Work Text:
“Adek, minta tolong bukain pintunya, dek! Bunda pesen galon sama gas tadi!”
Mydei suka sekali pulang ke rumah.
Di mana ia bisa kembali tidur di kamarnya yang didesain sedemikian rupa oleh ibunya, demi menyenangkan hati anaknya. Di mana ia bisa membantu ayahnya memasak, yang kini menjadi satu-satunya kesempatan ayah dan anak itu akur. Dan kalau kakaknya nggak ikutan pulang juga, maka Mydei benar-benar menjadi penguasa rumah. Baby boss, kata kakaknya.
”Iya, ini turun!” seru Mydei seraya berjalan ke luar. Hanya dengan balutan kaos singlet nerawang miliknya yang menipis akibat terlalu sering dipakai dan juga kolor kependekan karena itu kolor kesayangannya sejak SMP, Mydei membuka pintu dengan mantap.
”Air, Bu Gorgo—eh?” sapaan riang mas-mas galon di hadapannya itu terhenti seketika kala bertemu tatap dengan Mydei. “Anaknya Bu Gorgo, ya? Ini Ibu tadi pesen galon sama gas, mas.” jelasnya sopan sambil tersenyum.
Oh, bertambah satu lagi alasan Mydei suka pulang ke rumah.
”Iya,” jawab Mydei canggung. “Jangan panggil mas. Kayaknya juga tuaan mas daripada aku.” lanjutnya pelan setengah malu-malu dan sedikit lagi pasti malu-maluin.
”Oooh, yawes, panggil adek boleh?” mas-mas galon itu melempar kedipan jahil ke arahnya dan bisa-bisanya tertawa ketika Mydei mendelik salah tingkah. “Adek cantik.”
Biasanya nggak pernah ada yang berani genit ke Mydei karena takut dipiting oleh kedua lengan kekarnya yang menjadi bukti kehadirannya setiap hari di gym. Tapi kalau melihat sosok di hadapannya ini—yang sama besarnya bahkan lebih tinggi sedikit daripada Mydei—sepertinya ia bisa lah mengimbangi Mydei.
Dalam kompetisi memiting satu sama lain, mungkin. Nggak masalah mau di lapangan, di dapur, atau di kasur—
Ada hasrat yang begitu kuat di dalam hati Mydei untuk lompat ke atas pria berambut putih itu, namun targetnya sudah turun dari tossa yang dinaikinya dengan lincah. Tangannya bekerja menurunkan gas dan galon dengan cekatan. “Soale kata Bu Gorgo anak bungsunya masih kecil, belum lulus kuliah.”
”Mana ada kecil.” tukas Mydei galak, membusungkan dadanya secara spontan. Kedua manik biru cerah sang tukang galon itu sontak terkunci pada dadanya yang besar.
Hmph. Nih, perhatiin susuku. Kecil katamu?
”Phainon, Phainon, oh lha bocah malah tebar pesona. Ayo kerja,” panggil Gallagher dari kursi kemudi tossa.
Nah, Mydei kenal kalau Gallagher atau biasa dipanggil Om Galer, ia memang pemilik depo airnya. Lah, yang baru saja beliau panggil Phainon itu? Baru kali ini Mydei melihatnya
”Siap, bos!” Phainon melempar cengiran lebar sebelum mengangkat galon di pundak kirinya dan gas 12 kg di tangan kanannya.
Secara bersamaan.
Tiba-tiba hasrat untuk melemparkan tubuhnya ke pria itu bukan lagi sekadar pikiran penuh sawit di kepala Mydei saja. Ia benar-benar harus mewujudkan program ini dan Mydei jelas bukanlah pria yang suka omon-omon semata seperti seseorang.
”Masuk, Mas Non!” sapa ayahnya begitu Phainon melewati pintu rumahnya. Mydei menoleh terheran-heran. Ayahnya? Menyapa orang lain dengan begitu ramah? (Ramah untuk ukuran Eurypon yang sehari-hari prengat-prengut itu)
”Eh, bapak! Tadi malem kok nggak ke angkringan nobar bola, pak?”
