibur teman-teman yang lain <3