Work Text:
Uap air hangat mengembun, memburamkan cermin di wastafel dengan titik-titik air yang membuat garis di permukaan. Bathtub porselen putih dipaksa untuk memuat dua pria dewasa setinggi 182 cm. Di sana Sadewa duduk bersandar di dalam air setinggi setengah dadanya. Dia memejamkan mata, nyaris tidur karena tubuh pegalnya setelah bekerja kini terasa rileks, sementara Nakula ada di dekapannya.
Kegiatan mandi bersama bukanlah agenda romantis atau kencan yang menggairahkan. Itu hanyalah kebiasaan si kembar sejak kecil yang belum hilang. Soal mereka yang sesekali berciuman saat membilas sabun adalah hal lain.
Nakula bersandar menyamping, menjadikan bahu Sadewa sebagai bantalnya. Rambut basahnya yang digerai menempel pada kulit Sadewa. Tangannya menyusuri rahang hingga dagu si kakak yang berjenggot dengan jemari, merasakan bulu-bulu kasar yang panjangnya tidak lebih dari 1 cm. “Kapan mau cukur?” tanyanya.
Kedua mata Sadewa perlahan terbuka. Dia dapati si adik tengah fokus pada jenggotnya. Tangannya segera menyibak poni yang basah ke belakang, memperlihatkan seluruh keningnya. Sepasang mata berwarna madu berkilau kontras dengan kantung mata hitam yang awet karena jam tidur berantakan pun tampak lebih jelas.
“Kamu nyuruh saya cukur jenggot?” tanya Sadewa memastikan. Nakula menjawab cepat dengan anggukkan. Kepala Sadewa mundur sedikit dengan alis mengernyit. “Kamu bukannya suka jenggot saya?” tanyanya lagi sangsi.
Mata biru langit Nakula menatap Sadewa sesaat lalu kembali pada jenggot si kakak. “Kapan aku bilang gitu?” Nakula tertawa meledek di ujung kalimat.
“Two days ago!” sambar Sadewa, sedikit frustrasi tapi menjaga nada bicaranya untuk tidak meninggi. “Nakula, you told me this beards makes me look even better,” tambahnya membela diri. Karena pujian Nakula lah alasan beberapa hari ini dia tidak mencukur jenggot.
“Well,” tangan Nakula masih ada di rahang Sadewa, dia mengusap-usap permukaan kulit yang berjenggot dengan ibu jari, “the problem isn't how you look.”
Nakula tidak berbohong, jenggot itu menambahkan kesan maskulin yang pas di wajah tampan Sadewa. Hal yang berbau bapak-bapak entah kenapa memang cocok sekali dengannya.
“Lalu apa?”
Sadewa mengernyit. Kalau Nakula salah jawab, dia sudah siap ngambek dan meminta Nakula untuk memakai pakaian dalam berenda sebagai tanda perdamaian.
“Tiap kali kita ciuman jenggot kau ini nyucuk-nyucuk kulitku!” keluh Nakula sambil mengerucutkan mulut dengan telunjuk yang menusuk-nusuk pipi Sadewa sebagai simulasi.
Sadewa mendengus geli.
“Guess I'm not shaving it, then,” godanya.
“Ih!”
Mendengar Nakula yang meringis kesal, ide jahil terlintas di kepala Sadewa. Langsung dia gesek-gesekkan jenggotnya ke pipi Nakula, membuat pemuda berambut biru itu menjerit melengking dengan histeris.
“Nih! Rasain!” ucap Sadewa dengan senyum lebar.
“Stop! Dewa!” Nakula kembali menjerit. Jeritannya begitu keras hingga terdengar sampai ke rumah tetangga.
Nakula berusaha mendorong tubuh Sadewa, tapi tidak cukup kuat dan hanya membuat Sadewa menjauh sedikit. Tangan Sadewa yang ada di pinggang Nakula kembali mengeratkan tubuh mereka. “Ga mau!” Tawa Sadewa menggema di kamar mandi. Mereka menggeliat di dalam bathtub. Kaki-kaki di dalam air bergerak tidak beraturan. Air yang keruh karena sisa sabun pun bergolak dan kemudian tumpah.
Tiap kali Nakula berteriak, keisengan Sadewa bertambah. Tangan kanan Sadewa mencengkeram rahang Nakula dan tangan kirinya mengerat di pinggang, pergerakan adiknya itu dikunci agar tidak kabur. Kecupan dibubuhkan pada pipi Nakula dengan gemas. Dia cium seluruh bagian wajah Nakula; pipi, pelipis, dua kelopak mata yang terpejam, turun ke hidung mancung, kemudian bibir yang mengatup. Di tiap ciumannya, Sadewa dengan sengaja menempelkan jenggotnya pada kulit halus kembarannya.
Perlahan penolakan Nakula mengendur. Jeritannya berganti dengan tawa yang lantang. Kecupan-kecupan Sadewa berjalan turun ke lehernya. Tekstur kasar jenggot tipis yang menusuk-nusuk kecil permukaan kulitnya membuat geli.
Tawa Nakula berangsur-angsur mengecil dan kemudian hilang seiring dengan ciuman Sadewa yang sampai di bawah telinganya. Kini suara napas tersengal yang keluar dari mulutnya.
“Dew—” panggil Nakula tercekat.
Hangat yang menjalar tubuh merubah atmosfer di sekitar mereka. Jemari Sadewa menyingkirkan rambut biru sebahu ke belakang telinga, mengekspos kulit putih gading yang memerah. Sadewa kembali mencium di sana, penuh cinta, tidak lagi bercanda.
Nakula refleks melengkungkan tubuhnya saat ciuman di bawah telinganya disertai dengan kombinasi sapuan lidah hangat dan dagu berjenggot yang menggesek kulit. Tangannya mencengkram kuat lengan Sadewa, kukunya menancap di kulit sawo matang. Geli yang muncul tidak mengundang tawa, tapi membuat candu dan mulutnya menganga. Darah Nakula berdesir, mendidih di bagian yang telah diciumi, pada pinggang ramping yang dipeluk, dan selangkangan yang belum disentuh.
“Nakula,” panggil Sadewa berbisik.
Baik Nakula maupun Sadewa, sama-sama bisa melihat penis Nakula yang ereksi di dalam air.
“Keliatannya kamu suka jenggot saya.”
“Berisik, bodoh!” Nakula memukul air ke belakang yang cipratannya sengaja mengenai wajah kembarannya. Sadewa meletakkan dagunya di pundak Nakula, bersandar dengan manja sambil terkekeh di sana.
Senyum tersisa saat tawa Sadewa berakhir. “Abis ini, nanti saya cukur,” ucapnya lembut. Tangannya mengendur sesaat, dia perbaiki posisi duduk mereka yang agak merosot, lalu kembali merengkuh Nakula.
Nakula terdiam beberapa saat. Bibir bawahnya digigit saat menimbang-nimbang. Dia kemudian menoleh, membuat Sadewa yang tengah bersandar terbangun. Tangannya meraih dagu yang berjenggot, lalu mengecup singkat bibir Sadewa.
“Besok aja cukurnya, jenggot kau boleh kena kulitku sehari lagi.”