Mydei rasa ia sudah menemukan calon menantu yang tepat untuk kedua orang tuanya, ya kan??
”Bun, kok aku nggak pernah lihat dia.” tuding Mydei ke Phainon.
”Heem, pegawai baru, dek. Baru masuk, nggak lama habis adek balik ke kos.”
Emang seharusnya Mydei nggak usah kuliah. Nggak usah rantau-rantau apaan lah. Di rumah aja, setiap hari beli galon sama gas sambil godain mas-mas galon cakep satu ini tapi tetap sambil pura-pura stecu biar nggak kelihatan gatel banget.
Maka ketika pintu rumah lagi-lagi terbuka dan surai putih Phainon menyembul dari baliknya, Gorgo mengerutkan dahinya bingung. “Perasaan baru kemarin beli galon?”
”Iya, ya. Tapi udah habis tuh, bun?” Mydei menunjuk galon kosong di sampingnya dengan dagunya, lengkap dengan ekspresi watadosnya.
”Dek, Bunda tahu adek minumnya banyak, bagus emang banyak minum air putih. Tapi semua itu harus dalam batas sewajarnya, dek….”
”Iya. Tapi panas banget dari kemarin, bun.” jawab Mydei seadanya. Bundanya nggak perlu tahu kalau galon milik mereka diam-diam Mydei bagikan ke tetangga-tetangganya. “Udah Bunda masuk aja, di dalem adem, biar adek yang urus ini.”
Maka ketika sang ibunda masuk ke kamarnya, ia menghela napas lega. Takut keceplosan kalau sekarang ia mandi pakai air galon juga. Supaya berasa menjadi artis yang mandinya pakai air galon.
Apalagi air galonnya yang isi Phainon. Beuh, Mydei bisa sekalian membayangkan kalau Phainon yang memandikannya, membasuh tubuhnya dengan airnya itu. Mandi bersama sampai seisi rumah banjir, kecipak kecipuk bermesraan main air, oh indahnya….
”Galonnnn~” suara Phainon bersenandung riang memasuki indra pendengaran Mydei dan itulah pertanda baginya untuk melancarkan misi hari ini.
Rencana pertama: Mydei seketika buru-buru melipat singletnya yang aslinya sudah kependekan itu, menjadi lebih pendek lagi hingga separuh perutnya terbuka. Low budget crop top.
Rencana kedua: Celana pendeknya yang sudah ia kenakan ala low waisted itu pun ia turunkan lagi hingga kedua sisi celana dalamnya terpampang nyata.
Rencana ketiga: Pura-pura stecu dengan kipas-kipas pakai singletnya itu supaya Mydei bisa diam-diam pamer susunya tanpa kelihatan yang gatel banget gitu.
“Haii, adeek,” sapa Phainon riang, menaruh galon di hadapan Mydei dengan santai. Perlu beberapa detik baginya untuk benar-benar menangkap umpan yang Mydei lemparkan dengan susah payah itu. Tukang galon itu lantas tesenyum, tetapi senyumannya kali ini bukan senyuman ceria yang biasa ia berikan. “Sumuk yo, dek?”
”Banget,” respon Mydei masih pura-pura stecu. “Panas, mas, habis keliling? Mau minum dulu nggak?”
Tanpa menunggu respon dari Phainon, Mydei segera berbalik lalu mengambil botol air mineral dari dalam dus yang sengaja ia letakkan di bawah meja. Bokong sintalnya yang hanya dibalut celana super pendek itu nampak jelas di kedua mata Phainon ketika Mydei membungkuk dan menungging untuk meraih botol itu dengan penuh susah payah; yang sengaja ia lama-lamakan supaya menarik minat dan bakat tersembunyi tukang galon cakep di hadapannya itu.
”Minum, mas.” ujar Mydei menyodorkan botol itu tepat di depan muka Phainon. Meski yang diberi itu masih mengunci tatapannya pada bokong Mydei dan bukan pada botol di hadapannya.
”Suwun ya, dek.” ucap Phainon akhirnya menerima botol itu. Tangannya bersentuhan dengan tangan Mydei sedikit terlalu lama ketika pandangannya beralih ke wajah Mydei, sebelum turun di perhentian terakhir, bibirnya.
Nggak salah memang Mydei rajin merawat diri dengan mengoleskan lipbalm ceri berwarna merah itu di bibirnya setiap harinya.
Phainon membuka tutup botol dengan sedikit terlalu keras, meminumnya dengan kuat tanpa memutus pandangannya barang sedetik pun.
Mydei nggak jadi kepingin jadi kucing deh di kehidupan selanjutnya. Dia kepingin jadi bibir botol air mineral aja biar bisa dikokop Phainon.
”Makasih ya, dek,” air di botol itu habis seketika. Nampaknya Phainon sama hausnya seperti Mydei. “Mas balik sek, ya?”
Setengah mati Mydei menahan diri untuk tidak mencucu. “Buru-buru? Sini aku aja yang buangin botolnya, mas.” katanya sambil merebut paksa botol di tangan Phainon.
Padahal alasan saja supaya bisa pegang-pegang tangan besar si tukang galon.
Tangan Mydei diremas sekilas oleh Phainon. “Dadah, adek.”
Rasanya Mydei kepingin jumpalitan seperti Christy no na. “Dadah. Semangat kerjanya, mas.”
Diam-diam Mydei tersenyum puas. Setidaknya hari ini ada peningkatan dari sebelumnya. Hari ini Phainon remas tangan Mydei.
Siapa tahu besok Phainon remas pantatnya, kan?
Mydei sudah menantikan hari ini tiba.
“Udah ya, dek. Bunda sama bapak berangkat. Kamu jangan nakal di rumah.”
Orang tuanya akan ke luar kota selama dua hari dan kapan lagi datang kesempatan emas untuk membuat Phainon menghamili dirinya?
Belum ada kehamilan pria di keluarganya saat ini, tetapi Mydei bersedia menjadi yang pertama.
”Kapan aku pernah nakal coba.” jawab Mydei tanpa mengiyakan perintah ibunya secara langsung.
”Iya, anak pinter emang,” ibunya mengusap rambut Mydei penuh sayang. “Yaudah, berangkat dulu ya, dek. Dadah, adek. Telepon kalo ada apa-apa ya.”
Mydei hanya mengangguk karena ia tahu pasti akan terjadi sesuatu nanti. Karena ia sendiri yang kepingin diapa-apain. Tetapi orang tuanya tidak perlu tahu lah. Mydei sudah besar, ia bisa tangani sendiri.
Buru-buru Mydei masuk ke dalam rumah, mandi kembang dan luluran biar wangi. Berlebihan bahkan menurutnya sendiri, karena ia pun tahu Phainon pasti datang penuh keringat nanti. Ia pun juga akan penuh keringat di akhir. Jika berhasil.
Hanya bermodalkan celana pendek yang kependekan, Mydei pun menunggu kedatangan tukang galon itu dengan tenang. Sengaja membiarkan bagian atas tubuhnya terbuka, tangannya sama sekali tak ada niat mengambil kaos di belakangnya yang ia taruh sembarangan di sofa.
”Galonnn!”
Akhirnya penantian panjang Mydei—33 menit—itu usai. Ia nyaris melompat dari sofanya hanya demi membukakan pintu untuk Phainon.
“Pagi, adek!” sapa Phainon renyah. Pria itu seraya turun dari kemudi tossa lalu mengambil galon pesanan Mydei. “Ibu sama bapak pergi tah, dek? Kok tadi mobilnya lewat.”
”Iya, ke luar kota,” Mydei mengangguk sebelum menambahkan dengan lebih pelan. “Dua hari.”
Phainon melirik Mydei dari atas hingga bawah dengan jeli. Senyumnya tipis namun banyak arti. “Oalahh, sendirian dong nanti?”
Mydei hanya mengangkat bahunya cuek, berharap Phainon menangkap memonya, sebelum menunjuk ke arah tossa di belakang pria itu. “Tumben pagi-pagi udah nganter sendirian. Om Galer mana?”
”Ngapain nyariin Om Galer? Kan udah ada mas di sini?” tukas Phainon tenang, menatap Mydei dalam sebelum masuk dengan kedua galon di tangannya tanpa menunggu izin dari sang pemilik rumah. Mydei sontak mengekor di belakangnya dengan sedikit terburu-buru, perutnya terasa geli.
Sang tukang galon pun berjongkok, melubangi tutup galon dengan pisaunya. Diangkatnya galon itu dengan begitu mudah dan inilah saatnya Mydei beraksi.
Mydei pura-pura terpeleset dan kehilangan keseimbangan.
”Aduh, mas, maaf—“ seru Mydei panik-panik ajaib akibat rencananya sendiri. Ia terhuyung-huyung ke depan hingga menabrak Phainon. Phainon meski jelas terkejut, dengan sigap ia tangkap Mydei di pinggangnya dengan satu tangannya dan satunya lagi mengangkat galonnya tinggi-tinggi menjauhi Mydei.
Namun, Mydei lebih cepat dan dewi fortuna berada pada pihaknya.
Tanpa dilihat oleh siapapun, tangan Mydei menarik tutup galon dengan kuat dan kilat hingga ketika galon itu diangkat tinggi-tinggi oleh Phainon. Airnya pun tumpah membasahi mereka berdua.
Ah, akhirnya mimpi basah Mydei jadi kenyataan.
Keduanya jatuh dalam keheningan hingga bulir air terakhir jatuh di bibir Mydei. Kedua tangannya masih ia kalungkan ke leher Phainon dan tangan Phainon pun masih melingkar dengan erat di pinggangnya.
Mydei meneguk setetes air itu dengan pipi yang memanas.
Phainon mengerjap berulang kali. “Eh, Ya Gusti, adek, maaf…. Iki kok tutupe iso ucul sih…..”
Mydei tersedak gugup. “Nggak apa, mas—“ ucapannya terpotong ketika ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya, ia lupa bahwa lantai di bawahnya licin karena basah. Kali ini Mydei benar-benar terpeleset tanpa rekayasa.
Yang sama sekali tidak ia sesali karena kini kedua tangan Phainon merengkuh tubuhnya, mengangkatnya dengan begitu mudah meski masih sambil memegang galon di salah satunya. Mydei bisa merasakan galon itu semakin menempel di punggungnya ketika ia mengaitkan kedua kakinya di tubuh Phainon.
“Adek wangi banget. Habis mandi, ya?” puji Phainon pelan namun seketika sekujur tubuh Mydei merinding karena jarak mereka yang nyaris tak ada itu. Phainon pun tanpa sadar semakin mendekatkan wajahnya, napas hangatnya berhembus tepat di ceruk leher Mydei. “Enak banget.”
Belum juga mulai tapi Mydei sudah kehabisan kata-kata. Ia tenggelamkan wajahnya ke surai putih Phainon. Bibirnya menahan rintihan yang hendak lolos ketika bibir Phainon menyapu leher dan tengkuknya.
”Sorry, cah ayu, sek,” Phainon membenarkan posisi gendongan Mydei di tubuhnya. Sedikit menunduk, galon di tangannya pun akhirnya ia taruh di lantai dengan hati-hati, sebelum kembali fokus menggendong Mydei lalu melangkahi genangan air akibat ulah mereka itu.
“Mas, aku turunin aja lah, berat,” ujar Mydei ketika Phainon sudah membawa mereka ke sudut ruangan yang kering. “Masa digendong mulu.” protesnya mencucu yang sama sekali tidak serius karena Mydei bisa saja dengan mudah melompat turun.
Bukannya malah semakin nemplok macam kadal.
”Yawes, turun sana.” goda Phainon benar-benar melepaskan kedua tangannya dari tubuh Mydei. Alhasil, bukan lagi kadal, kini Mydei berubah menjadi koala.
Atau monyet. Gelantungan di pohon yang bernama Phainon itu.
Mydei mendelik sebal. Sementara Phainon nyengir penuh kemenangan.
”Lho, kok nggak turun?” kekeh Phainon sebelum kedua tangannya kembali memeluk tubuh Mydei. Satu tangannya tepat berada di bokongnya, meremas-remas dengan lembut bak mainan. “Ojo mencucu gitu. Nanti mas sun, lho.”
Giliran Mydei yang membalas sekarang. “Sun lah, kalo berani.” tantangnya penuh percaya diri.
Bahkan nggak sekali pun Mydei pernah kepikiran bakalan dicium Phainon sambil digendong begini di mimpi basahnya. Bibir Phainon menyapu bibir Mydei tanpa aba-aba dan Mydei seketika hanyut dalam sentuhannya.
Satu tangan Phainon meraih rahangnya, mengatur posisi wajah mereka. Jemarinya merambat naik hingga tiba di bibir Mydei, menarik bibir bawahnya hingga mulutnya terbuka sepenuhnya. “Mulutnya dibuka yang lebar, sayang,” titahnya disela-sela ciuman sebelum kembali melumat bibir Mydei. “Adek pinter.”
Nggak lagi Mydei kepikiran pingin jadi botol minum, karena Mydei yakin Phainon saat ini melahapnya jauh lebih rakus dari apapun. Tangan Mydei bergerak ke surai putih Phainon, setengah menjambak tukang galon itu untuk semakin memperdalam ciumannya.
Rasanya tidak nyata ketika ia merasakan lidahnya beradu dengan lidah Phainon yang tidak mau kalah itu, menimbulkan suara lenguhan dari keduanya dan basahnya kecupan yang tidak ada habisnya. Mungkin salah satu wishlist Mydei yaitu ciuman hebat sampai dipisah ketua RT bisa dicoret setelah ini.
”Mas….” Mydei menarik napas panjang ketika bibir Phainon beranjak ke lehernya lagi, menghirup ceruk lehernya dalam-dalam, mengecupnya tanpa henti. Mydei bisa merasakan gigi diantaranya dan jantungnya semakin berdegup kencang. Cupang pertamanya akan segera lahir, begitu pikirnya dengan penuh haru; ketika Phainon benar-benar menancapkan giginya dan mengigit kulit Mydei dengan lembut namun penuh presisi.
Cengkraman rambut Phainon di tangan Mydei semakin mengencang, namun itu sama sekali tidak menggoyahkan si tukang galon.
”Adek sengaja, mesti? Udo, nggak pake baju begini? Biar gampang mas pegang-pegangnya? Iyo? Kepingin dipegang-pegang begini? Sopo meneh wani pegang-pegang kamu selain mas?” serbu Phainon tanpa henti. Bibirnya tanpa henti menciumi seluruh dada Mydei, satu tangannya meremas susu Mydei kuat-kuat hingga Mydei terlonjak kaget. “Hm? Iya nggak? Jawab, adek. Iku mulut bisa buat jawab yang bener, to, nggak cuma buat godain mas tok?”
Phainon menatap Mydei dengan penuh api di kedua matanya. Tatapannya cerah, meski penuh napsu. Tangannya bergerak lincah tanpa henti memainkan susu Mydei. “Kalo iya, emang kenapa, mas—NGGH?!”
Hilang sudah jiwa perlawanan Mydei ketika putingnya dipelintir, dipencet-pencet bak bubble wrap paket. Belum lagi ketika Phainon mengangkat tubuh Mydei semakin tinggi—yang Mydei sendiri kaget bagaimana bisa hal itu terjadi padahal tubuhnya sama berat dan besarnya—lalu sang tukang galon itu menunduk dan menangkap puting sensitif Mydei itu di dalam mulutnya.
”Adek kepingin, ya, susune dikenyot sama mas begini? Pinter emang adek. Susu gedhe iku memang kudu dikenyot,” ujar Phainon parau ditengah-tengah kenyotan mantapnya. “Apalagi susune adek, kenyul-kenyul menggoda ngene.”
Mydei mengangguk-angguk, mengamini semua ucapan si tukang galon meski ia tidak sepenuhnya paham. Dijambaknya surai putih itu sebelum kembali ia dorong ke dadanya yang satunya yang jadi gatal karena kurang perhatian.
“Mas siap kenyot sampe kempes.”
Mungkin di kehidupan lainnya, Mydei adalah sapi yang susunya diperah oleh pemiliknya, Phainon. Mydei harap susunya tidak pernah kempes supaya Phainon bisa terus menyedotnya. Rasanya geli dan luar biasa memusingkan. Mydei menggelinjang ke sana kemari di pelukan Phainon, yang tetap berdiri kokoh sibuk dengan dunianya sendiri.
”Banjir tenan iki, rek,” ucap Phainon bersiul santai seakan ia sedang mengomentari banjir di jalanan dan bukan banjir di memek Mydei yang sekarang sedang ia belai-belai celana basahnya, membuat Mydei merintih penuh frustasi. “Basah opo iki? Basah air galon tadi, dek?” ledeknya jahil.
Mydei tahu mulut Phainon meski sopan, terkadang memang los dol tanpa rem kalau kata orang-orang sini. Namun sekarang terasa semakin menyebalkan karena Mydei sudah bukan kepalang hilang ditelan napsu. Semakin jemari Phainon mengusap celananya, semakin memeknya berkedut bukan main.
”Kan salah mas sendiri?” balas Mydei ditengah-tengah tarikan napasnya. “Yang numpahin galon siapa coba?”
”Mhmm,” Phainon mengangguk-angguk, tangannya masih sibuk memainkan celana Mydei. “Terus mas kudu piye, dek?”
”Tanggung jawab lah?”
Phainon malah tersenyum lembut. “Adek yakin?”
Pertanyaan sederhana. Menjebak, tetapi Mydei sudah tahu jawabannya.
”Yakin.” jawab Mydei mantap. Kedua manik emasnya menyala penuh gairah.
“Oke. Jawaban dikunci ya.”
Itulah yang terakhir Phainon ucapkan sebelum mengangkat tubuh Mydei sepenuhnya lalu membantingnya di sofa layaknya Mydei adalah galon kosong yang akan ia cuci.
“Copotin baju mas, dek,” pinta Phainon sambil menunduk.
Wajah luar biasa cakep si tukang galon itu kini berada tepat di hadapan Mydei dan ia mana tahan untuk tidak mencium pria itu. Ditariknya kaos butut Phainon dengan kasar lalu diciumnya penuh-penuh. Phainon tertawa kecil ketika ciuman mereka terhenti karena Mydei menarik kaos kuning butut yang bertuliskan “I LOVE MALIOBORO” itu dengan tergesa-gesa.
“Besok pake kaos aku aja,” perintah Mydei kembali menarik Phainon untuk dicium. “Jelek banget itu kaos, anjir. Kenapa kuningnya yang begitu sih.” omelnya kembali menarik rambut Phainon.
Gemas karena dibalik kaos jelek itu ada tubuh yang terpahat sedemikian rupa, Tapi tukang galon itu memilih memakai kaos kuning butut yang gambarnya sudah mengelupas, pasti akibat terlalu sering dipakai.
Dan juga celana kargo tiga seperempat berwarna ungu yang tali kolornya sudah kendur hingga tidak perlu banyak usaha untuk menariknya turun. Lagi-lagi celana butut yang menyembunyikan naga besar Phainon.
“Adek kepingin ya lihat punya mas? Tapi mas lebih kepingin lihat punya adek dulu. Coba manaa lihat cantiknyaa~” Phainon bersenandung sembari menurunkan celana Mydei yang dua kali lipat basahnya itu. Mydei reflek menutup pahanya, malu ketika digoda seperti itu. Kurang ajar memang tukang galon imi. Namun Phainon dengan sigap menahannya, membuat Mydei mau tidak mau mengangkang sepenuhnya.
Mydei tidak berani bergerak barang sedikit pun. Malu tapi mau. Apalagi ketika akhirnya jari Phainon bersentuhan langsung dengan kulitnya, tanpa terhalangi oleh kain apapun lagi. Pahanya pun dihujani ciuman dan jilatan. Rasanya bergetar seluruh dunia Mydei.
“Adek….” panggil Phainon lembut sebelum menghisap klitorisnya kuat-kuat. Sungguh kontras dengan ucapannya. Mydei menggelinjang di tempat, mencengkram erat pinggiran sofa.
Jika ada satu pihak yang overworked di acara kali ini, maka itu adalah bibir Phainon.
“Mas rasa ini dunia mas, dek,” ocehnya setengah sadar, sambil terus menjilati dan menghisap klitoris Mydei penuh cinta. Hembusan napas Phainon diantara kedua pahanya pun semakin membuat Mydei gila.
“Mas, udah, aku kebelet,” pinta Mydei. Namun, tangannya malah terus mendorong Phainon semakin dalam dan lidah Phainon pun semakin bersemangat menjelajahi memeknya itu. “Mas—“
“Muncratin, dek. Muncratin di muka mas, ini mas udah mangap. Aaaahhh.”
Ih, goblokkkk, apaan muncrat-muncrat, mangap, malu banget. Kalau Mydei dalam kondisi waras, pasti sudah ia omeli tukang galon itu. Karena Phainon benar-benar tidak beranjak dari posisinya. Mydei yang semakin terangsang, sudah tidak sanggup lagi menahan semua stimulasi yang terus diberikan Phainon kepada klitorisnya itu. Akhirnya muncrat sudah cairan yang ditunggu-tunggu di muka Phainon, seperti yang ia mau.
“Wuenak tenan,” Mydei melihat Phainon menjilat sudut bibirnya dari ujung matanya. “Hebat adek. Muantep pol. Ayu tenan.”
Mydei menendang paha Phainon dengan ujung kakinya. Agak lemas pasca squirting, tapi sekujur tubuhnya masih terasa panas.
“Adek capek, yo?” bisik Phainon menyibakkan poni Mydei yang menempel di dahinya dengan lembut. “Besok lagi, hm? Istirahat sek?”
“Gak,” tolak Mydei langsung, Disentuhnya kontol Phainon yang sudah mengeluarkan pre-cum itu dengan jempol kakinya. “Ayo lanjut, giliranku. Itu masih ngaceng punya mas.”
“Ah, ini mah pernah nggak ngaceng kalo lihat adek…. “
“Jorok banget?” omel Mydei. Padahal dia juga becek setiap kali melihat Phainon.
“Dek, tapi manuk mas rodok…. Anu…. Ukurannya…. Kamu jangan gilo ya….”
Masa Mydei perlu getok kepala Phainon supaya pria ini sadar? Jangankan jijik, Mydei malah napsu banget lihat kontol Phainon yang jumbo mantap bombastis ulala itu.
“Dicoba dulu makanya. Baru nanti aku review.” Kontol rasa film ada review-nya segala.
“Ojo khawatir, mesti mantep lah,” Phainon mengecup bibir Mydei bersamaan dengan ujung penisnya bersentuhan dengan bibir vagina Mydei yang masih basah itu. “Percaya sama mas.”
Bibir Mydei dicium dalam-dalam berbarengan dengan masuknya penis ke dalam lubang Mydei. Seketika Mydei mendesah keras-keras yang teredam oleh ciuman mereka.
Mydei tahu kontol Phainon itu besar. Suka kelihatan kadang kalau orangnya lagi angkat junjung galon. Apalagi kalau dia duduknya ngangkang di belakang tossa sambil cengar cengir. Nggak tahu aja dia, selain terpesona sama senyumannya, Mydei juga terpesona sama gundukan di bawahnya. Mana Phainon kalau baju yang terang-terang, jadi makin kelihatan.
Tapi begitu dimasukin langsung begini, rasanya itu kontol membesar seperti balon yang baru saja ditiup. Asing, sakit, tapi enak. Pas banget rasanya.
Mungkin mereka memang berjodoh. Semakin nyawit isi pikiran Mydei disodok begini, padahal masih pelan-pelan.
“Dek, memekmu rapet pol, Ya Gusti,” lenguh Phainon menggoyangkan pinggulnya perlahan, memulai ritmenya. “Ini memek apa kelurahan kalo tanggal merah, dek?”
Ah, tai banget. Masa memek berharga Mydei disamain sama kelurahan? Tapi Mydei mana bisa mikir lagi saat ini. Kepalanya mengadah ke atas, bibirnya ngiler keenakan.
Phainon menciumnya lagi dengan lembut. Lagi-lagi kontras dengan hentakan pinggulnya yang semakin cepat dan kuat, mengejar napsunya sendiri.
“Dek, wuenak tenan, sumpah,” Phainon pun hanyut dalam nikmatnya sendiri. “Rapet, anget, ayu, semok, luar biasa,” lanjutnya sembari menyelipkan tangannya di bokong Mydei lalu menamparnya penuh semangat, membuat Mydei reflek melengkungkan tubuhnya ke atas karena kaget. Semakin mempertemukan kontol jumbo dan memek luar biasa itu.
“Dek, mas crot dalem ya, dek?”
Padahal tidak usah bertanya juga Mydei dengan senang hati memperbolehkan.
“Crot sampe aku meteng, mas.” bisik Mydei sensual, tangannya mengelus pipi Phainon.
Phainon sontak melongo dibuatnya. “Walah,” gumamnya ke dirinya sendiri sebelum benar-benar kesurupan setan ahli nyodok sampai Mydei hilang akal dibuatnya. “Ini dia, waterboom datang.” ucapnya sebelum mengejang dan memenuhi Mydei dengan cairannya.
Mydei menghela napas yang sedari tadi ia tahan tanpa sadar. Phainon menaruh dahinya di dahi Mydei. Keduanya sama-sama terengah-engah, menikmati kehangatan yang mereka bagi.
“Mas, aku coba dibalik dong.”
“Hah?” Phainon mengernyit bingung. “Dibalik piye?”
“Dibalik kayak kalo mas ngangkat galon,” titah Mydei seraya menepuk-nepuk lengan Phainon. “Ayo, ayo, move. Lagi.”
“Lagi?! Langsungan banget, dek?”
GUBRAK.
Muka Mydei menghantam lantai secara langsung dan hidungnya sontak berdenyut-denyut nyeri.
“Adek!” Mydei mendengar suara itu. Derit pintu terbuka dan suara Phainon yang penuh khawatir memasuki telinganya.
“Adek, astaga, mimpi apaan, sih? Sampe gelinding gitu….” ujar Phainon panik dan perlahan-lahan Mydei membuka matanya. Kini ia duduk di lantai, namun bersandar pada dada Phainon.
“Halo, adek? Ini angka berapa coba?”
“Satu.” gerutu Mydei memijit hidungnya yang cenat-cenut.
“Adek pinter,” puji Phainon mengusap puncak kepala Mydei. Rasanya aneh. Mydei seperti pernah mendengar kalimat itu. Baru saja malah. “Satu, soalnya kamulah satu-satunya.”
Mydei hanya merengut meskipun dadanya terasa hangat. Ia membiarkan Phainon membopongnya naik kembali ke atas kasur. “Dikumpulin dulu nyawanya, ya adek. Bentar, kakak ambil galon dulu di luar. Tadi mau kuketok, eh kedengeran suara kenceng banget, panik lah aku. Galonnya aku tinggal di luar deh. Bentar yaa.”
Mydei menyerngit. Galon?
Ketika Phainon kembali masuk ke kamarnya dengan galon yang ia angkat dengan enteng itu, seketika memori galon tumpah itu membanjiri pikiran Mydei.
Bahkan di mimpi pun, ia tetaplah mahasiswa stres yang kurang belaian. Padahal Phainon pun banting setir dari budak korporat tetangga kosan menjadi kang galon seksi tetangga rumahnya.
Tanpa Mydei sadari, tangannya bergerak ke bawah. Meraba-raba miliknya, mencari sesuatu yang memang tak ada di sana.
Memeknya hilang.
“Adek?” tanya Phainon hati-hati melihat Mydei yang tidak bergerak sama sekali, dengan tangan masih berada di atas celananya. “Adek, kenapa, sayang?”
Karena baru saja dipanggil sayang, berarti Phainon tetap sayang Mydei kan, ya?
Diliriknya galon di sudut kamarnya. Phainon mengikuti arah pandangannya. “Adek?” panggilnya pelan. Mydei masih tetap sibuk memutar otak.
Bagaimana caranya membuat skenario dia dan Phainon basah-basahan seperti di mimpi tetap tanpa dikeluarkan dari kos karena telah membuat gaduh?
